Rabu, 10 Desember 2014

Kami Tak Perlu Dibela

Ketika saya mengisi malam hari ulang tahun saya ke-26 dengan kegiatan rutin bermanfaat seperti facebookan, saya kebetulan mengamati ada suatu isu yang diangkat oleh beberapa kawan di social media tersebut. Tentang pernyataan Mendikdasmen Kabinet Kerja, Bapak Anies Baswedan yang sebenarnya sangat saya hormati (read more). Pernyataannya antara lain bisa dibaca di sini, dengan kutipan kira-kira sebagai berikut:

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Anies Baswedan
(foto: detik.com)
Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan kementeriannya sedang mengevaluasi proses belajar mengajar yang selama ini berlangsung di sekolah-sekolah negeri. Salah satu yang sedang dievaluasi terkait dengan tata cara membuka dan menutup proses belajar.

"Saat ini kita sedang menyusun, tatib soal aktivitas ini, bagaimana memulai dan menutup sekolah, termasuk soal doa yang memang menimbulkan masalah. Ini sedang direview dengan biro hukum," ujar Anies dalam jumpa pers di kantornya, Gedung Kemendikbud, Jalan Jend Sudirman, Jakarta, Senin (1/12/2014).

Anies mengatakan hal itu menjawab pertanyaan tentang adanya keluhan sejumlah orangtua murid terhadap tata cara dominan agama tertentu dalam proses belajar mengajar. Hal itu membuat siswa penganut agama lain menjadi tidak nyaman.

"Sekolah di Indonesia mempromosikan anak-anak taat menjalankan agama, tapi bukan melaksanakan praktik satu agama saja," tuturnya.

Menurut Anies, sekolah negeri bukanlah tempat untuk mempromosikan keyakinan agama tertentu. Sesuai dengan asas pemerintah menjamin kemerdekaan beragama di Indonesia, sekolah seharusnya memberikan kesetaraan bagi penganut agama lainnya.

"Sekolah negeri menjadi sekolah yang mempromosikan sikap berketuhanan yang Maha Esa, bukan satu agama," tutup Anies.


Pak Menteri yang baik,

Sekali ini saya harus bilang, statement ini blunder bagi Pak Menteri yang saya hormati ini. Sebaiknya sebelum berbicara, Pak Menteri harusnya melihat situasi politik saat ini, ke mana opini masyarakat saat ini berhembus, isu apa yang sedang panas. Meskipun Pak Menteri berawal dari "orang baik yang berpolitik", saya sangat mengharapkan Pak Menteri berkembang menjadi "politisi yang baik". Maafkan saya.

Pak Menteri, statement ini sejalan dengan skema lawan-lawan politik dari bos anda, yang dari sebelum pilpres hingga bos anda berhasil diturunkan nantinya, akan terus memposisikan bos anda dan pemerintahannya sebagai musuh agama mayoritas dan antek agama minoritas yang bersumber dari asing dan aseng (padahal sekarang si asing dan si aseng itu kebanyakan sudah tidak beragama). Seharusnya Pak Menteri sadar akan hal ini, dan tidak memperumit posisi bos anda yang sudah terjepit juga.

Pak Menteri yang saya hormati,

Kami umat Kristen selaku kaum minoritas di negara ini, sejujurnya tidak mengharapkan adanya perlakuan khusus, ataupun sekedar penyamaan hak. Sejarah selalu mencatat, bahwa kami adalah umat yang semakin bertumbuh imannya dalam posisi sebagai minoritas. Dalam lorong-lorong katakombe di bawah kota Roma, kami lebih menghayati ajaran suci kami, dibandingkan di atas kuda-kuda perang yang berderap ke Tanah Suci untuk berperang dengan para leluhur Pak Menteri.

Di negeri ini, kami sudah biasa hidup sebagai minoritas. Kami sudah biasa hidup dalam 'lingkungan yang beragam', yaitu lingkungan yang dikelilingi orang-orang yang 'berbeda identitas' dengan kami, bersekolah dan bekerja di tengah orang-orang yang 'berbeda identitas' dengan kami, meskipun kami tidak pernah tahu apakah orang-orang itu akan terbiasa juga dengan kehadiran kami.

Kami setiap hari sudah biasa mendengar kerasnya azan dari masjid terdekat yang jaraknya hanya ratusan meter dari rumah kami, sementara kami harus beribadah menempuh jarak beberapa kilometer atau bahkan harus patungan menyewa ruko dengan alasan bahwa "rumah ibadah tidak bisa didirikan di suatu tempat yang tidak cukup jumlah penganutnya" (lantas apakah kami harus tinggal di satu ghetto eksklusif, agar bisa punya rumah ibadah dengan lancar?)... namun demikian kami tidak pernah terpikir untuk pindah agama saja hanya karena tempat tinggal kami dikelilingi beberapa masjid, meskipun katanya ada yang ketakutan terancam pindah agama hanya karena di tempat tinggalnya baru berdiri satu gereja.

Kami hanya diam ketika mendengar setiap hal ini itu dilabeli sebagai Kristenisasi, meskipun menurut kami kostum Sinterklas sama kadar kekristenannya dengan kadar keislaman dari ketupat Lebaran.

Kami hanya senyum-senyum pahit saja ketika orang menganggap bahwa kami senang dan memaksa diberi ucapan selamat pada hari raya kami, padahal kami sendiri tidak pernah merasa meminta diberi ucapan selamat dari orang yang tidak merayakan (makna dari hari raya itu sendiri sudah lebih dari cukup untuk kami bersukacita, tanpa perlu tambahan ucapan selamat dari orang lain).

Kami hanya pasrah ketika pengeboman gereja-gereja dianggap dilakukan oleh 'oknum', sementara ketika ada gubernur Kristen yang 'membongkar masjid' (padahal direnovasi atas permintaan pengurusnya sendiri), semuanya berteriak 'konspirasi minoritas dengan asing aseng'.

Dan sekarang ini, Pak Menteri yang baik, jika anda berpikir bahwa ada "tata cara dominan agama tertentu dalam proses belajar mengajar" yang akan "membuat siswa penganut agama lain menjadi tidak nyaman", dengan percaya diri dan lantang kami akan mengatakan seyakin-yakinnya : para orang tua kami sangat mampu untuk mendidik anak-anaknya dalam iman, agar tidak berpindah keyakinan hanya karena melihat teman-temannya berdoa dengan cara yang berbeda setiap harinya.

Karena menurut ajaran kami, kami telah ditebus dengan harga yang termahal, sehingga tidak ada alasan untuk menggadaikan keselamatan itu sama sekali, dengan harga apapun juga. Hanya masalah doa di sekolah? Itu masalah keciiiil.

Jadi tolonglah, Pak Menteri, janganlah terlalu mengurusi hal-hal ini. Saya tahu, bos Pak Menteri sedang sibuk dengan segala pencitraannya, dengan (saya harap) hanya satu tujuan : mendapatkan kepercayaan rakyatnya, agar program-program yang dianggapnya bermanfaat bagi bangsa ini bisa dijalankan dengan mulus dan didukung penuh.

Jadi sekali lagi tolonglah, Pak Menteri, jangan rusak usaha tersebut, hanya untuk suatu hal yang mungkin Pak Menteri pikir sebagai suatu aksi membela kaum minoritas.

Karena kami tidak perlu dibela.

Karena ada tertulis, tahan uji menimbulkan pengharapan.




Jakarta, 9-10 Desember 2014
Kristen 100%
Indonesia 100%



.

Tidak ada komentar: