Minggu, 14 Mei 2017

Biru





Biru
Tak akan kau jumpai biru di langit Jakarta,
meski terik sinar mentari dan tiada awan menutupi;
Asap dan debu, buah peradaban manusia,
memberinya napas kesuraman yang abadi.

Malu
Tak akan kau jumpai negeriku yang sejahtera,
meski konon tanah airnya bergelimang karunia Ilahi;
Terlalu banyak prasangka berujung curiga,
mengekang kemajuan hanya sebatas mimpi.

Dan hatiku
Tak akan kau jumpai damai tenteram di dalamnya,
meski langit Jakarta berubah biru atau negeriku mendadak maju;
Di tengah-tengahnya, satu lubang menganga hampa,
yang hanya bisa tertutup oleh dirimu.



Jakarta, 14 Mei 2017
Gembel Ibukota




 

Sabtu, 27 Agustus 2016

Tabib dan Tukang Bangunan

Alkisah di suatu zaman susah, hiduplah seorang ahli tukang bangunan bernama Hap Seng, yang baru saja menjadi pengangguran karena sepinya pekerjaan. Suatu hari, sepulangnya luntang-lantung mencari kerja, ia mengeluh pada istrinya, Lien Hua, betapa sulitnya mendapat pekerjaan. Istrinya hanya menimpali:

"Yah memang masa sekarang lagi susah, sedikit orang yang butuh tukang bangunan, lagi nggak ada yang mau bikin bangunan. Andaikan lu tabib kayak tetangga sebelah kita si Peng San; coba itu liat, tiap hari orang sakit ngantri terus berobat ke dia, kagak putus-putus!"

Mendengar perkataan istrinya tersebut, Hap Seng mendapat ide.

Keesokan harinya, Hap Seng memasang papan di depan rumahnya. Tulisannya: "TABIB HAP SENG. MENANGANI SEGALA MACAM PENYAKIT. SEKALI BEROBAT Rp 20.000. TIDAK SEMBUH UANG KEMBALI 5x LIPAT."
 
 
Peng San yang melihat papan yang dipasang Hap Seng, terheran-heran. Ia bertanya "Hap Seng, setau gua, lu kagak pernah belajar ilmu pengobatan. Kok lu berani-beraninya buka praktek tabib di sini?"

Hap Seng menjawab enteng "Namanya juga hidup nyari nafkah, Peng San. Pembangunan boleh berhenti, tapi yang namanya orang sakit kan bakal ada terus. Lagian jadi tabib kayaknya nggak susah-susah amat, jadi bisa aja lah gua."

Merasa diremehkan sebagai tabib senior yang sudah lama berpraktek, Peng San diam-diam tersinggung. Ia memutuskan untuk memberi pelajaran pada Hap Seng.

Keesokan harinya tabib Peng San datang berobat ke tempat praktek Hap Seng. Ia berpura-pura mengidap penyakit aneh yang sudah ia karang sebelumnya: lidah mati rasa. Kalau makan, gula tidak terasa manis, garam tidak terasa asin, begitu kata Peng San.

"Bentar..." kata Hap Seng setelah mendengar keluhan Peng San. Ia berpikir sejenak, kemudian berkata : "Lien Hua...! Coba ambil obat nomor 27."

Lien Hua mengambil obat nomor 27 dari rak dan menyerahkannya ke Hap Seng. Kemudian Hap Seng menyuruh Peng San buka mulut, dan meneteskan obat tersebut ke lidah Peng San.

"Aseeeemm...!!!" jerit Peng San. "Ini sih bukan obat, ini cuka!!!"

"Nah, selamat, lidah lu udah sembuh. Udah bisa merasakan cuka." kata Hap Seng datar. "Tarifnya 20 ribu perak."

Peng San membayar dengan menggerutu. Sesampainya di rumah, ia memikirkan lagi bagaimana cara membalas dendam ke Hap Seng. Keesokan harinya, Peng San kembali mendatangi tempat praktek Hap Seng, dengan menyiapkan penyakit karangan yang baru: penyakit pikun. Akhir-akhir ini, kata Peng San, dirinya cepat lupa. Diajak ngomong hari ini, besoknya sudah lupa semua.

"Hmmm...." gumam Hap Seng. "Ada obat yang cocok. Lien Hua...! Coba ambil obat nomor 27."

"Eh! Enak aja!" protes Peng San. "Obat nomor 27 kemarin itu, kan isinya cuka! Jangan macem-macem lu!"

"Nah, selamat, ingatan lu udah balik. Udah bisa ingat kejadian hari kemarin." kata Hap Seng datar. "Tarifnya 20 ribu perak."

Dengan terpaksa Peng San kembali membayar. Sesampainya di rumah, dirinya makin panas dan makin bertekad untuk mengalahkan Hap Seng. Keesokan harinya, dirinya kembali datang ke tempat praktek Hap Seng, mengaku bahwa matanya buta!

"Hmmmm...." gumam Hap Seng. "Hmmmm......." ia berpikir selama lima menit, kemudian terdiam sambil memandangi Peng San.

"Gua nyerah." akhirnya Hap Seng berkata. "Penyakit lu yang ini, kagak bisa gua obatin. Ini, sesuai janji, gua balikin duit lu 5x lipat. 100 rebu perak."

Peng San tersenyum puas sekali dan tertawa ngakak keras sekali dalam hatinya sambil menerima selembar uang yang disodorkan Hap Seng. Namun sejenak kemudian dahinya berkerut.

"Heh, Hap Seng, yang lu kasih ini bukan uang 100 ribu. Ini uang 10 ribu!" protes Peng San.

"Nah, selamat, mata lu udah melek. Udah bisa ngebedain duit 10 ribu dan 100 ribu." kata Hap Seng datar, kemudian mengambil lembaran 10 ribu dari tangan Peng San. "Tarifnya 20 ribu perak."





.

Sabtu, 25 Juni 2016

Gelassenheitsgebet

Gott, gib mir
die Gelassenheit,
Dinge hinzunehmen, die ich nicht ändern kann,
den Mut,
Dinge zu ändern, die ich ändern kann,
und die Weisheit,
das eine vom anderen zu unterscheiden.
(Reinhold Niebuhr, Gelassenheitsgebet)


---


Tuhan, beri aku
KETENANGAN
untuk menerima hal-hal yang tidak bisa aku ubah,
KEBERANIAN
untuk mengubah hal-hal yang bisa aku ubah,
dan KEBIJAKSANAAN
untuk membedakan keduanya.

Menjalani hidup hari demi hari,
menikmati saat demi saat,
menerima kesukaran sebagai jalan menuju kedamaian;
Menerima, seperti yang Yesus lakukan, dunia yang penuh dosa ini,
sebagaimana adanya, bukan sebagaimana keinginanku;

Percaya bahwa Engkau akan membuat segalanya baik,
jika aku berserah pada kehendakMu;
Agar aku dapat secukupnya berbahagia dalam hidup ini,
dan sungguh-sungguh berbahagia denganMu dalam hidup yang akan datang.
Amin.

---

This prayer has always been inspiring for me, all along these exhausting, dynamic years of struggle; but for the rest of this year, I will need it more so than ever.

25 - 06 - 2016
preparing for the biggest test


.

Minggu, 15 Maret 2015

Setia Dalam Perkara Kecil



Jadi ceritanya, di suatu siang yang (kurang) cerah, saat sedang mengerjakan tugas yang bertumpuk (tidak) seperti biasa, tiba-tiba saja batin saya mengalami morale down. Mungkin bahasa Indonesianya sih: galau. Galau yang hadir dalam lamunan singkat. Tentang hal-hal yang ingin saya capai dalam hidup ini. Tentang apa saja dari hal-hal itu yang sudah saya capai. Dan (terutama) yang belum.

Mengapa tiba-tiba hal itu terlintas dalam pikiran saya, entahlah.

Entah karena melihat kerjaan yang menumpuk ditambah sadar mendadak bahwa deadline yang sudah ditetapkan itu tidak realistis.

Entah karena wifi tempat kerja ini mendadak mati ketika saya sedang seru-serunya browsing bahan-bahan kerjaan.

Entah karena siang ini sempat mendung dan kemudian hujan deras sekali, persis ketika saya sedang menuju tempat kerja ini tadi.

Entah karena sebelum berangkat tadi, saya nonton maraton beberapa episode dari Jomblo TV Series. (ini apa hubungannya???)

Atau entah mungkin karena dalam beberapa hari belakangan ini, saya banyak berdiskusi dengan beberapa rekan tentang tujuan hidup.

Ya, apapun sebabnya, itu cukup untuk membuat saya bengong total secara fisik dan mental selama kira-kira setengah jam di tempat umum. (Tidak) menarik kayaknya kalau adegan ini difilmkan.

Puji Tuhan, ada sebuah ayat yang menyadarkan saya dari lamunan kosong tersebut.

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil,
ia setia juga dalam perkara-perkara besar.
Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil,
ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."
(Lukas 16:10)


 Ya ampun. Padahal saya sendiri pernah berkata pada seorang rekan : hal-hal besar tidak ada yang terjadi secara instan; setiap perubahan besar pasti merupakan akibat atau akumulasi dari hal-hal kecil, entah disadari atau tidak. Dengan demikian, jika kita sempat merasa bahwa tidak ada perubahan besar dalam hidup kita, atau target besar yang sudah kita susun tidak pernah tercapai, hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah introspeksi diri dalam keseharian.

Jika ingin mengubah dunia, mengubah orang banyak, atau bahkan mengubah dirimu sendiri; lakukanlah, awalilah dengan berusaha menjadi manusia yang lebih baik.

Dengan menjadi manusia yang lebih baik dalam perkara-perkara kecil, perkara-perkara sederhana.

Sesederhana menjaga rutinitas hidup yang baik. Sesederhana melakukan pekerjaan-pekerjaan harian dengan sepenuh hati seluruhnya. Sesederhana berkegiatan dengan selalu memperhatikan kesehatan. Sesederhana berusaha menjadi pembawa damai dan sukacita bagi orang-orang yang ditemui setiap harinya. Sesederhana melakukan segala hal dengan didasari itikad baik. Sesederhana senantiasa berusaha menjaga lisan dan perbuatan. Sesederhana tidak meninggalkan ibadah.

