Kamis, 25 Desember 2008

Merry Christmas Everyone

Dengan ini tim redaksi Bacotan Orang Terbuang a.k.a. seorang Alfonso Rodriguez Peña del Castillo mengucapkan kepada rekan-rekan pembaca sekalian:



Merry Christmas, my friends. Jesus be with you!
Joyeux Noël, mon ami. Jésus est avec toi!
Fröhliche Weihnachten, mein freunde. Jesus sie seigen!
Feliz Navidad, amigos. Jesus está contigo!
Prettige Kerstdagen, mijn vrienden. Jesus zal jullie bewaren!
Buon Natale, amico. Gesù è teco!
God Jul, mina vännen. Jesus finns med nu!
Schastlibij Rozhdystvom, priatylo moja. Iisus vmyst’oj!
Selamat Natal, kawan-kawanku sekalian. Yesus menyertai engkau!


To live is Christ
so the thing that is right
is surely to be the light


Holy... to the King of Glory
Holy... to the Righteous One
Holy... for You alone are worthy
Jesus, Saviour of The World





.

Rabu, 24 Desember 2008

All I Want For Christmas is You (Who? Hehehe)

Mariah Carey - All I Want For Christmas is You

I don't want a lot for Christmas
There is just one thing I need
I don't care about the presents
underneath the Christmas tree
I don't need to hang my stockings
There upon the fireplace
Santa Claus won't make me happy
With a toy on Christmas day
I just want you for my own
More than you could ever know
Make my wish come true
All I want for Christmas is you

I won't ask for much this Christmas
I won't even wish for snow
I'm just gonna keep on waiting
Underneath the mistletoe
I won't make a list and send it
To the North Pole for Saint Nick
I won't even stay awake to
Hear those magic reindeer click
'Cause I just want you here tonight
Holding on to me so tight
What more can I do
All I want for Christmas is you



Dari berbagai tafsiran yang bisa muncul untuk lagu Mariah Carey ini, ada beberapa poin yang menarik perhatian gw.

Apa sih yang kita cari pas Natal?

Gw nggak akan bicara banyak karena lagu itu dengan tepat sudah 'menggambarkannya'. Pusat perayaan Natal bukanlah pada kemeriahan, bukan pada hadiah, bukan pada perayaan... Mungkin itu semua memang bagian yang wajar-wajar saja dari Natal, namun bukan merupakan pusatnya...

Pusatnya adalah 'you'.

Entah siapakah 'you' menurut Mariah Carey, tetapi bagi gw sudah jelas.

Natal adalah tentang cinta. Bukan cinta duniawi yang sering kita lihat di novel, film, maupun game, cinta bersyarat yang terkadang tanpa sadar kita percayai sebagai cinta sejati 100%... namun cinta yang sesungguhnya, cinta tak bersyarat, yang di mata dunia merupakan kebodohan.

Natal adalah tentang anugerah. Sesuatu yang diberikan cuma-cuma meskipun si penerima tidak layak menerimanya.

Natal adalah tentang keajaiban. Di mana dosa yang merah seperti kain kirmizi akan dihapus hingga yang tertinggal hanyalah putih salju saja.

Natal adalah tentang keselamatan. Di mana Dia diberikan kepada dunia, supaya semua orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, namun beroleh kehidupan yang kekal.

Natal adalah tentang damai sejahtera dan sukacita. Sang Penebus telah datang ke tengah-tengah kita untuk mengangkat beban kita.

Natal adalah tentang Dia, yang lahir pada hari itu;
yang karena Dialah Natal dirayakan;
yang karena Dia datang ke dunia untuk membawa anugerah, mukjizat, keselamatan, damai sejahtera, dan sukacita, maka Natal dirayakan.

Yes.

Christmas is all about love; about grace, miracle, salvation, peace, and joy.

Then say it loudly:


"All I want for Christmas is You, Jesus."




.

Minggu, 21 Desember 2008

Hasil Polling: Siapakah Pemilik Blog Ini?

Ini hasil polling absurd kedua di Bacotan Orang Terbuang... Ada 12 suara yang masuk, dengan hasil sebagai berikut:

2 orang (16%) menganggap saya sebagai teman sekolah mereka.
4 orang (33%) menganggap saya sebagai teman kuliah mereka.
2 orang (16%) juga menganggap saya sebagai pacar/mantan pacar mereka.
6 orang (50%) menganggap mereka tidak kenal sama sekali dengan saya dan saya bukan siapa-siapa mereka.
Tidak ada (0%) yang menganggap saya sebagai kenalan mereka di tempat selain sekolah dan kampus.

Hasil di atas memberikan kesimpulan sebagai berikut:
1. Wajar kalau teman kuliah saya yang membaca lebih banyak dari teman sekolah saya, sebab blog ini baru dibuat waktu saya kuliah.
2. Saya tidak terkenal di luar sekolah dan kuliah, sebab orang-orang kenalan saya di luar sekolah atau kampus tidak membaca blog ini; jikalau mereka membaca pun, mereka akan mengisi "tidak kenal, bukan siapa-siapa".
3. Blog saya cukup dipromosikan karena setengah pembacanya justru orang-orang yang tidak kenal saya.
4. Saya menjadi bingung memikirkan apa gerangan motivasi terselubung orang-orang (2 ORANG) yang mengaku sebagai mantan pacar atau pacar saya, sementara saya tidak pernah mempunyainya. Bercanda kah? Ngefans kan? Atau apa? Silakan berikan opini anda, para pembaca...



Penutup:
Karena begitu banyak orang yang tidak kenal saya, terutama sekali di lingkungan luar sekolah dan kampus, yang membaca blog ini; tentunya saya perlu memperingatkan lagi kepada setiap orang yang membaca blog saya, apalagi yang ngakunya tidak kenal saya (makanya perlu tahu fakta ini, soalnya mungkin yang KENAL sama saya udah tau): saya menulis blog ini bukan untuk kesenangan anda, bukan untuk dipuji orang, bukan untuk jadi tenar, bukan untuk apa-apa; seorang penulis tidak butuh alasan lain-lain untuk menulis, selain hanya karena dia senang menulis. Jadi kalau ada yang merasa tulisan-tulisan saya ini mengganggu mata anda, langkah paling tepat adalah pencet tombol bergambar X di sudut kanan atas window ini. Atau seperti yang udah pernah saya tulis di salah satu post lama saya, ke laut aje.

Polling absurd ketiga di Bacotan Orang Terbuang akan segera muncul... Hati-hati, ini berpotensi besar menyinggung anda para pembaca sekalian.



.

Jumat, 19 Desember 2008

HIMATEK yang Jaya

Ini adalah cerita tentang suatu masa di mana HIMATEK jaya.

Ini adalah cerita saat semua anggota HIMATEK merasa memiliki dan dimiliki oleh himpunannya, dan dekat satu sama lain terlepas dari asal-usul dan angkatannya. Saat semua anggotanya merasa sebagai satu kesatuan dan satu keluarga, yang bangga akan identitasnya.

Anggota BPA saat itu adalah orang-orang yang paling dekat dengan rekan-rekan seangkatannya, sehingga jika orang-orang memiliki saran dan keluhan tentang himpunan, tidak ada seorang pun yang sungkan bercerita kepada anggota BPA. Jika anggota BPA sedang memiliki waktu kosong di luar kesibukan akademik, mereka akan selalu mengajak ngobrol rekan-rekan seangkatannya yang mereka jumpai, untuk menyampaikan informasi maupun bertanya tentang semua isu yang ada. Ngobrol bisa di mana saja; di meja himpunan, di sela-sela kegiatan bergosip, di kos teman saat belajar bareng, di lab saat waktu luang, di kantin, di kendaraan umum, saat main futsal, saat lari pagi, di mana saja, kapan saja.

Dan hal ini dimungkinkan karena semua anggota BPA tidak ada yang menjabat dalam bentuk apapun pada acara-acara himpunan sehingga memiliki banyak waktu untuk berkonsentrasi dalam bagian terpenting pekerjaannya, yaitu mewakili angkatannya.

Kemauan semua anggota himpunan ditampung dan disampaikan BPA kepada sang Kahim, yang memang dekat dengan semua massa HIMATEK; dikenal angkatan bawah sebagai figur yang tidak sombong dan mau berbagi nilai-nilai, dicintai angkatan sendiri sebagai rekan yang dekat di hati dan selalu bisa mengajak teman-temannya untuk bekerja bersama, dan dihormati angkatan atas sebagai pemimpin muda yang terbuka terhadap saran dan kritik namun tetap tegas dan visioner.

