Minggu, 12 Juli 2009

Penguasa Jalanan Banten Utara

Kerja praktek, kata orang, adalah sarana menimba pengalaman dan memperoleh pengetahuan. Ada benarnya juga. Dari kerja praktek yang telah saya jalani selama 12 hari di PT. Chandra Asri, Cilegon, saya memperoleh banyak sekali pengalaman dan pengetahuan, tapi bukan di pabriknya...

Pengalaman yang saya peroleh adalah soal TRANSPORTASI.

Selama kerja praktek saya sudah tiga kali bolak-balik Cilegon-Bogor (jadi total enam kali perjalanan) dan selama itu saya tidak pernah menempuh rute dengan kendaraan yang sama persis. Dan itu berarti saya mendapat pengalaman yang sangat berarti (atau tidak).

Berikut ini list hal-hal baru yang saya dapatkan selama perjalanan-perjalanan itu.

Senin 30 Juni 2009, Bogor-Anyer, 13:00 - 18:00
- Angkot 17 rumah - Baranangsiang
- Bis AC ARIMBI Bogor-Merak Baranangsiang (Bogor) - PCI (Cilegon Timur)
- Angkot ungu PCI - Mayofield (Cilegon)
- Angkot silver Mayofield - Chandra Asri
- Ojek Chandra Asri - kos

Pengetahuan yang didapat:
- Jadi tahu di mana letak Serang, Pandeglang, dan Cilegon dari Jakarta.
- Bisa membedakan mana Serang, Anyer, Merak, dan Cilegon.
- Jadi tahu Anyer dan Cilegon itu jauh (dan beda).


Jumat 3 Juli 2009, Anyer-Bogor, 17:00 - 22:30
- Mobil Ferdie kos - perempatan Damkar (Cilegon Barat)
- Bis AC ARIMBI Merak-Kalideres Damkar - Kebon Nanas (Tangerang)
- Bis Perdana Jaya Kebon Nanas - Parung - Bogor
- Ojek ke rumah

Pengetahuan yang didapat:
- Jadi tahu ada jalan bagus dan cepat yang menghubungkan pabrik (yang sepertinya terisolir dari dunia luar itu) dengan jalan tol (tapi nggak ada angkot lewat).
- Jadi tahu klo setelah jam 4 tidak ada bis dari Cilegon ke Bogor.
- Jadi tahu nama, letak, dan keberadaan Bitung, Serpong, Parung, dan Balaraja.
- Melihat bahwa di daerah sekitar ibukota masih ada hutan dengan kiri kanan jalan (dan ada bis yang lewat situ).
- Tahu klo setelah malam hari, bis Kalideres-Bogor sebenarnya tidak berangkat dari Kalideres.
- Tahu ada supir bis brengsek yang ngetem setengah jam di pasar tepat pinggir rel kereta di Serpong, membiarkan penumpangnya kepanasan tanpa AC dan kebauan aroma pasar.


Minggu 5 Juli 2009, Bogor-Cilegon, 15:00-19:00
- Angkot 17 rumah - Baranangsiang
- Bis AC ARIMBI Bogor-Merak Baranangsiang - PCI
- Ojek PCI - kos baru

Pengalaman yang didapat:
- Jadi tahu klo masuk Jakarta, semua bis antarkota beralih fungsi sementara jadi bis kota (a.k.a. "memperbolehkan" penumpang berdiri).
- Mengenal tukang ojek yang siap menipu calon penumpang tentang trayek angkot agar penumpangnya jadi naik ("ke PCI angkotnya ada ga?" "oh ga ada, naik ojek aja!").


Selasa 7 Juli 2009, Anyer-Bogor, 16:30 - 21:30
- Angkot silver Chandra Asri - Mayofield
- Angkot ungu Mayofield - PCI
- Bis AC kecil Jaya Perkasa Merak-Kp.Rambutan PCI - Kebon Jeruk
- Bis kota 45 Kebon Jeruk - Slipi
- Bis Indah Murni Kalideres-Bogor Slipi - Baranangsiang
- Angkot 09 Baranangsiang - Warung Jambu
- Ojek ke rumah

Pengalaman yang didapat:
- Jadi hafal jalan dari pabrik ke Cilegon (1/6 jalan ketemu PT Jawamanis, 1/4 jalan lewat rel kereta, 1/2 jalan ketemu mesjid+SPBU, 2/3 jalan ketemu plang KAWASAN INDUSTRI, klo udah ketemu mesjid At-Taubah artinya udah mau nyampe, dst).
- Jadi tahu alasan kenapa bus nggak boleh lewat dalam kota Cilegon kalo siang (bisa bikin gila).
- Jadi tahu di mana pintu tol Kebon Jeruk, dan ada apa di sana (terminal bayangan!).
- Jadi tahu seperti apa rasanya bis dalam kota Jakarta. Berdiri padat, banyak pengamen, takut copet.
- Jadi tahu apa yang dirasakan para pekerja commuter Jakarta-Bogor tiap hari yang pulang naik bis. Berdiri. Satu setengah jam. Di jalan yang macet. Tanpa AC. Makin miris lagi klo inget nyokap tiap hari naik kendaraan macam begini.
- Jadi tahu klo di Jakarta, jalan tol tidak sama dengan jalan bebas hambatan.


Rabu 8 Juli 2009, Bogor-Cilegon, 16:00-19:30
- Angkot 17 rumah - Baranangsiang
- Ojek Baranangsiang - Ciawi (Bogor)
- Bis ekonomi Bandung-Merak Ciawi - Serang
- Bis AC Kp.Rambutan-Merak Serang - PCI
- Angkot ungu PCI - kos

Pengalaman yang didapat:
- Jadi tahu klo bis dari Bogor ke Cilegon (bukan hanya dari Cilegon ke Bogor) pun jam 4 sudah tidak ada.
- Jadi tahu klo bukan hanya di PCI saja ada tukang ojek pemeras; di Bogor juga ada ("bis ke Cilegon abis ya?" "iya, tapi bisa nyusul Bandung-Merak ke Ciawi, ayo saya antar, 20 ribu! nanti bisnya juga keburu habis" padahal ada angkot Baranangsiang-Ciawi 2,5 ribu DAN bis Merak-Bandung itu adanya 24 jam).
- Jadi tahu klo di Ciawi ada terminal bayangan juga.
- Jadi tahu klo malam itu tol Tangerang-Merak sangat sepi sampai bis bisa ngebut 100 km/jam.
- Menemukan cara mempercepat perjalanan: turun di pintu tol masuk Serang Timur dan naik lagi bis ke Cilegon dari situ. Dengan cara ini, kita tidak perlu mengikuti bis ngetem sepanjang kota Serang (kurang lebih 20-30 menit bisa dihemat).


Jumat 10 Juli 2009, Anyer-Bogor 16:30-22:00
- Angkot silver Chandra Asri - Mayofield
- Bis ekonomi Merak-Serang Mayofield - PCI
- Bis AC ARIMBI Merak-Bogor PCI - Baranangsiang
- Ojek ke rumah

Pengalaman yang didapat:
- Kalau mau pulang dari pabrik, harus keluar tepat 16:30 alias sebelum bis jemputan karyawan Chandra Asri keluar. Jika tidak, waktu perjalanan angkot akan sangat lama (karena harus jalan di belakang bis).
- Jadi hafal letak persisnya kota-kota di Banten Utara (Cilegon Timur KM 88, Serang Barat KM 78, Serang Timur KM 74, Tangerang 26, Balaraja 45... dst)
- Jadi tahu ternyata bis yang judulnya Serang-Merak (tidak seperti bis lain yang lewat Serang dan Merak TAPI JUDULNYA BUKAN Serang-Merak) tidak lewat tol.
- Jadi tahu bahwa masih bisa naik bis ke Bogor dari Cilegon jam 5 sore (dengan sedikit keberuntungan)... credits for Rio. Thanks! Hehehe.


Satu jam lagi saya akan menempuh perjalanan ketujuh, Bogor-Cilegon. Ada rute baru lagi? Semoga tidak, saya ingin perjalanan yang senyaman mungkin hari ini...!!! Hehehehe. Jika tidak, bisa-bisa saya benar-benar jadi penguasa jalanan Banten Utara.

Per angusta ad astra!


.

Sabtu, 11 Juli 2009

Tih Bjal Dunav Se Vylnuva

Dalam rangka mengisi jam-jam kosong (yang merupakan waktu mayoritas saya) selama periode kerja praktek, saya telah menemukan kegiatan baru yang cukup bermutu, yaitu mengarang cerita. Tentu saja bagi yang sudah mengenal saya, anda bisa menebak dengan tepat bahwa cerita yang saya karang pastilah bukan cerita biasa.

Ya, ini adalah cerita fiksi-sejarah-lagu pertama yang saya buat, dan menimbang jam-jam kosong saya selama kerja praktek yang telah diperkirakan dengan akurat akan lebih banyak daripada saat kuliah, ini jelas bukan yang terakhir.

Apa itu cerita fiksi-sejarah-lagu? Dia adalah gabungan dari:
- cerita fiksi-sejarah, yaitu cerita fiksi yang memiliki dasar sejarah (a.k.a. sejarah didramatisir, contoh paling terkenal adalah Romance of Three Kingdoms a.k.a. Samkok); dan
- cerita fiksi-lagu, yaitu cerita fiksi yang memprosakan, atau (umumnya) menarasikan sebuah lagu.

Dan lagu pertama yang saya jadikan korban adalah lagu patriotik yang cukup terkenal di Bulgaria, Tih Bjal Dunav se Vylnuva (Sungai Danube Putih yang Tenang Beriak-riak), yang menceritakan tentang salah satu episode dramatis yang masih dikenang bangsa Bulgaria hingga saat ini, yaitu salah satu peristiwa dalam Perang Kemerdekaan Bulgaria melawan penjajah Turki Utsmani, yaitu… seperti yang bisa dibaca dalam ceritanya.

Sebelum dibaca mohon maaf kalau ada yang kurang berkenan, secara saya membuat cerita ini hanya untuk membunuh waktu luang saat kerja praktek, syukur-syukur bisa menambah wawasan pembaca tentang sejarah dunia.

Panjang ya ceritanya? Ya, kan tujuannya untuk menghabiskan waktu. Heh heh heh…
Selamat menikmati.

-----------------------------------------------------

29 Mei 1876.





Tih bjal Dunav se vylnuva, veselo shumi
(Sungai Danube putih yang tenang menjadi bergelombang, dan beriak-riak dengan gembira)


Lev Kostadinov tercenung di geladak. Matanya menatap nanar ke depan. Air. Jernih. Riak-riak air menari-nari dipadu sinar mentari, menutupi permukaan air dengan warna putih. Sejauh mata memandang. Dan ia pun memejamkan mata.

Lev hampir tak kuasa menahan air mata ketika mengenang air putih yang sedang ia layari ini, dan mengapa ia melayari air putih ini, air putih yang selama berabad-abad telah menjadi saksi bisu jatuh bangunnya manusia dan peradaban yang disangga di punggungnya, dan nampaknya peranan saksi bisu ini akan terus disandangnya hingga akhir dunia.

Air putih itu bernama Danube; atau, seperti Lev kita ini menyebutnya, Dunav; atau seperti musuh-musuh Lev di seberang sana menyebutnya, Tuna.

Timbul dari pedalaman Schwarzwald, Hutan Hitam di pelosok Bavaria Jerman, air putih yang di tanah kelahirannya dipanggil Donau ini mengalir sepanjang lebih dari seribu kilometer ke timur, ke Laut Hitam di Silang Dunia antara dua ranah peradaban besar, Eropa dan Asia. Bahunya yang tegar telah ditakdirkan terbeban oleh kawasan yang paling bergejolak dan paling sering menjadi tempat di mana darah anak manusia tertumpah: Semenanjung Balkan.

