Tampilkan postingan dengan label kekristenan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kekristenan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Maret 2015

Setia Dalam Perkara Kecil



Jadi ceritanya, di suatu siang yang (kurang) cerah, saat sedang mengerjakan tugas yang bertumpuk (tidak) seperti biasa, tiba-tiba saja batin saya mengalami morale down. Mungkin bahasa Indonesianya sih: galau. Galau yang hadir dalam lamunan singkat. Tentang hal-hal yang ingin saya capai dalam hidup ini. Tentang apa saja dari hal-hal itu yang sudah saya capai. Dan (terutama) yang belum.

Mengapa tiba-tiba hal itu terlintas dalam pikiran saya, entahlah.

Entah karena melihat kerjaan yang menumpuk ditambah sadar mendadak bahwa deadline yang sudah ditetapkan itu tidak realistis.

Entah karena wifi tempat kerja ini mendadak mati ketika saya sedang seru-serunya browsing bahan-bahan kerjaan.

Entah karena siang ini sempat mendung dan kemudian hujan deras sekali, persis ketika saya sedang menuju tempat kerja ini tadi.

Entah karena sebelum berangkat tadi, saya nonton maraton beberapa episode dari Jomblo TV Series. (ini apa hubungannya???)

Atau entah mungkin karena dalam beberapa hari belakangan ini, saya banyak berdiskusi dengan beberapa rekan tentang tujuan hidup.

Ya, apapun sebabnya, itu cukup untuk membuat saya bengong total secara fisik dan mental selama kira-kira setengah jam di tempat umum. (Tidak) menarik kayaknya kalau adegan ini difilmkan.

Puji Tuhan, ada sebuah ayat yang menyadarkan saya dari lamunan kosong tersebut.

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil,
ia setia juga dalam perkara-perkara besar.
Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil,
ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."
(Lukas 16:10)


 Ya ampun. Padahal saya sendiri pernah berkata pada seorang rekan : hal-hal besar tidak ada yang terjadi secara instan; setiap perubahan besar pasti merupakan akibat atau akumulasi dari hal-hal kecil, entah disadari atau tidak. Dengan demikian, jika kita sempat merasa bahwa tidak ada perubahan besar dalam hidup kita, atau target besar yang sudah kita susun tidak pernah tercapai, hal paling sederhana yang bisa dilakukan adalah introspeksi diri dalam keseharian.

Jika ingin mengubah dunia, mengubah orang banyak, atau bahkan mengubah dirimu sendiri; lakukanlah, awalilah dengan berusaha menjadi manusia yang lebih baik.

Dengan menjadi manusia yang lebih baik dalam perkara-perkara kecil, perkara-perkara sederhana.

Sesederhana menjaga rutinitas hidup yang baik. Sesederhana melakukan pekerjaan-pekerjaan harian dengan sepenuh hati seluruhnya. Sesederhana berkegiatan dengan selalu memperhatikan kesehatan. Sesederhana berusaha menjadi pembawa damai dan sukacita bagi orang-orang yang ditemui setiap harinya. Sesederhana melakukan segala hal dengan didasari itikad baik. Sesederhana senantiasa berusaha menjaga lisan dan perbuatan. Sesederhana tidak meninggalkan ibadah.

Dalam taraf yang lebih sederhana lagi sih; sesederhana tidak buang sampah sembarangan, tidur cukup dan bangun pagi, kerja yang benar tanpa slack off, jaga makan dan minum, rutin berolahraga, tersenyum dan ramah pada orang lain, tidak mudah marah, tidak berdusta, rajin berdoa, dan rajin menabung.

Saya percaya bahwa orang-orang yang kehidupan sehari-harinya baik-lah yang akan dapat membawa perubahan sesungguhnya yang bernilai dan berdampak luas.

Karena ada dikatakan, buah yang baik timbul dari pokok yang baik pula.

Jadi ketika kita mendambakan hal-hal besar terjadi dalam hidup kita, lakukanlah improvement terus-menerus dari perkara-perkara keseharian kita. Percayalah bahwa itu adalah awal dari perubahan-perubahan besar yang kita inginkan.

Karena perbaikan itu, dimulai dari diri kita sendiri.

Saya akan pakai tiap detik yang tersisa pada umur saya ini untuk terus menjadi lebih baik dalam setiap perkara. Bukan hanya demi kehidupan pribadi yang lebih baik, tapi bahkan terutama demi memenuhi tugas sebagai saksiNya, sebagai surat pujian yang dapat dibaca setiap orang. Juga demi orang-orang yang telah menaruh banyak harapan kepada saya, demi janji pelayanan yang dulu telah saya buat; orang-orang inilah yang selalu menjadi inspirasi bagi saya agar tidak hidup hanya bagi diri sendiri saja.

Dan terakhir pastinya, demi kamu.


#SelamatHariMinggu


Coffee Institute, 15 Maret 2015




.

Rabu, 10 Desember 2014

Kami Tak Perlu Dibela

Ketika saya mengisi malam hari ulang tahun saya ke-26 dengan kegiatan rutin bermanfaat seperti facebookan, saya kebetulan mengamati ada suatu isu yang diangkat oleh beberapa kawan di social media tersebut. Tentang pernyataan Mendikdasmen Kabinet Kerja, Bapak Anies Baswedan yang sebenarnya sangat saya hormati (read more). Pernyataannya antara lain bisa dibaca di sini, dengan kutipan kira-kira sebagai berikut:

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Anies Baswedan
(foto: detik.com)
Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan kementeriannya sedang mengevaluasi proses belajar mengajar yang selama ini berlangsung di sekolah-sekolah negeri. Salah satu yang sedang dievaluasi terkait dengan tata cara membuka dan menutup proses belajar.

"Saat ini kita sedang menyusun, tatib soal aktivitas ini, bagaimana memulai dan menutup sekolah, termasuk soal doa yang memang menimbulkan masalah. Ini sedang direview dengan biro hukum," ujar Anies dalam jumpa pers di kantornya, Gedung Kemendikbud, Jalan Jend Sudirman, Jakarta, Senin (1/12/2014).

Anies mengatakan hal itu menjawab pertanyaan tentang adanya keluhan sejumlah orangtua murid terhadap tata cara dominan agama tertentu dalam proses belajar mengajar. Hal itu membuat siswa penganut agama lain menjadi tidak nyaman.

"Sekolah di Indonesia mempromosikan anak-anak taat menjalankan agama, tapi bukan melaksanakan praktik satu agama saja," tuturnya.

Menurut Anies, sekolah negeri bukanlah tempat untuk mempromosikan keyakinan agama tertentu. Sesuai dengan asas pemerintah menjamin kemerdekaan beragama di Indonesia, sekolah seharusnya memberikan kesetaraan bagi penganut agama lainnya.

"Sekolah negeri menjadi sekolah yang mempromosikan sikap berketuhanan yang Maha Esa, bukan satu agama," tutup Anies.


Pak Menteri yang baik,

Sekali ini saya harus bilang, statement ini blunder bagi Pak Menteri yang saya hormati ini. Sebaiknya sebelum berbicara, Pak Menteri harusnya melihat situasi politik saat ini, ke mana opini masyarakat saat ini berhembus, isu apa yang sedang panas. Meskipun Pak Menteri berawal dari "orang baik yang berpolitik", saya sangat mengharapkan Pak Menteri berkembang menjadi "politisi yang baik". Maafkan saya.

Pak Menteri, statement ini sejalan dengan skema lawan-lawan politik dari bos anda, yang dari sebelum pilpres hingga bos anda berhasil diturunkan nantinya, akan terus memposisikan bos anda dan pemerintahannya sebagai musuh agama mayoritas dan antek agama minoritas yang bersumber dari asing dan aseng (padahal sekarang si asing dan si aseng itu kebanyakan sudah tidak beragama). Seharusnya Pak Menteri sadar akan hal ini, dan tidak memperumit posisi bos anda yang sudah terjepit juga.

Pak Menteri yang saya hormati,

Kami umat Kristen selaku kaum minoritas di negara ini, sejujurnya tidak mengharapkan adanya perlakuan khusus, ataupun sekedar penyamaan hak. Sejarah selalu mencatat, bahwa kami adalah umat yang semakin bertumbuh imannya dalam posisi sebagai minoritas. Dalam lorong-lorong katakombe di bawah kota Roma, kami lebih menghayati ajaran suci kami, dibandingkan di atas kuda-kuda perang yang berderap ke Tanah Suci untuk berperang dengan para leluhur Pak Menteri.

Di negeri ini, kami sudah biasa hidup sebagai minoritas. Kami sudah biasa hidup dalam 'lingkungan yang beragam', yaitu lingkungan yang dikelilingi orang-orang yang 'berbeda identitas' dengan kami, bersekolah dan bekerja di tengah orang-orang yang 'berbeda identitas' dengan kami, meskipun kami tidak pernah tahu apakah orang-orang itu akan terbiasa juga dengan kehadiran kami.

Kami setiap hari sudah biasa mendengar kerasnya azan dari masjid terdekat yang jaraknya hanya ratusan meter dari rumah kami, sementara kami harus beribadah menempuh jarak beberapa kilometer atau bahkan harus patungan menyewa ruko dengan alasan bahwa "rumah ibadah tidak bisa didirikan di suatu tempat yang tidak cukup jumlah penganutnya" (lantas apakah kami harus tinggal di satu ghetto eksklusif, agar bisa punya rumah ibadah dengan lancar?)... namun demikian kami tidak pernah terpikir untuk pindah agama saja hanya karena tempat tinggal kami dikelilingi beberapa masjid, meskipun katanya ada yang ketakutan terancam pindah agama hanya karena di tempat tinggalnya baru berdiri satu gereja.

Kami hanya diam ketika mendengar setiap hal ini itu dilabeli sebagai Kristenisasi, meskipun menurut kami kostum Sinterklas sama kadar kekristenannya dengan kadar keislaman dari ketupat Lebaran.

Kami hanya senyum-senyum pahit saja ketika orang menganggap bahwa kami senang dan memaksa diberi ucapan selamat pada hari raya kami, padahal kami sendiri tidak pernah merasa meminta diberi ucapan selamat dari orang yang tidak merayakan (makna dari hari raya itu sendiri sudah lebih dari cukup untuk kami bersukacita, tanpa perlu tambahan ucapan selamat dari orang lain).