Antara sang Kahim dan BPA tidak ada batasan formal; BPA berperan sebagai rekan sekerja Kahim. Nasihat-nasihat yang diberikan tidak melulu formal; keluhan seorang anggota saja dapat langsung diberitakan BPA kepada Kahim, sehingga sang Kahim tahu benar concern dari tiap-tiap anggota himpunannya yang berjumlah 300-an itu, orang per orang.

Sang Kahim bekerja bersama-sama timnya, yaitu Badan Pengurus. Istilah Kadiv menjadi kurang populer, digantikan oleh Koordiv; karena semua anggota divisinya ikut berperan, ikut bekerja, dan ikut berpikir dalam menentukan dan menjalankan proker-prokernya sehingga tugas sang Koordiv hanya me-manage ide-ide dan pekerjaan-pekerjaan anggotanya, bukan lagi menjadi sumber tunggal ide-ide dan penentu tunggal kebijakan seperti yang sering terjadi. Meskipun tanggung jawab atas divisinya dipegang oleh Koordiv, namun sang Kahim atau siapapun tidak perlu bertanya pada Koordiv jika ingin mengetahui progress divisinya. Cukup tanyakan kepada salah satu anggotanya, karena semua anggota divisi mengenal divisinya sebaik Koordivnya.

Semua anggota himpunan selalu tahu segala perkembangan terkini tentang himpunan. Selain karena anggota-anggota BPA yang tiap hari tak kenal lelah menyampaikan info-info kepada semua orang yang mereka temui, juga karena Divisi Kominfo yang tiap hari rutin menerbitkan selebaran tentang isu apapun yang terkini di kelas-kelas.

Acara-acara rutin himpunan disambut baik oleh semua anggota. Semua mau berpartisipasi, semua mau memiliki. Form-form oprec kepanitiaan selalu terisi penuh; dan semua yang mengisi tidak hanya ikut-ikutan namun sungguh ingin bekerja. Tidak ada batasan angkatan. Anggota yang sudah Tingkat 3 dan 4 ikut bekerja di lapangan saat acara-acara Syukuran Wisuda dan acara-acara lainnya.

Karena banyaknya sumber daya anggota untuk kepanitiaan, tidak ada lagi orang yang terpaksa mengorbankan prestasi akademik untuk bekerja total di kepanitiaan sementara ada orang lain yang enak-enakan belajar. Semua kegiatan di tiap divisi dan tiap acara dilakukan dengan pembagian kerja yang baik sehingga semua orang memiliki waktu belajar yang sama dan juga waktu berorganisasi yang sama.

Dengan demikian prestasi akademis setiap anggota pun terjaga, apalagi Divisi Akademik rajin menggelar kegiatan responsi maupun belajar bersama tidak hanya menjelang ujian, tetapi rutin. Dan kegiatan ini tidak membuat alergi orang-orang, karena dijalankan secara informal dan menyenangkan, sama halnya seperti belajar bareng saja. Orang-orang yang mengadakan responsi ini memang orang-orang yang bisa menerangkan pelajaran dengan baik sehingga penjelasannya mudah dan enak dimengerti. Tujuan kegiatan belajar bersama ini bukan saja untuk memperoleh nilai bagus, namun juga menumbuhkan minat dan pemahaman terhadap mata kuliah yang diajarkan dan aplikasinya.

Tumbuhnya minat kepada bidang keilmuan, diiringi bagusnya prestasi akademik, membuat anggota himpunan tertarik untuk terjun langsung dalam aplikasi. Program-program pengabdian masyarakat yang dimotori Divisi Workshop kebanjiran peminat. Sumber daya manusia HIMATEK yang luas membuat program-program pengabdian masyarakat HIMATEK pun beragam lingkupnya, mulai dari skala lokal kampus, regional, hingga nasional. Nama HIMATEK pun jadi mashyur karena setiap anggotanya yang mengobrol dengan rekan-rekan mahasiswa dari jurusan lain semuanya dapat bercerita panjang lebar dan detail mengenai program-program pengabdian masyarakat yang sukses, karena mereka sendiri telah terlibat di dalamnya.

Apalagi jika melihat acara-acara HIMATEK yang selalu ramai, karena semua anggotanya terlibat. Setiap pertandingan olahraga, basket, voli, futsal, yang melibatkan HIMATEK, selalu dipenuhi penonton. Setiap himpunan yang akan tanding melawan HIMATEK harus datang untuk menjaga tempat duduk minimal satu setengah jam sebelum pertandingan, kalau tidak mereka tidak akan kebagian tempat duduk, kalah melawan lautan jaket hitam berisi 200an massa HIMATEK yang sangat antusias mendukung timnya dengan yel-yel khas yang pasti dikenali seluruh mahasiswa ITB karena begitu sering dan kerasnya dikumandangkan, baik saat timnya menang atau kalah.

Makrab-makrab himpunan yang digelar setidaknya dua kali satu semester, tidak bisa lagi digelar di selasar Labtek X karena anggotanya yang datang pasti melebihi 250 orang. Wisudawan-wisudawan HIMATEK meninggalkan kampusnya dengan perasaan bangga karena diiringi oleh 200an junior-juniornya yang mengarak mereka dari SABUGA menuju sekre HIMATEK yang baru, tempat berlangsungnya acara syukuran.

Sekre baru ini diperoleh setelah sang Kahim beserta seluruh massa melobi Program Studi untuk memberikan sekre yang baru, yang lebih luas, yang lebih nyaman. Hubungan Program Studi dan himpunan begitu baik berkat citra himpunan yang bersih dan profesional. Sekre baru segera diberikan kepada himpunan, di salah satu ruangan Labtek X yang tak ragu dikorbankan Prodi untuk himpunan kebanggaannya ini. Sekre lama digunakan sebagai tempat usaha untuk menjual makanan, minuman, buku-buku, suvenir, dan produk-produk lain khas HIMATEK. Juga digunakan sebagai pusat informasi tentang segala kegiatan HIMATEK yang ditujukan untuk mahasiswa luar HIMATEK, termasuk untuk penjualan majalah bulanan HIMATEK yang diterbitkan Divisi Kominfo. Semua itu di bawah pengelolaan Divisi Dana Usaha, yang segera saja menjadi mesin pencetak uang untuk HIMATEK.

Divisi Konservator segera saja menjadi salah satu divisi paling sibuk berhubung sekre himpunan yang harus dijaganya bertambah besar dan orang yang datang ke sana setiap hari ratusan jumlahnya. Buku-buku bacaan bertebaran untuk dibaca anggota yang sedang santai-santai tiduran di kasur sambil menonton televisi atau minum-minum kopi atau teh bikinan sendiri. Komputer himpunan yang berjumlah tiga selalu terpakai; satu untuk mendengarkan musik, satu untuk internet maupun ngeprint, dan satu lagi untuk main PES. Televisi pun ada dua; satu untuk menonton siaran televisi, satu untuk menonton DVD. Semua itu berkat keuntungan usaha yang besar, yang bahkan masih ada sisanya untuk membantu rekan-rekan anggota himpunan yang kurang mampu. Dalam menangani sekre himpunan, untunglah Konservator tidak kelabakan karena bersih-bersih himpunan yang diadakan sebulan sekali selalu dibantu oleh anggota-anggota lain yang banyak jumlahnya.

Sekre himpunan menjadi pusat kekeluargaan anggota, dan selalu ramai. Tapi kekeluargaan tidak hanya terbatas di sekre. Jika ada yang sakit atau kecelakaan, dalam waktu 1x24 jam pasti telah terkumpul uang sumbangan yang cukup untuk biaya pengobatannya, yang diserahkan langsung oleh perwakilan himpunan yang datang menjenguk. Tidak ada cerita tentang DO gara-gara keuangan, tidak mampu membeli buku, atau bahkan sepatu. Semua ditanggung himpunan lewat iuran bersama yang dengan senang hati diberikan rekan-rekannya yang lebih mampu. Setiap hari di sekre himpunan selalu ramai karena yang berulang tahun hari itu pasti dikerjain dan dirayakan ulang tahunnya di sekre himpunan.

