Senin, 02 November 2009

Crockie

Ada yang tahu siapa Crockie?

Crockie adalah seekor buaya berbulu hijau muda. Pertama kali saya bertemu Crockie adalah ketika saya melihat tumpukan hijau di lantai dasar Riau Junction. Tumpukan itu terdiri dari berpuluh-puluh Crockie beraneka ukuran. Ada empat ukuran; kecil, sedang, besar, dan jumbo. Tertarik dengan bentuknya, saya memutuskan untuk membeli sebuah Crockie berukuran sedang (13'') untuk nanti dibawa pulang sebagai hadiah akhir tahun untuk adik saya. Apalagi, harganya sedang diskon 20%!


Crockie 13'', Rp 34900 (sebelum diskon)

Dan karena kebetulan saya tidak memiliki kotak tissue di kamar, saya seringkali kebingungan mencari di mana tissue saya ketika saya memerlukannya. Kebetulan pula, ternyata Crockie tersedia dalam bentuk tempat tissue!


Tempat tissue Crockie, Rp 23900 (sebelum diskon)

Di hari-hari selanjutnya saya berkunjung ke Riau Junction, tumpukan hijau muda itu makin menggunung saja. Meskipun demikian, tidak jarang saya melihat antrian troli di kasir dengan Crockie beraneka jenis di dalamnya. Bahkan sekarang ada bantal Crockie, guling Crockie, dan yang paling menarik perhatian saya: sandal kamar Crockie. Ini merupakan solusi brilian, pikir saya; untuk saya yang selama ini telapak kakinya selalu kedinginan tiap bangun tidur, dan malas pakai kaos kaki karena akan cepat bau...


Sandal kamar Crockie, Rp 39900 (sebelum diskon)

Selain dalam bentuk-bentuk di atas, Crockie tersedia dalam bentuk bantal, guling, dan boneka berbagai ukuran. Crockie merupakan boneka dengan merek Kido, hanya diproduksi dan dijual di Toserba Yogya.


Say... we are CROCKIES!

.

Selasa, 27 Oktober 2009

Ya, KARENA KITA PEMUDA!

“Indonesia? Bukan urusan kita… karena kita masih pemuda.”

Apakah benar Indonesia terlalu tinggi atau terlalu jauh bagi kita, pemuda?


BERIKAN AKU SEPULUH PEMUDA, DAN AKU AKAN MENGGUNCANG DUNIA!

Delapan puluh satu tahun yang lalu, di sebuah rumah pondokan milik Sie Kok Liong di Jalan Kramat Raya 106… Para pemuda berkumpul dari berbagai latar belakang, suku, bangsa, dan agama, dengan satu tujuan… Melihat tanah airnya merdeka. Tanah air yang satu. Didiami oleh bangsa yang satu. Dan berbahasa bahasa yang satu.

Delapan puluh satu tahun lalu, pemuda adalah fondasi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pemuda. Pemimpi. Penemu. Pelopor. Penggerak. Pendobrak.

Saat ini, di Labtek Biru di Jalan Ganesha 10… Kita, para pemuda dari berbagai latar belakang, suku, bangsa, dan agama, dengan satu tujuan… Melihat tanah air kita jaya. Tanah air yang sama dengan yang diperjuangkan leluhur kita delapan puluh satu tahun lalu.

Saat ini, pemuda harus menjadi fondasi kejayaan Indonesia! Jika tujuan kita satu, langit akan kita goyangkan, bumi akan kita gempakan, samudera akan kita gelorakan… bangsa ini akan kita angkat. Karena kita pemuda. Karena kita pemimpi. Karena kita penemu. Karena kita pelopor. Karena kita penggerak. Karena kita pendobrak. Ya, kita.



Bangunlah hai pemuda, berjuta rakyat menanti tanganmu, mereka lapar dan bau keringat.
Jangan menghindar dengan berkata “Nanti saja, saya kan masih pemuda!”
Tapi jawablah “Ya, KARENA SAYA PEMUDA!”


Tidak perlu menunggu jadi tua untuk peduli, berbuat, dan berarti bagi bangsa. DAN JANGAN MENUNGGU.





Bangun pemudi-pemuda Indonesia
Lengan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmulah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Sudi tetap berusaha, jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara, t’rus kerja keras
Hati teguh dan lurus, pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus, hai putra neg’ri



81 Tahun Sumpah Pemuda
PSDA HIMATEK



.

Minggu, 25 Oktober 2009

Suatu Malam di Santiago Bernabeu

Sebuah awal (bukan akhir) yang manis musim ini dari AC Milan... Il Diavoli berhasil menghantam si raja u(t)ang Eropa, Real Madrid, di kandangnya sendiri, Estadio Santiago Bernabeu, 3-2.

Tak disangka, seorang kameraman mengabadikan satu momen kecil yang amat menyentuh saya sebagai tifosi Milan. Di saat laskar Merah-Hitam merayakan gol indah Alexandre Pato yang kemudian menjadi gol kemenangan AC Milan... sang kameraman dengan cerdik menangkap satu penglihatan yang dapat diinterpretasikan dengan sejuta makna.




Want to join the celebration, boy?

FORZA MILAN - Il Club Piu Titolato Al Mundo! Solo con te, sempre per te!

.

Minggu, 04 Oktober 2009

BAB X - Manfaat Kerja Praktek

Ini adalah sebuah bab yang membuat laporan kerja praktek saya berbeda dari laporan orang-orang lain... memang masih berbentuk draft...

-------------

BAB X
MANFAAT KERJA PRAKTEK


Selama periode kerja praktek di PT. Chandra Asri, penulis telah mendapatkan banyak manfaat dalam bentuk peningkatan kemampuan berupa pemahaman-pemahaman baru yang berkaitan dengan ilmu keteknikkimiaan maupun mental kerja sebagai insinyur proses.


10.1. Pemahaman Ilmu Teknik Kimia

Pemahaman-pemahaman baru tentang ilmu teknik kimia yang didapat penulis selama periode kerja antara lain meliputi:

1. Pemahaman dasar tentang bagian-bagian apa saja yang secara prinsip menyusun sebuah pabrik kimia : pengolahan bahan baku, reaktor, pemisahan dan pemurnian, recovery bahan baku, sistem pengendalian, sistem utilitas, dan pengolahan limbah.

2. Bentuk-bentuk, dimensi-dimensi, dan jenis-jenis peralatan proses yang umum ditemui dalam industri kimia dan kegunaan-kegunaannya: seperti kolom-kolom distilasi, reaktor, kolam pengolahan limbah cair, pompa, kompresor, heat exchanger, tangki penyimpanan, sistem perpipaan, dan lain-lain.

3. Sifat dan penanganan bahan-bahan kimia yang dijumpai di sebuah industri kimia. Termasuk di dalamnya antara lain adalah cara, alat, dan kondisi penanganan dan penyimpanan bahan-bahan seperti gas (etilen, hidrogen), cairan organik (isobutana, heksana), dan bahan-bahan beracun seperti logam (katalis) dan cairan berbahaya (ko-katalis).

4. Cara-cara pemilihan spesifikasi (dimensi, jenis, material, konfigurasi) dari alat (conveyor/piping, heat exchanger, valve, reaktor, alat pemisahan, storage tank, dan lain-lain) berdasarkan kondisi operasi (temperatur, tekanan, fasa, dan komposisi bahan yang masuk dan keluar).

5. Cara-cara pemilihan rentang kondisi operasi (seperti disebutkan di atas) berdasarkan target operasi.

6. Teori proses polimerisasi (khususnya polimerisasi etilen) dan aplikasinya dalam skala industri.

7. Prosedur standar keselamatan di pabrik kimia, termasuk perlengkapan keselamatan standar, bahaya dari alat-alat dan bahan-bahan kimia, prosedur evakuasi bencana, pencegahan kebakaran, penempatan alat-alat darurat, dan lain-lain.


10.2. Kemampuan Kerja Sebagai Insinyur Proses

Selama periode kerja praktek, penulis telah berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja dalam bidang teknik kimia dalam lingkungan pekerjaannya sehari-hari. Pengalaman ini memberi tambahan ilmu-ilmu baru mengenai hal-hal nyata yang dilakukan seorang insinyur proses dalam lingkungan industri kimia seperti:

1. Optimasi proses untuk menghasilkan produk sesuai spesifikasi yang diinginkan (konversi, selektivitas, sifat fisik) dengan cara mengubah-ubah kondisi operasi (komposisi umpan, temperatur, tekanan, laju alir).

2. Analisis efisiensi suatu alat tertentu dalam rangkaian peralatan proses seperti heat exchanger, kolom distilasi, dan turbin.

3. Cara pengendalian proses kimia dengan sistem komputer terpusat dari suatu control room menggunakan pengaturan dari tombol-tombol yang ada.


10.3. Mental Sebagai Calon Insinyur Proses

Kerja praktek juga telah membentuk penulis dari segi mental dan perilaku sebagai mahasiswa teknik kimia yang merupakan calon insinyur proses. Penulis antara lain dalam pemikirannya saat ini memiliki:

1. Cara pandang baru terhadap materi-materi yang selama ini diajarkan di kuliah, yaitu bahwa pada prinsipnya tiap mata kuliah yang diajarkan merupakan satu segmen tertentu yang kemudian dirangkaikan untuk mencapai tujuan utama, yaitu membuat suatu rangkaian proses kimia dalam skala industri alias pabrik kimia.

2. Pengetahuan mengenai manfaat-manfaat nyata pada dunia industri dari setiap mata kuliah yang diajarkan seperti sistem utilitas, proses pemisahan, perpindahan kalor, teknik reaksi kimia, dan lain-lain.

3. Motivasi untuk mencari ilmu-ilmu baik di saat kuliah maupun melalui media lain, yang sekiranya akan dibutuhkan jika bekerja di lingkungan industri, karena telah mendapat gambaran ilmu-ilmu seperti apa saja yang akan dibutuhkan itu.

4. Peningkatan kemampuan untuk membuat asosiasi dan jika mendengar istilah-istilah umum dalam dunia teknik kimia seperti safety pressure valve, nozzle, suction/discharge pressure, laju produksi, kompresi, high steam, PN, dan lain-lain.

5. Pola pikir untuk membuat rangkaian analisis dan metode penanganan yang harus ditempuh jika diberikan suatu persoalan teknik kimia.

6. Cara-cara berinteraksi dengan para pekerja lain di lingkungan industri seperti atasan, HRD, satpam, teknisi, office boy, dan sesama insinyur proses.


10.4. Lain-lain

Begitu banyak manfaat dan pengembangan diri yang diperoleh dari kerja praktek sehingga secara pribadi penulis menganggap bahwa mata kuliah TK4090 – Kerja Praktek adalah mata kuliah yang paling banyak memberikan ilmu, pengalaman, dan pembelajaran bagi penulis dibandingkan dengan semua mata kuliah yang pernah diikuti.


.

Jumat, 25 September 2009

Humor ITB - Sedia Payung Sebelum Hujan

Pada suatu ketika diadakan lomba mengarang antar universitas se-Indonesia, dengan tema situasi sosial politik bangsa Indonesia. Dua orang panitia sibuk membaca beribu-ribu karangan yang masuk. Berjam-jam membaca membuat mereka jenuh dan akhirnya salah seorang dari mereka, Tono, memperlihatkan sebuah karangan kepada temannya, Parjo, dan berkata:

"Ini pasti karangan anak UI, Jo."

"Tahu dari mana?" tanya Parjo.

"Lihat, di sini disebut-sebut tentang 'Jaket kuning yang tiap hari kukenakan...'"

"Hahahaha. Tebakan yang cukup masuk akal." gumam Parjo.

"Kalau yang ini pasti karangan anak Unpad." lanjut Tono.

"Betul Ton, aku tahu, soalnya ada kata-kata '...kampusku di Jatinangor'."

Keduanya kemudian tertawa-tawa, lalu melanjutkan membaca. Tak berapa lama, giliran Parjo yang angkat bicara duluan.

"Kalau yang ini Ton, ini pasti karangan anak ITB!"

Tono melihat karangan yang ditunjukkan Parjo, namun tidak ada satu kata pun dalam karangan itu yang menandakan ITB atau bahwa pengarangnya adalah anak ITB. Tono dengan heran bertanya kepada Parjo:

"Tahu dari mana?"

Parjo menunjuk bagian atas kertas dan menjawab dengan enteng:

"Karangannya dibuka dengan kalimat 'Sebelumnya mohon maaf jika ada bagian tulisan saya yang tiada berkenan di hati, karena saya sadari saya belumlah sempurna sebagai penulis...'"


.

Kamis, 24 September 2009

Dihukum Karena Hal Yang Tidak Diperbuatnya

Baca judul tulisan ini, lalu pikirkan. Adil tidak? Fair tidak?

Coba bayangkan seorang ibu umur 40an berteriak sambil menangis tersedu-sedu:

"HAL APA YANG TELAH KUPERBUAT HINGGA AKU MENDAPAT COBAAN SEPERTI INI...?!?!?!?"

dengan gaya yang lazim kita temui di sinetron-sinetron Indonesia. Kalau di sinetron sih, biasanya tokoh seperti itu adalah tokoh baiknya, yang anggun, selalu ramah sama orang, rajin beribadah. Tapi pasti aja tokoh kayak gini adalah tokoh yang paling apes. Entah suaminya meninggal, dirinya sakit-sakitan, anaknya diputusin pacar, rumahnya disita, dan seterusnya. Lalu dia berteriak seperti kalimat di atas. Lalu kita (baca: penggila sinetron) berpikir, dunia kejam nian, apa yang telah dia perbuat sehingga mendapat nasib malang bertubi-tubi?

Intermezzo. Hehehe. *NB: penempatan intermezzo di awal cerita bukan hal yang baik sebenarnya*

=======

Kembali ke judul. Waktu dulu ada yang pernah cerita ke saya tentang seorang anak kecil yang bertanya pada bapaknya. "Pak, tadi pagi saya di sekolah disetrap guru karena hal yang tidak saya kerjakan. Apakah itu adil?"

Bapaknya lantas berang dan langsung menjawab. "Tentu tidak! Gurumu sangat keterlaluan. Tentu kau tidak bisa disalahkan atas hal yang kau tidak lakukan. Bapak akan menghadap Kepala Sekolah besok. Tapi ngomong-ngomong, hal apa sih yang tidak kau lakukan itu?"

Anaknya nyengir dan menjawab "TIDAK mengerjakan PR."

Kedengarannya klise. Tapi poinnya jelas. Masalah dihukum atau tidak, masalah salah atau benar, bukan hanya masalah apa yang DIPERBUAT, tapi bisa jadi masalah apa yang TIDAK DIPERBUAT.

======

Minggu kemarin saya jalan-jalan dengan adik perempuan saya yang berumur 12 tahun di mall, sehabis menjemputnya dari gereja. Sehabis makan di food court di lantai 3, kami turun dengan lift ke lantai paling bawah untuk pulang. Saat kami akan naik lift, ada seorang bapak tinggi besar membawa dua orang anak. Yang besar lelaki sekitar umur 8-9 tahun berbadan gendut, yang kecil perempuan umur 5-6 tahun gendut juga. Kedua anak ini rupanya lumayan nakal juga.

Ketika pintu lift terbuka dan sekitar 10 orang penumpangnya berhamburan turun, kedua anak ini langsung menerobos masuk lift tanpa menunggu yang turun selesai keluar lift. Si bapak diam saja. Saya cuma bisa berdehem dan teriak pelan "Tolong tunggu yang turun dulu, seperti biasa!".

Lalu saya dan adik saya masuk lift dengan posisi di tengah-tengah (tidak bersandar ke dinding lift), adik saya di samping saya. Lift itu penuh sesak, ada sekitar 13 orang. Sialnya tidak ada yang turun di lantai dasar seperti saya (semua turun di basement parkiran rupanya). Di antara saya dan tombol lift ada si bapak. Saya tidak bisa menjangkau tombol lift itu. Saya lalu berkata "Maaf Pak, permisi". Namun si bapak tetap bergeming. Dengan susah payah, adik saya yang berbadan lebih kecil bisa menekan tombol lift. Dan sehabis adik saya menekan tombol, si bapak menempelkan telapak tangannya menutupi TOMBOL-TOMBOL LIFT untuk NYENDER.

Setelah itu kedua anak gendut itu mulai ngobrol keras dan kemudian melompat-lompat di dalam lift. Ya. JINGKRAK-JINGKRAK. Di dalam LIFT yang sedang berjalan. Anaknya GENDUT-GENDUT. Saya mulai mikir apakah saya harus baca doa atau jitak kepala anak-anak ini. Bapaknya diam saja.

Ketika pintu lift terbuka di GF, saya dan adik saya bersiap-siap turun, namun si bapak yang berbadan BESAR dan MENGHALANGI pintu keluar lift tidak menunjukkan tanda-tanda mau minggir. Padahal sudah jelas tadi penumpang yang memencet tombol GF hanya SAYA, yang ada di BELAKANGNYA. "Pak, PERMISI" ulang saya dengan suara lebih keras dari saat saya mau menekan tombol lift tadi. Dia tetap diam. Adik saya, yang berbadan lebih kecil, lebih tidak sabar dan mencoba menerobos keluar. Dia berhasil dan saat itu semua orang tersadar dan mencoba minggir, namun tetap saja jalur keluarnya sulit karena liftnya penuh sesak dan orang yang SEHARUSNYA PALING DULUAN MINGGIR yaitu si bapak itu malah DIAM seperti gupala di depan pintu lift. Saya mencoba keluar, namun saat itu pintu lift tertutup, saya mencoba menerobos (karena jika turun sampai lantai bawah lagi, eskalator sedang mati dan jalurnya jauh, lagipula adik saya sudah berada di luar lift).

Dan BREKK. Pintunya menggencet saya, saya mencoba menjejak keluar lift agar tidak kehilangan keseimbangan, dan alhasil kaki kanan saya mendarat tepat di belakang adik saya yang sedang melangkah, menginjak sendalnya, dan talinya putus. Sementara adik saya memungut sendal kesayangannya itu, saya menyempatkan diri melihat pintu lift yang sedang menutup itu, menatap marah pada si goblok yang MENEMPELKAN TANGANNYA DI TOMBOL LIFT tapi tidak menahan tombolnya agar terbuka saat ada yang mau turun.

Saya emosi dan hampir berteriak "GOBLOK!" di depan muka si bapak itu. Namun segera saya mencoba berpikiran jernih dan positif. Mau tahu pikiran paling baik yang timbul di benak saya saat itu? MUNGKIN BAPAK ITU TULI.

Dan saya sampai pulang masih tetap emosi, masih tetap uring-uringan karena sendal kesayangan adik saya putus gara-gara si bapak goblok itu. Bapak itu tidak melakukan apa-apa terhadap saya, tapi karena dia tidak melakukan apa-apa itulah maka saya jadi kesal.

Yah, mungkin saya juga salah karena emosi. Sampai di rumah saya minta maaf secara tidak langsung kepadanya dalam doa, dan mengakui ada bagian kesalahan saya juga.

Namun saya tetap berterima kasih atas pertemuan saya dengan si bapak, yang telah mengajarkan kepada saya buruknya sebuah ignorance.

======

Undang-undang negara Republik Indonesia ada yang menyatakan bahwa jika seseorang melihat terjadinya tindak kejahatan namun tidak melaporkannya, ia dapat dituduh bersekongkol dengan pelaku dan dapat dikenai hukuman penjara. Waktu dulu saya ikut sekolah minggu, salah satu ayat paling berkesan yang dibacakan kakak pembimbing saya adalah Yakobus 4:17 "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa".

Sudah tahu arah tujuan pembicaraan saya kan?

Albert Einstein pernah berkata "Saya cinta damai, tetapi bukan hanya itu, saya berani berperang demi kedamaian". Yang dimaksud Einstein bukan perang sebenarnya, tapi yang ia maksud adalah ia berani mengajak orang-orang untuk tidak berperang. Kenapa?

Karena Einstein menyadari bahwa jika ia cinta damai secara PASIF (yakni hanya berkomitmen bahwa DIRINYA SAJA yang tidak akan berpartisipasi dalam perang), perdamaian tidak akan terjadi. Orang-orang lain masih akan berperang. Maka ia memutuskan untuk AKTIF, mengajak orang-orang untuk tidak berperang.

Berapa banyak dari kita yang berpikiran bahwa "Saya akan membetulkan kehidupan saya dulu. Yang penting saya jadi orang baik, benar, rajin, pintar, jujur, disiplin, dan berprestasi. Urusan temen-temen saya yang begundal, brengsek, tukang tipu, pemalas, goblok dan lain sebagainya itu, urusan mereka, toh mereka kan udah gede ini."

Itu EGOIS, saudara. Membiarkan teman kita jatuh dalam dosa sementara kita luput dari dosa. Saya masih percaya kata-kata Einstein: "Sang Pencipta tidak sedang bermain dadu" ketika mencipta, ketika meletakkan kita di lingkungan pertemanan kita saat ini. Dan saya masih percaya bahwa tanggung jawab untuk saling menasihati itu ada di pundak semua umatNya, dan kita akan dimintai pertanggungjawaban untuk itu saat Hari Terakhir nanti.

Dan hukuman yang menanti bukan karena kejahatan yang kita lakukan, tetapi karena kebaikan yang kita tidak lakukan.

======

Kendala nyata? Banyak.

Setahun ini nyontek tugas dan semacamnya sudah saya kurangi sampai batas sangat minimum, namun prestasi akademik saya ya segitu-segitu aja. Cape juga klo mempromosikan integritas akademik dan cuma dikata-katain "Yang nggak nyontek ntar IPKnya jadi kayak lu! Mending nyontek, terus kayak gw! Yang IPKnya lebih tinggi dari lu aja nggak pernah bacot macam-macam!"

Bagian terakhir sih yang membuat hati ini paling pedih. Dan hanyalah harapan yang tentu diharap jadi kenyataan, bahwa yang lebih punya daya untuk promosi integritas akademik akan memberdayakan modal mereka itu. Tidak hanya lurus dalam kehidupannya, namun juga meluruskan orang lain yang bengkok-bengkok. Barangsiapa tahu berbuat baik tapi tidak melakukannya... yah, begitulah.

======

Ketika telah nyata bahwa keuntungan nyalin tugas dan nyontek jauh lebih besar daripada kerugiannya...

Ketika akal sehat dan keadaan pun telah berteriak "NYONTEK SANA!"...

Ketika jargon-jargon integritas akademik terdengar seperti bualan aktivis semata...

Ketika nasihat-nasihat dari kawan seperjuangan dianggap upaya sok suci dan munafik...

Pandanglah Wajah Sang Pencipta yang teduh dan tanyakan dengan tulus kepadaNya... dan tangkaplah jawabanNya dengan hati nurani yang terdalam.



.

Selasa, 22 September 2009

Jadilah Juara

Kembali dengan cerita fiksi-lagu kedua dari saya, yang saya jadikan korban kali ini adalah lagu Jadilah Juara, OST King, oleh Ipang BIP dan Ridho Slank. Selamat menikmati.

DISCLAIMER: Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesalahan yang tidak mengenakkan dalam penuturan peristiwa, nama, tempat, maupun fakta-fakta lainnya, penulis mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.

=========================

Alfonso turun dari angkot Panghegar - Dipati Ukur, memberikan uang seribu kepada sang supir, dan cepat-cepat lari sebelum sang supir sempat meminta tambahan ongkos. Setelah terdengar suara deru angkot menjauh, ia baru menghentikan larinya dan memandang ke depan, mencari-cari dengan matanya. Rupanya dia belum datang. Memang salahku datang sepuluh menit lebih awal untuk bertemu orang yang biasanya telat sepuluh menit kalau janjian, pikirnya.

Maka ia memutuskan untuk menghampiri landmark kampusnya, papan nama Institut Teknologi Bandung pada sebuah batu bercat hijau muda, dan duduk bersandar di sana sambil menikmati pemandangan sekitar Gerbang Ganesha. Jalanan putih bagaikan tertutup salju yang hanya ada di negeri empat musim. Ada tukang gorengan, mahasiswa-mahasiswa berjaket himpunan masing-masing yang berwarna-warni, mobil-mobil mewah keluar masuk gerbang. Sesekali terdengar suara burung di atas kepala yang mirip sirine pertanda serangan udara Jepang waktu Perang Dunia Kedua: jika suaranya berkumandang, itu pertanda bom-bom akan segera berjatuhan. Alangkah permainya kampusku, pikir Alfonso sambil tersenyum.

Dan tiba-tiba dari arah dalam kampus terlihat segerombolan mahasiswa berjas almamater. Sebagian besar dari mereka bertampang lesu. Yang pria sibuk mengelap keringat, yang wanita merapikan rambutnya yang acak-acakan. Alfonso kembali tersenyum. Ini anak-anak angkatan 2011 yang baru selesai menjalani rangkaian acara penerimaan hari ini, pikirnya.

Dan seketika dirinya sudah merasa sok tua, mengenang saat ia pertama kalinya melangkahkan kaki melalui Gerbang Ganesha. Apakah spanduk yang begitu menggetarkan hatinya dulu itu masih selalu terpampang setiap awal tahun ajaran? Ia menoleh ke suatu arah dan melihat bahwa ya, masih ada, namun agak sedikit berbeda.

SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI HARAPAN BANGSA.

Mungkin kata 'TERBAIK' dianggap terlalu arogan, keluh Alfonso sedih. Mungkin kata itu dihapuskan karena orang melihat arogansi mahasiswa ITB yang begitu tinggi dan kerjanya hanya menyombongkan diri seperti saya, pikir Alfonso. Atau mungkin juga karena mahasiswa-mahasiswa ITB dianggap tidak lagi memenuhi syarat, tidak lagi diharapkan untuk menyandang beban begitu berat sebagai putra-putri terbaik bangsa.

Padahal ia begitu merindukan melihat kata itu. Kata yang menurutnya memang pantas disematkan kepada Ganesha-Ganesha muda yang akan mengawali langkahnya membangun negara. Kata yang menunjukkan tingginya ekspektasi negara ini pada Institut Teknologi Bandung. Pada manusia-manusia yang adalah calon-calon patriot bangsa yang sebenarnya. Ya, Alfonso percaya bahwa pejuang kemerdekaan di masa ini bukan lagi tentara ataupun politisi, tapi orang-orang ilmu pengetahuan alam.

Kita adalah pejuang
yang membela harga diri
negeri ini


Dari dulu Alfonso selalu meyakini bahwa bidang ilmu pengetahuan alam-lah yang seharusnya menjadi ujung tombak pembangunan. Bukan ilmu sosial. Yang menentukan nasib bangsa Indonesia seharusnya adalah para teknokrat, para insinyur, para dokter, para ilmuwan. Bukan politikus, pengacara, ekonom, atau artis. Ilmu sosial memperbincangkan hal-hal maya, ilmu alam membuat hal-hal nyata.

Ketika kenaikan harga BBM menjadi perdebatan para analis ekonomi, bukankah insinyur perminyakan-lah yang kerja keras memompa minyak yang jadi perdebatan itu keluar dari perut bumi? Ketika di bursa saham orang kelabakan karena fluktuasi harga saham perusahaan otomotif, perumahan, petrokimia; bukankan yang mereka kerjakan hanya memperbincangkan hasil kerja para insinyur mesin, sipil, dan kimia? Ketika wabah flu burung dan SARS menyebar dan pemerintah memerintahkan keadaan tanggap darurat, bukankah itu semua tidak ada artinya jika para dokter tidak mampu menolong orang-orang sakit dan para ilmuwan tidak menemukan vaksin? Para jenderal TNI jika negara kita diserang musuh sibuk mengatur koordinat pertahanan, membaca peta, mengatur letak artileri, pasukan infantri, angkatan laut, dan angkatan udara. Apa kerja mereka jika tidak ada para insinyur yang membuat benteng, peta, artileri, senapan, kapal perang, dan pesawat tempur? Bahkan ketika orang-orang sibuk mencari uang, sebenarnya siapa sih yang membuat uang? Mesin cetak, perkebunan abakus, dan tinta. Siapa yang membuat itu semua? Insinyur-insinyur.

Jadi jelaslah menurut Alfonso bahwa insinyur-lah yang bisa mengubah nasib bangsa ini secara nyata. Membasmi krisis energi dan pangan dan pada akhirnya memandirikan bangsa secara ekonomi. Memperbaiki sistem transportasi dan tata kota sehingga permasalahan sosial urban dapat diminimalisasi. Membuat alutsista canggih sendiri sehingga kedaulatan bangsa terjunjung tinggi. Mendirikan industri berbasis sumber daya lokal sehingga profit yang didapat besar dan digunakan untuk biaya pendidikan rakyat sehingga makin banyak rakyat yang terdidik untuk pembangunan nyata.

Dan tempat mana lagi paling cocok untuk mencetak insinyur-insinyur yang bisa melakukan hal-hal itu, selain di kampus berjudul institut teknologi ini? Yang dari semua segi memang terbaik pada bidangnya di negeri ini? Jadi kenapa harus malu mengakui bahwa di sinilah tempatnya putra-putri terbaik bangsa menuntut ilmu?

Kecuali jika hal itu tidaklah lagi benar. Jika yang menuntut ilmu di sini bukanlah lagi putra-putri terbaik bangsa. Benarkah?

Kita bangsa yang berani
tak takut untuk hadapi
semuanya


Patriot-patriot negara memberikan tubuh dan darah mereka sebagai batu bata penyusun istana kemerdekaan. Tank-tank dan senapan mesin Belanda, bayonet dan samurai Jepang, tidak menggentarkan mereka. Bagaimana dengan pejuang-pejuang kemerdekaan versi Alfonso zaman ini, yaitu para mahasiswa teknik, termasuk dirinya sendiri? Alfonso pun mulai menghitung daftar hal-hal yang ditakutinya.

Angin dingin pagi hari kota Bandung. Ketakutan ini membuatnya seringkali meringkuk tenang di dalam selimutnya sementara wekernya sudah berbunyi tujuh kali untuk memanggilnya agar segera bangun dan berangkat kuliah. Akibatnya sudah tak terhitung berapa puluh kelas pagi yang ia lewatkan.

Gengsi dan ketakutan untuk mendapat nilai nol sendirian sementara teman-temannya mendapat nilai bagus. Ketakutan ini membuatnya sering memodifikasi tugas dan laporan karena semua orang kebanyakan melakukannya. Daripada tidak mengumpulkan? Yah, sebenarnya Alfonso tahu kalau hal ini bisa diatasi jika ia mengerti betul materi tugas dan laporan dengan belajar sungguh-sungguh, tapi apa mau dikata bahwa salah satu ketakutan lain Alfonso adalah takut...

Mengorbankan waktu(istirahat dan main)nya untuk memahami materi-materi kuliah. Sebenarnya sebuah perbuatan yang sangat tidak mahasiswa sekali.

Dengan melihat diri sendiri saja dan segala ketakutannya, Alfonso dapat menyimpulkan bahwa memang tidak semua yang kuliah di Institut Teknologi Bandung ini merupakan putra-putri terbaik bangsa.

Jangan lelah jangan lemah
janganlah mudah mengalah
dan menyerah


Alfonso teringat cerita yang pernah dituturkan salah satu dosennya tahun lalu. Saat itu di kelas, Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja menceritakan kepada seluruh kelas tentang salah seorang mahasiswa bimbingannya yang berkewarganegaraan Vietnam. Si mahasiswa ini, menurut Pak Tatang, berkata dengan berani kepadanya:

"Pak, saya yakin Vietnam dalam beberapa tahun lagi akan lebih maju dari Indonesia. Kami kerja lebih keras. Di mana-mana semua orang kerja keras. Bahkan orang miskin kami kerja lebih keras dari orang miskin Bapak."

Alfonso termasuk salah satu dari orang-orang yang panas mendengar cerita itu. Seseorang yang negaranya hancur total tahun 70an akibat perang, yang negaranya tertinggal 30 tahun dari Indonesia yang memiliki keunggulan SDA dan SDM jauh lebih banyak? Namun selain panas, hatinya perih juga kalau itu memang benar. Mungkin si Vietnam itu ingin menambahkan juga, namun tidak enak jika didengar rekan-rekannya: "Dan mahasiswa-mahasiswa kami kerja lebih keras dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia!".

Tidak, batin Alfonso. Ia tidak mau kalah. Ia teringat ucapan salah seorang seniornya di ITB ini. Seniornya yang 85 angkatan lebih tua darinya.

"Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera, agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 sen sehari; bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli; bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita."

Dan seniornya itu, setelah lulus dari ITB, telah membuktikan kata-kata itu. Di bawah pimpinannya, bangsa Indonesia melangkah ke arah jajaran bangsa-bangsa terdepan dunia. Sayang langkah itu terhenti. Dan bahkan sempat mundur.

Dan Alfonso berangan-angan dengan sumber daya Indonesia yang melimpah, dikombinasikan dengan bidang ilmu yang ditekuninya, teknik kimia, apa yang bisa dilakukan?

Ia tidak mau kalah dengan Brasil yang menjual etanol di setiap SPBU di seantero negeri itu, dan dengan demikian menghilangkan ketergantungan akan keberlangsungan negaranya terhadap situasi politik yang mengelilingi ladang-ladang minyak Timur Tengah. Ia tidak mau kalah dengan RRC yang, karena diembargo, telah memproduksi sendiri seluruh katalis untuk industri kimianya, yang menghemat devisa negara hingga berjuta-juta dolar Amerika. Merekalah contoh bahwa negara-negara berkembang bisa selangkah menuju ke arah kemajuan dengan teknik kimia, dan Alfonso berharap Indonesia akan menjadi contoh pula.

Cita-cita satu negara
kita yang harus menjawabnya
Harapan dari bangsa ini
kita menjadi juaranya


Alfonso tahu tingginya harapan terhadap mahasiswa ITB. Terhadap para calon insinyur, ilmuwan, dan seniman terbaik bangsa. Betapa tingginya citra mahasiswa ITB di hadapan rakyat kecil.

"Mau ke ITB mas? Bikin motor yang irit bensin ya mas ntar." Begitu kata salah seorang tukang ojek tetangga Alfonso empat tahun lalu. Saya mau kuliah teknik kimia, bukan teknik mesin, bang, gumam Alfonso dalam hati, namun ia menyadari itulah bentuk ekspektasi masyarakat.

Dan Alfonso tahu bahwa harapan masyarakat terhadap mahasiswa sebuah institut teknologi tidaklah cukup dipenuhi dengan mendemo pemerintah yang korup, dengan romantisme dan kata-kata. Namun dengan menyadari bahwa para insinyur-lah ujung tombak pembangunan. Dengan mengembangkan energi alternatif dan menyelesaikan krisis pangan. Dengan mengembangkan semua produk barang (dan hampir semua barang kebutuhan masyarakat adalah hasil industri) bebas impor. Bahkan kualitas ekspor.

Alfonso melihat kembali ke arah spanduk itu. SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI HARAPAN BANGSA. Dan tiba-tiba ia terhenyak menyadari apa makna pergantian kata TERBAIK menjadi HARAPAN pada spanduk penyambutan tersebut.

Ia dan banyak teman-temannya merasa bangga menjadi putra-putri terbaik bangsa. Alfonso hanya berharap bahwa mereka benar-benar tahu arti kebanggaan tersebut. Bahwa selain menjadi yang TERBAIK, merekalah juga HARAPAN bangsa ini. Bahwa mereka disubsidi pendidikannya oleh duit rakyat bukan untuk lari ke Amerika. Bahwa setelah mereka menapakkan kakinya di Bumi Ganesha mereka bukan hanya milik orangtua mereka namun telah menjadi milik ibu pertiwi. Bahwa rakyat rindu bukan hanya melihat mereka membantu pengolahan migas negara di perusahaan-perusahaan asing, namun juga mengembangkan teknologi pengilangan minyak canggih versi Indonesia. Bahwa seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya keluarga mereka, ingin makmur juga.

Berusaha pantang menyerah
jadilah juara
Berjuanglah pantang menyerah
jadi pemenangnya


Lima tahun lagi keyakinan ini akan diuji, pikir Alfonso. Di saat ibuku sudah tua dan pensiun, di saat adikku masuk kuliah, di saat anakku baru lahir mungkin...

"HEI!!!"

Teriakan itu membuyarkan lamunan Alfonso. Sedetik kemudian Alfonso sudah mulai memaki-maki temannya yang mengagetkannya itu.

"Dari mana aja lu? Gua udah jamuran dari tadi nungguin lu pada! Mana yang laen?"

"Yeee!!! Ini baru jam 5:32, kan kita janjian setengah enam, baru juga telat dua menit, lu ngapain aja dari tadi? Pasti kebanyakan ngelamun ya? Dasar lu mah... Tuh yang laen udah pada di mobil."

Alfonso menggelengkan kepala. Benar-benar, ia kebanyakan melamun. Untuk menghindari rasa malu, ia bertanya "Kita mau ke mana sampai jam berapa? Gua gak bisa sampe malem nih, besok pagi mau mulai ngerun penelitian..."

"Duh, tau deh yang sekarang lagi S2... yaudah gampang dah itu mah, sekarang cabut dulu lah!"

Alfonso mengangkat bahu dan bangkit berdiri, melangkahkan kakinya. Nggak apa-apa sesekali senang-senang, pikirnya. Yang penting bisa bagi waktu. Dan berarti besok pagi ia sudah harus berada di lab pilot untuk menapak selangkah lebih maju menuju pembuatan pabrik enzim yang pertama di Indonesia.



Ipang BIP ft. Ridho Slank - Jadilah Juara

Kita adalah pejuang
yang membela harga diri
negeri ini

Kita bangsa yang berani
tak takut untuk hadapi
semuanya

Cita-cita satu negara
kita yang harus menjawabnya

Jangan lelah jangan lemah
janganlah mudah mengalah
dan menyerah

Cita-cita satu negara
kita yang harus menjawabnya
Harapan dari bangsa ini
kita menjadi juaranya

Berusaha pantang menyerah
jadilah juara
Berjuanglah pantang menyerah
jadi pemenangnya



.

Rabu, 16 September 2009

Pertemuan dengan Sang HIMATEK Ideal

DISCLAIMER: Tokoh-tokoh yang ada di cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jikalau ada kesamaan nama, sifat, maupun apapun dengan seseorang, hal itu di luar kehendak sang pengarang.

"Wah, apa ini? HIMATEK Notes Attack?"

Alfonso melihat layar laptopnya dengan tertarik. Saat itu ia sedang menjelajah group HIMATEK di Facebook, dan tiba-tiba saja ia masuk ke sebuah diskusi tentang HIMATEK Notes Attack.