Kami hanya pasrah ketika pengeboman gereja-gereja dianggap dilakukan oleh 'oknum', sementara ketika terjadi salah ucap sedikit saja yang dianggap menyinggung kaum kelas satu di negeri ini, semuanya berteriak 'konspirasi minoritas dengan asing aseng'.

Dan sekarang ini, Pak Menteri yang baik, jika anda berpikir bahwa ada "tata cara dominan agama tertentu dalam proses belajar mengajar" yang akan "membuat siswa penganut agama lain menjadi tidak nyaman", dengan percaya diri dan lantang kami akan mengatakan seyakin-yakinnya : para orang tua kami sangat mampu untuk mendidik anak-anaknya dalam iman, agar tidak berpindah keyakinan hanya karena melihat teman-temannya berdoa dengan cara yang berbeda setiap harinya.

Karena menurut ajaran kami, kami telah ditebus dengan harga yang termahal, sehingga tidak ada alasan untuk menggadaikan keselamatan itu sama sekali, dengan harga apapun juga. Hanya masalah doa di sekolah? Itu masalah keciiiil.

Jadi tolonglah, Pak Menteri, janganlah terlalu mengurusi hal-hal ini. Saya tahu, bos Pak Menteri sedang sibuk dengan segala pencitraannya, dengan (saya harap) hanya satu tujuan : mendapatkan kepercayaan rakyatnya, agar program-program yang dianggapnya bermanfaat bagi bangsa ini bisa dijalankan dengan mulus dan didukung penuh.

Jadi sekali lagi tolonglah, Pak Menteri, jangan rusak usaha tersebut, hanya untuk suatu hal yang mungkin Pak Menteri pikir sebagai suatu aksi membela kaum minoritas.

Karena kami tidak perlu dibela.

Karena ada tertulis, tahan uji menimbulkan pengharapan.




Jakarta, 9-10 Desember 2014
Kristen 100%
Indonesia 100%



.

Minggu, 27 Oktober 2013

Positive Sum Game

Di suatu sore yang berhujan, setelah terkurung dalam kamar membaca sekilas apa yang tampak di beberapa social network saya, tiba-tiba muncullah urgensi untuk mengosongkan pikiran dengan menumpahkan isinya ke dalam suatu tulisan singkat saja... tentang transaksi, uang, dan manfaat. Selamat membaca.

=======================

Tulisan ini berbicara soal transaksi. Pertukaran sumber daya. Transaksi pada mulanya memiliki tujuan untuk pemenuhan kebutuhan. Prinsipnya, transaksi dilakukan untuk saling memenuhi kebutuhan dengan cara saling menukar sumber daya yang dimiliki sehingga pihak-pihak yang bertransaksi saling terpenuhi kebutuhannya. Si A punya X dan butuh Y, si B punya Y dan butuh X, jadilah si A dan si B bertransaksi menukar X dan Y, sehingga keduanya mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Kebutuhan mereka terpenuhi.

Pertukaran semacam itu terjadi pada apa yang kita sebut sekarang sebagai zaman barter. Lalu dunia berkembang, jumlah dan jenis kebutuhan hidup orang semakin banyak, pasar pun semakin rumit, dan muncullah uang untuk mempermudah transaksi.
Pada hakikatnya, yang terjadi tetaplah pertukaran untuk pemenuhan kebutuhan, dengan sesuatu bernama uang sebagai perantara untuk menyederhanakannya. Ya, begitulah, dengan uang ataupun tanpa uang, bagi saya prinsip transaksi tetaplah sama: saling memenuhi kebutuhan. Apa arti dan konsekuensinya?

Ini berarti, ketika saya mendapatkan sesuatu, saya harus memberikan manfaat, yang setara dengan manfaat yang saya dapatkan. Ini berarti, ketika saya menjual barang dengan harga mahal, barang itu harusnya memang sebegitu bermanfaatnya hingga harga barang itu memang cocok dengan nilai kontribusinya bagi dunia ini. Ini berarti, ketika saya digaji dengan mahal, kemampuan yang saya berikan harusnya memang sebegitu bermanfaatnya hingga nilai gaji itu memang cocok dengan nilai kontribusi saya bagi dunia ini.

Maka, arti dari prinsip ekonomi "memperoleh untung sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya", adalah bagaimana kita mencari jalan yang mudah untuk mendapatkan barang atau jasa yang sebenarnya bernilai tinggi, untuk kemudian kita jual dengan nilai yang tinggi, sehingga kita memperoleh keuntungan darinya.

Tapi BUKAN, sama sekali BUKAN dengan hanya mengemas barang/jasa yang aslinya memang tidak ada nilainya, menjadi seolah-olah bermanfaat dan pada akhirnya membuat orang menjadi membayar (se)mahal (itu) untuk sesuatu yang tidak (se)bermanfaat (itu).

Ketika saya mendapatkan sesuatu jauh lebih banyak daripada nilai manfaat yang saya berikan kepada orang lain, itu bukan berdagang. Itu namanya pencurian, perampokan, penipuan.

Dengan demikian, sebenarnya kita sudah menyalahi hakikat dari transaksi itu sendiri ketika kita melakukan hal-hal seperti berdagang kucing dalam karung (berusaha menipu pembeli dengan menjual barang yang sebenarnya nilai manfaatnya jauh di bawah harga jualnya) atau makan gaji buta (dibayar jauh lebih tinggi daripada manfaat yang diberikan kepada orang yang membayar anda)... atau contoh-contoh lainnya yang lebih luas dari itu, seperti menjual barang yang malah memiliki efek destruktif atau bekerja pada pekerjaan yang malah membawa keburukan bagi masyarakat.

Ketika kita berbicara soal uang dan manfaat, akan ada lebih banyak referensi yang membahas soal apa manfaat uang kita, alias manfaat apa yang bisa kita dapatkan dengan sekian jumlah uang. Tetapi jarang yang membahas soal sisi satunya lagi: apakah ketika kita mendapatkan sekian jumlah uang itu kita sudah memberi manfaat? Mungkin inilah kesalahan dunia yang pragmatis dan mengesahkan sikap egosentris; hanya berpikir tentang apa manfaat yang bisa kita peroleh, tanpa berpikir manfaat apa yang bisa kita berikan. Padahal dalam transaksi, ada dua pihak yang saling bertukar sumber daya. Dan seharusnya ada dua pihak yang mendapat manfaat. Ada dua pihak yang saling terpenuhi kebutuhannya.

Transaksi adalah pertukaran manfaat, bukan sarana penipuan. Janganlah bangga hanya karena bisa mendapatkan uang banyak. Atas setiap uang yang kita dapatkan, pertanyakanlah, apa saja yang sudah saya berikan sehingga saya pantas menerima uang ini? Dan mungkin beberapa dari kita akan tersenyum puas atas tumpukan uang yang kita peroleh, karena itu menggambarkan besarnya manfaat kita untuk dunia ini.

Karena kita hidup di dunia ini bukan untuk menumpuk harta, tapi untuk memberi manfaat, membuat dunia menjadi lebih baik.



Seberapa besar manfaat yang dapat anda berikan bagi dunia?




"Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah."
- Filipi 1:22a -





Regenstadt, 27 Oktober 2013
ditulis setelah minum Jawara - Jahe Warisan Nusantara
(tidak dibayar dengan uang untuk mengiklankan)


.

Senin, 24 Desember 2012

Yang Terbesar

Natal itu bicara soal sukacita, soal hadiah, soal perayaan.

Natal itu bicara soal sukacita terindah; sukacita ketika kita orang-orang yang ditakdirkan tenggelam dalam kegelapan, bersorak gembira akan datangnya fajar pengharapan.

Natal itu bicara soal hadiah terbesar; hadiah berupa keselamatan yang cuma-cuma dan kekal, yang lebih berharga dari segala yang pernah ada di alam semesta milik Yang Maha Pencipta ini.

Natal itu bicara soal perayaan termegah; perayaan atas momen transformasi kita dari bukan apa-apa menjadi pemenang segalanya, dari kaum terhina dibawa naik ke sisi Yang Mahatinggi oleh kedatanganNya.

Begitu besar artinya Natal; tiada sukacita, tiada hadiah, tiada perayaan lebih besar selain karena Yesus Kristus Sang Juruselamat yang adalah sukacita dan hadiah yang kedatanganNya dirayakan pada Natal.

Wahai umat yang sedang merayakan perayaan termegah; kalian masih minta apa lagi sih? Natal itu saat kita bersukacita dengan sepenuhnya karena kita telah menerima segalanya, bukan saat kita mengeluh hanya karena kekurangan hal-hal trivial yang tidak ada artinya dibanding hadiah terbesar yang kita dapatkan.

Ada orang ngeselin dekat-dekat Natal, suasana hati rusak, ngeluh. Nggak dapat libur Natal, katanya jadi kurang hepi, ngeluh. Nggak dapat hadiah, ngeluh lagi. Malah yang lagi ngetren sekarang; nggak dapat ucapan selamat dari orang yang bahkan tidak merayakan, ngeluh juga! Tidak esensial, saudaraku: Tuhan kita datang, Juruselamat kita datang membawa sesuatu yang indah dan begitu berharga tiada bandingnya, dan kita masih memusingkan semua hal lain itu? Pusing dengan segala rupa urusan manusia dan kedagingan, yang tiada artinya jika dibandingkan dengan apa yang kita dapat pada hari Natal ini!

Lupakan, lupakan semuanya itu; dalam Natal hanya ada satu pikiran, satu fokus, satu hal saja: bahwa Yesus Kristus telah lahir ke dunia untuk menebus dosa manusia, dan tidak ada sukacita lebih indah, tidak ada hadiah lebih besar, tidak ada perayaan lebh megah dari itu! Hari Natal adalah tentang kita, tentang dunia yang berubah, FROM NOTHING TO EVERYTHING, dan tidak ada yang lebih dari itu!