Segera saja HIMATEK menjadi salah satu himpunan yang disegani di ITB. Apalagi Divisi Ekstern rutin mengadakan kajian strategis mengenai isu-isu terkini di kampus dan Indonesia, tak jarang mengundang anggota divisi lain, dan selalu diikuti sang Kahim. Hasil kajian inilah yang disuarakan pada forum-forum massa ITB, yang selalu mendapat aplaus dari mahasiswa-mahasiswa lainnya karena kajiannya yang berbobot, mendalam, dan tepat sasaran. Isu-isu tersebut selalu dikomunikasikan Divisi Kominfo kepada semua anggota himpunan lewat baik selebaran hariannya, majalah bulanannya, maupun media-media lainnya. BPA pun rajin memberitakan lewat obrolan-obrolan informal keseharian. Semua anggota pun paham tentang isu-isu yang ada di kampus dan di Indonesia, dan paham serta mendukung sikap himpunannya mengenai isu tersebut. Maka di forum-forum, omongan orang berjaket hitam dengan dua garis putih di lengan kanan selalu disimak dengan baik, siapapun dia.

Hal ini sangat mempermudah tugas Senator HIMATEK dalam menarik dan menyuarakan aspirasi; Senator HIMATEK yang adalah seorang yang sangat dekat dengan semua kalangan di himpunan, dipercaya dan dicintai semua golongan, bekerja secara total, dan menghabiskan waktunya untuk memahami suara himpunan serta menyuarakannya dengan diplomatis dan mengena di Kongres KM-ITB. Tugasnya menjadi jauh lebih mudah karena dia tidak perlu menggali lagi untuk mendapatkan aspirasi anggota; aspirasi tersebut sudah bermunculan di atas tanah dan tinggal dikeruk saja.

Pendapat Senator HIMATEK selaku perwakilan himpunan yang maju pun selalu mendapat perhatian khusus dari himpunan-himpunan lainnya. Ditambah lagi berhasilnya penanaman nilai-nilai di atas telah membuat anggota HIMATEK sadar apa artinya berKM-ITB sehingga banyak kader-kader HIMATEK aktif berkegiatan di Kabinet KM-ITB dan kegiatan-kegiatan terpusat lainnya. Nilai-nilai yang mereka dapat di HIMATEK ditularkan kepada rekan-rekan mahasiswa sehingga kemahasiswaan ITB cepat atau lambat menjadi kemahasiswaan yang kuat dan dekat dengan semua mahasiswanya, dan HIMATEK memegang peranan penting di dalam gerakan itu.

Saat sang Kahim beserta Badan Pengurusnya akan mengakhiri masa jabatan, mereka pun tersenyum. Bangga akan prestasi-prestasi yang telah dicapai himpunannya, namun terlebih lagi bangga karena memiliki HIMATEK sebagai himpunannya. Ditambah, mereka yakin bahwa pengganti-pengganti mereka adalah orang-orang yang tak kalah hebat, yaitu junior-junior mereka, hasil kaderisasi HIMATEK yang cerdas dan efisien. Kaderisasi yang membuat putra-putri terbaik bangsa yang baru memasuki gerbang perkuliahan sadar bahwa himpunan bukanlah beban, himpunan bukanlah pilihan, himpunan bukanlah kewajiban, namun himpunan adalah kebutuhan. Tidak ada lagi him dan nonhim; seluruh peserta kaderisasi paham betul apa arti berhimpun dan tidak ada orang yang sebodoh itu melepaskan kesempatan emas untuk berkarya dan berkeluarga dalam sebuah himpunan yang jaya.



Mengutip kata-kata sang presiden terpilih Amerika Serikat, Barack Obama:
"Yes we can."




.

Selasa, 09 Desember 2008

Landmark Selama 20 Tahun

"Happy birthday to me... Happy birthday to me...
Happy birthday... Happy birthday...
Happy birthday to me..."


Nggak kerasa udah 20 tahun gw hidup di bumi. Di sini gw cuma mencoba merekap, apa saja yang patut dikenang dalam 20 tahun kehidupan gw ini...



9 Desember 1988-9 Desember 1989

Gw dilahirkan di Bogor, 9 Desember 1988 (kata nyokap sih gitu). 1 tahun pertama dalam hidup, gw belum mendapat memori apa-apa dan gw ga ingat sama sekali apapun kejadian dalam tahun-tahun pertama hidup gw... selain dari cerita keluarga.


9 Desember 1989-9 Desember 1990

Nah... Bulan Mei, gw dapat adik baru... Yang sampe sekarang masih sering gw kibulin dan gw bego2in... Selebihnya sama, karena otak gw belum berkembang, gw ga inget apa-apa.


9 Desember 1990-9 Desember 1991

Ini baru tahun di mana gw akhirnya bisa mengingat sesuatu yang masih gw ingat sampai sekarang, biarpun cuma sedikit. Gw mulai belajar baca tulis pake maenan huruf2an... Satu dari beberapa kata awal yang gw ingat bisa gw susun adalah nama salah seorang tokoh kartun yang baru ngetop saat itu, "SUMEO". Ya, pake M.

Pertengahan tahun umur 2.5 gw udah (agak) lancar baca dan (sedikit) bisa nulis, dan gw dimasukin ke TK Bunga Bakung. Ada alasan khusus? Nggak sih, selain letaknya yang ada di kompleks Gereja Betel Elohim, persis seberang rumah gw waktu itu di Jalan Batutulis, saat engkong gw (katanya) punya usaha coklat Safari dan bokap gw (katanya) jualan dispenser.


9 Desember 1991-9 Desember 1992

Tahun-tahun pertama gw sekolah di TK. Dan hal yang bisa gw ingat (selain rumah lama gw yang ada lubang segede kolam renang buat bakar sampah) adalah seorang teman sekelas gw bernama Christy, yang kepadanya gw ada perasaan yang kalau gw ingat-ingat lagi enaknya dideskripsikan sebagai 'ketertarikan'.

'Cinta pertama' gw kah? Entah lah. Mungkin nggak sih. Masih TK gitu.

Yah... cuma bisa bertanya di manakah dia sekarang dan sedang apa... Lagian mukanya juga udah lupa-lupa ingat, siapa tau benernya pernah ketemu cuma ga nyadar aja.

Hehehe.


9 Desember 1992-9 Desember 1993

Satu setengah tahun sekolah. Gw dan keluarga pindah dari rumah gede di Batutulis itu, ke rumah kontrakan di perumahan baru (waktu itu) di Bumi Indraprasta, yang dulunya bekas kebun singkong. Alhasil tiap hari gw ke sekolah harus diantar jemput oleh Pak Wawan dengan mobil sedan keluarga gw yang dempulan (ini aja yang masih gw inget... hahaha).

Di sekolah, momen paling berkesan sekaligus paling goblok sepanjang sejarah gw di TK adalah saat gw ga bisa menyanyikan lagu 'Balonku Ada Lima' di depan kelas gara-gara ga hafal teks. Sejak saat itu, sudah menjadi resolusi pribadi gw untuk selalu strict dalam urusan hafal-menghafal teks; nggak boleh salah satu huruf pun.

Sampe kelas 5 SD, kalau ada mantan teman TK gw yang nyanyi 'Balonku Ada Lima' di depan gw, gw masih ngamuk.


9 Desember 1993-9 Desember 1994

Yay... umur 5.5 tahun, gw masuk SD. Sebelumnya, tes IQ pertama... 136. Nggak ngerti sih apa maksudnya, cuma ikut seneng aja kalau liat orang-orang, terutama bokap gw, bilang hal itu bagus.

Gw dimasukkan ke salah satu SD swasta bernama Mardi Yuana 2. Mulai kenalan dengan teman-teman baru... beberapa di antaranya si Robert dan si Adrian yang sering minjem pensil refill gw dan kgk pernah dibalikin.

Caturwulan I... Dapet ranking 2. Lagi-lagi nggak ngerti apa maksudnya, cuma gw dapat kesan kalau itu artinya gw beda sama yang lain.


9 Desember 1994-9 Desember 1995

Caturwulan II... Dapet ranking 1... Satu dari dua kali selama gw SD. Ngerasa biasa aja, cuma nyokap gw (klo ga salah?) bilang waktu itu ada temen gw dan nyokapnya yang sirik setengah mati sama gw.

Lagi hobi-hobinya maen Nintendo (jaman 8 bit) dan Sega... Kadang-kadang maen di rumah si Deni, tetangga seberang rumah en sohib baek gw. Klo udah maen bisa sampe 8 jam sehari dan ga jarang lupa bikin PR.

Naik kelas ke kelas 2, dapet wali kelas yang sama kayak kelas I, Bu Titin... Udah cantik, baik lagi... Gw masih inget waktu itu gw dan temen-temen sekelas diundang ke acara nikah beliau.

Ultah gw yang ke-7, gw dapet kado ultah pertama yang gw inget... Mobil-mobilan warna biru muda metalik.