Sejak dua ribu tahun sebelum Lev lahir, air putih ini telah menjadi perbatasan terdepan di bagian utara negara adidaya pertama dunia, Kekaisaran Romawi Kuno, yang memanggil air putih ini dengan sebutan Ister atau Danuvius. Perang secara berkesinambungan terjadi antara Kekaisaran Romawi yang menumpuk benteng dan tembok pertahanan di sepanjang bahu selatan sang air putih, melawan bangsa-bangsa (yang oleh orang Romawi disebut) barbar dan nomad yang kerap terjun laksana air hujan menyerbu dari bahu utara sang air putih.

Seiring berjalannya waktu, perang tidak pernah berhenti selama seribu tahun ketika ras Jerman berebut pengaruh dengan ras Slavik dan ras Latin di daerah yang terbagi-bagi menjadi kerajaan-kerajaan kecil tersebut. Ras Jerman, yang bernaung di bawah konfederasi Kekaisaran Romawi Suci, lebih sering dianggap penjajah oleh penduduk mayoritas; yaitu bangsa-bangsa Hungaria, Polandia, Rumania, Bulgaria, Serbia, Ceko, dan Slovakia; yang di baliknya seringkali disokong oleh bangsa ras Slavik paling jaya, Rusia.

Hasil benturan ini mengakibatkan bahu sang air putih ditumbuhi berbagai budaya: setelah melewati Vienna ibukota Austria, ia membelah Slovakia dan ibukotanya Pressburg atau Bratislava, di mana ia disebut Dunaj. Kemudian ia melewati Hungaria dan kota Budapest, di mana sang air putih berganti nama menjadi Duna. Setelah itu, sang air putih melintasi Serbia dan ibukotanya Beograd. Dan ia kemudian mengalir sepanjang perbatasan Bulgaria-Rumania, di mana ia di satu sisi dipanggil Dunav dan di sisi lain bernama Dunarea.

Segalanya berubah ketika pada abad ke-14, malapetaka datang bagi para nenek moyang Lev yang sebenarnya sudah cukup parah nasibnya dihantam perang berkepanjangan.

Bahaya tersebut bernama segerombolan tentara, menyeruak dari Anatolia: pasukan Kekaisaran Turki Utsmani, yang baru mengambil alih kepemimpinan kekhilafahan Islam.

Menyeberangi Dardanella dan Laut Marmara, beratus-ratus ribu serdadu dengan cepat merebut daerah-daerah Eropa yang telah diperlemah perang berkepanjangan. Sultan Suleiman Nan Cemerlang berhasil menyeberangi sang air putih, menghajar tentara Eropa hingga di Mohacs, Hungaria, dan nangkring dengan sukses di pintu gerbang ibukota Eropa, Vienna.

Tapi hingga di situ saja. Dengan cepat seluruh bangsa Eropa bersatu menghadapi ancaman asing ini. Dimotivasi dengan teriakan perang suci mempertahankan agama, berjuta-juta serdadu Eropa memukul mundur sang penjajah. Setelah melalui perang tanpa henti, beratus-ratus tahun kemudian barulah ketenangan sedikit terjadi; ekspansi Turki Utsmani berhenti di bahu sang air putih, Danube. Ketenangan semu, karena kedua belah pihak masih saling mengintip; aliansi Eropa di utara dan Turki Utsmani di selatan beserta jajahan-jajahan Eropanya yang menjerit-jerit minta diselamatkan.

Dan di selatan itulah terletak Bulgaria, tanah air Lev yang minta dibebaskan itu. Dan untuk itulah ia melayari sang air putih, dengan garpu taman yang ia pegang dengan kokoh di tangan kanannya, di atas kapal yang kini dengan gembira membelah sang air putih yang beriak-riak keemasan disorot sinar mentari petang, seakan menari-nari dengan ceria mengiringi perjalanan Lev.





I Radetzki gordo pluva, nad zlatni vylni
(Karena Radetzki berlayar dengan gagah, di atas riak emasnya)


Garpu taman inilah yang juga dipegang oleh Lev beberapa hari yang lalu, saat ia meloncat ke atas kapal yang ia tumpangi ini, dari Calafat, Rumania.

“Tujuan?” tanya sang penjaga kapal kepada Lev dalam bahasa Jerman.

“Sulina.” jawab Lev singkat.

“Lima keping perak.” kata sang penjaga kapal. Lev memberikan sesuai jumlah yang diminta, kemudian meloncat ke jembatan yang menghubungkan geladak dengan dermaga.

Seorang penumpang, perempuan muda berumur dua puluhan dengan gaun berwarna kuning, memandangi Lev dan barang-barang bawaannya. Ada sebuah tas besar tersandang di bahu Lev. Tangan kirinya menenteng penyiram tanaman sedangkan tangan kanannya menggenggam gagang garpu taman.

“Tukang kebun?” tanya si gadis, yang disambut Lev hanya dengan anggukan.

“Kau adalah tukang kebun keempat yang kulihat di kapal ini.” lanjutnya. Lev hanya diam. “Nama dan asalmu?”

“Lev Kostadinov dari Bulgaria, Nona.” jawab Lev singkat.

“Oh, Bulgaria. Ketiga tukang kebun yang di sana –“ katanya menunjuk ke arah tepi geladak yang berseberangan. “– berasal dari Austria, Hungaria, dan Slovakia nampaknya. Ada banyak sekali tukang kebun yang naik kapal ini!” ucapnya seakan-akan ini hal yang menggembirakan. “Apakah ada banyak lowongan kerja saat ini di Balkan?” tanyanya dengan nada keingintahuan yang mencolok.

“Seperti itulah kira-kira, Nona.” jawab Lev tak jelas. “Permisi dulu, saya mungkin tertarik untuk bertanya-tanya kepada mereka… terima kasih atas waktunya, Nona.” Dan dengan kalimat penutup itu Lev pergi meninggalkan si gadis bergaun hijau muda yang keheranan.

“Levat Balkanski?” tegur Lev kepada ketiga pria berpenampilan tukang kebun yang sedang berdiri memandangi hamparan air putih. Ketiganya menoleh. Kemudian salah seorang dari antara mereka, yang berkumis, menyahut.

“V boy velikanski. Ayo ikut aku, Nak!” katanya sambil membimbing Lev berjalan ke sisi dalam kapal. Tapi salah seorang dari antara mereka, pemuda berambut pirang, menyodok perut Lev sambil setengah berteriak “Lev sobat!”

Ia mengenalinya sebagai Giorgi Stoyanov, teman satu kampungnya. Dan meledaklah tawa keduanya, hingga si pria berkumis menepuk kepala keduanya, menyuruh mereka diam. Dalam tenang mereka berempat masuk ke salah satu kamar di kapal tersebut.

“Kau sampai dengan selamat, Lev.” sapa orang yang satu lagi, yang dikenali Lev sebagai kakak kelas tiga tahun di atasnya di Politeknik Timişoara, Rumania. Lev tersenyum kepadanya.

“Jadi, masih berapa orang lagi yang akan naik?” tanya Lev antusias.

“Dua ratus lima seluruhnya, Lev.” jawab si pria berkumis. “Kebanyakan akan naik di Bechet. Letnan Voinovski dan Botev sendiri akan naik dari sana, lengkap dengan semua alat-alat. Dan perkenalkan, Borislav Radoslavov.”

Uluran tangan Radoslavov disambut Lev, disusul dengan pertanyaan “Kalian mengaku orang asing?”

“Terpaksa, Lev sobat.” kali ini Giorgi yang menjawab. “Kita tidak mau ada banyak orang Bulgaria yang kelihatan mondar-mandir di kapal penumpang Austria-Hungaria ini. Dan kau sendiri?”

“Aku pribadi tidak sanggup mengingkari tanah kelahiranku.” jawab Lev.

“Ayo kita naik ke atas.” potong kakak kelas Lev, Dimitar Tsvetanov. “Kalau sudah sampai di Mila Rodino, kita adalah patriot. Untuk saat ini, kita adalah tukang kebun.”

“Aku tetap tinggal di sini. Bahaya jika ada yang sampai melihat… erm, perlengkapan yang kita bawa di tas-tas ini.” kata Radoslavov. Ketiga pemuda tersebut mengangguk, lalu berjalan naik ke geladak.

Asap dari cerobong kapal dihembus kencang oleh angin begitu mereka naik. Kapal penumpang bertenaga uap melaju kencang di atas air putih, menimbulkan riak yang membuat ikan-ikan di sekitarnya berloncatan dan terlihat berkilau ditimpa cahaya matahari sore. Terdengar suara keras bercerita.

“Kapal ini, Radetzky, membawa nama besar Jenderal Josef Radetzky, panglima Kekaisaran Austria-Hungaria kelahiran Ceko, yang telah membawa kejayaan bagi nama besar Dinasti Habsburg berkat kemenangan-kemenangannya di Novara, Custoza, dan Leipzig melawan Napoleon…”

Demikian penjelasan sang kapten kapal penumpang Radetzky, Dagobert Engländer, pria tua berbadan gemuk yang hobi memilin-milin kumis putihnya, kepada para penumpang yang menyimak dengan tertarik.

“Dan sebentar lagi, akan membawa kejayaan berkat jasanya dalam memenangkan tanah air kita dari penjajah.” gumam Giorgi Stoyanov. Lev mengangguk perlahan.

Radetzky terus melaju membelah air putih yang tenang, menimbulkan riak keemasan di kala petang.

Begitulah Lev dan kawan-kawannya mengarungi air putih, menunggu rekan-rekan mereka naik di setiap dengan berbagai samaran, siap menempuh pelayaran untuk kembali ke tanah airnya.

Dan akhirnya saat itu tiba.





No koga se tam syzira Kozlodujski brjag
(Namun setelah Kozloduy terlihat di depan)


“Kozloduy di depan!” teriak Boris Radoslavov. “Sampaikan pada Botev, kita telah mencapai tujuan.” katanya kepada Tsvetanov.

“Kozloduy, Lev…” bisik Giorgi tertahan.

Bagi Lev, Kozloduy bukan hanya sekadar sebuah kota kecil Bulgaria yang terletak di pinggir Sungai Danube. Lebih dari itu, Kozloduy adalah kota masa kecilnya dan Giorgi. Di mana ia dan Giorgi berlari-lari di sepanjang tepian Danube. Dan di mana ia bertemu dengan Valentina.

Sebulan yang lalu di Timişoara, Valentina Angelova berlari-lari dengan cemas sepanjang jalan raya kawasan Iosefin. “Lev!!!” teriaknya cemas.

Lev menoleh ke belakang. Dilihatnya Valentina berlari ke arahnya, rambut panjang dan gaun ungunya tertiup angin sore. Di sebelahnya, trem bertenaga kuda melintas dengan cepat. Lev dengan sigap menyambar tubuh gadis itu dan mendorongnya ke samping. Keduanya terjatuh.

“Berapa kali aku mengingatkanmu untuk tidak berlari di jalur trem, sayang?” tegur Lev sambil berdiri dan mengulurkan tangan. Valentina meraihnya.

“Aku cemas, Lev!” jeritnya. Ia dengan cepat berdiri, lalu menyeret Lev ke balik sebuah pohon besar di tepi jalan.

“Tentang apa, sayang? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Awan masih putih seperti biasanya, berarak di langit yang biru seperti biasanya, ditimpa sinar matahari yang teduh seperti biasanya, di atas aku dan kau yang berbahagia seperti biasanya...”

“Oh, Lev!” jerit Valentina, terlihat putus asa. “Gombalnya nanti saja. Katakan pendapatmu tentang omongan Tsvetanov tadi yang menyebutkan kalian berdua akan ikut berperang ke Bulgaria bersama Hristo Botev.”