Bersyukurlah dan katakan "Tuhan, betapa hina hambaMu ini jika bukan karena Engkau; sesungguhnya hadiratMu saja cukup bagiku; ketika aku telah mendapatkan hadiah terbesar keselamatan yang dariMu, lebih dari cukup alasan bagiku bersukacita, tiada lain di dunia ini selain Engkau."






"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya."
- bala tentara sorga, dalam Lukas 2:14 -

"Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus."
- Rasul Paulus, dalam Filipi 3:8 -

"All the way my Savior leads me, what have I to ask beside?"
- Fanny Crossby, dalam All The Way My Savior Leads Me -


Selamat Natal, Frohe Weihnachten, selamat merayakan kedatanganNya, penyebab tunggal mengapa Natal dirayakan. Hari Natal adalah tentang Dia saja, tentang keselamatan, sukacita, pengharapan dan hidup kekal yang dibawaNya, bukan tentang yang lain-lain. Rayakanlah Dia, yang terbesar dalam hidupmu.



Malam Natal, 24 Desember 2012
ditulis untuk saudara-saudaraku di seluruh dunia;
umat pemenang, ahli waris janji-janjiNya.



.

Selasa, 26 Juni 2012

Serangan Mental? Tuhan Beserta Kita, Kawan!

Zaman dulu para martir dan orang-orang percaya diancam dan disiksa dengan hukuman fisik; mungkin zaman sekarang, di daerah urban yang ngakunya beradab, umat percaya setiap harinya diserang secara verbal, seringkali via dunia maya, dengan kata-kata yang terkesan sopan tapi terkadang kasar juga, dengan celoteh-celoteh dan sindiran-sindiran yang arogan dan intimidatif tapi terlihat sok pintar.

Memang mudah terpancing untuk emosi. memang.

"Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."
I Korintus 1:18

"Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu."
Lukas 6:27-28

"Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya."
2 Timotius 3:12

"Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu."
Matius 5:11-12

"Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah  menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.

Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.
"
I Petrus 2:19-22

"Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan."
Roma 12:19

"Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Matius 28:20


Kamis, 17 Mei 2012

The Forgotten Day

Hari ini adalah tanggal merah.

Mungkin hanya itu saja yang kebanyakan orang tahu. Bahkan bagi orang Kristen sendiri. Hari Kamis, tanggal merah, menghasilkan Jumat kejepit dan long weekend.



Mahasiswa tingkat akhir dan dikejar deadline stres karena kampus tutup. Pekerja kantoran di perusahaan-perusahaan berbasis proyek, pekerja layanan umum, atau pekerja lapangan memandang iri ke rekan-rekannya yang menikmati long weekend. Yang lainnya senang karena dapat waktu libur tambahan, yang dipakai untuk jalan-jalan, hura-hura, atau tidur-tiduran di rumah. Paling cuma pengangguran doang yang gak peduli.

Tapi overall, gak banyak yang memperhatikan ini hari apa. Atau apa pentingnya.

Hari ini adalah tanggal merah.

Udah, itu aja.

Ya, mungkin begitulah nasib tanggal merah yang satu ini. Hari Kenaikan Yesus Kristus. Yang mungkin kalah terkenal dibanding Natal dan Paskah. Yang mungkin bahkan orang Kristen aja ada yang nggak tau hari ini hari apaan. Dan bisa jadi beberapa yang tau pun, gak ngerti kenapa hari ini dijadiin tanggal merah.

Jadi hari ini hari apaan sih sebenarnya?

Mungkin gue akan coba memaknai hari ini sebagai berikut....

Jika Natal berbicara tentang pengharapan,
pengharapan akan keselamatan,
yang untuk dunia yang terpuruk dalam dosa ini bagaikan mimpi,
oleh lahirnya Yesus Kristus,
yang dijanjikan akan menjadi Juruselamat dunia....

Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud".
- Lukas 2:10-11 -

Long lay the world, in sin and error pining;
'till He appears, and the soul felt its worth.
A thrill of hope, the weary world rejoices;
for yonder breaks, a new and glorious morn.
- O Holy Night -

Dan jika Paskah berbicara tentang penggenapan,
penggenapan janji pengharapan keselamatan itu,
di mana manusia benar-benar diselamatkan dari dosa,
oleh mati, bangkit, dan menangnya Yesus Kristus
atas kuasa maut...

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
- Yohanes 3:16 -

Lives again our glorious King, Alleluia!
Where, oh death, is now thy sting? Alleluia!
Once He died our souls to save, Alleluia!
Where thy victory, oh grave? Alleluia!

- Christ The Lord is Risen Today -

Maka hari ini, hari Kenaikan Tuhan Yesus,
berbicara tentang pergerakan,
pergerakan yang merupakan respon kita
atas keselamatan yang telah kita terima.

Kita mengharapkan keselamatan, kita menerima keselamatan,
dan kini saatnya kita mengerjakan keselamatan kita.
Tuhan Yesus telah naik ke surga,
dan Dia menyerahkan tanggung jawab besar,
yang tertuang dalam Amanat AgungNya,
yaitu....


Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
- Matius 28:18-20 -

“Ye shall be My witnesses,” was Jesus’ last command,
to every kindred tongue and tribe, in every clime and land;
go, tell them of our Christ and say His kingdom is at hand.

Who will go and witness for Jesus?
Tell it out, tell it out, the blessèd Gospel sound;
tell it out, tell it out, the news the world around;
'till the Name of Jesus has been heard wherever man is found;
who will go and witness for Jesus?
- Ye Shall be My Witnesses -

Kenapa Hari Kenaikan penting? Karena pada hari ini kita merayakan transformasi kita sebagai umat Kristen yang pasif menjadi umat Kristen yang aktif. Pada Natal kita menunggu datangnya keselamatan, pada Paskah kita menerimanya, dan pada hari Kenaikan ini, kita yang telah menerima keselamatan yang kita nantikan itu, mulai bekerja dalam keselamatan, menjadi saksi Tuhan di seluruh dunia.

Hari Kenaikan ini adalah titik awal kita menjalani hidup sebagai orang Kristen yang sesungguhnya. Kristus datang ke dunia ini membawa keselamatan, namun Dia tidak hanya memerintahkan kita untuk percaya kepadaNya demi menerima keselamatan. Bahkan, sejauh yang saya baca, tidak ada ayat yang mendeskripsikan Kristus berkata agar orang percaya kepadaNya dengan kalimat perintah. Yang ada adalah kalimat berita "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." Kalimat informatif, sekadar memberitahu, silakan manusia percaya kepadaNya, kalau percaya maka akan diberi jalan datang kepada Bapa. Namun pesan, amanat, untuk pewartaan ini jelas, dan inilah semangat hidup kita sebagai orang Kristen: "Jadikanlah semua bangsa muridKu". Sebuah kalimat perintah.

Semangat hari Kenaikan inilah yang membuat para pengikut Kristus (Firman Hidup) menjadi pewarta-pewartaNya, menjadi para pewarta Firman. Yang mendorong Petrus yang tadinya pengecut menjadi pewarta firman yang berani, batu karang yang menjadi dasar Gereja Kristus; dan memenangkan jiwa Kornelius, orang non-Yahudi pertama yang menjadi murid Kristus. Yang mendorong Filipus ke Yunani, Thomas ke India, Andreas ke Rusia, Bartolomeus ke Armenia, Yakobus ke Spanyol, Matius ke Afrika, Simon orang Zelot dan Yudas Tadeus ke Persia. Yang mendorong mereka semua untuk berjuang memberitakan Firman ke seluruh penjuru dunia, dan membayar dengan nyawa mereka semua.

Semangat hari Kenaikan-lah yang mendorong Stevanus untuk memberitakan Firman, meskipun dengan demikian ia menghadapi konsekuensi yang tak pernah ia lihat orang lain alami; yaitu menjadi martir pertama, orang pertama yang kehilangan nyawanya demi Kristus. Semangat hari Kenaikan-lah yang menumbuhkan Jemaat Pertama yang membuat Saulus begitu murka, yang akhirnya malah mengarahkannya ke jalan pemberitaan Firman itu sendiri sebagai Rasul Paulus yang gagah berani memberitakan Firman ke seluruh penjuru negara adidaya dunia saat itu, Kekaisaran Romawi; di mana buah karyanya adalah bibit bagi iman yang di kemudian hari timbul di hati Kaisar Konstantinus dan Theodosius, cikal-bakal mantapnya pemberitaan Firman Tuhan di negara-negara yang dominan di dunia, hingga saat ini.

Semangat hari Kenaikan-lah yang mendorong Adalbert memberitakan injil ke Prusia dan Eropa Utara, Denis ke Perancis, Agustinus ke Inggris, Patrick ke Irlandia, Willibrord ke Belanda, Gregorios Sang Pencerah ke Kaukasus, Kiril dan Metodius ke Rusia dan tanah orang-orang Slavia lainnya, Matteo Ricci ke Kekaisaran Tiongkok, Bartolome de las Casas ke benua baru Amerika, David Livingstone ke gelapnya pedalaman Afrika Hitam, Fransiskus Xaverius ke India dan Asia Timur, Horace Newton Allen ke Kerajaan Joseon Korea yang tertutup, Ludwig Ingwer Nommensen ke tanah Batak, dan banyak pewarta-pewarta firman lainnya yang tak dapat seluruhnya disebut di sini ke seluruh penjuru dunia, menggenapi firmanNya:

Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.
- Matius 24:14 -

Semangat hari Kenaikan-lah yang membuat Kekristenan menjadi Kekristenan yang kita lihat sekarang, yang kita alami sekarang.

Mudah-mudahan di tahun depan gak ada lagi orang (Kristen) yang bertanya "Ini hari kenapa libur sih?".


Semangat hari Kenaikan pula yang mungkin mendorong Kaka untuk menyebarkan nama Yesus kepada berjuta fans olahraga terpopuler sedunia...