9 Desember 1995-9 Desember 1996

Salah satu tahun yang membawa perubahan besar dalam hidup gw, banyak hal-hal pertama yang gw temui, sebagian besar karena gw naik ke kelas 3 dan bertemu wali kelas yang galaknya selangit, Ibu Tiorina Pulungan.

Gw sekelas sama juara umum seangkatan, Christian Surjadi, yang ga pernah dapet ranking selain 1 sejak kelas 1. Ini untuk pertama kalinya gw merasakan dapet 'lawan' yang pengen gw kalahkan, dalam bidang apapun (untuk orangnya: klo lu baca, jangan geer dulu bos... hahaha).

Pertama kalinya gw baca koran: Inggris mengalahkan Spanyol 4-2 adu penalti di Euro'96; Miguel Angel Nadal gagal penalti. Sejak ini gw jadi suka baca koran, suka sepak bola, dan suka timnas Inggris.

Ketegangan terasa saat gw main-main dan menjegal si Ratih sampe mukanya menghantam tutup got dan berdarah. Pertama kali gw ngerasa panik karena udah nyakitin orang lain, dalam bentuk apapun (untuk orangnya: klo lu baca, gw minta maaf yang sedalam-dalamnya).

Gw pernah mengalami 1 hari di mana ada 4 mata pelajaran dan yang ngajar Bu Tio semua, dan kebetulan empat-empatnya ada PR, dan (bukan) kebetulan gw tidak kerjakan semua. Guru yang sadis namun gw hormati ini memberi hukuman berdiri di depan kelas kepada semua anak yang tidak buat PR. Alhasil gw datang ke sekolah hari itu cuma buat berdiri, sampe siang. Tekanan batin pertama dalam hidup gw.

Gw membaca buku IPS dan Sejarah bekas milik saudara gw yang kelas 6 SD. Dari situ gw memperoleh kecintaan terhadap sejarah, politik, dan geografi, yang gw miliki hingga sekarang meskipun gw terdampar di jurusan terkutuk bernama depan TEKNIK ini.

Caturwulan II, ada anak pindahan dari SD negeri, namanya Inong dan mukanya emang agak (pake bahasa modern) katro. Dia menginspirasi gw untuk bikin semacam strip komik 1 halaman berjudul Si Dobol, panglima kerajaan bawah laut Makarel Udang, bersama teman-temannya Mr. Ateng dan Sersan Pensil. Yah... meskipun si Inong cuma bertahan 3 minggu di sekolah gw, komik Si Dobol tetap gw lanjutkan sampe edisi 50an gitu, dan sampe kelas 6 SD gw terus membuat komik-komik lain seperti Si Putra Antariksa, Pengamen Kesasar, dan lain-lain.

Gw diajak sekolah minggu untuk pertama kalinya pas gw kelas 3 ini, di bawah gereja yang masih menjadi gereja gw sampe sekarang. Pertama kalinya gw diajak mengenal Tuhan dan Juruselamat gw.

Ibu Tio suka sekali memarahi anak-anak yang nilainya jelek. Dan karena nilai gw termasuk bagus (always 2 besar gitu loh) gw jarang dimarahi kalau soal nilai. Dan di sini gw melihat bahwa perlakuan terhadap gw dan anak-anak yang nilainya bagus dibedakan dari perlakuan terhadap anak-anak lain yang nilainya jelek (Bu, bukan mau nyalahin Ibu atas mindset yang udah Ibu tanamkan pada saya ya...).


9 Desember 1996-9 Desember 1997

Gw akhirnya pindah rumah; bukan rumah kontrakan lagi, tapi benar-benar rumah milik keluarga sendiri, yaitu rumah gw yang sekarang.

Kepolosan kanak-kanak gw pernah membuat gw menulis "Ayah saya pengangguran" dalam sebuah tugas mengarang. Yah, namanya juga anak kecil, gw ga tau makna konotatif dari kata itu... hahaha. Dan ketika bokap gw diterima kerja di Yakult, gw masih ingat kalau beliau ngomong "Abis malu sih, dibilangin pengangguran sama anak sendiri". Hmm... no comment.

Maret, gw dapet adik baru lagi... Yang sampe sekarang juga sering gw bego2in, yang masih sering bikin gw kesel, yang pipinya masih sering gw cubit2in, dan yang sampe sekarang masih punya satu kebiasaan jelek... La, kamu tuh udah kelas 6 SD sekarang, malu... Klo sampe SMP-SMA masih gitu, gimana bisa dapet pacar... hahaha.

Menjelang kenaikan kelas, gw berantem sama temen sekelas dan temen satu mobil antar jemput gw. Perkaranya adalah gw pengen duduk sebelah adik gw yang baru kelas 1 SD dan baru ikut antar jemput, karena gw dipesen buat jaga baik2 adik gw (klo dipikir-pikir sekarang sih lebay juga ya?). Tapi dia udah keburu duduk di sebelah adik gw dan malah berlagak menyebalkan dan nonjok gw. Pelan sih, tapi gw bales dengan satu tendangan telak ke perutnya yang bikin dia muntah. Yah, sepele sih. Cuma akhirnya gw disuruh keluar dari antar jemput. Katanya sih soalnya nyokapnya si busuk ini bakal narik kedua anaknya (si busuk dan adiknya) dari antar jemput klo gw masih ada di sana, dan mereka mau bayar lebih mahal. Buat si busuk klo baca, fuck you, nama lu yang najis itu bahkan ga mau gw tulis di sini. Buat pemilik jemputan gw itu, Oom Santo, gw kecewa Oom, klo sampe bener hal itu kejadian gara-gara uang.

Naik ke kelas 4, kelas pertama gw di lantai 2. Gw dulu takut banget naik ke lantai 2 sekolah gw. Malu juga kalau diingat-ingat lagi. Di kelas 4 ini gw pertama kali dapet 'rival' yang menunjukkan klo dia sirik sama gw dan berusaha menjatuhkan gw. Yah, biar anonim lah.


9 Desember 1997-9 Desember 1998

Pertama kalinya nyontek. Gak sengaja sih. Ulangan IPS, no 20, ga tau jawabannya, ngelamun, tiba-tiba liat kertas temen sebangku. Jawabannya "Gunung Merapi". Benernya gw ga mau tulis, tapi tiba-tiba gw ingat klo gw pernah baca, emang ITU jawabannya, jadi gw tulis. Gw merasa sangat berdosa setelah itu. Sekarang? Hmmmm...

Gw pernah nggak sengaja main-mainin tinta (tau kan jaman jebot pas SD nulis pake pulpen tinta) sampe ngecrot ke punggung baju si Irene yang duduk di depan gw. Wali kelas gw, Bu Retno, menyuruh gw ke kantor Kepsek, Pak Agustinus Mujiya.

Di kantor Kepsek, setelah dimarahi panjang lebar... Pak Agus bertanya "Teman kamu yang kamu kenain tinta itu Cina juga?"

Gw cuma bisa bengong. Maksud? Cina apaan? Cina tuh nama sebuah negara asing nun jauh di sana, menurut gw waktu itu. Tapi karena gw agak ragu-ragu dan bingung, gw jawab aja "Mungkin, Pak..."

Pak Agus menjawab "Untung. Kamu tahu kalau orang Cina seperti kamu ini lagi banyak dicari orang? Hati-hati kamu."

Waktu itu sungguh gw completely blank dengan apa yang dimaksud beliau. 10 tahun kemudian, baru gw benar-benar mengerti apa yang terjadi, di mana seorang KEPSEK dengan enaknya menanamkan sentimen rasisme di depan muridnya, apalagi itu terjadi kurang dari tiga bulan sebelum MEI 1998.

Bu Retno bilang kepada gw "Karena kelakuan kamu, Ibu ga bakal kasih kamu ranking 2 lagi". Ternyata gw dapat ranking 1. Terima kasih, Bu... Dan oom gw membelikan gw PlayStation untuk itu. Hahaha... mantap.

Mei 1998. Anak-anak sekolah dipulangkan lebih awal. Pembantu gw tampak tegang menunggu kepulangan bokap-nyokap gw di rumah. Dan gw ga ngerti kenapa malamnya bokap dan nyokap gw keliatan stress. 10 tahun kemudian gw baru mengerti.

Pak Harto lengser keprabon... Krisis moneter... Chitato naek jadi gopek sebungkus... Huaaa....

Naik kelas ke kelas 5... Dapat wali yang kocak dan agak dogol, Pak Ignatius Budi Prabawa.


9 Desember 1998-9 Desember 1999

Ikut lomba Adu Nalar Sari Matematika IPB, setim dengan Christian dan Deni. Satu dari tiga regu yang dikirim sekolah gw; dua regu lain adalah anak kelas 6. Dan regu gw satu-satunya regu sekolah gw yang lolos sampe semifinal; yang laen gugur di babak pertama. Waktu itu gw bangga banget.