“Err... itu benar?” gumam Lev pura-pura tolol.

“Lev!” kembali Valentina menjerit. “Bagaimana kuliahmu, Lev? Apa kata ibumu nanti?”

“Aku akan pulang ke Kozloduy, sayang.” jawab Lev. “Ke rumah kita. Aku akan menemui ibu. Juga Bibi Ivanka dan Yanko. Akan kuajak mereka ikut bergerak. Lalu seluruh rakyat Kozloduy akan bergerak juga. Serentak bersama-sama seluruh negeri. Lalu Bulgaria akan merdeka. Rakyat Bulgaria akan memerintah sendiri. Dan punya politeknik sendiri. Dan aku akan lulus dengan ijazah dari negeri sendiri.”
Valentina terdiam.

“Impian besar kita, Valentina.” lanjut Lev, kali ini tegas. “Impian yang kita bawa saat kita berangkat menyeberang Dunav dari Kozloduy ke Rumania. Bahwa suatu hari nanti kita akan kembali ke Bulgaria, Bulgaria yang merdeka.”

“Berjanjilah kau akan kembali dengan selamat, Lev.” akhirnya ia berkata.

“Tidak.” jawab Lev tegas. Valentina menunduk. Matanya berkaca-kaca.

“Tapi aku berjanji akan membawamu kembali ke Bulgaria, sayang.” lanjut Lev. “Bulgaria yang telah kumerdekakan dengan tanganku sendiri. Dan tangan-tangan rakyatnya.”

“Pergilah, Lev.” Bisik Valentina. “Aku mengerti dirimu. Percayalah aku sendiri rindu untuk kembali ke tanah air kita. Maafkan aku, Lev, aku tidak bisa...”

“Akan kumerdekakan Bulgaria untukmu, sayang.” potong Lev, menghentikan bisikan Valentina...

“Kita tidak akan mendarat di tanah Kekaisaran Turki Utsmani itu, saudara.” celetuk salah seorang penumpang, membuyarkan lamunan Lev tentang peristiwa satu bulan lalu.

“Bulgaria bukan tanah Kekaisaran Turki Utsmani!” teriak suara dari dalam kapal, dan seolah merupakan aba-aba, Lev dan kawan-kawannya segera bersiaga.





V parahoda rog izsvirva, razvja se bajrak
(Sangkakala dibunyikan, panji dikibarkan)


Bunyi terompet di tangan Radoslavov seakan menjadi penanda bagi dua ratus orang di atas Radetzky untuk mengambil tindakan yang telah disiapkan.

“Apa-apaan ini?” jerit salah seorang awak kapal.

“Lihat ke atas!” teriak salah seorang penumpang.

Di atas, orang-orang dapat melihat pada tiang bendera di mana bendera Kekaisaran Austria-Hungaria tadinya berkibar sendirian, namun kini pada tiang telah diikatkan sebuah panji yang lebih besar: putih, hijau, dan merah terbentang menantang angin dengan gagahnya.

“Ini adalah tiga warna kita, Lev.” kata Mihaila Marianova suatu kali. “Tiga warna yang harus kau simpan dalam hati sebagai perlambang tanah airmu yang harus kau hormati. Bukan bendera yang itu.” lanjutnya sambil menunjuk bendera merah dengan bulan sabit dan bintang putih yang berkibar tinggi di depan kantor Gubernur Bulgaria.

“Iya, Ibu.” jawab Lev bersemangat sambil memakai gelang berwarna putih, hijau, dan merah yang baru diberikan ibunya di tangan kanannya.

“Bendera ini suatu saat akan berkibar dengan bangganya di seluruh tanah air kita, seperti yang ayahmu cita-citakan dulu.” lanjut Mihaila dengan suara gemetar, seperti yang selalu digunakannya setiap kali ia membicarakan almarhum suaminya, Kostadin Vasilov.

“Iya, Ibu.” jawab Lev, seperti jawabannya selalu kepada ibunya ketika wanita yang dikaguminya itu menanamkan rasa cintanya kepada tanah Bulgaria. Juga ketika ibunya bercerita dengan semangat tentang warna-warna tersebut, tentang permainya alam negerinya: putihnya Dunav, hijaunya Stara Planina, dan merahnya sinar matahari Pirin. Tentang kegemilangan Maharaja Krum dan Asparukh, tentang kemegahan ibukota tua Tarnovo, tentang penjajah Utsmani yang merampas ingatan akan semuanya itu…

Dan sekarang, bendera yang dicita-citakan itu telah berkibar setelah sekian lama ia tidak melihatnya di tempatnya yang terhormat: terbentang dengan gagah di ketinggian, memperlihatkan warna-warna cemerlangnya dilatarbelakangi matahari senja, menunggu untuk diiringi langkahnya dengan berani oleh anak-anak bangsanya.

Dan Lev menggenggam bayonet dan pedang yang ia ambil dari tasnya, naik ke geladak dengan langkah tegap.



Mladi Bylgarski junaci javjavat se tam
(Pejuang-pejuang muda Bulgaria tiba-tiba muncul)


Langkah Lev diiringi Giorgi di sampingnya, dengan perlengkapan yang sama. Di geladak kapal sekarang telah berdiri dua ratus lima pejuang yang telah menanggalkan atribut tukang kebun mereka dalam posisi siap tempur.

Terjadi kegaduhan di kalangan penumpang dan awak kapal. Beberapa awak kapal sempat bersitegang dengan para pejuang. Kapten Dagobert Engländer turun untuk menghadapi para pejuang. Dari barisan pejuang, maju seorang pria paruh baya untuk menemui kapten.

“Jangan takut, para penumpang. Kami di sini tidak untuk tujuan yang jahat!” katanya mengumumkan kepada semua yang ada di atas geladak.

“Itu pejuang Bulgaria!” teriak seorang pemuda. “Lihat ikat kepala mereka!”





Na chela im levski znaci, v ochite im plam
(Di dahi lambang sang singa, tampil dengan gagah)


Empat jam lalu, dari pelabuhan Bechet, naik lima puluh orang dengan membawa tas-tas besar. Tas-tas tersebut berisi perlengkapan perang dan atribut-atribut lainnya. Setelah naik dengan selamat, kedua kepala rombongan menyapa Lev dan kawan-kawan yang telah berada di atas kapal.

“Lev Kostadinov.”

“Nikolai Voinovski.”

Voinovski adalah seorang letnan angkatan perang Rusia yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Bulgaria. Dari yang Lev dengar, ia adalah satu-satunya ahli militer yang ikut serta di perjalanan ini.

“Senang melihat kalian, para pejuang muda.” kata Voinovski kepada Lev dan kawan-kawan. “Dengar, empat jam lagi kita akan tiba di tujuan. Bersiaplah di kamar yang telah ditetapkan. Semua perlengkapan kalian di situ. Dan jika telah terdengar aba-aba dari terompet, persiapkanlah senjata… dan pakailah ini.”

Voinovski menjejalkan sepotong kain merah dalam genggaman Lev dan kawan-kawan, satu per satu. Lev membukanya dan langsung mengenalinya: singa emas, Levat Bylgarski, yang bermahkotakan lima salib; lambang tahta negara kuno Bulgaria.

“Pakailah jika semuanya nanti telah siap. Pakailah untuk mengingat atas dasar apa kalian berkorban.”

Lev menoleh. “Voivod Botev.”

Pemimpin pergerakan ini, Hristo Botev, adalah orang yang berbicara pada Lev.

“Baiklah, Voivod.”

Dan saat ini, kain merah tersebut terikat kuat di dahi Lev dan rekan-rekannya, di atas mata-mata penuh semangat dan antusiasme tinggi. Di depan mereka, berdiri Voinovski dan Botev, menghadapi para penumpang yang takut bercampur bingung, dan para awak kapal yang bersiaga penuh.





Gord otprede im zastana, mladijat im vozhd
(Berdiri tegap di depan mereka, pemimpin mereka yang muda)


Botev maju selangkah, menghampiri kapten Radetzky, Dagobert Engländer. Tangannya yang biasa menggenggam pena, kini menggenggam pedang panjang.

Hal ini telah ditunggu-tunggunya sejak kecil. Ayahnya, Botyo Petkov, adalah salah satu pemimpin gerakan kemerdekaan Bulgaria. Sejak Hristo beranjak remaja, ia telah berani terang-terangan menantang kekuasaan Kekaisaran Turki Utsmani di Bulgaria sehingga ia terpaksa melarikan diri menghindari kejaran pihak berwajib Utsmani hingga ke Rumania. Di sana, ia terus berjuang demi kemerdekaan Bulgaria dengan menggunakan surat kabar buatannya sendiri sebagai corong pengobar semangat kemerdekaan bagi rakyat Bulgaria di tanah air maupun di pengasingan. Dari situ, ia dikenal luas oleh orang Bulgaria di pengasingan sebagai salah satu pemimpin utama bangsa Bulgaria yang sedang berjuang meraih kemerdekaan.

Ketika konfrontasi fisik dengan penguasa Utsmani mulai terlihat tak terelakkan lagi, dan tidak ada pemimpin militer yang dapat diandalkan, Botev memutuskan untuk berjuang tanpa pena; dengan menumpahkan darah. Ia memutuskan untuk memimpin sendiri pasukan berkekuatan dua ratus lima pemuda Bulgaria dari pengasingan, untuk membantu pemberontakan yang sedang dikobarkan melawan penguasa Utsmani di tanah air mereka.





Pa si duma kapitanu, s gol v rakata nozh:
(Dia berbicara pada sang kapten, dengan pedang terhunus di tangan:)


“Apa yang kalian inginkan?” tanya Engländer tajam selayaknya seorang kapten kapal terhadap penumpag gelap di kapalnya.

“Salam, Kapten.” kata Botev. “Saya akan memperkenalkan diri saya dan teman-teman saya.”

Dan Botev mulai berbicara kepada sang kapten dan seluruh penumpang, dengan penuh tekad:





“Az zym Bylgarski vojvoda, momci mi sa tez
Nij letime ja svoboda, krv da lejme dnes
”
(Akulah panglima Bulgaria, dan inilah orang-orangku
Kami melaju menuju kebebasan, untuk menumpahkan darah kami hari ini)


“Bapak Kapten dan para penumpang yang saya hargai!

Suatu kehormatan bagi saya untuk memberitahukan kepada anda bahwa para pemberontak Bulgaria, yang merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk menjadi panglimanya, telah berada di atas kapal uap ini.”

Beberapa penumpang mulai memperhatikan kata-kata Botev. Wajah-wajah ketakutan berubah menjadi antusias dan penuh keingintahuan.

“Dengan mengorbankan bahan makanan dan peralatan pertanian kami, dengan mengorbankan usaha yang sangat besar, dan pada akhirnya dengan mengorbankan segala yang berharga di dunia ini… kami telah memperlengkapi diri kami dengan hal-hal yang kami butuhkan, untuk datang membantu saudara-saudara sebangsa kami yang memberontak, yang telah bertarung dengan berani di bawah Sang Singa Bulgaria demi kemerdekaan dan kebebasan tanah air kami tercinta – Bulgaria.

Kami berdoa kepada Tuhan agar para penumpang tidak cemas sama sekali dan tetap tenang. Kepada anda, Pak Kapten…” Botev menatap tajam kepada Dagobert Engländer. “saya dengan berat hati meminta anda untuk mempercayakan kapal anda kepada kami hingga kepergian kami, dan

Maka dari itu, jerit pertempuran kami adalah sebagai berikut:

Hidup Bulgaria!
Hidup Kaisar Franz Joseph!
Hidup Pangeran Andrássy!
Hidup Eropa…!”