Kamis, 17 Mei 2012
"Kita diutus
untuk berdiri teguh
di manapun kita telah ditempatkan,
sebagai laskar
kerajaan Allah
untuk menghalau kuasa gelap
dan menuai jiwa"
- GMB -

Sabtu, 14 April 2012

It Would Have Been Enough

Ada yang meminta pada Tuhan anugerah yang berlimpah. Tapi aku lebih memilih untuk belajar mengatakan pada Tuhan:

"Seandainya Engkau biarkan kami hari ini untuk masih mengalami hidup, dan menjanjikan keselamatan kekal ketika kami sudah tidak mengalaminya lagi, itu sudah cukup, cukup bagiku; anugerahMu cukup bagiku. Jika dalam hidup Engkau hanya bekali kami dengan Firman Hidup, dan Roh Penuntun, dan tidak memberi kami yang lain, itu cukup bagiku; yang terutama saja sudah cukup bagiku."

Kerjakan keselamatan dengan menjadi saluran berkat lahir batin bagi mereka yang membutuhkan. Mintalah berkat berlimpah kepada Tuhan, hanya dengan dasar bahwa kita rindu berbagi, rindu berbuat demi orang lain. Mintalah berkat, hanya untuk memberkati.

Diperuntukkan khusus bagi saudaraku Anthony Basuni Hamzah, yang dulu pernah bilang "asal gw bisa makan gw udah seneng", dan yang hari ini diwisuda... Selamat datang di medan tempur, selamat mengamalkan janji lulusan ITB, kawan... Masa depan cerah menanti bukan hanya kita, tapi rakyat Indonesia!

================================

"Janganlah kamu menjadi hamba uang
dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu."
- Ibrani 13:5a -

"Kami berjanji akan mengabdikan
Segala kebajikan ilmu pengetahuan
untuk menghantarkan bangsa Indonesia
ke pintu gerbang masyarakat adil dan makmur
yang berdasarkan Pancasila"
- sepenggal Janji Lulusan ITB -




.

Minggu, 08 April 2012

Low In The Grave He Lay, Up From The Grave He Arose!


Low in the grave He lay — Jesus my Savior!
Waiting the coming day — Jesus my Lord!


Vainly they watch His bed — Jesus, my Savior!
Vainly they seal the dead — Jesus my Lord!


Death cannot keep his prey — Jesus, my Savior!
He tore the bars away — Jesus my Lord!


Up from the grave He arose,
With a mighty triumph o'er His foes
He arose a Victor from the dark domain,
And He lives forever with His saints to reign.
He arose! He arose!
Hallelujah! Christ arose!



Selamat Paskah 2012
Hanya ada satu yang lahir, hidup, mati, menang, menyelamatkan, bangkit, dan naik ke surga - Yesus!






.

Kamis, 05 April 2012

Via Veritas et Vita



Jalan
berbicara soal metode.

Jalan adalah tempat kita melangkah; sarana berjalan, sekaligus yang mengarahkan. Dengan jalan kita bergerak ke tujuan, namun jalan pula yang menunjukkan kita arah ke tujuan.

Yesuslah Jalan.

MelaluiNya kita melangkah. Dia pelita bagi kaki kita. Akuilah Dia dalam segala laku kita, maka luruslah jalan kita olehNya. Kita akan dibimbing dengan cara yang tepat, menuju hasil yang tepat.

===========



Kebenaran
berbicara soal esensi.

Kebenaran adalah motivasi, sumber dan daya dorong dari segala aksi. Perbuatan yang baik harus berlandaskan kebenaran. Perbuatan yang beralasan selain kebenaran adalah perbuatan yang miskin kebenaran, alias salah.

Yesuslah Kebenaran.

Dialah Sang Firman, dasar hukum dari segala tindakan kita. Tak boleh ada perbuatan kita yang bertentangan dengan sabdaNya. Kita dibenarkan olehNya, kita benar karena kita berbuat untukNya.

===========



Hidup
berbicara soal tujuan.

Hidup adalah hal yang utama, yang terpenting di antara segalanya. Manusia berhenti menjadi manusia ketika ia tidak lagi hidup. Manusia melakukan segala sesuatunya untuk hidup. Harta, akal, waktu, tenaga, itu sarana bertahan hidup. Semuanya untuk hidup.

Yesuslah Hidup.

Dialah Yang Utama, pusat dari aktivitas manusia. Harta, akal, waktu, dan tenaga kita adalah milikNya, hanya untukNya. Kita bekerja untuk Yesus. Kita mati untuk Yesus. Kita hidup untuk Yesus.

===========


Yesus
Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup

Apa lagi yang kalian butuhkan?
Dialah Sang Input, Proses, dan Output.
Bergeraklah dalam Jalan, oleh Kebenaran, untuk Hidup.
Bergeraklah dalam Yesus, oleh Yesus, untuk Yesus.





"Ego sum via veritas et vita"
"Akulah jalan, kebenaran, dan hidup"
- Yesus, saat Perjamuan Terakhir,
seperti tercatat dalam Yohanes 14:6 -

===========


Kamis Putih, 5 April 2012
Selamat menyambut kemenangan untuk yang merayakannya



.

Minggu, 15 Januari 2012

Siapakah Yesus?

Masih dalam seri tugas kuliah. Ini adalah tugas kuliah Agama dan Etika Protestan, dan jelas bukan tugas kuliah Mekanika Fluida dan Partikel, meskipun keduanya sama-sama saya ambil di semester 4 (awal tahun 2008, jadi sekitar 4 tahun lalu).

Di tengah tantangan zaman ini, di tengah gencarnya 'penginjilan' oleh kaum ateis, pragmatis, rasionalis dan duniawi, berbarengan dengan keterbukaan informasi dan kehilangan kepercayaan terhadap gereja, pemuka agama, dan nilai moral secara keseluruhan, seakan-akan seluruh dunia berkonspirasi untuk menjatuhkan iman Kristiani terhadap Yesus. Seakan-akan tidak ada Yesus yang dapat dipercayai oleh umat Kristen. Benarkah? Tidak jika kita tahu benar siapakah Yesus. Bukan sekadar tahun, tapi mengenal.

Enjoy.

=====================

Siapakah Yesus?





Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi."

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?"
Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!"
Matius 16 : 13-16

Yesus. Mungkin Dia adalah manusia terpenting sekaligus paling kontroversial sepanjang sejarah dunia ini. Pada masa hidupnya, Dia adalah pahlawan pembebas bagi rakyat Yahudi yang tertindas; penghujat Allah bagi para agamawan Yahudi; pengacau bagi penguasa Romawi. Jauh setelah kematianNya pun Ia tetap kontroversial. Ada yang menganggapNya guru moral, nabi, Tuhan; ada pula yang menganggapNya penipu, orang biasa, bahkan tokoh fiksi. Semua aspek hidupNya seakan menarik untuk dikaji. Dia menjadi bahan pertentangan berbagai kelompok agama, politik, ilmiah, dan sosial. PenyalibanNya kontroversial. KetuhananNya kontroversial. Bahkan keberadaanNya pun diperdebatkan. Mengapa?

Karena Dia mengubah dunia. Karena dari apa yang Dia perbuat dua ribu tahun yang lalu, lahir sebuah kepercayaan yang sekarang dianut oleh sepertiga manusia di bumi ini. Karena dua ribu tahun yang lalu Dia hidup dan mengatakan apa yang tidak berani dan tidak sanggup dikatakan oleh orang-orang sebelum dan setelah Dia. Bahwa Dialah satu-satunya Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Bahwa Dialah Tuhan yang turun ke bumi untuk menebus dosa manusia. Bahwa Dialah Juruselamat yang sanggup mengalahkan maut untuk kita. Bahwa untuk dapat memperoleh keselamatan kekal, kita cukup mengaku dengan mulut dan percaya dalam hati bahwa Dialah Tuhan.

Maka banyak orang protes. Terlalu mudah, katanya. Banyak yang tidak mempercayai adanya tokoh yang Maha Sempurna seperti itu. Bagi mereka, keselamatan harus diperoleh dengan mengumpulkan pahala di dunia. Maka bermunculanlah berbagai versi tentang siapakah Yesus. Ada yang ‘mengurangi’ peranNya menjadi sekedar filsuf atau nabi. Ada yang membuat beraneka tafsir yang bertentangan tentang ajaran-ajaranNya. Ada yang sibuk membongkar cacat dan cela dalam kehidupanNya. Ada yang gigih mencari bukti bahwa Yesus sebenarnya hanya manusia biasa, dan segala kisah tentangNya hanyalah rekaan atau dibesar-besarkan. Ada pula yang ‘membuat’ Yesus versi mereka untuk dikomersialkan, karena Yesus selalu laku keras. Pada pergerakan zaman yang makin canggih dan terbuka, segala versi Yesus yang berbeda-beda ini ibarat sudah disodorkan ke depan mata kita, menunggu mana yang akan kita pilih untuk dipercaya.

Mana yang akan kita pilih?

Siapakah Yesus sebenarnya?

Kutipan Alkitab pada awal tulisan ini menceritakan tentang pengakuan Petrus atau Simon Bar-Jonah, murid Yesus yang dipercayakanNya kunci gerbang surga. Banyak versi Yesus menurut orang-orang, tapi Petrus tanpa ragu menjawab bahwa Dia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Itulah Yesus yang dikenal Petrus setiap hari secara pribadi. Itulah Yesus yang dilihat oleh Petrus dalam kehidupannya. Itulah Yesus, itulah arti Yesus bagi Petrus, tak peduli apa kata orang lain, karena Petrus telah mengalami dan mengenal pribadi Yesus.

Bagaimana dengan kita?

Bagi saya dan seharusnya seluruh umat yang menyebut dirinya Kristen, Yesus bukan hanya sekedar tulisan di buku sejarah. Yesus lebih dari sekadar nabi atau guru moral. Yesus adalah Tuhan, Sang Maha Pencipta. Yesus adalah Pribadi Yang Agung, yang bangkit mengalahkan maut. Yesus adalah sahabat yang mau menyerahkan nyawaNya demi menebus dosa-dosa kita. Yesus adalah Raja Alam Semesta yang pantas kita sembah. Yesus adalah kasih. Yesus adalah alasan kita hidup di bumi ini. Yesus adalah segalanya bagi kita.