Dalam taraf yang lebih sederhana lagi sih; sesederhana tidak buang sampah sembarangan, tidur cukup dan bangun pagi, kerja yang benar tanpa slack off, jaga makan dan minum, rutin berolahraga, tersenyum dan ramah pada orang lain, tidak mudah marah, tidak berdusta, rajin berdoa, dan rajin menabung.

Saya percaya bahwa orang-orang yang kehidupan sehari-harinya baik-lah yang akan dapat membawa perubahan sesungguhnya yang bernilai dan berdampak luas.

Karena ada dikatakan, buah yang baik timbul dari pokok yang baik pula.

Jadi ketika kita mendambakan hal-hal besar terjadi dalam hidup kita, lakukanlah improvement terus-menerus dari perkara-perkara keseharian kita. Percayalah bahwa itu adalah awal dari perubahan-perubahan besar yang kita inginkan.

Karena perbaikan itu, dimulai dari diri kita sendiri.

Saya akan pakai tiap detik yang tersisa pada umur saya ini untuk terus menjadi lebih baik dalam setiap perkara. Bukan hanya demi kehidupan pribadi yang lebih baik, tapi bahkan terutama demi memenuhi tugas sebagai saksiNya, sebagai surat pujian yang dapat dibaca setiap orang. Juga demi orang-orang yang telah menaruh banyak harapan kepada saya, demi janji pelayanan yang dulu telah saya buat; orang-orang inilah yang selalu menjadi inspirasi bagi saya agar tidak hidup hanya bagi diri sendiri saja.

Dan terakhir pastinya, demi kamu.


#SelamatHariMinggu


Coffee Institute, 15 Maret 2015




.

Rabu, 10 Desember 2014

Kami Tak Perlu Dibela

Ketika saya mengisi malam hari ulang tahun saya ke-26 dengan kegiatan rutin bermanfaat seperti facebookan, saya kebetulan mengamati ada suatu isu yang diangkat oleh beberapa kawan di social media tersebut. Tentang pernyataan Mendikdasmen Kabinet Kerja, Bapak Anies Baswedan yang sebenarnya sangat saya hormati (read more). Pernyataannya antara lain bisa dibaca di sini, dengan kutipan kira-kira sebagai berikut:

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Anies Baswedan
(foto: detik.com)
Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan kementeriannya sedang mengevaluasi proses belajar mengajar yang selama ini berlangsung di sekolah-sekolah negeri. Salah satu yang sedang dievaluasi terkait dengan tata cara membuka dan menutup proses belajar.

"Saat ini kita sedang menyusun, tatib soal aktivitas ini, bagaimana memulai dan menutup sekolah, termasuk soal doa yang memang menimbulkan masalah. Ini sedang direview dengan biro hukum," ujar Anies dalam jumpa pers di kantornya, Gedung Kemendikbud, Jalan Jend Sudirman, Jakarta, Senin (1/12/2014).

Anies mengatakan hal itu menjawab pertanyaan tentang adanya keluhan sejumlah orangtua murid terhadap tata cara dominan agama tertentu dalam proses belajar mengajar. Hal itu membuat siswa penganut agama lain menjadi tidak nyaman.

"Sekolah di Indonesia mempromosikan anak-anak taat menjalankan agama, tapi bukan melaksanakan praktik satu agama saja," tuturnya.

Menurut Anies, sekolah negeri bukanlah tempat untuk mempromosikan keyakinan agama tertentu. Sesuai dengan asas pemerintah menjamin kemerdekaan beragama di Indonesia, sekolah seharusnya memberikan kesetaraan bagi penganut agama lainnya.

"Sekolah negeri menjadi sekolah yang mempromosikan sikap berketuhanan yang Maha Esa, bukan satu agama," tutup Anies.


Pak Menteri yang baik,

Sekali ini saya harus bilang, statement ini blunder bagi Pak Menteri yang saya hormati ini. Sebaiknya sebelum berbicara, Pak Menteri harusnya melihat situasi politik saat ini, ke mana opini masyarakat saat ini berhembus, isu apa yang sedang panas. Meskipun Pak Menteri berawal dari "orang baik yang berpolitik", saya sangat mengharapkan Pak Menteri berkembang menjadi "politisi yang baik". Maafkan saya.

Pak Menteri, statement ini sejalan dengan skema lawan-lawan politik dari bos anda, yang dari sebelum pilpres hingga bos anda berhasil diturunkan nantinya, akan terus memposisikan bos anda dan pemerintahannya sebagai musuh agama mayoritas dan antek agama minoritas yang bersumber dari asing dan aseng (padahal sekarang si asing dan si aseng itu kebanyakan sudah tidak beragama). Seharusnya Pak Menteri sadar akan hal ini, dan tidak memperumit posisi bos anda yang sudah terjepit juga.

Pak Menteri yang saya hormati,

Kami umat Kristen selaku kaum minoritas di negara ini, sejujurnya tidak mengharapkan adanya perlakuan khusus, ataupun sekedar penyamaan hak. Sejarah selalu mencatat, bahwa kami adalah umat yang semakin bertumbuh imannya dalam posisi sebagai minoritas. Dalam lorong-lorong katakombe di bawah kota Roma, kami lebih menghayati ajaran suci kami, dibandingkan di atas kuda-kuda perang yang berderap ke Tanah Suci untuk berperang dengan para leluhur Pak Menteri.

Di negeri ini, kami sudah biasa hidup sebagai minoritas. Kami sudah biasa hidup dalam 'lingkungan yang beragam', yaitu lingkungan yang dikelilingi orang-orang yang 'berbeda identitas' dengan kami, bersekolah dan bekerja di tengah orang-orang yang 'berbeda identitas' dengan kami, meskipun kami tidak pernah tahu apakah orang-orang itu akan terbiasa juga dengan kehadiran kami.

Kami setiap hari sudah biasa mendengar kerasnya azan dari masjid terdekat yang jaraknya hanya ratusan meter dari rumah kami, sementara kami harus beribadah menempuh jarak beberapa kilometer atau bahkan harus patungan menyewa ruko dengan alasan bahwa "rumah ibadah tidak bisa didirikan di suatu tempat yang tidak cukup jumlah penganutnya" (lantas apakah kami harus tinggal di satu ghetto eksklusif, agar bisa punya rumah ibadah dengan lancar?)... namun demikian kami tidak pernah terpikir untuk pindah agama saja hanya karena tempat tinggal kami dikelilingi beberapa masjid, meskipun katanya ada yang ketakutan terancam pindah agama hanya karena di tempat tinggalnya baru berdiri satu gereja.

Kami hanya diam ketika mendengar setiap hal ini itu dilabeli sebagai Kristenisasi, meskipun menurut kami kostum Sinterklas sama kadar kekristenannya dengan kadar keislaman dari ketupat Lebaran.

Kami hanya senyum-senyum pahit saja ketika orang menganggap bahwa kami senang dan memaksa diberi ucapan selamat pada hari raya kami, padahal kami sendiri tidak pernah merasa meminta diberi ucapan selamat dari orang yang tidak merayakan (makna dari hari raya itu sendiri sudah lebih dari cukup untuk kami bersukacita, tanpa perlu tambahan ucapan selamat dari orang lain).

Kami hanya pasrah ketika pengeboman gereja-gereja dianggap dilakukan oleh 'oknum', sementara ketika ada gubernur Kristen yang 'membongkar masjid' (padahal direnovasi atas permintaan pengurusnya sendiri), semuanya berteriak 'konspirasi minoritas dengan asing aseng'.

Dan sekarang ini, Pak Menteri yang baik, jika anda berpikir bahwa ada "tata cara dominan agama tertentu dalam proses belajar mengajar" yang akan "membuat siswa penganut agama lain menjadi tidak nyaman", dengan percaya diri dan lantang kami akan mengatakan seyakin-yakinnya : para orang tua kami sangat mampu untuk mendidik anak-anaknya dalam iman, agar tidak berpindah keyakinan hanya karena melihat teman-temannya berdoa dengan cara yang berbeda setiap harinya.

Karena menurut ajaran kami, kami telah ditebus dengan harga yang termahal, sehingga tidak ada alasan untuk menggadaikan keselamatan itu sama sekali, dengan harga apapun juga. Hanya masalah doa di sekolah? Itu masalah keciiiil.

Jadi tolonglah, Pak Menteri, janganlah terlalu mengurusi hal-hal ini. Saya tahu, bos Pak Menteri sedang sibuk dengan segala pencitraannya, dengan (saya harap) hanya satu tujuan : mendapatkan kepercayaan rakyatnya, agar program-program yang dianggapnya bermanfaat bagi bangsa ini bisa dijalankan dengan mulus dan didukung penuh.

Jadi sekali lagi tolonglah, Pak Menteri, jangan rusak usaha tersebut, hanya untuk suatu hal yang mungkin Pak Menteri pikir sebagai suatu aksi membela kaum minoritas.

Karena kami tidak perlu dibela.

Karena ada tertulis, tahan uji menimbulkan pengharapan.




Jakarta, 9-10 Desember 2014
Kristen 100%
Indonesia 100%



.

Rabu, 16 Juli 2014

Rose and Chamomile

[1]
Just across the north sea she lies still, my first and utmost obsession.
Fiery, blazing scarlet adorns her perfectly; both arousing and burning.
The world's center of attention, the envy of all nations.
Her red, warmth for her fellows, fury for those she despises.

So close by distance, yet firmly untouchable;
with her mighty armada fiercely guarding
every inch of waters between us, and shouting:
"Never again you shall pass, never again!"

That defines her position: within my sight, out of my reach.
Now we're just exchanging explosive-loaded rockets
and sending heavy bombers over each other;
with a woeful outcome: devastating without conquering.