Dengan menyebut nama Kaisar Austria Franz Joseph dan Perdana Menteri Hungaria Gyula Andrássy, yaitu para pemimpin negara paling berkuasa di daratan Eropa (Austria-Hungaria) dan juga pemilik Radetzky, Lev paham bahwa Botev ingin menunjukkan perjuangannya mewakili bangsa Eropa melawan dominasi budaya asing Turki Utsmani di tanah yang seharusnya menjadi milik sebuah negara Eropa yang berdaulat.





“Nij letime za Bylgarija, pomosht da dadem
I ot tezhka tiranija, da ja otyrvem
”
(Kami melaju ke Bulgaria, untuk memberikan bantuan kami
Untuk menyelamatkannya hari ini, dari belenggu tirani)


“Jadi apa jawaban anda, Kapten?” kali ini Voinovski yang bertanya.

Kapten Engländer menatap wajah-wajah para pejuang berikat kepala merah itu. Setelah memilin-milin kumis putihnya, ia akhirnya menjawab.

“Baiklah.” ucap Engländer. “Herrlich! Putar haluan ke selatan! Kita mampir sebentar ke Kozloduy!” teriaknya menggelegar.

“Jangan gila, Kapten!” balas si jurumudi. “Di kapal ini ada seratus lebih penumpang sipil…”

“Seratus lebih warga Eropa yang mendukung pembebasan tanah Eropa dari penjajahan asing!” teriak seorang penumpang, kakek-kakek dengan baju biru laut.

“Hidup Bulgaria! Hidup Franz Joseph! Hidup Pangeran Andrássy! Hidup Eropa…!” terdengar teriakan mengulang jerit pertempuran yang dikumandangkan Botev. Teriakan itu datang dari seorang penumpang lain, wanita yang menyapa Lev saat ia naik ke kapal ini.

“Tenang, para penumpang, tenang.” Engländer mencoba menenangkan para penumpang dengan suaranya yang dalam. “Herrlich, Kozloduy, kecepatan penuh! Sekarang!”

Para penumpang bersorak-sorai bersama para pejuang. Botev membungkuk dalam-dalam kepada sang kapten. Voinovski menghampiri juru mudi dan berkata “Aku tahu sebuah pantai yang tersembunyi di dekat Kozloduy. Kita akan menuju ke sana.”

Para pejuang yang lain disalami oleh beberapa penumpang.

“Antonis Niniades.” kakek-kakek berbaju biru laut memperkenalkan diri pada Giorgi Stoyanov. “Veteran Perang Kemerdekaan Yunani. Sekarang giliran kalian untuk menghantam para barbar Anatolia itu kembali ke habitat mereka, anak-anak muda.”

“Sungguh tidak sopan saya mengetahui nama anda, namun anda belum mengenal saya.” ucap gadis berbaju kuning kepada Lev. “Elena Ionescu. Saya mendukung sepenuhnya perjuangan anda. Saya harap anda memperoleh keberhasilan yang sama dengan leluhur-leluhur saya, Stefan cel Mare, Mihai Viteazul, dan Iancu Hunedoara yang hidup matinya dibaktikan untuk mempertahankan Rumania dari kerakusan monster-monster pembawa yatagan itu.”

“Tambah lagi kecepatannya, Herrlich! Tambah lagi kayunya, Szekelyhidi!” teriak Engländer kepada para awak kapalnya. “Anak-anak Austria-Hungaria, ingatlah perjuangan para leluhur kita di Vienna dan di Mohacs! Saatnya kita membantu untuk membalas dendam terhadap bangsa pencoleng dari padang belantara itu!”

Tih bjal Dunav se vylnuva, veselo shumi
I Radetzki gordo pluva, nad zlatni vylni


Radetzky melaju kencang menyusur putihnya air Danube, membawa tekad para patriot Bulgaria dan semangat rakyat Eropa. Tubuh Lev gemetaran hingga ke ujung kaki; bukan karena takut, tapi rasa tidak sabar ingin memberikan sesuatu bagi tanah kelahirannyalah yang menjadikannya begitu.

No koga se tam syzira Kozlodujski brjag
V parahoda rog izsvirva, razvja se bajrak


Mereka tiba di sebuah pantai tak berpenghuni dekat Kozloduy satu jam setelah matahari terbenam. Lev meloncat dengan semangat ke darat dan segera tersungkur berlutut, mencium tanah airnya. Botev dan rekan-rekannya segera menyusul melakukan hal yang sama. Di barisan belakang, Tsvetanov mengibarkan bendera Bulgaria tinggi-tinggi.

“Selamat jalan dan selamat berjuang!” seru Dagobert Engländer sambil melambaikan topinya. Para penumpang yang lain bersorak-sorak sambil melambai-lambaikan tangan. Kapal Radetzky kembali meluncur di Danube, ke tujuannya semula.

------------------------------------

2 Juni 2009.

“Ini adalah puisi yang dibuat oleh penyair kenamaan Ivan Vazov,” demikian Todor Ivanov menerangkan. “untuk mengenang sahabatnya yang juga penyair kenamaan, Hristo Botev, dan 205 pemuda patriot Bulgaria yang gugur dalam perjuangan melawan penjajah. Ya, Mihaylov?”

“Apa yang terjadi dengan Botev dan kawan-kawannya, Pak?” tanya Tzanko Mihaylov.

“Pada bulan April 1876, rakyat negeri kita Bulgaria mengadakan pemberontakan di seluruh negeri melawan penjajah Turki Utsmani dalam sebuah gerakan yang dikenal dengan nama Pemberontakan April. Botev dan sekelompok pemuda Bulgaria dalam pengasingan di Rumania memutuskan untuk membantu perjuangan rakyat di tanah asal mereka dengan cara melintasi Sungai Danube sebagai suatu angkatan bersenjata untuk ikut bertempur melawan pasukan Turki Utsmani. Dengan menyamar sebagai tukang kebun, mereka menaiki kapal penumpang Radetzky milik Austria-Hungaria dari berbagai pelabuhan Rumania yang berbeda dan membajak kapal tersebut di tengah Sungai Danube untuk mengantarkan mereka ke pelabuhan Kozloduy di Bulgaria. Tekad para pemuda ini membuat sang kapten kapal dan para penumpang sedemikian terharu sehingga mereka akhirnya dengan sukarela menolong para pejuang untuk mendarat di Bulgaria.

Sang kapten dan para penumpang bahkan membantu dengan mendaratkan para pejuang tersebut di tempat yang tersembunyi dari pelabuhan, menolak memberi informasi kepada penguasa Utsmani yang melakukan pencarian, dan bahkan menolak permintaan penguasa Utsmani agar kapal Radetzky digunakan untuk patroli di Danube untuk mencari para pemberontak. Tindakan heroik sang kapten dan para penumpang terus dikenang oleh bangsa kita sepanjang masa, dan sebagai buktinya di Kozloduy hari ini kita masih dapat melihat kapal Radetzky yang dijadikan museum, tegak memandang Sungai Danube dari tepiannya.

Sangat disayangkan setelah Botev dan para pejuang tersebut mendarat, mereka mengetahui fakta bahwa pemberontakan di daerah itu telah berhasil ditumpas habis oleh tentara Turki Utsmani. Mereka tidak menyerah, mereka berusaha untuk maju teratur ke daerah pegunungan sambil membangkitkan semangat rakyat Bulgaria sepanjang perjalanan. Namun kekejaman pasukan Turki Utsmani telah menciutkan semangat rakyat sehingga mereka tidak berani mengulurkan tangan membantu pasukan Botev.

Selama empat hari, pasukan Botev bertempur di perjalanan sebelum akhirnya mereka mengambil posisi pertahanan di Gunung Okoltchitza. Di sana, mereka menahan gempuran tentara Kekaisaran Turki Utsmani dan tentara-tentara bayarannya yang berjumlah jauh lebih banyak selama berjam-jam dengan hasil yang gemilang. Namun pada saat matahari mulai terbenam, sebutir peluru menghantam dada Botev sehingga beliau tewas seketika. Kematian pemimpin mereka membuat pasukan Botev moralnya merosot dan kemudian kalah. 130 patriot Bulgaria gugur sementara sisanya tertangkap dan dieksekusi, atau berhasil meloloskan diri dengan jumlah yang sangat sedikit.”

Ivanov melihat jam di tangan kirinya. 11:59.

“Karena itu, tahukah kalian, anak-anak? Setiap tanggal 2 Juni tepat tengah hari, seluruh sirene di negeri ini dibunyikan untuk mengenang semua orang yang mengorbankan nyawanya bagi Bulgaria.

Dan sekarang, anak-anak, bersamaan dengan bunyi sirene, mari kita menyanyikan bersama-sama puisi yang telah dilagukan ini, untuk mengenang jasa-jasa Botev dan pasukannya…”

Suara Ivanov tersendat, dan kemudian ia melanjutkannya.

“…dan mereka semua yang telah menumpahkan darahnya bagi tanah air…”

Pukul 12:00. Terdengar suara sirene bergaung di kejauhan. Serentak semua anak di kelas itu bangkit dan mengikuti aba-aba gurunya untuk bernyanyi.

Tih bjal Dunav se vylnuva, veselo shumi
I Radetzki gordo pluva, nad zlatni vylni

No koga se tam syzira Kozlodujski brjag
V parahoda rog izsvirva, razvja se bajrak

Mladi Bylgarski junaci, javjavat se tam
Na chela im levski znaci, v ochite im plam

Gord otprede im zastana, mladijat im vozhd
Pa si duma kapitanu, s gol v rakata nozh:

“Az sym Bylgarski vojvoda, momci mi sa tez
Nij letime za svoboda, kryv da lejme dnes”

Nij letime za Bylgarija, pomosht da dadem
I ot tezhka tiranija, da ja otyrvem”


Danube Putih yang tenang, kini beriak
Radetzky melaju girang, dengan semarak

Namun lihatlah tatkala Kozloduy dekat
Berbunyilah sangkakala, panji terangkat

Tampillah para pejuang, siap siaga
Di dahi m’reka terpampang, singa yang gagah

Tangan melolos senjata, dari sarungnya
Pada kapten dia berkata, dengan lantangnya:

“Aku panglima Bulgaria, dan para rekan
Kami semua siap sedia, siap berikan

Apapun yang dibutuhkan tanah k’lahiran
Kami kan b’ri k’merdekaan, melawan tiran”


------------------------

2 Juni 1876.

“Ledakkan mereka!” teriak Voinovski disusul dentuman meriam dari kubu pejuang Bulgaria yang menghantam belasan tentara Utsmani yang dipimpin Hassan Hairi Bey.

Di sisi yang berseberangan, barikade yang dibuat Botev dan regunya cukup menahan laju serangan prajurit bayaran Utsmani, bashi-bazouk, dan menjadikan mereka sasaran empuk peluru-peluru pejuang Bulgaria. “Putar ke kanan, pimpin lima orang rekanmu, Berbatov! Stoichkov, dukung mereka dari belakang! Pandev, awasi sisi kiri! Yang lain tetap di posisi, tembak begitu ada yang mendekat! Hidup Bulgaria!” Botev dengan berapi-api menyemangati pasukannya yang telah kelelahan bertempur seharian melawan musuh yang berlipat ganda.

“Dari informasi yang kuperoleh di desa, bajingan-bajingan itu telah membantai habis rakyat desa Batak yang tidak berdosa. Tiga ribu orang dipotong-potong; pria, wanita, dan anak-anak. Kota itu sekarang rata dengan tanah kecuali beberapa gundukan mayat di sana-sini.” gerutu Lev, yang bergabung dengan regu pimpinan Trifon Berbatov. Sebutir peluru baru saja meleset tipis dari dahinya.

“Akan kupreteli mereka yang bertanggung jawab dengan tanganku sendiri.” balas Tsvetanov yang juga satu regu dengan Lev, sambil terus menembakkan peluru ke arah markas artileri pasukan bashi-bazouk.