"Lomba nulis notes fesbuk... Tema:... 3. Kutemukan cinta di HIMATEK... Pemenang favorit... voucher warung HIMATEK sebesar 60rb rupiah... WOW."

Alfonso pun langsung membuka MS Word 2007-nya, dan mulai mengetik. Jari-jarinya meluncur cepat di keyboard laptopnya, melahirkan kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Mudah sekali ide mengalir dari hati ke otak, dari otak ke jari, dari jari ke keyboard, dari keyboard ke layar... Di layar bermunculan ungkapan-ungkapan tentang HIMATEK, tentang tujuan HIMATEK, tentang apa gunanya HIMATEK bagi mahasiswa, tentang apa hebatnya HIMATEK sehingga pantas untuk dicintai, tak lupa kritikan bagi mereka yang seakan sudah melupakan apa arti berhimpunan dan tentu saja ajakan bagi semua orang untuk lebih mencintai HIMATEK. Alfonso tidak berhenti begitu saja. Dentang jam tengah malam berkumandang mengiringi suara hantaman jari ke keyboard yang tanpa henti. Dan Alfonso terus mengetik. Sambil menyeka peluh yang bercucuran di dahi, dan cileuh yang bermunculan di kelopak mata.

Dan akhirnya jadilah sudah notes dari Alfonso. "Aku Cinta HIMATEK".

"Ctrl+C... Masuk ke facebook, notes... Ctrl+V... POST. Tag si ini, si itu, si anu, dll..."

Selesai sudah, pikir Alfonso, dan ia pun tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Tombol Turn-Off di layar laptopnya pun telah ia klik. Alfonso pun bangkit dari kursinya, hendak melemparkan badannya ke kasurnya yang empuk. Namun perhatiannya segera tertuju pada pintu kamarnya, Ada sesosok tubuh sedang berdiri di muka pintu kamarnya, membelakangi dirinya.

Sosok itu seperti seseorang yang sudah dikenalnya, namun Alfonso tidak bisa mengingat siapa dia. Orang itu memakai jaket hitam yang amat dikenali Alfonso: jaket Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia, dengan dua strip putih di lengan kanan.

"Selamat malam, Alfonso." katanya dingin. Alfonso merasakan ada nada sinis dalam salam orang asing ini.

"Siapa kau? Mau apa kau di sini?" tanya Alfonso tajam.

"Kau boleh memanggilku apa saja yang kau mau, tapi orang-orang biasa memanggilku Sang HIMATEK Ideal..." jawab sosok itu. "... meskipun aku sendiri tidak terlalu suka dipanggil dengan nama itu. Aku belum menyumbang banyak untuk HIMATEK... namun setidaknya lebih banyak dari kebanyakan 'anggota'nya... Kau boleh menganggapku personifikasi dari orang-orang seperti itu."

"Lalu mau apa kau kemari?" Alfonso mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih hati-hati.

"Mengomentari notes yang kau tulis untuk HIMATEK Notes Attack." jawab Sang HIMATEK Ideal. Tegas, tajam, dan dingin. Alfonso hanya bisa terdiam, terkejut dan tak bisa memikirkan respon apapun atas pernyataan yang tiba-tiba ini. Sang HIMATEK Ideal melanjutkan kata-katanya.

"Merasa layakkah kau menulis hal-hal yang kau telah tulis di notes itu, Alfonso?" ucap Sang HIMATEK Ideal, diiringi tawa pendek yang jelas mengejek. "Kau terlalu banyak bermimpi."

Alfonso menjawab dengan sengit. "Setiap orang boleh dan berhak bahkan wajib punya mimpi!"

"TIDAK jika mimpi itu TIDAK untuk dijalankan!" bentak Sang HIMATEK Ideal. Alfonso terhenyak.

"Selama ini kau terlalu banyak berteori, Alfonso. Kau punya harapan yang seabrek untuk HIMATEK yang kau cintai ini, tapi mana kapabilitasmu untuk membuktikannya? Mana kemampuanmu untuk menjadikan HIMATEK yang kau cintai ini sesuai dengan harapanmu? Tidak ada kan? Nihil? Nol? Harapanmu itu harapan palsu, harapan kosong!!!"

Alfonso terdiam.

"Retorika, Alfonso, retorika. Berapa banyak argumenmu tentang HIMATEK yang kau ungkapkan kepada orang-orang namun gagal kau realisasikan, atau kau tidak tahu cara merealisasikannya. Aku tidak pernah berkoar-koar tentang harapanku untuk HIMATEK, aku MELAKUKANNYA. Dan jika aku melakukannya pasti aku MEWUJUDKANNYA. Aku kerja nyata, Alfonso, tidak seperti kamu."

"Kamu tidak pernah berbuat apa-apa untuk HIMATEK. Tidak pernah menyumbangkan sesuatu apapun yang berarti untuk HIMATEK. Sekarang kamu ingin menguliahi teman-temanmu tentang kecintaan terhadap HIMATEK? Sedangkan aku yang telah berbuat ini itu, jauh lebih banyak darimu di HIMATEK, tidak pernah sebegitunya melakukan hal itu? Sejauh apa kau cinta HIMATEK, sejauh apa kontribusimu di HIMATEK, Alfonso?"

Untuk hal ini, Alfonso tidak bisa berdiam diri.

"Aku representasi HIMATEK di badan tertinggi KM-ITB! Sebagai seorang HIMATEK ideal tentunya kau tahu bahwa jabatan itu tidak main-main!"

"Selevel Kahim, eh?" balas Sang HIMATEK Ideal dengan cepat dan menyayat. "Ya, jika ini sistem KM-ITB yang ideal, Alfonso. Kau diharapkan menyangga beban berat untuk menyampaikan aspirasi 300an anggota HIMATEK yang peduli akan kinerja Kabinet dan Tim MWA. Namun sayangnya, massa HIMATEK tidak banyak yang peduli akan hal-hal itu. Kinerjamu jadi terabaikan. Dapat kukatakan, kerjamu mudah sekali sebagai Senator sekarang ini. Datang, duduk, diam, pulang. Persis anggota DPR."

"Tapi aku tidak seperti itu!!!" teriak Alfonso.

"Tapi lihatlah betapa mudahnya. Yang penting daftar absen penuh, karena massa HIMATEK hanya dapat mengukur itu dari kinerja Senator. Hanya daftar hadir. Tidak ada yang marah karena aspirasi mereka bertentangan dengan apa yang Kabinet kerjakan. Tidak ada yang menyalahkanmu karena gagal menyampaikan aspirasi mereka, yang bertentangan dengan apa yang Kabinet kerjakan. Tidak ada yang peduli jika kau datang rapat dengan pandangan kosong dan hanya diam termangu."

"Dan kau gagal di masa jabatan pertamamu, Alfonso. Gagal. Nama HIMATEK tercoreng karena kau bolos rapat hingga sebulan. Karena kau malas. Dan tidak siap menerima amanah sebesar Senator."

"Dan sayangnya, kontribusi 'besar'mu di HIMATEK hanya sebagai Senator, Alfonso. Untuk keadaan HIMATEK seperti ini, Senator yang baik haruslah mampu memasyarakatkan KM-ITB kepada anggota-anggotanya. Apa kontribusimu dalam hal itu, Alfonso?"

"Tidak semuanya itu salahku!" protes Alfonso.

"Tapi itu bagian kesalahanmu juga, dan porsimu tidak kecil." balas Sang HIMATEK Ideal. "Itu sebagian saja dari kesalahanmu, Alfonso. Masih ada banyak. Akan kuuraikan."

"Kau berkata-kata tentang tujuan HIMATEK. Beranikah kau mengakui bahwa sebenarnya kau baru mendengar dan mengetahui tujuan HIMATEK itu waktu Bang Kahim berorasi di depan calon angkatan termuda di lapangan basket saat kaderisasi?"

"Kau mengajak teman-temanmu datang ke forum-forum HIMATEK dan tidak melakukan apa-apa selain ngobrol. Aku tidak mengajak teman-temanku di muka umum, namun aku DATANG dan BERKONTRIBUSI. Tidak seperti kamu, Alfonso."

"Kau berkata-kata tentang bagaimana seharusnya anggota HIMATEK bersikap. Aku tidak pernah berkoar-koar tentang bagaimana anggota HIMATEK harus bersikap. Tapi aku terlibat aktif di semua kepanitiaan yang kuikuti. Tidak seperti kamu Alfonso. Tiap rapat anggota, rapat divisi, bahkan kuliah, aku datang tepat waktu. Tidak seperti kamu Alfonso. Tiap kuliah aku tidak pernah titip absen. Tiap labtek aku tidak pernah rekdat. Tugas kuliah kubuat sendiri, tidak menyalin. Tidak seperti kamu Alfonso. Jika HIMATEK butuh solusi, aku beri solusi konkrit dan aplikatif. Tidak seperti kamu Alfonso. IPKku masih jauh di atas cukup untuk Cum Laude, tidak seperti kamu Alfonso."

Alfonso hanya menunduk. Semua yang dikatakan Sang HIMATEK Ideal itu benar adanya.

"Tahu orang Farisi, Alfonso? Kaum munafik di negeri Israel zaman dahulu kala. Kaum yang selalu menekuni kitab Taurat tapi tidak pernah melakukannya. Kaum omdo. Omog doang. Itulah kau, Alfonso."

"CUKUP!!!!!!" teriak Alfonso. Sang HIMATEK Ideal terus melanjutkan pidatonya tanpa mempedulikan protes Alfonso.

"Kau terlalu banyak bicara. Aktiflah bergerak membangun HIMATEK jika kau mencintainya. Seperti aku yang telah memberikan ini itu untuk HIMATEK. Aku terbukti menjadi orang yang bisa HIMATEK andalkan. Karena aku cinta HIMATEK. Kau, mau mengaku cinta HIMATEK? Hanya dengan mulutmu saja, Alfonso. Cintamu itu cinta palsu. Omong kosong."

Alfonso tertunduk. Tersungkur. Gemetar. Menangis.

"Itu memang benar adanya, wahai Sang HIMATEK Ideal..." desis Alfonso dengan lirih. "Kau sempurna. Kontribusiku untuk HIMATEK memang tidak seberapa. Sifatku sebagai kader HIMATEK pun jauh dari sempurna. Bahkan bukan termasuk golongan yang terbaik. Dibandingkan denganmu, aku bukan apa-apa. Meskipun begitu..."

Hening sejenak.

"Meskipun begitu, untuk mengatakan bahwa cintaku terhadap HIMATEK adalah palsu... KAU TELAH MELEWATI BATAS!!!" teriak Alfonso sambil bangkit berdiri tegak. Tatapan matanya yang marah menghunjam jaket HIMATEK di punggung Sang HIMATEK Ideal.

"Kau tidak berhak." gumam Alfonso, pelan. "Kau tidak berhak mendefinisikan CINTA!" teriak Alfonso ke arah punggung Sang HIMATEK Ideal.

"Aku memang bukan HIMATEK Ideal. Aku HIMATEK Ampas. IPKku tidak cum laude. Kelakuanku buruk. Pemikiranku tidak semaju rekan-rekanku yang lain. Aku tidak rajin, tidak ulet, tidak jujur, tidak teliti, aku punya banyak kekurangan. Aku iri padamu, Sang HIMATEK Ideal. Aku ingin berkontribusi lebih sepertimu. Ingin bisa membagi waktu sebaik kau. Ingin bisa belajar dan berorganisasi seiringan dengan hasil baik bagi keduanya. Aku ingin memiliki pemikiran-pemikiranmu yang jitu. Kharismamu yang membuat engkau mudah mengendalikan teman-temanmu menuju HIMATEK ideal versi dirimu."

"Tapi apakah aku tidak boleh mengekspresikan kecintaanku dengan kata-kata? Aku memang tidak mampu berbuat lebih dari kata-kata. Tapi inilah caraku untuk mengungkapkan kecintaanku bagi HIMATEK. Dan dengan kata-kata pula aku mengajak teman-temanku untuk mencintai HIMATEK. Karena aku sendiri pun cinta akan HIMATEK."

"HIMATEK, yang telah memberikan kepadaku kepercayaan pertama seumur hidupku sebagai Penanggung Jawab sesuatu. Meskipun itu hanyalah PJ name tag saat kaderisasi."

"HIMATEK, yang membuat aku merasa bisa menyelesaikan pekerjaan dalam sebuah organisasi untuk pertama kalinya dalam hidupku. Meskipun itu hanyalah sebuah Analisis SWOT Angkatan."

"HIMATEK, yang telah memberikan kepadaku jabatan struktural pertama pada sebuah kepanitiaan. Meskipun itu hanyalah Koordiv Lapangan pada sebuah wisudaan, dengan anggota divisi tidak lebih dari 5 orang."

"HIMATEK, yang mengenalkanku dengan rekan-rekan, kakak-kakak, dan adik-adik tingkat yang merupakan manusia-manusia berkualitas. Meskipun itu diawali hanya dalam bentuk KINKAT, MEKFLU, EKSPANDER, dan BURNER."

"HIMATEK, yang telah memberikan pengalaman pertama dalam hidupku untuk berbicara di depan umum dalam tekanan, pada saat hearing calon Senator 2008/09."

"HIMATEK, yang menyerahkan kepadaku mandat terbesar yang pernah kuterima dalam 21 tahun hidupku: membawa suara dan pikiran 300an jiwa manusia ke Kongres KM-ITB."

"HIMATEK, yang mengajarkan efisiensi dan efektivitas rapat. Etos kerja. Kejujuran."

"HIMATEK, yang mengubah orientasiku masuk kampus ini dari sekadar cari jurusan bergengsi yang murah, menjadi semangat untuk membalas budi pada rakyat Indonesia dengan memajukan negara."

"HIMATEK telah memberi terlalu banyak untukku. Apa yang telah kuberikan kepadanya? Tapi kau lupa, hai Sang HIMATEK Ideal, bahwa HIMATEK pada hakekatnya adalah sebuah wadah. Wadah yang tidak bisa memberi, tapi bisa menjadi alat bagi kita untuk berkembang."

"Tanpa HIMATEK aku bukanlah apa-apa, hai Sang HIMATEK Ideal. Berbeda denganmu. Mungkin tanpa HIMATEK IPKmu masih akan cum laude. Mungkin tanpa HIMATEK skill organisasimu akan tetap tinggi. Mungkin tanpa HIMATEK kau akan tetap bisa bergaul. Mungkin tanpa HIMATEK kau akan tetap hebat. Akan tetap kritis. Akan tetap cerdas. Akan tetap ideal."

"Tapi aku, aku yang bukan apa-apa. HIMATEK telah memberi terlalu banyak. Dan itulah yang akan terus kukejar. Aku cinta HIMATEK sebagai wadah. Maka akan kuberdayakan ia sebagai wadah. Aku akan terus belajar di dalamnya. Dibentuk di dalamnya. Dan sebagai bukti kecintaanku, akan kuumumkan kepada dunia nanti jika aku telah menjadi manusia yang berguna dan berandil untuk orang lain: bahwa di TEKNIK KIMIA ITB ada sebuah wadah bernama HIMATEK, yang dapat mengubah bukan siapa-siapa seperti aku menjadi seorang siapa-siapa!!!"

Sang HIMATEK ideal melangkah mundur, mendekati Alfonso. "Alfonso, sayang sekali..."

"Aku tahu kau masih memiliki sejuta protes untuk argumenku." potong Alfonso. "Lagipula kau adalah Sang HIMATEK Ideal. Argumenku tadi tentu mudah kaulawan. Maka akan kupertegas. Aku akan meningkatkan aktivitas dan kontribusiku di HIMATEK, aku akan menjadi kader yang HIMATEK banggakan, dan selagi aku melakukannya, kau boleh diam dan lakukan bagianmu. Dan ini salam perpisahan untukmu, sekaligus ucapan terima kasih..."

Alfonso mengayunkan tinjunya ke arah kepala Sang HIMATEK Ideal. Sang HIMATEK Ideal menghindar. Alfonso secara refleks kemudian menarik jahim Sang HIMATEK Ideal.

GUBRAK.

Alfonso terbanting. Ia jatuh dari kursi. Tangan kanannya teracung ke atas, memegang jahim dengan namanya sendiri. Ia segera bangkit dan membetulkan letak kursinya. Matanya terarah ke layar laptopnya yang masih menyala. Di sana ada jendela MS Word 2007 yang masih terbuka, di dalamnya ada sebaris tulisan "Karangan untuk HIMATEK Notes Attack" dan selebihnya kosong. Jam di dinding menunjukkan pukul satu malam.

"Rupanya aku ketiduran sebelum sempat mulai menulis." gumam Alfonso.

Ia menggosok-gosok kepalanya yang terbentur tadi, kemudian mematikan laptopnya. Ia memutuskan untuk menunda penulisan notes itu untuk saat dia bangun pagi nanti. Lagipula, ia sudah tahu pasti apa yang akan ia tulis.


.

Selasa, 15 September 2009

Siapakah Orang "Indonesia Asli"?


Peta Kedatangan Nenek Moyang Bangsa Indonesia


Nenek moyang bangsa Indonesia, secara teoritis, berasal dari tempat yang sekarang bernama Provinsi Yunnan di Republik Rakyat Cina, melalui migrasi ribuan tahun lalu. Penduduk asli Kepulauan Indonesia saat itu yaitu ras Austromelanesoid tergusur oleh keberadaan nenek moyang bangsa Indonesia saat ini dan terdesak ke Irian. Berdasarkan waktu kedatangannya, para imigran tersebut dibagi dua:

1. Proto Melayu
Orang-orang Proto Melayu datang dari Yunnan sekitar tahun 2000 SM. Mereka datang melalui dua jalur:
a. Jalur pertama dari Filipina menyebar ke Sulawesi dan Papua. Mereka ini antara lain menjadi nenek moyang suku Toraja. Mereka membawa kebudayaan kapak lonjong.
b. Jalur kedua dari Indocina melewati Semenanjung Malaya ke Sumatera, lalu menyebar ke Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Mereka ini antara lain menjadi nenek moyang suku Batak, Dayak, dan Sasak (Lombok).

2. Deutero Melayu
Orang-orang Deutero Melayu datang dari daerah Teluk Tonkin (Vietnam Utara) sekitar tahun 500 SM. Peradaban mereka lebih maju dari orang-orang Proto Melayu, yaitu kebudayaan Dong Son yang ditemui di Vietnam. Mereka menempati pesisir-pesisir dan mendesak orang-orang Proto Melayu ke pedalaman. Mereka ini antara lain menjadi nenek moyang suku Jawa, Minang, dan Bugis.

Semua yang disebutkan di atas, penduduk "asli" Indonesia, nenek moyang bangsa "pribumi" Indonesia yang sekarang, berasal dari Cina. Namun mereka tetaplah nenek moyang bangsa Indonesia. Yang membedakan hanyalah waktu kedatangan, entah itu 2000 SM, 500 SM, atau 1000an M.

Bhinneka Tunggal Ika!


.

Senin, 17 Agustus 2009

Terjemahan Singkat dari Segala Keinginan Anda

Salam, teman-teman! Ada berita baik buat anda.

Anda yang terpilih untuk di-tag di notes di facebook ini akan dihadiahi sebuah tugas untuk menyebarkan "Terjemahan Singkat dari Segala Keinginan Anda", yaitu GBHP KM-ITB 2009/10!

Sebarkan kepada seluruh massa HIMATEK yang anda kenal, maka anda akan dikenang sebagai anggota HIMATEK yang care, gaul, berdedikasi tinggi, dan intelek! Hahahahahahaha (apaan bgt deh).

Artikel ini akan dimuat di Enzyme edisi Agustus dan edisi September, tapi bagi yang penasaran ingin baca lengkapnya langsung, silakan lihat di bawah ini:

TERJEMAHAN GBHP KM ITB 2009/2010 DAN KONSEKUENSINYA UNTUK HIMATEK

Garis-garis Besar Haluan Program a.k.a. GBHP adalah tugas atau suruhan yang harus dijalankan oleh Kabinet KM-ITB dalam satu tahun ke depan. Siapa yang membuat GBHP ini? Kongres, yaitu perwakilan teman-teman dan dari mana Kongres membuat GBHP ini? Dari keinginan teman-teman sendiri.

Jadiiii… GBHP ini dibuat berdasarkan apa keinginan teman-teman yang sudah diutarakan oleh teman-teman HIMATEK kepada tim senator saat masa pembuatan GBHP, beberapa bulan lalu.

Idealnya, kita tidak hanya bisa memberi suruhan, tapi juga mendukung pelaksanaan suruhan itu karena kita sendirilah yang menyuruh Kabinet untuk mengerjakan GBHP ini.

Mari berpartisipasi. Karena secara teknis GBHP ini sudah mewakili seluruh kampus (termasuk kita, HIMATEK), maka kita harus mensukseskan terlaksananya GBHP ini. Itu sudah merupakan kesepakatan bersama, maka kita harus menjalankan konsekuensinya

Mau tahu konsekuensi yang harus kita jalani? Mari membaca ringkasan GBHP di bawah ini…



A. Bidang INTERNAL  Menko 1

Fungsi Kabinet di bidang INTERNAL:

1. Memenuhi kebutuhan dasar mahasiswa
Kebutuhan dasar mahasiswa yang dimaksud adalah kebutuhan akademis, kesejahteraan, dan pengembangan diri.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Jika ada anggota yang bermasalah dengan akademik atau kesejahteraan (terancam DO atau butuh beasiswa, misalnya), jangan ragu-ragu proaktif memintakan bantuan ke Kabinet KM-ITB.
- HIMATEK harus mengusahakan anggotanya memberi tahu, atau mencari tahu, pengembangan diri apa yang dibutuhkan oleh mereka sehingga bisa diusahakan untuk diadakan oleh Kabinet.

2. Menyampaikan informasi yang dibutuhkan dan sosialisasi semua kegiatan
Kabinet memberitahukan semua yang dilakukan kepada massa kampus, termasuk di antaranya mencerdaskan massa kampus soal isu-isu yang dianggap penting dan mempertahankan image baik Kabinet KM-ITB di mata mahasiswa.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Jika ada informasi yang disampaikan Kabinet lewat jalur himpunan (ke Kahim/BP/Kongres), harus dipastikan 100% sampai ke semua anggota HIMATEK.
- Jika ada isu-isu yang disampaikan ke HIMATEK oleh Kabinet, harus ‘dipanaskan’ di HIMATEK agar bisa diberikan feedback ke Kabinet.
- HIMATEK harus menjaga agar citra Kabinet KM-ITB tetap baik (minimal dari BP dan BPA) dengan menginformasikan secara objektif tentang Kabinet KM-ITB ke massa HIMATEK (mestinya kawan-kawan tahu sekarang keadaannya seperti apa).


3. Menjadi pemersatu dan penghubung (sinergisasi) antara himpunan dan unit ITB
Kabinet harus memfasilitasi kepentingan-kepentingan yang berbeda dari tiap elemen di kampus (himpunan-himpunan dan unit-unit) sekaligus mensinergiskannya, secara spesifik ada beberapa hal: membuat satu kampus paham visi misi Kabinet, menjadi koordinator yang baik untuk urusan antar himpunan dan unit, dan mampu membuat suatu aktivitas yang seluruh lembaga turut serta menyumbang ide dan tenaga di dalamnya.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Baca visi misi Ucup-Benny, dan usahakan agar tiap aktivitas yang dilakukan HIMATEK membantu terwujudnya visi dan terlaksananya misi tersebut, yang singkatnya tertuang dalam jargon “Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum”.
- Cocokkan kalender kegiatan himpunan dengan acara-acara terpusat, dan usahakan untuk selalu berpartisipasi mengirim orang ke acara-acara terpusat, jangan menolak dengan dalih di himpunan sudah sibuk sendiri. Setiap individu juga harus mau jika dikirim ke kepanitiaan terpusat.
- Mampu menumbuhkan budaya untuk tidak memandang rendah himpunan/jurusan lain dan sering-sering bersilaturahmi untuk bertukar informasi dan ilmu, siapa tahu bisa mengadakan kegiatan bersama (misal, PM) yang jauh lebih bermanfaat apabila keilmuan yang diaplikasikan merupakan gabungan antar prodi.

4. Mengembangkan budaya-budaya yang baik di kampus
Budaya-budaya tersebut adalah: wawasan ramah lingkungan, wawasan cinta Indonesia, iklim beraktivitas, kebersamaan, kritis, integritas, kajian, kepemilikan terhadap himpunan/unit, dan apresiasi terhadap elemen KM-ITB.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
Pada intinya, keberhasilan Kabinet menjalankan fungsi ini bergantung pada apakah budaya-budaya tersebut berhasil ditanamkan kepada tiap orang. Budaya tidak bisa ditanamkan lewat proker saja, apalagi proker Kabinet saja, karena itu HIMATEK harus menanamkan budaya-budaya tersebut ke semua anggotanya. Adapun penjelasan lebih lanjutnya:
- Dalam setiap kegiatannya, HIMATEK harus ramah lingkungan dan mengusahakan penumbuhan rasa cinta Indonesia. Dalam kesehariannya pun warga HIMATEK juga harus dikondisikan untuk ramah lingkungan dan cinta Indonesia.
- Iklim beraktivitas maksudnya HIMATEK harus menciptakan suasana yang enak agar semua anggota HIMATEK betah beraktivitas.
- Kebersamaan maksudnya solidaritas antar teman, baik seangkatan, sejurusan, sehimpunan, maupun satu ITB.
- Kritis maksudnya tidak ragu untuk mencari tahu (termasuk bertanya).
- Integritas maksudnya etos kerja yang baik: disiplin, tepat waktu, memegang janji.
- Kajian maksudnya membudayakan diskusi di HIMATEK (yang katanya termasuk sulit).
- Kepemilikan maksudnya rasa bangga dan mencintai HIMATEK.
- Apresiasi yang dimaksud adalah terhadap seluruh elemen terutama yang masih belum banyak dikenal orang: Kabinet, Kongres, Tim MWA. HIMATEK harus menginformasikan secara menyeluruh tentang fungsi mereka sehingga massa HIMATEK dapat menggunakan mereka sebagaimana fungsinya: Kabinet untuk mengembangkan diri, Kongres untuk diberi masukan tentang kinerja Kabinet dan segala hal yang menyangkut kemahasiswaan ITB, dan MWA untuk dititipi aspirasi-aspirasi yang mungkin dapat dipenuhi oleh pihak ITB khususnya rektorat.


B. Bidang EKSTERNAL  Menko 3

Fungsi Kabinet di bidang EKSTERNAL:

1. Menyadarkan mahasiswa bahwa mereka bisa dan harus berbuat sesuatu yang baik dan besar bagi bangsa Indonesia.
Penyadaran dilakukan dengan pencerdasan isu-isu eksternal, karena dengan isu-isu eksternal itu kita mampu menyumbangkan sesuatu bagi bangsa Indonesia.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Isu-isu eksternal harus dikaji dan dipahami oleh setiap anggota HIMATEK, karena akan membantu mahasiswa berkontribusi pada bangsa Indonesia, dan itu tugas mahasiswa. Maka dari itu, diharapkan partisipasi massa HIMATEK pada setiap acara sosialisasi isu yang diadakan Kabinet.


2. Memfasilitasi mahasiswa agar bisa berkontribusi ke luar sebagai bentuk kontribusi pada bangsa Indonesia.
Kabinet harus menyediakan wadah bagi semua mahasiswa untuk bisa merespons isu-isu eksternal.

3. Memimpin pergerakan KM-ITB secara menyeluruh ke luar.
Kabinet harus mampu merespons isu-isu eksternal yang ada hingga menimbulkan manfaat bagi bangsa Indonesia, dan responsnya agar kuat haruslah representatif (mewakili ITB).

4. Melakukan pergerakan ke luar dengan berhubungan dengan pihak-pihak lain.
Pihak-pihak lain ini antara lain adalah masyarakat, pemerintah, badan kemahasiswaan universitas lain, pihak ITB, media, dan lain-lain.

Untuk poin 2, 3, dan 4, konsekuensi untuk HIMATEK:
- Jika punya pendapat tentang isu eksternal, segera sampaikan ide anda ke Kabinet atau Senator anda. Jika isunya sudah keluar dan anda berbeda pendapat dan tidak menghubungi Kabinet atau Senator sebelumnya, salah anda sendiri. Massa HIMATEK kebanyakan punya pandangan cerdas dan logis tentang berbagai isu, namun sangat disayangkan jika diam saja dan baru menjelek-jelekkan Kabinet saat penyikapannya keluar.
- Bersiaplah untuk menerima dan mendiskusikan pergerakan-pergerakan ala universitas lain yang mungkin kurang biasa dengan iklim kita (contoh: demo) karena kita sekarang akan sering berkoordinasi dalam pergerakan dengan universitas lain. Jangan memandang rendah dulu, tapi dukunglah esensinya.
- Memahami isu eksternal yang dibawa kabinet agar isu itu memiliki kekuatan. Contoh: jika Kabinet mengeluarkan pernyataan sikap terkait isu privatisasi tambang migas Indonesia misalnya, lalu ada orang yang menanyakan ke massa HIMATEK (sebagai mahasiswa ITB juga) dan kita tidak bisa menerangkan, Kabinet akan dicap sebagai omong besar saja menyuarakan mahasiswa ITB. Agar pergerakan kita kuat, kita harus menunjukkan kalau pergerakan Kabinet memang pergerakan mahasiswa ITB. Jika kita tidak setuju dengan apa yang akan dibawa Kabinet keluar, sebaiknya segera kontak Senator untuk titip pesan sampaikan ke Kabinet kalau ada yang tidak setuju.



C. Bidang Penelitian dan Pengembangan (LITBANG)  Sekjen Kabinet

Fungsi Kabinet di bidang LITBANG:

1. Optimasi kinerja internal Kabinet
Mengurus administrasi (surat-surat dsb) dan keuangan (laporan keuangan) dengan baik.

2. Optimasi kerja Kabinet sebagai lembaga terpusat di KM-ITB
Mengadakan kajian, pusat data (angket dsb) untuk mendukung terlaksananya fungsi-fungsi lain Kabinet (selain fungsi LITBANG).
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- HIMATEK sebagai lembaga harus kooperatif, sebaiknya malah inisiatif, memberikan data yang diperlukan.
- HIMATEK juga harus mampu mengajak anggotanya untuk kooperatif memberikan data yang diperlukan.



D. Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM)  Menteri PSDM

Fungsi Kabinet di bidang PSDM:

1. Aplikasi RUK secara teknis ke semua bentuk kaderisasi di ITB
Akan dibuat suatu alur kaderisasi per tingkat dan semua mahasiswa diusahakan harus melewatinya. Akan dibuat juga parameter-parameter per tingkat untuk mengukur keberhasilan alur kaderisasi itu.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- HIMATEK harus terlibat aktif dalam pembuatan alur kaderisasi itu (mungkin Divisi PSDA harus sering-sering kontak dengan Biro PSDM Kabinet).
- PPAB, LKO, Kadwil harus memasukkan parameter-parameter per tingkat ke dalam tujuan acaranya. GDK HIMATEK juga harus berbasis RUK. Jika ada parameter-parameter per tingkat yang belum bisa dicapai, buat acara/program tambahan.


2. Deskripsi alumni ITB ideal di RUK harus tercapai
Membuat program-program yang secara spesifik bertujuan untuk mencapai deskripsi alumni ideal tersebut.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Meningkatkan partisipasi anggotanya di program-program tersebut agar anggotanya menjadi alumni yang ideal.
- Setiap program HIMATEK, bukan hanya program khusus kaderisasi, harus memperhatikan apakah sudah membantu mencapai karakteristik itu atau belum.
- Semua anggota HIMATEK sebaiknya introspeksi apakah mereka telah mencapai karakter mahasiswa ITB sesuai tingkatnya yang telah ada di RUK.


3. Menciptakan suasana yang mendukung kaderisasi
Legalisasi kaderisasi.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Dalam setiap kegiatan kaderisasinya tidak melakukan hal-hal yang dapat mengancam legalitas kaderisasi.



E. Bidang KEMANDIRIAN MAHASISWA  Menko 2

Fungsi Kabinet di bidang KEMANDIRIAN MAHASISWA:

1. Menginisiasi ide
Maksud fungsi ini adalah bagaimana caranya Kabinet menanamkan bahwa mahasiswa dapat membuat suatu produk keprofesian yang memiliki nilai komersial dan berguna untuk masyarakat, serta membangun mental wirausaha.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Usahakan menstimulus penelitian-penelitian berbasis ilmu teknik kimia untuk menghasilkan produk dengan spesifikasi yang dimaksud.
- Tingkatkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan Kabinet yang berhubungan.


2. Membentuk lingkungan kampus yang kondusif untuk pengembangan mahasiswa
Maksudnya Kabinet harus membuat program-program yang mendukung mahasiswa untuk dapat mengembangkan keilmuan, kreativitas, dan pengabdian masyarakat.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Tingkatkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan Kabinet yang berhubungan.


Banyak sekali aspirasi HIMATEK yang telah ditampung Tim Senator berbulan-bulan lalu, dimasukkan ke dalam GBHP ini.

Ada yang minta Presiden dan Kabinet merakyat dan sering silaturahmi ke himpunan, di GBHP telah berhasil dimasukkan di INTERNAL Tujuan 2 Arahan Umum 5 Parameter 2: “Terciptanya hubungan yang merakyat antara Kabinet dan seluruh elemen KM-ITB”.

Ada yang minta rapat Kabinet efektif, tepat waktu, dan lain-lain? Ada di INTERNAL Tujuan 2 Arahan Umum 5 Parameter 1, dan Tujuan 4 Arahan Umum 3. Di penjelasan di atas, keduanya ada di INTERNAL nomor 2 dan 4.

Ada yang minta kalau bisa kita adakan acara gabungan antar himpunan, kita suruh Kabinet melakukan itu, INTERNAL Tujuan 3 Arahan Umum 3 : “Terlaksananya suatu kegiatan yang menjadi satu ikon karya bersama seluruh elemen KM-ITB yang diwadahi Kabinet KM-ITB” atau seperti di atas, INTERNAL nomor 3. Ingatlah konsekuensinya…
Ada yang minta masukan informasi lebih banyak… Ada di mana-mana; PSDM, EKSTERNAL, INTERNAL, LITBANG…

Diharapkan konsekuensi-konsekuensi bisa kita jalankan! Untuk HIMATEK sebagai himpunan terdepan dalam kemahasiswaan ITB!!

Tim Senator HIMATEK


.

Kamis, 13 Agustus 2009

Apatisme Kemerdekaan, Bukan Sebuah Puisi

Kalau kita sudah merdeka
kita bisa bilang dengan bangga, katanya
kalau kita ini warga negara Indonesia
Nyatanya setelah merdeka
waktu tujuhbelasan masih saja ada
warga yang malas pasang bendera
Nyatanya setelah merdeka
tetap pula kudengar berita
pemuda-pemuda negeri kita
yang melancong di belahan dunia sana
tertunduk malu jika ditanya,
kamu dari mana
Salahkah mereka?
Salahkanlah tikus-tikus durjana
yang berkeliaran makan uang negara
dan membuat anak-anak bangsa
tak berani mengangkat kepala
dan dengan lantang berkata-kata
Aku orang Indonesia
Jika kita tak bisa berseru dengan bangga
tentang jati diri bangsa dan tanah air kita
pantaskah kita bilang kita sudah merdeka?


Kalau kita sudah merdeka
semua orang, katanya
punya hak yang sama
tak memandang apa suku bangsanya
maupun agama dan bahasanya
Nyatanya setelah merdeka
atlet yang mengharumkan nama bangsa
masih perlu minta surat pertanda
kalau mereka betul orang Indonesia
persis seperti jaman Belanda
di mana aturannya berbeda
untuk pribumi, Timur Asing, dan Eropa
Nyatanya setelah merdeka
orang mau menyembah Tuhannya
masih harus minta izin penguasa
yang bahkan waktu zaman penjajahan saja
tak perlu harus begitu adanya
Jika tak semua manusia sama di mata negara
bahkan di mata rekan-rekan sebangsa
pantaskah kita bilang kita sudah merdeka?


Kalau kita sudah merdeka
negara kita, katanya
yang ngurus ya kita-kita
sumber daya ya buat kita
dari kita, oleh kita, untuk kita
orang asing punya hak apa
Nyatanya setelah merdeka
hutanku digunduli Malaysia
pasirku diangkut Singapura
Amerika mengeruk emas dan tembaga
Thailand menjaring ikan di laut kita
Salahnya siapa? Salah mereka?
Nyatanya setelah merdeka
banyak Yamaha dan Honda di jalan raya
di rumah nonton Sony dan Toshiba
minumnya PEPSI dan Coca-cola
Salah siapa?
Apakah salah sarjana-sarjana kita
yang masih belum bisa
produksi motor, TV, dan minuman bersoda
Jika negara kita yang ngurus masih bukan kita
yang berkedaulatan masih bukan bangsa kita
pantaskah kita bilang kita sudah merdeka?


Kalau kita sudah merdeka
rakyat kita, katanya
bisa menuntut ilmu sepuasnya
tak dibatasi sampai sekolah menengah saja
dan kaum terpelajar akan jadi senjata
untuk Indonesia menggemparkan dunia
Nyatanya setelah merdeka
dukun dan peramal masih saja dipercaya
di sekolahan, nyontek masih jadi hal biasa
sekali keluar gosip, orang langsung percaya
mahasiswa yang demo, anarkisnya ke mana-mana
apakah itu semua tindak-tanduk kaum cendekia?
Sementara rakyat butuh lapangan kerja
perlindungan hukum dan kredit lunak untuk usaha
air bersih, internet, dan listrik masuk desa
flu burung dan flu babi merajalela
macet luar biasa berkat semrawutnya tata kota
dan berjuta masalah lainnya
di manakah para pemuda, para mahasiswa?
Di jalan-jalan raya ibukota, sibuk bergaya?
Atau berlagak sok jagoan di forum-forum kampusnya?
Di mana yang dulunya pernah jadi mahasiswa?
Mungkin sudah kenyang dengan harta
sehingga idealisme yang di kampus dulu dibawa-bawa
telah dicampakkan entah ke mana
Jika begitu kelakuan kaum cendekia
pantaskah kita bilang kita sudah merdeka?


