Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan selamat kepada kakak-kakak dan rekan-rekan lulusan Teknik Kimia ITB, September 2010. Selamat atas gelar Sarjana Teknik yang diraih, semoga dapat menjadi bekal untuk mengejar mimpi-mimpinya, menjadi awal perjalanannya di dunia nyata.
GIGI - Sang Pemimpi
Sambut hari baru di depanmu
Sang pemimpi siap 'tuk melangkah
Raih tanganku jika kau ragu
Bila terjatuh ku 'kan menjaga
Kita telah berjanji bersama taklukkan dunia ini
Menghadapi segala tantangan bersama... Mengejar mimpi-mimpi!
Berteriaklah hai sang pemimpi
Kita takkan berhenti di sini
Kita telah berjanji bersama taklukkan dunia ini
Menghadapi segala tantangan bersama...
Bersyukurlah pada Yang Maha Kuasa,
hargailah orang-orang yang menyayangimu,
yang selalu ada, setia di sisimu
Siapapun jangan kau pernah sakiti
dalam pencarian jati dirimu dan semua
yang kau impikan
Tegarlah, sang pemimpi!
Best regards
Adri Kristian, ST.
.
Tampilkan postingan dengan label HIMATEK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIMATEK. Tampilkan semua postingan
Rabu, 29 September 2010
Minggu, 25 April 2010
Mereka Mendidik Kita Dengan Berbagai Cara
Waktu Bung Karno memerdekakan Indonesia,
beliau tak hanya memerdekakan Indonesia agar generasi muda Indonesia tak bekerja keras dengan dalih tidak ada lagi penjajah yang memaksa kita untuk bekerja keras.
Waktu Kartini memperjuangkan agar kaumnya dapat bersekolah sederajat dengan lelaki,
beliau pasti tidak memperjuangkan kaumnya agar dapat bersekolah hanya untuk mengharap berkenalan dengan calon suami yang mapan dan bermasa depan cerah di kampus.
Waktu Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa agar semua anak bangsa bisa belajar baca tulis,
tentu beliau tidak mengharap bahwa putra-putri terbaik bangsanya kelak akan malas membaca panjang-panjang dan tak becus merangkai kata dalam karya tulis.
Waktu Soe Hok Gie berdiskusi dengan alam yang lirih, dan mengkritisi pemerintah dengan tak pandang bulu siapa presidennya,
beliau mengajarkan bahwa kata maha di depan siswa jauh terlalu besar untuk disandang pemuda yang hanya peduli tentang apa yang ia dapat di bangku kuliah tanpa peduli apa hubungan ilmu-ilmu yang ia dapatkan itu dengan kondisi negaranya dan alam semesta ciptaan Tuhan.
Waktu Kartini menulis "Habis Gelap Terbitlah Terang",
beliau tidak mengharapkan kita menjalankan pendidikan sambil mengeluh, namun supaya kita menjalaninya dengan semangat dan harapan bahwa pendidikan akan membawa kita ke masa depan yang lebih cerah.
Waktu Bung Karno berkata: "Gantungkan cita-citamu setinggi langit",
cita-cita setinggi langit yang beliau maksudkan tentu bukan sekadar agar adik-adik kelasnya puas dengan pekerjaan yang sampai pensiun pun manfaatnya hanya terasa oleh anak, istri, dan orang tuanya saja.
Waktu Ki Hajar Dewantara berfilsafat: "Ing ngarso sing tulodo",
beliau berpesan agar kita menjadi contoh bagi orang-orang yang tingkatannya berada di bawah kita, bukan malah membuat mereka mengutuki kenapa orang-orang seperti kita yang ditempatkan Tuhan berada di atas mereka.
Waktu beliau bertutur: "Ing madyo mangun karso",
beliau berpesan agar kita menjadi rekan yang membangun suasana kondusif untuk pengembangan diri teman-teman kita, bukan malah merusaknya dengan menjatuhkan mental tiap kali ada rekan kita yang sedang berusaha menggapai cita-cita.
Dan waktu beliau berkata: "Tut wuri handayani",
beliau berpesan agar kita meskipun tidak menjadi tokoh utama dalam suatu hal, hendaknya kita berbuat semaksimal mungkin untuk mendukung keterlaksanaan hal tersebut, bukan hanya berdiam diri dan tidak berkontribusi apa-apa.
Waktu Soe Hok Gie berkata: "Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan",
beliau tidak mencontohkan bahwa kita, mahasiswa, hanya berbicara dan bertindak sesuai apa yang diinginkan orang, melainkan seharusnya berbicara sesuai apa yang kita pikirkan, dan bertindak sesuai apa yang kita bicarakan.
Memperingati
131 tahun Raden Ajeng Kartini
111 tahun Ki Hajar Dewantara
dan 41 tahun perayaan Hari Bumi
.
beliau tak hanya memerdekakan Indonesia agar generasi muda Indonesia tak bekerja keras dengan dalih tidak ada lagi penjajah yang memaksa kita untuk bekerja keras.
Waktu Kartini memperjuangkan agar kaumnya dapat bersekolah sederajat dengan lelaki,
beliau pasti tidak memperjuangkan kaumnya agar dapat bersekolah hanya untuk mengharap berkenalan dengan calon suami yang mapan dan bermasa depan cerah di kampus.
Waktu Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa agar semua anak bangsa bisa belajar baca tulis,
tentu beliau tidak mengharap bahwa putra-putri terbaik bangsanya kelak akan malas membaca panjang-panjang dan tak becus merangkai kata dalam karya tulis.