Retret ke Sukabumi, pertama kali ikut retret. Seperti peserta retret yang baik pada umumnya, gw menangis ketika malam kedua diingatkan tentang pengorbanan seorang ibu.

21 April 1999, gw menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.

Menjelang kenaikan kelas ada acara cerdas cermat antar kelas, gw masuk tim. Kelas gw menang di pertanyaan terakhir berkat jawaban gw yaitu... "Kambium" (pertanyaannya apa, gw lupa).

Kelas 6 SD gw adalah kelas maut dengan guru-guru killer. Wali kelas gw Pak Dede Ahyar Rumbana; guru Bahasa Indonesia kembali Ibu Tio, dan guru Matematika Pak C.D. Tasirun. Kalau diingat-ingat, omongan mereka terhadap anak-anak yang nilainya jelek dan pemalas itu sangat kejam dan keterlaluan. Dulu gw menganggapnya wajar; mungkin juga karena gw jarang dapat nilai jelek.

Kelas 6 adalah kelas EBTANAS. Dalam pelajaran tambahan IPS, di mana sekelas adalah 30 anak yang merupakan 10 besar dari tiap kelas, diadakan ulangan review materi kelas 4-5. Gw mendapat nilai tertinggi 95, sedangkan di bawah gw yang tertinggi adalah 45. Mungkin klo dilihat dari kacamata sekarang, itu bisa dipandang sebagai gila nilai klo gw bangga. Tapi dari kacamata seorang anak SD, itu merupakan sebuah pengakuan dan dorongan moral yang besar.

Gw lagi hobi-hobinya ngumpulin tutup botol. Kalau gak salah ingat, gw udah ngumpulin sekitar 350an tutup botol dari berbagai merek.


9 Desember 1999-9 Desember 2000

Pertama kalinya gw pulang naek angkot sendirian, karena gak ada yang bisa jemput.

EBTANAS lancar... gw peringkat 2 satu sekolahan dengan NEM 47 koma sekian (?) lupa gw.

Nyokap gw berencana mendaftarkan gw ke sekolah paling top di kota Bogor, tapi bukan karena topnya, melainkan karena lebih dekat 20 menit dari rumah gw dibanding sekolah gw yang dulu.

Jadilah gw mengambil tes masuk sekolah yang dikenal karena kepintaran murid-muridnya, kedisiplinan aturannya, dan kualitas lulusannya: REGINA PACIS BOGOR.

Keterima, dan jujur gw shock melihat anak-anaknya yang ternyata suka ngatain guru, tukang nyontek, di sekolah pagi-pagi bikin PR, berandalan... (mungkin juga semua SMP gitu kali ya?). Di luar itu, gw dapet sohib awal-awal Torang Sitorus alias Kambing, Riza Yukananto alias Pipis, dan Mario Paskalis alias Bapet. Juga Octaviaji Dwiputra yang rajin memberi gw duit... hehehe.

Banyak hal baru yang gw jumpai di sekolah baru gw ini. Mulai dari misa Katolik yang wajib diikuti semua anak, rame-rame nyalin PR pagi-pagi, perpusnya yang nyaman dan ber-AC, sampai Pak Vincentius Mukardi dengan pelajaran olahraganya yang bergaya militer-kuli. Yang paling top adalah Bu Roslin Parera, guru Seni Musik yang super kejam dan 2 jam pelajarannya selalu diwarnai ketegangan dan ocehan-ocehan menusuk jantung.

Satu hal yang berharga gw dapat tahun ini: klo sebelumnya di SD gw selalu 'menyelesaikan' permasalahan dengan berantem, di SMP Regina Pacis gw mendapat pengalaman bahwa kata-kata adalah senjata yang jauh lebih ampuh dari tinju.


9 Desember 2000-9 Desember 2001

Naik dari kelas 1 dengan masih sedikit pusing menyesuaikan diri, di kelas 2 mengenal hal baru lagi: BOKEP. Satu kata yang mewarnai hidup anak-anak kelas 2 SMP tiap hari. Nyewa VCD lah, ngintipin baju sama rok temen-temen cewe lah... Eh, gw ga pernah ikutan ya. Cuma ikutan kalo ngobrol doank. Maklum lah dasar masih udik dan cupu, kita masih banyak salah paham dan lebay soal begituan... Contohnya sampe tiga jam bingung nyari apa arti kata "anal" sampe nanya-nanya ke segala orang termasuk temen-temen cewe dan ga ada yang tau... hahaha. Dan emang dasar anak baru gede, segala macem obrolan ga penting pun bisa dikaitkan ke bokep... mulai dari yang emang nyerempet-nyerempet seperti anjing, selang air, sampe ke hal nggak penting macem mobil dan pohon beringin.

Mulai males ke gereja... keseringan main Digimon...

Gw ketemu guru baru Bahasa Indonesia yang super tengik, si Nugroho. Mantan jurnalis yang sok liberal dan reformis, padahal anarkis dan anti-kemapanan.


9 Desember 2001-9 Desember 2002

Hidup SMP gw sih hampa... 3 tahun masih fase adaptasi... Kejadian-kejadian tahun ini cuma...

Si Nugroho bikin kasus. Suruh tugas buat daftar "konotasi kanak-kanak"; jangan ketipu sama isinya, dia suruh minimal tulis istilah bokep yang banyak PLUS CONTOH KALIMAT. Kacaunya lagi, tugas itu keliatan sama guru laen... Di mana ternyata banyak nama guru yang disebut. Contoh: Pak J***** tukang ngen***. Ribut lah sama kepsek... badai skorsing... tralalalala...

Pertama kenal yang namanya WE. Maen pertama lawan Nico babi, dibantai 9-0. Sebulan kemudian bokap beliin CD WE di PS. Latihan terus. Lumayan, jadi jago... hahaha.

Hore... akhirnya gw punya PC sendiri juga (bekas oom gw)... Dasar masih katro dan spek komputer juga masih kacrut (HD 2 GB men...) maka maenan favorit gw adalah Word dan Excel... coba-coba ngetik dan mengeksplorasi semua feature yang ada.


9 Desember 2002-9 Desember 2003

Pertama sakit parah: cacar, 2 minggu.

Retret di Pratista, tempat retret paling asik yang pernah gw kunjungi... Malem2 kamar gw jadi tempat ngumpul anak-anak cerita bokep sehingga gw ga bisa tidur (belagak tidur tapi ngedengerin).

Nah... SMA. Gw melanjutkan ke SMA Regina Pacis Bogor. Saat itu confidence gw barulah bertambah pesat, karena gw merasa jadi anak 'tuan rumah' di tengah banyak 'anak baru', apalagi banyak teman SD gw yang melanjutkan ke SMA RP, sehingga gw ngerasa sedikit 'lebih tahu' lingkungan dibanding 'mereka'.

Maka banyak hal yang 'pertama' buat gw di tahun ini:

Pertama kali make HP, dibeliin bokap sebagai hadiah kelulusan, Nokia 3610.

Pertama kali ngerasa jatuh cinta, terutama sekali pertama kali gw bisa pede untuk ngerasa jatuh cinta... sayangnya kepada orang yang salah. Cewe dengan codename Toxic inilah yang mengisi benak gw selama 3 tahun... waktu yang cukup lama.

Pertama kali dapet 'rival' dalam bidang akademik setelah SD; cewe super pinter dan super rajin dengan codename Munak. Cukup menjadi motivator; untuk pertama kalinya dalam 4 tahun gw bisa masuk 2 besar lagi di kelas.

Pertama kenal dengan game online. Ragnarok Online. Gw baru bener-bener maen pas akhir tahun. Gw dapet zeny, equip, dll bisa dari transaksi di dunia nyata: ngasih contekan ke temen gw yang 'jagoan' di dunia RO. Dasar ga mau rugi, gw sering ngasih contekan yang salah ke tuh orang. Ga bakal nyadar ini toh? (buat ini orang klo baca: mampus lu! hahahaha... peace2).

Pertama kenal deket dengan tiga sohib yang masih sering kontak dengan gw sampe sekarang: Yves, Wilson bin Supriadi, dan Arya bin Acoy; biarpun gw gak sekelas sama ketiganya.

Pertama kali diajak ke gereja lagi oleh teman-teman. Gw ikut kelas Dasar Kekristenan tiap Minggu pagi jam 8: ini ngerusak jadwal nonton TV gw, dan hingga sekarang gw ga pernah lagi ada jadwal rutin nonton TV tiap minggu pagi.