Hari mulai malam. Para pejuang telah memperoleh kemenangan besar dan menahan serbuan musuh. Pertempuran telah bersiap untuk diakhiri pada hari itu, para prajurit akan beristirahat, ketika saat itu tiba.

Sebutir peluru menerjang Botev. Sang Panglima pun jatuh tersungkur.

“Voivod Botev!” seru Dimitar Tsvetanov.

Lev dan Giorgi segera menghampiri Botev yang ambruk. Botev memandangi keduanya sambil tersenyum, kemudian ia berkata dengan tenang:

“Dia yang mati bagi kemerdekaan, tidak hanya mati bagi negerinya, tapi juga bagi seluruh dunia... Hidup… Bulgaria!!!”

Botev mengeluarkan tenaga terakhirnya untuk meneriakkan satu kata penutup dalam hidupnya. Lev memandang Giorgi, yang berkata pelan “Voivod Botev telah pergi”.

Lev tercenung. Namun rupanya rekan-rekan yang lain telah menyadari berita duka itu dengan cepat.

“Dia telah tiada!” teriak yang lainnya.

Detik berikutnya, segumpal mortir Utsmani menghantam telak barikade pertahanan yang dibuat Voinovski, menewaskan Voinovski dan beberapa rekan lainnya.

Saat-saat selanjutnya adalah saatnya kekacauan. Sayap kiri kubu pejuang kehilangan komando dari Botev, setiap personel yang ditugaskan melakukan serangan balik gugur tertembus peluru pasukan bazhi-bazouk. Sayap kanan yang dibarikade oleh Voinovski pun berhasil diratakan oleh hantaman artileri pasukan Utsmani, yang disusul oleh rangsekan satu batalion infantri Hassan Hairi Bey ke pusat pertahanan pasukan Bulgaria. Sekitar separuh dari kekuatan para pejuang telah hilang, dan sisanya pun banyak yang terluka parah.

“Hai tikus-tikus Balkan! Keluar dan menyerahlah!” teriak Hassan Hairi Bey dari posisinya.

Borislav Radoslavov meraih panji besar triwarna Bulgaria dan meletakkan ujung bayonetnya di sana.

“Hei, apa yang akan kau lakukan?” teriak Lev.

“Kita harus menyerah!” teriak Radoslavov. “Atau mati. Kita harus membuat bendera putih.”

Terdengar letusan senapan. Lev menembak Radoslavov di kepala.

“Merdeka atau mati!” teriak Lev. “Kalau tidak dapat merdeka, mati! Kalau menyerah, lebih baik mati!”

Dengan teriakan itu Lev merebut panji Bulgaria dari mayat Radoslavov dan menerjang tembakan-tembakan pasukan Utsmani bersama-sama panji triwarna tersebut. Keduanya segera saja dihujani berpuluh-puluh peluru yang segera membuat lubang di mana-mana. Namun Lev tak berhenti berlari. Sesekali tembakan ia lepaskan, pedang ia ayunkan, belasan prajurit Utsmani dia tewaskan, hingga akhirnya ia tersungkur ambruk.
Panji putih hijau merah yang dibawanya terlepas, turun menyelimuti tubuhnya.

“Tuhan...” rintihnya pelan. “Bulgaria… Ibu…”

“Valentina…”

Dan dengan empat kata terakhir itu, Lev Kostadinov menyerahkan nyawanya kepada Sang Pencipta, diselimuti oleh triwarna kebanggaan ibu pertiwi, yang kepadanyalah ia mengorbankan hidupnya.




“Az zym Bylgarski vojvoda, momci mi sa tez
Nij letime ja svoboda, krv da lejme dnes”



Saedineniento Pravi Silata!

----------------------------------

Disclaimer dan keterangan:

- Tokoh-tokoh (selain Hristo Botev, Nikola Voinovski, Dagobert Engländer, Franz Joseph, Gyula Andrássy, Ivan Vazov, dan Hassan Hairi Bey) dan detail percakapan serta peristiwa yang terjadi adalah rekaan pengarang semata, made in Ir.Alfonso R.P.dC.eG., dengan berbasis pada peristiwa sejarah aslinya.

- Pidato Botev untuk kapten dan seluruh penumpang Radetzky adalah asli dan tercatat, sementara terjemahannya dalam bahasa Indonesia yang disajikan di cerita ini adalah hasil karya pengarang, made in Ir.Alfonso R.P.dC.eG..

- Terjemahan lirik Tih Bjal Dunav se Vylnuva dalam bahasa Indonesia adalah hasil karya pengarang, made in Ir.Alfonso R.P.dC.eG..

- Semua deskripsi peristiwa sejarah dan lambang yang diberikan dalam cerita ini adalah akurat.

- Kata-kata terakhir Botev adalah semboyan hidupnya.


Terjemahan istilah Bulgaria:

- Levat Balkanski, v boy velikanski
Singa Balkan, bersama kita (dua baris pertama dari bait ketiga lagu kebangsaan pertama Bulgaria, Shumi Maritsa).

- Mila Rodino
Tanah air tercinta (juga merupakan judul lagu kebangsaan Bulgaria saat ini).

-Levat Bylgarski
Singa Bulgaria (lambang negara Bulgaria).

- Voivod
Panglima perang (biasanya merujuk kepada pemimpin pasukan-pasukan alias warlord).

- Saedineniento pravi silata
Bersatu kita teguh (motto negara Bulgaria saat ini).

- Yatagan
Pedang tradisional Turki (pada zaman penjajahan Utsmani, identik dengan kekejaman dan penindasan Kekaisaran Turki Utsmani).

.

Rabu, 08 Juli 2009

Lima Menit Untuk Lima Tahun

Hari ini gw akan berangkat memberikan suara untuk pemilihan presiden pertama kali dalam hidup gw.

Gw mungkin cukup beruntung karena dari sejak lima tahun lalu gw udah tau siapa yang akan gw pilih. Dan apapun yang terjadi tidak membuat loyalitas gw luntur.

Pemilu bagi gw bukan hanya sekedar pemilihan pemimpin, tetapi juga adalah esensi dari pemilu: mewakilkan suara kita.

Apa yang gw lakukan pada pemilu haruslah mencerminkan suara hati gw. Suara hati gw yang menjunjung tinggi komitmen. Menghargai loyalitas. Tidak rela berkhianat.

Dan gw harap rakyat Indonesia tahu siapa yang seharusnya mereka pilih.

Gw pribadi sangat menyayangkan klo ada teman-teman yang dengan sangat terpaksa tidak dapat memilih entah karena satu alasan (alias kerja praktek, di tempat yang benar-benar jauh dari daerah pemilihannya) maupun karena alasan lainnya, namun gw lebih menyayangkan lagi klo ada teman-teman yang dapat memilih namun tidak menggunakan hak pilihnya.

Yah, apapun yang terjadi, sebagai seorang umat Tuhan gw cuma bisa berdoa atas pemilu ini… :

Semoga pasangan calon yang gw pilih bisa menang (yah ini mah doa standar seorang pemilih kali ya).

Semoga pasangan calon yang gw pilih nanti, klo menang, dalam kepengurusannya selalu memihak rakyat (bukan terlihat memihak rakyat), melanjutkan yang baik-baik (jangan yang jelek-jelek) dari pemerintahan sekarang, dan mengambil keputusan dengan cepat (dan cermat) sebelum rakyat keburu mati kelaparan menunggu pemerintah bertindak.

Semoga pemilu presiden selesai satu putaran, biar duit 4 triliun rupiah yang ada dapat dipakai untuk hal-hal lain yang lebih berguna: subsidi BBM, anggaran pendidikan, dana ristek, beli alutsista untuk TNI, listrik dan internet masuk desa, ganti rugi Lapindo…

Semoga calon-calon yang tidak terpilih dapat menunjukkan bahwa mereka maju bukan untuk kepentingan pribadi, dan maka itu jika kalah tidak memancing provokasi yang akan menimbulkan kerusuhan dan kerugian harta benda yang menimpa rakyat yang katanya mereka akan bawa kepentingannya. Semoga mereka dianugerahi rasa tahu diri ketika mengingat apa yang John McCain lakukan ketika Barack Obama terpilih; John McCain, yang dalam debat-debatnya jauh lebih garang menyerang sang rival dibanding yang kita tonton di debat-debat capres Indonesia.

Semoga pendukung pasangan calon yang tidak menang masih punya rasa malu dan tidak mencoreng muka bangsa Indonesia yang sudah terkenal tidak sportif di mata dunia, dan mau menunjukkan bahwa pemilu presiden kali ini adalah pemilihan yang cerdas oleh bangsa yang maju, di mana siapapun yang menang, rakyatlah pemenang sejatinya.

Semoga mahasiswa tidak hanya bisa mendengung-dengungkan kebenaran ilmiah dan berkoar-koar sebagai agent of change, tetapi juga bisa memposisikan dirinya sebagai guardian of value, sebagai negarawan, sebagai manusia yang mampu berjiwa besar menerima siapapun yang terpilih, tidak mengingkari suara rakyat dan mengadakan pengadilan jalanan, tidak hanya bisa menggugat tanpa menyentuh esensi, tidak sok berbicara atas nama rakyat namun tak mengenal rakyat itu sendiri…

Terakhir, semoga kita semua memilih yang terbaik.

Ayo, memilih!

Cokelat – Lima Menit Untuk Lima Tahun

Ayo semua kita memilih, yang terbaik demi negeri ini
Lima menit kita memilih, lima tahun kala kita jalani
Jangan hanya menjadi putih, suara kita sangat berarti
Memilihlah untuk Indonesia


Demi Tuhan, untuk bangsa dan almamater - merdeka!



.

Rabu, 24 Juni 2009

Tuhan "vs" Ilmu Pengetahuan

Saya biasanya nggak pernah ngepost artikel di blog ini yang bukan karangan saya sendiri, tapi khusus kali ini saya buat pengecualian, karena... (yah baca dulu lah ntar juga ngerti).

Artikel ini saya peroleh dari kiriman salah seorang rekan saya di facebook beberapa hari yang lalu.

Selamat menikmati...

-------------

"Let me explain the problem science has with Jesus Christ." The atheist professor of philosophy pauses before his class and then asks one of his new students to stand.

"You're a Christian, aren't you, son?"

"Yes sir," the student says.

"So you believe in God?"

"Absolutely."

"Is God good?"

"Sure! God's good."

"Is God all-powerful? Can God do anything?"

"Yes."

"Are you good or evil?"

"The Bible says I'm evil."

The professor grins knowingly. "Aha! The Bible!" He considers for a moment.

"Here's one for you. Let's say there's a sick person over here and you can cure him. You can do it. Would you help him? Would you try?"

"Yes sir, I would."

"So you're good...!"

"I wouldn't say that."

"But why not say that? You'd help a sick and maimed person if you could. Most of us would if we could. But God doesn't."

The student does not answer, so the professor continues. "He doesn't, does he? My brother was a Christian who died of cancer, even though he prayed to Jesus to heal him. How is this Jesus good? Hmmm? Can you answer that one?"

The student remains silent.

"No, you can't, can you?" the professor says. He takes a sip of water from a glass on his desk to give the student time to relax.

"Let's start again, young fella Is God good?"

"Er... yes," the student says.

"Is Satan good?"

The student doesn't hesitate on this one. "No."

"Then where does Satan come from?"

The student : "From...God.."

"That's right. God made Satan, didn't he? Tell me, son. Is there evil in this world?"

"Yes, sir."

"Evil's everywhere, isn't it? And God did make everything, correct?"

"Yes."

"So who created evil?" The professor continued, "If God created everything, then God created evil, since evil exists, and according to the principle that our works define who we are, then God is evil."

Without allowing the student to answer, the professor continues: "Is there sickness? Immorality? Hatred? Ugliness? All these terrible things, do they exist in this world?"