Waktu Soe Hok Gie berdiskusi dengan alam yang lirih, dan mengkritisi pemerintah dengan tak pandang bulu siapa presidennya,
beliau mengajarkan bahwa kata maha di depan siswa jauh terlalu besar untuk disandang pemuda yang hanya peduli tentang apa yang ia dapat di bangku kuliah tanpa peduli apa hubungan ilmu-ilmu yang ia dapatkan itu dengan kondisi negaranya dan alam semesta ciptaan Tuhan.
Waktu Kartini menulis "Habis Gelap Terbitlah Terang",
beliau tidak mengharapkan kita menjalankan pendidikan sambil mengeluh, namun supaya kita menjalaninya dengan semangat dan harapan bahwa pendidikan akan membawa kita ke masa depan yang lebih cerah.
Waktu Bung Karno berkata: "Gantungkan cita-citamu setinggi langit",
cita-cita setinggi langit yang beliau maksudkan tentu bukan sekadar agar adik-adik kelasnya puas dengan pekerjaan yang sampai pensiun pun manfaatnya hanya terasa oleh anak, istri, dan orang tuanya saja.
Waktu Ki Hajar Dewantara berfilsafat: "Ing ngarso sing tulodo",
beliau berpesan agar kita menjadi contoh bagi orang-orang yang tingkatannya berada di bawah kita, bukan malah membuat mereka mengutuki kenapa orang-orang seperti kita yang ditempatkan Tuhan berada di atas mereka.
Waktu beliau bertutur: "Ing madyo mangun karso",
beliau berpesan agar kita menjadi rekan yang membangun suasana kondusif untuk pengembangan diri teman-teman kita, bukan malah merusaknya dengan menjatuhkan mental tiap kali ada rekan kita yang sedang berusaha menggapai cita-cita.
Dan waktu beliau berkata: "Tut wuri handayani",
beliau berpesan agar kita meskipun tidak menjadi tokoh utama dalam suatu hal, hendaknya kita berbuat semaksimal mungkin untuk mendukung keterlaksanaan hal tersebut, bukan hanya berdiam diri dan tidak berkontribusi apa-apa.
Waktu Soe Hok Gie berkata: "Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan",
beliau tidak mencontohkan bahwa kita, mahasiswa, hanya berbicara dan bertindak sesuai apa yang diinginkan orang, melainkan seharusnya berbicara sesuai apa yang kita pikirkan, dan bertindak sesuai apa yang kita bicarakan.
Memperingati
131 tahun Raden Ajeng Kartini
111 tahun Ki Hajar Dewantara
dan 41 tahun perayaan Hari Bumi
.
Rabu, 21 April 2010
Kisah Bayu dan Pertiwi
Melayang bebas ke pelosok dunia,
menebar pandang ke alam hidup manusia.
Inilah tutur kisah sang Bayu,
yang ingin bercerita tentang Pertiwi.
-------------------------------------
Sang Bayu berkelana ke puncak-puncak Himalaya,
menghembus hingga kedalaman Lautan Teduh.
Lebat rimba Amazon dan terik Gurun Sahara,
padang rumput Serengeti dan padang es Siberia.
Salju di Puncak Carstenz dan ombak laut Pantai Sanur,
oh, begitu ragamnya alam bumi ini.
Kota-kota besar pusat aktivitas manusia;
New York, London, Paris, Jakarta.
Pusat kecanggihan industri dan teknologi;
Tokyo, Shanghai, Dubai.
Kota-kota suci nan agung dan megah;
Vatikan, Makkah, Borobudur.
Perjalanan sang Bayu terus berlanjut...
Berjumpa terik mentari Antartika,
di mana freon menaklukkan ozon.
Menyapa hitamnya lepas pantai Alaska,
hasil muntahan tanker Exxon Valdez.
Mengamati Danau Aral yang kini menjadi daratan,
mengering karena polusi dan pembangunan.
Melihat anak-anak dan orang-orang cacat,
akibat thalidomide dan kasus Minamata.
Menatap lubang-lubang suram
bekas galian timah di Pulau Bangka.
Mengaduh sakit ketika bertemu timbal
dan berjuta gas racun di udara Jakarta.
Melirik miris kepada rakyat
dan tumpukan lumpur di Porong.
Mengelilingi hutan gundul Pulau Jawa,
yang seratus tahun lalu masih hijau
bak Zamrud Khatulistiwa.
Menyusur pekatnya Sungai Citarum,
yang dimuntahi berton-ton BOD dan COD
buangan industri kecil dan besar.
...............
Dan Bayu pun menatap Pertiwi,
yang telah renta dan letih
bagaikan seorang ibu di kala senja hidupnya,
yang telah cukup direpotkan anak-anaknya yang manja.
Dan telah bersiap untuk mati saja,
agar tak tertekan pahit getirnya hidup
serta beban untuk terus menerima
tahi dan air kencing anak-anaknya, umat manusia.
Dan Pertiwi pun menjawab Bayu,
ia tak bisa berbuat apa-apa
selain meratapi dekat ajalnya,
dan menyesali begitu banyak hal:
Menyesali industri plastik yang berproduksi ratusan juta ton per tahun.
Menyumpahi milyaran ton karbon dioksida yang dihempas ke atmosfir.
Menyerapahi para ilmuwan dan ahli riset
yang menemukan CFC, TEL, dan DDT.
Memandang sedih ke perancang pabrik
yang melegalkan suap demi lulus AMDAL.
Menatap malu ke insinyur operasional
yang melakukan midnight discharge.
Mengutuk insinyur kimia yang tak becus merancang alat,
mengutuk insinyur kimia yang tak becus merancang proses.
Sehingga industri kimia menjadi boros energi,
sehingga industri kimia menjadi boros bahan baku,
sehingga industri kimia menghasilkan banyak limbah,
sehingga Pertiwi pun semakin renta.