Mengapa umat Kristen dapat mempercayai hal-hal itu? Tidak ada jalan lain selain mengenal Yesus secara pribadi. Jutaan umat Kristen dijamah Yesus setiap harinya. Beberapa bertemu Yesus secara pribadi. Banyak yang mengalami hal-hal ajaib. Ada pula yang merasakan damai dalam persekutuan dengan Yesus. Itulah yang dinamakan iman. Itulah yang membuat umat Kristen mempercayai Yesus versi mereka: karena mereka telah mengenal Yesus secara pribadi. Karena mereka telah mengalami kasih Yesus yang ajaib dan baru setiap hari, meskipun mereka tidak melihat wujud fisik Yesus. Dan itulah yang tidak akan pernah dipahami oleh mereka yang tidak mengenal Yesus. Kita tidak perlu memilih Yesus versi mana yang akan kita percayai. Kenalilah Yesus. Itulah Dia.

Untuk saya, Yesus adalah segalanya. Saya hidup untukNya. Mengapa? Karena Dia menawarkan keselamatan kekal. Hanya itu saja? Tidak. Terlebih dari itu, Dia Tuhan Yang Maha Pengasih. Dia mengasihi saya dengan kasih yang tak terbatas. Dan saya mengasihi dia dengan segenap hati dan pikiran. Dia lebih dari sekedar fakta sejarah. Dia Tuhan yang hidup; dahulu, sekarang, dan selama-lamanya. Dan Dia adalah segalanya. Sederhana saja. Dan mengapa saya mempercayai semua hal itu? Karena saya mengenal Dia melalui pengenalan yang tidak dapat diperoleh dari perdebatan-perdebatan, kajian-kajian ilmiah, maupun diskusi-diskusi. Untuk mereka yang mengenalNya, sederhana saja, Dia adalah Tuhan, dan itu berarti Dia adalah segalanya.

Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah." Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!" Kata Yesus kepadanya:
"Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya.
Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."
Yohanes 20 : 27-29




=====================



For the preaching of the cross
is to them that perish foolishness;
but to us which are saved
it is the power of God.
- I Corinthians 1:18 -





.

Minggu, 23 Oktober 2011

Persaudaraan Sejati dalam Kasih Kristus untuk Menjadi Terang di Tengah Dunia


Tulisan untuk PMB PDTK angkatan 2007, yang sengaja diterbitkan ulang, untuk sekadar menjadi bahan bacaan bagi yang berminat, di awal-agak-pertengahan tahun ajaran baru ini.

============================================

PMB PDTK
7 September 2007

PERSAUDARAAN SEJATI DALAM KASIH KRISTUS
UNTUK MENJADI TERANG DI TENGAH DUNIA


“Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.”
–I Petrus 1:22-


Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, kita semestinya mengamalkan kasih antara saudara seiman, secara kita adalah satu dalam Kristus tanpa memandang status, asal, maupun jenis kelamin,

"Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus."
-Galatia 3:28-

dan kasih adalah hukum yang utama.

"Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: 'Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!'"
-Galatia 5:14-

Sebagai mahasiswa Teknik Kimia ITB yang datang dari berbagai latar belakang, mungkin teman-teman ada yang harus menghadapi lingkungan yang baru dan cukup berbeda dari lingkungan asal. Dunia universitas yang akan dihadapi pun jelas berbeda dari dunia sekolah. Seiring dengan bertambah dewasanya manusia, lingkungan universitas pun menjadi tempat di mana adakalanya manusia lebih mengutamakan kepentingan pribadi, bahkan melakukan manipulasi dan kecurangan untuk menjatuhkan teman demi keuntungan sendiri. Mungkin persahabatan yang teman-teman dapatkan di sini tidak seerat dan setulus yang teman-teman dapat di SMA. Namun, satu jaminan yang pasti, kasih yang tulus ada dari Kristus dan ada di dalam Kristus, yang berarti persaudaraan murid-murid Kristus yaitu orang percaya.

"Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."
-Yohanes 13:34-35-

Dengan kasih persaudaraan yang kuat, tipu daya dunia pun tidak akan mempan pada kita. Dalam menghadapi kerasnya dunia, kita harus membina kehidupan kerohanian kita agar Tuhan menguatkan kita. 4 cara membina kehidupan rohani adalah dengan merenungkan firman, doa, persekutuan, dan kesaksian, yang semuanya ada dalam persekutuan doa.

Seperti apakah kasih persaudaraan itu? Versi King James Bible dari ayat tema kita menyebutkan:

“Seeing ye have purified your souls in obeying the truth through the Spirit unto unfeigned love of the brethren, see that ye love one another with a pure heart fervently.”

Kata tulus ikhlas diterjemahkan dari unfeigned, di mana feign dapat berarti berpura-pura atau mencari-cari. Dengan demikian, kasih yang tulus ikhlas adalah kasih yang tidak berpura-pura atau kasih yang dicari-cari dahulu. Kasih yang tulus ikhlas adalah kasih yang spontan, tidak dilandasi oleh maksud apa pun selain maksud mengasihi itu sendiri, tidak dari pikiran namun dari hati.

Bagaimana kita dapat mengamalkan kasih persaudaraan itu? Ayat tema kita menyebutkan caranya. Kita harus menjalani hidup yang benar di mata Allah, menaati kebenaran, yaitu firman Allah

"Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firman-Mulah kebenaran"
-II Samuel 7:28a-

yang juga adalah Tuhan Yesus itu sendiri
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah."
-Yohanes 1:1-

agar kita disucikan oleh kebenaran

"Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran."
-Yohanes 17:17-

yang adalah firman Allah yang hidup, Yesus Kristus. Artinya, kita harus bertumbuh dalam ketaatan terhadap Kristus untuk mengamalkan kasih persaudaraan. Mengamalkan kasih persaudaraan bukan hanya hak kita, namun juga kewajiban. Ayat tema menyebutkan, setelah kita taat dalam kebenaran, hendaknya kita saling mengasihi dengan segenap hati kita. Kewajiban berbagi kasih itu sungguh menyenangkan, karena jika ada sesuatu yang jika dibagi-bagi malah betambah banyak, itulah kasih. Dan tempat di mana kita dapat berbagi kasih sekaligus mendapat kasih lewat orang lain, itulah persekutuan orang percaya. Agar teman-teman kuat dalam menghadapi kehidupan yang penuh tantangan di kampus ITB ini, persekutuan dengan saudara seiman merupakan hal yang penting. Sudahkah teman-teman memiliki persekutuan rutin dengan saudara seiman di lingkungan baru ini? PDTK adalah salah satunya, dengan ruang lingkup antara teman-teman satu program studi, yang akan terus bersama-sama selama tiga-empat tahun ke depan.

Cukuplah fungsi kasih itu hanya untuk mempertahankan teman-teman dari pengaruh dunia, dalam hal ini lingkungan? Sebagai pengikut Kristus yang telah disucikan oleh ketaatan terhadap kebenaran, kita seharusnya menjadi terang bagi dunia ini

"Kamu adalah terang dunia."
-Matius 5:14a-

seperti halnya Tuhan Yesus sendiri yang telah memberi terang itu bagi kita.

"Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."
-Yohanes 8:12b-

Sebagai orang percaya yang berada di tengah-tengah lingkungan bukan orang percaya, apakah teman-teman sudah menunjukkan pribadi yang tidak memalukan Tuhan yang kita sembah? Apakah perilaku teman-teman cukup untuk menerangi lingkungan teman-teman untuk dapat menggambarkan kemuliaan Tuhan yang kita sembah?

"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."
-Matius 5:16-

Ataukah malah selama ini perilaku teman-teman jauh dari kemuliaan Allah, sampai-sampai mengundang cibiran orang lain ‘ah, begitu tuh kelakuan orang Kristen’?

Sebagai orang yang telah mendapat terang Allah, perbuatlah kebaikan, keadilan, dan kebenaran

"Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran"
-Efesus 5:8-9-

terlebih bukan untuk diri sendiri, tetapi juga untuk kemuliaan Allah. Untuk saling mengontrol, saling membangun, dan bersama-sama bertumbuh dalam Tuhan, persekutuan saudara seiman baik untuk diikuti. Dengan satu hati dan satu pikiran,

"Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir."
-I Korintus 1:10-

kita akan kuat dan tidak terhempas arus dunia, bahkan kita dapat membalikkan arus dunia itu menuju terang kemuliaan Allah di mana pun kita berada, termasuk sekarang di lingkup kampus ITB khususnya Teknik Kimia, meskipun untuk itu kita harus terlebih dulu disucikan oleh ketaatan terhadap Yesus Kristus yang adalah kebenaran itu sendiri.

Selamat datang di Persekutuan Doa Teknik Kimia. Mari kita bersama-sama bertumbuh dan saling membangun dalam Tuhan, untuk menjadi umatNya yang kuat.


.

Jumat, 22 April 2011

Memandang Salib Yesus

Terinspirasi dari khotbah Pdt. Fu Xie di kebaktian Jumat Agung tadi.

Setiap orang pasti memiliki sikap ketika memandang salib Yesus. Tidak mungkin ada yang bersikap netral. Entah positif, entah negatif.

Dari statement dan khotbah yang saya dengar, saya tertegun, tersindir, dan tersadar. Dalam keseharian, sungguh hal itu benar terjadi. Ketika kita melihat salib Yesus, yang adalah perlambang suatu kebenaran esensial yang membawa manfaat. Bagaimanakah sikap kita terhadap kebenaran, di dalam keseharian kita? Seperti salah satu dari 4 tokoh di bawah inikah?

1. Pontius Pilatus: mengorbankan kebenaran demi popularitas


Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.
- Markus 15:15 -

Pilatus adalah Prefek Romawi untuk daerah Yudea. Di masa Kekaisaran Romawi, menjadi pejabat di daerah yang kaya dan jauh dari Roma, merupakan kesempatan untuk memperkaya diri (karena lemahnya pengawasan dari pusat). Tak terkecuali Pilatus. Ia tahu benar bahwa semakin lama ia berkuasa di Yudea, semakin banyak kekayaan yang bisa ia tumpuk. Dan untuk itu, ia perlu membina hubungan baik dengan rakyatnya, yang sangat taat terhadap agama Yahudi, yang dikendalikan oleh imam-imam kepala... yang sayangnya, membenci Yesus dan mengharapkan kematianNya.