Ketemu guru-guru yang luar biasa unik: Bu Rara Sarini dengan politik anak emasnya (*grrr); Pak Pratiwadenta yang tua renta dengan politik ngajar seenaknya; Babeh Saukis Wasidi yang ujian renangnya bisa diganti dengan 'menyumbang dana untuk peralatan olahraga'; Pak Agustinus Heri Pramana 'Kuli' dengan muka ndeso, introduksi yang sedikit ateis, namun ilmunya top banget; dan Pak Tutoyo Aji, guru favorit gw yang pertamanya aja galak tapinya setelah itu... mantap.

Sering sekelompok tugas sama Yoseph Andreas Tenny: penelitian Biologi, presentasi Inggris, de el el... jadi sering ditraktir di restoran Mie Tasik punya beliau... hahaha.


9 Desember 2003-9 Desember 2004

Makin gila maen RO... udah ampir gw ga pernah jajan lagi di sekolah, abis semua buat maen RO... Pulang malem terus, mana rumah gw lagi direnovasi gede-gedean, jadi gw harus tidur di antara puing-puing, wajar kalau gw jadi ga betah lama-lama di rumah.

Pidato PPKn gw di kelas Bu Darsini yang sangat mengesankan: "PATRIOTISME!".

Bulan April akhirnya gw dibaptis juga... Dan sebulan kemudian lulus kelas Dasar Kekristenan, dan mulai ke gereja secara teratur lagi.

Nenek gw meninggal setelah sekian lama bergelut dengan penyakit ginjalnya. Pertama kalinya gw mengalami kematian orang yang dekat dengan gw.

Akhirnya gw beli PC baru yang canggih! Dan bisa maen game terhebat sepanjang sejarah dunia: CM! Asik... CM 03/04 waktu itu. Akhirnya gw bisa lepas dari RO yang memakan banyak duit itu. ID gw jual seharga setengah juta sama Linda a.k.a. Gabun... lumayan.

Naik ke kelas dua,: ketemu wali kelas gw yang sok keren dan sok aksi, sok gaul dan sok terpandang, si 'eh goblok, tolol!' Mara Basuki; guru mesum biang seks munafik Kunarto Wibisono; Pak Antonius Dwi Prabowo si dewa mabuk yang pernah nongol di kuis Siapa Berani dengan jawaban ngocolnya "LUMBA-LUMBA!"; dan Bu Elizabeth Endartini Setyorini yang gila sogokan.

Sekelas juga dengan Wilson dan Arya. Baru tau klo ternyata teman-teman gw pada punya rasa terpendam pada cewe-cewe. Dasar pada masih kacrut, ga ada yang berani nunjukin. Alhasil, ngeledekin salah satu cowo klo cewe idamannya lagi ada, sampe cowonya gugup terkencing-kencing, menjadi mainan paling top tahun ini. Yang paling asik adalah si Arya alias Acoy yang cintanya sama cewe ber-codename Kaleng menurut gw udah sebesar Gunung Everest, tapi sayang nyalinya cuma segede upil semut.

Minggu, 15 Agustus 2004, gw kehilangan HP gw di angkot. Sialan... padahal sebulan sebelumnya gw udah nyaris kehilangan HP, mau dicopet, untung gw ngelawan pencopetnya. Eh, nggak taunya emang udah takdir dicopet... sial.

Mulai kenalan sama seseorang cewe yang lumayan menarik perhatian... Orangnya cantik, baik, cuma suka lebay. Tapi yah... mungkin gw yang terlalu bego atau otak gw masih ke-Racun-an...


9 Desember 2004-9 Desember 2005

Tugas koran dinding yang disuruh Pak Toyo... gw jadi ketua kelompoknya. Nama yang gw berikan buat koran tersebut cukup indah dan gw masih sering pakai hingga sekarang: Via Veritas et Vita, Jalan Kebenaran dan Hidup.

Gw diusir dari kelas si Mesum Kunarto gara-gara bersiul. Alasan sebenarnya lebay. Si Mesum bilang kata 'toxic' dan teman-teman gw seperti biasa ngeledekin gw berhubung codename cewe 'incaran' gw kan Toxic. Gw akting pura-pura cuek dengan bersiul-siul lah. Duh, ternyata dikeluarin. Malu banget cuy, gara-gara hal gituan aja...

Gw disuruh si Mesum menghadap kepsek gw, dan gw diceramahi dalam kantornya yang apek selama 6 JAM PELAJARAN. Sejak itu gw benci banget sama kepsek gw, si "Oom Kera" C. Dwi Sunu Subroto a.k.a. Sunu Go Kong.

Hari Pahlawan 21 April, gw sama Acoy long march Hijrah Siliwangi dengan kaki lemes dari Gramedia ke sekolah, cuma gara-gara si Acoy hilang akal abis nggak sengaja ketemu sama Kaleng dan kawan-kawannya di kassa Hero. Lebay sih... tapi ya itulah, nyali upil semut... (gak apa-apa Coy, itu kan dulu... iya gak?)

April, mulai bikin ID Friendster. Tujuan awalnya cuma buat ngambil foto Toxic (/swt).

Ada study tour ke Bandung, dengan tujuan utama UPI. Seperti biasa, penuh dengan kegiatan scouting, istilah kacrut gw, Acoy, dan kawan-kawan untuk menyebut kegiatan ga penting mengamati cewe idaman dari jauh. Asli deh si Acoy terobsesi sama nih Kaleng... Apapun topik obrolan, pasti diarahin ke Kaleng. Semua bisa nyambung... Apalahi kalau nyebut kata yang berhuruf depan Y, huruf depan nama asli si Kaleng (*uups*). Coy... Coy. Hahaha.

Gw jadi Ketua Divisi Matkom KIR di bawah bos Budisanto Tanoto. Jabatan pertama yang gw pegang (baik secara organisasi maupun kepanitiaan) seumur-umur.

Ulangan PPKn Darsini:
- 20 soal pilihan ganda, gw dan 4 teman gw menjawab sama semua, identik, tapi nilainya NGGAK ADA YANG SAMA.
- 10 soal essay, gw mengisinya dengan super ngasal... seperti misalnya sebutkan 4 alasan pentingnya Pancasila? 1. penting deh. 2. penting banget. 3. pokoknya penting. 4. super penting. Atau, sebutkan 4 tokoh bla bla bla? 1. Antonio Cassano. 2. Ronaldo Assis. 3. Samir Nasri. 4. Riccardo Montolivo. Dapet berapa? 95.

Tugas Ekonomi Bu Ningsih yang dibuat dengan kerja sama berenam, membahas 3 orang pengusaha sukses yang dikenal. Karena malas, kami berlima (gw, Wilson, Acoy, Avnel a.k.a. Jebot, dan PaLeo) memutuskan untuk 'menciptakan' 3 orang pengusaha: Novellino Hadiprayitno, pemilik warnet fiktif Target; James Priyono Tanuwijaya a.k.a. Tan Beng Seng, paman fiktif dari Arya, pemilik toko sembako fiktif Bumi Jaya di Surabaya; dan Roman Abramovich dari Rusia yang 90% data hidupnya dipalsukan.

Suatu hari di bulan Mei: gw bertiga Acoy dan Wilson malem-malem datang ke sweet 17 cewe incaran Wilson ber-codename Marmut (kita bertiga nggak ada yang diundang) cuma buat nitip coklat hadiah ke resepsionisnya. Son...Son. Mending tu coklat disampein sama resepsionisnya. Paling-paling juga dimakan sama dia... Tapi itu masa lalu lah. Hahaha.

Kembali ke cewe yang menarik perhatian gw... Orang-orang udah bilang ke gw klo tuh cewe benernya suka sama gw, dan mereka menasihati gw untuk nembak dia. Duh... gw lagi, pas jaman itu masih tolol. Waktu naik kelas, dia beda jurusan sama gw. Gw mulai merasakan takut kehilangan sih... Jadi, meskipun sebenarnya mental gw blom siap untuk pacaran, gw paksain tembak aja... dan nggak taunya diterima.

Well yeah, the rest is something that all of my friends know, and the rest of those is something that only I and she know, and the rest of those is something that only I know.

Guru-guru kelas 3 gw mantap-mantap, terutama Ibu Wong Widha yang memiliki pengaruh besar dalam pemilihan sub-jurusan gw sekarang. Terima kasih ibu buat marah-marahnya, buat kuis-kuisnya, buat film tentang perkembangbiakan udangnya, buat tugas presentasinya yang bikin Acoy keliatan kacrut, buat tugas skripsinya yang bikin gw dapet cuci kaki gratis di spa si Joni, dan terutama sekali buat kecintaan gw terhadap ilmu biologi.