Mengutuk calon-calon insinyur
yang kerap bolos ataupun tidur saat kuliah
sehingga tak becus merancang alat dan merancang proses.
Menghela napas bagi mahasiswa,
yang katanya generasi muda penerus bangsa,
namun masih mempertanyakan signifikansi
dari cinta lingkungan dan hemat energi.
Menghela napas bagi kaum cendekia
yang dengan dalih kerasnya realita hidup
menggerogoti Pertiwi yang renta ini
dengan alasan demi mencari sesuap nasi
yang bahkan mereka sendiri lupa
bahwa nasi pun berasal dari Ibu Pertiwi.
......................................
(ayo, menghela napas!)
PS: dibuat dalam rangka menghindar sejenak dari beban tugas-tugas besar, penelitian, dan rancang pabrik; serta untuk meramaikan event KINTARI HIMATEK - kategori: bumi. Maaf jika tidak inspiratif... semoga bisa memacu yang lain untuk membuat yang lebih berkualitas dan inspiratif.
Çiçekşehir, 21-24 April 2010
Alfonso
cita-citanya sih Green Engineer
.
menebar pandang ke alam hidup manusia.
Inilah tutur kisah sang Bayu,
yang ingin bercerita tentang Pertiwi.
-------------------------------------
Sang Bayu berkelana ke puncak-puncak Himalaya,
menghembus hingga kedalaman Lautan Teduh.
Lebat rimba Amazon dan terik Gurun Sahara,
padang rumput Serengeti dan padang es Siberia.
Salju di Puncak Carstenz dan ombak laut Pantai Sanur,
oh, begitu ragamnya alam bumi ini.
Kota-kota besar pusat aktivitas manusia;
New York, London, Paris, Jakarta.
Pusat kecanggihan industri dan teknologi;
Tokyo, Shanghai, Dubai.
Kota-kota suci nan agung dan megah;
Vatikan, Makkah, Borobudur.
Perjalanan sang Bayu terus berlanjut...
Berjumpa terik mentari Antartika,
di mana freon menaklukkan ozon.
Menyapa hitamnya lepas pantai Alaska,
hasil muntahan tanker Exxon Valdez.
Mengamati Danau Aral yang kini menjadi daratan,
mengering karena polusi dan pembangunan.
Melihat anak-anak dan orang-orang cacat,
akibat thalidomide dan kasus Minamata.
Menatap lubang-lubang suram
bekas galian timah di Pulau Bangka.
Mengaduh sakit ketika bertemu timbal
dan berjuta gas racun di udara Jakarta.
Melirik miris kepada rakyat
dan tumpukan lumpur di Porong.
Mengelilingi hutan gundul Pulau Jawa,
yang seratus tahun lalu masih hijau
bak Zamrud Khatulistiwa.
Menyusur pekatnya Sungai Citarum,
yang dimuntahi berton-ton BOD dan COD
buangan industri kecil dan besar.
...............
Dan Bayu pun menatap Pertiwi,
yang telah renta dan letih
bagaikan seorang ibu di kala senja hidupnya,
yang telah cukup direpotkan anak-anaknya yang manja.
Dan telah bersiap untuk mati saja,
agar tak tertekan pahit getirnya hidup
serta beban untuk terus menerima
tahi dan air kencing anak-anaknya, umat manusia.
Dan Pertiwi pun menjawab Bayu,
ia tak bisa berbuat apa-apa
selain meratapi dekat ajalnya,
dan menyesali begitu banyak hal:
Menyesali industri plastik yang berproduksi ratusan juta ton per tahun.
Menyumpahi milyaran ton karbon dioksida yang dihempas ke atmosfir.
Menyerapahi para ilmuwan dan ahli riset
yang menemukan CFC, TEL, dan DDT.
Memandang sedih ke perancang pabrik
yang melegalkan suap demi lulus AMDAL.
Menatap malu ke insinyur operasional
yang melakukan midnight discharge.
Mengutuk insinyur kimia yang tak becus merancang alat,
mengutuk insinyur kimia yang tak becus merancang proses.
Sehingga industri kimia menjadi boros energi,
sehingga industri kimia menjadi boros bahan baku,
sehingga industri kimia menghasilkan banyak limbah,
sehingga Pertiwi pun semakin renta.
Mengutuk calon-calon insinyur
yang kerap bolos ataupun tidur saat kuliah
sehingga tak becus merancang alat dan merancang proses.
Menghela napas bagi mahasiswa,
yang katanya generasi muda penerus bangsa,
namun masih mempertanyakan signifikansi
dari cinta lingkungan dan hemat energi.
Menghela napas bagi kaum cendekia
yang dengan dalih kerasnya realita hidup
menggerogoti Pertiwi yang renta ini
dengan alasan demi mencari sesuap nasi
yang bahkan mereka sendiri lupa
bahwa nasi pun berasal dari Ibu Pertiwi.
......................................
(ayo, menghela napas!)
PS: dibuat dalam rangka menghindar sejenak dari beban tugas-tugas besar, penelitian, dan rancang pabrik; serta untuk meramaikan event KINTARI HIMATEK - kategori: bumi. Maaf jika tidak inspiratif... semoga bisa memacu yang lain untuk membuat yang lebih berkualitas dan inspiratif.
Çiçekşehir, 21-24 April 2010
Alfonso
cita-citanya sih Green Engineer
.
Selasa, 06 April 2010
Kacamata Hitam
Aku terjebak, kawan. Di dunia ini.
Di sini dunia yang tak mengenal aturan. Di sini dunia tanpa tatanan. Di sini tatanannya hanyalah ketidakpastian dan praduga.