Kalau kita sudah merdeka
semua orang, katanya
bisa bebas bicara apa saja
tak perlu takut diringkus penguasa
Mungkin inilah yang paling benar adanya
karena setelah kita merdeka
infotainment yang jadi raja
kehidupan orang serasa milik bersama
tanpa ada daya untuk menahannya
Dalam hal ini, benar kita merdeka


Blütenburg, 17 Agustus 2009
Sang Anonim

Selasa, 11 Agustus 2009

Lamentation of an Angel



An angel flies alone,
left behind his home ground.
Felt sorry for what's done,
lost love that won't be found.

He was once mortal man
who had reached much great things.
Heavens saw and they grant,
that's how he got his wings.

Many things, however,
those were not to be mixed.
Dark and light, forever,
are apart, can't be fixed.

He flies, the earth below;
between clouds and thunder.
While his love, does not know,
lays below in slumber.

And now in night and day
you can hear what he sings.
Cursing what fate did say:
She was not to have wings.


Donnerburg, 11 Agustus 2009
Alfonso



.

Minggu, 09 Agustus 2009

Percayalah, Tulisan Ini Bukan Tentang Huntelaar

Baru-baru ini klub kesayangan saya A.C. Milan akhirnya mendapatkan satu orang striker. Pembelian ini telah dinanti-nanti fans karena memang dari satu bulan yang lalu Milan sangat aktif mencari seorang striker baru. Sayangnya, pencarian satu bulan itu tidak menghasilkan apa-apa. Hal ini tentu sangat menyedihkan karena rival satu liga, Inter dan Juventus, telah melakukan transfer-transfer yang lebih baik sepanjang periode satu bulan tersebut.

Semua itu berakhir saat tanggal 7 Agustus Milan mendapatkan striker timnas Belanda, Klaas-Jan Huntelaar.



Huntelaar, meskipun termasuk salah satu bakat top di Eropa, bukanlah prioritas pertama Milan. Target utama Milan adalah striker muda Wolfsburg, Edin Dzeko, yang disebut-sebut sebagai pemain muda paling diincar di seluruh Eropa. Target kedua adalah striker veteran Brasil dengan pengalaman segudang, Luis Fabiano dari Sevilla.

Keduanya gagal karena Milan tidak memiliki cukup uang untuk menyelesaikan pembelian. Setelah itu Milan juga dikait-kaitkan dengan sejumlah striker top antara lain Samuel Eto'o, Emmanuel Adebayor, Giuseppe Rossi, dan Antonio Cassano.

Akhirnya, Milan mendapatkan Huntelaar dari Madrid dengan harga diskon habis-habisan. Madrid rela memberikan diskon karena sebelumnya Milan telah menjual pemain bintangnya Kaka' ke Madrid dengan harga murah pula.

Namun...

Ada saja fans Milan yang kecewa karena Milan hanya mendapatkan target kesekian dengan harga murah pula. Ada yang bilang "Milan tim besar, dulu bisa mendapatkan pemain apapun yang diinginkan, kenapa sekarang harus TURUN KELAS dengan mengemis pemain buangan dari klub lain?"

Fans seperti itu mungkin yang berharap jika ada masalah berupa "Milan butuh seorang STRIKER" maka jawabannya harus "Mari beli Sergio Aguero atau Fernando Torres atau Zlatan Ibrahimovic".

Tiga nama yang saya sebutkan dapat dikatakan tiga striker terbaik yang sedang bermain di jagat bola dunia.

Benarkah harus begitu? Jika "MILAN KURANG KIPER" solusinya harus "BUFFON"? Jika "MILAN KURANG PLAYMAKER" solusinya harus "MESSI"?

Itu mah kerjaan Los Galaktikus, Real Madrid. Milan saya tidak begitu. Saya dukung tim bola berdasarkan filosofi, saya meyakini bahwa Milan dan saya memiliki kepribadian dan tingkah laku yang sinergis, pilihan yang sehati, tindakan yang sejalan.

Lionel Messi, mungkin orang bisa bilang pemain terbaik dunia. Apakah ia bisa main bersamaan untuk dua-tiga klub, atau bahkan sepuluh klub? Tidak, dia hanya punya satu klub untuk dibela, dan saat ini klub itu adalah Barcelona.

Lalu apakah klub lain tidak bisa main menggunakan playmaker, hanya karena playmaker terbaik dunia main untuk Barcelona?

Tidak.

Liverpool punya Steven Gerrard, anak asli Merseyside, kapten tim, dan orang tidak bisa jamin bahwa Liverpool plus Messi akan lebih baik daripada Liverpool dengan Gerrard. Bisakah Messi merekatkan Liverpool menjadi tim seperti yang Gerrard sudah lakukan? Tidak.

Juve dulu punya Pavel Nedved yang baru pensiun. Bisakan Messi bermain untuk Juve sebagus Nedved? Butuh waktu bagi pemain setipe Messi untuk beradaptasi dengan Liga Italia yang keras. Bukan tidak mungkin malah iklim Liga Italia tidak cocok baginya untuk berkembang.

Indonesia punya Ponaryo Astaman. Bisakah Messi bermain optimal dengan support kurang dari pemain-pemain lainnya jika ia bermain untuk Indonesia? Pasti Ponaryo akan lebih nyetel mainnya dengan teman-teman setimnya yang permainannya selevel.

Karena saya sadar bahwa bola bukanlah matematika. Aguero, Torres, Ibra, mungkin yang terbaik di dunia, tapi apakah terbaik untuk Milan? Hanya Milan yang tahu apa kebutuhan Milan. Hanya Milan yang memutuskan apa yang terbaik untuk Milan.

Milan butuh striker. Huntelaar itu striker.

Milan butuh striker murah. Huntelaar dibayar 15 juta euro dengan dicicil tiga kali selama tiga tahun.

Milan butuh striker terkenal dan berbakat. Huntelaar adalah andalan timnas Belanda yang termasuk tertangguh di dunia, punya bakat segudang, seringkali disamakan dengan Marco Van Basten, pemain terhebat dunia setelah Maradona pada masa ia bermain.

Milan butuh striker dengan fisik tangguh untuk mengimbangi kinerja Pato di lini depan. Huntelaar adalah tipe striker seperti itu.

Di luar itu, Huntelaar punya banyak nilai plus yang tidak dicari Milan namun dapat berguna pula.

Huntelaar mungkin bukan striker terbaik dunia.

Tapi saya, fans Milan, percaya dia adalah pilihan paling tepat. Pilihan optimum. Yang bisa memberi lebih dari yang Torres atau Ibra bisa berikan buat Milan.



Forza Milan! Huntelaar, benvenuto a Milano!

(Saya harap kalian masih mau percaya bahwa ini bukan tentang Huntelaar, saya tidak bohong)




.

Minggu, 12 Juli 2009

Penguasa Jalanan Banten Utara

Kerja praktek, kata orang, adalah sarana menimba pengalaman dan memperoleh pengetahuan. Ada benarnya juga. Dari kerja praktek yang telah saya jalani selama 12 hari di PT. Chandra Asri, Cilegon, saya memperoleh banyak sekali pengalaman dan pengetahuan, tapi bukan di pabriknya...

Pengalaman yang saya peroleh adalah soal TRANSPORTASI.

Selama kerja praktek saya sudah tiga kali bolak-balik Cilegon-Bogor (jadi total enam kali perjalanan) dan selama itu saya tidak pernah menempuh rute dengan kendaraan yang sama persis. Dan itu berarti saya mendapat pengalaman yang sangat berarti (atau tidak).

Berikut ini list hal-hal baru yang saya dapatkan selama perjalanan-perjalanan itu.

Senin 30 Juni 2009, Bogor-Anyer, 13:00 - 18:00
- Angkot 17 rumah - Baranangsiang
- Bis AC ARIMBI Bogor-Merak Baranangsiang (Bogor) - PCI (Cilegon Timur)
- Angkot ungu PCI - Mayofield (Cilegon)
- Angkot silver Mayofield - Chandra Asri
- Ojek Chandra Asri - kos

Pengetahuan yang didapat:
- Jadi tahu di mana letak Serang, Pandeglang, dan Cilegon dari Jakarta.
- Bisa membedakan mana Serang, Anyer, Merak, dan Cilegon.
- Jadi tahu Anyer dan Cilegon itu jauh (dan beda).


Jumat 3 Juli 2009, Anyer-Bogor, 17:00 - 22:30
- Mobil Ferdie kos - perempatan Damkar (Cilegon Barat)
- Bis AC ARIMBI Merak-Kalideres Damkar - Kebon Nanas (Tangerang)
- Bis Perdana Jaya Kebon Nanas - Parung - Bogor
- Ojek ke rumah

Pengetahuan yang didapat:
- Jadi tahu ada jalan bagus dan cepat yang menghubungkan pabrik (yang sepertinya terisolir dari dunia luar itu) dengan jalan tol (tapi nggak ada angkot lewat).
- Jadi tahu klo setelah jam 4 tidak ada bis dari Cilegon ke Bogor.
- Jadi tahu nama, letak, dan keberadaan Bitung, Serpong, Parung, dan Balaraja.
- Melihat bahwa di daerah sekitar ibukota masih ada hutan dengan kiri kanan jalan (dan ada bis yang lewat situ).
- Tahu klo setelah malam hari, bis Kalideres-Bogor sebenarnya tidak berangkat dari Kalideres.
- Tahu ada supir bis brengsek yang ngetem setengah jam di pasar tepat pinggir rel kereta di Serpong, membiarkan penumpangnya kepanasan tanpa AC dan kebauan aroma pasar.


Minggu 5 Juli 2009, Bogor-Cilegon, 15:00-19:00
- Angkot 17 rumah - Baranangsiang
- Bis AC ARIMBI Bogor-Merak Baranangsiang - PCI
- Ojek PCI - kos baru

Pengalaman yang didapat:
- Jadi tahu klo masuk Jakarta, semua bis antarkota beralih fungsi sementara jadi bis kota (a.k.a. "memperbolehkan" penumpang berdiri).
- Mengenal tukang ojek yang siap menipu calon penumpang tentang trayek angkot agar penumpangnya jadi naik ("ke PCI angkotnya ada ga?" "oh ga ada, naik ojek aja!").


Selasa 7 Juli 2009, Anyer-Bogor, 16:30 - 21:30
- Angkot silver Chandra Asri - Mayofield
- Angkot ungu Mayofield - PCI
- Bis AC kecil Jaya Perkasa Merak-Kp.Rambutan PCI - Kebon Jeruk
- Bis kota 45 Kebon Jeruk - Slipi
- Bis Indah Murni Kalideres-Bogor Slipi - Baranangsiang
- Angkot 09 Baranangsiang - Warung Jambu
- Ojek ke rumah

Pengalaman yang didapat:
- Jadi hafal jalan dari pabrik ke Cilegon (1/6 jalan ketemu PT Jawamanis, 1/4 jalan lewat rel kereta, 1/2 jalan ketemu mesjid+SPBU, 2/3 jalan ketemu plang KAWASAN INDUSTRI, klo udah ketemu mesjid At-Taubah artinya udah mau nyampe, dst).
- Jadi tahu alasan kenapa bus nggak boleh lewat dalam kota Cilegon kalo siang (bisa bikin gila).
- Jadi tahu di mana pintu tol Kebon Jeruk, dan ada apa di sana (terminal bayangan!).
- Jadi tahu seperti apa rasanya bis dalam kota Jakarta. Berdiri padat, banyak pengamen, takut copet.
- Jadi tahu apa yang dirasakan para pekerja commuter Jakarta-Bogor tiap hari yang pulang naik bis. Berdiri. Satu setengah jam. Di jalan yang macet. Tanpa AC. Makin miris lagi klo inget nyokap tiap hari naik kendaraan macam begini.
- Jadi tahu klo di Jakarta, jalan tol tidak sama dengan jalan bebas hambatan.


Rabu 8 Juli 2009, Bogor-Cilegon, 16:00-19:30
- Angkot 17 rumah - Baranangsiang
- Ojek Baranangsiang - Ciawi (Bogor)
- Bis ekonomi Bandung-Merak Ciawi - Serang
- Bis AC Kp.Rambutan-Merak Serang - PCI
- Angkot ungu PCI - kos

Pengalaman yang didapat:
- Jadi tahu klo bis dari Bogor ke Cilegon (bukan hanya dari Cilegon ke Bogor) pun jam 4 sudah tidak ada.
- Jadi tahu klo bukan hanya di PCI saja ada tukang ojek pemeras; di Bogor juga ada ("bis ke Cilegon abis ya?" "iya, tapi bisa nyusul Bandung-Merak ke Ciawi, ayo saya antar, 20 ribu! nanti bisnya juga keburu habis" padahal ada angkot Baranangsiang-Ciawi 2,5 ribu DAN bis Merak-Bandung itu adanya 24 jam).
- Jadi tahu klo di Ciawi ada terminal bayangan juga.
- Jadi tahu klo malam itu tol Tangerang-Merak sangat sepi sampai bis bisa ngebut 100 km/jam.
- Menemukan cara mempercepat perjalanan: turun di pintu tol masuk Serang Timur dan naik lagi bis ke Cilegon dari situ. Dengan cara ini, kita tidak perlu mengikuti bis ngetem sepanjang kota Serang (kurang lebih 20-30 menit bisa dihemat).


Jumat 10 Juli 2009, Anyer-Bogor 16:30-22:00
- Angkot silver Chandra Asri - Mayofield
- Bis ekonomi Merak-Serang Mayofield - PCI
- Bis AC ARIMBI Merak-Bogor PCI - Baranangsiang
- Ojek ke rumah

Pengalaman yang didapat:
- Kalau mau pulang dari pabrik, harus keluar tepat 16:30 alias sebelum bis jemputan karyawan Chandra Asri keluar. Jika tidak, waktu perjalanan angkot akan sangat lama (karena harus jalan di belakang bis).
- Jadi hafal letak persisnya kota-kota di Banten Utara (Cilegon Timur KM 88, Serang Barat KM 78, Serang Timur KM 74, Tangerang 26, Balaraja 45... dst)
- Jadi tahu ternyata bis yang judulnya Serang-Merak (tidak seperti bis lain yang lewat Serang dan Merak TAPI JUDULNYA BUKAN Serang-Merak) tidak lewat tol.
- Jadi tahu bahwa masih bisa naik bis ke Bogor dari Cilegon jam 5 sore (dengan sedikit keberuntungan)... credits for Rio. Thanks! Hehehe.


Satu jam lagi saya akan menempuh perjalanan ketujuh, Bogor-Cilegon. Ada rute baru lagi? Semoga tidak, saya ingin perjalanan yang senyaman mungkin hari ini...!!! Hehehehe. Jika tidak, bisa-bisa saya benar-benar jadi penguasa jalanan Banten Utara.

Per angusta ad astra!


.

Sabtu, 11 Juli 2009

Tih Bjal Dunav Se Vylnuva

Dalam rangka mengisi jam-jam kosong (yang merupakan waktu mayoritas saya) selama periode kerja praktek, saya telah menemukan kegiatan baru yang cukup bermutu, yaitu mengarang cerita. Tentu saja bagi yang sudah mengenal saya, anda bisa menebak dengan tepat bahwa cerita yang saya karang pastilah bukan cerita biasa.

Ya, ini adalah cerita fiksi-sejarah-lagu pertama yang saya buat, dan menimbang jam-jam kosong saya selama kerja praktek yang telah diperkirakan dengan akurat akan lebih banyak daripada saat kuliah, ini jelas bukan yang terakhir.

Apa itu cerita fiksi-sejarah-lagu? Dia adalah gabungan dari:
- cerita fiksi-sejarah, yaitu cerita fiksi yang memiliki dasar sejarah (a.k.a. sejarah didramatisir, contoh paling terkenal adalah Romance of Three Kingdoms a.k.a. Samkok); dan
- cerita fiksi-lagu, yaitu cerita fiksi yang memprosakan, atau (umumnya) menarasikan sebuah lagu.

Dan lagu pertama yang saya jadikan korban adalah lagu patriotik yang cukup terkenal di Bulgaria, Tih Bjal Dunav se Vylnuva (Sungai Danube Putih yang Tenang Beriak-riak), yang menceritakan tentang salah satu episode dramatis yang masih dikenang bangsa Bulgaria hingga saat ini, yaitu salah satu peristiwa dalam Perang Kemerdekaan Bulgaria melawan penjajah Turki Utsmani, yaitu… seperti yang bisa dibaca dalam ceritanya.

Sebelum dibaca mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan, secara saya membuat cerita ini hanya untuk membunuh waktu luang saat kerja praktek, syukur-syukur bisa menambah wawasan pembaca tentang sejarah dunia.

Panjang ya ceritanya? Ya, kan tujuannya untuk menghabiskan waktu. Heh heh heh…
Selamat menikmati.

-----------------------------------------------------

29 Mei 1876.





Tih bjal Dunav se vylnuva, veselo shumi
(Sungai Danube putih yang tenang menjadi bergelombang, dan beriak-riak dengan gembira)


Lev Kostadinov tercenung di geladak. Matanya menatap nanar ke depan. Air. Jernih. Riak-riak air menari-nari dipadu sinar mentari, menutupi permukaan air dengan warna putih. Sejauh mata memandang. Dan ia pun memejamkan mata.

Lev hampir tak kuasa menahan air mata ketika mengenang air putih yang sedang ia layari ini, dan mengapa ia melayari air putih ini, air putih yang selama berabad-abad telah menjadi saksi bisu jatuh bangunnya manusia dan peradaban yang disangga di punggungnya, dan nampaknya peranan saksi bisu ini akan terus disandangnya hingga akhir dunia.

Air putih itu bernama Danube; atau, seperti Lev kita ini menyebutnya, Dunav; atau seperti musuh-musuh Lev di seberang sana menyebutnya, Tuna.

Timbul dari pedalaman Schwarzwald, Hutan Hitam di pelosok Bavaria Jerman, air putih yang di tanah kelahirannya dipanggil Donau ini mengalir sepanjang lebih dari seribu kilometer ke timur, ke Laut Hitam di Silang Dunia antara dua ranah peradaban besar, Eropa dan Asia. Bahunya yang tegar telah ditakdirkan terbeban oleh kawasan yang paling bergejolak dan paling sering menjadi tempat di mana darah anak manusia tertumpah: Semenanjung Balkan.

Sejak dua ribu tahun sebelum Lev lahir, air putih ini telah menjadi perbatasan terdepan di bagian utara negara adidaya pertama dunia, Kekaisaran Romawi Kuno, yang memanggil air putih ini dengan sebutan Ister atau Danuvius. Perang secara berkesinambungan terjadi antara Kekaisaran Romawi yang menumpuk benteng dan tembok pertahanan di sepanjang bahu selatan sang air putih, melawan bangsa-bangsa (yang oleh orang Romawi disebut) barbar dan nomad yang kerap terjun laksana air hujan menyerbu dari bahu utara sang air putih.

Seiring berjalannya waktu, perang tidak pernah berhenti selama seribu tahun ketika ras Jerman berebut pengaruh dengan ras Slavik dan ras Latin di daerah yang terbagi-bagi menjadi kerajaan-kerajaan kecil tersebut. Ras Jerman, yang bernaung di bawah konfederasi Kekaisaran Romawi Suci, lebih sering dianggap penjajah oleh penduduk mayoritas; yaitu bangsa-bangsa Hungaria, Polandia, Rumania, Bulgaria, Serbia, Ceko, dan Slovakia; yang di baliknya seringkali disokong oleh bangsa ras Slavik paling jaya, Rusia.

Hasil benturan ini mengakibatkan bahu sang air putih ditumbuhi berbagai budaya: setelah melewati Vienna ibukota Austria, ia membelah Slovakia dan ibukotanya Pressburg atau Bratislava, di mana ia disebut Dunaj. Kemudian ia melewati Hungaria dan kota Budapest, di mana sang air putih berganti nama menjadi Duna. Setelah itu, sang air putih melintasi Serbia dan ibukotanya Beograd. Dan ia kemudian mengalir sepanjang perbatasan Bulgaria-Rumania, di mana ia di satu sisi dipanggil Dunav dan di sisi lain bernama Dunarea.

Segalanya berubah ketika pada abad ke-14, malapetaka datang bagi para nenek moyang Lev yang sebenarnya sudah cukup parah nasibnya dihantam perang berkepanjangan.

Bahaya tersebut bernama segerombolan tentara, menyeruak dari Anatolia: pasukan Kekaisaran Turki Utsmani, yang baru mengambil alih kepemimpinan kekhilafahan Islam.

Menyeberangi Dardanella dan Laut Marmara, beratus-ratus ribu serdadu dengan cepat merebut daerah-daerah Eropa yang telah diperlemah perang berkepanjangan. Sultan Suleiman Nan Cemerlang berhasil menyeberangi sang air putih, menghajar tentara Eropa hingga di Mohacs, Hungaria, dan nangkring dengan sukses di pintu gerbang ibukota Eropa, Vienna.

Tapi hingga di situ saja. Dengan cepat seluruh bangsa Eropa bersatu menghadapi ancaman asing ini. Dimotivasi dengan teriakan perang suci mempertahankan agama, berjuta-juta serdadu Eropa memukul mundur sang penjajah. Setelah melalui perang tanpa henti, beratus-ratus tahun kemudian barulah ketenangan sedikit terjadi; ekspansi Turki Utsmani berhenti di bahu sang air putih, Danube. Ketenangan semu, karena kedua belah pihak masih saling mengintip; aliansi Eropa di utara dan Turki Utsmani di selatan beserta jajahan-jajahan Eropanya yang menjerit-jerit minta diselamatkan.

Dan di selatan itulah terletak Bulgaria, tanah air Lev yang minta dibebaskan itu. Dan untuk itulah ia melayari sang air putih, dengan garpu taman yang ia pegang dengan kokoh di tangan kanannya, di atas kapal yang kini dengan gembira membelah sang air putih yang beriak-riak keemasan disorot sinar mentari petang, seakan menari-nari dengan ceria mengiringi perjalanan Lev.





I Radetzki gordo pluva, nad zlatni vylni
(Karena Radetzki berlayar dengan gagah, di atas riak emasnya)


Garpu taman inilah yang juga dipegang oleh Lev beberapa hari yang lalu, saat ia meloncat ke atas kapal yang ia tumpangi ini, dari Calafat, Rumania.

“Tujuan?” tanya sang penjaga kapal kepada Lev dalam bahasa Jerman.

“Sulina.” jawab Lev singkat.

“Lima keping perak.” kata sang penjaga kapal. Lev memberikan sesuai jumlah yang diminta, kemudian meloncat ke jembatan yang menghubungkan geladak dengan dermaga.

Seorang penumpang, perempuan muda berumur dua puluhan dengan gaun berwarna kuning, memandangi Lev dan barang-barang bawaannya. Ada sebuah tas besar tersandang di bahu Lev. Tangan kirinya menenteng penyiram tanaman sedangkan tangan kanannya menggenggam gagang garpu taman.

“Tukang kebun?” tanya si gadis, yang disambut Lev hanya dengan anggukan.

“Kau adalah tukang kebun keempat yang kulihat di kapal ini.” lanjutnya. Lev hanya diam. “Nama dan asalmu?”

“Lev Kostadinov dari Bulgaria, Nona.” jawab Lev singkat.

“Oh, Bulgaria. Ketiga tukang kebun yang di sana –“ katanya menunjuk ke arah tepi geladak yang berseberangan. “– berasal dari Austria, Hungaria, dan Slovakia nampaknya. Ada banyak sekali tukang kebun yang naik kapal ini!” ucapnya seakan-akan ini hal yang menggembirakan. “Apakah ada banyak lowongan kerja saat ini di Balkan?” tanyanya dengan nada keingintahuan yang mencolok.

“Seperti itulah kira-kira, Nona.” jawab Lev tak jelas. “Permisi dulu, saya mungkin tertarik untuk bertanya-tanya kepada mereka… terima kasih atas waktunya, Nona.” Dan dengan kalimat penutup itu Lev pergi meninggalkan si gadis bergaun hijau muda yang keheranan.

Levat Balkanski?” tegur Lev kepada ketiga pria berpenampilan tukang kebun yang sedang berdiri memandangi hamparan air putih. Ketiganya menoleh. Kemudian salah seorang dari antara mereka, yang berkumis, menyahut.

V boy velikanski. Ayo ikut aku, Nak!” katanya sambil membimbing Lev berjalan ke sisi dalam kapal. Tapi salah seorang dari antara mereka, pemuda berambut pirang, menyodok perut Lev sambil setengah berteriak “Lev sobat!”

Ia mengenalinya sebagai Giorgi Stoyanov, teman satu kampungnya. Dan meledaklah tawa keduanya, hingga si pria berkumis menepuk kepala keduanya, menyuruh mereka diam. Dalam tenang mereka berempat masuk ke salah satu kamar di kapal tersebut.

“Kau sampai dengan selamat, Lev.” sapa orang yang satu lagi, yang dikenali Lev sebagai kakak kelas tiga tahun di atasnya di Politeknik Timişoara, Rumania. Lev tersenyum kepadanya.

“Jadi, masih berapa orang lagi yang akan naik?” tanya Lev antusias.

“Dua ratus lima seluruhnya, Lev.” jawab si pria berkumis. “Kebanyakan akan naik di Bechet. Letnan Voinovski dan Botev sendiri akan naik dari sana, lengkap dengan semua alat-alat. Dan perkenalkan, Borislav Radoslavov.”

Uluran tangan Radoslavov disambut Lev, disusul dengan pertanyaan “Kalian mengaku orang asing?”

“Terpaksa, Lev sobat.” kali ini Giorgi yang menjawab. “Kita tidak mau ada banyak orang Bulgaria yang kelihatan mondar-mandir di kapal penumpang Austria-Hungaria ini. Dan kau sendiri?”

“Aku pribadi tidak sanggup mengingkari tanah kelahiranku.” jawab Lev.

“Ayo kita naik ke atas.” potong kakak kelas Lev, Dimitar Tsvetanov. “Kalau sudah sampai di Mila Rodino, kita adalah patriot. Untuk saat ini, kita adalah tukang kebun.”

“Aku tetap tinggal di sini. Bahaya jika ada yang sampai melihat… erm, perlengkapan yang kita bawa di tas-tas ini.” kata Radoslavov. Ketiga pemuda tersebut mengangguk, lalu berjalan naik ke geladak.

Asap dari cerobong kapal dihembus kencang oleh angin begitu mereka naik. Kapal penumpang bertenaga uap melaju kencang di atas air putih, menimbulkan riak yang membuat ikan-ikan di sekitarnya berloncatan dan terlihat berkilau ditimpa cahaya matahari sore. Terdengar suara keras bercerita.

“Kapal ini, Radetzky, membawa nama besar Jenderal Josef Radetzky, panglima Kekaisaran Austria-Hungaria kelahiran Ceko, yang telah membawa kejayaan bagi nama besar Dinasti Habsburg berkat kemenangan-kemenangannya di Novara, Custoza, dan Leipzig melawan Napoleon…”

Demikian penjelasan sang kapten kapal penumpang Radetzky, Dagobert Engländer, pria tua berbadan gemuk yang hobi memilin-milin kumis putihnya, kepada para penumpang yang menyimak dengan tertarik.

“Dan sebentar lagi, akan membawa kejayaan berkat jasanya dalam memenangkan tanah air kita dari penjajah.” gumam Giorgi Stoyanov. Lev mengangguk perlahan.

Radetzky terus melaju membelah air putih yang tenang, menimbulkan riak keemasan di kala petang.

Begitulah Lev dan kawan-kawannya mengarungi air putih, menunggu rekan-rekan mereka naik di setiap dengan berbagai samaran, siap menempuh pelayaran untuk kembali ke tanah airnya.

Dan akhirnya saat itu tiba.





No koga se tam syzira Kozlodujski brjag
(Namun setelah Kozloduy terlihat di depan)


“Kozloduy di depan!” teriak Boris Radoslavov. “Sampaikan pada Botev, kita telah mencapai tujuan.” katanya kepada Tsvetanov.

“Kozloduy, Lev…” bisik Giorgi tertahan.

Bagi Lev, Kozloduy bukan hanya sekadar sebuah kota kecil Bulgaria yang terletak di pinggir Sungai Danube. Lebih dari itu, Kozloduy adalah kota masa kecilnya dan Giorgi. Di mana ia dan Giorgi berlari-lari di sepanjang tepian Danube. Dan di mana ia bertemu dengan Valentina.

Sebulan yang lalu di Timişoara, Valentina Angelova berlari-lari dengan cemas sepanjang jalan raya kawasan Iosefin. “Lev!!!” teriaknya cemas.

Lev menoleh ke belakang. Dilihatnya Valentina berlari ke arahnya, rambut panjang dan gaun ungunya tertiup angin sore. Di sebelahnya, trem bertenaga kuda melintas dengan cepat. Lev dengan sigap menyambar tubuh gadis itu dan mendorongnya ke samping. Keduanya terjatuh.

“Berapa kali aku mengingatkanmu untuk tidak berlari di jalur trem, sayang?” tegur Lev sambil berdiri dan mengulurkan tangan. Valentina meraihnya.

“Aku cemas, Lev!” jeritnya. Ia dengan cepat berdiri, lalu menyeret Lev ke balik sebuah pohon besar di tepi jalan.

“Tentang apa, sayang? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Awan masih putih seperti biasanya, berarak di langit yang biru seperti biasanya, ditimpa sinar matahari yang teduh seperti biasanya, di atas aku dan kau yang berbahagia seperti biasanya...”

“Oh, Lev!” jerit Valentina, terlihat putus asa. “Gombalnya nanti saja. Katakan pendapatmu tentang omongan Tsvetanov tadi yang menyebutkan kalian berdua akan ikut berperang ke Bulgaria bersama Hristo Botev.”

“Err... itu benar?” gumam Lev pura-pura tolol.

“Lev!” kembali Valentina menjerit. “Bagaimana kuliahmu, Lev? Apa kata ibumu nanti?”

“Aku akan pulang ke Kozloduy, sayang.” jawab Lev. “Ke rumah kita. Aku akan menemui ibu. Juga Bibi Ivanka dan Yanko. Akan kuajak mereka ikut bergerak. Lalu seluruh rakyat Kozloduy akan bergerak juga. Serentak bersama-sama seluruh negeri. Lalu Bulgaria akan merdeka. Rakyat Bulgaria akan memerintah sendiri. Dan punya politeknik sendiri. Dan aku akan lulus dengan ijazah dari negeri sendiri.”
Valentina terdiam.

“Impian besar kita, Valentina.” lanjut Lev, kali ini tegas. “Impian yang kita bawa saat kita berangkat menyeberang Dunav dari Kozloduy ke Rumania. Bahwa suatu hari nanti kita akan kembali ke Bulgaria, Bulgaria yang merdeka.”

“Berjanjilah kau akan kembali dengan selamat, Lev.” akhirnya ia berkata.

“Tidak.” jawab Lev tegas. Valentina menunduk. Matanya berkaca-kaca.

“Tapi aku berjanji akan membawamu kembali ke Bulgaria, sayang.” lanjut Lev. “Bulgaria yang telah kumerdekakan dengan tanganku sendiri. Dan tangan-tangan rakyatnya.”

“Pergilah, Lev.” Bisik Valentina. “Aku mengerti dirimu. Percayalah aku sendiri rindu untuk kembali ke tanah air kita. Maafkan aku, Lev, aku tidak bisa...”

“Akan kumerdekakan Bulgaria untukmu, sayang.” potong Lev, menghentikan bisikan Valentina...

“Kita tidak akan mendarat di tanah Kekaisaran Turki Utsmani itu, saudara.” celetuk salah seorang penumpang, membuyarkan lamunan Lev tentang peristiwa satu bulan lalu.

“Bulgaria bukan tanah Kekaisaran Turki Utsmani!” teriak suara dari dalam kapal, dan seolah merupakan aba-aba, Lev dan kawan-kawannya segera bersiaga.





V parahoda rog izsvirva, razvja se bajrak
(Sangkakala dibunyikan, panji dikibarkan)


Bunyi terompet di tangan Radoslavov seakan menjadi penanda bagi dua ratus orang di atas Radetzky untuk mengambil tindakan yang telah disiapkan.

“Apa-apaan ini?” jerit salah seorang awak kapal.

“Lihat ke atas!” teriak salah seorang penumpang.

Di atas, orang-orang dapat melihat pada tiang bendera di mana bendera Kekaisaran Austria-Hungaria tadinya berkibar sendirian, namun kini pada tiang telah diikatkan sebuah panji yang lebih besar: putih, hijau, dan merah terbentang menantang angin dengan gagahnya.

“Ini adalah tiga warna kita, Lev.” kata Mihaila Marianova suatu kali. “Tiga warna yang harus kau simpan dalam hati sebagai perlambang tanah airmu yang harus kau hormati. Bukan bendera yang itu.” lanjutnya sambil menunjuk bendera merah dengan bulan sabit dan bintang putih yang berkibar tinggi di depan kantor Gubernur Bulgaria.

“Iya, Ibu.” jawab Lev bersemangat sambil memakai gelang berwarna putih, hijau, dan merah yang baru diberikan ibunya di tangan kanannya.

“Bendera ini suatu saat akan berkibar dengan bangganya di seluruh tanah air kita, seperti yang ayahmu cita-citakan dulu.” lanjut Mihaila dengan suara gemetar, seperti yang selalu digunakannya setiap kali ia membicarakan almarhum suaminya, Kostadin Vasilov.

“Iya, Ibu.” jawab Lev, seperti jawabannya selalu kepada ibunya ketika wanita yang dikaguminya itu menanamkan rasa cintanya kepada tanah Bulgaria. Juga ketika ibunya bercerita dengan semangat tentang warna-warna tersebut, tentang permainya alam negerinya: putihnya Dunav, hijaunya Stara Planina, dan merahnya sinar matahari Pirin. Tentang kegemilangan Maharaja Krum dan Aspartakh, tentang kemegahan ibukota tua Tarnovo, tentang penjajah Utsmani yang merampas ingatan akan semuanya itu…

Dan sekarang, bendera yang dicita-citakan itu telah berkibar setelah sekian lama ia tidak melihatnya di tempatnya yang terhormat: terbentang dengan gagah di ketinggian, memperlihatkan warna-warna cemerlangnya dilatarbelakangi matahari senja, menunggu untuk diiringi langkahnya dengan berani oleh anak-anak bangsanya.

Dan Lev menggenggam bayonet dan pedang yang ia ambil dari tasnya, naik ke geladak dengan langkah tegap.



Mladi Bylgarski junaci javjavat se tam
(Pejuang-pejuang muda Bulgaria tiba-tiba muncul)


Langkah Lev diiringi Giorgi di sampingnya, dengan perlengkapan yang sama. Di geladak kapal sekarang telah berdiri dua ratus lima pejuang yang telah menanggalkan atribut tukang kebun mereka dalam posisi siap tempur.

Terjadi kegaduhan di kalangan penumpang dan awak kapal. Beberapa awak kapal sempat bersitegang dengan para pejuang. Kapten Dagobert Engländer turun untuk menghadapi para pejuang. Dari barisan pejuang, maju seorang pria paruh baya untuk menemui kapten.

“Jangan takut, para penumpang. Kami di sini tidak untuk tujuan yang jahat!” katanya mengumumkan kepada semua yang ada di atas geladak.

“Itu pejuang Bulgaria!” teriak seorang pemuda. “Lihat ikat kepala mereka!”





Na chela im levski znaci, v ochite im plam
(Di dahi lambang sang singa, tampil dengan gagah)


Empat jam lalu, dari pelabuhan Bechet, naik lima puluh orang dengan membawa tas-tas besar. Tas-tas tersebut berisi perlengkapan perang dan atribut-atribut lainnya. Setelah naik dengan selamat, kedua kepala rombongan menyapa Lev dan kawan-kawan yang telah berada di atas kapal.

“Lev Kostadinov.”

“Nikolai Voinovski.”

Voinovski adalah seorang letnan angkatan perang Rusia yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Bulgaria. Dari yang Lev dengar, ia adalah satu-satunya ahli militer yang ikut serta di perjalanan ini.

“Senang melihat kalian, para pejuang muda.” kata Voinovski kepada Lev dan kawan-kawan. “Dengar, empat jam lagi kita akan tiba di tujuan. Bersiaplah di kamar yang telah ditetapkan. Semua perlengkapan kalian di situ. Dan jika telah terdengar aba-aba dari terompet, persiapkanlah senjata… dan pakailah ini.”

Voinovski menjejalkan sepotong kain merah dalam genggaman Lev dan kawan-kawan, satu per satu. Lev membukanya dan langsung mengenalinya: singa emas, Levat Bylgarski, yang bermahkotakan lima salib; lambang tahta negara kuno Bulgaria.

“Pakailah jika semuanya nanti telah siap. Pakailah untuk mengingat atas dasar apa kalian berkorban.”

Lev menoleh. “Voivod Botev.”

Pemimpin pergerakan ini, Hristo Botev, adalah orang yang berbicara pada Lev.

“Baiklah, Voivod.”

Dan saat ini, kain merah tersebut terikat kuat di dahi Lev dan rekan-rekannya, di atas mata-mata penuh semangat dan antusiasme tinggi. Di depan mereka, berdiri Voinovski dan Botev, menghadapi para penumpang yang takut bercampur bingung, dan para awak kapal yang bersiaga penuh.





Gord otprede im zastana, mladijat im vozhd
(Berdiri tegap di depan mereka, pemimpin mereka yang muda)


Botev maju selangkah, menghampiri kapten Radetzky, Dagobert Engländer. Tangannya yang biasa menggenggam pena, kini menggenggam pedang panjang.

Hal ini telah ditunggu-tunggunya sejak kecil. Ayahnya, Botyo Petkov, adalah salah satu pemimpin gerakan kemerdekaan Bulgaria. Sejak Hristo beranjak remaja, ia telah berani terang-terangan menantang kekuasaan Kekaisaran Turki Utsmani di Bulgaria sehingga ia terpaksa melarikan diri menghindari kejaran pihak berwajib Utsmani hingga ke Rumania. Di sana, ia terus berjuang demi kemerdekaan Bulgaria dengan menggunakan surat kabar buatannya sendiri sebagai corong pengobar semangat kemerdekaan bagi rakyat Bulgaria di tanah air maupun di pengasingan. Dari situ, ia dikenal luas oleh orang Bulgaria di pengasingan sebagai salah satu pemimpin utama bangsa Bulgaria yang sedang berjuang meraih kemerdekaan.