Maka dari itu, meskipun Pilatus menyaksikan kebenaran pada Yesus dan tahu bahwa Dia tidak bersalah, Pilatus cuci tangan dan menyerahkan nasibNya pada orang-orang lain (Yahudi). Apakah Pilatus mengingkari hati nuraninya dengan cara menghukum Yesus? Tidak. Apakah Pilatus mengingkari hati nuraninya? Ya, dengan cara membiarkan orang yang tidak bersalah dihukum.

Berapa di antara kita yang sering mengatakan hal-hal berikut ini? "Iya gw tau lo bener, cuma klo gw ngebelain lo di depan orang, muka gw mau ditaro di mana meeeen?". Atau "Hmm gw tau yg bener tuh X, tapi kayaknya temen-temen gw lebih suka kalo Y deh, gw bilang klo gw suka Y aja aaah".

Atau seperti Thaksin Shinawatra, yang membuat negara Thailand bangkrut sewaktu dia menjabat perdana menteri, dengan cara menguras kas negara demi memberi subsidi berlebihan kepada rakyat miskin, sehingga membuat sektor-sektor lain di pembangunan menjadi terbengkalai? (kalo ngambil contoh pemerintah Indonesia dan subsidi BBM, nanti dikira subjektif)

Atau...

A:" Gw udah gerah sama keadaan lingkungan kita! Ini nggak bisa dibiarin!"
B: "Setuju! Ini lingkungan udah rusak banget deh, nggak sehat!"
A: "Ayo, besok lu temenin gw buat protes. Hal kayak gini gak bisa dibiarin lama-lama!"
B: "Aduh gak enak gw, gw di sini masih ada jabatan jadi (isi sendiri) nih, masa gw memprotes. Lu aja yang ngomong, ntar gw dukung deh..."

Besoknya si A protes besar-besaran (sendirian) dan ditanggapi dingin oleh orang-orang di lingkungannya, dan melihat hal itu...
B: (ngomong ke orang-orang, tanpa sepengetahuan A) "Eh sori ya si A temen gw ngomong kayak gitu..."


Cuci tangan, kepada kedua belah pihak.
Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: "Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!"
- Matius 27:24 -


2. Petrus: mengorbankan kebenaran demi keselamatan pribadi


Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." Dan pada saat itu berkokoklah ayam. Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.
- Matius 26:74-75 -

Dilema bagi Petrus. Menyangkal gurunya, atau ditangkap? Yesus telah menjadi kriminal nomor satu setelah penangkapanNya. Kriminal yang didakwa dengan tuduhan pemberontakan terhadap Kaisar orang Romawi dan penghujatan terhadap Tuhan orang Yahudi. Mengaku murid Yesus, sama saja dengan menyerahkan diri pada penguasa Romawi dan rakyat Yahudi. Dan di sinilah Petrus mulai melakukan kompromi dengan kebenaran.

Tipe Petrus ini yang paling sering dijadiin excuse buat orang-orang. "Ya lo nggak tau sih, gw diancam! Masa gw pilih mati?" begitu yang sering kita dengar. Tapi jika kita mengikut Kristus, kebenaran adalah harga mutlak. Yesus jalan kebenaran dan hidup, barangsiapa tidak lewat jalan kebenaran, tidak sampai kepada Bapa. Menyembah Allah harus dalam Roh dan kebenaran. Tidak bisa ditawar. Dan jika kita berada di jalan yang benar, niscaya Tuhan akan kuatkan dan tidak akan tinggalkan kita.

Wormtail: "Kau tidak mengerti! Dia (Voldemort) akan membunuhku, Sirius!"
Padfoot: "KALAU BEGITU KAU SEHARUSNYA MATI! MATI UNTUK SAHABAT-SAHABATMU, SEPERTI YANG DULU PASTI AKAN KAMI LAKUKAN DEMI DIRIMU!!!"


Dialog di atas dikutip dari novel ketiga seri Harry Potter, tawanan Azkaban. Dan mungkin pengarangnya nggak ngasal ketika memilih nama depan Wormtail yaitu Peter. Peter Pettigrew.

Bagusnya, orang kayak gini biasanya masih bisa nyesel dan tobat. Tahu kan akhirnya Petrus jadi gimana? Menginjil, berani mewartakan Yesus, dan sebagai akibatnya menjadi martir, disalib terbalik di Roma. Dan akhirnya, memegang kunci gerbang Sorga.
Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
- Yohanes 21:17 -


3. Orang-orang Yahudi: mengharapkan hal yang tidak esensial -- dikecewakan oleh kebenaran -- meninggalkan kebenaran


Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: "Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!"
- Markus 15:29-30 -

Yesus datang membawa mukjizat dan pengajaran, kepada bangsa Yahudi yang tengah tertindas oleh penjajahan Romawi. Bangsa Yahudi mengharap datangnya Mesias, yang bisa membebaskan mereka dari penjajahan Romawi dan membangkitkan kembali dinasti Daud, sehingga bangsa Yahudi dapat kembali merdeka. Karena itulah banyak orang mengelu-elukan Yesus, menyambutnya seperti raja saat Minggu Palma.

Itukah rencana Yesus? Rencana Yesus lebih mulia lagi, bukan hanya menyelamatkan orang Yahudi dalam suatu kerajaan fana, namun menyelamatkan seluruh umat manusia dalam kerajaan Sorga. Terkesankah orang Yahudi? Tidak, malahan kecewa. Kecewa ketika 'raja' mereka disiksa tapi tidak (bisa) melawan. Kecewa ketika 'raja' mereka tampil sebagai orang yang lemah dan tidak (bisa) membebaskan dirinya. Dan akhirnya mereka pun berteriak "Salibkan Dia!"

Berapa kali kita mendukung sesuatu demi motivasi yang salah, picik, dan sempit? Ikut kepanitiaan, mikirnya cuma buat menuh-menuhin CV. Ikut perkumpulan, niatnya cuma buat nyari jodoh. Ikut pelayanan, biar dikira keren. Ikut-ikutan mendukung suatu gerakan atau aksi, biar populer dan banyak teman

Ketika semua itu nggak terpenuhi, kita mulai kecewa. Jabatan di kepanitiaan ternyata bebannya tinggi, tak sebanding dengan hanya sebaris di CV. Di perkumpulan lebih banyak sibuknya, nggak sempet PDKT. Pelayanan ternyata banyak kerja yang berat dan kurang publikasi. Dan gerakan yang diikuti ternyata malah nggak didukung sama orang-orang lain.

Setelah kecewa, kita pun berhenti, kemudian berbalik dan menyalahkan. Malas ah kerja di kepanitiaan ini, cuma menyita waktu saja. Tujuan perkumpulan ini terlalu ngawang dan nggak bakal tercapai. Persekutuan ini isinya nggak bener, orang freak semua. Gerakan ini ternyata gerakan tukang bermimpi dan terlalu idealis. Dan seterusnya.

Tanpa peduli bahwa ikut kepanitiaan, organisasi, pelayanan, atau ikut suatu gerakan, itu adalah lebih dari sekadar CV, jodoh, keren-kerenan, ataupun banyak teman. Bahwa kesemuanya itu akan berujung pada pembelajaran dan pengalaman hidup, yang di masa depan akan membantu membuat kita dapat kerja, jodoh, keren, dan gaul.
"Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya. Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah."
- Matius 27:42-43 -


4. Penjahat 1: memanipulasi kebenaran demi kepentingan pribadi


Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!"
- Lukas 23:39 -

Penjahat yang benar-benar keterlaluan. Udah mau mati, masih aja mikirin gimana caranya bisa selamat, dengan cara memanfaatkan celah-celah kotor. Dia bertanya "Bukankah Engkau adalah Kristus?" tapi apakah dia benar-benar peduli apakah Yesus itu Kristus atau bukan? Nggak. Dia cuma peduli bagaimana caranya dirinya selamat. Kalau Yesus itu Kristus, ya oke, selamatkan gw dong! Kalo Yesus bukan Kristus, ya terserah lah sebodo amat, gw gak peduli!

Coba, pernah nggak nemu orang model begini? "Bagi duit dong! Katanya lo kaya, masa duit segitu doang ga ada sih?". Atau "Woi, katanya lo temen gw. Kalo temen itu harus membantu. Kerjain tugas gw dong!". Atau setelah berbuat salah, kita bilang kepada orang yang mau negur kita "Eits, katanya lo orang Kristen. Masa lo emosi atau marah-marah sih?".

Beneran peduli kalo temennya beneran kaya, atau beneran nganggep dia temen, atau beneran orang Kristen? Kayaknya sih nggak. Yang penting kalau klaim lo bener, bantu gw lah. Kalau klaim lo salah, yaudah sih, bukan urusan gw juga.

Sepola kan? Katanya lo blablabla, lakukan anu dong (yang bikin gw seneng). Tipe paling brengsek dibanding Pilatus, Petrus, dan orang Yahudi. Pantesan aja dihukum mati. Pendosa tulen. Memegang teguh nilai kebaikan, namun hanya jika mendatangkan manfaat untuk dirinya sendiri.
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.
- Matius 7:21 -


Itu tadi sekilas 4 orang yang berpandangan negatif saat dihadapkan pada kebenaran. Bandingkan dengan kedua orang di bawah ini:

5. Penjahat 2: bersalah -- sadar akan kebenaran -- sadar bahwa jika menerima kebenaran maka akan membuat dirinya mengaku salah -- menerima kebenaran dan mengaku salah -- DISELAMATKAN


Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah."
- Lukas 23:40-41 -

Penjahat ini ya memang betul, penjahat semasa hidupnya. Penjahat kelas tulen lah, sampai-sampai dihukum mati dengan disalibkan. Namun dia tidak malu untuk mengakuinya, dan dengan tulus pula menerima kebenaran yaitu Kristus yang adalah Raja.

Seberapa sering kita takut untuk menerima kebenaran, dengan alasan bahwa menerima kebenaran sama dengan artinya mengakui bahwa beberapa hal yang pernah kita lakukan adalah salah? Pernahkah kita takut untuk bilang tidak terhadap tindakan nyontek, karena kita takut bahwa track record kita sebagai tukang nyontek akan dibawa-bawa? Seberapa takut kita untuk menegur teman-teman kita, karena dulu kita juga ikut-ikuta berbuat kesalahan yang sama bersama teman-teman kita?