Di sini.
Di mana bernyanyi menyakitkan telinga, namun diam menyakitkan mata.
Di mana yang peduli dianggap sok ikut campur, dan yang tak suka ikut campur dianggap tak peduli.
Di mana kemalasan dianggap sebagai kekurangan, namun kerajinan menjadi aib.
Di mana kebanggaan dicap sebagai kesombongan, namun rendah hati sama dengan rendah diri.
Di mana yang berani berbicara dicap tak berpikir panjang, namun kehati-hatian dianggap sebagai tanda apatisme.
Di mana upaya memancing tawa bisa berarti sok gaul, sementara yang tak berkomentar dianggap tak gaul.
Di mana yang berani deklarasi dianggap hanya mengumbar janji, sementara yang tak mau asal janji dianggap tak punya target.
Di mana orang yang tak berkawan dicap anti sosial, sementara orang yang berkawan dianggap eksklusif.
Di mana orang yang tak mau mengaku salah dicap tak tahu diri, sementara orang yang mau mengaku salah dianggap pecundang.
Di mana yang terus berusaha dianggap tak tahu batas, dan yang cepat merasa puas dicap tak tahu diuntung.
Di mana yang beragama dituntut menjadi santo, namun yang berdosa langsung dilempar ke neraka jahanam.
Di mana berdiri di kiri diserang yang kanan, berdiri di kanan diserang yang kiri, dan berdiri di tengah diserang kiri kanan.
Di mana yang di dalam tak mau keluar, sementara yang di luar malas melihat ke dalam, dan lagi-lagi yang di tengah mondar-mandir ke luar dan ke dalam.
Di mana lawan kata idealis adalah realis, lawan kata abstrak adalah konkrit, lawan kata konsep adalah teknis, lawan kata pemikir adalah pekerja, lawan kata tampilan adalah esensi.... dan lawan kata aku adalah dunia.
Di mana integritas didewakan dalam segala situasi, sehingga sang pemenang adalah dia yang tak pernah berpikir, berbicara, dan bertindak... karena nol sama dengan nol.
Lutetia Iavanicus, 6-4-2010 AD
Poëta
.
Di sini dunia yang tak mengenal aturan. Di sini dunia tanpa tatanan. Di sini tatanannya hanyalah ketidakpastian dan praduga.
Di sini.
Di mana bernyanyi menyakitkan telinga, namun diam menyakitkan mata.
Di mana yang peduli dianggap sok ikut campur, dan yang tak suka ikut campur dianggap tak peduli.
Di mana kemalasan dianggap sebagai kekurangan, namun kerajinan menjadi aib.
Di mana kebanggaan dicap sebagai kesombongan, namun rendah hati sama dengan rendah diri.
Di mana yang berani berbicara dicap tak berpikir panjang, namun kehati-hatian dianggap sebagai tanda apatisme.
Di mana upaya memancing tawa bisa berarti sok gaul, sementara yang tak berkomentar dianggap tak gaul.
Di mana yang berani deklarasi dianggap hanya mengumbar janji, sementara yang tak mau asal janji dianggap tak punya target.
Di mana orang yang tak berkawan dicap anti sosial, sementara orang yang berkawan dianggap eksklusif.
Di mana orang yang tak mau mengaku salah dicap tak tahu diri, sementara orang yang mau mengaku salah dianggap pecundang.
Di mana yang terus berusaha dianggap tak tahu batas, dan yang cepat merasa puas dicap tak tahu diuntung.
Di mana yang beragama dituntut menjadi santo, namun yang berdosa langsung dilempar ke neraka jahanam.
Di mana berdiri di kiri diserang yang kanan, berdiri di kanan diserang yang kiri, dan berdiri di tengah diserang kiri kanan.
Di mana yang di dalam tak mau keluar, sementara yang di luar malas melihat ke dalam, dan lagi-lagi yang di tengah mondar-mandir ke luar dan ke dalam.
Di mana lawan kata idealis adalah realis, lawan kata abstrak adalah konkrit, lawan kata konsep adalah teknis, lawan kata pemikir adalah pekerja, lawan kata tampilan adalah esensi.... dan lawan kata aku adalah dunia.
Di mana integritas didewakan dalam segala situasi, sehingga sang pemenang adalah dia yang tak pernah berpikir, berbicara, dan bertindak... karena nol sama dengan nol.
Lutetia Iavanicus, 6-4-2010 AD
Poëta
.
Sabtu, 27 Maret 2010
Produksi Limbah HIMATEK
Sebenarnya sudah lama sekali hal ini terjadi. Benar, lama sekali.
Mungkin sudah berbulan-bulan hal seperti ini terjadi.
Dan dari sejak pertama ini terjadi tangan saya sudah gatal sekali. Ingin bersuara dari hati.
Namun saya masih bisa menahan diri. Ya, mungkin saja kita ini sedang khilaf semua.
Namun ini sudah kelewat batas.
Ya, sudah keterlaluan.
APAAN SIH?
-----------------------------
Jadi seringkali gw melihat banyak botol-botol tergeletak di sekitar himpunan. Banyak. Di meja hotspot, di dalam sekre, di meja... di mana-mana, asal bukan di tempat sampah deh.
Oke gw ga akan mulai ceramah soal produksi limbah plastik bla bla bla. Biarlah itu jadi bagian teman-teman lain. Lagipula plastik bisa didaur ulang atau diinsinerasi. Tapi, yang bikin gw (mungkin teman-teman nggak) miris adalah...
Hampir sebagian besar itu terisi air lebih dari 50%nya! SETENGAH LEBIH!!! Dan DIBUANG BEGITU SAJA!!!