[2]
There on a far away eastern land, she reigns proud and haughtily.
White is her colour, white as her winter; pure and serene, they say.
Is purity a rejection for outsiders? Does serenity hide her vast army?
A perfect disguise and protection, for she is coveted by many.

Her winter staves off any invaders,
freezing them before the truth starts to hurt;
the bitter truth when they feel they've won,
to know that in fact they are actually hopeless.

But uncharted as it seems, my confidence keeps telling me:
"You will know the path! You can race the winter!"
And here am I, stuck inside her cold nights;
resigned my fate to her mercy.



[3]
Oh boy, tell me how silly I am.
Who send me to my own death?
Nobody here to blame, only myself.
With limited resources and fake self-belief,
I throw myself deep down the abyss of life;
by opening not one, but two deadly fronts.
 


14. bis 15. Juli 2014
Feldmarschall von Liebeskrank









For you who haven't get the references on the title yet; rose is the national flower of England, while chamomile is the national flower of Russia. For another references appeared, you may want to discover by yourselves.


.

Minggu, 29 Juni 2014

Darah Garuda

Siapa yang berani menikamnya?
Dia terkapar
Berlumur darah
Sirna keemasannya
Sirna warna warninya

Bandung-Jakarta

28-29 Juni 2014

Selasa, 24 Juni 2014

Kumpulan Lawak dan Satir Pilpres 2014


 Salam pilpres! Berikut ini saya berikan kompilasi status facebook saya selama periode pilpres 2014 yang isinya barang-barang abstrak nggak jelas. Akan terus diupdate sampai tanggal 9 Juli 2014 jika ada yang baru. Silakan meringis dan meratapi pilihan anda jika kebetulan berbeda dengan saya! Salam satu batang, salam dua biji! #eh


ANJING MENGGONGGONG KAFILAH NGIBRIT

Alkisah suatu hari, di ujung sebuah gang buntu mepet jurang pinggir kali.

Panjul: "Dasar penyakitan! Pake baju lengan panjang terus, pasti pundak sampeyan kudisan! Selangkangan sampeyan juga pasti kudisan!"


Jambrong: "Ayo kalau berani kita medical check up lah. Lagian ngaca dong, situ malahan jidatnya yang panuan, kukunya cantengan, mukanya bopengan, matanya picek..."


Panjul: "Eh, udah dong, kenapa malah jadi bawa-bawa fisik! Dasar preman nggak beradab, bisanya maenan fisik doang!"

#kehedsiah #ngunyahsendok #gigirontok



APALAH ARTI IDEOLOGI

Acara nonton bareng final Liga Antah Berantah antara Jamban FC dan Pispot FC.

Jambanholic: "Pokoknya saya nggak mikir menang kalah, yang penting itu tim saya itu selalu main cantik, sepakbola indah! Nggak kayak tim kamu, yang bisanya selalu cuma 'park the bus' doang!"


Pispotmania: "Alah, palingan juga nggak pede sama kemampuan tim sendiri, belum mulai tanding aja udah nyari alasan kalau kalah! Tim saya itu bukannya nggak bisa nyerang, tapi 'bertahan indah', bukan main serang nggak pake otak!"

Pertandingan berakhir mengejutkan: skor 3-1 bagi Jamban FC dengan ball possession hanya 22% dan shot on goal hanya 2 (satu gol lagi adalah gol bunuh diri dari pemain Pispot FC).

Pispotmania: "Kemenangan bukan segalanya. Ada yang lebih penting dari itu, yaitu niat bermain sepakbola. Terlihat jelas mana tim yang niat menang dan yang cuma 'park the bus'."
 

Jambanholic: "YEEEEY GUA MENANG! GUA MENANG! POKOKNYA GUA MENANG! PERSETAN SEPAKBOLA INDAH!"

#FansLogic
#FakLojik



NETRALITAS SEMU

Tahun 2013. Si Japra lagi ngegeje di kantor sambil browsing-browsing situs geje macam Soccer Memes dan Goal Dot Com.

"Ronaldo belagu, Ronaldo sok ganteng, Ronaldo tukang diving kayak banci, Ronaldo selamanya cuma bisa jilat sepatu Messi, Ronaldo tampang maho, di saat Ronaldo sibuk ngiklan sampo, Messi sibuk menang 4 Ballon d'Or, dasar Gaynaldo, dasar Penaldo..." Japra terus membaca berbagai jenis komen sampah yang ada di suatu artikel.


"Kenapa ya gara-gara pemain bola doang, orang mulutnya bisa jadi kotor begitu, asal njeplak, ga pake logika, kayak orang nggak berpendidikan aja... Belom tentu juga semua yang ditulis itu bener, kok ini fans satu tim bola udah kayak ngerasa pemilik dunia aja." keluh Japra dalam hati, sambil bertekad menuangkan suara dalam hatinya itu ke dalam sebuah wadah implementasi berupa status facebook.

Saat kemudian Japra membuka facebooknya, tiba-tiba muncul satu notif. Ternyata Jimbrong, teman sekantornya, ngeshare satu link berita (mungkin ini kantor lagi geje banget kali ya, pada facebookan semua karyawanya). Judulnya "Messi called to court over allegations of tax evasion". Tambahan komen dari Jimbrong: "Lagaknya sok suci, eh gak taunya nilep pajak juga. Mendingan Ronaldo, Ballon d'Or cuma 1, tapi ga perlu sampe ngambil duit pajak buat nambah beli 3 biji lagi, he he he".

"Bener juga ya, setuju sekali, Messi tidak sesempurna yang para fansnya pikirkan, gak taunya cacatnya gede juga." gumam Japra dalam hati setelah membaca share dari Jimbrong tersebut. Tentunya, suara dalam hatinya kali ini tidak akan ia jadikan status facebook.

#Repleksi
#FakLojik
#FansLogic
#SilentFans

Disclaimer: tidak ada Barcelonista dan Madridista yang disakiti (dan saya harap tidak ada yang merasa disakiti) dalam pembuatan satir ini. 



DI MANA JELATA DIINJAK, DI SANA PRABU DIJUNJUNG

Di suatu SMA pinggiran ibukota. Puluhan siswa berkerumun menonton adu mulut dua orang siswa yang akhirnya berujung pada perkelahian. Atau lebih tepatnya, menonton Paijo memukuli Juki sampai babak belur.

Eko bergumam "Anjir, lemah banget si Juki. Digebukin abis-abisan sampai gak bisa ngelawan gitu. Cowok bukan sih? Berantem aja kagak bisa, ckckck".

Gondo yang ada di sampingnya diam saja, tak berkomentar.

Seminggu kemudian...

Kembali terjadi adu mulut yang berujung perkelahian. Kali ini Juki, yang ternyata selama seminggu itu belajar pencak silat di padepokan silat Bang Ali, menjadikan Paijo bulan-bulanan.

Gondo melirik Eko, seakan ingin menanyakan sesuatu.

Eko balas menatap Gondo dengan muka serius, kemudian berkata dengan suara dalam "Lihat, itu si Paijo benar-benar gentleman sejati. Dia bisa saja memberi pukulan telak kalau dia mau, tapi dia memilih mengalah. Luar biasa."

Gondo hanya bisa melongo, dan beberapa saat kemudian menyilangkan satu jarinya di jidat.

#MataLuPicek #SalamJariTengah




.

Kamis, 03 April 2014

Turun Tangan, Sebuah Unjuk Rasa

Ada sebuah teori yang dulu pernah saya dengar di zaman purbakala, saat saya masih jadi mahasiswa di sebuah kampus di mana para penghuninya amat hobi melontarkan berjuta teori luar biasa (alias, di luar kebiasaan, atau terkadang gila). Teori ini terkait demonstrasi atau unjuk rasa.

Jadi menurut yang empunya teori (maaf lupa siapa, atau mungkin bahkan saya sendiri yang mengeluarkannya? maklumlah sudah lama sekali), ada tiga manfaat dari orang berdemonstrasi atau berunjuk rasa:
1. Mengupayakan tercapainya tuntutan.
2. Membuat pernyataan sikap ke khalayak ramai.
3. Memperkuat sikap dan keyakinan sendiri.

Contohnya dengan ilustrasi yang sangat sederhana, saat ada demonstrasi anti koruptor di depan KPK, sang demonstran harusnya mengharapkan (1) koruptor yang didemo menerima hukuman seberat-beratnya sesuai kejahatannya, (2) mereka terlihat oleh masyarakat sebagai pihak yang anti korupsi, dan (3) diri mereka sendiri tambah sadar dan teguh keyakinannya bahwa korupsi itu adalah sungguh perbuatan yang buruk sehingga pantas didemo, sehingga ke depannya kelakuan mereka pun akan mencerminkan keyakinan itu, seperti tidak akan korupsi atau akan berusaha memberantas korupsi sesuai lingkupnya masing-masing.

-----------------------------

Pemilu 2014 sudah makin dekat. Dan bagi saya pribadi, saya berharap bahwa jika saya memilih dalam pilpres nanti, bukan hanya sekadar kegiatan mencoblos suatu nama atau wajah di atas kertas dalam bilik tertutup, tapi juga sebuah unjuk rasa. Sebuah demonstrasi politik.

Dimulai dari pikiran inilah, saya mulai tertarik kepada salah satu (bakal) calon presiden. Oh iya, terkait Pemilu Legislatif (yang akan dilaksanakan lebih dahulu), itu bahasan terpisah, tetapi jujur saya memilih membahas Pemilu Presiden terlebih dahulu, just for the sake of which is the more interesting for myself between those two. Sorry, personal standpoint.

Kembali ke sang (bakal) calon presiden yang gagasannya telah berhasil memancing perhatian saya. Beliau adalah Anies Baswedan, salah satu peserta konvensi calon presiden dari Partai Demokrat. Tidak, saya rasa tidak perlu saya uraikan tentang beliau, betul?

Karena tanpa perlu saya ulangi eksposisi panjang lebar tentang gagasan beliau, tentang bagaimana elaborasi dari konsep Turun Tangan yang menjadi jargon beliau... ada banyak relawan beliau, relawan-relawan Turun Tangan (yang saya sangat salut, karena mereka merupakan salah satu kelompok paling militan yang saya lihat di kancah perpolitikan nasional saat ini, dalam mengusung calon presiden yang didukung sekaligus juga mampu memahami dan siap mengeksekusi gagasan yang dibawa oleh calonnya) ... yang lebih jago menjelaskan tentang semuanya itu. Misalnya saja artikel yang ditulis oleh rekan Pandji Pragiwaksono yang menurut saya sudah sangat cukup menggambarkan. Kalau belum kenyang juga, silakan berkeliling ke link-link (oh shit, I think I just made an unintended pun) di bagian akhir tulisan ini.

Saya hanya ingin menyampaikan, jika seandainya beliau memenangkan konvensi calon presiden Partai Demokrat dan saya (pasti akan) memilih beliau di Pilpres, maka itu adalah sebuah demonstrasi politik dari diri saya. Sebuah unjuk rasa.

Tentunya dengan memilih beliau saya berharap beliau menang dan terpilih menjadi Presiden Republik Indonesia (sudah jelas!).

Namun, dengan pilihan saya tersebut, saya juga ingin menyampaikan kepada semua orang tentang apa yang saya lihat, apa yang saya harapkan, dan apa yang ingin saya lakukan untuk negara ini. Dan juga tentang konsep Turun Tangan, yang sendirinya adalah merupakan konsep sebuah unjuk rasa. Bahwa setiap tindakan merupakan pengingat akan kapabilitas diri, sekaligus ajakan bagi orang-orang lain untuk ikut bertindak.

Dengan mendukung konsep Turun Tangan, saya ingin mewartakan bahwa rakyat bukan hanya berhak berharap, namun juga diberi arahan dan semangat untuk mampu mewujudkan harapan itu, bersama-sama, serempak serentak, masif dan sinergis.

Bahwa negara ini tidak akan besar jika suara rakyatnya bisa dibeli dengan harga semurah sehelai kaos oblong bersablon dan selembar limapuluhribuan yang terselip dalam bingkisan sembako serangan fajar. Bahwa rakyat yang ingin bangsanya maju, bisa mengawali langkahnya dengan keseriusan dalam memilih pemimpinnya.

Bahwa semua orang boleh berharap KKN akan hapus dari bumi Indonesia, dan bahwa semua orang harusnya sadar masing-masing dari kita bisa membantu mewujudkan hal itu... atau juga bisa membantu memperparahnya, baik dengan aktif maupun dengan diam.

Bahwa semua orang yang percaya bahwa akar masalah bangsa ini ada pada pendidikan, yang percaya bahwa pemerintahan harus bersih dari politisi-politisi busuk, yang percaya bahwa Indonesia harus berdaulat penuh atas pengelolaan dan pengusahaan seluruh sumber daya dari alamnya yang kaya raya, yang percaya bahwa kesenjangan sosial harus diberantas, yang percaya bahwa pemerataan pembangunan dari Sabang sampai Merauke harus ditegakkan, atau bahkan yang sekedar ingin agar dirinya dan keluarganya bisa bebas dari jurang kemiskinan; sesungguhnya dapat berperan besar dalam mewujudkan semua hal tersebut.

Bahwa anggapan akan rusaknya kondisi bangsa ini bukan alasan bagi rakyat kecil untuk berhenti berharap, bahwa kita semua, ya, semua dari kita masih bisa melakukan sesuatu agar bangsa ini bisa merangkak keluar, lepas landas, dan terbang tinggi... dengan keyakinan bahwa di sekeliling kita, jutaan orang sedang bergerak ke arah hal yang sama, tanpa saling menjatuhkan seperti kepiting dalam periuk.

Bahwa baik buruknya negara ini ada di tangan rakyatnya, sebagaimana esensi demokrasi. Bahwa sebagaimanapun keadaan, jika kita telah berusaha untuk turun tangan memperbaikinya, maka kita akan menganggap wajah negeri kita saat itu sebagai hasil karya tangan kita sendiri, dan kita akan tersenyum karenanya... dan bahwa kita pantas berharap bahwa senyum itu akan menjadi senyum universal ketika kita tahu, segenap negeri ini dipenuhi oleh orang-orang yang telah berusaha, dan telah tersenyum.

Bahwa jikalau seandainya memang Ratu Adil itu benar-benar ada, saya menganggap pastilah ia bukan superman atau penyihir yang bisa sendirian memusnahkan segenap kejahatan di negeri ini; tetapi adalah pemimpin yang, sesuai dengan sebutannya, mampu menempatkan rakyatnya berpartisipasi aktif dalam memajukan negerinya sesuai dengan posisi dan potensinya masing-masing.

Bahwa selagi menunggu datangnya pagi, dalam kegelapan kita bisa menyalakan lilin, senter, petromak, obor, lampu hape, lampu halogen, lampu sorot, atau penerangan apapun yang ada di tangan kita.

Dan, sebagai manfaat ketiga dari unjuk rasa politik saya itu, dengan mendukung konsep Turun Tangan sesungguhnya saya sedang berteriak pada diri saya sendiri: "kamu bisa, akan, dan harus melakukan sesuatu yang besar bagi negaramu; kamu bisa, akan, dan harus memajukan negaramu tidak dengan hanya menungggu karya tangan orang lain, tetapi juga dengan Turun Tangan, karena kamu tahu dengan pasti apa yang tanganmu bisa berikan bagi negara ini...!"

Bahwa dengan kapabilitas kita, dengan kapabilitas bangsa Indonesia, sudah seharusnya setiap dari kita mulai Turun Tangan, bukan hanya urun angan.

Itulah yang akan menjadi unjuk rasa saya kelak, ketika seorang Anies Baswedan kelak maju menjadi peserta Pilpres 2014. Dan jika seandainya memang beliau gagal untuk lulus konvensi... maka curahan pikiran dalam lamunan tengah malam inilah yang menjadi demonstrasi, menjadi unjuk rasa politik saya, tentang harapan akan Indonesia yang lebih baik sebagai hasil dari segenap rakyatnya yang turun tangan.




“Schweigen im Angesicht des Bösen ist selbst böse: Gott wird uns nicht als schuldlos betrachten. Nicht zu sprechen ist sprechen. Nicht zu handeln ist handeln” (Silence in the face of evil is itself evil: God will not hold us guiltless. Not to speak is to speak. Not to act is to act.)
- sepenggal dari surat Dietrich Bonhoeffer, teolog Jerman yang turun tangan menentang NAZI, saat menunggu hukuman matinya di dalam penjara -



Silakan lihat situs resmi Anies Baswedan
dan facebook Anies Baswedan
dan channel Youtube Anies Baswedan.



.

Sabtu, 08 Maret 2014

Masterpiece

Sebulan yang lalu, saya dan beberapa orang rekan bertemu dengan Ir. Triharyo Soesilo, alumni ITB angkatan 77, dalam rangka untuk mengundang beliau dan beberapa rekannya untuk mengisi sesi berbagi ilmu dan pengalaman kepada alumni-alumni Teknik Kimia ITB yang masih berasa muda (more on this later).

Ada sepotong percakapan dengan beliau yang sangat mengena bagi saya, karena entah kebetulan atau memang begitulah seharusnya, yang beliau katakan sangat menjawab isu yang seringkali saya debatkan dengan rekan-rekan saya: apa artinya menjadi seorang alumni ITB.

Berikut kira-kira kata-kata yang beliau sampaikan kepada kami waktu itu:

"Saya kasih tahu ya, kalau keinginan kamu itu sekadar: punya rumah, punya mobil, dan menyekolahkan anak di sekolah yang baik; kalau cuma itu aja, percayalah, untuk lulusan ITB, minimal semuanya itu pasti bisa terpenuhi, kecuali memang dia (maaf) melakukan kesalahan sangat bodoh dalam hidupnya. Jadi tidak perlu khawatir.

Sisanya, kita harus mengejar pencapaian masterpiece kita masing-masing: hal a
pa yang membedakan kita dengan orang lain, pencapaian terbesar yang kita bisa banggakan. Jadi direktur, jadi orang kaya, belum tentu bisa disebut masterpiece; warna apa yang bisa kamu berikan?

Jadi sekali lagi, saya ulangi; kalau kamu cuma ingin rumah, mobil, bisa nyekolahin anak; nggak usah dikejar, untuk lulusan ITB, itu semua pasti dapat. Maka dari itu, jangan takut untuk mengejar cita-cita, masterpiece kamu.
"

Kalau orang luar saat membaca ini mungkin menangkapnya anak ITB kok sombong sekali, ya nggak? (silakan untuk referensi baca artikel-artikel bernada sejenis yang banyak sekali tersebar di internet)

Sementara beberapa anak ITB mungkin malah berpikir bahwa kata-kata ini membuat terlena dan menjadikan orang malas dalam bekerja, ya nggak?

Tapi kalau buat saya, sama seperti menyikapi jargon "putra-putri terbaik bangsa", kata-kata Pak Hengki ini justru mengingatkan saya bahwa semuanya itu berimbang: ada privilege, ada demand; ada advantage, ada challenge; ada benefit, ada responsibility.

Ketika (katanya) nikmat hidup itu lebih mudah didapat, berarti kekuatan kita, modal kita, masih berlebih, masih 'bersisa'; syukurilah advantage yang kita dapat, dengan cara bagaimana?

Dengan berani mengejar hal yang lebih, tidak hanya mengejar kecukupan materi (yang katanya mudah terpenuhi itu), mimpi yang bermanfaat buat orang banyak, yang memberi warna pada dunia; kontribusi yang menjadi landmark kita; menjadi MASTERPIECE.
 

Apakah lebih sombong punya mimpi untuk menjadi bermanfaat bagi banyak orang dengan keunikan potensi dan kelebihan dari masing-masing diri kita sendiri; dibandingkan punya mimpi 'hanya' jadi orang kaya, punya karir sukses, dan hidup kecukupan, seperti manusia pada umumnya? (kalau menurut saya itu mah bukan mimpi, tapi memang keinginan setiap manusia, untuk hidup enak, yang biasanya ya selalu dikejar, baik mimpi atau bukan)
 
Ya, kalau karena berani mengejar mimpi besar itu, anak ITB dibilang sombong; saya bangga jadi lulusan ITB yang sombong.