The student: "Yes."

"So who created them?"

The student does not answer again, so the professor repeats his question. "Who created them? There is still no answer. Suddenly the lecturer breaks away to pace in front of the classroom. The class is mesmerized.

"Tell me," he continues onto another student. "Do you believe in Jesus Christ, son?"

The student's voice is confident: "Yes, professor, I do."

The old man stops pacing. "Science says you have five senses you use to identify and observe the world around you. Have you ever seen Jesus?"

"No sir. I've never seen Him"

"Then tell us if you've ever heard your Jesus?"

"No, sir, I have not."

"Have you ever actually felt your Jesus, tasted your Jesus or smelled your Jesus? Have you ever had any sensory perception of Jesus Christ, or God for that matter?"

"No, sir, I'm afraid I haven't."

"Yet you still believe in him?"

"Yes."

"According to the rules of empirical, testable, demonstrable protocol, science says your God doesn't exist. What do you say to that, son?"

"Nothing," the student replies. "I only have my faith."

"Yes, faith," the professor repeats. "And that is the problem science has with God. There is no evidence, only faith."

The student stands quietly for a moment, before asking a question of his own. "Professor, is there such thing as heat?"

"Yes," the professor replies. "There's heat."

"And is there such a thing as cold?"

"Yes, son, there's cold too."

"No sir, there isn't."

The professor turns to face the student, obviously interested. The room suddenly becomes very quiet. The student begins to explain.

"You can have lots of heat, even more heat, super-heat, mega-heat, unlimited heat, white heat, a little heat or no heat, but we don't have anything called 'cold'. We can hit up to 458 degrees below zero, which is no heat, but we can't go any further after that. There is no such thing as cold; otherwise we would be able to go colder than the lowest -458 degrees. Every body or object is susceptible to study when it has or transmits energy, and heat is what makes a body or matter have or transmit energy. Absolute zero (-458 F) is the total absence of heat. You see, sir, cold is only a word we use to describe the absence of heat. We cannot measure cold. Heat we can measure in therm al units because heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it."

Silence across the room. A pen drops somewhere in the classroom, sounding like a hammer.

"What about darkness, professor. Is there such a thing as darkness?"

"Yes," the professor replies without hesitation. "What is night if it isn't darkness?"

"You're wrong again, sir. Darkness is not something; it is the absence of something. You can have low light, normal light, bright light, flashing light, but if you have no light constantly you have nothing and it's called darkness, isn't it? That's the meaning we use to define the word. In reality, darkness isn't. If it were, you would be able to make darkness darker, wouldn't you?"

The professor begins to smile at the student in front of him. This will be a good semester. "So what point are you making, young man?"

"Yes, professor. My point is, your philosophical premise is flawed to start with, and so your conclusion must also be flawed."

The professor's face cannot hide his surprise this time. "Flawed? Can you explain how?"

"You are working on the premise of duality," the student explains. "You argue that there is life and then there's death; a good God and a bad God. You are viewing the concept of God as something finite, something we can measure. Sir, science can't even explain a thought. It uses electricity and magnetism, but has never seen, much less fully understood either one. To view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing. Death is not the opposite of life, just the absence of it."

"Now tell me, professor. Do you teach your students that they evolved from a monkey?"

"If you are referring to the natural evolutionary process, young man, yes, of course I do"

"Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?"

The professor begins to shake his head, still smiling, as he realizes where the argument is going. A very good semester, indeed.

"Since no one has ever observed the process of evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavour, are you not teaching your opinion, sir? Are you now not a scientist, but a preacher?"

The class is in uproar. The student remains silent until the commotion has subsided.

"To continue the point you were making earlier to the other student, let me give you an example of what I mean."

The student looks around the room. "Is there anyone in the class who has ever seen the professor's brain?" The class breaks out into laughter.

"Is there anyone here who has ever heard the professor's brain, felt the professor's brain, touched or smelled the professor's brain? No one appears to have done so. So, according to the established rules of empirical, stable, demonstrable protocol, science says that you have no brain, with all due respect, sir. So if science says you have no brain, how can we trust your lectures, sir?"

Now the room is silent. The professor just stares at the student, his face unreadable.

Finally, after what seems an eternity, the old man answers. "I guess you'll have to take them on faith."

"Now, you accept that there is faith, and, in fact, faith exists with life," the student continues. "Now, sir, is there such a thing as evil?

Now uncertain, the professor responds, "Of course, there is. We see it everyday. It is in the daily example of man's inhumanity to man. It is in the multitude of crime and violence everywhere in the world. These manifestations are nothing else but evil."

To this the student replied, "Evil does not exist sir, or at least it does not exist unto itself. Evil is simply the absence of God. It is just like darkness and cold, a word that man has created to describe the absence of God.

God did not create evil. Evil is the result of what happens when man does not have God's love present in his heart. It's like the cold that comes when there is no heat or the darkness that comes when there is no light."


The professor sat down.


----------

Gloria in excelsis Deo, et in terra pax hominibus bonae voluntatis!


.

Sabtu, 20 Juni 2009

Kode Etik Senator

Sedikit pengantar dari gw sebelum menyajikan Kode Etik Senator ke hadapan massa lembaga gw yang sangat gw hormati ini..

. Sebagaimana kita tahu bersama, peran senator secara unit individual maupun Kongres secara satu unit terintegrasi sangatlah vital dalam keberlangsungan sistem proses kemahasiswaan ITB. Maka dari itu, perlu dibuat suatu kode etik yang digunakan untuk menjaga unjuk kerja senator secara individual ini agar menjamin efisiensi dan perolehan yang baik dari Kongres secara keseluruhan sehingga menjamin terlaksananya proses kemahasiswaan ITB yang mampu mengkonversi mahasiswanya menjadi produk dengan selektivitas tinggi untuk membangun Indonesia.

(bahasa paragraf 1 abstrak labtek-penulap dah... hahaha)

Yah intinya, kode etik ini dibikin buat menjamin biar semua senator yang ada di Kongres itu adalah orang-orang yang bener, yang bisa ngejalanin tugasnya dengan baik. Amin?

Buat diri gw sendiri, mudah2an Tuhan selalu ngasih gw kekuatan untuk bisa menjalankan isi kode etik ini sepenuhnya...

Buat rekan-rekan tim senator, mudah2an juga kita semua bisa nunjukin klo kita tim senator yang baik dan bisa memenuhi kode etik ini...

Buat bapak, mas2, dan mbak2 BPA, mohon dijadikan panduan untuk mengawasi kinerja tim senator...

Buat mas2 dan mbak2 BP dan massa HIMATEK, silakan tegur secara beradab jika ketahuan ada tim senator yang melanggar kode etik ini...

Selamat menikmati...

--------------------------------------

KODE ETIK SENATOR
BAB I
ETIKA SEBAGAI PRIBADI SENATOR

Pasal 1
Menjadikan amanah senator sebagai bagian pengabdian kepada Tuhan YME, kontribusi kepada bangsa secara umum dan masyarakat ITB secara khusus.

Pasal 2
Menjunjung tinggi nilai-nilai yang menjadi sifat KM ITB yaitu mandiri, kekeluargaan, adil, aspiratif dan representatif, efektif dan efisien, serta transparan.

Pasal 3
Mengenal, menyayangi, menghargai, saling membantu, serta saling mengingatkan sesama senator agar Kongres mampu tumbuh menjadi tim yang baik, solid, dan produktif.

Pasal 4
Mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan, dengan dilandasi nilai-nilai kebenaran universal, moralitas, dan kebangsaan.

Pasal 5
Menjaga integritas pribadi, citra diri, dan komitmen sebagai senator.

Pasal 6
Memiliki sikap tanggung jawab terhadap wacananya masing-masing.

Pasal 7
Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima, menghormati, dan melaksanakan hasil keputusan sidang Kongres.

Pasal 8
Memiliki kesadaran untuk mencerdaskan dirinya sendiri mengenai wawasan kemahasiswaan dan kebangsaan.



BAB II
ETIKA SEBAGAI SENATOR UTUSAN HMJ ATAU RUMPUN UNIT


Pasal 9
Menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi massa HMJ atau rumpun unit yang diwakilinya.

Pasal 10
Menjaga nama baik HMJ atau rumpun unit yang diwakilinya.

Pasal 11
Mensosialiasikan segala hasil keputusan sidang Kongres kepada massa HMJ atau rumpun unit yang diwakilinya.

Pasal 12
Aktif membangun serta meningkatkan pencerdasan dan partisipasi massa HMJ atau rumpun unit dalam kemahasiswaan.


BAB III
ETIKA SEBAGAI SENATOR YANG MEWAKILI SELURUH MAHASISWA ITB


Pasal 13
Menjalankan fungsinya dan tugas yang diembankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Pasal 14
Menjaga nama baik, kewibawaan, dan kehormatan senator secara perorangan maupun Kongres secara lembaga.

Pasal 15
Hanya hasil ketetapan sidang Kongres yang berhak dikeluarkan ke publik dengan mengatasnamakan Kongres KM ITB.

Pasal 16
Memperjuangkan aspirasi dan kepentingan seluruh mahasiswa ITB.

Pasal 17
Tidak membawa konflik internal Kongres ke luar forum Kongres.

Pasal 18
Bersama-sama membangun suasana sidang/rapat yang kondusif untuk menghasilkan keputusan-keputusan yang membawa kebaikan untuk semua pihak.


Kontrol Fungsi Legislasi Kongres KM ITB

* Mewakili Himpunan atau Rumpun Unit sehingga tidak boleh memegang jabatan struktural lain di organisasi intra kampus. (PS: ampun terpaksa ngelanggar, punten dibalikin ke BPA dah...)

* Bila diketahui sedang memegang jabatan, maka senator direkomendasikan untuk mengundurkan diri dari jabatan tersebut.

* Mengadakan forum dengan lembaganya minimal satu kali dalam sebulan, yaitu tiap minggu pertama tiap bulan.

* Penyerahkan kembali berita acara forum pelaporan ke Kongres KM ITB yang telah ditandatangani oleh Badan Pengawas Senator di Lembaganya diadakan mulai hari pertama minggu kedua tiap bulan.


Kontrol Fungsi Presensi Senator

* Bila senator 3 (tiga) kali berturut-turut tidak hadir (dengan alasan apa pun) dalam rapat kerja Kongres KM ITB, maka akan diberikan surat peringatan ke lembaga yang diwakilinya.

* Selama periode Bulan Juni, Juli dan Agustus atau selama masa libur dan kerja praktek maka kehadiran tim senator dan atau pejabat senator masing-masing lembaga dianggap dapat mewakili kehadiran senator yang semestinya didelegasikan oleh lembaga. Perhitungan absensi dihitung untuk semua agenda Kongres kecuali siding paripurna atau sidang istimewa kongres. Mekanisme ini dibuat sedemikian mungkin untuk meminimalisir ketidakefisienan komunikasi antara Kongres dengan lembaga.

* Bila senator tidak menghadiri Sidang Paripurna maka akan langsung diberi surat peringatan ke lembaga yang diwakilinya.

* Bila lembaga telah mendapatkan 5 (lima) kali surat peringatan, maka senator lembaganya direkomendasikan untuk di-recall.


-------------

Di sini kami tempa diri
pribadi tangguh nan berbudi
Kami ingin dapat berbuat
untuk jaya tanah airku
Kami siap baktikan diri
dengan jiwa dan raga ini
Berbuat demi negeri ini
agar jaya bangsaku

S'gala cita dan karsa ini
adalah bara 'tuk berkarya
Semangat kukobarkan s'lalu
api jaya almamaterku
Dengan tulus ku berikrar
untuk selalu berjuang
Setia kuusung panjimu
kibar jaya kampusku

Sumbangsihku mungkin tak berarti
tapi ikhlas kubaktikan semua...