Nih kita lihat:




Karena ini yang di sekitar meja him, ini pasti kelakuan anak HIMATEK. Belum ditambah yang di meja hotspot.
Hai kawan...
Tahu nggak kesulitan orang-orang untuk dapat air bersih? Tahu nggak bahwa kita buang-buang air di saat orang-orang kesulitan untuk mendapatkannya?
Di sini, kita enak-enakan buang-buang air... dan bukan cuma air, tapi air KELAS SATU!! Air minum, bukan air irigasi, bukan air rekreasi, bukan air perikanan, bukan air cuci, bukan air WC, bukan air mentah, tapi AIR MINUM!
Sekarang, ayo kita berhitung (meskipun mungkin kita udah bosan berhitung di kelas)...
Volume 1 botol minum = 600 mL
Rata2 isi sisa botol minum yang dibuang = 50%
Jumlah botol yang dibuang per hari = sekitar 20-30
Rata2 air yang terbuang PERCUMA tiap hari = 50% x 600 mL x 20 s/d 30 = 6-12 L
6-12 liter sehari tuh gede... klo dikonversi ke galon aqua sekitar 1/3 s/d 2/3 galon sehari... sebulan berapa? Setahun berapa? ITB... ckckckck
PM HIMATEK, PM angkatan gw instalasi membran penjernih air di Cililin... Tujuannya apa? Menyediakan air bersih untuk masyarakat... Terus kita, kerjaannya sehari-hari membuang-buang air? Terus apa gunanya PM? Apa gunanya diajarin keprofesian kalo mata hati kita aja TUMPUL kayak begini?
Kita, kita di Teknik Kimia ITB...
Diajarin buat minimalisasi limbah kan?
Diajarin buat ga buang2 bahan kan?
Katanya cinta Indonesia
Katanya cinta lingkungan
Katanya jurusan intelek
Katanya talk less do more
Katanya punya integritas
Kalau mau marah, marahlah pada saya. Kalau tersinggung, caci makilah saya (dan saya punya hak untuk membalas). Iya saya mengingatkan dengan pedas, iya saya
Tapi ingat kalau mau marah dan tersinggung... Pikir kenapa kalian bisa sampai marah dan tersinggung. Buat yang cukup lapang dada dan tidak tersinggung, mari kita sama-sama mengingatkan yang lain.
Mari kita sama-sama belajar. Sama-sama mengingatkan. Saling memberi tahu.
Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater
13006033
.
Mungkin sudah berbulan-bulan hal seperti ini terjadi.
Dan dari sejak pertama ini terjadi tangan saya sudah gatal sekali. Ingin bersuara dari hati.
Namun saya masih bisa menahan diri. Ya, mungkin saja kita ini sedang khilaf semua.
Namun ini sudah kelewat batas.
Ya, sudah keterlaluan.
APAAN SIH?
-----------------------------
Jadi seringkali gw melihat banyak botol-botol tergeletak di sekitar himpunan. Banyak. Di meja hotspot, di dalam sekre, di meja... di mana-mana, asal bukan di tempat sampah deh.
Oke gw ga akan mulai ceramah soal produksi limbah plastik bla bla bla. Biarlah itu jadi bagian teman-teman lain. Lagipula plastik bisa didaur ulang atau diinsinerasi. Tapi, yang bikin gw (mungkin teman-teman nggak) miris adalah...
Hampir sebagian besar itu terisi air lebih dari 50%nya! SETENGAH LEBIH!!! Dan DIBUANG BEGITU SAJA!!!
Nih kita lihat:
Karena ini yang di sekitar meja him, ini pasti kelakuan anak HIMATEK. Belum ditambah yang di meja hotspot.
Hai kawan...
Tahu nggak kesulitan orang-orang untuk dapat air bersih? Tahu nggak bahwa kita buang-buang air di saat orang-orang kesulitan untuk mendapatkannya?
Di sini, kita enak-enakan buang-buang air... dan bukan cuma air, tapi air KELAS SATU!! Air minum, bukan air irigasi, bukan air rekreasi, bukan air perikanan, bukan air cuci, bukan air WC, bukan air mentah, tapi AIR MINUM!
Sekarang, ayo kita berhitung (meskipun mungkin kita udah bosan berhitung di kelas)...
Volume 1 botol minum = 600 mL
Rata2 isi sisa botol minum yang dibuang = 50%
Jumlah botol yang dibuang per hari = sekitar 20-30
Rata2 air yang terbuang PERCUMA tiap hari = 50% x 600 mL x 20 s/d 30 = 6-12 L
6-12 liter sehari tuh gede... klo dikonversi ke galon aqua sekitar 1/3 s/d 2/3 galon sehari... sebulan berapa? Setahun berapa? ITB... ckckckck
PM HIMATEK, PM angkatan gw instalasi membran penjernih air di Cililin... Tujuannya apa? Menyediakan air bersih untuk masyarakat... Terus kita, kerjaannya sehari-hari membuang-buang air? Terus apa gunanya PM? Apa gunanya diajarin keprofesian kalo mata hati kita aja TUMPUL kayak begini?
Kita, kita di Teknik Kimia ITB...
Diajarin buat minimalisasi limbah kan?
Diajarin buat ga buang2 bahan kan?
Katanya cinta Indonesia
Katanya cinta lingkungan
Katanya jurusan intelek
Katanya talk less do more
Katanya punya integritas
Kalau mau marah, marahlah pada saya. Kalau tersinggung, caci makilah saya (dan saya punya hak untuk membalas). Iya saya mengingatkan dengan pedas, iya saya
Tapi ingat kalau mau marah dan tersinggung... Pikir kenapa kalian bisa sampai marah dan tersinggung. Buat yang cukup lapang dada dan tidak tersinggung, mari kita sama-sama mengingatkan yang lain.