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater.







Minggu, 02 Maret 2014

Empty, Half, and Full

Tiga orang yang sedang bertarung di pemilihan untuk memperebutkan suatu jabatan publik, mendapatkan sebuah pertanyaan di suatu acara debat.

"Jika anda terpilih, apakah anda akan mengadakan syukuran atau perayaan, dan apa alasannya?"

Calon pertama menjawab: "Tentu saja, karena kemenangan itu sesuatu yang patut dirayakan."

Calon kedua menjawab: "Tidak, karena menurut saya, mendapatkan jabatan ini berarti mendapat tanggung jawab dan beban yang besar, sebagai pelayan masyarakat; ini adalah kewajiban dan bukan kemenangan, bukan sesuatu yang harus disambut dengan perayaan."

Calon ketiga: "Ya, karena menurut saya, mendapatkan jabatan ini berarti mendapat tanggung jawab dan beban yang besar, sebagai pelayan masyarakat; saya akan sangat berterima kasih jika mendapat kesempatan lebih untuk bermanfaat bagi banyak orang, sesuai cita-cita saya. Sungguh, menerima kesempatan besar untuk bermanfaat bagi masyarakat luas ini adalah kebanggaan dan anugerah bagi saya, maka tentu saja saya akan merayakannya."

================================

Dulu, ketika saya kuliah, di semester 4 ada sebuah mata kuliah bernama Neraca Massa dan Energi. Berikut ini adalah peristiwa yang benar-benar terjadi di saat ujian tengah semester. Pada ujian itu, ada sebuah soal yang sangat panjang, dengan penjelasannya memakan tempat setengah lembar soal, dan porsi nilainya adalah sekitar 30-40% dari nilai total ujian tersebut; di mana kita ditugaskan untuk menghitung neraca massa di serangkaian unit operasi yang terdiri dari (kalau tidak salah) lebih dari 3 unit operasi dan 10 aliran. In short, rumit dan berbahaya.

Berikut ini adalah ilustrasi bagaimana beberapa rekan saya menjawabnya.

Rekan pertama, karena pusing, menjawab bahwa soal tidak bisa dikerjakan.

Rekan kedua menghabiskan waktu hampir sepanjang ujian untuk menyelesaikan soal itu, namun sampai waktu habis, dia belum sampai ke jawabannya.

Rekan ketiga, setelah melakukan perhitungan tahap pertama, menemukan bahwa analisis derajat kebebasan (ADK) sistem tidak sama dengan nol, sehingga soal tidak dapat dikerjakan (dalam ilmu neraca massa dan energi, syarat soal dapat diselesaikan adalah ADK = 0, tidak kurang dan tidak lebih). Rekan ini mendapat nilai penuh untuk nomor tersebut.

================================

Dalam suatu episode Detektif Conan, ditemukan mayat seorang korban pembunuhan di WC umum. Di lokasi kejadian, juga nampak noda darah berbentuk huruf S. Para tersangka terdiri dari empat orang rekan korban dari klub menembak.

Kogoro Mouri berpendapat bahwa pelaku adalah salah satu rekan korban, yang bernama Sano. Alasannya tidak perlu dipikirkan lagi, huruf S ditulis korban dengan darahnya sendiri sebagai pesan kematian yang menandakan Sano adalah pembunuhnya.

Inspektur Megure, setelah memperhatikan tanda-tanda yang ditinggalkan di lokasi, membantah pendapat tersebut. Menurutnya, tanda S yang ditinggalkan adalah trik dari pelaku sebenarnya untuk menuduh Sano sebagai kambing hitam.

Singkat cerita, pada akhirnya, Conan memecahkan kasus ini. Pelakunya adalah benar Sano yang ternyata, dalam kesimpulan yang dijelaskan, dengan sengaja menuliskan inisialnya sendiri di tempat kejadian agar terhindar dari tuduhan (dengan trik reverse psychology).

================================

Ada sebuah cerita humor yang, entah benar atau tidak, sering dikaitkan dengan tokoh Nasruddin Hoja. Dalam kisah ini, Nasruddin Hoja muda sedang duduk-duduk santai di depan rumahnya ketika tetangganya, seorang saudagar yang kaya raya, lewat dan menyapanya.

"Wahai Nasruddin, apakah gerangan yang sedang kau kerjakan di depan rumahmu itu?" tanya sang saudagar.

"Wahai tetanggaku yang baik, sesungguhnya aku sekarang sedang bersantai, menikmati hidup." jawab Nasruddin.

Sang saudagar menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban pemuda Nasruddin dan kemudian berkata "Wahai Nasruddin tetanggaku, tidakkah pernah terpikir bagimu untuk mengerjakan sesuatu, yang tidak hanya bermalas-malasan seperti yang engkau lakukan sekarang ini? Tidakkah engkau pernah berpikir, misalnya, untuk melakukan hal yang bermanfaat, seperti memelihara beberapa ekor ayam?"

"Apa untungnya itu bagiku?" tanya Nasruddin sambil tersenyum polos.

Sang saudagar menjawab "Kau bisa menjual telur yang dihasilkan ayam-ayam itu, dan mendapatkan uang. Atau, kau bisa menetaskan beberapa telur dan memelihara lebih banyak ayam, lalu menjual sebagian ayam-ayam itu, dan mendapatkan uang lebih banyak lagi!"

"Lantas apa untungnya bagiku?" tanya Nasruddin kembali, masih tersenyum.

Sang saudagar menjelaskan "Dengan uangmu itu mungkin kau bisa membeli ternak yang lebih besar, seperti kambing atau sapi; kau bisa menjual susunya dan mendapatkan lebih banyak uang, lalu dengan uang itu kau bisa membeli lebih banyak ternak lagi, dan kau akan mendapatkan uang jauh lebih banyak lagi!"

"Lantas apa untungnya bagiku?" kembali Nasruddin mengulangi pertanyaannya.

Sang saudagar menatap Nasruddin keheranan, lalu menjawab lagi "Kau bisa memiliki beribu-ribu ternak, dan bahkan kau bisa menggaji orang untuk mengurusi ternak-ternakmu itu, dan pada akhirnya kau bisa menjadi peternak dan saudagar yang kaya raya!"

"Lantas apa untungnya bagiku?" tanya Nasruddin lagi.

Akhirnya sang saudagar meledak dan berteriak "Apa yang kukatakan masih kurang jelas? Kau bisa jadi orang kaya, punya uang banyak, dan tidak usah bekerja keras lagi seumur hidupmu! Setelah kau jadi orang yang kaya raya, kau bisa bersantai sepanjang yang kau mau, menikmati hidup dengan duduk-duduk seenakmu di depan rumahmu sambil menikmati pemandangan sampai puas!"

Nasruddin manggut-manggut. "Jadi, aku harus mulai bekerja keras sepanjang hidupku, supaya nanti setelah aku bekerja keras, aku jadi bisa duduk-duduk di depan rumahku, bersantai menikmati hidup?" tanyanya.

"Ya!" teriak sang saudagar, puas.

Nasruddin Hoja tersenyum, dan berkata "Menurutmu, apa yang sekarang sedang kulakukan?"

================================


Sekian renungan abstrak saya di Minggu sore, yang berisi tiga cerita pendek nggak jelas dan satu cerita lawak. Izinkan saya menutup renungan ini dengan kutipan yang ditenarkan di generasi saya oleh biksu Tong Sam Cong, "hampa adalah isi, isi adalah hampa", dan dengan kutipan yang bersumber dari pemikiran dan pengalaman saya sendiri:


Sometimes, what separates little and great minds are the reason only, with the mediocre minds often are in the opposite corner.


 




.

Minggu, 27 Oktober 2013

Positive Sum Game

Di suatu sore yang berhujan, setelah terkurung dalam kamar membaca sekilas apa yang tampak di beberapa social network saya, tiba-tiba muncullah urgensi untuk mengosongkan pikiran dengan menumpahkan isinya ke dalam suatu tulisan singkat saja... tentang transaksi, uang, dan manfaat. Selamat membaca.

=======================

Tulisan ini berbicara soal transaksi. Pertukaran sumber daya. Transaksi pada mulanya memiliki tujuan untuk pemenuhan kebutuhan. Prinsipnya, transaksi dilakukan untuk saling memenuhi kebutuhan dengan cara saling menukar sumber daya yang dimiliki sehingga pihak-pihak yang bertransaksi saling terpenuhi kebutuhannya. Si A punya X dan butuh Y, si B punya Y dan butuh X, jadilah si A dan si B bertransaksi menukar X dan Y, sehingga keduanya mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Kebutuhan mereka terpenuhi.

Pertukaran semacam itu terjadi pada apa yang kita sebut sekarang sebagai zaman barter. Lalu dunia berkembang, jumlah dan jenis kebutuhan hidup orang semakin banyak, pasar pun semakin rumit, dan muncullah uang untuk mempermudah transaksi.
Pada hakikatnya, yang terjadi tetaplah pertukaran untuk pemenuhan kebutuhan, dengan sesuatu bernama uang sebagai perantara untuk menyederhanakannya. Ya, begitulah, dengan uang ataupun tanpa uang, bagi saya prinsip transaksi tetaplah sama: saling memenuhi kebutuhan. Apa arti dan konsekuensinya?

Ini berarti, ketika saya mendapatkan sesuatu, saya harus memberikan manfaat, yang setara dengan manfaat yang saya dapatkan. Ini berarti, ketika saya menjual barang dengan harga mahal, barang itu harusnya memang sebegitu bermanfaatnya hingga harga barang itu memang cocok dengan nilai kontribusinya bagi dunia ini. Ini berarti, ketika saya digaji dengan mahal, kemampuan yang saya berikan harusnya memang sebegitu bermanfaatnya hingga nilai gaji itu memang cocok dengan nilai kontribusi saya bagi dunia ini.