Ketika konfrontasi fisik dengan penguasa Utsmani mulai terlihat tak terelakkan lagi, dan tidak ada pemimpin militer yang dapat diandalkan, Botev memutuskan untuk berjuang tanpa pena; dengan menumpahkan darah. Ia memutuskan untuk memimpin sendiri pasukan berkekuatan dua ratus lima pemuda Bulgaria dari pengasingan, untuk membantu pemberontakan yang sedang dikobarkan melawan penguasa Utsmani di tanah air mereka.





Pa si duma kapitanu, s gol v rakata nozh:
(Dia berbicara pada sang kapten, dengan pedang terhunus di tangan:)


“Apa yang kalian inginkan?” tanya Engländer tajam selayaknya seorang kapten kapal terhadap penumpag gelap di kapalnya.

“Salam, Kapten.” kata Botev. “Saya akan memperkenalkan diri saya dan teman-teman saya.”

Dan Botev mulai berbicara kepada sang kapten dan seluruh penumpang, dengan penuh tekad:





Az zym Bylgarski vojvoda, momci mi sa tez
Nij letime ja svoboda, krv da lejme dnes

(Akulah panglima Bulgaria, dan inilah orang-orangku
Kami melaju menuju kebebasan, untuk menumpahkan darah kami hari ini)


“Bapak Kapten dan para penumpang yang saya hargai!

Suatu kehormatan bagi saya untuk memberitahukan kepada anda bahwa para pemberontak Bulgaria, yang merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk menjadi panglimanya, telah berada di atas kapal uap ini.”

Beberapa penumpang mulai memperhatikan kata-kata Botev. Wajah-wajah ketakutan berubah menjadi antusias dan penuh keingintahuan.

“Dengan mengorbankan bahan makanan dan peralatan pertanian kami, dengan mengorbankan usaha yang sangat besar, dan pada akhirnya dengan mengorbankan segala yang berharga di dunia ini… kami telah memperlengkapi diri kami dengan hal-hal yang kami butuhkan, untuk datang membantu saudara-saudara sebangsa kami yang memberontak, yang telah bertarung dengan berani di bawah Sang Singa Bulgaria demi kemerdekaan dan kebebasan tanah air kami tercinta – Bulgaria.

Kami berdoa kepada Tuhan agar para penumpang tidak cemas sama sekali dan tetap tenang. Kepada anda, Pak Kapten…” Botev menatap tajam kepada Dagobert Engländer. “saya dengan berat hati meminta anda untuk mempercayakan kapal anda kepada kami hingga kepergian kami, dan

Maka dari itu, jerit pertempuran kami adalah sebagai berikut:

Hidup Bulgaria!
Hidup Kaisar Franz Joseph!
Hidup Pangeran Andrássy!
Hidup Eropa…!”

Dengan menyebut nama Kaisar Austria Franz Joseph dan Perdana Menteri Hungaria Gyula Andrássy, yaitu para pemimpin negara paling berkuasa di daratan Eropa (Austria-Hungaria) dan juga pemilik Radetzky, Lev paham bahwa Botev ingin menunjukkan perjuangannya mewakili bangsa Eropa melawan dominasi budaya asing Turki Utsmani di tanah yang seharusnya menjadi milik sebuah negara Eropa yang berdaulat.





Nij letime za Bylgarija, pomosht da dadem
I ot tezhka tiranija, da ja otyrvem

(Kami melaju ke Bulgaria, untuk memberikan bantuan kami
Untuk menyelamatkannya hari ini, dari belenggu tirani)


“Jadi apa jawaban anda, Kapten?” kali ini Voinovski yang bertanya.

Kapten Engländer menatap wajah-wajah para pejuang berikat kepala merah itu. Setelah memilin-milin kumis putihnya, ia akhirnya menjawab.

“Baiklah.” ucap Engländer. “Herrlich! Putar haluan ke selatan! Kita mampir sebentar ke Kozloduy!” teriaknya menggelegar.

“Jangan gila, Kapten!” balas si jurumudi. “Di kapal ini ada seratus lebih penumpang sipil…”

“Seratus lebih warga Eropa yang mendukung pembebasan tanah Eropa dari penjajahan asing!” teriak seorang penumpang, kakek-kakek dengan baju biru laut.

“Hidup Bulgaria! Hidup Franz Joseph! Hidup Pangeran Andrássy! Hidup Eropa…!” terdengar teriakan mengulang jerit pertempuran yang dikumandangkan Botev. Teriakan itu datang dari seorang penumpang lain, wanita yang menyapa Lev saat ia naik ke kapal ini.

“Tenang, para penumpang, tenang.” Engländer mencoba menenangkan para penumpang dengan suaranya yang dalam. “Herrlich, Kozloduy, kecepatan penuh! Sekarang!”

Para penumpang bersorak-sorai bersama para pejuang. Botev membungkuk dalam-dalam kepada sang kapten. Voinovski menghampiri juru mudi dan berkata “Aku tahu sebuah pantai yang tersembunyi di dekat Kozloduy. Kita akan menuju ke sana.”

Para pejuang yang lain disalami oleh beberapa penumpang.

“Antonis Niniades.” kakek-kakek berbaju biru laut memperkenalkan diri pada Giorgi Stoyanov. “Veteran Perang Kemerdekaan Yunani. Sekarang giliran kalian untuk menghantam para barbar Anatolia itu kembali ke habitat mereka, anak-anak muda.”

“Sungguh tidak sopan saya mengetahui nama anda, namun anda belum mengenal saya.” ucap gadis berbaju kuning kepada Lev. “Elena Ionescu. Saya mendukung sepenuhnya perjuangan anda. Saya harap anda memperoleh keberhasilan yang sama dengan leluhur-leluhur saya, Stefan cel Mare, Mihai Viteazul, dan Iancu Hunedoara yang hidup matinya dibaktikan untuk mempertahankan Rumania dari kerakusan monster-monster pembawa yatagan itu.”

“Tambah lagi kecepatannya, Herrlich! Tambah lagi kayunya, Szekelyhidi!” teriak Engländer kepada para awak kapalnya. “Anak-anak Austria-Hungaria, ingatlah perjuangan para leluhur kita di Vienna dan di Mohacs! Saatnya kita membantu untuk membalas dendam terhadap bangsa pencoleng dari padang belantara itu!”

Tih bjal Dunav se vylnuva, veselo shumi
I Radetzki gordo pluva, nad zlatni vylni


Radetzky melaju kencang menyusur putihnya air Danube, membawa tekad para patriot Bulgaria dan semangat rakyat Eropa. Tubuh Lev gemetaran hingga ke ujung kaki; bukan karena takut, tapi rasa tidak sabar ingin memberikan sesuatu bagi tanah kelahirannyalah yang menjadikannya begitu.

No koga se tam syzira Kozlodujski brjag
V parahoda rog izsvirva, razvja se bajrak


Mereka tiba di sebuah pantai tak berpenghuni dekat Kozloduy satu jam setelah matahari terbenam. Lev meloncat dengan semangat ke darat dan segera tersungkur berlutut, mencium tanah airnya. Botev dan rekan-rekannya segera menyusul melakukan hal yang sama. Di barisan belakang, Tsvetanov mengibarkan bendera Bulgaria tinggi-tinggi.

“Selamat jalan dan selamat berjuang!” seru Dagobert Engländer sambil melambaikan topinya. Para penumpang yang lain bersorak-sorak sambil melambai-lambaikan tangan. Kapal Radetzky kembali meluncur di Danube, ke tujuannya semula.

------------------------------------

2 Juni 2009.

“Ini adalah puisi yang dibuat oleh penyair kenamaan Ivan Vazov,” demikian Todor Ivanov menerangkan. “untuk mengenang sahabatnya yang juga penyair kenamaan, Hristo Botev, dan 205 pemuda patriot Bulgaria yang gugur dalam perjuangan melawan penjajah. Ya, Mihaylov?”

“Apa yang terjadi dengan Botev dan kawan-kawannya, Pak?” tanya Tzanko Mihaylov.

“Pada bulan April 1876, rakyat negeri kita Bulgaria mengadakan pemberontakan di seluruh negeri melawan penjajah Turki Utsmani dalam sebuah gerakan yang dikenal dengan nama Pemberontakan April. Botev dan sekelompok pemuda Bulgaria dalam pengasingan di Rumania memutuskan untuk membantu perjuangan rakyat di tanah asal mereka dengan cara melintasi Sungai Danube sebagai suatu angkatan bersenjata untuk ikut bertempur melawan pasukan Turki Utsmani. Dengan menyamar sebagai tukang kebun, mereka menaiki kapal penumpang Radetzky milik Austria-Hungaria dari berbagai pelabuhan Rumania yang berbeda dan membajak kapal tersebut di tengah Sungai Danube untuk mengantarkan mereka ke pelabuhan Kozloduy di Bulgaria. Tekad para pemuda ini membuat sang kapten kapal dan para penumpang sedemikian terharu sehingga mereka akhirnya dengan sukarela menolong para pejuang untuk mendarat di Bulgaria.

Sang kapten dan para penumpang bahkan membantu dengan mendaratkan para pejuang tersebut di tempat yang tersembunyi dari pelabuhan, menolak memberi informasi kepada penguasa Utsmani yang melakukan pencarian, dan bahkan menolak permintaan penguasa Utsmani agar kapal Radetzky digunakan untuk patroli di Danube untuk mencari para pemberontak. Tindakan heroik sang kapten dan para penumpang terus dikenang oleh bangsa kita sepanjang masa, dan sebagai buktinya di Kozloduy hari ini kita masih dapat melihat kapal Radetzky yang dijadikan museum, tegak memandang Sungai Danube dari tepiannya.

Sangat disayangkan setelah Botev dan para pejuang tersebut mendarat, mereka mengetahui fakta bahwa pemberontakan di daerah itu telah berhasil ditumpas habis oleh tentara Turki Utsmani. Mereka tidak menyerah, mereka berusaha untuk maju teratur ke daerah pegunungan sambil membangkitkan semangat rakyat Bulgaria sepanjang perjalanan. Namun kekejaman pasukan Turki Utsmani telah menciutkan semangat rakyat sehingga mereka tidak berani mengulurkan tangan membantu pasukan Botev.

Selama empat hari, pasukan Botev bertempur di perjalanan sebelum akhirnya mereka mengambil posisi pertahanan di Gunung Okoltchitza. Di sana, mereka menahan gempuran tentara Kekaisaran Turki Utsmani dan tentara-tentara bayarannya yang berjumlah jauh lebih banyak selama berjam-jam dengan hasil yang gemilang. Namun pada saat matahari mulai terbenam, sebutir peluru menghantam dada Botev sehingga beliau tewas seketika. Kematian pemimpin mereka membuat pasukan Botev moralnya merosot dan kemudian kalah. 130 patriot Bulgaria gugur sementara sisanya tertangkap dan dieksekusi, atau berhasil meloloskan diri dengan jumlah yang sangat sedikit.”

Ivanov melihat jam di tangan kirinya. 11:59.

“Karena itu, tahukah kalian, anak-anak? Setiap tanggal 2 Juni tepat tengah hari, seluruh sirene di negeri ini dibunyikan untuk mengenang semua orang yang mengorbankan nyawanya bagi Bulgaria.

Dan sekarang, anak-anak, bersamaan dengan bunyi sirene, mari kita menyanyikan bersama-sama puisi yang telah dilagukan ini, untuk mengenang jasa-jasa Botev dan pasukannya…”

Suara Ivanov tersendat, dan kemudian ia melanjutkannya.

“…dan mereka semua yang telah menumpahkan darahnya bagi tanah air…”

Pukul 12:00. Terdengar suara sirene bergaung di kejauhan. Serentak semua anak di kelas itu bangkit dan mengikuti aba-aba gurunya untuk bernyanyi.

Tih bjal Dunav se vylnuva, veselo shumi
I Radetzki gordo pluva, nad zlatni vylni

No koga se tam syzira Kozlodujski brjag
V parahoda rog izsvirva, razvja se bajrak

Mladi Bylgarski junaci, javjavat se tam
Na chela im levski znaci, v ochite im plam

Gord otprede im zastana, mladijat im vozhd
Pa si duma kapitanu, s gol v rakata nozh:

“Az sym Bylgarski vojvoda, momci mi sa tez
Nij letime za svoboda, kryv da lejme dnes”

Nij letime za Bylgarija, pomosht da dadem
I ot tezhka tiranija, da ja otyrvem”


Danube Putih yang tenang, kini beriak
Radetzky melaju girang, dengan semarak

Namun lihatlah tatkala Kozloduy dekat
Berbunyilah sangkakala, panji terangkat

Tampillah para pejuang, siap siaga
Di dahi m’reka terpampang, singa yang gagah

Tangan melolos senjata, dari sarungnya
Pada kapten dia berkata, dengan lantangnya:

“Aku panglima Bulgaria, dan para rekan
Kami semua siap sedia, siap berikan

Apapun yang dibutuhkan tanah k’lahiran
Kami kan b’ri k’merdekaan, melawan tiran”


------------------------

2 Juni 1876.

“Ledakkan mereka!” teriak Voinovski disusul dentuman meriam dari kubu pejuang Bulgaria yang menghantam belasan tentara Utsmani yang dipimpin Hassan Hairi Bey.

Di sisi yang berseberangan, barikade yang dibuat Botev dan regunya cukup menahan laju serangan prajurit bayaran Utsmani, bashi-bazouk, dan menjadikan mereka sasaran empuk peluru-peluru pejuang Bulgaria. “Putar ke kanan, pimpin lima orang rekanmu, Berbatov! Stoichkov, dukung mereka dari belakang! Pandev, awasi sisi kiri! Yang lain tetap di posisi, tembak begitu ada yang mendekat! Hidup Bulgaria!” Botev dengan berapi-api menyemangati pasukannya yang telah kelelahan bertempur seharian melawan musuh yang berlipat ganda.

“Dari informasi yang kuperoleh di desa, bajingan-bajingan itu telah membantai habis rakyat desa Batak yang tidak berdosa. Tiga ribu orang dipotong-potong; pria, wanita, dan anak-anak. Kota itu sekarang rata dengan tanah kecuali beberapa gundukan mayat di sana-sini.” gerutu Lev, yang bergabung dengan regu pimpinan Trifon Berbatov. Sebutir peluru baru saja meleset tipis dari dahinya.

“Akan kupreteli mereka yang bertanggung jawab dengan tanganku sendiri.” balas Tsvetanov yang juga satu regu dengan Lev, sambil terus menembakkan peluru ke arah markas artileri pasukan bashi-bazouk.

Hari mulai malam. Para pejuang telah memperoleh kemenangan besar dan menahan serbuan musuh. Pertempuran telah bersiap untuk diakhiri pada hari itu, para prajurit akan beristirahat, ketika saat itu tiba.

Sebutir peluru menerjang Botev. Sang Panglima pun jatuh tersungkur.

Voivod Botev!” seru Dimitar Tsvetanov.

Lev dan Giorgi segera menghampiri Botev yang ambruk. Botev memandangi keduanya sambil tersenyum, kemudian ia berkata dengan tenang:

“Dia yang mati bagi kemerdekaan, tidak hanya mati bagi negerinya, tapi juga bagi seluruh dunia... Hidup… Bulgaria!!!”

Botev mengeluarkan tenaga terakhirnya untuk meneriakkan satu kata penutup dalam hidupnya. Lev memandang Giorgi, yang berkata pelan “Voivod Botev telah pergi”.

Lev tercenung. Namun rupanya rekan-rekan yang lain telah menyadari berita duka itu dengan cepat.

“Dia telah tiada!” teriak yang lainnya.

Detik berikutnya, segumpal mortir Utsmani menghantam telak barikade pertahanan yang dibuat Voinovski, menewaskan Voinovski dan beberapa rekan lainnya.

Saat-saat selanjutnya adalah saatnya kekacauan. Sayap kiri kubu pejuang kehilangan komando dari Botev, setiap personel yang ditugaskan melakukan serangan balik gugur tertembus peluru pasukan bazhi-bazouk. Sayap kanan yang dibarikade oleh Voinovski pun berhasil diratakan oleh hantaman artileri pasukan Utsmani, yang disusul oleh rangsekan satu batalion infantri Hassan Hairi Bey ke pusat pertahanan pasukan Bulgaria. Sekitar separuh dari kekuatan para pejuang telah hilang, dan sisanya pun banyak yang terluka parah.

“Hai tikus-tikus Balkan! Keluar dan menyerahlah!” teriak Hassan Hairi Bey dari posisinya.

Borislav Radoslavov meraih panji besar triwarna Bulgaria dan meletakkan ujung bayonetnya di sana.

“Hei, apa yang akan kau lakukan?” teriak Lev.

“Kita harus menyerah!” teriak Radoslavov. “Atau mati. Kita harus membuat bendera putih.”

Terdengar letusan senapan. Lev menembak Radoslavov di kepala.

“Merdeka atau mati!” teriak Lev. “Kalau tidak dapat merdeka, mati! Kalau menyerah, lebih baik mati!”

Dengan teriakan itu Lev merebut panji Bulgaria dari mayat Radoslavov dan menerjang tembakan-tembakan pasukan Utsmani bersama-sama panji triwarna tersebut. Keduanya segera saja dihujani berpuluh-puluh peluru yang segera membuat lubang di mana-mana. Namun Lev tak berhenti berlari. Sesekali tembakan ia lepaskan, pedang ia ayunkan, belasan prajurit Utsmani dia tewaskan, hingga akhirnya ia tersungkur ambruk.
Panji putih hijau merah yang dibawanya terlepas, turun menyelimuti tubuhnya.

“Tuhan...” rintihnya pelan. “Bulgaria… Ibu…”

“Valentina…”

Dan dengan empat kata terakhir itu, Lev Kostadinov menyerahkan nyawanya kepada Sang Pencipta, diselimuti oleh triwarna kebanggaan ibu pertiwi, yang kepadanyalah ia mengorbankan hidupnya.




“Az zym Bylgarski vojvoda, momci mi sa tez
Nij letime ja svoboda, krv da lejme dnes”



Saedineniento Pravi Silata!

----------------------------------

Disclaimer dan keterangan:

- Tokoh-tokoh (selain Hristo Botev, Nikola Voinovski, Dagobert Engländer, Franz Joseph, Gyula Andrássy, Ivan Vazov, dan Hassan Hairi Bey) dan detail percakapan serta peristiwa yang terjadi adalah rekaan pengarang semata, made in Ir.Alfonso R.P.dC.eG., dengan berbasis pada peristiwa sejarah aslinya.

- Pidato Botev untuk kapten dan seluruh penumpang Radetzky adalah asli dan tercatat, sementara terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang disajikan di cerita ini adalah hasil karya pengarang, made in Ir.Alfonso R.P.dC.eG..

- Terjemahan lirik Tih Bjal Dunav se Vylnuva dalam bahasa Indonesia adalah hasil karya pengarang, made in Ir.Alfonso R.P.dC.eG..

- Semua deskripsi peristiwa sejarah dan lambang yang diberikan dalam cerita ini adalah akurat.

- Kata-kata terakhir Botev adalah semboyan hidupnya.


Terjemahan istilah Bulgaria:

- Levat Balkanski, v boy velikanski
Singa Balkan, bersama kita (dua baris pertama dari bait ketiga lagu kebangsaan pertama Bulgaria, Shumi Maritsa).

- Mila Rodino
Tanah air tercinta (juga merupakan judul lagu kebangsaan Bulgaria saat ini).

-Levat Bylgarski
Singa Bulgaria (lambang negara Bulgaria).

- Voivod
Panglima perang (biasanya merujuk kepada pemimpin pasukan-pasukan alias warlord).

- Saedineniento pravi silata
Bersatu kita teguh (motto negara Bulgaria saat ini).

- Yatagan
Pedang tradisional Turki (pada zaman penjajahan Utsmani, identik dengan kekejaman dan penindasan Kekaisaran Turki Utsmani).

.

Rabu, 08 Juli 2009

Lima Menit Untuk Lima Tahun

Hari ini gw akan berangkat memberikan suara untuk pemilihan presiden pertama kali dalam hidup gw.

Gw mungkin cukup beruntung karena dari sejak lima tahun lalu gw udah tau siapa yang akan gw pilih. Dan apapun yang terjadi tidak membuat loyalitas gw luntur.

Pemilu bagi gw bukan hanya sekedar pemilihan pemimpin, tetapi juga adalah esensi dari pemilu: mewakilkan suara kita.

Apa yang gw lakukan pada pemilu haruslah mencerminkan suara hati gw. Suara hati gw yang menjunjung tinggi komitmen. Menghargai loyalitas. Tidak rela berkhianat.

Dan gw harap rakyat Indonesia tahu siapa yang seharusnya mereka pilih.

Gw pribadi sangat menyayangkan klo ada teman-teman yang dengan sangat terpaksa tidak dapat memilih entah karena satu alasan (alias kerja praktek, di tempat yang benar-benar jauh dari daerah pemilihannya) maupun karena alasan lainnya, namun gw lebih menyayangkan lagi klo ada teman-teman yang dapat memilih namun tidak menggunakan hak pilihnya.

Yah, apapun yang terjadi, sebagai seorang umat Tuhan gw cuma bisa berdoa atas pemilu ini… :

Semoga pasangan calon yang gw pilih bisa menang (yah ini mah doa standar seorang pemilih kali ya).

Semoga pasangan calon yang gw pilih nanti, klo menang, dalam kepengurusannya selalu memihak rakyat (bukan terlihat memihak rakyat), melanjutkan yang baik-baik (jangan yang jelek-jelek) dari pemerintahan sekarang, dan mengambil keputusan dengan cepat (dan cermat) sebelum rakyat keburu mati kelaparan menunggu pemerintah bertindak.

Semoga pemilu presiden selesai satu putaran, biar duit 4 triliun rupiah yang ada dapat dipakai untuk hal-hal lain yang lebih berguna: subsidi BBM, anggaran pendidikan, dana ristek, beli alutsista untuk TNI, listrik dan internet masuk desa, ganti rugi Lapindo…

Semoga calon-calon yang tidak terpilih dapat menunjukkan bahwa mereka maju bukan untuk kepentingan pribadi, dan maka itu jika kalah tidak memancing provokasi yang akan menimbulkan kerusuhan dan kerugian harta benda yang menimpa rakyat yang katanya mereka akan bawa kepentingannya. Semoga mereka dianugerahi rasa tahu diri ketika mengingat apa yang John McCain lakukan ketika Barack Obama terpilih; John McCain, yang dalam debat-debatnya jauh lebih garang menyerang sang rival dibanding yang kita tonton di debat-debat capres Indonesia.

Semoga pendukung pasangan calon yang tidak menang masih punya rasa malu dan tidak mencoreng muka bangsa Indonesia yang sudah terkenal tidak sportif di mata dunia, dan mau menunjukkan bahwa pemilu presiden kali ini adalah pemilihan yang cerdas oleh bangsa yang maju, di mana siapapun yang menang, rakyatlah pemenang sejatinya.

Semoga mahasiswa tidak hanya bisa mendengung-dengungkan kebenaran ilmiah dan berkoar-koar sebagai agent of change, tetapi juga bisa memposisikan dirinya sebagai guardian of value, sebagai negarawan, sebagai manusia yang mampu berjiwa besar menerima siapapun yang terpilih, tidak mengingkari suara rakyat dan mengadakan pengadilan jalanan, tidak hanya bisa menggugat tanpa menyentuh esensi, tidak sok berbicara atas nama rakyat namun tak mengenal rakyat itu sendiri…

Terakhir, semoga kita semua memilih yang terbaik.

Ayo, memilih!

Cokelat – Lima Menit Untuk Lima Tahun

Ayo semua kita memilih, yang terbaik demi negeri ini
Lima menit kita memilih, lima tahun kala kita jalani
Jangan hanya menjadi putih, suara kita sangat berarti
Memilihlah untuk Indonesia


Demi Tuhan, untuk bangsa dan almamater - merdeka!



.

Rabu, 24 Juni 2009

Tuhan "vs" Ilmu Pengetahuan

Saya biasanya nggak pernah ngepost artikel di blog ini yang bukan karangan saya sendiri, tapi khusus kali ini saya buat pengecualian, karena... (yah baca dulu lah ntar juga ngerti).

Artikel ini saya peroleh dari kiriman salah seorang rekan saya di facebook beberapa hari yang lalu.

Selamat menikmati...

-------------

"Let me explain the problem science has with Jesus Christ." The atheist professor of philosophy pauses before his class and then asks one of his new students to stand.

"You're a Christian, aren't you, son?"

"Yes sir," the student says.

"So you believe in God?"

"Absolutely."

"Is God good?"

"Sure! God's good."

"Is God all-powerful? Can God do anything?"

"Yes."

"Are you good or evil?"

"The Bible says I'm evil."

The professor grins knowingly. "Aha! The Bible!" He considers for a moment.

"Here's one for you. Let's say there's a sick person over here and you can cure him. You can do it. Would you help him? Would you try?"

"Yes sir, I would."

"So you're good...!"

"I wouldn't say that."

"But why not say that? You'd help a sick and maimed person if you could. Most of us would if we could. But God doesn't."

The student does not answer, so the professor continues. "He doesn't, does he? My brother was a Christian who died of cancer, even though he prayed to Jesus to heal him. How is this Jesus good? Hmmm? Can you answer that one?"

The student remains silent.

"No, you can't, can you?" the professor says. He takes a sip of water from a glass on his desk to give the student time to relax.

"Let's start again, young fella Is God good?"

"Er... yes," the student says.

"Is Satan good?"

The student doesn't hesitate on this one. "No."

"Then where does Satan come from?"

The student : "From...God.."

"That's right. God made Satan, didn't he? Tell me, son. Is there evil in this world?"

"Yes, sir."

"Evil's everywhere, isn't it? And God did make everything, correct?"

"Yes."

"So who created evil?" The professor continued, "If God created everything, then God created evil, since evil exists, and according to the principle that our works define who we are, then God is evil."

Without allowing the student to answer, the professor continues: "Is there sickness? Immorality? Hatred? Ugliness? All these terrible things, do they exist in this world?"

The student: "Yes."

"So who created them?"

The student does not answer again, so the professor repeats his question. "Who created them? There is still no answer. Suddenly the lecturer breaks away to pace in front of the classroom. The class is mesmerized.

"Tell me," he continues onto another student. "Do you believe in Jesus Christ, son?"

The student's voice is confident: "Yes, professor, I do."

The old man stops pacing. "Science says you have five senses you use to identify and observe the world around you. Have you ever seen Jesus?"

"No sir. I've never seen Him"

"Then tell us if you've ever heard your Jesus?"

"No, sir, I have not."

"Have you ever actually felt your Jesus, tasted your Jesus or smelled your Jesus? Have you ever had any sensory perception of Jesus Christ, or God for that matter?"

"No, sir, I'm afraid I haven't."

"Yet you still believe in him?"

"Yes."

"According to the rules of empirical, testable, demonstrable protocol, science says your God doesn't exist. What do you say to that, son?"

"Nothing," the student replies. "I only have my faith."

"Yes, faith," the professor repeats. "And that is the problem science has with God. There is no evidence, only faith."

The student stands quietly for a moment, before asking a question of his own. "Professor, is there such thing as heat?"

"Yes," the professor replies. "There's heat."

"And is there such a thing as cold?"

"Yes, son, there's cold too."

"No sir, there isn't."

The professor turns to face the student, obviously interested. The room suddenly becomes very quiet. The student begins to explain.

"You can have lots of heat, even more heat, super-heat, mega-heat, unlimited heat, white heat, a little heat or no heat, but we don't have anything called 'cold'. We can hit up to 458 degrees below zero, which is no heat, but we can't go any further after that. There is no such thing as cold; otherwise we would be able to go colder than the lowest -458 degrees. Every body or object is susceptible to study when it has or transmits energy, and heat is what makes a body or matter have or transmit energy. Absolute zero (-458 F) is the total absence of heat. You see, sir, cold is only a word we use to describe the absence of heat. We cannot measure cold. Heat we can measure in therm al units because heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it."

Silence across the room. A pen drops somewhere in the classroom, sounding like a hammer.

"What about darkness, professor. Is there such a thing as darkness?"

"Yes," the professor replies without hesitation. "What is night if it isn't darkness?"

"You're wrong again, sir. Darkness is not something; it is the absence of something. You can have low light, normal light, bright light, flashing light, but if you have no light constantly you have nothing and it's called darkness, isn't it? That's the meaning we use to define the word. In reality, darkness isn't. If it were, you would be able to make darkness darker, wouldn't you?"

The professor begins to smile at the student in front of him. This will be a good semester. "So what point are you making, young man?"

"Yes, professor. My point is, your philosophical premise is flawed to start with, and so your conclusion must also be flawed."

The professor's face cannot hide his surprise this time. "Flawed? Can you explain how?"

"You are working on the premise of duality," the student explains. "You argue that there is life and then there's death; a good God and a bad God. You are viewing the concept of God as something finite, something we can measure. Sir, science can't even explain a thought. It uses electricity and magnetism, but has never seen, much less fully understood either one. To view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing. Death is not the opposite of life, just the absence of it."

"Now tell me, professor. Do you teach your students that they evolved from a monkey?"

"If you are referring to the natural evolutionary process, young man, yes, of course I do"

"Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?"

The professor begins to shake his head, still smiling, as he realizes where the argument is going. A very good semester, indeed.

"Since no one has ever observed the process of evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavour, are you not teaching your opinion, sir? Are you now not a scientist, but a preacher?"

The class is in uproar. The student remains silent until the commotion has subsided.

"To continue the point you were making earlier to the other student, let me give you an example of what I mean."

The student looks around the room. "Is there anyone in the class who has ever seen the professor's brain?" The class breaks out into laughter.

"Is there anyone here who has ever heard the professor's brain, felt the professor's brain, touched or smelled the professor's brain? No one appears to have done so. So, according to the established rules of empirical, stable, demonstrable protocol, science says that you have no brain, with all due respect, sir. So if science says you have no brain, how can we trust your lectures, sir?"

Now the room is silent. The professor just stares at the student, his face unreadable.

Finally, after what seems an eternity, the old man answers. "I guess you'll have to take them on faith."

"Now, you accept that there is faith, and, in fact, faith exists with life," the student continues. "Now, sir, is there such a thing as evil?

Now uncertain, the professor responds, "Of course, there is. We see it everyday. It is in the daily example of man's inhumanity to man. It is in the multitude of crime and violence everywhere in the world. These manifestations are nothing else but evil."

To this the student replied, "Evil does not exist sir, or at least it does not exist unto itself. Evil is simply the absence of God. It is just like darkness and cold, a word that man has created to describe the absence of God.

God did not create evil. Evil is the result of what happens when man does not have God's love present in his heart. It's like the cold that comes when there is no heat or the darkness that comes when there is no light."


The professor sat down.


----------

Gloria in excelsis Deo, et in terra pax hominibus bonae voluntatis!


.

Sabtu, 20 Juni 2009

Kode Etik Senator

Sedikit pengantar dari gw sebelum menyajikan Kode Etik Senator ke hadapan massa lembaga gw yang sangat gw hormati ini..

. Sebagaimana kita tahu bersama, peran senator secara unit individual maupun Kongres secara satu unit terintegrasi sangatlah vital dalam keberlangsungan sistem proses kemahasiswaan ITB. Maka dari itu, perlu dibuat suatu kode etik yang digunakan untuk menjaga unjuk kerja senator secara individual ini agar menjamin efisiensi dan perolehan yang baik dari Kongres secara keseluruhan sehingga menjamin terlaksananya proses kemahasiswaan ITB yang mampu mengkonversi mahasiswanya menjadi produk dengan selektivitas tinggi untuk membangun Indonesia.

(bahasa paragraf 1 abstrak labtek-penulap dah... hahaha)

Yah intinya, kode etik ini dibikin buat menjamin biar semua senator yang ada di Kongres itu adalah orang-orang yang bener, yang bisa ngejalanin tugasnya dengan baik. Amin?

Buat diri gw sendiri, mudah2an Tuhan selalu ngasih gw kekuatan untuk bisa menjalankan isi kode etik ini sepenuhnya...

Buat rekan-rekan tim senator, mudah2an juga kita semua bisa nunjukin klo kita tim senator yang baik dan bisa memenuhi kode etik ini...

Buat bapak, mas2, dan mbak2 BPA, mohon dijadikan panduan untuk mengawasi kinerja tim senator...

Buat mas2 dan mbak2 BP dan massa HIMATEK, silakan tegur secara beradab jika ketahuan ada tim senator yang melanggar kode etik ini...

Selamat menikmati...

--------------------------------------

KODE ETIK SENATOR

BAB I
ETIKA SEBAGAI PRIBADI SENATOR


Pasal 1
Menjadikan amanah senator sebagai bagian pengabdian kepada Tuhan YME, kontribusi kepada bangsa secara umum dan masyarakat ITB secara khusus.

Pasal 2
Menjunjung tinggi nilai-nilai yang menjadi sifat KM ITB yaitu mandiri, kekeluargaan, adil, aspiratif dan representatif, efektif dan efisien, serta transparan.

Pasal 3
Mengenal, menyayangi, menghargai, saling membantu, serta saling mengingatkan sesama senator agar Kongres mampu tumbuh menjadi tim yang baik, solid, dan produktif.

Pasal 4
Mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan, dengan dilandasi nilai-nilai kebenaran universal, moralitas, dan kebangsaan.

Pasal 5
Menjaga integritas pribadi, citra diri, dan komitmen sebagai senator.

Pasal 6
Memiliki sikap tanggung jawab terhadap wacananya masing-masing.

Pasal 7
Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima, menghormati, dan melaksanakan hasil keputusan sidang Kongres.

Pasal 8
Memiliki kesadaran untuk mencerdaskan dirinya sendiri mengenai wawasan kemahasiswaan dan kebangsaan.



BAB II
ETIKA SEBAGAI SENATOR UTUSAN HMJ ATAU RUMPUN UNIT


Pasal 9
Menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi massa HMJ atau rumpun unit yang diwakilinya.

Pasal 10
Menjaga nama baik HMJ atau rumpun unit yang diwakilinya.

Pasal 11
Mensosialiasikan segala hasil keputusan sidang Kongres kepada massa HMJ atau rumpun unit yang diwakilinya.

Pasal 12
Aktif membangun serta meningkatkan pencerdasan dan partisipasi massa HMJ atau rumpun unit dalam kemahasiswaan.



BAB III
ETIKA SEBAGAI SENATOR YANG MEWAKILI SELURUH MAHASISWA ITB


Pasal 13
Menjalankan fungsinya dan tugas yang diembankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Pasal 14
Menjaga nama baik, kewibawaan, dan kehormatan senator secara perorangan maupun Kongres secara lembaga.

Pasal 15
Hanya hasil ketetapan sidang Kongres yang berhak dikeluarkan ke publik dengan mengatasnamakan Kongres KM ITB.

Pasal 16
Memperjuangkan aspirasi dan kepentingan seluruh mahasiswa ITB.

Pasal 17
Tidak membawa konflik internal Kongres ke luar forum Kongres.

Pasal 18
Bersama-sama membangun suasana sidang/rapat yang kondusif untuk menghasilkan keputusan-keputusan yang membawa kebaikan untuk semua pihak.


Kontrol Fungsi Legislasi Kongres KM ITB

* Mewakili Himpunan atau Rumpun Unit sehingga tidak boleh memegang jabatan struktural lain di organisasi intra kampus. (PS: ampun terpaksa ngelanggar, punten dibalikin ke BPA dah...)

* Bila diketahui sedang memegang jabatan, maka senator direkomendasikan untuk mengundurkan diri dari jabatan tersebut.

* Mengadakan forum dengan lembaganya minimal satu kali dalam sebulan, yaitu tiap minggu pertama tiap bulan.

* Penyerahkan kembali berita acara forum pelaporan ke Kongres KM ITB yang telah ditandatangani oleh Badan Pengawas Senator di Lembaganya diadakan mulai hari pertama minggu kedua tiap bulan.


Kontrol Fungsi Presensi Senator

* Bila senator 3 (tiga) kali berturut-turut tidak hadir (dengan alasan apa pun) dalam rapat kerja Kongres KM ITB, maka akan diberikan surat peringatan ke lembaga yang diwakilinya.

* Selama periode Bulan Juni, Juli dan Agustus atau selama masa libur dan kerja praktek maka kehadiran tim senator dan atau pejabat senator masing-masing lembaga dianggap dapat mewakili kehadiran senator yang semestinya didelegasikan oleh lembaga. Perhitungan absensi dihitung untuk semua agenda Kongres kecuali siding paripurna atau sidang istimewa kongres. Mekanisme ini dibuat sedemikian mungkin untuk meminimalisir ketidakefisienan komunikasi antara Kongres dengan lembaga.

* Bila senator tidak menghadiri Sidang Paripurna maka akan langsung diberi surat peringatan ke lembaga yang diwakilinya.

* Bila lembaga telah mendapatkan 5 (lima) kali surat peringatan, maka senator lembaganya direkomendasikan untuk di-recall.


-------------

Di sini kami tempa diri
pribadi tangguh nan berbudi
Kami ingin dapat berbuat
untuk jaya tanah airku
Kami siap baktikan diri
dengan jiwa dan raga ini
Berbuat demi negeri ini
agar jaya bangsaku

S'gala cita dan karsa ini
adalah bara 'tuk berkarya
Semangat kukobarkan s'lalu
api jaya almamaterku
Dengan tulus ku berikrar
untuk selalu berjuang
Setia kuusung panjimu
kibar jaya kampusku

Sumbangsihku mungkin tak berarti
tapi ikhlas kubaktikan semua...

Dengan tulus ku berikrar
untuk selalu berjuang
Setia kuusung panjimu
kibar jaya kampusku
Kibar jaya... ITB...

(Hymne KM-ITB)

------------------------------


Demi Tuhan, untuk bangsa dan almamater - merdeka!



.

Minggu, 14 Juni 2009

Manchester United Dapatkan Pengganti CR7

Setelah melepas megabintang Cristiano Ronaldo a.k.a. CR7 ke Real Madrid dengan harga yang memecahkan rekor transfer dunia, nampaknya fans berat Manchester United tidak perlu kecewa karena dalam waktu singkat Sir Alex Ferguson telah berhasil mendapatkan pengganti yang tidak kalah tangguhnya. Kabar terbaru menyebutkan bahwa telah tiba di Old Trafford seorang pemain baru yang diboyong untuk menggantikan posisi CR7, bahkan telah mendapatkan nomor punggung yang sama: 7.

Kita lihat saja bagaimana musim ini MU bisa melupakan peranan CR7 dan menyerahkan pada penggantinya, yaitu:




BA7.

Salam olahraga!



.

Sabtu, 06 Juni 2009

Selamat Ulang Tahun Bung Karno

"Berikan aku seribu pemuda dan aku akan mengguncang dunia!"

"Negara Republik Indonesia ini bukan milik golongan tertentu, agama tertentu, suku tertentu, adat istiadat tertentu, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!"

"Go to hell America, go to hell with your aids!"

"Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera, agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 sen sehari; bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli; bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita."

"Kita bangsa yang cinta perdamaian, tetapi lebih cinta KEMERDEKAAN!"

"No sacrifice is wasted."

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya."

"Engkau bisa, hei Rakyat, sebab engkaulah yang menjadi hakim - bukan aku, bukan Bung Hatta, bukan Angkatan Perang, bukan Kabinet."

"Masyarakat tidak terdiri dari kaum laki-laki saja, dan tidak pula dari kaum perempuan saja... Tak sehatlah masyarakat itu, manakala salah satu pihak menindas kepada yang lain, tak peduli fihak mana yang menindas dan tak peduli fihak mana yang tertindas..."

===============================




Memperingati 108 tahun lahirnya Proklamator, Presiden Pertama RI, Pemimpin Besar Revolusi, Ir. Soekarno (6 Juni 1901 - 21 Juni 1970).

"Eenden zwemmen in den troepen, maar de adelaar vliegt alleen."

Kamis, 04 Juni 2009

Kewajiban Utama Seorang Suami

Seorang suami pulang dengan wajah lesu ke rumahnya pada pukul 12 malam setelah kerja lembur yang melelahkan. Ketika ia memasuki ruang makan, nampak sang istri sedang duduk menghadapi makanan yang sudah dingin melotot marah kepadanya.

"Ke mana saja kau?" bentak sang istri. "Di mana tanggung jawabmu sebagai suami? Sudah lewat empat jam dari waktu makan dan engkau tidak juga muncul untuk menemaniku makan. Apakah kau sudah tidak perduli lagi kepadaku?"

"Sayang," jawab sang suami dengan kalem namun ketus. "jika aku tidak pulang jam segini, kita bukan hanya tidak bisa makan bersama, tapi KITA TIDAK AKAN PUNYA UANG UNTUK MAKAN."

---------------

Demi Tuhan, untuk bangsa dan almamater - merdeka!


.

Senin, 01 Juni 2009

Roh Kudus, Kuatkanlah Kami

"Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8)

Minggu kemarin kita merayakan Hari Pentakosta - hari ke-50 setelah kematian Kristus, dan hari ke-10 setelah kenaikanNya. Lalu apa sih yang terjadi pada hari itu? Mari lihat Kisah Para Rasul 2:1-47.

1Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. 2Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; 3dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. 4Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Apa yang bisa kita lihat:

Murid-murid Yesus yang tadinya tidak bisa apa-apa, tidak berpendidikan; hanyalah sekumpulan rakyat jelata: nelayan, pemungut cukai, pemberontak; mendapat Roh Kudus, lalu berbicara dalam bahasa-bahasa lain. Kita lihat di ayat-ayat selanjutnya:

5Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. 6Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. 7Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? 8Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: 9kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, 10Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, 11baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah." 12Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini?" 13Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis."

Dengan kata lain, murid-murid yang tadinya katro itu menunjukkan kepandaian yang luar biasa, sampai-sampai masyarakat tidak percaya kalau mereka bisa melakukan hal sepintar itu. Meskipun demikian, murid-murid terus menunjukkan kepintaran mereka dengan menjawab keragu-raguan masyarakat itu:

14Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. 15Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan, 16tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoël: 17Akan terjadi pada hari-hari terakhir -- demikianlah firman Allah -- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. 18Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. 19Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. 20Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu. 21Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.
Orang-orang katro ini bahkan bisa mengutip Kitab Suci Yahudi. Lebih dari itu, mereka seakan-akan mendapat keberanian kekuatan batin entah dari mana untuk bersaksi membela Guru mereka, Yesus Kristus. Yesus yang pada masa itu masih berstatus penjahat bagi pemerintah Romawi dan penyesat bagi agama Yahudi. Yesus yang waktu Dia ditangkap, orang-orang katro yang katanya murid-muridNya ini kabur meninggalkanNya karena takut ditangkap. Bahkan Petrus, orang yang kita lihat paling banyak omong tadi, waktu Yesus ditangkap malah menyangkalNya sampai tiga kali karena takut ditangkap juga.
Dari mana ya keberanian itu?
Kita lihat bagaimana mereka 'membela' Guru mereka:
22Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu. 23Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka. 24Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu. 25Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. 26Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, 27sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. 28Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu. 29Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini. 30Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya. 31Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. 32Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi. 33Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini. 34Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: 35Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu. 36Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus."

Petrus dkk dengan jelas menyebut Yesus sebagai Tuhan dan Mesias, hal yang membuat Yesus dihukum mati oleh penguasa Romawi dan imam-imam Yahudi. Kalau dilihat sepintas, hal ini namanya cari mati.
Tapi apa hasilnya? Kita lihat...

37Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?" 38Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus. 39Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita." 40Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: "Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini." 41Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.

Gila. Orang-orang malah bertobat. Dan bukan cuma bertobat...
42Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 43Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. 44Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, 45dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. 46Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, 47sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Bukan cuma bertobat, untuk seterusnya orang-orang yang dipertobatkan itu mempraktekkan gaya hidup yang benar dan mampu menarik lebih banyak orang lagi untuk selamat.

........................

Nah sekarang pertanyaan intinya... kenapa kita harus merayakan Pentakosta?

Kita merayakan Pentakosta karena... karena hal yang membuat para murid yang tadinya katro menjadi bijaksana dan berani. Yaitu Roh Kudus, Roh Allah. Roh Kudus yang memampukan para murid yang bukan siapa-siapa menjadi anak Tuhan yang luar biasa.

Kita, orang percaya, adalah murid-muridNya.

Kita, murid-muridNya, seringkali menganggap diri kita katro, nggak bisa apa-apa, ampas, sehingga kita menyerah... dan nggak mau melayani dia karena merasa kurang layak.

"Aku malu Tuhan, nilaiku jelek-jelek. Nanti apa kata orang kalau anak Tuhan nilainya jelek?"

"Jangan sekarang Tuhan, aku nggak bisa bagi waktu."
"Aku nggak pintar ngomong, Tuhan."
"Aku masih banyak dosa, Tuhan, aku nggak layak."
Roh Kudus yang akan menutupi semua itu! Tuhan telah memilih kita dan Ia tidak cuma asal lempar kerjaan saja. Dia akan memperlengkapi kita dengan sarana perang, api yang berkobar dari Roh Kudus!



Ingat Pentakosta. Ingat Roh Kudus yang diam dalam kita, murid-muridNya.


"Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya." (Roma 8:30)


.

Kamis, 21 Mei 2009

Pesan Terakhir Kristus

What is Jesus' last words for us before He left this earthly world? Let's see...

"Go, then, to all peoples everywhere and make them my disciples..." (Matthew 28:19)

"Go throughout the whole world and preach the gospel to all mankind..." (Mark 16:15)

"...you will be witnesses for me... to the ends of the earth." (Acts 1:8)




Have we qualified enough to fulfill His last words in this world? With our daily deeds so that the world could see the glory of God inside us and therefore also glorifying Him?

(celebrating The Ascension of Jesus Christ to Heaven)



You came from heaven to earth
(to show the way)
From the earth to the cross
(my debt to pay)
From the cross to the grave
From the grave to the sky
LORD I lift Your Name on high!





.

Sabtu, 09 Mei 2009

Unit Perlu Diwakili Tidak?

Salam hangat untuk setiap pembaca setia Bacotan Orang Terbuang. Kali ini Si Pembacot a.k.a. Alfonso R. P. del Castillo kembali menghadirkan sebuah tulisan, namun jika biasanya tulisan saya selalu layak dibaca, sekarang saya tidak menghadirkan tulisan untuk dibaca saja namun terutama untuk dikomentari, khususnya untuk rekan-rekan sesama mahasiswa ITB.

Begini ceritanya...

Seperti yang teman-teman tahu, di ITB ini ada 2 macam organisasi kemahasiswaan, yaitu himpunan dan unit. Himpunan itu ya isinya mahasiswa di jurusan/fakultas/sekolahnya masing-masing (di ITB ada 29), yang berdasarkan keprofesian di bidang ilmunya masing-masing. Klo unit itu ada banyak, dan unit merupakan tempat buat penyaluran minat dan bakat, bisa di bidang olahraga, kesenian, diskusi dan kajian, ekonomi, jurnalistik, atau keagamaan, atau yang lainnya. Untuk teman-teman ITB pasti tau lah ya bedanya lingkungan pergaulan di himpunan dan di unit. Pasti beda. Terutama teman-teman yang aktif di keduanya pasti paham.

Nah, di ITB ini kan kita hidup dalam sebuah organisasi yang lebih besar lagi, yaitu KM-ITB. KM-ITB itu mengatasi himpunan-himpunan dan unit-unit. Malahan pada intinya kan KM-ITB itu sebenernya organisasi yang terdiri dari himpunan-himpunan dan unit-unit.

Nah, di setiap kelompok apapun kan diusahain semua anggotanya yang megang peranan dalam menjalankan kelompok tersebut. Contohnya aja waktu rapat RT diusahain semua datang rapat RT kan, biar nggak ada yang keberatan dengan hasilnya. Idealnya sih begitu...

Untuk kelompok yang gede, kan pasti ada yang namanya sistem perwakilan biar semua bisa terwakili. Satu perwakilan mewakili kelompok-kelompok kecil yang ada di kelompok besar itu. Kumpulan perwakilan inilah yang jadi lembaga tertinggi di kelompok itu. Contohnya aja pemerintahan Indonesia yang punya MPR (perwakilan tiap daerah), universitas negeri macam ITB yang punya Majelis Wali Amanat alias MWA (isinya ada perwakilan tiap pihak yg punya kepentingan di ITB: rektorat, mahasiswa, masyarakat, dosen, pegawai, pemerintah). Atau himpunan mahasiswa di ITB macam HIMATEK yang punya Badan Perwakilan Anggota (BPA, yang mewakili angkatan masing-masing).

Nah, sama pula dengan KM-ITB yang terdiri dari himpunan-himpunan dan unit-unit. KM-ITB juga punya kumpulan perwakilan dari lembaga-lembaga di bawahnya (himpunan dan unit). Seperti organisasi lainnya, kumpulan perwakilan ini jadi lembaga tertingginya KM-ITB. Namanya pasti teman-teman sudah kenal baik: Kongres KM-ITB, yang menduduki posisi tertinggi seperti MPR Indonesia, MWA ITB, atau BPA HIMATEK. Isinya Kongres, ya perwakilan himpunan dan unit, satu orang per lembaga, yang namanya senator. Seperti biasa, Kongres dibuat sebagai perwakilan biar klo KM-ITB mengambil kebijakan, semua anggota KM-ITB (himpunan dan unit) terwakili dan nggak ribut atau protes.

Klo mau adil, kan seharusnya dibuat 1 orang mewakili 1 himpunan/unit. Jadi ada 1 senator per himpunan/unit. NAAAAAAH... tapi kita udah bahas tadi, himpunan dan unit memang beda. Suasana di dalamnya agak beda, lingkungan pergaulannya beda, keanggotaannya beda, tujuannya pun juga beda. Himpunan isinya anak2 sejurusan yang punya latar belakang ilmu yang sama, unit isinya anak2 berbagai jurusan yang hobi atau minatnya sama. Kaderisasi di himpunan umumnya lebih 'mengikat', bahkan dalam Rancangan Umum Kaderisasi KM-ITB, semua orang harusnya masuk himpunan. Sementara, unit cenderung lebih 'bebas' karena berdasarkan bakat dan minat.

Dalam dunia kemahasiswaan, rata-rata himpunan lebih menaruh perhatian pada sistem KM-ITB (karena dalam sejarahnya pun, KM-ITB didirikan oleh himpunan-himpunan se-ITB). Makanya, dalam kenyataannya, himpunan-lah yang lebih banyak mengirimkan senatornya ke kongres. Sementara unit, rata-rata hanya memiliki kepentingan terhadap kelangsungan unitnya sendiri saja dalam hubungannya terhadap sistem KM-ITB. Jadi, kepentingan himpunan dan unit berbeda. Maka dari itu, untuk unit tidak bisa diterapkan 1 unit 1 senator seperti di himpunan.

Mengapa? Karena himpunan ada 29 dan unit ada sekitar 79! Dapat dibayangkan klo Kongres yang lembaga tertinggi didominasi oleh perwakilan unit. Makanya itu, unit dibatasi keterwakilannya di kongres menjadi 29 orang juga, sama dengan banyaknya senator himpunan. Bagaimana 79 unit diwakili 29 orang? Caranya adalah dengan membagi-bagi 79 unit itu jadi rumpun (kelompok) unit: ada seni-budaya, kajian-pendidikan, olahraga, dan media. Tiap rumpun diwakili sekitar 1-5 senator tergantung keputusan ketua-ketua unit masing-masing rumpun. Untuk 5 unit agama dikirimkan masing-masing 1 senator karena kepentingan unit agama tidak bisa diserumpunkan.

Namun demikian, tetap saja yang selama ini terlihat adalah partisipasi senator himpunan memang lebih banyak dari senator unit. Senator himpunan masih mendapat pengawasan dan perhatian dari BPA atau lembaga yang mengatasi dia di himpunan, sedangkan di unit seringkali tidak begitu karena masih belum jelas siapa yang bertanggung jawab atas senator masing-masing rumpun. Ada juga yang merasa bahwa kepentingan tiap unit beda-beda bahkan dalam satu rumpun, jadinya nggak bisa diwakili oleh senator rumpun.

Intinya, di sini lagi ada debat seru: senator unit perlu nggak sih?

Terlebih lagi, klo kita baca RUK, himpunan kan adalah basis massa. Basis massa itu... seperti ini. Klo di Indonesia, propinsi-lah basis massanya. Setiap orang pasti punya wakil di MPR, yaitu dari propinsi tempat dia nyoblos. Seseorang nggak bisa nyoblos di 2 propinsi bukan? Namun pada zaman Pak Harto, diasumsikan ada 'golongan' yang juga punya kepentingan lain dari propinsi. 'Golongan' ini juga harus terwakili di MPR. Makanya ada Fraksi TNI-Polri dan Fraksi Utusan Golongan. Contoh utusan golongan: dari golongan buruh, agamawan, usahawan, seniman, pemuda, kewanitaan, dll. Nah, klo di KM-ITB, golongan ini kita ibaratkan sebagai unit.

Masalahnya di sini, nanti ada yang keterwakilannya dobel donk. Misalkan ada seorang pemuda Jawa Barat, berarti di MPR dia bisa diwakili caleg yang menang pemilu di dapil Jabar DAN utusan golongan pemuda. Biar adil, seharusnya utusan golongan ditiadakan donk? Nggak juga, soalnya utusan golongan harus menyuarakan kepentingan golongannya. Misalnya, si utusan golongan pemuda tau dan harus fokus menyuarakan kepentingan pemuda, yang mungkin anggota MPR dari Jabar nggak tau dan nggak ahli tentang kepentingan pemuda.

Sama kayak di KM-ITB. Misalkan Saudara Ferdie Darmawan dari HIMATEK punya kepentingan tentang KSEP (kgk tau dah, lu masih di KSEP kgk Fer? hahaha... gpp lah, buat contoh aja yah..) dan harus disuarakan di KM-ITB, akan susah bagi Saudara Alfonso selaku Senator HIMATEK untuk memahami seperti apa sih kepentingan KSEP... Namun di satu sisi itu berarti Saudara Ferdie Darmawan punya suara dobel, dari Saudara Alfonso selaku senator himpunan beliau dan dari senator rumpun unit kajian-pendidikan.

Jadi untuk teman-teman, ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan:

Sebenarnya unit perlu senator atau tidak sih?

Dan jelaskan pertimbangannya. Mohon dijawab ya teman-teman, terima kasih. Maaf klo ada salah-salah kata, klo ada tolong dikoreksi dengan sopan dan jelas dan tidak memancing emosi.

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater - merdeka!


.

Minggu, 03 Mei 2009

Hidup Sebagai Hamba Allah

Hidup Sebagai Hamba Allah (I Petrus 2:11-25)

Inti dari pelayanan adalah hidup yang melayani. Pelayanan terhadap Tuhan yang sesungguhnya adalah jika dalam kehidupan sehari-hari kita berbuat sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan demikian kita menjadi hamba Tuhan yang sesungguhnya.

Bagaimanakah kita sebagai seorang hamba Tuhan, pelayan Tuhan, di lingkungan seperti ini, diharuskan berlaku oleh Tuhan setiap harinya? Mari kita buka I Petrus 2:11-25.

11Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

Hidup kita hendaknya kudus dan benar dalam Tuhan, sehingga orang lain di sekitar kita menganggap anak-anak Tuhan itu baik dan syukur-syukur mereka menerima Tuhan Yesus dan diselamatkan (Matius 5:16). Amin? Itulah pelayanan kita yang sejati, yang membawa jiwa-jiwa kepada Yesus.

13Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.

Kita sebagai orang percaya hendaknya menaati otoritas yang berlaku di lingkungan kita, meskipun bukan orang percaya yang memegangnya (Matius 22:21). Jadi, kita nggak boleh menentang pemimpin kita hanya karena dia berbeda keyakinan. Tapi ingat, kita tunduk pada mereka dalam Tuhan. Kalau ada hal yang bertentangan dengan hukum Tuhan, kita tahu mana yang harus kita dahulukan.

15Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.

Kita diberi kebebasan untuk relevan dengan perkembangan zaman, dan kita dapat saja menggunakan cara-cara yang digunakan oleh orang-orang dunia dalam menjalani hidup, selama semua itu bertujuan untuk melayani Allah (I Korintus 9:19-21). Contoh paling nyata: alangkah baiknya jika Internet digunakan untuk menyebarkan pesan tentang Injil kepada teman-teman kita, bukan buat nyari bokep!

17Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja! 18Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.

Melayani Tuhan berarti berbuat baik kepada semua orang, karena itulah kehendak Tuhan (Matius 22:39). Kita berbuat baik terhadap orang lain bukan untuk menyenangkan orang tersebut, tetapi untuk menyenangkan Tuhan. Jadi, jika ada yang bertanya “Kenapa gue harus mengasihi si XXXX yang menyebalkan itu?”, kita sudah bisa menjawabnya, bukan?

19Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. 20Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.

Ini ayat untuk kita yang sering mengeluh kepada Tuhan tentang ketidakadilan dunia… Sabar, kalau betul kita menderita karena kita berbuat baik, Allah kita adalah Allah yang tak pernah ingkar janji. Ada upah besar bagi kita di surga.

21Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. 22Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.

Kristus harus menjadi teladan kita dalam melayani (Matius 5:48). Itu berarti, menjadi teladan kita dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah seperti Kristus: jauh dari dosa dan kebohongan.

23Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

Pelayanan paling ampuh adalah dengan menunjukkan pada dunia apa bedanya kita dengan mereka yang tidak mengenal Yesus: kita mengasihi semua orang termasuk orang-orang yang menganiaya kita (Matius 5:44). Jangan sekali-sekali membalas mereka; itu haknya Tuhan (Roma 12:19).

24Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. 25Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

Inilah mengapa kita harus melayani: pelayanan bukanlah cara kita untuk memupuk amal, bukan cara untuk mendapatkan pahala… Pelayanan adalah bentuk rasa syukur kita kepada Dia yang telah mati demi menebus dosa-dosa kita. Dia telah memberikan hidupNya untuk kita, masa’ kita nggak mau memberikan hidup kita untuk Dia?

Tidak ada alasan untuk tidak melayani.

Untuk rekan-rekan yang akan menjadi pengurus PDTK setahun ke depan: selamat melayani Tuhan.
Untuk rekan-rekan pengurus PDTK yang akan mengakhiri masa jabatannya: teruskan melayani Tuhan.
Untuk semua saudara seiman: hiduplah untuk melayani Tuhan.

Alfonso R., TK’06




[Tulisan ini ada di warta PDTK bulan April, dan memang dikhususkan dibuat untuk momen pergantian kepengurusan PDTK]

Fiat voluntas Tua, sicut in caelo et in terra.



.

Sabtu, 02 Mei 2009

Bila Kau Yang Membuka Pintu

Merasa punya masalah berat dalam hidup? Ingin minta tolong ke orang lain tapi ditolak? Merasa dunia tidak adil? Salah sendiri.

Setiap orang pasti punya masalah masing-masing. Salah besar jika kita punya masalah lalu kita menganggap minta tolong ke orang lain bisa langsung menyelesaikan masalah. Mereka juga sudah banyak dibebani persoalan tersendiri yang mungkin lebih parah dari persoalan kita.

Lantas bagaimana? Jawabannya sebenarnya sederhana, klise, tapi ya memang begitulah adanya: minta tolonglah ke Dia yang tidak memiliki masalah... dan yang berkuasa untuk menyelesaikan masalah.

Ini cuma sedikit catatan kecil yang gw bikin untuk jadi pengingat, untuk jadi penanda, untuk jadi penyemangat buat diri gw sendiri... syukur2 klo bisa untuk orang lain juga... bahwa sebenarnya berharap sama orang lain sia-sia, orang lain juga kemampuannya terbatas... kenapa nggak berharap sama Yang Maha Kuasa aja sih, Dia pasti akan bantu (mungkin lewat tangan orang lain juga).

Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4:13.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Matius 11:28.

Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Ulangan 31:6.

Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. I Petrus 5:6.

TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun. Ulangan 28:13.

Bila Kau yang membuka pintu
Tak ada satupun dapat menutupnya
Bila Kau yang mengangkat aku
Tiada yang dapat merendahkanku








.

Senin, 27 April 2009

Seorang Nabi Tidak Pernah Dihargai di Negerinya Sendiri

Ini adalah cerita tentang seorang Yesus Kristus, yang ditolak di tempat kelahirannya. Menurut Injil Markus pasal 6 ayat 1-6a...

1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
4 Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
6a Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.


Dari kutipan Alkitab di atas, kita dapat melihat bahwa Yesus sendiri mengalami dan membenarkan bahwa seorang nabi tidak dihargai di tempat asalnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal bukannya seseorang seharusnya dapat lebih mudah mengharapkan dukungan dari orang-orang terdekatnya, orang-orang yang dia sudah kenal? Dan seorang nabi, seorang penghubung antara Allah dan manusia, tentunya akan lebih didengar dengan audiens yang dia sudah kenal terlebih dahulu?

Ternyata salah besar.

Penyebab utamanya justru karena hal yang telah diuraikan di atas. Seorang nabi tentunya telah sangat dikenal di tempat asalnya sendiri. Orang sudah tahu bagaimana latar belakangnya, bagaimana kelakuannya, bagaimana baik buruknya, sehingga orang di tempat asalnya cenderung menganggap rendah sang nabi tersebut. Contohnya seperti di atas pada kasus Yesus, di mana Yesus mengajar dan menarik pengikut-pengikut sampai ribuan jumlahnya di seluruh Israel. Untuk sebagian besar rakyat Israel, mungkin Yesus tampak seperti seorang bijak dan penuh kuasa Ilahi. Namun bagi orang-orang Nazaret, Yesus yang mereka kenal adalah seorang Yesus yang mereka kenal sejak Dia masih kecil, yang hanya anak seorang tukang kayu miskin bernama Yusuf, dan yang saudara-saudaranya pun mereka kenal. Injil Yohanes pasal 6 ayat 41-42 mencatat bahwa:

41 Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."
42 Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"


Kasarnya, ketika Yesus berbicara selangit tentang Kerajaan Sorga, respons orang-orang adalah: "Lu pikir lu siapa? Nggak usah ngomong tinggi-tinggi lah, kita-kita juga tau lu benernya cuma anak tukang kayu, ngapain nyebut-nyebut Kerajaan Sorga segala!"

Menyedihkan? Jelas. Sakit? Jelas.

Dampaknya negatif? Jelas. Tahu dari mana?

Sebuah ayat dari kutipan di atas (Markus 6:5) memperlihatkan betapa Yesus, manusia yang paling penuh kuasa Ilahi di muka bumi ini, bahkan 'tidak mampu' mengadakan satu pun mujizat di Nazaret, tanah kelahirannya, kecuali beberapa pekerjaan kecil-kecilan. Seorang Yesus yang kemampuannya berguna untuk membuat mujizat, tidak dapat menggunakan kemampuannya untuk menghasilkan dampak yang baik.

Siapa yang rugi? Yesus? Selain sakit hati dan kecewa, nampaknya tidak ada kerugian lain yang dialami Yesus.

Penduduk Nazaret? Jelas. Mereka kehilangan kesempatan untuk mengalami mujizat yang dibawa oleh Yesus. Jelas sebuah kerugian.

Ataukah mereka sebenarnya tidak membutuhkan mujizat tersebut? Apakah mereka merasa bahwa hidup sehari-hari mereka sudah cukup bisa diusahakan tanpa perlu adanya mujizat yang dibawa Yesus?

Apa memang sudah takdir seorang nabi? Versi lain dari kisah di atas dapat dilihat pada Injil Lukas 4:16-30. Yang menarik, Yesus di sini memaparkan:

24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."


Apakah memang untuk orang-orang yang mengenalnya, seorang nabi tak lebih dari manusia biasa sehingga dianggap tidak cocok untuk menjadi penghubung Allah dan manusia?

Saya kembalikan kepada diri kita masing-masing untuk menjawabnya.

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater - merdeka!



.

Rabu, 22 April 2009

Inilah Suara Kami [Penarikan Aspirasi HIMATEK, termasuk Sedikit Aspirasi Pribadi, Kawan...]

Tulisan ini berisi kumpulan pendapat rekan-rekan HIMATEK untuk kerja Kabinet KM-ITB dan Anggota MWA Wakil Mahasiswa ITB setahun ke depan. Bahan diperoleh dari: 1. Wawancara langsung dengan sekitar 30 orang massa HIMATEK. 2. Polling Kongres yang diisi 100 orang. 3. Angket buatan sendiri yang diisi angkatan 2007 HIMATEK. Bersiaplah...



Hal terpenting yang disorot oleh massa HIMATEK adalah informasi. Informasi harus menjadi prioritas utama KM-ITB, ketika keterlibatan seluruh massa secara 100% kurang realistis, minimal 100% mahasiswa ITB mengetahui apa pekerjaan KM-ITB dan ke mana arah geraknya sekarang. Cara paling efektif untuk menyebarkan informasi itu antara lain:
- Sosialisasi dari mulut ke mulut adalah hal yang paling ampuh, menghilangkan kesan kaku, formal, dan eksklusif. Hal ini dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki informasi kepada teman dekat masing-masing.
- Sosialisasi dari mulut ke mulut juga dapat menjadi sarana penyampaian yang bebas 'bahasa dewa' yang berbelit-belit dan monoton, yang selama ini identik dengan kemahasiswaan terpusat di mata beberapa orang.
- Presiden KM dan kabinetnya, juga anggota MWA wakil mahasiswa dan timnya, (alias Ucup-Benny dkk) harus sering-sering mengunjungi himpunan dan mengajak bicara semua orang secara informal, untuk menimbulkan rasa kedekatan dan keterikatan orang. Tak kenal maka tak sayang, toh?

Ada yang mengeluhkan manajemen sumber daya oleh Kabinet KM-ITB yang selalu meminta orang untuk kepanitiaan, satgas, ataupun badan tertentu. Keluhannya adalah job desc pekerjaan yang dimaksud seringkali tidak diberikan sehingga kita hanya mengirim orang dan pada akhirnya terbengkalai sehingga orang tersebut tersia-siakan tenaganya dan malah cenderung berpikiran negatif terhadap kinerja Kabinet KM-ITB. Ada pula yang mengatakan bahwa kegiatan terpusat harus berbeda dengan himpunan, yaitu skala lebih besar, karena potensi KM-ITB khususnya Kabinet terlalu besar untuk mengadakan acara skala himpunan atau unit saja.

Mengenai hubungan kabinet dan himpunan, diharapkan Kabinet dapat mengadakan acara yang merupakan hasil koordinasi antar himpunan (tidak perlu ada pembentukan panitia khusus dari Kabinet). Kegiatan GFD yang diadakan bersama HIMATEK, HMTL, NYMPHAEA, U-GREEN dan GANESHA HIJAU dari Kabinet merupakan contoh yang masih dapat diperbaiki. Mengenai hubungan kabinet dan unit, diharapkan bahwa ketika mengadakan acara bersama diharapkan Kabinet menghilangkan kesan superioritas dan menunjukkan profesionalitas (ini didapat dari keluhan panitia Olimpiade dari unit).

Mengenai hubungan ke rektorat, KM-ITB harus mensinkronkan arah gerak dengan arah gerak ITB, yaitu menjadikan ITB world-class university. Untuk itu, KM-ITB diharuskan sering berdialog dengan pihak ITB agar dapat mengerti, apa bagian yang dapat dikerjakan KM-ITB untuk membantu terwujudnya visi ITB tersebut. Dengan demikian, pergerakan KM-ITB tidak terkesan sporadis dan berubah tiap kepengurusan tanpa arah yang benar-benar jelas, namun memiliki satu visi ke depan yang kuat.

Dari hasil polling ada 4 hal yang menarik:
1. 66% beraktivitas di himpunan dan hanya 9% di kemahasiswaan terpusat. Dari data, dapat disimpulkan bahwa pergerakan KM ITB berpotensi digunakan untuk mengkoordinir acara-acara himpunan dibanding mengadakan acara sendiri (lihat di atas).
2. Diskusi dan kajian merupakan hal yang paling tidak diminati (17%). Untuk mengatasinya, diskusi dan kajian harus dibuat lebih menarik dan mengena.
3. Hanya 1% yang ingin jadi politisi, PNS, dan birokrat; 56% merasa mahasiswa ITB apatis terhadap kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswa tidak tertarik pada politik dan pemerintahan.
4. Kebanyakan merasa mahasiswa ITB eksklusif (58%) dan sebagian besar karena alasan akademis; dan alasan utama kenapa harus berkontribusi terhadap bangsa dan negara adalah peran sebagai insan akademis (46%). Dapat dilihat bahwa keakademisan ini harus dijadikan senjata untuk berjuang, bukan menjadi hambatan.

Mengenai dana kemahasiswaan, yang terutama dituntut adalah transparansi dan publikasi besar-besaran. Kabinet sebagai pemegang dana hendaknya memberi dana lebih besar kepada himpunan atau unit yang berkembang, terutama yang berhasil mengembangkan keprofesiannya. Selain untuk insentif, hal itu juga berguna untuk membiayai pengembangan keprofesian.

INFORMASI, lagi-lagi menjadi hal yang utama untuk isu-isu eksternal. Massa kampus menuntut tahu setiap isu eksternal yang selama ini hanya diketahui jajaran tertentu saja. Bagaimana kita mau menyatakan sikap kepada UU BHP atau memberi saran tentang penyelamatan BakSil kalau yang tahu hanya segelintir orang, dan orang-orang yang sebenarnya dapat memberi masukan malah tidak mendapatkan informasi?

Untuk acara paling vital, yang seringkali dijadikan pangkal segala masalah kemahasiswaan kita: penyambutan mahasiswa baru a.k.a. INKM. HIMATEK berpendapat bahwa tujuan INKM yang paling penting ada 2 dan keduanya WAJIB tercapai:
- Penyadaran mahasiswa baru terhadap wawasan kebangsaan. Sadarkan mereka kalau kita belajar di kampus ini, disubsidi uang rakyat, tidak untuk kepentingan kita secara individual. Kita di sini sebagai orang-orang terpilih memiliki kemampuan dan kewajiban untuk berbakti kepada bangsa dan negara, bukan cuma menikmati pendidikan murah berkualitas lalu kabur. Ilmu yang kita pelajari di kuliah, difokuskan agar kita dapat menghasilkan sesuatu bagi negara kita; melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
- Penyadaran bahwa gerakan kemahasiswaan di kampus kita adalah gerakan mahasiswa yang solutif seperti dideskripsikan di atas. Hal ini untuk mencegah mahasiswa baru ITB terjebak stigma yang berlaku di media massa bahwa gerakan kemahasiswaan seringkali anarkis dan kerjanya demo saja, dan pada akhirnya mau bersama-sama berjalan dalam gerakan kemahasiswaan ITB baik di himpunan, unit, atau skala lain.

INKM mendatang juga harus menjamin bahwa peserta yang ikut adalah sejumlah besar mahasiswa baru ITB. Acara harus dikemas dengan menarik dan tidak membosankan, agar semua peserta memiliki motivasi untuk ikut. Dan yang terakhir, segala bentuk kaderisasi penerimaan mahasiswa baru seperti INKM, kaderisasi fakultas, dan PPAB tiap himpunan (osjur) harus dilegalkan.

Untuk sebuah badan yang bernama Tim Beasiswa, massa menuntut diberitahu secara jelas, makhluk apakah Tim Beasiswa itu? Kerjasama dengan alumni perlu sekali diusahakan, salah satunya berguna untuk memotong jalur birokrasi yang dirasa rumit oleh teman-teman yang pernah berurusan dengan Tim Beasiswa.

Titipan bagi rekan kita di MWA: perbanyak kursi untuk calon-calon mahasiswa yang berkualitas namun tidak mampu secara ekonomi. Dengan kondisi uang masuk USM semahal ini, rasanya cukup beralasan jika massa mengusulkan perbandingan jatah USM vs SPMB sebesar 1:1.

Stimulus untuk iklim keprofesian harus ditingkatkan untuk tiap prodi. Tidak perlu dalam satu proker tersendiri, pendekatan kultural mungkin lebih efektif. Koordinasi dengan dosen dirasa masuk akal dan perlu dicoba, karena merekalah yang lebih mengerti keprofesian.

Perubahan terlalu signifikan dari kepengurusan lama kurang dikehendaki karena akan menyita tenaga. Massa meminta agar poin-poin yang sudah bagus dan tidak terlalu mendesak untuk diubah agar tidak diutak-atik lagi, termasuk Gerakan Kebangkitan Nasional dan jargon KM-ITB Milik Semua!

Poin terakhir, dan salah satu yang paling krusial, adalah bagaimana sang Presiden, anggota MWA, dan para stafnya membawa citra KM-ITB ke massa kampus itu sendiri. Harus disadari bahwa untuk sebagian besar massa kampus, kemahasiswaan terpusat itu identik dengan beberapa hal yang kurang baik, di antaranya: rapat tidak efektif, lama, tidak terfokus pada tujuan, dan selalu berputar di hal yang tidak perlu. Kesemuanya itu harus diakui benar oleh pemegang tampuk kepemimpinan kemahasiswaan terpusat dengan besar hati dan tidak defensif dalam menyikapi opini massa ini. Lebih penting lagi, budaya yang berlawanan dengan hal-hal kurang baik di atas harus dipupuk: rapat efektif, singkat namun jelas, fokus pada inti permasalahan, dan utamakan selesai rapat dengan cepat namun mencapai sasaran. Ingat kawan, waktu adalah sumber daya alam tak terbarukan. Minyak bumi 100 juta tahun lagi masih bisa regenerasi, namun waktu tak dapat diputar kembali. Kalau mahasiswa ITB, garda terdepan kemahasiswaan Indonesia, tidak bisa mengatur waktunya dengan efektif... kapan Indonesia tersenyum? Budayakan tepat waktu untuk segala kegiatan.

Orang juga sering melihat kemahasiswaan terpusat identik dengan ajang pamer perseorangan. Seseorang turut berpartisipasi karena ingin dikenal, karena ingin dianggap hebat. Hal ini yang membuat forum seringkali berlarut-larut karena setiap orang ingin pendapatnya didengar, meskipun tak jarang inti perkataannya sama dengan orang-orang yang berbicara sebelum dirinya. Kembali lagi efisiensi waktu menjadi tanda tanya besar. Maka itu, tuluslah mengabdi. Itu hakikat kita sebagai mahasiswa.

Massa menginginkan KM untuk bersuara lantang ke luar, kalau bisa dengan publikasi bombastis lewat media massa. Hal ini selain memiliki tujuan eksternal, juga sebagai deklarasi ke dalam kampus ITB bahwa ada sebuah wadah persatuan mahasiswa bernama KM-ITB yang mewadahi kita-kita. Yang terakhir, proker sebisa mungkin dibuat yang menarik dan aspiratif. Jangan untuk orang-orang tertentu yang itu-itu saja. Ingat, kita semua KM-ITB, dan sebisa mungkin proker adalah untuk kita semua, untuk KM-ITB.

Terakhir... kami ingin mengucapkan selamat bertugas kepada rekan-rekan kami, Ridwansyah Yusuf Achmad sebagai Presiden KM, dan Benny Nafariza sebagai anggota MWA wakil mahasiswa. Kami percayakan arah gerak kemahasiswaan kami setahun ke depan, jangan sia-siakan itu...

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater - Merdeka!



.

Minggu, 12 April 2009

Celebrate, The Resurrection of Our Lord!

Natal adalah perayaan kelahiran Tuhan kita ke dunia.
Setiap orang juga pasti pernah dilahirkan.

Jumat Agung adalah peringatan kematian Tuhan kita.
Setiap orang juga pasti akan mati.

Tapi hari ini, Minggu Paskah, kita merayakan Tuhan kita yang melawan maut, dan menang!

Bagi semua pembaca setia Bacotan Orang Terbuang, Si Pembacot a.k.a. Alfonso Rodriguez Peña del Castillo mengucapkan:


Happy Easter! Christ is risen, indeed He is risen!
Joyeuses Pâques! Christ est ressuscite , en verite il est ressuscite!
Frohe Ostern! Christus ist auferstanden, wahrhaft auferstanden!
Buona Pasqua! Cristo č risorto, č veramente risorto!
Felices Pascuas! Cristo esta resucitado, en verdad esta resucitado!
Zalig Pasen! Christus is opgestaan, Hij is waarlijk opgestaan!
Feliz Páscoa! Christo ressuscitou, em verdade ressuscitou!
Glad Påsk! Kristus ar upstanden, sannerligen upstanden!
Cáisc Shona Dhaoibh! Tá Críosd ar éirigh, go deimhin tá e ar éirigh!
Paşte fericit! Hristos a inviat, adeverat ca a inviat!
καλό Πάσχα! χριστοσ ανεστι, αλιθοσ ανεστι!
Светлой Пасхи! Христос воскресе, воистину воскресе!
よい復活祭を! キリスト復活,実に復活!
Surrexit Dominus vere! Christus resurrexit, vere resurrexit!