Mari kita sama-sama belajar. Sama-sama mengingatkan. Saling memberi tahu.
Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater
13006033
.
Sabtu, 06 Februari 2010
Jerman, 1930-1945
Jerman, 1930
12 tahun berlalu setelah Jerman dipermalukan dalam Perang Dunia I. Krisis ekonomi, ancaman komunis, dan pembatasan kekuatan militer oleh negara-negara asing menjadi awan kelabu yang menaungi seluruh negeri. Kemudian datanglah sesosok calon pemimpin.
Muda, tampan, dengan kata-kata yang memikat. Rapi, santun, dan karismatik. Cerdas, berpikiran tajam, dan patriotik. Janji-janjinya membangkitkan moral rakyat yang terpuruk. Pembangunan ekonomi, peningkatan martabat Jerman sehingga tidak lagi dipandang dunia sebagai bangsa pecundang yang kalah perang. Seluruh rakyat bersatu di belakangnya, dan pembangunan besar-besaran dimulai: di bidang ekonomi, budaya, pendidikan, teknologi, dan militer.
---------------------
Jerman, 1945
Jerman kalah dalam Perang Dunia II, perang terbesar sepanjang sejarah umat manusia, yang ‘mereka’ mulai sendiri. 10 juta penduduk Jerman, sipil dan militer, kehilangan nyawa. 2/3 kota-kota besar Jerman luluh lantak dihantam bom udara musuh. 1/3 wilayah Jerman bagian timur lepas, diserahkan pada musuh. 2 juta wanita Jerman diperkosa tentara Soviet. Kerugian material? Tidak terhitung.
Dan saat itu, di mana sang pemimpin harapan yang begitu memikat hati rakyat Jerman 15 tahun silam tersebut? Pemimpin itulah yang dengan ambisi pribadinya menceburkan seluruh negeri Jerman ke dalam peperangan, membawanya ke kekalahan, dan meninggalkan rakyatnya yang tengah menderita ke alam baka dengan bunuh diri. Pemimpin itulah yang mencoreng nama Jerman di sejarah dunia, mencap mereka sebagai bangsa pemulai Perang Dunia II, dan menistakan nama bangsanya bersama namanya sendiri yang pada masa kini menjadi sinonim dengan Si Biang Kejahatan: Adolf Hitler.
---------------------
Andai saja rakyat Jerman tahun 1930 tahu bahwa calon pemimpin karismatik yang mereka harapkan membawa Jerman menuju kejayaan ternyata adalah psikopat haus darah yang membantai 6 juta orang baik orang asing maupun rakyat negerinya sendiri hanya karena ras dan cacat fisik, yang membawa negerinya maju perang padahal ia mengetahui negerinya tidak punya cukup sumber daya, dan bahwa ia hanyalah orang yang jika dihadapkan pada pendapat yang berbeda selalu meledak kalap… Andai saja…
Sesal kemudian tak berguna.
Kenali para calon pemimpin kita.
Hadirilah! HEARING CAKAHIM-CASENATOR HIMATEK 2010.
.
12 tahun berlalu setelah Jerman dipermalukan dalam Perang Dunia I. Krisis ekonomi, ancaman komunis, dan pembatasan kekuatan militer oleh negara-negara asing menjadi awan kelabu yang menaungi seluruh negeri. Kemudian datanglah sesosok calon pemimpin.
Muda, tampan, dengan kata-kata yang memikat. Rapi, santun, dan karismatik. Cerdas, berpikiran tajam, dan patriotik. Janji-janjinya membangkitkan moral rakyat yang terpuruk. Pembangunan ekonomi, peningkatan martabat Jerman sehingga tidak lagi dipandang dunia sebagai bangsa pecundang yang kalah perang. Seluruh rakyat bersatu di belakangnya, dan pembangunan besar-besaran dimulai: di bidang ekonomi, budaya, pendidikan, teknologi, dan militer.
---------------------
Jerman, 1945
Jerman kalah dalam Perang Dunia II, perang terbesar sepanjang sejarah umat manusia, yang ‘mereka’ mulai sendiri. 10 juta penduduk Jerman, sipil dan militer, kehilangan nyawa. 2/3 kota-kota besar Jerman luluh lantak dihantam bom udara musuh. 1/3 wilayah Jerman bagian timur lepas, diserahkan pada musuh. 2 juta wanita Jerman diperkosa tentara Soviet. Kerugian material? Tidak terhitung.
Dan saat itu, di mana sang pemimpin harapan yang begitu memikat hati rakyat Jerman 15 tahun silam tersebut? Pemimpin itulah yang dengan ambisi pribadinya menceburkan seluruh negeri Jerman ke dalam peperangan, membawanya ke kekalahan, dan meninggalkan rakyatnya yang tengah menderita ke alam baka dengan bunuh diri. Pemimpin itulah yang mencoreng nama Jerman di sejarah dunia, mencap mereka sebagai bangsa pemulai Perang Dunia II, dan menistakan nama bangsanya bersama namanya sendiri yang pada masa kini menjadi sinonim dengan Si Biang Kejahatan: Adolf Hitler.
---------------------
Andai saja rakyat Jerman tahun 1930 tahu bahwa calon pemimpin karismatik yang mereka harapkan membawa Jerman menuju kejayaan ternyata adalah psikopat haus darah yang membantai 6 juta orang baik orang asing maupun rakyat negerinya sendiri hanya karena ras dan cacat fisik, yang membawa negerinya maju perang padahal ia mengetahui negerinya tidak punya cukup sumber daya, dan bahwa ia hanyalah orang yang jika dihadapkan pada pendapat yang berbeda selalu meledak kalap… Andai saja…
Sesal kemudian tak berguna.