Maka, arti dari prinsip ekonomi "memperoleh untung sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya", adalah bagaimana kita mencari jalan yang mudah untuk mendapatkan barang atau jasa yang sebenarnya bernilai tinggi, untuk kemudian kita jual dengan nilai yang tinggi, sehingga kita memperoleh keuntungan darinya.

Tapi BUKAN, sama sekali BUKAN dengan hanya mengemas barang/jasa yang aslinya memang tidak ada nilainya, menjadi seolah-olah bermanfaat dan pada akhirnya membuat orang menjadi membayar (se)mahal (itu) untuk sesuatu yang tidak (se)bermanfaat (itu).

Ketika saya mendapatkan sesuatu jauh lebih banyak daripada nilai manfaat yang saya berikan kepada orang lain, itu bukan berdagang. Itu namanya pencurian, perampokan, penipuan.

Dengan demikian, sebenarnya kita sudah menyalahi hakikat dari transaksi itu sendiri ketika kita melakukan hal-hal seperti berdagang kucing dalam karung (berusaha menipu pembeli dengan menjual barang yang sebenarnya nilai manfaatnya jauh di bawah harga jualnya) atau makan gaji buta (dibayar jauh lebih tinggi daripada manfaat yang diberikan kepada orang yang membayar anda)... atau contoh-contoh lainnya yang lebih luas dari itu, seperti menjual barang yang malah memiliki efek destruktif atau bekerja pada pekerjaan yang malah membawa keburukan bagi masyarakat.

Ketika kita berbicara soal uang dan manfaat, akan ada lebih banyak referensi yang membahas soal apa manfaat uang kita, alias manfaat apa yang bisa kita dapatkan dengan sekian jumlah uang. Tetapi jarang yang membahas soal sisi satunya lagi: apakah ketika kita mendapatkan sekian jumlah uang itu kita sudah memberi manfaat? Mungkin inilah kesalahan dunia yang pragmatis dan mengesahkan sikap egosentris; hanya berpikir tentang apa manfaat yang bisa kita peroleh, tanpa berpikir manfaat apa yang bisa kita berikan. Padahal dalam transaksi, ada dua pihak yang saling bertukar sumber daya. Dan seharusnya ada dua pihak yang mendapat manfaat. Ada dua pihak yang saling terpenuhi kebutuhannya.

Transaksi adalah pertukaran manfaat, bukan sarana penipuan. Janganlah bangga hanya karena bisa mendapatkan uang banyak. Atas setiap uang yang kita dapatkan, pertanyakanlah, apa saja yang sudah saya berikan sehingga saya pantas menerima uang ini? Dan mungkin beberapa dari kita akan tersenyum puas atas tumpukan uang yang kita peroleh, karena itu menggambarkan besarnya manfaat kita untuk dunia ini.

Karena kita hidup di dunia ini bukan untuk menumpuk harta, tapi untuk memberi manfaat, membuat dunia menjadi lebih baik.



Seberapa besar manfaat yang dapat anda berikan bagi dunia?




"Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah."
- Filipi 1:22a -





Regenstadt, 27 Oktober 2013
ditulis setelah minum Jawara - Jahe Warisan Nusantara
(tidak dibayar dengan uang untuk mengiklankan)


.

Senin, 16 September 2013

Rupiah Melemah, Dosanya Insinyur

Hari-hari terakhir ini masyarakat Indonesia dipusingkan dengan anjloknya nilai rupiah. Nilai rupiah terhadap dollar Amerika. Rupiah dan dollar adalah dua dari berbagai mata uang yang ada di dunia ini. Mata uang adalah alat bantu tak langsung yang digunakan untuk menilai barang, jasa, dan nyaris segala macam apapun yang ada di dunia modern ini. Jika mata uang diposisikan sebagai komoditas juga, maka penurunan nilai rupiah disebabkan oleh suatu 'tangan tak terlihat', konsep abstrak yang dipakai beberapa ekonom untuk menggambarkan mekanisme pasar.

Akibatnya tidak se-abstrak penjelasannya, tapi langsung terasa ke kehidupan: karena sedikit melemahnya mata uang nasional, kehidupan kita berantakan; harga-harga naik, orang makin susah hidup, orang makin tidak bahagia. Waktu saya kecil dulu, populer sekali istilah 'krisis moneter' yang mengubah arah gerak negara kita, hingga menggulingkan seorang presiden yang saking lamanya berkuasa, saya sampai mengira nama depan beliau "Presiden" dan nama belakang beliau "Soeharto". Jangan terlalu dipikirkanlah, otak anak kelas 4 SD...

Lantas mungkin ada yang berpikir, masalah ekonomi yang begitu pelik dan mengancam hajat hidup orang banyak ini, apa kaitannya dengan ilmu keteknikan, dan apa ada yang bisa dilakukan dari sisi keteknikan? Tentunya jawabannya ada dan bisa, karena kalau sudah bicara kondisi negara, semua disiplin ilmu itu saling terkait; dan ternyata bukan sekedar ada, tapi sangat erat kaitannya; bukan juga sekedar bisa, tapi juga bisa menjadi kuncinya. Bagaimana pula maksudnya? Kita cut aja intronya biar nggak lebih panjang daripada isi tulisannya (karena isi tulisannya sendiri singkat kok, orang cuma pendapat sepintas amatiran aja); begini ceritanya.

Sewaktu mahasiswa saya pernah menulis sebuah cerita semi-fiksi yang sebagian besar isinya adalah Author Filibuster dari hasil kontemplasi saya terhadap peran para insinyur dan ilmuwan-ilmuwan alam terhadap dunia ini, yaitu segalanya. Tergolong radikal dan provokatif serta keras campur narsis, karena memang saat itu ditulis untuk kalangan sendiri alias internal himpunan mahasiswa teknik kimia. Tetapi percayalah bahwa seperti spanduk "selamat datang putra-putri terbaik bangsa", tulisan itu dibuat bukan untuk bahan jadi sombong, tetapi justru untuk menyadarkan betapa berat jadi orang yang dikaruniai kemudahan untuk bisa (dan harus) menjadi manfaat bagi orang lain, masyarakat luas, bahkan bangsa dan dunia.

Oke maafkan saya jadi melantur lagi. Itu tadi masih masuk intro. Sekarang kita masuk ke dalam poin yang mau disampaikan.

Logika sederhana saya, yang pendidikan ekonominya hanya sebatas sampai kurikulum SMA dan sisanya empiris saja dari pengalaman hidup, adalah begini.

Nilai rupiah melemah adalah karena permintaan-penawaran, di mana dollar semakin jarang, sehingga untuk memperoleh sekian dollar dibutuhkan makin banyak rupiah.

Dollar semakin jarang, karena menurut prinsip neraca, jumlah dollar yang keluar dari Indonesia lebih sedikit dari jumlah dollar yang masuk. Ini berkaitan dengan fungsi dollar sebagai devisa, yaitu alat tukar yang umum diakui dalam perdagangan internasional.

Dollar yang masuk ke Indonesia adalah dollar yang didapat dari pihak luar negeri, dengan cara berdagang produk yang kita buat di dalam negeri yang dijual keluar dan dibayar dengan dollar, alias ekspor. Sementara dollar yang keluar dari Indonesia adalah dollar yang kita berikan kepada pihak luar negeri ketika kita membeli produk yang dibuat di luar negeri dan dibayar dengan dollar, alias impor.

Neraca dollar Indonesia secara sederhana adalah Akumulasi (jumlah dollar di Indonesia) = In -Out + Generasi. Karena Indonesia tidak mungkin membuat dollar (=Generasi), maka jumlah dollar di Indonesia berkurang, kata orang, karena jumlah dollar yang keluar makin banyak, alias impor makin banyak. Kalau kata orang lagi, dalam "Out" itu selain impor, ada lagi dollar keluar dalam jumlah besar yaitu untuk bayar utang luar negeri kita. Ya intinya yang "Out" itu makin besar kalau kata orang.

Nah. Ini dia. Kalau balik membahas masalah intinya yaitu kekurangan dollar, logika sederhana saya mengatakan bahwa masalahnya ya dua. Yang pertama seperti dikatakan orang: "Out"-nya membengkak, yang kedua yang orang sering lupa, "In"-nya tidak bertambah mengimbangi pertambahan "Out"!

Itu dari rumusnya. Nah kalau terjemahannya bagaimana? Terjemahannya, bangsa kita ini kebanyakan mengimpor dan terlalu sedikit mengekspor. Kalau mau diringkas lagi, kedua poin tersebut berarti: kurangnya kemandirian bangsa! Maksudnya bagaimana? Begini pemikiran sederhana saya.

Dari sisi kebanyakan impor, maksudnya adalah kita tidak bisa membuat barang-barang yang kita butuhkan sendiri. Sederhananya, tinjau saja kebutuhan dasar kita: pangan. Makanan pokok: nasi. Beras: impor. Kita sangat gemar makan roti dan mie, bahkan Indomie menjadi trademark kita di mata dunia, tetapi bahan bakunya yaitu gandum: 100% impor. Tahu tempe makanan nasional, bahkan identik dengan makanan semua rakyat termasuk rakyat kecil, tetapi bahan bakunya yaitu kedelai: 100% impor.

Sebagian besar bahan pangan yang sudah jadi bahan makanan lokal tak terpisahkan dari bangsa ini pun impor: bawang, cabe, sayuran, daging sapi plus pakan sapinya. Berarti bahan baku rendang, makanan khas Indonesia yang katanya juara 1 makanan terenak dunia, itu sebagian besar sudah impor! Padahal katanya negeri kita ini tanahnya subur makmur dan kaya, tapi untuk mengisi perut sendiri saja harus impor semua. Itu baru daratnya. Di laut, kita sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di dunia, terkenal pula sebagai salah satu importir garam terbesar.