Dengan tulus ku berikrar
untuk selalu berjuang
Setia kuusung panjimu
kibar jaya kampusku
Kibar jaya... ITB...

(Hymne KM-ITB)

------------------------------


Demi Tuhan, untuk bangsa dan almamater - merdeka!



.

Minggu, 14 Juni 2009

Manchester United Dapatkan Pengganti CR7

Setelah melepas megabintang Cristiano Ronaldo a.k.a. CR7 ke Real Madrid dengan harga yang memecahkan rekor transfer dunia, nampaknya fans berat Manchester United tidak perlu kecewa karena dalam waktu singkat Sir Alex Ferguson telah berhasil mendapatkan pengganti yang tidak kalah tangguhnya. Kabar terbaru menyebutkan bahwa telah tiba di Old Trafford seorang pemain baru yang diboyong untuk menggantikan posisi CR7, bahkan telah mendapatkan nomor punggung yang sama: 7.

Kita lihat saja bagaimana musim ini MU bisa melupakan peranan CR7 dan menyerahkan pada penggantinya, yaitu:




BA7.

Salam olahraga!



.

Sabtu, 06 Juni 2009

Selamat Ulang Tahun Bung Karno

"Berikan aku seribu pemuda dan aku akan mengguncang dunia!"

"Negara Republik Indonesia ini bukan milik golongan tertentu, agama tertentu, suku tertentu, adat istiadat tertentu, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!"

"Go to hell America, go to hell with your aids!"

"Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera, agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 sen sehari; bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli; bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita."

"Kita bangsa yang cinta perdamaian, tetapi lebih cinta KEMERDEKAAN!"

"No sacrifice is wasted."

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya."

"Engkau bisa, hei Rakyat, sebab engkaulah yang menjadi hakim - bukan aku, bukan Bung Hatta, bukan Angkatan Perang, bukan Kabinet."

"Masyarakat tidak terdiri dari kaum laki-laki saja, dan tidak pula dari kaum perempuan saja... Tak sehatlah masyarakat itu, manakala salah satu pihak menindas kepada yang lain, tak peduli fihak mana yang menindas dan tak peduli fihak mana yang tertindas..."

===============================




Memperingati 108 tahun lahirnya Proklamator, Presiden Pertama RI, Pemimpin Besar Revolusi, Ir. Soekarno (6 Juni 1901 - 21 Juni 1970).

"Eenden zwemmen in den troepen, maar de adelaar vliegt alleen."

Kamis, 04 Juni 2009

Kewajiban Utama Seorang Suami

Seorang suami pulang dengan wajah lesu ke rumahnya pada pukul 12 malam setelah kerja lembur yang melelahkan. Ketika ia memasuki ruang makan, nampak sang istri sedang duduk menghadapi makanan yang sudah dingin melotot marah kepadanya.

"Ke mana saja kau?" bentak sang istri. "Di mana tanggung jawabmu sebagai suami? Sudah lewat empat jam dari waktu makan dan engkau tidak juga muncul untuk menemaniku makan. Apakah kau sudah tidak perduli lagi kepadaku?"

"Sayang," jawab sang suami dengan kalem namun ketus. "jika aku tidak pulang jam segini, kita bukan hanya tidak bisa makan bersama, tapi KITA TIDAK AKAN PUNYA UANG UNTUK MAKAN."

---------------

Demi Tuhan, untuk bangsa dan almamater - merdeka!


.

Senin, 01 Juni 2009

Roh Kudus, Kuatkanlah Kami

"Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8)

Minggu kemarin kita merayakan Hari Pentakosta - hari ke-50 setelah kematian Kristus, dan hari ke-10 setelah kenaikanNya. Lalu apa sih yang terjadi pada hari itu? Mari lihat Kisah Para Rasul 2:1-47.


1Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
2Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;
3dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
4Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.


Apa yang bisa kita lihat:

Murid-murid Yesus yang tadinya tidak bisa apa-apa, tidak berpendidikan; hanyalah sekumpulan rakyat jelata: nelayan, pemungut cukai, pemberontak; mendapat Roh Kudus, lalu berbicara dalam bahasa-bahasa lain. Kita lihat di ayat-ayat selanjutnya:

5Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.
6Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.
7Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: "Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?
8Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:
9kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,
10Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,
11baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah."
12Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: "Apakah artinya ini?"
13Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis."


Dengan kata lain, murid-murid yang tadinya katro itu menunjukkan kepandaian yang luar biasa, sampai-sampai masyarakat tidak percaya kalau mereka bisa melakukan hal sepintar itu. Meskipun demikian, murid-murid terus menunjukkan kepintaran mereka dengan menjawab keragu-raguan masyarakat itu:

14Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.
15Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan,
16tetapi itulah yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi Yoël:
17Akan terjadi pada hari-hari terakhir -- demikianlah firman Allah -- bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi.
18Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat.
19Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap.
20Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu.
21Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.

Orang-orang katro ini bahkan bisa mengutip Kitab Suci Yahudi. Lebih dari itu, mereka seakan-akan mendapat keberanian kekuatan batin entah dari mana untuk bersaksi membela Guru mereka, Yesus Kristus. Yesus yang pada masa itu masih berstatus penjahat bagi pemerintah Romawi dan penyesat bagi agama Yahudi. Yesus yang waktu Dia ditangkap, orang-orang katro yang katanya murid-muridNya ini kabur meninggalkanNya karena takut ditangkap. Bahkan Petrus, orang yang kita lihat paling banyak omong tadi, waktu Yesus ditangkap malah menyangkalNya sampai tiga kali karena takut ditangkap juga.

Dari mana ya keberanian itu?

Kita lihat bagaimana mereka 'membela' Guru mereka:

22Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.
23Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.
24Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.
25Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
26Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram, 27sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.
28Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.
29Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini.
30Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya.
31Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan.
32Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.
33Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Allah dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.
34Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku:
35Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.
36Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus."

Petrus dkk dengan jelas menyebut Yesus sebagai Tuhan dan Mesias, hal yang membuat Yesus dihukum mati oleh penguasa Romawi dan imam-imam Yahudi. Kalau dilihat sepintas, hal ini namanya cari mati.

Tapi apa hasilnya? Kita lihat...

37Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: "Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?"
38Jawab Petrus kepada mereka: "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.
39Sebab bagi kamulah janji itu dan bagi anak-anakmu dan bagi orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita."
40Dan dengan banyak perkataan lain lagi ia memberi suatu kesaksian yang sungguh-sungguh dan ia mengecam dan menasihati mereka, katanya: "Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini."
41Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa.


Gila. Orang-orang malah bertobat. Dan bukan cuma bertobat...

42Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
43Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda.
44Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,
45dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
46Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,
47sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Bukan cuma bertobat, untuk seterusnya orang-orang yang dipertobatkan itu mempraktekkan gaya hidup yang benar dan mampu menarik lebih banyak orang lagi untuk selamat.

........................

Nah sekarang pertanyaan intinya... kenapa kita harus merayakan Pentakosta?

Kita merayakan Pentakosta karena... karena hal yang membuat para murid yang tadinya katro menjadi bijaksana dan berani. Yaitu Roh Kudus, Roh Allah. Roh Kudus yang memampukan para murid yang bukan siapa-siapa menjadi anak Tuhan yang luar biasa.

Kita, orang percaya, adalah murid-muridNya.

Kita, murid-muridNya, seringkali menganggap diri kita katro, nggak bisa apa-apa, ampas, sehingga kita menyerah... dan nggak mau melayani dia karena merasa kurang layak.

"Aku malu Tuhan, nilaiku jelek-jelek. Nanti apa kata orang kalau anak Tuhan nilainya jelek?"

"Jangan sekarang Tuhan, aku nggak bisa bagi waktu."

"Aku nggak pintar ngomong, Tuhan."

"Aku masih banyak dosa, Tuhan, aku nggak layak."

Roh Kudus yang akan menutupi semua itu! Tuhan telah memilih kita dan Ia tidak cuma asal lempar kerjaan saja. Dia akan memperlengkapi kita dengan sarana perang, api yang berkobar dari Roh Kudus!



Ingat Pentakosta. Ingat Roh Kudus yang diam dalam kita, murid-muridNya.

"Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya." (Roma 8:30)

.

Kamis, 21 Mei 2009

Pesan Terakhir Kristus

What is Jesus' last words for us before He left this earthly world? Let's see...

"Go, then, to all peoples everywhere and make them my disciples..." (Matthew 28:19)

"Go throughout the whole world and preach the gospel to all mankind..." (Mark 16:15)

"...you will be witnesses for me... to the ends of the earth." (Acts 1:8)




Have we qualified enough to fulfill His last words in this world? With our daily deeds so that the world could see the glory of God inside us and therefore also glorifying Him?

(celebrating The Ascension of Jesus Christ to Heaven)



You came from heaven to earth
(to show the way)
From the earth to the cross
(my debt to pay)
From the cross to the grave
From the grave to the sky
LORD I lift Your Name on high!





.

Sabtu, 09 Mei 2009

Unit Perlu Diwakili Tidak?

Salam hangat untuk setiap pembaca setia Bacotan Orang Terbuang. Kali ini Si Pembacot a.k.a. Alfonso R. P. del Castillo kembali menghadirkan sebuah tulisan, namun jika biasanya tulisan saya selalu layak dibaca, sekarang saya tidak menghadirkan tulisan untuk dibaca saja namun terutama untuk dikomentari, khususnya untuk rekan-rekan sesama mahasiswa ITB.

Begini ceritanya...

Seperti yang teman-teman tahu, di ITB ini ada 2 macam organisasi kemahasiswaan, yaitu himpunan dan unit. Himpunan itu ya isinya mahasiswa di jurusan/fakultas/sekolahnya masing-masing (di ITB ada 29), yang berdasarkan keprofesian di bidang ilmunya masing-masing. Klo unit itu ada banyak, dan unit merupakan tempat buat penyaluran minat dan bakat, bisa di bidang olahraga, kesenian, diskusi dan kajian, ekonomi, jurnalistik, atau keagamaan, atau yang lainnya. Untuk teman-teman ITB pasti tau lah ya bedanya lingkungan pergaulan di himpunan dan di unit. Pasti beda. Terutama teman-teman yang aktif di keduanya pasti paham.

Nah, di ITB ini kan kita hidup dalam sebuah organisasi yang lebih besar lagi, yaitu KM-ITB. KM-ITB itu mengatasi himpunan-himpunan dan unit-unit. Malahan pada intinya kan KM-ITB itu sebenernya organisasi yang terdiri dari himpunan-himpunan dan unit-unit.

Nah, di setiap kelompok apapun kan diusahain semua anggotanya yang megang peranan dalam menjalankan kelompok tersebut. Contohnya aja waktu rapat RT diusahain semua datang rapat RT kan, biar nggak ada yang keberatan dengan hasilnya. Idealnya sih begitu...

Untuk kelompok yang gede, kan pasti ada yang namanya sistem perwakilan biar semua bisa terwakili. Satu perwakilan mewakili kelompok-kelompok kecil yang ada di kelompok besar itu. Kumpulan perwakilan inilah yang jadi lembaga tertinggi di kelompok itu. Contohnya aja pemerintahan Indonesia yang punya MPR (perwakilan tiap daerah), universitas negeri macam ITB yang punya Majelis Wali Amanat alias MWA (isinya ada perwakilan tiap pihak yg punya kepentingan di ITB: rektorat, mahasiswa, masyarakat, dosen, pegawai, pemerintah). Atau himpunan mahasiswa di ITB macam HIMATEK yang punya Badan Perwakilan Anggota (BPA, yang mewakili angkatan masing-masing).