Kenali para calon pemimpin kita.
Hadirilah! HEARING CAKAHIM-CASENATOR HIMATEK 2010.
.
Rabu, 23 Desember 2009
Sungguh, Tidak Ada Ibu Seperti Ibuku
Tujuan pembuatan tulisan ini sebenarnya untuk mensukseskan program HIMATEK yang kebetulan jadi tanggung jawab divisi saya a.k.a. PSDA yaitu lomba dalam memperingati Hari Ibu... namun yang terutama, tulisan ini didedikasikan kepada sesosok makhluk mulia yang merupakan orang terpenting dalam hidup saya. Tulisan yang mengandung segenap kata-kata yang tidak pernah saya berani sampaikan ke hadapan beliau.
Tulisan yang meskipun dibuat untuk lomba, tidak dibuat untuk menang... namun dibuat untuk beliau. Untuk ibuku tercinta.
-------------------------------------------
Dari gubuk-gubuk Kibera hingga villa-villa Monte Carlo
Dari pedalaman Amazon hingga pencakar-pencakar langit Manhattan
Dari sengatan matahari Sahara hingga putihnya alam Siberia
Di seluruh tempat yang ada di dunia
Sungguh untukku, tidak ada ibu seperti ibuku
........
Ibuku, ibu yang serba bisa
Dari memasak sampai menjahitkan kancing
Dari membetulkan keran air sampai mengecat dinding
Bagi beliau, tidak ada yang tidak bisa dilakukan
Ibuku, yang kepadaku tidak pernah marah sekalipun
Tidak pernah, meskipun salahku bermacam-macam
Bahkan ketika aku berkali-kali meminta ampun
Beliau hanya bilang "Tidak apa-apa" lalu diam
Dan dalam diam itulah aku dibuat merasa bersalah
Ibuku, yang tidak pernah sekalipun berkata
"Besar uang sekolah adik-adikmu makin hari makin menggila
Sebaiknya kamu cepat selesaikan studi, langsung bekerja"
Meskipun aku tahu, itulah keadaan yang sesungguhnya
Malah ketika kuputuskan ingin mengambil program pascasarjana
Beliau hanya tersenyum dan berkata "Silakan saja"
Ibuku, yang selalu menghindar ketika kutanya besarnya penghasilan
Beliau hanya menyuruhku diam, dan berkata pelan
"Bukan urusanmu, yang penting kamu masih bisa makan"
Ibuku, yang jam lima pagi sudah berangkat ke kantor
Mengejar bus di terminal, tiap pagi dari Senin sampai Jumat
Tiga jam di jalanan ibukota, menghirup udara kotor
Dan hebatnya selalu sampai tujuan, dengan selamat
Ibuku, yang delapan jam bekerja berjerih payah
Hingga makan dan tidur pun seringkali terlupa
Tapi beliau juga ibuku, yang tak pernah lengah
Menjawab dengan cepat ketika aku meneleponnya
Ibuku, yang jam tujuh malam baru sampai di rumah
Terkadang malah jam sembilan atau sepuluh
Jarang sekali wajahnya tak terlihat lelah
Bahkan seringkali beliau pulang bermandi peluh
Ibuku, yang kuceritakan tentang beratnya duniaku kuliah
Dan kukeluhkan betapa lelah aku menjalaninya
Ibuku, yang kemudian hanya bisa tersenyum pasrah
Dan menunjuk setumpuk kertas kerja yang dibawanya
Sementara aku sampai larut malam asyik bermain internet
Dan ketika jam tiga dini hari aku pergi ke toilet
Kulihat ibuku di kamarnya, masih saja terjaga
Di hadapannya masih terhampar kertas-kertas kerja
Anak seperti apa yang takkan menangis melihatnya?
Anak seperti apa yang akan sampai hati tega
Melihat orangtuanya tidur tak sampai sejam sehari
Demi anak-anaknya bisa makan sesuap nasi
Dan itu terjadi hampir setiap hari!
Aku ingin, ingin sekali meminta
Agar ibuku berhenti saja bekerja
Agar aku yang menanggung beban keluarga
Agar aku yang kerja dengan gaji berpuluh-puluh juta
Agar ibuku bisa istirahat sepanjang hidupnya
Dan jangan kira tak pernah kusampaikan kepadanya
Dan jangan kira aku tak pernah menemukan jawabnya
Dan jawabnya hanya satu kalimat, kalimat retorika
Kalau beliau sekarang tak bekerja, aku mau makan apa?
Lemahnya aku, tidak berdaya, dan tidak berguna
Ah, aku ini anak macam apa...
Tuhan, jangan jadikan aku anak durhaka...
........
Sejak Alexander naik kuda hingga Neil Armstrong mengangkasa
Sejak hidupnya dinosaurus hingga majunya teknologi
Sejak zaman para dewa hingga zaman band Dewa
Sejak dahulu kala, sampai berjuta tahun lagi
Sungguh untukku...
tidak ada ibu seperti ibuku.
Buitenzorg, 23 Desember 2009
Alfonso
Selamat Hari Ibu...
.
Tulisan yang meskipun dibuat untuk lomba, tidak dibuat untuk menang... namun dibuat untuk beliau. Untuk ibuku tercinta.