Kebutuhan dasar lainnya: pakaian. Material baju yang kebanyakan adalah bahan sintetis, produk petrokimia, impor. Kemudian plastik, material dari sebagian besar bahan-bahan rumah tangga saat ini, impor. Sangat tidak respectable bangsa sebesar ini hanya punya pabrik plastik beberapa gelintir dengan kapasitas belum mencukupi kebutuhan. Itupun bahan baku pabrik plastiknya impor. Ya, minyak bumi, impor! Minyak bumi yang adalah darah peradaban modern! Belum cukup impor minyak bumi, bahkan untuk produk utamanya, bahan bakar, kita pun masih mengimpor sebagian. Perlu dijelaskan lagi arti vital bahan bakar cair (bensin, solar dst) alias saat ini BBM, di dunia modern ini? Rasanya sudah terlalu jelas.

Lalu beralih ke kebutuhan vital masyarakat modern lainnya. Bangunan, konstruksi, infrastruktur. Struktur dan alat berat. Baja 30% lebih impor, mesin-mesin impor semua mulai dari pompa air sampai turbin uap, padahal Indonesia kaya akan bijih besi, bijih nikel, dan insinyur mesin. Aspal untuk jalanan 50% lebih impor. Kendaraan semua merk asing, biarpun dimanufaktur di Indonesia tapi materialnya sebagian besar impor, termasuk mesin-mesinnya yang mahal.

Kemudian satu lagi nadi dari kehidupan modern: listrik dan telekomunikasi. Kabel listrik materialnya 40% impor padahal Indonesia salah satu produsen tembaga dan bauksit terbesar dunia. Apalagi yang namanya barang-barang mahal atau teknologi tinggi, wah hampir semua impor! HP, komputer, serta segala gadget dan alat elektronik lainnya. Di abad elektronik dan internet ini. Padahal Indonesia penghasil timah terbesar, dan dengan demikian berpotensi juga sebagai produsen rare earth element/LRE atau logam tanah jarang/LTJ terbesar.

Belum lagi jika kita bicara produk kimia. Untuk pengolahan bahan-bahan yang kita tidak impor, ternyata bahan-bahan kimianya impor! Katalis-katalis, enzim, pelarut, aditif, water treatment, koagulan, dan sebagainya. Bahan-bahan berharga selangit macam produk-produk farmasi termasuk obat-obatan pun sebagian besar impor. Termasuk kebutuhan pertahanan saja sebagian besar impor: senjata, amunisi, kendaraan tempur. Mau membangun industri pemroduksinya? Bah, alat-alat dan teknologinya pun impor semua.

Itu semua contoh bahwa kita sebagai bangsa yang besar (wilayah dan jumlah penduduknya, juga katanya sumberdayanya) malah tidak mampu memenuhi kebutuhan kita sebagai bangsa yang besar itu, sehingga hampir semua kebutuhan kita harus impor. Memang di era perdagangan bebas ini jual beli antarnegara adalah hal yang wajar, tetapi yang tidak wajar adalah kita membuang uang untuk membeli barang yang harusnya lebih murah kalau kita buat sendiri, dan juga membuang uang (opportunity loss) ketika kita menjual barang yang seharusnya bisa kita jual lebih mahal! Dan di sinilah masuk poin kedua: dari sisi kekurangan ekspor.

Jika tadi dilihat dari pembahasan soal kebanyakan impor, maka impor kita yang tidak perlu sebenarnya secara kasar dibagi menjadi impor bahan mentah yang kita tidak sanggup sediakan karena bobroknya sektor hulu, dan impor bahan turunan yang sebenarnya kita punya bahan mentahnya. Di sinilah, impor-impor yang tidak perlu ini sebenarnya bisa kita tutup dengan cara membetulkan sektor hulu (pertanian, perkebunan, perikanan, pertambangan dst) dan dengan mendirikan pengolahan bahan baku menjadi bahan turunan yang lebih mahal. Bahkan, kita pun bisa dan harus berubah dari importir menjadi eksportir untuk beberapa komoditas tersebut.

Kemarin, saya mengikuti diskusi kamisan yang diadakan di rumah alumni IA-ITB di Jakarta. Topiknya kebetulan menyinggung masalah industrialisasi ini, dibawakan oleh salah satu alumni TK ITB yang cukup ternama di dunia perindustrian Indonesia: Ir. Rauf Purnama (TK'62) yang track recordnya bisa dicari di google. Tema acaranya adalah "SDA, UUD 1945 Pasal 33, dan Kemakmuran/Kesejahteraan", materinya bisa dibaca di sini. Apa yang saya dapat?

Bahwa negara ini belum dalam menghayati pasal 33 UUD 1945 yang dicetuskan para pendiri negara sebagai dasar ekonomi nasional. Saya tidak akan bahas ayat per ayat karena menumpuknya penyelewengan di sana, tetapi kita tinjau ayat 3 seperti disorot Pak Rauf: "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat". Jika "Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya" kita artikan sebagai SDA (sumber daya alam, bukan menteri agama), maka menurut saya tafsiran dari "dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat" adalah dengan diolah secanggih mungkin menjadi barang yang semahal mungkin alias diberikan nilai tambah, bukan hanya diekspor begitu saja. Bingung? Begini.

Waktu saya SD, pemerintahan via pendidikan dan berita TV seolah-olah mendoktrin saya bahwa ekspor itu baik dan impor itu buruk. Ada benarnya juga, namun ternyata tidak semua ekspor baik. Seperti sudah saya jelaskan, ada 'opportunity lost' ketika kita mengekspor suatu barang dengan harga sangat murah, padahal hanya dengan diproses beberapa langkah, barang itu sudah jadi barang lain yang lebih mahal dan bisa kita jual dengan harga mahal pula. Lebih bodohnya lagi, ketika kita mengekspor/menjual barang mentah yang murah itu, tapi kita justru membeli produk mahal hasil olahan barang kita yang murah itu dari negara lain, alias mengimpor! Bodohnya makin pol ketika yang terjadi adalah negara lain membeli barang mentah dari kita dengan harga murah, membikinnya jadi barang mahal di negara mereka, dan menjualnya kembali ke negara kita dengan harga mahal!

Inilah maksudnya; negara kita yang sebenarnya dari potensinya bisa jadi pengekspor, malah hanya jadi pengimpor. Seharusnya bisa memiliki daya saing tinggi, tapi malahan terpuruk. Seharusnya bisa memenuhi semua kebutuhan rakyatnya, bahkan sampai rakyat negara lain juga, namun kenyataannya harus bergantung pada produk luar negeri dari mulai kebutuhan dasar hingga barang mahal. Seharusnya bisa mengeruk devisa sebesar-besarnya, tapi malahan terpaksa ngutang demi menjaga nilai tawar mata uang.

Sebagian besar presentasi Pak Rauf di hari kamis malam kemarin berkisar pada penjabaran soal contoh-contoh SDA yang selama ini kita sia-siakan dengan mengekspor bahan mentah terlalu murah dan tidak mengolahnya lebih lanjut. Dari satu bahan mentah saja, bisa dihasilkan ratusan macam produk yang bisa dijual dengan harga ratusan kali lipat (!!!) dan membuka lapangan kerja ribuan kali lipat dibandingkan jika diekspor begitu saja dengan harga murah. Selengkapnya bisa didownload di link yang saya berikan, namun berikut saya berbaik hati membagikan beberapa tampilan slide beliau mengenai contoh-contoh berapa jumlah dollar yang bisa kita keruk jika kita membangun industri pengolahan bahan mentah ketimbang menjualnya begitu saja (semua screenshot yang saya tampilkan adalah berasal dari slide presentasi karya Ir. Rauf Purnama).


1. Industri berbasis gas alam.

 
Gas alam yang selama ini dijual dalam bentuk LNG ternyata dapat menjadi berbagai macam produk yang dimanfaatkan di berbagai sektor kehidupan. Kalau diperhatikan lagi, coba deh, kira-kira LNG kita diekspor untuk diapakan sama negara pembelinya? Yak, betul, untuk diolah menjadi produk-produk turunan yang ada di kanan itu, yang akhirnya kita beli lagi dari mereka karena kita butuh dan kita 'nggak punya industrinya' (padahal kalau ada bahan baku ya harusnya kita juga bisa bikin dong): plastik, tekstil, ban, pembungkus, obat, dll...


Ini contoh untuk gas kita dari Blok Natuna yang dijual via pipa gas ke Singapura, tentunya dengan harga jauh lebih rendah dari LNG. Bandingkan jika kita hanya menjual gas sebanyak 700 MMSCFD itu begitu saja, harganya hanya US$ 1,04 miliar. Tapi jika kita olah gas alam itu dalam bentuk industri, misalnya bikin kompleks industri di Batam (jarak Natuna-Batam tidak jauh berbeda daripada Natuna-Singapura sehingga pipa gas kurang lebih panjangnya sama), menjadi produk yang tidak terlalu rumit, cukup menjadi amonia dan metanol, di mana amonia dapat diolah lebih lanjut di sebuah pabrik pupuk besar menghasilkan pupuk urea dan produk-produk sampingnya diolah lagi menjadi asam formiat dan hidrogen peroksida (contohnya persis pabrik Pupuk Kujang sekarang, yang dulunya Pak Rauf juga ada andil mengembangkannya) serta sebagian lagi dibuat amonium nitrat (bahan peledak) dan akrilonitril (bahan baku karet sintetis)... maka nilainya naik jadi 5 kali lipat!

Belum lagi jika kita mengolah produk-produk ini lebih lanjut. Metanol sendiri sebenarnya dapat diolah menjadi puluhan jenis produk mulai dari bahan bakar, plastik, hingga obat dan bahan aditif makanan. Akrilonitril dapat diolah menjadi material seperti plastik, karet sintetis, maupun komponen elektronik. Datanya saya tidak ada, tapi silakan perkirakan sendiri pertambahan nilai yang didapat.