Selamat Paskah! Kristus bangkit, Ia sungguh bangkit!



Christ The Lord is Risen

Christ the Lord is ris'n indeed, Hallelujah!
He has met His people's need, Hallelujah!
Raise your joys and triumphs high, Hallelujah!
Sing, ye heav'ns and earth, reply, Hallelujah!

Lives again our glorious King, Hallelujah!
Where, O Death, is now thy sting? Hallelujah!
Dying once He all doth save, Hallelujah!
Where thy victory, O grave? Hallelujah!

Love's redeeming work is done, Hallelujah!
Fought the fight, the battle won, Hallelujah!
Death in vain forbade Him rise, Hallelujah!
Christ ascended o'er the skies, Hallelujah!

Soar we now where Christ hath led, Hallelujah!
Following our exalted Head, Hallelujah!
Made like Him, like Him we rise, Hallelujah!
Free from all the earthly ties, Hallelujah!




.

Jumat, 10 April 2009

Karena Kita...

Nichole Nordeman - Why

We rode into town the other day
Just me and my Daddy
He said I'd finally reached that age
And I could ride next to him on a horse
That of course was not quite as wide

We heard a crowd of people shouting
And so we stopped to find out why
And there was that man
That my dad said he loved
But today there was fear in his eyes

So I said "Daddy, why are they screaming?
Why are the faces of some of them beaming?
Why is He dressed in that bright purple robe?
I'll bet that crown hurts Him more than He shows

Daddy, please can't you do something?
He looks as though He's gonna cry
you said he was stronger than all of those guys
Daddy, please tell me why
Why does everyone want him to die?"


Later that day the sky grew cloudy
And Daddy said I should go inside
Somehow he knew things would get stormy
Boy was he right
But I could not keep from wondering
If there was something he had to hide

So after he left I had to find out
I was not afraid of getting lost
So I followed the crowds
To a hill where I knew men had been killed
And I heard a voice come from the cross

And it said, "Father, why are they screaming?
Why are the faces of some of them beaming?
Why are they casting their lots for My robe?
This crown of thorns hurts Me more than it shows

Father, please can't You do something?
I know that You must hear My cry
I thought I could handle the cross of this size
Father, remind Me why
Why does everyone want Me to die?
When will I understand why?"





"My precious Son, I hear them screaming
I'm watching the face of the enemy beaming
But soon I will clothe You in robes of My own
Jesus, this hurts Me much more than You know

But this dark hour I must do nothing
Though I've heard Your unbearable cry
The power in Your blood destroys all of the lies
Soon You'll see past their unmerciful eyes
Look there below, see the child
Trembling by her father's side
Now I can tell You why
She is why You must die
"




Siapakah yang menyebabkan Yesus mati?

Bukan Pilatus, bukan Yudas Iskariot, bukan orang Yahudi, tapi... yah, kita sudah cukup pintar untuk menjawabnya.

Apakah kita tega menyalibkanNya untuk kedua kalinya dengan dosa-dosa kita lagi?



Enak ya, nggak usah repot-repot ngapa-ngapain, cukup percaya aja, dosa-dosa kita udah ditebus oleh Tuhan kita sendiri dengan kematianNya???

Tapi setidaknya tahu diri dikit lah...!






.

Minggu, 05 April 2009

Perang Dingin: Amerika Serikat vs Uni Soviet

Setelah lama nggak ngepost sebuah tulisan orisinil dari pemikiran gw, akhirnya gw persembahkan sebuah tulisan mengenai 'sejarah' dunia. Tentang dua negara superpower, Amerika Serikat dan Uni Soviet, yang selama 40 tahun lebih bertempur memperebutkan supremasi atas planet ini. Dan tentang negara kita tercinta, Indonesia. Tentang dunia ini.





Mari kita mulai.

Pada awalnya Amerika Serikat dan Uni Soviet bukanlah negara superpower. Mereka hanyalah negara biasa yang baru berkembang sedari terbentuk. Amerika Serikat memerdekakan diri dari jajahan Inggris dan kemudian berkembang sebagai sebuah negara yang mengandalkan industri, bisnis, dan ekonomi; namun menerapkan politik isolasi alias menutup diri dari luar. Sementara Uni Soviet dikuasai kaum komunis Bolshevik yang baru merebut pemerintahan dari keluarga Tsar Rusia, dan kaum Bolshevik yang belum pernah berkuasa itu lantas terfokus untuk menikmati kekuasaan yang sekarang mereka raih setelah sebelumnya tak berdaya di bawah pemerintahan Tsar.

Begitulah kedua negara ini tak pernah benar-benar berinteraksi satu sama lain, apalagi punya pikiran saling membenci, sampai ketika zaman modern datang.

Kedua negara ini bersama-sama memasuki zaman modern menghadapi musuh baru, musuh seluruh dunia: Nazi Jerman dan kelompok Axisnya. Adanya musuh bersama ini membuat keduanya 'terpaksa' bersatu, atau bisa-bisa keduanya tidak dapat melewati zaman modern ini (dengan kata lain hancur total oleh Nazi Jerman). Memang keduanya bertempur di front yang berbeda (Amerika di front barat dan Pasifik, Soviet di front timur) dan punya motivasi yang bebeda pula, namun musuh yang satu ini tidak dapat dikalahkan sendirian. Amerika Serikat dan Uni Soviet, bersama seluruh negara dunia, bahu-membahu mengalahkan Nazi Jerman dan antek-anteknya, dan akhirnya pada musim panas 1945 setelah hampir 5 tahun berperang bersama, tentara Amerika Serikat dan Uni Soviet memenangkan perang.

Sekarang kita beralih ke negara kita tercinta, Indonesia. Di manakah dia saat Amerika Serikat dan Uni Soviet bertempur melawan Nazi Jerman dan antek-anteknya?

Ternyata Indonesia pun tak beda dari negara-negara lain di dunia: ia menderita di bawah antek-antek Nazi Jerman, dan ikut pula angkat senjata menentangnya. Mungkin motifnya tidak se'wah' dan se'visioner' Amerika Serikat dan Uni Soviet yang menganggap perang ini sebagai Perang Dunia II, dan dengan demikian setiap tindakan mereka dalam perang ini ditujukan berdasarkan visi untuk posisi mereka ke depannya di peta politik dunia setelah perang usai.

Tidak. Motivasi Indonesia dalam perang ini hanyalah sebatas merdeka, seperti wajarnya sebuah negara, yang harusnya merdeka. Hanya itu. Sama seperti negara-negara lain di seluruh dunia yang juga ingin merdeka: Austria, Ceko, Ukraina, Serbia, Albania, Filipina, India, Mesir, Irak...

Singkat cerita, perang pun usai; Nazi Jerman kalah, Indonesia merdeka, dan runtuhlah persekutuan yang dibangun Amerika Serikat dan Uni Soviet. Memang mereka memiliki kesamaan: negara dengan latar belakang kebudayaan Barat-Kristen, ras Kaukasoid, secara ekonomi termasuk negara industri maju, secara ilmu pengetahuan merupakan gudangnya ilmuwan di dunia... tapi karena ideologi yang berbeda, mereka tidak dapat disatukan dan tanpa terelakkan lagi terjadilah perseteruan. Dan dimulailah masa-masa yang dinamakan Perang Dingin.

Sekarang mari kita tinjau arti frase Perang Dingin. Perang, artinya kedua belah pihak bermusuhan. Dingin, karena tidak menyatakannya secara terus terang. Kalau dikonfirmasi, apakah kalian sedang perang? Tentu pihak-pihak terkait akan menjawab: tidak.

Masa Perang Dingin adalah masa mencari aliansi. Kedua belah pihak mulai mencari negara-negara lain untuk dijadikan sekutu atau bawahan. Mulailah Amerika Serikat dengan NATOnya, pakta pertahanan negara-negara Eropa Barat dan Amerika Utara. Uni Soviet pun membentuk Pakta Warsawa dengan anggotanya negara-negara Eropa Timur.

Pada mulanya, Amerika Serikat berhasil membentuk jaringan luas. Sekutu-sekutunya ada mulai dari seluruh Eropa Barat, Kanada, negara-negara Amerika Latin, Afrika, Israel di Timur Tengah, Jepang di Asia, Australia, dan lain-lain. Sementara Uni Soviet hanya bisa menjaring negara-negara tetangga yang dekat dengan dia di Eropa Timur. Pengecualian untuk beberapa negara macam Kuba di Karibia dan Kongo di Afrika, tapi itu pun baru menjadi sekutu setelah Perang Dingin lama berlangsung.

Amerika Serikat pun lebih menarik bagi negara-negara netral karena sifatnya yang lebih liberal, bebas, dan terbuka. Sementara Uni Soviet lebih eksklusif dengan paham komunismenya, dan lebih subjektif.

Sementara Indonesia dengan gagah beraninya memproklamirkan lewat kata-kata Bung Hatta: mendayung di antara dua karang. Diterjemahkan oleh Bang Alex dengan POLITIK BEBAS AKTIF. Bebas bergaul dengan Blok Barat (Amerika Serikat cs) dan Blok Timur (Uni Soviet cs); namun aktif dalam artian tidak disetir oleh keduanya dalam mengambil keputusan, malahan seharusnya mengambil inisiatif dalam memperjuangkan kepentingannya agar nggak diinjak-injak kedua kubu.

Namun dalam kenyataannya, rakyat Indonesia lebih enak bergaul dengan Blok Barat karena bebas dan secara budaya lebih terbuka, jadi enak diajak bergaul. Apalagi paham komunisme Blok Timur tergolong aneh bagi rakyat Indonesia yang Pancasilais. Demikianlah Indonesia berusaha untuk bebas aktif, namun kesehariannya lebih banyak berinteraksi dengan Barat. Contoh nyatanya: ekspor-impor sebagian besar dengan Blok Barat, menerapkan sistem ekonomi pasar seperti Blok Barat, rakyatnya lebih gemar budaya populer Blok Barat, dan militernya pun disuplai Blok Barat. Jadilah Indonesia negara yang ngomongnya saja nonblok, tapi pada kenyataannya menjadi anggota tak resmi Blok Barat.

Waktu pun berlalu...

Uni Soviet dan Blok Timurnya tak dapat bertahan lama menghadapi perkembangan zaman. Mereka pun akhirnya sadar bahwa paham komunisme tidak bisa lagi mereka pegang lebih lama, dan mulai mengadopsi cara-cara Blok Barat: membuka diri terhadap dunia luar dan mengikuti sistemnya Blok Barat: liberalisme en kapitalisme en tentunya budaya populer.

Nah, yang terjadi pada Amerika Serikat justru sebaliknya. Makin lama dia makin arogan dan kelihatan tidak memikirkan kepentingan dunia, tapi malah mengutamakan kepentingan diri sendiri. Pamer bala tentara dan sekutu di mana-mana, bertindak seolah-olah merekalah balatentara penguasa dunia, membuat negara-negara netral menjadi malas mendukung Amerika Serikat. Apalagi perilakunya yang tidak bersahabat membuat musuh-musuh bermunculan di mana-mana. Negara-negara Islam mengecam invasi Irak dan Afghanistan. Di Amerika Latin, Venezuela dipimpin Hugo Chavez menantang dan mempertanyakan arogansi Amerika. Iran dan Mahmoud Ahmadinejad menjadi contoh bagus sebuah negara yang berani berdiri sendiri tanpa tergantung Amerika Serikat. India, sekutu dekat Amerika, mulai menunjukkan perkembangan pesat ke arah kemandirian. RRC bahkan berkembang menjadi superpower baru yang siap menantang.

Amerika Serikat bahkan melakukan salah satu hal yang membuat Uni Soviet tidak disukai dulu: pembatasan hak berkomunikasi, dan eksklusivitas. PATRIOT ACT yang mengekang kebebasan sipil diterapkan di Amerika. Eksklusivitas Amerika ditegaskan lagi oleh statement George W. Bush yang tidak menghargai keberagaman dan perbedaan: "Either you're with us, or against us". Intinya, sekarang Amerika Serikat dan sekutu-sekutunyalah yang jadi eksklusif dan arogan!

Melihat hal ini, sekutu-sekutu lama Amerika Serikat mulai menjauhkan diri. Mereka mulai bisa berkomunikasi dengan Rusia, suksesor Uni Soviet, yang sekarang mulai terbuka dan tidak lagi membatasi pergaulan dengan sesama penganut komunisme. Perancis dan Jerman, anggota NATO, beraliansi dengan Rusia menentang Amerika dalam kasus invasi Irak. Hugo Chavez dan Rusia mulai bekerjasama. Ahmadinejad bahkan memperoleh bantuan Rusia untuk pengembangan teknologi nuklirnya; sesuatu yang pasti bikin gerah Amerika. Venezuela dan Iran jelas meminta bantuan Rusia karena Amerika Serikat sekarang sudah lagi tak nyaman diajak bergaul. Hanya negara-negara miskinlah yang tidak berani angkat suara karena masih mengharap bantuan ekonomi Amerika Serikat.

Salah satu keunggulan Amerika Serikat adalah pada kebebasan persnya, yang membuatnya menjadi media propaganda yang tangguh. Selama bertahun-tahun tersebar informasi ke seluruh dunia bahwa Blok Timur adalah tempatnya diktator-diktator komunis yang kejam, di mana kebebasan dibelenggu, bla bla bla semua yang jelek-jelek. Apakah itu benar? Entahlah. Yang pasti Uni Soviet nggak pernah melempar balik tentang kejelekan Blok Barat kepada dunia netral. Namun sejak Rusia mulai membuka diri dan arogansi Amerika naik, propaganda ini mulai kehilangan artinya sebab orang sudah mulai tidak percaya dan berani mempertanyakan Amerika yang arogan.

Indonesia? 'Anggota tak resmi' Blok Barat ini mendapatkan embargo senjata dari Blok Barat karena kasus Timor Timur. Tak tahan dengan sikap Blok Barat yang sok kepo, preman, dan seakan menggerecoki urusan internal negeri orang, negara kita tercinta pun beralih pada Rusia, yang sekarang sudah tidak lagi disebut sebagai Blok Timur. Tak hanya itu, Indonesia pun bergaul dengan negara-negara mantan Blok Timur lainnya, ataupun negara-negara netral. Cina adalah salah satu negara dengan siapa kita paling sering berinteraksi sekarang. Volume ekspor-impor kita dengan Jepang masih tinggi. Dengan sekutu-sekutu Amerika ataupun Amerika Serikat sendiri, kita masih sering bergaul untuk urusan-urusan yang kita rasa perlu.

Negara kita benar-benar menerapkan politik bebas aktif; bergaul dengan siapa saja tergantung kepentingannya, dan diam-diam menyimpan visi untuk menjadi pemain besar dunia. Terlepas dari kekurangan-kekurangan internal seperti masih buruknya mental rakyatnya, Indonesia sedang membangun dan bersiap untuk masa depan.

Ada statement: jadi setelah sekarang Indonesia memusuhi Blok Barat, kita menjadi anggota Blok Timur di bawah Rusia?

Ini sebuah statement yang 100% salah total. Pertama, Indonesia tidak pernah memusuhi negara-negara Blok Barat, bahkan masih berinteraksi dengan baik; bisa dilihat dalam budaya, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Kedua, Blok Timur sudah tidak ada lagi; dikotomi Blok Barat-Timur hanyalah sisa masa lalu sekarang. Ketiga, Indonesia bukan anak buah Rusia, karena yang ada sekarang bukanlah Blok Amerika vs Blok Rusia, tapi Blok Amerika vs sisa dunia: negara-negara lain yang tak mau lagi terjebak blok-blokan. Sisa dunia ini berinteraksi satu sama lain layaknya negara sederajat, bukan atas dasar aliansi atau dasar bos-anakbuah.

Itulah keadaannya sekarang...

Ke depannya, Indonesia akan berusaha untuk tidak tergantung kepada negara apapun. Indonesia akan berinteraksi dengan negara manapun tanpa syarat. Tidak ada lagi "boleh beli senjata asal jauhi negara X". No way saudara, basi. Globalisasi sudah menyebar sekarang. Udah nggak jaman main blok-blokan. Tidak ada lagi "dapat pinjaman lunak asal Presidennya si XYZ". Cuih. Presidennya siapa, itu urusan dalam negeri. Lagian, siapa butuh pinjaman klo udah mapan?

Indonesia akan berusaha untuk jadi negara superpower juga, tanpa kekerasan, betul-betul bermodalkan kemampuan. Indonesia tidak akan punya anak buah; semua negara akan diperlakukan setara. Indonesia tidak akan punya musuh; Indonesia akan berinteraksi dengan semua negara sesuai kepentingan. Indonesia akan punya banyak sekutu, yang tidak eksklusif, yang bergerak untuk kepentingan dunia dan bukan untuk kepentingan golongan.

Ada amin saudara? Amin!

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater - merdeka!


.

Rabu, 01 April 2009

Buah-Buah Roh

“Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” (Mat. 7:20)

Bulan ini kita akan melanjutkan mengenal buah-buah roh lebih dalam. Masih ingat kan apa saja buah-buah roh itu? Buah-buah roh itu adalah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23).

Ayat di atas menyebutkan bahwa orang dikenal dari buah yang dihasilkannya. Kita sebagai orang percaya, dikenal dan dibedakan dari orang-orang dari buah yang kita hasilkan di dalam Tuhan. Buah-buah roh tersebut adalah karya Roh Kudus dalam diri kita masing-masing.

Dalam khotbahNya mengenai pengajar-pengajar sesat (Matius 7:15-23), Yesus memaparkan bahwa anak-anak Terang dapat dibedakan dari penyesat-penyesat melalui buah yang dihasilkannya. Apabila anak-anak Terang menghasilkan buah-buah roh, maka anak-anak dunia ini menghasilkan perbuatan-perbuatan daging: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya (Galatia 5:19-21).

Bagaimana dengan kita, manusia-manusia yang menjadi saksi Kristus di TK ITB ini? Buah-buah apa sajakah yang sudah kita hasilkan?

Sudahkah kita memancarkan kebaikan yang dari Tuhan untuk dibagikan kepada teman-teman kita? Ataukah malah teman-teman kita melihat kita sebagai biang perselisihan dan pemecah belah?

Sudahkah kita tetap setia mengikut dan melayani Tuhan dalam segala keterbatasan kita, dan setia menjalani tiap-tiap perkara-perkara besar dan kecil dalam kehidupan kita? Ataukah kita masih mementingkan diri sendiri, jatuh dalam percabulan dan kecemaran, sehingga menomorduakan Tuhan?

Sudahkah kita menjadi orang yang menyikapi masalah dengan lemah lembut dan sabar hati? Ataukah keseharian kita masih penuh dengan amarah dan perseteruan kepada tiap pihak yang bermasalah dengan kita?

Sudahkah kita senantiasa mengendalikan hawa nafsu dan emosi kita dalam keseharian kita? Ataukah kita masih seringkali terlepas dan membiarkan kedengkian dan iri hati kita tak terkontrol kepada teman-teman kita?

“Seberapa jauh kita sebagai pengikut Kristus berhasil dikenal di lingkungan kita sebagai anak Terang, dilihat dari buah-buah yang kita hasilkan? Ataukah orang yang memetik buah-buah yang kita hasilkan justru mengidentifikasi kita sebagai penyesat???”

“Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:22)


Pacem in terris!



.

Senin, 30 Maret 2009

Dasrek dan Penerapannya dalam Keseharian

Ini adalah ringkasan buku karangan Cussler dan Mogridge yang saya buat di tengah kebutekan belajar buat ujian tadi. Nggak sampe beres sih, cuma sampe akhir bab 5. Harap tidak dianggap terlalu serius. Hihihihihi…

Sejak belasan tahun terakhir ini, dasar-dasar ilmu keteknikkimiaan sebenarnya tidak mengalami perubahan yang berarti. Seorang insinyur kimia tidak perlu lagi mengutak-utik dasar-dasar tersebut. Tuntutan kerja dari seorang insinyur kimia dan fokus industri kimia saat ini terfokus pada perancangan produk, bukan lagi perancangan proses. Yang seharusnya menjadi penting bagi insinyur-insinyur kimia masa kini untuk dikembangkan dan diimprovisasi dalam karier kita adalah bagaimana produk-produk kimia dirancang. Kepandaian untuk merancang produk saat ini adalah salah satu hal penting yang menjadi indikator kualitas seorang insinyur kimia.

Untuk merancang produk, ada empat langkah yang menjadi prosedur baku: 1. Kebutuhan, 2. Ide, 3. Pemilihan, 4. Pembuatan. Keempat langkah tersebut membutuhkan usaha-usaha terintegrasi dari bidang-bidang ilmu riset, engineering, dan marketing.

Tahap pertama adalah mendefinisikan kebutuhan konsumen dengan menentukan jawaban dari pertanyaan: Kebutuhan apa yang seharusnya dipenuhi oleh produk? Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi kebutuhan konsumen, yang dapat diperoleh melalui 3 tahap: wawancara, interpretasi hasil wawancara, dan menerjemahkannya menjadi spesifikasi produk. Agar proses identifikasi tepat sasaran, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sebaiknya terarah untuk mengetahui spesifikasi produk seperti apa yang diinginkan. Secara umum ada 5 pertanyaan: apa yang dilakukan sekarang, bagaimana penggunaan produk, bagaimana membeli produk, keuntungan, dan kerugian yang didapat dari penggunaan produk.

Secara khusus, produk-produk untuk konsumen memiliki karakteristik kualitatif seperti ‘kehalusan’, ‘kemanisan’, ‘kehangatan’, dll. Untuk mengadakan perbaikan, parameter-parameter kebutuhan ini diubah menjadi spesifikasi produk yang dapat diukur secara scientific, misalnya kemanisan dikaitkan dengan konsentrasi gula. Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam konversi kebutuhan menjadi spesifikasi adalah semua persamaan reaksi kimia yang terjadi (stoikiometri), neraca massa dan energi proses, serta nilai laju reaksi.

Tahap kedua adalah pencarian ide tentang produk-produk seperti apakah yang memenuhi kebutuhan. Sumber ide dapat didapat dari tim pengembangan produk, konsumen, literatur, maupun sumber-sumber lain (ahli, penemu, konsultan). Pengumpulan ide dapat dicapai antara lain dengan brainstorming. Sumber ide secara kimiawi dapat diperoleh dari screening sumber daya alam, penyusunan molekul secara acak, dan kimia kombinasi. Ide-ide yang didapat kemudian diseleksi sesuai kebutuhan. Screening ide-ide dapat dilakukan dengan merujuk pada beberapa faktor: kedewasaan ilmiah, kemudahan secara engineering, resiko minimum, biaya rendah, keamanan, beban lingkungan yang ringan, dan lain-lain.

Tahap ketiga adalah seleksi ide-ide yang ada untuk mendapatkan pilihan yang terbaik. Dalam ilmu teknik kimia secara garis besar ada dua cara melakukan seleksi, yaitu secara termodinamik dan kinetik. Seleksi secara termodinamik dilakukan untuk mengetahui kemungkinan bisa tidaknya suatu alternatif dijalankan, dan antara lain berujung pada modifikasi seperti penggantian bahan dengan sifat termodinamik yang lebih diinginkan (lebih sulit menguap, lebih tidak beracun) serta peningkatan unjuk kerja (temperatur, pH). Seleksi secara kinetik dilakukan untuk menghitung berapa cepat dan berapa mahal suatu alternatif dilakukan, dan melingkupi laju reaksi, perpindahan panas, serta perpindahan massa.

Cara lain untuk melakukan seleksi adalah dengan memperhitungkan kriteria-kriteria yang subjektif dan kualitatif (kurang scientific), namun cara ini harus dilakukan dengan hati-hati, antara lain dengan mengkuantifikasi ulang kriteria-kriteria tersebut, menghindari pengulangan kriteria yang sejenis, dan memasukkan semua kriteria secara menyeluruh dan menetapkan proporsi kepentingannya masing-masing.

Dalam seleksi, kita harus mempertimbangkan resiko suatu pilihan yang akan diambil berdasarkan seberapa serius suatu resiko dan seberapa banyak resiko tersebut mempengaruhi produk. Ketika pilihan telah dijatuhkan dengan segala resiko yang telah diketahui, kita dapat mengurangi resikonya sebelum melangkah lebih jauh atau menerima resikonya dan langsung lanjut. Tahap seleksi ini seringkali merupakan tahap paling susah untuk seorang insinyur karena manajemen tidak terlibat aktif seperti pada dua tahap sebelumnya, namun menuntut hasil optimal dan penjelasan yang menyeluruh tentang mengapa suatu pilihan diambil.

Tahap keempat dan terakhir adalah proses manufaktur atau pembuatan produk. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan: properti intelektual, informasi-informasi pelengkap, dan pengembangan spesifikasi akhir. Properti intelektual (paten dan rahasia dagang) perlu diperhatikan agar produk yang kita desain tidak ditiru ataupun tidak meniru orang lain. Informasi-informasi pelengkap dapat diperoleh dengan riset dan eksperimen lanjutan. Spesifikasi akhir ditentukan berdasarkan review dari langkah-langkah sebelumnya, dan modifikasi yang dilakukan hanya sedikit, tidak memerlukan banyak inovasi seperti pada tiga tahap sebelumnya.

Ada tiga langkah melakukan spesifikasi akhir, yaitu mendefinisikan struktur produk, menyusun sifat-sifat terpenting dari produk, dan meninjau ulang hal-hal yang dapat menyebabkan perubahan besar pada sifat-sifat produk. Struktur produk ditentukan oleh komposisi kimiawi, bentuk fisik, reaksi kimia yang mungkin terjadi, dan status termodinamik produk. Sifat-sifat produk secara mendasar dapat dibagi tiga, yaitu sifat fisik, perubahan kesetimbangan, dan laju proses (reaksi, transfer massa dan energi). Hal-hal yang dapat mengubah sifat-sifat produk antara lain pelarut, perubahan temperatur, reaksi kimia (perubahan pH, hidrolisis) dan lain-lain.
Produk kimia secara garis besar terbagi atas tiga jenis: produk microstructured, alat untuk perubahan kimia, dan komoditas kimia khusus (specialty chemicals). Perancangan produk microstructured bergantung pada sifat fisik dan kimia fisik bahan, perancangan alat kimia bergantung pada desain bentuk alat yang diinginkan, sementara perancangan specialty chemicals bergantung pada sifat kimia bahan.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Nah… Kuliah itu gunanya buat diterapkan di kehidupan kan… Sudahkah kita (atau dalam hal ini gw) dalam proses mendapatkan setiap ‘produk’ yang diinginkan, melakukan pencatatan ‘need’, pemunculan ‘idea’, ‘seleksi’, dan ‘manufaktur’ sesuai kata Bang Cussler dan Mas Mogridge? Diharapkan untuk setiap 'produk' lain yang kita butuhkan, mulai saat ini, kita memakai pedoman-pedoman tersebut... HAHAHAHAHAHA... *ketawa gila*

Pak Handi... kenapa nggak bikin ujian Senin lalu aja sih...


Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater - merdeka!



.

Selasa, 24 Maret 2009

Memotong Jagung di Labtek Kita

Ini cerita tentang labtek tadi siang...

Ayo kawan kita bekerja
Memotong jagung di labtek kita
Ambil kapakmu, ambil golokmu
Kita bekerja tak jemu-jemu

Potong, potong, potong yang pendek
Jagung yang pendek langsung kupotong

Potong-potong supaya pendek
Jangan lebih dari tiga senti
Jagungnya kecil, gampang dibakar
Tentu berguna bagi semua

Potong, potong, aku gembira
Memotong jagung di labtek kita



Ajegile... e... e...



.

Senin, 23 Maret 2009

Mentari

Sedang terinspirasi beberapa hal...........

Mentari - Iwan Abdurrachman

Mentari menyala di sini
Di sini, di dalam hatiku
Gemuruh apinya di sini
Di sini, di urat darahku

Meskipun tembok yang tinggi mengurungku
Berlapis pagar duri sekitarku
Tak satu pun yang sanggup menghalangimu
Bernyala di dalam hatiku

Hari ini hari milikku
Juga esok masih terbentang
Dan mentari kan tetap bernyala
Di sini, di urat darahku



Jangan biarkan tembok-tembok tinggi dan pagar-pagar berlapis duri di jurusan TK ini menghalangi sang mentari bernyala dalam hati kita, kawan.

Ha ha ha. (duh, padahal besok labtek, malah ngeblog)


Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater
Merdeka!


.

Rabu, 25 Februari 2009

Some 'Wise' Words

Bongkar-bongkar catatan jaman TPB, nemu kata-kata yang gw karang sendiri... Cukup mengingatkan seperti apa sih masa TPB gw, dan sedihnya, kata-kata tersebut masih relevan sampai sekarang...

1. True friends is something everyone want to get but not everyone can get… ya, semua emang butuh temen baek, tapi cuma sedikit yang beruntung dapetinnya. Yg ngerasa dapet temen baek, coba pikir sekarang… apa lu udah jadi temen baek buat temen lu itu…? Yg ga ngerasa punya temen baek, ga apa2, banyak org2 seperti lu2…

2. To decide is to seal the fate… hati2 dalam memilih pada hal2 kecil sekalipun, karena seringkali takdir lu ditentukan oleh hal2 yang kecil… hati2, pilihan adalah harga mati yang tak dapat diubah seperti engkau tak dapat memutar waktu…

3. Any decision you made is for you to do it, not to regret it… bertanggung jawab atas pilihan yang kau buat. Pikir baik2 sebelum memilih. Kalau sudah memilih, jangan pernah menyesal. Pilihan bukan untuk disesali, tapi untuk dijalani.

4. I’m unhappy with my life but i’m happy with my unhappiness… and that makes me happy with my life… hidup manusia ga ada yang bener2 baek, sempurna, ga ada cacat… tapi itulah yg bikin hidup kita berwarna! Bahagialah dengan apa yang kau miliki, banggalah dengan masalahmu, tetapi bukan berarti kau bisa membiarkannya. Hidup menjadi berarti bukan karena masalah, tetapi hidup menjadi berarti kalau kita memiliki masalah dan bisa mengatasinya.

5. Ever onward, never backward… maju terus pantang mundur coy! Kalo udah dapat masalah, jangan takut buat maju. Setengah2 bakal bikin hidup lo ancur. Klo udah kena masalah lo ga bisa mundur, cuma 2 hal yang bisa lo perbuat: 1. menyerah total & ancur dlm masalah; 2. hadapi dengan sekuat tenaga. Klo gw sih lebih milih yg kedua.

6. The things someone get is the best for him… the best for him is not always be the best for others… but everyone receive the best for them… kalo ada temen lo yg sombong dengan hidupnya, jgn marah, biarin aja… emang itu yg terbaik buat dia. Tapi jgn iri juga, karena itu belom tentu yg terbaik buat lo. Yg terbaik buat lo adalah keadaan lo sekarang. Hidup lo bukan masa lalu dan bukan masa depan. Hidup lo adalah masa kini. Jangan pernah sombong, dan jangan pernah ngerendahin apa yg orang laen dapat di hidupnya, karena semua orang dapat yang terbaik buat mereka masing2.


Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater
Merdeka!



.

Senin, 23 Februari 2009

Pride

Gw bangga jadi warga negara Indonesia; negara kepulauan terbesar di dunia, terkenal akan sumber daya alamnya yang melimpah, keanekaragaman budaya, hayati, dan geografi yang termasuk paling tinggi di dunia, dan dasar negaranya yang merupakan ideologi paling ideal di dunia.

Gw bangga dilahirkan di Bogor; sebuah kota yang dekat dengan ibukota namun tidak sebising dan sekotor ibukota, memiliki Kebun Raya yang terlengkap di dunia, dan terkenal dengan hujan campur geledeknya yang aduhai.

Gw bangga pernah bersekolah di Regina Pacis; sekolahan terbaik di kotanya, dengan sejarah yang besar, di mana siswa-siswanya dididik dalam mental disiplin dan kerja keras.

Gw bangga dengan almamater gw, Institut Teknologi Bandung; universitas terbaik di Indonesia, tempat putra-putri terbaik bangsa dihasilkan, tempat putra-putri terbaik bangsa berinteraksi satu sama lain dalam menuntut ilmu dan membina kepribadian yang baik, universitas di mana pola gerakan mahasiswanya tidak semata anarki dan demonstrasi namun lebih kepada solusi.

Gw bangga berada di jurusan Teknik Kimia; salah satu jurusan dengan passing grade dan rata-rata nilai terbaik di kampusnya dan di Indonesia, di mana anak-anaknya bukan saja memiliki prestasi dan orientasi akademis yang tinggi namun juga memiliki mental kerja dan standar keberhasilan yang tinggi.

Gw bangga dengan jalur pilihan gw, Teknologi Bioproses; di mana gw mempelajari bahwa biokatalis melaksanakan reaksi jauh lebih cepat dan lebih spesifik dibanding katalis konvensional, serta industrinya menghasilkan produk dengan kuantitas sedikit namun bernilai tinggi, seperti layaknya mahasiswa-mahasiswanya (;P).

Gw bangga dengan tim bola yang gw dukung sejak umur 9 tahun, A.C. Milan; klub terbaik dunia dengan 18 gelar internasional yang belum ada yang menandingi, dalam sejarahnya memiliki 8 orang peraih Balon d'Or, stadion terbesar di Italia, jiwa kekeluargaannya yang tinggi, ditambah lagi sekarang dalam skuadnya memiliki seorang pemegang rekor caps timnas Italia dan seorang pemain terbaik dunia.

Gw bangga dengan para leluhur gw; manusia-manusia yang telah menempuh perjalanan keras dari tanah airnya ke tanah baru yang tak mereka kenal, kemudian dapat tinggal dan bertahan hidup di tanah baru itu, bahkan memberikan banyak kontribusi terhadap kemajuannya.

Gw bangga dengan keluarga gw; almarhum bokap yang selalu bisa ngasih solusi buat masalah apapun yang gw hadapi, nyokap yang menurut gw nggak ada hal yang nggak bisa dia lakukan, adik lelaki gw yang selalu mengikuti Tuhan dengan sungguh-sungguh, adik perempuan gw yang selalu berpikir dan bertindak lebih dewasa dari teman-teman seusianya, dan gw nggak bakal pernah menukar mereka dengan siapapun.

Gw bangga punya Tuhan seperti DIA; yang rela mati demi dosa-dosa gw dan kalian, yang memberikan keselamatan selama kita mau percaya padaNya, kasihNya yang tak terbatas, kedekatanNya dengan hidup gw, dan semua sifatNya yang nggak bakal muat dituliskan di sini.


Semua uraian di atas bukanlah SEBAB kenapa gw bangga sama hal-hal yang gw sebutkan.

Tetapi justru sebaliknya...

Kebanggaan gw terhadap hal-hal tersebut adalah SEBAB kenapa gw menuliskan semua uraian di atas.

Tentang kenapa gw bisa bangga sama hal-hal tersebut, jawabannya karena mereka adalah identitas gw.

Jika bukan gw yang bangga, lalu siapa lagi?





.

Selasa, 10 Februari 2009

A Beautiful Mind

Dari warta PDTK bulan Februari.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Adakah yang pernah merasa bahwa hal-hal di sekitar kita tidak memuaskan bagi kita? Dan hal itu membuat hidup kita tidak menyenangkan dan tidak berkembang?

Ada sebuah cara yang sangat mudah untuk mengatasinya.

Firman Tuhan mengatakan "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus." (Filipi 2:5). Ayat ini mengajak kita untuk senantiasa memiliki pola pikir, cara pandang yang sama seperti Tuhan kita. Nah, seperti Dia memandang segala ciptaanNya baik adanya (Kejadian 1:31), kita pun harus memandang segala sesuatunya baik adanya, secara segala sesuatunya adalah ciptaan Tuhan.

Jika kita memandang seseorang/sesuatu dengan buruk, maka untuk seterusnya persepsi kita terhadap hal tersebut akan sulit diubah. Hal sebaliknya juga berlaku. Jika kita memandang sesuatu hal dengan baik, maka kita untuk seterusnya akan memandang hal tersebut dengan baik.

Jika kita menemui seseorang/sesuatu hal atau peristiwa yang buruk, kita harus ingat bahwa segala ciptaan Tuhan itu baik adanya. Akan lebih menguntungkan jika kita memandang segala sesuatunya dengan baik. Kita akan lebih nyaman berhubungan dengan hal tersebut, dan pastinya kita akan mengalami sukacita. Intinya, think positive.

Terkadang juga, kita merasa bahwa kita telah menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, namun kita merasa bahwa yang terjadi masih saja hal-hal yang jelek. Apa yang harus kita lakukan? Pegang janji Tuhan bahwa rancanganNya adalah yang terbaik bagi kita (Yeremia 29:11) dan rancangan kita tidak selalu sama dengan rancanganNya (Yesaya 55:8) yang jelas lebih baik.

Kalau kita sempat berpikir, apakah benar Tuhan telah memberikan penyertaan? Kok sepertinya yang terjadi masih jelek-jelek aja? Tetaplah percaya dengan segenap hati, Tuhan lebih tahu apa yang terbaik, jangan bersandar pada pengertian kita sendiri (Amsal 3:5).

Jika kita tetap percaya, niscaya kepercayaan kita akan membuahkan hasil. Banyak contoh dalam Alkitab yang menggambarkannya. Maria tanpa ragu percaya bahwa dia akan mengandung Juruselamat, dan langsung berserah (Lukas 1:38), padahal sepertinya mustahil dia bisa mengandung tanpa bersuami. Nuh membuat bahtera meskipun dikatai orang-orang sudah gila (Kejadian 6:22), dan dia serta keluarganya diselamatkan. Dan masih banyak lagi.

Maka itu, dalam setiap aspek kehidupan, serahkanlah semua kepada Tuhan. Sebab sesungguhnya seluruh hidup kita adalah milik Tuhan tanpa terkecuali (Mazmur 139, Roma 14:8). Cara pandang kita terhadap hal-hal 'duniawi' harus diubah.

Bukan cuma di kegiatan rohani saja kita milik Tuhan. Bukan cuma di gereja, di PDTK, di PMK/KMK kita harus bertindak berdasar firman Tuhan. Bukan cuma kalau rapat PDTK kita harus berdoa mohon Tuhan membimbing kita dalam apa yang kita lakukan. Untuk hal-hal sederhana pun, Tuhan harus menjadi motivasi kita (Roma 14:6).