Jangan takut untuk berubah dan menerima kebenaran! Asalkan dilakukan dengan penuh penyesalan akan kesalahan yang telah diperbuat, dan tekad untuk tidak mengulanginya lagi.

Tidak pernah ada kata terlambat.
Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja." Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."
- Lukas 23:42-43 -


6. Kepala Prajurit Romawi: sebelum mengetahui kebenaran, bersikap netral -- setelah mengetahui kebenaran, percaya


Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul. Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: "Salam, hai raja orang Yahudi!" Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya.
- Markus 15:16-19 -

Prajurit Romawi terkenal tegas, disiplin, ganas, dan tanpa kompromi. Prajurit Romawi dididik untuk selalu patuh menjalankan tugas tanpa banyak bertanya. Bagi Kepala Prajurit ini, hukuman salib untuk Yesus hanyalah satu dari sekian banyak hukuman mati yang harus dijaganya. Tentang soal apakah sang terdakwa dihukum karena mengaku dirinya Tuhan, atau menghina Kaisar, atau apakah tuduhan itu benar atau tidak, bukan urusannya. Dia tidak peduli, dan tidak harus peduli. Namun begitu diperhadapkan pada kematian Kristus, dan tanda-tanda yang menyertainya, ia langsung mengimani dan mengambil sikap, dibimbing oleh hati nuraninya: ia percaya.

Terkadang kita melakukan sesuatu hanyalah berdasarkan apa yang menurut kita benar, sejauh apa yang kita tahu. Dan itu wajar. Seperti pemula yang tidak mengerti apa-apa di bidang yang baru dia masuki. Seperti orang magang yang tidak mengerti apa-apa di perusahaan yang baru dia masuki. Seperti anak kecil baru lahir, yang tidak mengerti apa-apa di dunia yang baru dia masuki.

Tapi begitu kebenaran muncul di depan mata, itulah saatnya kita menentukan sikap. Menerima, atau melawan. Mengabaikan atau menolak untuk bersikap, sama artinya dengan melawan. Tidak ada abu-abu dalam menyikapi kebenaran sejati. Meskipun pada awalnya melakukan hal yang salah, namun setelah tahu hal yang benar, seharusnya kita tahu bagaimana untuk bersikap.

Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: "Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah."
- Matius 27:54 -



Nah... yang manakah kita?




Ville de Tonnere, 22/23-4-2011
Joyeuses Pâques!






.

Kamis, 24 September 2009

Dihukum Karena Hal Yang Tidak Diperbuatnya

Baca judul tulisan ini, lalu pikirkan. Adil tidak? Fair tidak?

Coba bayangkan seorang ibu umur 40an berteriak sambil menangis tersedu-sedu:

"HAL APA YANG TELAH KUPERBUAT HINGGA AKU MENDAPAT COBAAN SEPERTI INI...?!?!?!?"

dengan gaya yang lazim kita temui di sinetron-sinetron Indonesia. Kalau di sinetron sih, biasanya tokoh seperti itu adalah tokoh baiknya, yang anggun, selalu ramah sama orang, rajin beribadah. Tapi pasti aja tokoh kayak gini adalah tokoh yang paling apes. Entah suaminya meninggal, dirinya sakit-sakitan, anaknya diputusin pacar, rumahnya disita, dan seterusnya. Lalu dia berteriak seperti kalimat di atas. Lalu kita (baca: penggila sinetron) berpikir, dunia kejam nian, apa yang telah dia perbuat sehingga mendapat nasib malang bertubi-tubi?

Intermezzo. Hehehe. *NB: penempatan intermezzo di awal cerita bukan hal yang baik sebenarnya*

=======

Kembali ke judul. Waktu dulu ada yang pernah cerita ke saya tentang seorang anak kecil yang bertanya pada bapaknya. "Pak, tadi pagi saya di sekolah disetrap guru karena hal yang tidak saya kerjakan. Apakah itu adil?"

Bapaknya lantas berang dan langsung menjawab. "Tentu tidak! Gurumu sangat keterlaluan. Tentu kau tidak bisa disalahkan atas hal yang kau tidak lakukan. Bapak akan menghadap Kepala Sekolah besok. Tapi ngomong-ngomong, hal apa sih yang tidak kau lakukan itu?"

Anaknya nyengir dan menjawab "TIDAK mengerjakan PR."

Kedengarannya klise. Tapi poinnya jelas. Masalah dihukum atau tidak, masalah salah atau benar, bukan hanya masalah apa yang DIPERBUAT, tapi bisa jadi masalah apa yang TIDAK DIPERBUAT.

======

Minggu kemarin saya jalan-jalan dengan adik perempuan saya yang berumur 12 tahun di mall, sehabis menjemputnya dari gereja. Sehabis makan di food court di lantai 3, kami turun dengan lift ke lantai paling bawah untuk pulang. Saat kami akan naik lift, ada seorang bapak tinggi besar membawa dua orang anak. Yang besar lelaki sekitar umur 8-9 tahun berbadan gendut, yang kecil perempuan umur 5-6 tahun gendut juga. Kedua anak ini rupanya lumayan nakal juga.

Ketika pintu lift terbuka dan sekitar 10 orang penumpangnya berhamburan turun, kedua anak ini langsung menerobos masuk lift tanpa menunggu yang turun selesai keluar lift. Si bapak diam saja. Saya cuma bisa berdehem dan teriak pelan "Tolong tunggu yang turun dulu, seperti biasa!".

Lalu saya dan adik saya masuk lift dengan posisi di tengah-tengah (tidak bersandar ke dinding lift), adik saya di samping saya. Lift itu penuh sesak, ada sekitar 13 orang. Sialnya tidak ada yang turun di lantai dasar seperti saya (semua turun di basement parkiran rupanya). Di antara saya dan tombol lift ada si bapak. Saya tidak bisa menjangkau tombol lift itu. Saya lalu berkata "Maaf Pak, permisi". Namun si bapak tetap bergeming. Dengan susah payah, adik saya yang berbadan lebih kecil bisa menekan tombol lift. Dan sehabis adik saya menekan tombol, si bapak menempelkan telapak tangannya menutupi TOMBOL-TOMBOL LIFT untuk NYENDER.

Setelah itu kedua anak gendut itu mulai ngobrol keras dan kemudian melompat-lompat di dalam lift. Ya. JINGKRAK-JINGKRAK. Di dalam LIFT yang sedang berjalan. Anaknya GENDUT-GENDUT. Saya mulai mikir apakah saya harus baca doa atau jitak kepala anak-anak ini. Bapaknya diam saja.

Ketika pintu lift terbuka di GF, saya dan adik saya bersiap-siap turun, namun si bapak yang berbadan BESAR dan MENGHALANGI pintu keluar lift tidak menunjukkan tanda-tanda mau minggir. Padahal sudah jelas tadi penumpang yang memencet tombol GF hanya SAYA, yang ada di BELAKANGNYA. "Pak, PERMISI" ulang saya dengan suara lebih keras dari saat saya mau menekan tombol lift tadi. Dia tetap diam. Adik saya, yang berbadan lebih kecil, lebih tidak sabar dan mencoba menerobos keluar. Dia berhasil dan saat itu semua orang tersadar dan mencoba minggir, namun tetap saja jalur keluarnya sulit karena liftnya penuh sesak dan orang yang SEHARUSNYA PALING DULUAN MINGGIR yaitu si bapak itu malah DIAM seperti gupala di depan pintu lift. Saya mencoba keluar, namun saat itu pintu lift tertutup, saya mencoba menerobos (karena jika turun sampai lantai bawah lagi, eskalator sedang mati dan jalurnya jauh, lagipula adik saya sudah berada di luar lift).

Dan BREKK. Pintunya menggencet saya, saya mencoba menjejak keluar lift agar tidak kehilangan keseimbangan, dan alhasil kaki kanan saya mendarat tepat di belakang adik saya yang sedang melangkah, menginjak sendalnya, dan talinya putus. Sementara adik saya memungut sendal kesayangannya itu, saya menyempatkan diri melihat pintu lift yang sedang menutup itu, menatap marah pada si goblok yang MENEMPELKAN TANGANNYA DI TOMBOL LIFT tapi tidak menahan tombolnya agar terbuka saat ada yang mau turun.

Saya emosi dan hampir berteriak "GOBLOK!" di depan muka si bapak itu. Namun segera saya mencoba berpikiran jernih dan positif. Mau tahu pikiran paling baik yang timbul di benak saya saat itu? MUNGKIN BAPAK ITU TULI.

Dan saya sampai pulang masih tetap emosi, masih tetap uring-uringan karena sendal kesayangan adik saya putus gara-gara si bapak goblok itu. Bapak itu tidak melakukan apa-apa terhadap saya, tapi karena dia tidak melakukan apa-apa itulah maka saya jadi kesal.

Yah, mungkin saya juga salah karena emosi. Sampai di rumah saya minta maaf secara tidak langsung kepadanya dalam doa, dan mengakui ada bagian kesalahan saya juga.

Namun saya tetap berterima kasih atas pertemuan saya dengan si bapak, yang telah mengajarkan kepada saya buruknya sebuah ignorance.

======

Undang-undang negara Republik Indonesia ada yang menyatakan bahwa jika seseorang melihat terjadinya tindak kejahatan namun tidak melaporkannya, ia dapat dituduh bersekongkol dengan pelaku dan dapat dikenai hukuman penjara. Waktu dulu saya ikut sekolah minggu, salah satu ayat paling berkesan yang dibacakan kakak pembimbing saya adalah Yakobus 4:17 "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa".

Sudah tahu arah tujuan pembicaraan saya kan?

Albert Einstein pernah berkata "Saya cinta damai, tetapi bukan hanya itu, saya berani berperang demi kedamaian". Yang dimaksud Einstein bukan perang sebenarnya, tapi yang ia maksud adalah ia berani mengajak orang-orang untuk tidak berperang. Kenapa?