Gw mulai kenal internet nih (biarpun cuma pake telkomnet instan yang biayanya pernah nyampe sejuta sebulan).

Dan gw dibeliin kado ultah berupa HP baru, Nokia 6610i.


9 Desember 2005-9 Desember 2006

Sungguh tahun yang rame.

Kuliah sudah dekat cuy. Mau ke mana? Cuek lah... paling nggak sampe ada kejadian tertentu.

*** : "Si ****n keterima di **n** loh... dengan grade tinggi... si **d** juga keterima di *n*** gradenya tinggi juga loh..."

Waduh. Panas bener gw. Paling gak suka dibandingin sih. Jadilah gw mencari jurusan apakah yang 'terbaik' di Indonesia? Pertama cari universitas terbaik. ITB. Oke. Jurusan dengan passing grade tertinggi. Informatika. Nggak ah. Kacrut. Gak suka. Kedua... Teknik Kimia. Oke, gw lumayan suka kimia, dan benci fisika. Jadi Teknik Kimia ITB nih, oke...

Meskipun minat sebenarnya gw itu adanya di hal-hal yang berkaitan dengan luar negeri, sejarah, geografi, dan politik. Jadi gw mendaftar USM Unpar dengan pilihan pertama Hubungan Internasional, dan pilihan kedua Teknik Kimia (yah bego, passing gradenya kebalik coba) dan gw tentu saja diterima... Hubungan Internasional. Setelah bicara panjang lebar dengan bokap gw yang sarjana hukum, akhirnya gw menerima saran beliau untuk TIDAK mengambil Hubungan Internasional... karena pergaulan mahasiswanya (maaf) gak bakal gw demen, dan menurut cerita teman gw yang masuk HI Unpar, itu bener.

Jadi gw memutuskan untuk mengambil SPMB di ITB tanpa belajar sama sekali, tanpa persiapan. Untuk cadangan, gw mengambil USM 2 Unpar dengan pemilihan jurusan yang dibalik dari USM 1. Saat gw ke Bandung untuk USM 2, ini pertama kalinya gw naek travel (Cipaganti) subuh-subuh lewat Puncak. Edan. Belok pun kayak gak ngerem.

Singkat cerita, sayonara Regina Pacis, sayonara Bogor... Gw diterima di ITB, surat resminya muncul 9 Agustus, sehingga gw dan bokap langsung ke Bandung nyari kos. Dapet kos yang agak2 kacrut milik Bu Haji Suherman di Wira Angun-angun 30... kamar gw ada di belakangnya garasi dengan pintu menghadap knalpot mobil-mobil, sebelah kanannya kamar mandi yang WCnya bentuknya fatal dan antik, sebelah kirinya kamar Bu Haji yang tiap jam 3 nyetel weker, dan di bawahnya kamar cucunya Bu Haji yang suka berisik dan nangis.

Daftar ulang... Sidang penerimaan mahasiswa baru... Masuk perwakilan KM-ITB yang mengkampanyekan ospek, sesuatu yang gw identikkan dengan kekerasan dan sikap sok kuasa senior terhadap murid baru (di sekolah gw dulu gitu), dan jelas gw ikut bertepuk tangan saat Pak Djoko dan Pak Widyo mengumumkan ITB melarang OSKM, dan gw juga ikut tertawa saat panitia OSKM ketakutan saat diancam menulis surat pernyataan akan menjamin peserta tidak di-DO lewat surat bermeterai. Sikap bego yang sekarang gw sesali.

Kenalan dengan dunia TK yang beda dan ajaib, yang murid-muridnya super pintar (padahal gw udah ngerasa paling pintar se-Indonesia :P) tapi nyantai (untuk lebih jauhnya bisa dilihat di post gw sebelumnya, TK: Munafik Stadium Parah atau Rendah Hati Berlebihan?).

Dosen-dosen yang beda banget sama guru SMA: Bu Hilda Assiyatun yang so far masih dosen terbaik gw sampe saat ini, Pak Bobby Eka GOenara yang bener2 B.E.*.*., Pak Yana Maolana Syah yang kacrut tapi nyadar diri dalam memberi nilai, Pak Tatang Hernas Soerawidjaja yang kalau ngajar selalu ngeliat ke arah mahasiswi-mahasiswi, Bu Ratna Djuwita Bandono yang top abis dah, dan sang maestro Teknik Kimia Dr. Mubiar Purwasasmita dengan manusia idealnya.

IP yah... segitu-segitu aja, ga istimewa, ga ada yang bilang gw pinter lagi, hahaha... ya udah lah, namanya juga lingkungan baru, citra diri harus baru donk.

Oh iya, bulan Oktober si Wilson mengusulkan diri untuk membuat Solidaritas Mahasiswa Alumni Regina Pacis (SMARP) untuk membantu anak-anak lulusan RP agar cepat settled di kampusnya (berhubung pengalamannya sendirian di UGM). Gw setuju, dan mulai bergerak pada liburan akhir tahun, dibantu Omar, Jafar, dan Bemo...


9 Desember 2006-9 Desember 2007

Tahun yang sibuk... tengah tahun pertama ada perintisan SMARP dan kaderisasi Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia alias HIMATEK.

Susah bener deh ngumpulin orang-orang untuk organisasi baru. Perjuangan yang melelahkan. Gimana gw dan Omar dan kawan-kawan membesarkan SMARP sampe sekarang, akan gw tulis di post laen.

HIMATEK... Rumah dan keluarga gw di kampus. Sebagai orang yang gampang bangga terhadap identitas gw, tentunya gw akan sepenuh hati mengikuti PLANT, nama resmi kaderisasi HIMATEK. Kesolidan angkatan yang dikoordinir ketua angkatan yang sangat gw kagumi, Arrijal Sidik... Keberanian dan kemampuan semua anak angkatan gw yang ternyata memiliki potensi masing-masing... Meskipun ternoda dengan tingkah berlebihan dan agak mengganggu dari beberapa panitia dan sesama peserta, gw bangga menjadi anggota HIMATEK, sayangnya pelantikannya agak kacrut karena dibubarkan ama petinggi-petinggi TK macam Pak Sanggono Adisasmito dan Pak Dwiwahju Sasongko yang memakai jaket himpunan. *huh*

Di tengah-tengah masa kaderisasi, gw dipanggil pulang. Bokap telah pergi meninggalkan gw dan keluarga untuk selama-lamanya. Itu saat terakhir gw nangis sepuas-puasnya sampai saat ini.

Dengan meninggalnya bokap, gw menjadi lebih perhatian kepada nyokap, lebih protektif terhadap adik-adik gw, dan tentunya lebih bertanggung jawab.

Libur tengah tahun, SMARP bikin gebrakan dengan mengadakan presentasi dan membagikan buku petunjuk kuliah kepada semua anak kelas 3 SMA Regina Pacis Bogor. Sebagai motor dan koordinator SMARP, gw sungguh merasa bangga.

Nilai semester 2 membaik... berkat partisipasi dari Pak Noorsalam bin Rahman bin Nganro yang menghadiahi gw nilai A meskipun ujiannya gak pernah lebih dari 60.

Semester 3, dapet jahim sendiri, для Господи́ну, Родину, и Альма-матеру... Bulan Oktober gw menjabat sebagai koordinator divisi lapangan Wisuda Oktober, jabatan pertama dalam kepanitiaan acara yang gw pegang seumur hidup (eh, sebelumnya jadi koordiv materi PMB PDTK Juli deh).

Si Wilson jadian... wakakak. Pelajaran berharga yang gw dapet: semua hal mungkin klo kita berusaha. *wakakak*

Dosen-dosen semester 3 cukup kacau; di antaranya Pak Hidayat Muchsinudin dengan gaya ngajar super ngasal dan nilai yang super ngasal pula dan Pak Humaryono Hudoro sebagai dosen paling nyentrik dan kacau: omongan porno nggak disensor, sukanya menghina bangsa sendiri, ucapan trademark ala diktator "ya atau ya?", serta kecenderungan untuk menyindir semua hal yang memiliki kelebihan dibanding dirinya. Namun demikian terima kasih Pak Humar: setiap kelas selalu menjadi pengalaman yang menyenangkan dan penuh tawa (ngetawain si bapak), dan tugas akhirnya berupa TANREGNAS Kepulauan Riau benar-benar sebuah pembelajaran berharga.


9 Desember 2007-9 Desember 2008

Tahun yang sangat berharga.