Selama ini, apakah kita masih mendasarkan kegiatan-kegiatan keseharian kita pada hal selain Tuhan? Kalau iya, cobalah pola pikir yang baru ini. Kalau kita belajar, bukan untuk mendapat nilai bagus saja, bukan supaya mengerti saja; namun agar dengan pembelajaran tersebut nama Tuhan dipermuliakan. Kalau kita beraktivitas di organisasi kampus seperti unit dan himpunan, mintalah bimbingan Tuhan agar tindakan-tindakan yang kita ambil dapat memuliakan nama Tuhan di kampus kita.

Jadi jangan mengira ada kegiatan yang tidak butuh campur tangan Tuhan, karena Tuhanlah yang empunya kita dan kehidupan kita. Jika motivasi kita adalah untuk kemuliaan Tuhan, maka niscaya Dia akan turun menyertai kita (Amsal 3:5).

"With a beautiful mind, comes a beautiful life."
-Alfonso R., TK'06-




.

Untuk Mencintai

Lagi mati kata dan abis waktu buat ngeblog... Tapi pengen tetep nulis peristiwa-peristiwa penting sehari-hari. Gimana donk?

Musik, bahasa universal, bisa jadi solusi. Daripada pusing ngetik, mohon maaf buat teman-teman klo jadinya sering baca postingan saya yang bertemakan 'Song of the Month/Week/Day/Hour'...

Untuk saat ini... lagu yang didedikasikan pada para sohib gw, khususnya pada teman terdekat gw, Denmas Aria Kendor.


Seventeen - Untuk Mencintai

Apa yang harus aku lakukan
untuk membuat kau mencintaiku
Segala upaya t'lah kulakukan untukmu

Apa yang harus aku temukan
untuk membuat kau menyayangiku
Inilah aku yang memilih kau untukku

Reff:
Kar'na aku mencintaimu
dan hatiku hanya untukmu
Tak akan menyerah, dan takkan berhenti
mencintaimu


Ku berjuang dalam hidupku
untuk selalu memilikimu
Seumur hidupku, setulus hatiku
hanya untukmu






.

Sabtu, 31 Januari 2009

51

Simple Plan - Perfect

Hey, dad, look at me
Think back and talk to me
Did I grow up according to plan?
And do you think I'm wasting my time
Doing things I wanna do?
But it hurts when you disapprove all along

And now I try hard to make it
I just wanna make you proud
I'm never gonna be good enough for you
Can't pretend that I'm all right

And you can't change me

'Cause we lost it all
Nothing lasts forever
I'm sorry I can't be perfect
Now it's just too late and we can't go back
I'm sorry I can't be perfect


I try not to think
About the pain I feel inside
Did you know you used to be my hero?
All the days you spent with me
Now seem so far away
And it feels like you don't care anymore

And now I try hard to make it
I just wanna make you proud
I'm never gonna be good enough for you
I can't stand another fight
And nothing's alright

'Cause we lost it all
Nothing lasts forever
I'm sorry I can't be perfect
Now it's just too late and we can't go back
I'm sorry I can't be perfect

Nothing's gonna change the things that you said
And nothing's gonna make this right again
Please don't turn your back
I can't believe it's all just a talk to you
But you don't understand (you don't understand....)

'Cause we lost it all
Nothing lasts forever
I'm sorry I can't be perfect
Now it's just too late and we can't go back
I'm sorry I can't be perfect

'Cause we lost it all
Nothing lasts forever
I'm sorry I can't be perfect
Now it's just too late and we can't go back
I'm sorry I can't be perfect




- Dedicated to my father, who is in his 51st birthday today -





.

Selasa, 27 Januari 2009

I will have nothing to do with you!

ST12 - Cari Pacar Lagi

Cintaku, cintaku padamu
Tak besar seperti dulu
Kamu kok begitu menilai cintaku
Begitu rendah di matamu


Sayangku, sayangku padamu
Tak indah seperti dulu
Maumu begini, maumu begitu
Tak pernah engkau hargai aku


Oo ooh I am sorry
Ku tak akan love you lagi

Ku peluk, memeluk dirimu
Tak hangat seperti dulu
Ku jadi selingkuh, karna kau selingkuh
Biar sama-sama kita selingkuh

Oo ooh I am sorry
Ku tak kan love you lagi

Biar kuputuskan saja
Ku tak mau hatiku terluka
Lebih baik kucukupkan saja
Ku tak mau batinku tersiksa

Jangan kau s’lalu merasa
Wanita bukan dirimu saja
Lebih baik kuputuskan saja
Cari pacar lagi

Cari pacar lagi
Cari pacar lagi

Senin, 26 Januari 2009

Parkiran Denmas Aria Kendor

Setelah sebulan lamanya terkapar di rumah sakit, Facebook-addicted, dan kulker, maka sekaranglah saatnya saya kembali menyampah di Bacotan Orang Terbuang, dan kali ini kembali lagi kita berjumpa dengan teman terdekat saya Denmas Aria Kendor.

Bagaimana kelanjutan kisah beliau setelah berpikir untuk membeli mobil?

Denmas Aria Kendor pun berusaha. Ia mencanangkan untuk dirinya sendiri gerakan menabung dan kerja sambilan untuk mencukupkan uangnya. Tak lupa pula ia mencanangkan gerakan belajar nyetir.

Namun pada dasarnya Denmas Aria Kendor ini bukan orang yang telaten. Maka yang terjadi, gerakan-gerakan yang dicanangkannya itu tak berhasil guna sepenuhnya. Kegiatan menabung kadang-kadang dilakukan, kadang tidak. Uang yang ditabung pun sekedarnya mulai dari Rp 25,-. Kerja sambilan sering bolos. Bahkan belajar nyetir pun ogah-ogahan.

Pada akhirnya nyetir mobil dirasa terlalu sulit untuk Denmas Aria Kendor, apalagi kesibukannya di kampus menyebabkan ia susah sekali untuk meluangkan waktu mendalami seni menyetir. Maka Denmas Aria Kendor pun memutuskan untuk membeli mobil kapan-kapan saja. Tidak masalah selama masih ada angkot-angkot yang berkeliaran di jalan.

Sia-siakah usaha Denmas Aria Kendor? Tidak. Uang hasil tabungannya yang banyaknya lumayan bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari, dan mungkin untuk membeli mobil di lain waktu.

Dia menceritakan ini semua ke gw sambil tertawa terkekeh-kekeh.

Gw cuma menanyakan, memang bagaimana situasinya. Apakah bermobil emang sudah jadi keadaan yang umum?

Dan Denmas Aria Kendor mulai bercerita tentang teman-temannya.

"Ada yang baru beli mobil." Moga-moga kuat bayar bensinnya.

"Ada yang mau jual mobil." Mobilnya udah rusak belom?

"Ada yang diem-diem nabung buat beli mobil." Semangat!

"Ada yang hobinya ganti-ganti mobil, jual lama beli baru dengan untung lumayan." Jangan jadi pengendara doank, jadi dealer mobil aja sekalian mas...

"Ada yang rumahnya jauh tapi betah naik angkot melulu, entah karena nyaman, tak berduit, atau emang nggak bisa nyetir." Emang belum waktunya kali...

"Ada yang mobilnya baru kecurian gara-gara ditinggal di gang rawan dengan kunci masih tercolok." Butuh ucapan belasungkawa mas?

"Ada yang duitnya cukup buat beli 3-4 mobil tapi lebih memilih jalan kaki, entah mengapa." Sekali beli dapetnya Ferrari sih jangan kaget lo pada...

"Ada yang emang ngerasa nggak butuh mobil, dan bilang 'enakan naik motor'." Suka-suka dia lah...

"Ada yang nggak punya duit, tapi mau beli mobil." Nabung dulu lah bang...

"Ada yang kerja jadi montir, tapi nggak bisa nyetir." Setiap orang emang punya bagiannya sendiri...

"Ada yang mau beli mobil pabrikan luar negeri." Bisa setir kiri nggak bang? Klo nggak biasa mendingan beli produk yang didesain lokal deh...

"Ada yang merasa butuh banget kendaraan sampai-sampai mencoba nyetir sendiri bemo, bajaj, oplet, becak, delman, ke kampus... tanpa menyadari bahwa itu semua bukan mobil." Selanjutnya mungkin bisa coba bawa sepeda roda tiga.

"Ada yang kerjaannya minjem-minjem mobil melulu terus berlagak dipunyain," Klo emang butuh beli donk! Minjem melulu... "atau lebih parahnya yang punya disuruh nyetir sementara dia duduk di belakang sehingga si empunya keliatan jadi supir." Buset! Klo mau duduk di belakang cari taksi aja om...

"Ada yang mau beli mobil tapi taunya cuma cara naek kuda," Maen kuda-kudaan aja deh sana om... "dan selama ga bisa nyetir, sering minta temennya gendongin pas jalan pulang." KEPO berat dah...

"Terakhir, ada yang 'jadi mobil'." Nah loh???







.

Senin, 05 Januari 2009

Life is Beautiful

"Ajaib... ajaib... Darah Yesus ajaib..."




Gw selalu mengeluh klo 24 jam sehari tuh kurang. Gw sering mengeluh kenapa gw haru melakukan hal bernama tidur ketika ada hal lain yang bisa dikerjakan.

Gw dikasih nggak bisa tidur selama full 24 jam sehari, selama 2 hari.



Selama gw di Bandung, gw selalu kangen sama nyokap. Selama gw di rumah dan nyokap kerja, gw selalu berharap nyokap cepet pulang, gw pengen deket sama nyokap.

Sekarang nyokap gw nemenin gw hampir 24 jam sehari.



Gw muak belajar prosmet dengan dosennya yang kayak Pak Ukan. Gw pengen nggak belajar limbah yang bahannya seabrek. Gw pengen mengistirahatkan otak gw dari rumus-rumus TRK. Gw benci harus ke Bandung saat libur cuma buat ujian.

Gw nggak usah ke Bandung minggu ini. No prosmet, no limbah, no TRK.



Gw pengen pake internet gratis 24 jam di kamar sambil tidur-tiduran.

Gw dapet hotspot 24 jam di kamar, sambil tidur-tiduran.




Life is beautiful.

Sirik? Cobain sakit demam berdarah deh.



"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."
- Yeremia 29:11 -






.

Kamis, 25 Desember 2008

Merry Christmas Everyone

Dengan ini tim redaksi Bacotan Orang Terbuang a.k.a. seorang Alfonso Rodriguez Peña del Castillo mengucapkan kepada rekan-rekan pembaca sekalian:



Merry Christmas, my friends. Jesus be with you!
Joyeux Noël, mon ami. Jésus est avec toi!
Fröhliche Weihnachten, mein freunde. Jesus sie seigen!
Feliz Navidad, amigos. Jesus está contigo!
Prettige Kerstdagen, mijn vrienden. Jesus zal jullie bewaren!
Buon Natale, amico. Gesù è teco!
God Jul, mina vännen. Jesus finns med nu!
Schastlibij Rozhdystvom, priatylo moja. Iisus vmyst’oj!
Selamat Natal, kawan-kawanku sekalian. Yesus menyertai engkau!


To live is Christ
so the thing that is right
is surely to be the light


Holy... to the King of Glory
Holy... to the Righteous One
Holy... for You alone are worthy
Jesus, Saviour of The World





.

Rabu, 24 Desember 2008

All I Want For Christmas is You (Who? Hehehe)

Mariah Carey - All I Want For Christmas is You

I don't want a lot for Christmas
There is just one thing I need
I don't care about the presents
underneath the Christmas tree
I don't need to hang my stockings
There upon the fireplace
Santa Claus won't make me happy
With a toy on Christmas day
I just want you for my own
More than you could ever know
Make my wish come true
All I want for Christmas is you

I won't ask for much this Christmas
I won't even wish for snow
I'm just gonna keep on waiting
Underneath the mistletoe
I won't make a list and send it
To the North Pole for Saint Nick
I won't even stay awake to
Hear those magic reindeer click
'Cause I just want you here tonight
Holding on to me so tight
What more can I do
All I want for Christmas is you



Dari berbagai tafsiran yang bisa muncul untuk lagu Mariah Carey ini, ada beberapa poin yang menarik perhatian gw.

Apa sih yang kita cari pas Natal?

Gw nggak akan bicara banyak karena lagu itu dengan tepat sudah 'menggambarkannya'. Pusat perayaan Natal bukanlah pada kemeriahan, bukan pada hadiah, bukan pada perayaan... Mungkin itu semua memang bagian yang wajar-wajar saja dari Natal, namun bukan merupakan pusatnya...

Pusatnya adalah 'you'.

Entah siapakah 'you' menurut Mariah Carey, tetapi bagi gw sudah jelas.

Natal adalah tentang cinta. Bukan cinta duniawi yang sering kita lihat di novel, film, maupun game, cinta bersyarat yang terkadang tanpa sadar kita percayai sebagai cinta sejati 100%... namun cinta yang sesungguhnya, cinta tak bersyarat, yang di mata dunia merupakan kebodohan.

Natal adalah tentang anugerah. Sesuatu yang diberikan cuma-cuma meskipun si penerima tidak layak menerimanya.

Natal adalah tentang keajaiban. Di mana dosa yang merah seperti kain kirmizi akan dihapus hingga yang tertinggal hanyalah putih salju saja.

Natal adalah tentang keselamatan. Di mana Dia diberikan kepada dunia, supaya semua orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, namun beroleh kehidupan yang kekal.

Natal adalah tentang damai sejahtera dan sukacita. Sang Penebus telah datang ke tengah-tengah kita untuk mengangkat beban kita.

Natal adalah tentang Dia, yang lahir pada hari itu;
yang karena Dialah Natal dirayakan;
yang karena Dia datang ke dunia untuk membawa anugerah, mukjizat, keselamatan, damai sejahtera, dan sukacita, maka Natal dirayakan.

Yes.

Christmas is all about love; about grace, miracle, salvation, peace, and joy.

Then say it loudly:


"All I want for Christmas is You, Jesus."




.

Minggu, 21 Desember 2008

Hasil Polling: Siapakah Pemilik Blog Ini?

Ini hasil polling absurd kedua di Bacotan Orang Terbuang... Ada 12 suara yang masuk, dengan hasil sebagai berikut:

2 orang (16%) menganggap saya sebagai teman sekolah mereka.
4 orang (33%) menganggap saya sebagai teman kuliah mereka.
2 orang (16%) juga menganggap saya sebagai pacar/mantan pacar mereka.
6 orang (50%) menganggap mereka tidak kenal sama sekali dengan saya dan saya bukan siapa-siapa mereka.
Tidak ada (0%) yang menganggap saya sebagai kenalan mereka di tempat selain sekolah dan kampus.

Hasil di atas memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Wajar kalau teman kuliah saya yang membaca lebih banyak dari teman sekolah saya, sebab blog ini baru dibuat waktu saya kuliah.
2. Saya tidak terkenal di luar sekolah dan kuliah, sebab orang-orang kenalan saya di luar sekolah atau kampus tidak membaca blog ini; jikalau mereka membaca pun, mereka akan mengisi "tidak kenal, bukan siapa-siapa".
3. Blog saya cukup dipromosikan karena setengah pembacanya justru orang-orang yang tidak kenal saya.
4. Saya menjadi bingung memikirkan apa gerangan motivasi terselubung orang-orang (2 ORANG) yang mengaku sebagai mantan pacar atau pacar saya, sementara saya tidak pernah mempunyainya. Bercanda kah? Ngefans kan? Atau apa? Silakan berikan opini anda, para pembaca...



Penutup:
Karena begitu banyak orang yang tidak kenal saya, terutama sekali di lingkungan luar sekolah dan kampus, yang membaca blog ini; tentunya saya perlu memperingatkan lagi kepada setiap orang yang membaca blog saya, apalagi yang ngakunya tidak kenal saya (makanya perlu tahu fakta ini, soalnya mungkin yang KENAL sama saya udah tau): saya menulis blog ini bukan untuk kesenangan anda, bukan untuk dipuji orang, bukan untuk jadi tenar, bukan untuk apa-apa; seorang penulis tidak butuh alasan lain-lain untuk menulis, selain hanya karena dia senang menulis. Jadi kalau ada yang merasa tulisan-tulisan saya ini mengganggu mata anda, langkah paling tepat adalah pencet tombol bergambar X di sudut kanan atas window ini. Atau seperti yang udah pernah saya tulis di salah satu post lama saya, ke laut aje.

Polling absurd ketiga di Bacotan Orang Terbuang akan segera muncul... Hati-hati, ini berpotensi besar menyinggung anda para pembaca sekalian.



.

Jumat, 19 Desember 2008

HIMATEK yang Jaya

Ini adalah cerita tentang suatu masa di mana HIMATEK jaya.

Ini adalah cerita saat semua anggota HIMATEK merasa memiliki dan dimiliki oleh himpunannya, dan dekat satu sama lain terlepas dari asal-usul dan angkatannya. Saat semua anggotanya merasa sebagai satu kesatuan dan satu keluarga, yang bangga akan identitasnya.

Anggota BPA saat itu adalah orang-orang yang paling dekat dengan rekan-rekan seangkatannya, sehingga jika orang-orang memiliki saran dan keluhan tentang himpunan, tidak ada seorang pun yang sungkan bercerita kepada anggota BPA. Jika anggota BPA sedang memiliki waktu kosong di luar kesibukan akademik, mereka akan selalu mengajak ngobrol rekan-rekan seangkatannya yang mereka jumpai, untuk menyampaikan informasi maupun bertanya tentang semua isu yang ada. Ngobrol bisa di mana saja; di meja himpunan, di sela-sela kegiatan bergosip, di kos teman saat belajar bareng, di lab saat waktu luang, di kantin, di kendaraan umum, saat main futsal, saat lari pagi, di mana saja, kapan saja.

Dan hal ini dimungkinkan karena semua anggota BPA tidak ada yang menjabat dalam bentuk apapun pada acara-acara himpunan sehingga memiliki banyak waktu untuk berkonsentrasi dalam bagian terpenting pekerjaannya, yaitu mewakili angkatannya.

Kemauan semua anggota himpunan ditampung dan disampaikan BPA kepada sang Kahim, yang memang dekat dengan semua massa HIMATEK; dikenal angkatan bawah sebagai figur yang tidak sombong dan mau berbagi nilai-nilai, dicintai angkatan sendiri sebagai rekan yang dekat di hati dan selalu bisa mengajak teman-temannya untuk bekerja bersama, dan dihormati angkatan atas sebagai pemimpin muda yang terbuka terhadap saran dan kritik namun tetap tegas dan visioner.

Antara sang Kahim dan BPA tidak ada batasan formal; BPA berperan sebagai rekan sekerja Kahim. Nasihat-nasihat yang diberikan tidak melulu formal; keluhan seorang anggota saja dapat langsung diberitakan BPA kepada Kahim, sehingga sang Kahim tahu benar concern dari tiap-tiap anggota himpunannya yang berjumlah 300-an itu, orang per orang.

Sang Kahim bekerja bersama-sama timnya, yaitu Badan Pengurus. Istilah Kadiv menjadi kurang populer, digantikan oleh Koordiv; karena semua anggota divisinya ikut berperan, ikut bekerja, dan ikut berpikir dalam menentukan dan menjalankan proker-prokernya sehingga tugas sang Koordiv hanya me-manage ide-ide dan pekerjaan-pekerjaan anggotanya, bukan lagi menjadi sumber tunggal ide-ide dan penentu tunggal kebijakan seperti yang sering terjadi. Meskipun tanggung jawab atas divisinya dipegang oleh Koordiv, namun sang Kahim atau siapapun tidak perlu bertanya pada Koordiv jika ingin mengetahui progress divisinya. Cukup tanyakan kepada salah satu anggotanya, karena semua anggota divisi mengenal divisinya sebaik Koordivnya.

Semua anggota himpunan selalu tahu segala perkembangan terkini tentang himpunan. Selain karena anggota-anggota BPA yang tiap hari tak kenal lelah menyampaikan info-info kepada semua orang yang mereka temui, juga karena Divisi Kominfo yang tiap hari rutin menerbitkan selebaran tentang isu apapun yang terkini di kelas-kelas.

Acara-acara rutin himpunan disambut baik oleh semua anggota. Semua mau berpartisipasi, semua mau memiliki. Form-form oprec kepanitiaan selalu terisi penuh; dan semua yang mengisi tidak hanya ikut-ikutan namun sungguh ingin bekerja. Tidak ada batasan angkatan. Anggota yang sudah Tingkat 3 dan 4 ikut bekerja di lapangan saat acara-acara Syukuran Wisuda dan acara-acara lainnya.

Karena banyaknya sumber daya anggota untuk kepanitiaan, tidak ada lagi orang yang terpaksa mengorbankan prestasi akademik untuk bekerja total di kepanitiaan sementara ada orang lain yang enak-enakan belajar. Semua kegiatan di tiap divisi dan tiap acara dilakukan dengan pembagian kerja yang baik sehingga semua orang memiliki waktu belajar yang sama dan juga waktu berorganisasi yang sama.

Dengan demikian prestasi akademis setiap anggota pun terjaga, apalagi Divisi Akademik rajin menggelar kegiatan responsi maupun belajar bersama tidak hanya menjelang ujian, tetapi rutin. Dan kegiatan ini tidak membuat alergi orang-orang, karena dijalankan secara informal dan menyenangkan, sama halnya seperti belajar bareng saja. Orang-orang yang mengadakan responsi ini memang orang-orang yang bisa menerangkan pelajaran dengan baik sehingga penjelasannya mudah dan enak dimengerti. Tujuan kegiatan belajar bersama ini bukan saja untuk memperoleh nilai bagus, namun juga menumbuhkan minat dan pemahaman terhadap mata kuliah yang diajarkan dan aplikasinya.

Tumbuhnya minat kepada bidang keilmuan, diiringi bagusnya prestasi akademik, membuat anggota himpunan tertarik untuk terjun langsung dalam aplikasi. Program-program pengabdian masyarakat yang dimotori Divisi Workshop kebanjiran peminat. Sumber daya manusia HIMATEK yang luas membuat program-program pengabdian masyarakat HIMATEK pun beragam lingkupnya, mulai dari skala lokal kampus, regional, hingga nasional. Nama HIMATEK pun jadi mashyur karena setiap anggotanya yang mengobrol dengan rekan-rekan mahasiswa dari jurusan lain semuanya dapat bercerita panjang lebar dan detail mengenai program-program pengabdian masyarakat yang sukses, karena mereka sendiri telah terlibat di dalamnya.

Apalagi jika melihat acara-acara HIMATEK yang selalu ramai, karena semua anggotanya terlibat. Setiap pertandingan olahraga, basket, voli, futsal, yang melibatkan HIMATEK, selalu dipenuhi penonton. Setiap himpunan yang akan tanding melawan HIMATEK harus datang untuk menjaga tempat duduk minimal satu setengah jam sebelum pertandingan, kalau tidak mereka tidak akan kebagian tempat duduk, kalah melawan lautan jaket hitam berisi 200an massa HIMATEK yang sangat antusias mendukung timnya dengan yel-yel khas yang pasti dikenali seluruh mahasiswa ITB karena begitu sering dan kerasnya dikumandangkan, baik saat timnya menang atau kalah.

Makrab-makrab himpunan yang digelar setidaknya dua kali satu semester, tidak bisa lagi digelar di selasar Labtek X karena anggotanya yang datang pasti melebihi 250 orang. Wisudawan-wisudawan HIMATEK meninggalkan kampusnya dengan perasaan bangga karena diiringi oleh 200an junior-juniornya yang mengarak mereka dari SABUGA menuju sekre HIMATEK yang baru, tempat berlangsungnya acara syukuran.

Sekre baru ini diperoleh setelah sang Kahim beserta seluruh massa melobi Program Studi untuk memberikan sekre yang baru, yang lebih luas, yang lebih nyaman. Hubungan Program Studi dan himpunan begitu baik berkat citra himpunan yang bersih dan profesional. Sekre baru segera diberikan kepada himpunan, di salah satu ruangan Labtek X yang tak ragu dikorbankan Prodi untuk himpunan kebanggaannya ini. Sekre lama digunakan sebagai tempat usaha untuk menjual makanan, minuman, buku-buku, suvenir, dan produk-produk lain khas HIMATEK. Juga digunakan sebagai pusat informasi tentang segala kegiatan HIMATEK yang ditujukan untuk mahasiswa luar HIMATEK, termasuk untuk penjualan majalah bulanan HIMATEK yang diterbitkan Divisi Kominfo. Semua itu di bawah pengelolaan Divisi Dana Usaha, yang segera saja menjadi mesin pencetak uang untuk HIMATEK.

Divisi Konservator segera saja menjadi salah satu divisi paling sibuk berhubung sekre himpunan yang harus dijaganya bertambah besar dan orang yang datang ke sana setiap hari ratusan jumlahnya. Buku-buku bacaan bertebaran untuk dibaca anggota yang sedang santai-santai tiduran di kasur sambil menonton televisi atau minum-minum kopi atau teh bikinan sendiri. Komputer himpunan yang berjumlah tiga selalu terpakai; satu untuk mendengarkan musik, satu untuk internet maupun ngeprint, dan satu lagi untuk main PES. Televisi pun ada dua; satu untuk menonton siaran televisi, satu untuk menonton DVD. Semua itu berkat keuntungan usaha yang besar, yang bahkan masih ada sisanya untuk membantu rekan-rekan anggota himpunan yang kurang mampu. Dalam menangani sekre himpunan, untunglah Konservator tidak kelabakan karena bersih-bersih himpunan yang diadakan sebulan sekali selalu dibantu oleh anggota-anggota lain yang banyak jumlahnya.

Sekre himpunan menjadi pusat kekeluargaan anggota, dan selalu ramai. Tapi kekeluargaan tidak hanya terbatas di sekre. Jika ada yang sakit atau kecelakaan, dalam waktu 1x24 jam pasti telah terkumpul uang sumbangan yang cukup untuk biaya pengobatannya, yang diserahkan langsung oleh perwakilan himpunan yang datang menjenguk. Tidak ada cerita tentang DO gara-gara keuangan, tidak mampu membeli buku, atau bahkan sepatu. Semua ditanggung himpunan lewat iuran bersama yang dengan senang hati diberikan rekan-rekannya yang lebih mampu. Setiap hari di sekre himpunan selalu ramai karena yang berulang tahun hari itu pasti dikerjain dan dirayakan ulang tahunnya di sekre himpunan.

Segera saja HIMATEK menjadi salah satu himpunan yang disegani di ITB. Apalagi Divisi Ekstern rutin mengadakan kajian strategis mengenai isu-isu terkini di kampus dan Indonesia, tak jarang mengundang anggota divisi lain, dan selalu diikuti sang Kahim. Hasil kajian inilah yang disuarakan pada forum-forum massa ITB, yang selalu mendapat aplaus dari mahasiswa-mahasiswa lainnya karena kajiannya yang berbobot, mendalam, dan tepat sasaran. Isu-isu tersebut selalu dikomunikasikan Divisi Kominfo kepada semua anggota himpunan lewat baik selebaran hariannya, majalah bulanannya, maupun media-media lainnya. BPA pun rajin memberitakan lewat obrolan-obrolan informal keseharian. Semua anggota pun paham tentang isu-isu yang ada di kampus dan di Indonesia, dan paham serta mendukung sikap himpunannya mengenai isu tersebut. Maka di forum-forum, omongan orang berjaket hitam dengan dua garis putih di lengan kanan selalu disimak dengan baik, siapapun dia.

Hal ini sangat mempermudah tugas Senator HIMATEK dalam menarik dan menyuarakan aspirasi; Senator HIMATEK yang adalah seorang yang sangat dekat dengan semua kalangan di himpunan, dipercaya dan dicintai semua golongan, bekerja secara total, dan menghabiskan waktunya untuk memahami suara himpunan serta menyuarakannya dengan diplomatis dan mengena di Kongres KM-ITB. Tugasnya menjadi jauh lebih mudah karena dia tidak perlu menggali lagi untuk mendapatkan aspirasi anggota; aspirasi tersebut sudah bermunculan di atas tanah dan tinggal dikeruk saja.

Pendapat Senator HIMATEK selaku perwakilan himpunan yang maju pun selalu mendapat perhatian khusus dari himpunan-himpunan lainnya. Ditambah lagi berhasilnya penanaman nilai-nilai di atas telah membuat anggota HIMATEK sadar apa artinya berKM-ITB sehingga banyak kader-kader HIMATEK aktif berkegiatan di Kabinet KM-ITB dan kegiatan-kegiatan terpusat lainnya. Nilai-nilai yang mereka dapat di HIMATEK ditularkan kepada rekan-rekan mahasiswa sehingga kemahasiswaan ITB cepat atau lambat menjadi kemahasiswaan yang kuat dan dekat dengan semua mahasiswanya, dan HIMATEK memegang peranan penting di dalam gerakan itu.

Saat sang Kahim beserta Badan Pengurusnya akan mengakhiri masa jabatan, mereka pun tersenyum. Bangga akan prestasi-prestasi yang telah dicapai himpunannya, namun terlebih lagi bangga karena memiliki HIMATEK sebagai himpunannya. Ditambah, mereka yakin bahwa pengganti-pengganti mereka adalah orang-orang yang tak kalah hebat, yaitu junior-junior mereka, hasil kaderisasi HIMATEK yang cerdas dan efisien. Kaderisasi yang membuat putra-putri terbaik bangsa yang baru memasuki gerbang perkuliahan sadar bahwa himpunan bukanlah beban, himpunan bukanlah pilihan, himpunan bukanlah kewajiban, namun himpunan adalah kebutuhan. Tidak ada lagi him dan nonhim; seluruh peserta kaderisasi paham betul apa arti berhimpun dan tidak ada orang yang sebodoh itu melepaskan kesempatan emas untuk berkarya dan berkeluarga dalam sebuah himpunan yang jaya.



Mengutip kata-kata sang presiden terpilih Amerika Serikat, Barack Obama:
"Yes we can."




.

Selasa, 09 Desember 2008

Landmark Selama 20 Tahun

"Happy birthday to me... Happy birthday to me...
Happy birthday... Happy birthday...
Happy birthday to me..."


Nggak kerasa udah 20 tahun gw hidup di bumi. Di sini gw cuma mencoba merekap, apa saja yang patut dikenang dalam 20 tahun kehidupan gw ini...



9 Desember 1988-9 Desember 1989

Gw dilahirkan di Bogor, 9 Desember 1988 (kata nyokap sih gitu). 1 tahun pertama dalam hidup, gw belum mendapat memori apa-apa dan gw ga ingat sama sekali apapun kejadian dalam tahun-tahun pertama hidup gw... selain dari cerita keluarga.


9 Desember 1989-9 Desember 1990

Nah... Bulan Mei, gw dapat adik baru... Yang sampe sekarang masih sering gw kibulin dan gw bego2in... Selebihnya sama, karena otak gw belum berkembang, gw ga inget apa-apa.


9 Desember 1990-9 Desember 1991

Ini baru tahun di mana gw akhirnya bisa mengingat sesuatu yang masih gw ingat sampai sekarang, biarpun cuma sedikit. Gw mulai belajar baca tulis pake maenan huruf2an... Satu dari beberapa kata awal yang gw ingat bisa gw susun adalah nama salah seorang tokoh kartun yang baru ngetop saat itu, "SUMEO". Ya, pake M.

Pertengahan tahun umur 2.5 gw udah (agak) lancar baca dan (sedikit) bisa nulis, dan gw dimasukin ke TK Bunga Bakung. Ada alasan khusus? Nggak sih, selain letaknya yang ada di kompleks Gereja Betel Elohim, persis seberang rumah gw waktu itu di Jalan Batutulis, saat engkong gw (katanya) punya usaha coklat Safari dan bokap gw (katanya) jualan dispenser.


9 Desember 1991-9 Desember 1992

Tahun-tahun pertama gw sekolah di TK. Dan hal yang bisa gw ingat (selain rumah lama gw yang ada lubang segede kolam renang buat bakar sampah) adalah seorang teman sekelas gw bernama Christy, yang kepadanya gw ada perasaan yang kalau gw ingat-ingat lagi enaknya dideskripsikan sebagai 'ketertarikan'.

'Cinta pertama' gw kah? Entah lah. Mungkin nggak sih. Masih TK gitu.

Yah... cuma bisa bertanya di manakah dia sekarang dan sedang apa... Lagian mukanya juga udah lupa-lupa ingat, siapa tau benernya pernah ketemu cuma ga nyadar aja.

Hehehe.


9 Desember 1992-9 Desember 1993

Satu setengah tahun sekolah. Gw dan keluarga pindah dari rumah gede di Batutulis itu, ke rumah kontrakan di perumahan baru (waktu itu) di Bumi Indraprasta, yang dulunya bekas kebun singkong. Alhasil tiap hari gw ke sekolah harus diantar jemput oleh Pak Wawan dengan mobil sedan keluarga gw yang dempulan (ini aja yang masih gw inget... hahaha).

Di sekolah, momen paling berkesan sekaligus paling goblok sepanjang sejarah gw di TK adalah saat gw ga bisa menyanyikan lagu 'Balonku Ada Lima' di depan kelas gara-gara ga hafal teks. Sejak saat itu, sudah menjadi resolusi pribadi gw untuk selalu strict dalam urusan hafal-menghafal teks; nggak boleh salah satu huruf pun.

Sampe kelas 5 SD, kalau ada mantan teman TK gw yang nyanyi 'Balonku Ada Lima' di depan gw, gw masih ngamuk.


9 Desember 1993-9 Desember 1994

Yay... umur 5.5 tahun, gw masuk SD. Sebelumnya, tes IQ pertama... 136. Nggak ngerti sih apa maksudnya, cuma ikut seneng aja kalau liat orang-orang, terutama bokap gw, bilang hal itu bagus.

Gw dimasukkan ke salah satu SD swasta bernama Mardi Yuana 2. Mulai kenalan dengan teman-teman baru... beberapa di antaranya si Robert dan si Adrian yang sering minjem pensil refill gw dan kgk pernah dibalikin.

Caturwulan I... Dapet ranking 2. Lagi-lagi nggak ngerti apa maksudnya, cuma gw dapat kesan kalau itu artinya gw beda sama yang lain.


9 Desember 1994-9 Desember 1995

Caturwulan II... Dapet ranking 1... Satu dari dua kali selama gw SD. Ngerasa biasa aja, cuma nyokap gw (klo ga salah?) bilang waktu itu ada temen gw dan nyokapnya yang sirik setengah mati sama gw.

Lagi hobi-hobinya maen Nintendo (jaman 8 bit) dan Sega... Kadang-kadang maen di rumah si Deni, tetangga seberang rumah en sohib baek gw. Klo udah maen bisa sampe 8 jam sehari dan ga jarang lupa bikin PR.

Naik kelas ke kelas 2, dapet wali kelas yang sama kayak kelas I, Bu Titin... Udah cantik, baik lagi... Gw masih inget waktu itu gw dan temen-temen sekelas diundang ke acara nikah beliau.

Ultah gw yang ke-7, gw dapet kado ultah pertama yang gw inget... Mobil-mobilan warna biru muda metalik.


9 Desember 1995-9 Desember 1996

Salah satu tahun yang membawa perubahan besar dalam hidup gw, banyak hal-hal pertama yang gw temui, sebagian besar karena gw naik ke kelas 3 dan bertemu wali kelas yang galaknya selangit, Ibu Tiorina Pulungan.

Gw sekelas sama juara umum seangkatan, Christian Surjadi, yang ga pernah dapet ranking selain 1 sejak kelas 1. Ini untuk pertama kalinya gw merasakan dapet 'lawan' yang pengen gw kalahkan, dalam bidang apapun (untuk orangnya: klo lu baca, jangan geer dulu bos... hahaha).

Pertama kalinya gw baca koran: Inggris mengalahkan Spanyol 4-2 adu penalti di Euro'96; Miguel Angel Nadal gagal penalti. Sejak ini gw jadi suka baca koran, suka sepak bola, dan suka timnas Inggris.

Ketegangan terasa saat gw main-main dan menjegal si Ratih sampe mukanya menghantam tutup got dan berdarah. Pertama kali gw ngerasa panik karena udah nyakitin orang lain, dalam bentuk apapun (untuk orangnya: klo lu baca, gw minta maaf yang sedalam-dalamnya).

Gw pernah mengalami 1 hari di mana ada 4 mata pelajaran dan yang ngajar Bu Tio semua, dan kebetulan empat-empatnya ada PR, dan (bukan) kebetulan gw tidak kerjakan semua. Guru yang sadis namun gw hormati ini memberi hukuman berdiri di depan kelas kepada semua anak yang tidak buat PR. Alhasil gw datang ke sekolah hari itu cuma buat berdiri, sampe siang. Tekanan batin pertama dalam hidup gw.

Gw membaca buku IPS dan Sejarah bekas milik saudara gw yang kelas 6 SD. Dari situ gw memperoleh kecintaan terhadap sejarah, politik, dan geografi, yang gw miliki hingga sekarang meskipun gw terdampar di jurusan terkutuk bernama depan TEKNIK ini.

Caturwulan II, ada anak pindahan dari SD negeri, namanya Inong dan mukanya emang agak (pake bahasa modern) katro. Dia menginspirasi gw untuk bikin semacam strip komik 1 halaman berjudul Si Dobol, panglima kerajaan bawah laut Makarel Udang, bersama teman-temannya Mr. Ateng dan Sersan Pensil. Yah... meskipun si Inong cuma bertahan 3 minggu di sekolah gw, komik Si Dobol tetap gw lanjutkan sampe edisi 50an gitu, dan sampe kelas 6 SD gw terus membuat komik-komik lain seperti Si Putra Antariksa, Pengamen Kesasar, dan lain-lain.

Gw diajak sekolah minggu untuk pertama kalinya pas gw kelas 3 ini, di bawah gereja yang masih menjadi gereja gw sampe sekarang. Pertama kalinya gw diajak mengenal Tuhan dan Juruselamat gw.

Ibu Tio suka sekali memarahi anak-anak yang nilainya jelek. Dan karena nilai gw termasuk bagus (always 2 besar gitu loh) gw jarang dimarahi kalau soal nilai. Dan di sini gw melihat bahwa perlakuan terhadap gw dan anak-anak yang nilainya bagus dibedakan dari perlakuan terhadap anak-anak lain yang nilainya jelek (Bu, bukan mau nyalahin Ibu atas mindset yang udah Ibu tanamkan pada saya ya...).