Nah, sama pula dengan KM-ITB yang terdiri dari himpunan-himpunan dan unit-unit. KM-ITB juga punya kumpulan perwakilan dari lembaga-lembaga di bawahnya (himpunan dan unit). Seperti organisasi lainnya, kumpulan perwakilan ini jadi lembaga tertingginya KM-ITB. Namanya pasti teman-teman sudah kenal baik: Kongres KM-ITB, yang menduduki posisi tertinggi seperti MPR Indonesia, MWA ITB, atau BPA HIMATEK. Isinya Kongres, ya perwakilan himpunan dan unit, satu orang per lembaga, yang namanya senator. Seperti biasa, Kongres dibuat sebagai perwakilan biar klo KM-ITB mengambil kebijakan, semua anggota KM-ITB (himpunan dan unit) terwakili dan nggak ribut atau protes.

Klo mau adil, kan seharusnya dibuat 1 orang mewakili 1 himpunan/unit. Jadi ada 1 senator per himpunan/unit. NAAAAAAH... tapi kita udah bahas tadi, himpunan dan unit memang beda. Suasana di dalamnya agak beda, lingkungan pergaulannya beda, keanggotaannya beda, tujuannya pun juga beda. Himpunan isinya anak2 sejurusan yang punya latar belakang ilmu yang sama, unit isinya anak2 berbagai jurusan yang hobi atau minatnya sama. Kaderisasi di himpunan umumnya lebih 'mengikat', bahkan dalam Rancangan Umum Kaderisasi KM-ITB, semua orang harusnya masuk himpunan. Sementara, unit cenderung lebih 'bebas' karena berdasarkan bakat dan minat.

Dalam dunia kemahasiswaan, rata-rata himpunan lebih menaruh perhatian pada sistem KM-ITB (karena dalam sejarahnya pun, KM-ITB didirikan oleh himpunan-himpunan se-ITB). Makanya, dalam kenyataannya, himpunan-lah yang lebih banyak mengirimkan senatornya ke kongres. Sementara unit, rata-rata hanya memiliki kepentingan terhadap kelangsungan unitnya sendiri saja dalam hubungannya terhadap sistem KM-ITB. Jadi, kepentingan himpunan dan unit berbeda. Maka dari itu, untuk unit tidak bisa diterapkan 1 unit 1 senator seperti di himpunan.

Mengapa? Karena himpunan ada 29 dan unit ada sekitar 79! Dapat dibayangkan klo Kongres yang lembaga tertinggi didominasi oleh perwakilan unit. Makanya itu, unit dibatasi keterwakilannya di kongres menjadi 29 orang juga, sama dengan banyaknya senator himpunan. Bagaimana 79 unit diwakili 29 orang? Caranya adalah dengan membagi-bagi 79 unit itu jadi rumpun (kelompok) unit: ada seni-budaya, kajian-pendidikan, olahraga, dan media. Tiap rumpun diwakili sekitar 1-5 senator tergantung keputusan ketua-ketua unit masing-masing rumpun. Untuk 5 unit agama dikirimkan masing-masing 1 senator karena kepentingan unit agama tidak bisa diserumpunkan.

Namun demikian, tetap saja yang selama ini terlihat adalah partisipasi senator himpunan memang lebih banyak dari senator unit. Senator himpunan masih mendapat pengawasan dan perhatian dari BPA atau lembaga yang mengatasi dia di himpunan, sedangkan di unit seringkali tidak begitu karena masih belum jelas siapa yang bertanggung jawab atas senator masing-masing rumpun. Ada juga yang merasa bahwa kepentingan tiap unit beda-beda bahkan dalam satu rumpun, jadinya nggak bisa diwakili oleh senator rumpun.

Intinya, di sini lagi ada debat seru: senator unit perlu nggak sih?

Terlebih lagi, klo kita baca RUK, himpunan kan adalah basis massa. Basis massa itu... seperti ini. Klo di Indonesia, propinsi-lah basis massanya. Setiap orang pasti punya wakil di MPR, yaitu dari propinsi tempat dia nyoblos. Seseorang nggak bisa nyoblos di 2 propinsi bukan? Namun pada zaman Pak Harto, diasumsikan ada 'golongan' yang juga punya kepentingan lain dari propinsi. 'Golongan' ini juga harus terwakili di MPR. Makanya ada Fraksi TNI-Polri dan Fraksi Utusan Golongan. Contoh utusan golongan: dari golongan buruh, agamawan, usahawan, seniman, pemuda, kewanitaan, dll. Nah, klo di KM-ITB, golongan ini kita ibaratkan sebagai unit.

Masalahnya di sini, nanti ada yang keterwakilannya dobel donk. Misalkan ada seorang pemuda Jawa Barat, berarti di MPR dia bisa diwakili caleg yang menang pemilu di dapil Jabar DAN utusan golongan pemuda. Biar adil, seharusnya utusan golongan ditiadakan donk? Nggak juga, soalnya utusan golongan harus menyuarakan kepentingan golongannya. Misalnya, si utusan golongan pemuda tau dan harus fokus menyuarakan kepentingan pemuda, yang mungkin anggota MPR dari Jabar nggak tau dan nggak ahli tentang kepentingan pemuda.

Sama kayak di KM-ITB. Misalkan Saudara Ferdie Darmawan dari HIMATEK punya kepentingan tentang KSEP (kgk tau dah, lu masih di KSEP kgk Fer? hahaha... gpp lah, buat contoh aja yah..) dan harus disuarakan di KM-ITB, akan susah bagi Saudara Alfonso selaku Senator HIMATEK untuk memahami seperti apa sih kepentingan KSEP... Namun di satu sisi itu berarti Saudara Ferdie Darmawan punya suara dobel, dari Saudara Alfonso selaku senator himpunan beliau dan dari senator rumpun unit kajian-pendidikan.

Jadi untuk teman-teman, ada satu pertanyaan yang ingin saya ajukan:

Sebenarnya unit perlu senator atau tidak sih?
Dan jelaskan pertimbangannya. Mohon dijawab ya teman-teman, terima kasih. Maaf klo ada salah-salah kata, klo ada tolong dikoreksi dengan sopan dan jelas dan tidak memancing emosi.

Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater - merdeka!


.

Minggu, 03 Mei 2009

Hidup Sebagai Hamba Allah

Hidup Sebagai Hamba Allah (I Petrus 2:11-25)
Inti dari pelayanan adalah hidup yang melayani. Pelayanan terhadap Tuhan yang sesungguhnya adalah jika dalam kehidupan sehari-hari kita berbuat sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan demikian kita menjadi hamba Tuhan yang sesungguhnya.

Bagaimanakah kita sebagai seorang hamba Tuhan, pelayan Tuhan, di lingkungan seperti ini, diharuskan berlaku oleh Tuhan setiap harinya? Mari kita buka I Petrus 2:11-25.

11Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa. 12Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.

Hidup kita hendaknya kudus dan benar dalam Tuhan, sehingga orang lain di sekitar kita menganggap anak-anak Tuhan itu baik dan syukur-syukur mereka menerima Tuhan Yesus dan diselamatkan (Matius 5:16). Amin? Itulah pelayanan kita yang sejati, yang membawa jiwa-jiwa kepada Yesus.

13Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, 14maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.

Kita sebagai orang percaya hendaknya menaati otoritas yang berlaku di lingkungan kita, meskipun bukan orang percaya yang memegangnya (Matius 22:21). Jadi, kita nggak boleh menentang pemimpin kita hanya karena dia berbeda keyakinan. Tapi ingat, kita tunduk pada mereka dalam Tuhan. Kalau ada hal yang bertentangan dengan hukum Tuhan, kita tahu mana yang harus kita dahulukan.

15Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh. 16Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.

Kita diberi kebebasan untuk relevan dengan perkembangan zaman, dan kita dapat saja menggunakan cara-cara yang digunakan oleh orang-orang dunia dalam menjalani hidup, selama semua itu bertujuan untuk melayani Allah (I Korintus 9:19-21). Contoh paling nyata: alangkah baiknya jika Internet digunakan untuk menyebarkan pesan tentang Injil kepada teman-teman kita, bukan buat nyari bokep!

17Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja! 18Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.
Melayani Tuhan berarti berbuat baik kepada semua orang, karena itulah kehendak Tuhan (Matius 22:39). Kita berbuat baik terhadap orang lain bukan untuk menyenangkan orang tersebut, tetapi untuk menyenangkan Tuhan. Jadi, jika ada yang bertanya “Kenapa gue harus mengasihi si XXXX yang menyebalkan itu?”, kita sudah bisa menjawabnya, bukan?

19Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. 20Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
Ini ayat untuk kita yang sering mengeluh kepada Tuhan tentang ketidakadilan dunia… Sabar, kalau betul kita menderita karena kita berbuat baik, Allah kita adalah Allah yang tak pernah ingkar janji. Ada upah besar bagi kita di surga.

21Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. 22Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.

Kristus harus menjadi teladan kita dalam melayani (Matius 5:48). Itu berarti, menjadi teladan kita dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah seperti Kristus: jauh dari dosa dan kebohongan.

23Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

Pelayanan paling ampuh adalah dengan menunjukkan pada dunia apa bedanya kita dengan mereka yang tidak mengenal Yesus: kita mengasihi semua orang termasuk orang-orang yang menganiaya kita (Matius 5:44). Jangan sekali-sekali membalas mereka; itu haknya Tuhan (Roma 12:19).

24Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. 25Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

Inilah mengapa kita harus melayani: pelayanan bukanlah cara kita untuk memupuk amal, bukan cara untuk mendapatkan pahala… Pelayanan adalah bentuk rasa syukur kita kepada Dia yang telah mati demi menebus dosa-dosa kita. Dia telah memberikan hidupNya untuk kita, masa’ kita nggak mau memberikan hidup kita untuk Dia?

Tidak ada alasan untuk tidak melayani.

Untuk rekan-rekan yang akan menjadi pengurus PDTK setahun ke depan: selamat melayani Tuhan.
Untuk rekan-rekan pengurus PDTK yang akan mengakhiri masa jabatannya: teruskan melayani Tuhan.
Untuk semua saudara seiman: hiduplah untuk melayani Tuhan.

Alfonso R., TK’06




[Tulisan ini ada di warta PDTK bulan April, dan memang dikhususkan dibuat untuk momen pergantian kepengurusan PDTK]

Fiat voluntas Tua, sicut in caelo et in terra.



.

Sabtu, 02 Mei 2009

Bila Kau Yang Membuka Pintu

Merasa punya masalah berat dalam hidup? Ingin minta tolong ke orang lain tapi ditolak? Merasa dunia tidak adil? Salah sendiri.

Setiap orang pasti punya masalah masing-masing. Salah besar jika kita punya masalah lalu kita menganggap minta tolong ke orang lain bisa langsung menyelesaikan masalah. Mereka juga sudah banyak dibebani persoalan tersendiri yang mungkin lebih parah dari persoalan kita.

Lantas bagaimana? Jawabannya sebenarnya sederhana, klise, tapi ya memang begitulah adanya: minta tolonglah ke Dia yang tidak memiliki masalah... dan yang berkuasa untuk menyelesaikan masalah.

Ini cuma sedikit catatan kecil yang gw bikin untuk jadi pengingat, untuk jadi penanda, untuk jadi penyemangat buat diri gw sendiri... syukur2 klo bisa untuk orang lain juga... bahwa sebenarnya berharap sama orang lain sia-sia, orang lain juga kemampuannya terbatas... kenapa nggak berharap sama Yang Maha Kuasa aja sih, Dia pasti akan bantu (mungkin lewat tangan orang lain juga).

Segala perkara dapat kutanggung dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4:13.

Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Matius 11:28.

Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Ulangan 31:6.

Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. I Petrus 5:6.

TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun. Ulangan 28:13.

Bila Kau yang membuka pintu
Tak ada satupun dapat menutupnya
Bila Kau yang mengangkat aku
Tiada yang dapat merendahkanku








.