Karena Einstein menyadari bahwa jika ia cinta damai secara PASIF (yakni hanya berkomitmen bahwa DIRINYA SAJA yang tidak akan berpartisipasi dalam perang), perdamaian tidak akan terjadi. Orang-orang lain masih akan berperang. Maka ia memutuskan untuk AKTIF, mengajak orang-orang untuk tidak berperang.

Berapa banyak dari kita yang berpikiran bahwa "Saya akan membetulkan kehidupan saya dulu. Yang penting saya jadi orang baik, benar, rajin, pintar, jujur, disiplin, dan berprestasi. Urusan temen-temen saya yang begundal, brengsek, tukang tipu, pemalas, goblok dan lain sebagainya itu, urusan mereka, toh mereka kan udah gede ini."

Itu EGOIS, saudara. Membiarkan teman kita jatuh dalam dosa sementara kita luput dari dosa. Saya masih percaya kata-kata Einstein: "Sang Pencipta tidak sedang bermain dadu" ketika mencipta, ketika meletakkan kita di lingkungan pertemanan kita saat ini. Dan saya masih percaya bahwa tanggung jawab untuk saling menasihati itu ada di pundak semua umatNya, dan kita akan dimintai pertanggungjawaban untuk itu saat Hari Terakhir nanti.

Dan hukuman yang menanti bukan karena kejahatan yang kita lakukan, tetapi karena kebaikan yang kita tidak lakukan.

======

Kendala nyata? Banyak.

Setahun ini nyontek tugas dan semacamnya sudah saya kurangi sampai batas sangat minimum, namun prestasi akademik saya ya segitu-segitu aja. Cape juga klo mempromosikan integritas akademik dan cuma dikata-katain "Yang nggak nyontek ntar IPKnya jadi kayak lu! Mending nyontek, terus kayak gw! Yang IPKnya lebih tinggi dari lu aja nggak pernah bacot macam-macam!"

Bagian terakhir sih yang membuat hati ini paling pedih. Dan hanyalah harapan yang tentu diharap jadi kenyataan, bahwa yang lebih punya daya untuk promosi integritas akademik akan memberdayakan modal mereka itu. Tidak hanya lurus dalam kehidupannya, namun juga meluruskan orang lain yang bengkok-bengkok. Barangsiapa tahu berbuat baik tapi tidak melakukannya... yah, begitulah.

======

Ketika telah nyata bahwa keuntungan nyalin tugas dan nyontek jauh lebih besar daripada kerugiannya...

Ketika akal sehat dan keadaan pun telah berteriak "NYONTEK SANA!"...

Ketika jargon-jargon integritas akademik terdengar seperti bualan aktivis semata...

Ketika nasihat-nasihat dari kawan seperjuangan dianggap upaya sok suci dan munafik...

Pandanglah Wajah Sang Pencipta yang teduh dan tanyakan dengan tulus kepadaNya... dan tangkaplah jawabanNya dengan hati nurani yang terdalam.



.

Rabu, 24 Juni 2009

Tuhan "vs" Ilmu Pengetahuan

Saya biasanya nggak pernah ngepost artikel di blog ini yang bukan karangan saya sendiri, tapi khusus kali ini saya buat pengecualian, karena... (yah baca dulu lah ntar juga ngerti).

Artikel ini saya peroleh dari kiriman salah seorang rekan saya di facebook beberapa hari yang lalu.

Selamat menikmati...

-------------

"Let me explain the problem science has with Jesus Christ." The atheist professor of philosophy pauses before his class and then asks one of his new students to stand.

"You're a Christian, aren't you, son?"

"Yes sir," the student says.

"So you believe in God?"

"Absolutely."

"Is God good?"

"Sure! God's good."

"Is God all-powerful? Can God do anything?"

"Yes."

"Are you good or evil?"

"The Bible says I'm evil."

The professor grins knowingly. "Aha! The Bible!" He considers for a moment.

"Here's one for you. Let's say there's a sick person over here and you can cure him. You can do it. Would you help him? Would you try?"

"Yes sir, I would."

"So you're good...!"

"I wouldn't say that."

"But why not say that? You'd help a sick and maimed person if you could. Most of us would if we could. But God doesn't."

The student does not answer, so the professor continues. "He doesn't, does he? My brother was a Christian who died of cancer, even though he prayed to Jesus to heal him. How is this Jesus good? Hmmm? Can you answer that one?"

The student remains silent.

"No, you can't, can you?" the professor says. He takes a sip of water from a glass on his desk to give the student time to relax.

"Let's start again, young fella Is God good?"

"Er... yes," the student says.

"Is Satan good?"

The student doesn't hesitate on this one. "No."

"Then where does Satan come from?"

The student : "From...God.."

"That's right. God made Satan, didn't he? Tell me, son. Is there evil in this world?"

"Yes, sir."

"Evil's everywhere, isn't it? And God did make everything, correct?"

"Yes."

"So who created evil?" The professor continued, "If God created everything, then God created evil, since evil exists, and according to the principle that our works define who we are, then God is evil."

Without allowing the student to answer, the professor continues: "Is there sickness? Immorality? Hatred? Ugliness? All these terrible things, do they exist in this world?"

The student: "Yes."

"So who created them?"

The student does not answer again, so the professor repeats his question. "Who created them? There is still no answer. Suddenly the lecturer breaks away to pace in front of the classroom. The class is mesmerized.

"Tell me," he continues onto another student. "Do you believe in Jesus Christ, son?"

The student's voice is confident: "Yes, professor, I do."

The old man stops pacing. "Science says you have five senses you use to identify and observe the world around you. Have you ever seen Jesus?"

"No sir. I've never seen Him"

"Then tell us if you've ever heard your Jesus?"

"No, sir, I have not."

"Have you ever actually felt your Jesus, tasted your Jesus or smelled your Jesus? Have you ever had any sensory perception of Jesus Christ, or God for that matter?"

"No, sir, I'm afraid I haven't."

"Yet you still believe in him?"

"Yes."

"According to the rules of empirical, testable, demonstrable protocol, science says your God doesn't exist. What do you say to that, son?"

"Nothing," the student replies. "I only have my faith."

"Yes, faith," the professor repeats. "And that is the problem science has with God. There is no evidence, only faith."

The student stands quietly for a moment, before asking a question of his own. "Professor, is there such thing as heat?"

"Yes," the professor replies. "There's heat."

"And is there such a thing as cold?"

"Yes, son, there's cold too."

"No sir, there isn't."

The professor turns to face the student, obviously interested. The room suddenly becomes very quiet. The student begins to explain.

"You can have lots of heat, even more heat, super-heat, mega-heat, unlimited heat, white heat, a little heat or no heat, but we don't have anything called 'cold'. We can hit up to 458 degrees below zero, which is no heat, but we can't go any further after that. There is no such thing as cold; otherwise we would be able to go colder than the lowest -458 degrees. Every body or object is susceptible to study when it has or transmits energy, and heat is what makes a body or matter have or transmit energy. Absolute zero (-458 F) is the total absence of heat. You see, sir, cold is only a word we use to describe the absence of heat. We cannot measure cold. Heat we can measure in therm al units because heat is energy. Cold is not the opposite of heat, sir, just the absence of it."

Silence across the room. A pen drops somewhere in the classroom, sounding like a hammer.

"What about darkness, professor. Is there such a thing as darkness?"

"Yes," the professor replies without hesitation. "What is night if it isn't darkness?"

"You're wrong again, sir. Darkness is not something; it is the absence of something. You can have low light, normal light, bright light, flashing light, but if you have no light constantly you have nothing and it's called darkness, isn't it? That's the meaning we use to define the word. In reality, darkness isn't. If it were, you would be able to make darkness darker, wouldn't you?"

The professor begins to smile at the student in front of him. This will be a good semester. "So what point are you making, young man?"

"Yes, professor. My point is, your philosophical premise is flawed to start with, and so your conclusion must also be flawed."

The professor's face cannot hide his surprise this time. "Flawed? Can you explain how?"

"You are working on the premise of duality," the student explains. "You argue that there is life and then there's death; a good God and a bad God. You are viewing the concept of God as something finite, something we can measure. Sir, science can't even explain a thought. It uses electricity and magnetism, but has never seen, much less fully understood either one. To view death as the opposite of life is to be ignorant of the fact that death cannot exist as a substantive thing. Death is not the opposite of life, just the absence of it."

"Now tell me, professor. Do you teach your students that they evolved from a monkey?"

"If you are referring to the natural evolutionary process, young man, yes, of course I do"

"Have you ever observed evolution with your own eyes, sir?"

The professor begins to shake his head, still smiling, as he realizes where the argument is going. A very good semester, indeed.

"Since no one has ever observed the process of evolution at work and cannot even prove that this process is an on-going endeavour, are you not teaching your opinion, sir? Are you now not a scientist, but a preacher?"

The class is in uproar. The student remains silent until the commotion has subsided.

"To continue the point you were making earlier to the other student, let me give you an example of what I mean."

The student looks around the room. "Is there anyone in the class who has ever seen the professor's brain?" The class breaks out into laughter.

"Is there anyone here who has ever heard the professor's brain, felt the professor's brain, touched or smelled the professor's brain? No one appears to have done so. So, according to the established rules of empirical, stable, demonstrable protocol, science says that you have no brain, with all due respect, sir. So if science says you have no brain, how can we trust your lectures, sir?"

Now the room is silent. The professor just stares at the student, his face unreadable.

Finally, after what seems an eternity, the old man answers. "I guess you'll have to take them on faith."

"Now, you accept that there is faith, and, in fact, faith exists with life," the student continues. "Now, sir, is there such a thing as evil?

Now uncertain, the professor responds, "Of course, there is. We see it everyday. It is in the daily example of man's inhumanity to man. It is in the multitude of crime and violence everywhere in the world. These manifestations are nothing else but evil."

To this the student replied, "Evil does not exist sir, or at least it does not exist unto itself. Evil is simply the absence of God. It is just like darkness and cold, a word that man has created to describe the absence of God.

God did not create evil. Evil is the result of what happens when man does not have God's love present in his heart. It's like the cold that comes when there is no heat or the darkness that comes when there is no light."


The professor sat down.


----------

Gloria in excelsis Deo, et in terra pax hominibus bonae voluntatis!


.