9 Desember 1996-9 Desember 1997

Gw akhirnya pindah rumah; bukan rumah kontrakan lagi, tapi benar-benar rumah milik keluarga sendiri, yaitu rumah gw yang sekarang.

Kepolosan kanak-kanak gw pernah membuat gw menulis "Ayah saya pengangguran" dalam sebuah tugas mengarang. Yah, namanya juga anak kecil, gw ga tau makna konotatif dari kata itu... hahaha. Dan ketika bokap gw diterima kerja di Yakult, gw masih ingat kalau beliau ngomong "Abis malu sih, dibilangin pengangguran sama anak sendiri". Hmm... no comment.

Maret, gw dapet adik baru lagi... Yang sampe sekarang juga sering gw bego2in, yang masih sering bikin gw kesel, yang pipinya masih sering gw cubit2in, dan yang sampe sekarang masih punya satu kebiasaan jelek... La, kamu tuh udah kelas 6 SD sekarang, malu... Klo sampe SMP-SMA masih gitu, gimana bisa dapet pacar... hahaha.

Menjelang kenaikan kelas, gw berantem sama temen sekelas dan temen satu mobil antar jemput gw. Perkaranya adalah gw pengen duduk sebelah adik gw yang baru kelas 1 SD dan baru ikut antar jemput, karena gw dipesen buat jaga baik2 adik gw (klo dipikir-pikir sekarang sih lebay juga ya?). Tapi dia udah keburu duduk di sebelah adik gw dan malah berlagak menyebalkan dan nonjok gw. Pelan sih, tapi gw bales dengan satu tendangan telak ke perutnya yang bikin dia muntah. Yah, sepele sih. Cuma akhirnya gw disuruh keluar dari antar jemput. Katanya sih soalnya nyokapnya si busuk ini bakal narik kedua anaknya (si busuk dan adiknya) dari antar jemput klo gw masih ada di sana, dan mereka mau bayar lebih mahal. Buat si busuk klo baca, fuck you, nama lu yang najis itu bahkan ga mau gw tulis di sini. Buat pemilik jemputan gw itu, Oom Santo, gw kecewa Oom, klo sampe bener hal itu kejadian gara-gara uang.

Naik ke kelas 4, kelas pertama gw di lantai 2. Gw dulu takut banget naik ke lantai 2 sekolah gw. Malu juga kalau diingat-ingat lagi. Di kelas 4 ini gw pertama kali dapet 'rival' yang menunjukkan klo dia sirik sama gw dan berusaha menjatuhkan gw. Yah, biar anonim lah.


9 Desember 1997-9 Desember 1998

Pertama kalinya nyontek. Gak sengaja sih. Ulangan IPS, no 20, ga tau jawabannya, ngelamun, tiba-tiba liat kertas temen sebangku. Jawabannya "Gunung Merapi". Benernya gw ga mau tulis, tapi tiba-tiba gw ingat klo gw pernah baca, emang ITU jawabannya, jadi gw tulis. Gw merasa sangat berdosa setelah itu. Sekarang? Hmmmm...

Gw pernah nggak sengaja main-mainin tinta (tau kan jaman jebot pas SD nulis pake pulpen tinta) sampe ngecrot ke punggung baju si Irene yang duduk di depan gw. Wali kelas gw, Bu Retno, menyuruh gw ke kantor Kepsek, Pak Agustinus Mujiya.

Di kantor Kepsek, setelah dimarahi panjang lebar... Pak Agus bertanya "Teman kamu yang kamu kenain tinta itu Cina juga?"

Gw cuma bisa bengong. Maksud? Cina apaan? Cina tuh nama sebuah negara asing nun jauh di sana, menurut gw waktu itu. Tapi karena gw agak ragu-ragu dan bingung, gw jawab aja "Mungkin, Pak..."

Pak Agus menjawab "Untung. Kamu tahu kalau orang Cina seperti kamu ini lagi banyak dicari orang? Hati-hati kamu."

Waktu itu sungguh gw completely blank dengan apa yang dimaksud beliau. 10 tahun kemudian, baru gw benar-benar mengerti apa yang terjadi, di mana seorang KEPSEK dengan enaknya menanamkan sentimen rasisme di depan muridnya, apalagi itu terjadi kurang dari tiga bulan sebelum MEI 1998.

Bu Retno bilang kepada gw "Karena kelakuan kamu, Ibu ga bakal kasih kamu ranking 2 lagi". Ternyata gw dapat ranking 1. Terima kasih, Bu... Dan oom gw membelikan gw PlayStation untuk itu. Hahaha... mantap.

Mei 1998. Anak-anak sekolah dipulangkan lebih awal. Pembantu gw tampak tegang menunggu kepulangan bokap-nyokap gw di rumah. Dan gw ga ngerti kenapa malamnya bokap dan nyokap gw keliatan stress. 10 tahun kemudian gw baru mengerti.

Pak Harto lengser keprabon... Krisis moneter... Chitato naek jadi gopek sebungkus... Huaaa....

Naik kelas ke kelas 5... Dapat wali yang kocak dan agak dogol, Pak Ignatius Budi Prabawa.


9 Desember 1998-9 Desember 1999

Ikut lomba Adu Nalar Sari Matematika IPB, setim dengan Christian dan Deni. Satu dari tiga regu yang dikirim sekolah gw; dua regu lain adalah anak kelas 6. Dan regu gw satu-satunya regu sekolah gw yang lolos sampe semifinal; yang laen gugur di babak pertama. Waktu itu gw bangga banget.

Retret ke Sukabumi, pertama kali ikut retret. Seperti peserta retret yang baik pada umumnya, gw menangis ketika malam kedua diingatkan tentang pengorbanan seorang ibu.

21 April 1999, gw menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.

Menjelang kenaikan kelas ada acara cerdas cermat antar kelas, gw masuk tim. Kelas gw menang di pertanyaan terakhir berkat jawaban gw yaitu... "Kambium" (pertanyaannya apa, gw lupa).

Kelas 6 SD gw adalah kelas maut dengan guru-guru killer. Wali kelas gw Pak Dede Ahyar Rumbana; guru Bahasa Indonesia kembali Ibu Tio, dan guru Matematika Pak C.D. Tasirun. Kalau diingat-ingat, omongan mereka terhadap anak-anak yang nilainya jelek dan pemalas itu sangat kejam dan keterlaluan. Dulu gw menganggapnya wajar; mungkin juga karena gw jarang dapat nilai jelek.

Kelas 6 adalah kelas EBTANAS. Dalam pelajaran tambahan IPS, di mana sekelas adalah 30 anak yang merupakan 10 besar dari tiap kelas, diadakan ulangan review materi kelas 4-5. Gw mendapat nilai tertinggi 95, sedangkan di bawah gw yang tertinggi adalah 45. Mungkin klo dilihat dari kacamata sekarang, itu bisa dipandang sebagai gila nilai klo gw bangga. Tapi dari kacamata seorang anak SD, itu merupakan sebuah pengakuan dan dorongan moral yang besar.

Gw lagi hobi-hobinya ngumpulin tutup botol. Kalau gak salah ingat, gw udah ngumpulin sekitar 350an tutup botol dari berbagai merek.


9 Desember 1999-9 Desember 2000

Pertama kalinya gw pulang naek angkot sendirian, karena gak ada yang bisa jemput.

EBTANAS lancar... gw peringkat 2 satu sekolahan dengan NEM 47 koma sekian (?) lupa gw.

Nyokap gw berencana mendaftarkan gw ke sekolah paling top di kota Bogor, tapi bukan karena topnya, melainkan karena lebih dekat 20 menit dari rumah gw dibanding sekolah gw yang dulu.

Jadilah gw mengambil tes masuk sekolah yang dikenal karena kepintaran murid-muridnya, kedisiplinan aturannya, dan kualitas lulusannya: REGINA PACIS BOGOR.

Keterima, dan jujur gw shock melihat anak-anaknya yang ternyata suka ngatain guru, tukang nyontek, di sekolah pagi-pagi bikin PR, berandalan... (mungkin juga semua SMP gitu kali ya?). Di luar itu, gw dapet sohib awal-awal Torang Sitorus alias Kambing, Riza Yukananto alias Pipis, dan Mario Paskalis alias Bapet. Juga Octaviaji Dwiputra yang rajin memberi gw duit... hehehe.

Banyak hal baru yang gw jumpai di sekolah baru gw ini. Mulai dari misa Katolik yang wajib diikuti semua anak, rame-rame nyalin PR pagi-pagi, perpusnya yang nyaman dan ber-AC, sampai Pak Vincentius Mukardi dengan pelajaran olahraganya yang bergaya militer-kuli. Yang paling top adalah Bu Roslin Parera, guru Seni Musik yang super kejam dan 2 jam pelajarannya selalu diwarnai ketegangan dan ocehan-ocehan menusuk jantung.

Satu hal yang berharga gw dapat tahun ini: klo sebelumnya di SD gw selalu 'menyelesaikan' permasalahan dengan berantem, di SMP Regina Pacis gw mendapat pengalaman bahwa kata-kata adalah senjata yang jauh lebih ampuh dari tinju.


9 Desember 2000-9 Desember 2001

Naik dari kelas 1 dengan masih sedikit pusing menyesuaikan diri, di kelas 2 mengenal hal baru lagi: BOKEP. Satu kata yang mewarnai hidup anak-anak kelas 2 SMP tiap hari. Nyewa VCD lah, ngintipin baju sama rok temen-temen cewe lah... Eh, gw ga pernah ikutan ya. Cuma ikutan kalo ngobrol doank. Maklum lah dasar masih udik dan cupu, kita masih banyak salah paham dan lebay soal begituan... Contohnya sampe tiga jam bingung nyari apa arti kata "anal" sampe nanya-nanya ke segala orang termasuk temen-temen cewe dan ga ada yang tau... hahaha. Dan emang dasar anak baru gede, segala macem obrolan ga penting pun bisa dikaitkan ke bokep... mulai dari yang emang nyerempet-nyerempet seperti anjing, selang air, sampe ke hal nggak penting macem mobil dan pohon beringin.

Mulai males ke gereja... keseringan main Digimon...

Gw ketemu guru baru Bahasa Indonesia yang super tengik, si Nugroho. Mantan jurnalis yang sok liberal dan reformis, padahal anarkis dan anti-kemapanan.


9 Desember 2001-9 Desember 2002

Hidup SMP gw sih hampa... 3 tahun masih fase adaptasi... Kejadian-kejadian tahun ini cuma...

Si Nugroho bikin kasus. Suruh tugas buat daftar "konotasi kanak-kanak"; jangan ketipu sama isinya, dia suruh minimal tulis istilah bokep yang banyak PLUS CONTOH KALIMAT. Kacaunya lagi, tugas itu keliatan sama guru laen... Di mana ternyata banyak nama guru yang disebut. Contoh: Pak J***** tukang ngen***. Ribut lah sama kepsek... badai skorsing... tralalalala...

Pertama kenal yang namanya WE. Maen pertama lawan Nico babi, dibantai 9-0. Sebulan kemudian bokap beliin CD WE di PS. Latihan terus. Lumayan, jadi jago... hahaha.

Hore... akhirnya gw punya PC sendiri juga (bekas oom gw)... Dasar masih katro dan spek komputer juga masih kacrut (HD 2 GB men...) maka maenan favorit gw adalah Word dan Excel... coba-coba ngetik dan mengeksplorasi semua feature yang ada.


9 Desember 2002-9 Desember 2003

Pertama sakit parah: cacar, 2 minggu.

Retret di Pratista, tempat retret paling asik yang pernah gw kunjungi... Malem2 kamar gw jadi tempat ngumpul anak-anak cerita bokep sehingga gw ga bisa tidur (belagak tidur tapi ngedengerin).

Nah... SMA. Gw melanjutkan ke SMA Regina Pacis Bogor. Saat itu confidence gw barulah bertambah pesat, karena gw merasa jadi anak 'tuan rumah' di tengah banyak 'anak baru', apalagi banyak teman SD gw yang melanjutkan ke SMA RP, sehingga gw ngerasa sedikit 'lebih tahu' lingkungan dibanding 'mereka'.

Maka banyak hal yang 'pertama' buat gw di tahun ini:

Pertama kali make HP, dibeliin bokap sebagai hadiah kelulusan, Nokia 3610.

Pertama kali ngerasa jatuh cinta, terutama sekali pertama kali gw bisa pede untuk ngerasa jatuh cinta... sayangnya kepada orang yang salah. Cewe dengan codename Toxic inilah yang mengisi benak gw selama 3 tahun... waktu yang cukup lama.

Pertama kali dapet 'rival' dalam bidang akademik setelah SD; cewe super pinter dan super rajin dengan codename Munak. Cukup menjadi motivator; untuk pertama kalinya dalam 4 tahun gw bisa masuk 2 besar lagi di kelas.

Pertama kenal dengan game online. Ragnarok Online. Gw baru bener-bener maen pas akhir tahun. Gw dapet zeny, equip, dll bisa dari transaksi di dunia nyata: ngasih contekan ke temen gw yang 'jagoan' di dunia RO. Dasar ga mau rugi, gw sering ngasih contekan yang salah ke tuh orang. Ga bakal nyadar ini toh? (buat ini orang klo baca: mampus lu! hahahaha... peace2).

Pertama kenal deket dengan tiga sohib yang masih sering kontak dengan gw sampe sekarang: Yves, Wilson bin Supriadi, dan Arya bin Acoy; biarpun gw gak sekelas sama ketiganya.

Pertama kali diajak ke gereja lagi oleh teman-teman. Gw ikut kelas Dasar Kekristenan tiap Minggu pagi jam 8: ini ngerusak jadwal nonton TV gw, dan hingga sekarang gw ga pernah lagi ada jadwal rutin nonton TV tiap minggu pagi.

Ketemu guru-guru yang luar biasa unik: Bu Rara Sarini dengan politik anak emasnya (*grrr); Pak Pratiwadenta yang tua renta dengan politik ngajar seenaknya; Babeh Saukis Wasidi yang ujian renangnya bisa diganti dengan 'menyumbang dana untuk peralatan olahraga'; Pak Agustinus Heri Pramana 'Kuli' dengan muka ndeso, introduksi yang sedikit ateis, namun ilmunya top banget; dan Pak Tutoyo Aji, guru favorit gw yang pertamanya aja galak tapinya setelah itu... mantap.

Sering sekelompok tugas sama Yoseph Andreas Tenny: penelitian Biologi, presentasi Inggris, de el el... jadi sering ditraktir di restoran Mie Tasik punya beliau... hahaha.


9 Desember 2003-9 Desember 2004

Makin gila maen RO... udah ampir gw ga pernah jajan lagi di sekolah, abis semua buat maen RO... Pulang malem terus, mana rumah gw lagi direnovasi gede-gedean, jadi gw harus tidur di antara puing-puing, wajar kalau gw jadi ga betah lama-lama di rumah.

Pidato PPKn gw di kelas Bu Darsini yang sangat mengesankan: "PATRIOTISME!".

Bulan April akhirnya gw dibaptis juga... Dan sebulan kemudian lulus kelas Dasar Kekristenan, dan mulai ke gereja secara teratur lagi.

Nenek gw meninggal setelah sekian lama bergelut dengan penyakit ginjalnya. Pertama kalinya gw mengalami kematian orang yang dekat dengan gw.

Akhirnya gw beli PC baru yang canggih! Dan bisa maen game terhebat sepanjang sejarah dunia: CM! Asik... CM 03/04 waktu itu. Akhirnya gw bisa lepas dari RO yang memakan banyak duit itu. ID gw jual seharga setengah juta sama Linda a.k.a. Gabun... lumayan.

Naik ke kelas dua,: ketemu wali kelas gw yang sok keren dan sok aksi, sok gaul dan sok terpandang, si 'eh goblok, tolol!' Mara Basuki; guru mesum biang seks munafik Kunarto Wibisono; Pak Antonius Dwi Prabowo si dewa mabuk yang pernah nongol di kuis Siapa Berani dengan jawaban ngocolnya "LUMBA-LUMBA!"; dan Bu Elizabeth Endartini Setyorini yang gila sogokan.

Sekelas juga dengan Wilson dan Arya. Baru tau klo ternyata teman-teman gw pada punya rasa terpendam pada cewe-cewe. Dasar pada masih kacrut, ga ada yang berani nunjukin. Alhasil, ngeledekin salah satu cowo klo cewe idamannya lagi ada, sampe cowonya gugup terkencing-kencing, menjadi mainan paling top tahun ini. Yang paling asik adalah si Arya alias Acoy yang cintanya sama cewe ber-codename Kaleng menurut gw udah sebesar Gunung Everest, tapi sayang nyalinya cuma segede upil semut.

Minggu, 15 Agustus 2004, gw kehilangan HP gw di angkot. Sialan... padahal sebulan sebelumnya gw udah nyaris kehilangan HP, mau dicopet, untung gw ngelawan pencopetnya. Eh, nggak taunya emang udah takdir dicopet... sial.

Mulai kenalan sama seseorang cewe yang lumayan menarik perhatian... Orangnya cantik, baik, cuma suka lebay. Tapi yah... mungkin gw yang terlalu bego atau otak gw masih ke-Racun-an...


9 Desember 2004-9 Desember 2005

Tugas koran dinding yang disuruh Pak Toyo... gw jadi ketua kelompoknya. Nama yang gw berikan buat koran tersebut cukup indah dan gw masih sering pakai hingga sekarang: Via Veritas et Vita, Jalan Kebenaran dan Hidup.

Gw diusir dari kelas si Mesum Kunarto gara-gara bersiul. Alasan sebenarnya lebay. Si Mesum bilang kata 'toxic' dan teman-teman gw seperti biasa ngeledekin gw berhubung codename cewe 'incaran' gw kan Toxic. Gw akting pura-pura cuek dengan bersiul-siul lah. Duh, ternyata dikeluarin. Malu banget cuy, gara-gara hal gituan aja...

Gw disuruh si Mesum menghadap kepsek gw, dan gw diceramahi dalam kantornya yang apek selama 6 JAM PELAJARAN. Sejak itu gw benci banget sama kepsek gw, si "Oom Kera" C. Dwi Sunu Subroto a.k.a. Sunu Go Kong.

Hari Pahlawan 21 April, gw sama Acoy long march Hijrah Siliwangi dengan kaki lemes dari Gramedia ke sekolah, cuma gara-gara si Acoy hilang akal abis nggak sengaja ketemu sama Kaleng dan kawan-kawannya di kassa Hero. Lebay sih... tapi ya itulah, nyali upil semut... (gak apa-apa Coy, itu kan dulu... iya gak?)

April, mulai bikin ID Friendster. Tujuan awalnya cuma buat ngambil foto Toxic (/swt).

Ada study tour ke Bandung, dengan tujuan utama UPI. Seperti biasa, penuh dengan kegiatan scouting, istilah kacrut gw, Acoy, dan kawan-kawan untuk menyebut kegiatan ga penting mengamati cewe idaman dari jauh. Asli deh si Acoy terobsesi sama nih Kaleng... Apapun topik obrolan, pasti diarahin ke Kaleng. Semua bisa nyambung... Apalahi kalau nyebut kata yang berhuruf depan Y, huruf depan nama asli si Kaleng (*uups*). Coy... Coy. Hahaha.

Gw jadi Ketua Divisi Matkom KIR di bawah bos Budisanto Tanoto. Jabatan pertama yang gw pegang (baik secara organisasi maupun kepanitiaan) seumur-umur.

Ulangan PPKn Darsini:
- 20 soal pilihan ganda, gw dan 4 teman gw menjawab sama semua, identik, tapi nilainya NGGAK ADA YANG SAMA.
- 10 soal essay, gw mengisinya dengan super ngasal... seperti misalnya sebutkan 4 alasan pentingnya Pancasila? 1. penting deh. 2. penting banget. 3. pokoknya penting. 4. super penting. Atau, sebutkan 4 tokoh bla bla bla? 1. Antonio Cassano. 2. Ronaldo Assis. 3. Samir Nasri. 4. Riccardo Montolivo. Dapet berapa? 95.

Tugas Ekonomi Bu Ningsih yang dibuat dengan kerja sama berenam, membahas 3 orang pengusaha sukses yang dikenal. Karena malas, kami berlima (gw, Wilson, Acoy, Avnel a.k.a. Jebot, dan PaLeo) memutuskan untuk 'menciptakan' 3 orang pengusaha: Novellino Hadiprayitno, pemilik warnet fiktif Target; James Priyono Tanuwijaya a.k.a. Tan Beng Seng, paman fiktif dari Arya, pemilik toko sembako fiktif Bumi Jaya di Surabaya; dan Roman Abramovich dari Rusia yang 90% data hidupnya dipalsukan.

Suatu hari di bulan Mei: gw bertiga Acoy dan Wilson malem-malem datang ke sweet 17 cewe incaran Wilson ber-codename Marmut (kita bertiga nggak ada yang diundang) cuma buat nitip coklat hadiah ke resepsionisnya. Son...Son. Mending tu coklat disampein sama resepsionisnya. Paling-paling juga dimakan sama dia... Tapi itu masa lalu lah. Hahaha.

Kembali ke cewe yang menarik perhatian gw... Orang-orang udah bilang ke gw klo tuh cewe benernya suka sama gw, dan mereka menasihati gw untuk nembak dia. Duh... gw lagi, pas jaman itu masih tolol. Waktu naik kelas, dia beda jurusan sama gw. Gw mulai merasakan takut kehilangan sih... Jadi, meskipun sebenarnya mental gw blom siap untuk pacaran, gw paksain tembak aja... dan nggak taunya diterima.

Well yeah, the rest is something that all of my friends know, and the rest of those is something that only I and she know, and the rest of those is something that only I know.

Guru-guru kelas 3 gw mantap-mantap, terutama Ibu Wong Widha yang memiliki pengaruh besar dalam pemilihan sub-jurusan gw sekarang. Terima kasih ibu buat marah-marahnya, buat kuis-kuisnya, buat film tentang perkembangbiakan udangnya, buat tugas presentasinya yang bikin Acoy keliatan kacrut, buat tugas skripsinya yang bikin gw dapet cuci kaki gratis di spa si Joni, dan terutama sekali buat kecintaan gw terhadap ilmu biologi.

Gw mulai kenal internet nih (biarpun cuma pake telkomnet instan yang biayanya pernah nyampe sejuta sebulan).

Dan gw dibeliin kado ultah berupa HP baru, Nokia 6610i.


9 Desember 2005-9 Desember 2006

Sungguh tahun yang rame.

Kuliah sudah dekat cuy. Mau ke mana? Cuek lah... paling nggak sampe ada kejadian tertentu.

*** : "Si ****n keterima di **n** loh... dengan grade tinggi... si **d** juga keterima di *n*** gradenya tinggi juga loh..."

Waduh. Panas bener gw. Paling gak suka dibandingin sih. Jadilah gw mencari jurusan apakah yang 'terbaik' di Indonesia? Pertama cari universitas terbaik. ITB. Oke. Jurusan dengan passing grade tertinggi. Informatika. Nggak ah. Kacrut. Gak suka. Kedua... Teknik Kimia. Oke, gw lumayan suka kimia, dan benci fisika. Jadi Teknik Kimia ITB nih, oke...

Meskipun minat sebenarnya gw itu adanya di hal-hal yang berkaitan dengan luar negeri, sejarah, geografi, dan politik. Jadi gw mendaftar USM Unpar dengan pilihan pertama Hubungan Internasional, dan pilihan kedua Teknik Kimia (yah bego, passing gradenya kebalik coba) dan gw tentu saja diterima... Hubungan Internasional. Setelah bicara panjang lebar dengan bokap gw yang sarjana hukum, akhirnya gw menerima saran beliau untuk TIDAK mengambil Hubungan Internasional... karena pergaulan mahasiswanya (maaf) gak bakal gw demen, dan menurut cerita teman gw yang masuk HI Unpar, itu bener.

Jadi gw memutuskan untuk mengambil SPMB di ITB tanpa belajar sama sekali, tanpa persiapan. Untuk cadangan, gw mengambil USM 2 Unpar dengan pemilihan jurusan yang dibalik dari USM 1. Saat gw ke Bandung untuk USM 2, ini pertama kalinya gw naek travel (Cipaganti) subuh-subuh lewat Puncak. Edan. Belok pun kayak gak ngerem.

Singkat cerita, sayonara Regina Pacis, sayonara Bogor... Gw diterima di ITB, surat resminya muncul 9 Agustus, sehingga gw dan bokap langsung ke Bandung nyari kos. Dapet kos yang agak2 kacrut milik Bu Haji Suherman di Wira Angun-angun 30... kamar gw ada di belakangnya garasi dengan pintu menghadap knalpot mobil-mobil, sebelah kanannya kamar mandi yang WCnya bentuknya fatal dan antik, sebelah kirinya kamar Bu Haji yang tiap jam 3 nyetel weker, dan di bawahnya kamar cucunya Bu Haji yang suka berisik dan nangis.

Daftar ulang... Sidang penerimaan mahasiswa baru... Masuk perwakilan KM-ITB yang mengkampanyekan ospek, sesuatu yang gw identikkan dengan kekerasan dan sikap sok kuasa senior terhadap murid baru (di sekolah gw dulu gitu), dan jelas gw ikut bertepuk tangan saat Pak Djoko dan Pak Widyo mengumumkan ITB melarang OSKM, dan gw juga ikut tertawa saat panitia OSKM ketakutan saat diancam menulis surat pernyataan akan menjamin peserta tidak di-DO lewat surat bermeterai. Sikap bego yang sekarang gw sesali.

Kenalan dengan dunia TK yang beda dan ajaib, yang murid-muridnya super pintar (padahal gw udah ngerasa paling pintar se-Indonesia :P) tapi nyantai (untuk lebih jauhnya bisa dilihat di post gw sebelumnya, TK: Munafik Stadium Parah atau Rendah Hati Berlebihan?).

Dosen-dosen yang beda banget sama guru SMA: Bu Hilda Assiyatun yang so far masih dosen terbaik gw sampe saat ini, Pak Bobby Eka GOenara yang bener2 B.E.*.*., Pak Yana Maolana Syah yang kacrut tapi nyadar diri dalam memberi nilai, Pak Tatang Hernas Soerawidjaja yang kalau ngajar selalu ngeliat ke arah mahasiswi-mahasiswi, Bu Ratna Djuwita Bandono yang top abis dah, dan sang maestro Teknik Kimia Dr. Mubiar Purwasasmita dengan manusia idealnya.

IP yah... segitu-segitu aja, ga istimewa, ga ada yang bilang gw pinter lagi, hahaha... ya udah lah, namanya juga lingkungan baru, citra diri harus baru donk.

Oh iya, bulan Oktober si Wilson mengusulkan diri untuk membuat Solidaritas Mahasiswa Alumni Regina Pacis (SMARP) untuk membantu anak-anak lulusan RP agar cepat settled di kampusnya (berhubung pengalamannya sendirian di UGM). Gw setuju, dan mulai bergerak pada liburan akhir tahun, dibantu Omar, Jafar, dan Bemo...


9 Desember 2006-9 Desember 2007

Tahun yang sibuk... tengah tahun pertama ada perintisan SMARP dan kaderisasi Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia alias HIMATEK.

Susah bener deh ngumpulin orang-orang untuk organisasi baru. Perjuangan yang melelahkan. Gimana gw dan Omar dan kawan-kawan membesarkan SMARP sampe sekarang, akan gw tulis di post laen.

HIMATEK... Rumah dan keluarga gw di kampus. Sebagai orang yang gampang bangga terhadap identitas gw, tentunya gw akan sepenuh hati mengikuti PLANT, nama resmi kaderisasi HIMATEK. Kesolidan angkatan yang dikoordinir ketua angkatan yang sangat gw kagumi, Arrijal Sidik... Keberanian dan kemampuan semua anak angkatan gw yang ternyata memiliki potensi masing-masing... Meskipun ternoda dengan tingkah berlebihan dan agak mengganggu dari beberapa panitia dan sesama peserta, gw bangga menjadi anggota HIMATEK, sayangnya pelantikannya agak kacrut karena dibubarkan ama petinggi-petinggi TK macam Pak Sanggono Adisasmito dan Pak Dwiwahju Sasongko yang memakai jaket himpunan. *huh*

Di tengah-tengah masa kaderisasi, gw dipanggil pulang. Bokap telah pergi meninggalkan gw dan keluarga untuk selama-lamanya. Itu saat terakhir gw nangis sepuas-puasnya sampai saat ini.

Dengan meninggalnya bokap, gw menjadi lebih perhatian kepada nyokap, lebih protektif terhadap adik-adik gw, dan tentunya lebih bertanggung jawab.

Libur tengah tahun, SMARP bikin gebrakan dengan mengadakan presentasi dan membagikan buku petunjuk kuliah kepada semua anak kelas 3 SMA Regina Pacis Bogor. Sebagai motor dan koordinator SMARP, gw sungguh merasa bangga.

Nilai semester 2 membaik... berkat partisipasi dari Pak Noorsalam bin Rahman bin Nganro yang menghadiahi gw nilai A meskipun ujiannya gak pernah lebih dari 60.

Semester 3, dapet jahim sendiri, для Господи́ну, Родину, и Альма-матеру... Bulan Oktober gw menjabat sebagai koordinator divisi lapangan Wisuda Oktober, jabatan pertama dalam kepanitiaan acara yang gw pegang seumur hidup (eh, sebelumnya jadi koordiv materi PMB PDTK Juli deh).

Si Wilson jadian... wakakak. Pelajaran berharga yang gw dapet: semua hal mungkin klo kita berusaha. *wakakak*

Dosen-dosen semester 3 cukup kacau; di antaranya Pak Hidayat Muchsinudin dengan gaya ngajar super ngasal dan nilai yang super ngasal pula dan Pak Humaryono Hudoro sebagai dosen paling nyentrik dan kacau: omongan porno nggak disensor, sukanya menghina bangsa sendiri, ucapan trademark ala diktator "ya atau ya?", serta kecenderungan untuk menyindir semua hal yang memiliki kelebihan dibanding dirinya. Namun demikian terima kasih Pak Humar: setiap kelas selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan dan penuh tawa (ngetawain si bapak), dan tugas akhirnya berupa TANREGNAS Kepulauan Riau benar-benar sebuah pembelajaran berharga.


9 Desember 2007-9 Desember 2008

Tahun yang sangat berharga.

Di paruh pertama tahun ini gw masih mengurusi SMARP, regenerasi kepengurusan ke tangan 2007; untung gw menemukan orang-orang seperti Aditya Wicaksono, Yohanes Andika Ruswan Putranto, Edwin Suhartono, dan kawan-kawannya.

Gw memilih sub-jurusan Teknologi Bioproses yang isinya... yah, no comment dah.

Di bawah pimpinan Bung Abdul Rachman Winata, angkatan gw mulai mengkader 2007 dalam acara Pengenalan Kemahasiswaan Teknik Kimia a.k.a. PKTK. Gw tergabung dalam divisi materi. Baru ngerasa ternyata beratnya mengkader; buat yang dikader pasti nggak bakal tau sebelum dapat giliran mengkader. Tapi senang juga sih.

Rekan gw, Bung Dion Yorensin, yang baru terpilih menjadi ketua PDTK yang baru, menawari gw jabatan sebagai koordinator divisi materi, dan gw menerima. Sejujurnya ini bentuk pelayanan gw yang pertama.

Dan salah satu turning point: gw mengisi open recruitment untuk menjadi Senator mewakili HIMATEK di Kongres KM-ITB, padahal selama ini gw termasuk orang yang sangat anti terhadap pergaulan kemahasiswaan ITB di luar HIMATEK. Ini salah satu keputusan besar yang tak pernah gw sesali, karena itu telah membuka jalan untuk pembelajaran yang tak ternilai.

Pukulan berat untuk gw: ada 3 nilai C (bahkan tadinya 4, sebelum gw protes setengah mati ke Pak Walmiki). Hikmah yang didapat: di TK ini orang harus rajin untuk bisa bertahan hidup.

HP gw ilang pas gw nginep di HIMATEK buat nonton Euro... ini yang membuat gw langsung membeli TV-tuner.

Semester 5... nggak perlu diceritakan kali ya? Semester 5 ini hanya ada 1 hal penting buat gw, dan gw ga mau inget-inget dulu. Oh ya, baru pas semester 5 ini gw bikin blog.




Huhh... selesai juga. Mudah-mudahan bikin bosan.


Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater - merdeka!





.

Jumat, 05 Desember 2008

50 Tahun

Ibu - Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....



50 tahun.

Aku nggak pernah tahu.

Dan terkadang nggak mau tahu.


20 tahun.

20 kali.

Aku nggak pernah bisa ngasih apa-apa.

Mungkin malah jadi beban.

Kerjanya nyusahin melulu.

Bikin kesel.


Dan aku nggak pernah bisa bilang.

Kalau sebenarnya aku sangat bersyukur pada Tuhan.

Dapat orang tua yang hebat. Ya, nggak ada kata lain yang tepat. Hebat.

Dan tiap hari aku cuma bisa mikir: apa aku udah bisa membuat orang tuaku bersyukur pada Tuhan, karena punya anak seperti aku?




Mami...

Selamat ulang tahun yang ke-50... Seperti biasa, seperti 19 tahun yang sudah-sudah, aku nggak bisa ngasih apa-apa... Cuma doa semoga panjang umur, ucapan terima kasih karena udah menjadikan aku seperti sekarang, dan permintaan maaf karena belum bisa jadi anak yang bisa dibanggakan orang tuanya.





.

Selasa, 02 Desember 2008

Curahan Hati Senator: Kepada Massa Kampus yang Merasa Bukan KM, dan Kepada Segelintir Kaum Elit

Ini jam 11 malam. Gw harus beresin slide prosmet sekarang. Dan gw baru pulang rapat internalisasi memorandum I Kongres kepada Kabinet, yang sampai sekarang belum beres. Gw tinggal karena gw merasa bertanggung jawab kepada kedua rekan sekelompok gw yang sekarang lagi mati-matian nginep di labtek atau lagi ngerjain laporan.

Dan jujur gw emosi.

Pangkal masalahnya adalah penilaian LPJ tengah tahun Kabinet oleh Kongres...

Stop. Stop.

Kabinet KM itu : pemerintahan kampus. Presiden KM, menteri-menteri, dan staf-staf menterinya. Yang oleh massa kebanyakan sering dipendekin dengan sebutan 'KM' doank.

Kongres KM itu : badan tertinggi kampus. Anggotanya dinamakan Senator. Dianggap perwakilan seluruh massa kampus. Bertugas utama mengawasi kinerja Kabinet.

Lanjut.

Yang bikin gw kesel...

Tanyakan kepada seorang Menteri atau Senator, apa beda Kabinet dan Kongres. Lancar lah mereka menjelaskan, mungkin dengan sedikit 'tambahan-tambahan' lain.

....

Padahal kita lihat...

B (salah seorang menteri) : pergi dulu ya, mau rapat kementerian.
X (mahasiswa random) : oo, rapat KM.

A (senator) : pergi dulu ya, mau rapat kongres.
X (mahasiswa random) : oo, rapat KM.




Hai orang-orang yang ada di 'atas'...

Buat yang menganggap diri adalah anggota lembaga-lembaga 'tertinggi' kemahasiswaan ITB (paling nggak secara konsepsi, benar lembaga tertinggi), dan itu berarti termasuk gw sebagai Senator...

Tolong jangan dipungkiri kalau tingkat apatisme masyarakat kampus terhadap KITA itu rendah!!!

Dan kalau keadaannya selamanya kayak gini, kalau pola pikir 'elit'nya masih tetap seperti ini, maka KM-ITB hanya tetap akan menjadi milik segelintir orang yang peduli, bukan milik semua anggotanya, yang menurut Konsepsi adalah SELURUH MAHASISWA ITB!!!

Jadi tolong PIKIR saat mengatasnamakan MASSA KAMPUS! Senator ngomong di rapat opini siapa? Opini pribadi? Opini BPA? Opini Kahim? Opini lembaga? Benar opini massa? Atau bisikan gaib?

Kerja samalah. Kerja sama! Rangkul seluruh massa kampus! Tunjukkan kalau kita ini satu KM-ITB! KM-ITB itu kita SEMUA, bukan cuma segelintir 'elit' yang tiap formas ngumpul di basement CC Barat, bukan cuma Presiden KM, Menteri, Senator, Kahim, Ketua Unit, dan konco-konconya!

KM-ITB itu mahasiwa-mahasiswa yang nongkrong di lapangan basket. KM-ITB itu mahasiswa-mahasiswa yang main kartu di sekre unit dan himpunan. KM-ITB itu mahasiswa-mahasiswa yang mangkal di laboratorium. KM-ITB itu mahasiswa-mahasiswa yang ngobrol-ngobrol sambil ngerokok di warung belakang. KM-ITB itu mahasiswa-mahasiswa yang kuliah-pulang-kuliah-pulang. KM-ITB itu mahasiswa-mahasiswa yang nggak jelas di mana tempatnya dan terancam DO karena sering bolos. KM-ITB itu mahasiswa-mahasiswa S1 ITB yang belum gw sebut apa aja kegiatan hariannya seperti di atas.

Untuk saat ini, Kabinet-lah ujung tombaknya! Pendobraknya! Dan Kongres-lah pemegang tombaknya! Mengarahkan ke mana ujung tombak harus dihunjamkan!

Kita ini satu tim! Tombaknya KM-ITB! Dan kalau ada yang salah, harusnya malu bersama! Kabinet dinilai apa, itu tanggung jawab Kongres juga, sudahkah mengawasi dengan optimal?! Jangan ada yang merasa superior di atas yang lain. Kongres jangan, meskipun secara konsepsi ya. Apalagi Kabinet, TIDAK.

Jangan ada gengsi. Kita ini satu tim. Rangkul massa kampus. Tuluslah menjadi aktivis, bukan karena ingin menaikkan citra pribadi. Kalau memang menganggap diri 'elit' atau lebih dari yang lain, mari kita berjuang bersama untuk KM-ITB yang lebih baik. Bakar habis semua birokrasi, masukkan ke incinerator, kerja sama, kerja sama, kerja sama untuk KM-ITB yang lebih baik.

Apa itu KM-ITB yang lebih baik? Tunjukkan kalau KM-ITB memang menjadi milik SEMUA YANG SEHARUSNYA MEMILIKINYA.

Dan kalau ada yang tersinggung atas tulisan gw ini, gw hanya bisa bilang: balik ke massa. Tolong membumi. Lihat apa kata orang tentang KM-ITB. Pikir citra orang tentang KM-ITB.



*kesal mode: ON*
.