2. Industri berbasis nikel.


Ini dia salah satu barang tambang yang sedang jadi dilema. Industri hilirnya coba dipacu oleh pemerintah via larangan ekspor bijih mentahnya dengan UU Minerba, namun para penambangnya malah menjual sebanyak-banyaknya, secepat-cepatnya sebelum UU tersebut jatuh tanggal pelaksanaannya pada tahun 2014. Para penambangnya lebih suka ia dijual murah begitu saja dalam bentuk bijih mentah, padahal nikel adalah bahan baku stainless steel (dialah yang membuat steel menjadi stainless), komponen mesin-mesin canggih, magnet, dan beberapa komponen baterai dan elektronik. Dan lain-lain.

Belum ngomong industri elektronik atau besi baja yang bisa dikembangkan dari nikel, cukup ke produk yang sekadar meningkatkan kemurnian nikel dari bijihnya seperti ferronickel, nickel matte, dan nikel murni... kita sudah dapat peningkatan nilai tambah sebesar lebih dari 13x lipat.

3. Industri berbasis tembaga.


Ingat tembaga jadi ingat tambang Grasberg, simbol imperialisme modern di mana rakyat Irian ditindas, perut buminya dikeruk habis oleh kawan bule kita. Bijih yang diangkut ke luar negeri itu jika diolah di tempat dalam sebuah smelter mungkin dapat mengembangkan industri mekanikal dan elektrikal nasional. Namun saat ini bijihnya hanya diekspor begitu saja, meninggalkan uang di kantong-kantong pejabat Jakarta dan limbah penghancur lingkungan di pulau berkeragaman hayati tertinggi di dunia.


Dan mungkin kawan-kawan praktisi pertambangan dapat menjelaskan bahwa bijih tembaga itu selalu diikuti oleh emas dan sedikit perak. What? Asal anda tahu, tambang Grasberg itu bukan 'hanya' tambang tembaga ketiga terbesar di dunia. Namun, ia juga adalah tambang emas terbesar di dunia! Sementara emas sendiri adalah juga devisa negara. Ya, kita pemilik tambang emas terbesar dunia hanya memiliki cadangan emas terbesar ke-40 dunia sebanyak 73,1 ton, sementara hasil emas dari tambang Grasberg pada tahun 2006 saja adalah 58,5 ton/tahun! Anda tahu siapa pemilik cadangan emas terbesar dunia? Yak, betul, mbahnya Freeport, negara Oom Sam, dengan cadangan emas 8311 ton. Tambang Grasberg beroperasi sejak 40 tahun lalu, jadi silakan hitung kira-kira berapa persen cadangan emas negerinya Barack Obama itu yang berasal dari bumi kita. Sudah ketemu kira-kiranya? Silakan tepuk tangan.

4. Industri berbasis minyak bumi.


Minyak bumi ini, seperti sudah saya katakan, darahnya abad modern. Semua produk utama abad ini memerlukan minyak bumi: transportasi, komunikasi, industri (via BBM) dan material-material seperti tekstil, plastik, dll (via petrokimia). Dahulu kala, ketika kita masih dianggap negara kaya minyak, ada rencana untuk menjadikan industri petrokimia (pengolahan minyak bumi) menjadi kickstart untuk urat nadi perekonomian nasional. Maksudnya, itulah industri yang cepat menghasilkan uang, kemudian uangnya digunakan untuk mengembangkan industri-industri lainnya; contoh industri kickstart ini adalah industri otomotif Jepang dan industri besi baja Korea Selatan. Melihat negara-negara seperti Jepang dan Singapura yang tak memiliki minyak bumi namun bisa mengembangkan industri petrokimianya, rasanya sebenarnya dahulu kita, yang memiliki bahan bakunya, pasti mampu. Mengapa tidak jadi? Kurang niat atau kurang kapasitas atau kurang ajarnya negara lain? Tidak penting, yang penting adalah sekarang tidak jadi. A missed opportunity.

Skema di atas menunjukkan perbandingan antara pengolahan minyak bumi menjadi BBM dengan pengolahan minyak bumi menjadi salah satu alternatif jalur saja, yaitu paraxylene, bahan baku polimer yang menjadi bahan baku tekstil sintetis. Pertambahan nilainya? Bisa mencapai 170x lipat! Kita belum bicara produk-produk lain yang daftarnya saja akan menghabiskan berhalaman-halaman.

5. Industri berbasis minyak sawit.


Minyak sawit. Minyak zaman modern yang penuh kontroversi (selengkapnya bisa dilihat di salah satu tulisan saya di sini). Negara kita adalah penghasil dan pengekspor minyak sawit terbesar di dunia, menyuplai lebih dari 50% minyak sawit dan 20% minyak tanaman dunia. Terlepas dari kemunafikan dengan mencacimaki minyak ini sebagai minyak tak ramah lingkungan, toh negara-negara maju tetap mengekspor berjuta-juta ton CPO untuk mereka olah menjadi produk-produk mahal di negara mereka. Mereka tidak mau lagi beli CPO Indonesia? Baik, silakan saja kita embargo diri sendiri; tutup ekspor CPO, buat beribu-ribu pabrik biodiesel (dan dengan demikian menghapus impor solar serta subsidi solar dan listrik PLTD), pelumas, polimer, kosmetik, sabun, dan lain-lain. Oleochemical, pengganti petrochemical; bahan kimia zaman baru.

----------------

Semua contoh tersebut hanya baru membahas dari sisi keuntungan yang didapat berkat pertambahan nilai produk dibanding bahan mentahnya. Belum lagi jika disebutkan multiplier effect yang tidak kalah pentingnya, bahkan mungkin lebih penting: meningkatnya kemakmuran rakyat berkat akses ke barang-barang murah untuk kebutuhan sehari-hari, pembukaan lapangan kerja untuk jutaan rakyat Indonesia. dan berlipatnya pendapatan negara dari pajak!

Itulah kunci dari presentasi beliau: peningkatan statusisasi rakyat labil ekonomi dan penghapusan konspirasi kemakmuran melalui harmonisisasi industrialisasi via integrasi dan hilirisasi. Nah, yang ngerti itu siapa? Gimana caranya?

Jawabnya jelas: seharusnya para insinyur yang paling tahu. Seharusnya tanggung jawab para insinyur terutama untuk menjalankannya. Agar bangsa ini tidak lagi menjadi enigma terbesar di dunia. Bangsa yang kaya tapi miskin. Ayam mati di lumbung padi. Tergilas oleh bangsa-bangsa miskin semacam Taiwan, Jepang, Korea Selatan, dan Singapura yang tidak punya SDA tapi menjadikan industri sebagai pilar ekonominya. Modal mereka bukan SDA, tapi SDM. Bahan baku bisa dibeli, tapi teknologi dan eksekusinya direncanakan oleh SDM yang berkualitas dan visioner, serta berjiwa nasionalis, memperjuangkan kepentingan negaranya.

Kompleks raksasa Jurong Petrochemical Island di Singapura, negeri pulau yang tak lebih luas dari ibukota negara kita, dibangun dengan sengaja di atas tanah reklamasi yang pasirnya so pasti dari Indonesia, dengan investasi total mencapai US$ 31 miliar, untuk memproses 1,3 juta barel per hari minyak bumi yang setetes pun tak ada yang digali dari tanah mereka, menjadi produk-produk mahal bernilai US$ 66 miliar per tahun, yang dijual antara lain ke negara kita yang ngakunya kaya minyak, membuat Singapura menjadi negara pengolah minyak ketiga terbesar di dunia... dengan jumlah lifting crude oil nasionalnya sebesar 0 barel per hari!

Dan mereka yang miskin itu, akhirnya bisa kaya, bermodalkan skema dan keinginan kuat. Apalagi kita, yang katanya kaya. Niat, kemauan, dan ketegaran hati. Apakah menteri energi dan sumber daya mineral kita bukan insinyur? Apakah menteri perindustrian kita bukan insinyur? Apakah menko perekonomian kita bukan insinyur yang mantan ketua ikatan alumni kampus unggulan penghasil insinyur? Jelas ini bukan ketidaktahuan, karena informasi di atas semuanya hanya ditulis bermodalkan logika dan internet.

Jadi sederhananya begini:

1. Rupiah melemah karena devisa negara dalam hal ini dollar berkurang.

2. Dollar didapat dari ekspor dan dibuang via impor.

3. Beberapa cara untuk menambah dollar adalah mengurangi impor dan menambah ekspor.

4. Cara mengurangi impor adalah dengan memproduksi sendiri barang-barang yang biasanya diimpor, sementara cara menambah ekspor adalah mengolah lebih lanjut barang-barang yang biasanya langsung diekspor mentah-mentah.

5. Kunci dari kedua hal tersebut (cara mengurangi impor dan menambah ekspor) adalah membangun kemandirian industri yang memberi nilai tambah.

6. Yang dibekali ilmu dan bertanggung jawab untuk membangun kemandirian industri pemberi nilai tambah adalah para teknokrat, insinyur-insinyur, khususnya insinyur proses dan insinyur-insinyur lainnya.

7. Dengan demikian, dosa insinyurlah rupiah melemah, dan tanggung jawab insinyurlah menguatkan rupiah.

Mohon maaf kesimpulan ini masih mentah, hanya dibekali sedikit fakta dan berbekal logika sederhana, serta dibungkus penyampaian unek-unek selaku calon insinyur.

Sebenarnya nggak ada yang baru sih dengan tulisan saya. Semua ada di internet atau berita. Pengetahuan umum yang dirangkum doang. Makanya namanya juga pemikiran sederhana. Semoga saja bisa dibaca secara sederhana dan dimaknai secara sederhana juga: bangun pemudi pemuda Indonesia, lengan bajumu singsingkan untuk negara, masa yang akan datang kewajibanmulah, menjadi tanggunganmu terhadap nusa; kita adalah pejuang yang membela harga diri negeri ini, cita-cita satu negara kita yang harus menjawabnya!


Bandung, 14 September 2013
ditulis di sekre HIMATEK,
di tengah keributan ospek;
dilanjutkan di
Bogor, 15 September 2013
dengan kepala pusing
dan perut mulas;
diselesaikan di
Jakarta, 16 September 2013
pagi-pagi terburu-buru
setelah mandi keringat di KRL;
jadi maafkanlah jika ada salah.