Di paruh pertama tahun ini gw masih mengurusi SMARP, regenerasi kepengurusan ke tangan 2007; untung gw menemukan orang-orang seperti Aditya Wicaksono, Yohanes Andika Ruswan Putranto, Edwin Suhartono, dan kawan-kawannya.

Gw memilih sub-jurusan Teknologi Bioproses yang isinya... yah, no comment dah.

Di bawah pimpinan Bung Abdul Rachman Winata, angkatan gw mulai mengkader 2007 dalam acara Pengenalan Kemahasiswaan Teknik Kimia a.k.a. PKTK. Gw tergabung dalam divisi materi. Baru ngerasa ternyata beratnya mengkader; buat yang dikader pasti nggak bakal tau sebelum dapat giliran mengkader. Tapi senang juga sih.

Rekan gw, Bung Dion Yorensin, yang baru terpilih menjadi ketua PDTK yang baru, menawari gw jabatan sebagai koordinator divisi materi, dan gw menerima. Sejujurnya ini bentuk pelayanan gw yang pertama.

Dan salah satu turning point: gw mengisi open recruitment untuk menjadi Senator mewakili HIMATEK di Kongres KM-ITB, padahal selama ini gw termasuk orang yang sangat anti terhadap pergaulan kemahasiswaan ITB di luar HIMATEK. Ini salah satu keputusan besar yang tak pernah gw sesali, karena itu telah membuka jalan untuk pembelajaran yang tak ternilai.

Pukulan berat untuk gw: ada 3 nilai C (bahkan tadinya 4, sebelum gw protes setengah mati ke Pak Walmiki). Hikmah yang didapat: di TK ini orang harus rajin untuk bisa bertahan hidup.

HP gw ilang pas gw nginep di HIMATEK buat nonton Euro... ini yang membuat gw langsung membeli TV-tuner.

Semester 5... nggak perlu diceritakan kali ya? Semester 5 ini hanya ada 1 hal penting buat gw, dan gw ga mau inget-inget dulu. Oh ya, baru pas semester 5 ini gw bikin blog.




Huhh... selesai juga. Mudah-mudahan bikin bosan.


Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater - merdeka!





.

Jumat, 05 Desember 2008

50 Tahun

Ibu - Iwan Fals

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah... penuh nanah
Seperti udara... kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas...ibu...ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu
Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas...ibu...ibu....



50 tahun.

Aku nggak pernah tahu.

Dan terkadang nggak mau tahu.


20 tahun.

20 kali.

Aku nggak pernah bisa ngasih apa-apa.

Mungkin malah jadi beban.

Kerjanya nyusahin melulu.

Bikin kesel.


Dan aku nggak pernah bisa bilang.

Kalau sebenarnya aku sangat bersyukur pada Tuhan.

Dapat orang tua yang hebat. Ya, nggak ada kata lain yang tepat. Hebat.

Dan tiap hari aku cuma bisa mikir: apa aku udah bisa membuat orang tuaku bersyukur pada Tuhan, karena punya anak seperti aku?




Mami...

Selamat ulang tahun yang ke-50... Seperti biasa, seperti 19 tahun yang sudah-sudah, aku nggak bisa ngasih apa-apa... Cuma doa semoga panjang umur, ucapan terima kasih karena udah menjadikan aku seperti sekarang, dan permintaan maaf karena belum bisa jadi anak yang bisa dibanggakan orang tuanya.





.

Selasa, 02 Desember 2008

Curahan Hati Senator: Kepada Massa Kampus yang Merasa Bukan KM, dan Kepada Segelintir Kaum Elit

Ini jam 11 malam. Gw harus beresin slide prosmet sekarang. Dan gw baru pulang rapat internalisasi memorandum I Kongres kepada Kabinet, yang sampai sekarang belum beres. Gw tinggal karena gw merasa bertanggung jawab kepada kedua rekan sekelompok gw yang sekarang lagi mati-matian nginep di labtek atau lagi ngerjain laporan.

Dan jujur gw emosi.

Pangkal masalahnya adalah penilaian LPJ tengah tahun Kabinet oleh Kongres...

Stop. Stop.

Kabinet KM itu : pemerintahan kampus. Presiden KM, menteri-menteri, dan staf-staf menterinya. Yang oleh massa kebanyakan sering dipendekin dengan sebutan 'KM' doank.

Kongres KM itu : badan tertinggi kampus. Anggotanya dinamakan Senator. Dianggap perwakilan seluruh massa kampus. Bertugas utama mengawasi kinerja Kabinet.

Lanjut.

Yang bikin gw kesel...

Tanyakan kepada seorang Menteri atau Senator, apa beda Kabinet dan Kongres. Lancar lah mereka menjelaskan, mungkin dengan sedikit 'tambahan-tambahan' lain.

....

Padahal kita lihat...

B (salah seorang menteri) : pergi dulu ya, mau rapat kementerian.
X (mahasiswa random) : oo, rapat KM.

A (senator) : pergi dulu ya, mau rapat kongres.
X (mahasiswa random) : oo, rapat KM.




Hai orang-orang yang ada di 'atas'...

Buat yang menganggap diri adalah anggota lembaga-lembaga 'tertinggi' kemahasiswaan ITB (paling nggak secara konsepsi, benar lembaga tertinggi), dan itu berarti termasuk gw sebagai Senator...

Tolong jangan dipungkiri kalau tingkat apatisme masyarakat kampus terhadap KITA itu rendah!!!

Dan kalau keadaannya selamanya kayak gini, kalau pola pikir 'elit'nya masih tetap seperti ini, maka KM-ITB hanya tetap akan menjadi milik segelintir orang yang peduli, bukan milik semua anggotanya, yang menurut Konsepsi adalah SELURUH MAHASISWA ITB!!!

Jadi tolong PIKIR saat mengatasnamakan MASSA KAMPUS! Senator ngomong di rapat opini siapa? Opini pribadi? Opini BPA? Opini Kahim? Opini lembaga? Benar opini massa? Atau bisikan gaib?

Kerja samalah. Kerja sama! Rangkul seluruh massa kampus! Tunjukkan kalau kita ini satu KM-ITB! KM-ITB itu kita SEMUA, bukan cuma segelintir 'elit' yang tiap formas ngumpul di basement CC Barat, bukan cuma Presiden KM, Menteri, Senator, Kahim, Ketua Unit, dan konco-konconya!

KM-ITB itu mahasiwa-mahasiswa yang nongkrong di lapangan basket. KM-ITB itu mahasiswa-mahasiswa yang main kartu di sekre unit dan himpunan. KM-ITB itu mahasiswa-mahasiswa yang mangkal di laboratorium. KM-ITB itu mahasiswa-mahasiswa yang ngobrol-ngobrol sambil ngerokok di warung belakang. KM-ITB itu mahasiswa-mahasiswa yang kuliah-pulang-kuliah-pulang. KM-ITB itu mahasiswa-mahasiswa yang nggak jelas di mana tempatnya dan terancam DO karena sering bolos. KM-ITB itu mahasiswa-mahasiswa S1 ITB yang belum gw sebut apa aja kegiatan hariannya seperti di atas.

Untuk saat ini, Kabinet-lah ujung tombaknya! Pendobraknya! Dan Kongres-lah pemegang tombaknya! Mengarahkan ke mana ujung tombak harus dihunjamkan!

Kita ini satu tim! Tombaknya KM-ITB! Dan kalau ada yang salah, harusnya malu bersama! Kabinet dinilai apa, itu tanggung jawab Kongres juga, sudahkah mengawasi dengan optimal?! Jangan ada yang merasa superior di atas yang lain. Kongres jangan, meskipun secara konsepsi ya. Apalagi Kabinet, TIDAK.

Jangan ada gengsi. Kita ini satu tim. Rangkul massa kampus. Tuluslah menjadi aktivis, bukan karena ingin menaikkan citra pribadi. Kalau memang menganggap diri 'elit' atau lebih dari yang lain, mari kita berjuang bersama untuk KM-ITB yang lebih baik. Bakar habis semua birokrasi, masukkan ke incinerator, kerja sama, kerja sama, kerja sama untuk KM-ITB yang lebih baik.

Apa itu KM-ITB yang lebih baik? Tunjukkan kalau KM-ITB memang menjadi milik SEMUA YANG SEHARUSNYA MEMILIKINYA.

Dan kalau ada yang tersinggung atas tulisan gw ini, gw hanya bisa bilang: balik ke massa. Tolong membumi. Lihat apa kata orang tentang KM-ITB. Pikir citra orang tentang KM-ITB.



*kesal mode: ON*
.