-------------------------------------------
Dari gubuk-gubuk Kibera hingga villa-villa Monte Carlo
Dari pedalaman Amazon hingga pencakar-pencakar langit Manhattan
Dari sengatan matahari Sahara hingga putihnya alam Siberia
Di seluruh tempat yang ada di dunia
Sungguh untukku, tidak ada ibu seperti ibuku
........
Ibuku, ibu yang serba bisa
Dari memasak sampai menjahitkan kancing
Dari membetulkan keran air sampai mengecat dinding
Bagi beliau, tidak ada yang tidak bisa dilakukan
Ibuku, yang kepadaku tidak pernah marah sekalipun
Tidak pernah, meskipun salahku bermacam-macam
Bahkan ketika aku berkali-kali meminta ampun
Beliau hanya bilang "Tidak apa-apa" lalu diam
Dan dalam diam itulah aku dibuat merasa bersalah
Ibuku, yang tidak pernah sekalipun berkata
"Besar uang sekolah adik-adikmu makin hari makin menggila
Sebaiknya kamu cepat selesaikan studi, langsung bekerja"
Meskipun aku tahu, itulah keadaan yang sesungguhnya
Malah ketika kuputuskan ingin mengambil program pascasarjana
Beliau hanya tersenyum dan berkata "Silakan saja"
Ibuku, yang selalu menghindar ketika kutanya besarnya penghasilan
Beliau hanya menyuruhku diam, dan berkata pelan
"Bukan urusanmu, yang penting kamu masih bisa makan"
Ibuku, yang jam lima pagi sudah berangkat ke kantor
Mengejar bus di terminal, tiap pagi dari Senin sampai Jumat
Tiga jam di jalanan ibukota, menghirup udara kotor
Dan hebatnya selalu sampai tujuan, dengan selamat
Ibuku, yang delapan jam bekerja berjerih payah
Hingga makan dan tidur pun seringkali terlupa
Tapi beliau juga ibuku, yang tak pernah lengah
Menjawab dengan cepat ketika aku meneleponnya
Ibuku, yang jam tujuh malam baru sampai di rumah
Terkadang malah jam sembilan atau sepuluh
Jarang sekali wajahnya tak terlihat lelah
Bahkan seringkali beliau pulang bermandi peluh
Ibuku, yang kuceritakan tentang beratnya duniaku kuliah
Dan kukeluhkan betapa lelah aku menjalaninya
Ibuku, yang kemudian hanya bisa tersenyum pasrah
Dan menunjuk setumpuk kertas kerja yang dibawanya
Sementara aku sampai larut malam asyik bermain internet
Dan ketika jam tiga dini hari aku pergi ke toilet
Kulihat ibuku di kamarnya, masih saja terjaga
Di hadapannya masih terhampar kertas-kertas kerja
Anak seperti apa yang takkan menangis melihatnya?
Anak seperti apa yang akan sampai hati tega
Melihat orangtuanya tidur tak sampai sejam sehari
Demi anak-anaknya bisa makan sesuap nasi
Dan itu terjadi hampir setiap hari!
Aku ingin, ingin sekali meminta
Agar ibuku berhenti saja bekerja
Agar aku yang menanggung beban keluarga
Agar aku yang kerja dengan gaji berpuluh-puluh juta
Agar ibuku bisa istirahat sepanjang hidupnya
Dan jangan kira tak pernah kusampaikan kepadanya
Dan jangan kira aku tak pernah menemukan jawabnya
Dan jawabnya hanya satu kalimat, kalimat retorika
Kalau beliau sekarang tak bekerja, aku mau makan apa?
Lemahnya aku, tidak berdaya, dan tidak berguna
Ah, aku ini anak macam apa...
Tuhan, jangan jadikan aku anak durhaka...
........
Sejak Alexander naik kuda hingga Neil Armstrong mengangkasa
Sejak hidupnya dinosaurus hingga majunya teknologi
Sejak zaman para dewa hingga zaman band Dewa
Sejak dahulu kala, sampai berjuta tahun lagi
Sungguh untukku...
tidak ada ibu seperti ibuku.
Buitenzorg, 23 Desember 2009
Alfonso
Selamat Hari Ibu...
.
Jumat, 27 November 2009
Visi dan Misi Calon Senator HIMATEK 2008-2009
HIMATEK, 18 bulan lalu.
Ini visi dan misi dari seorang calon representasi himpunannya di lembaga tertinggi kemahasiswaan ITB.
Seorang calon yang belum pernah menginjakkan kakinya di forum silaturahmi manapun. Seorang calon yang baru mengenal Kongres KM-ITB pada Diklat Legislatif seminggu sebelumnya. Seorang calon yang baru akan berbicara selama lebih dari 10 menit di hadapan massa HIMATEK untuk pertama kalinya pada audiensi pencalonan. Seorang calon yang hanya ingin maju untuk membela rekan-rekannya yang terpinggirkan. Seorang calon yang terinspirasi pada perbedaan idealisme dan realita jargon "KM-ITB Milik Semua".
-------------
VISI
Memposisikan HIMATEK sebagai salah satu himpunan yang terdepan dalam dunia kemahasiswaan ITB.
MISI
1. Mengusahakan tersampaikannya berita-berita seputar kampus kepada semua warga HIMATEK agar dapat disikapi dengan pemahaman menyeluruh.
2. Menumbuhkan minat semua warga HIMATEK untuk mengemukakan pendapatnya mengenai berita-berita seputar kampus sehingga dapat disuarakan melalui Kongres.
3. Mengusahakan agar HIMATEK memiliki cara pandang dan sikap yang lebih proaktif dan kontributif dalam dunia kemahasiswaan ITB.
4. Memberikan pengawasan terhadap kinerja Kabinet KM-ITB disesuaikan dengan sikap, cara pandang, dan kepentingan HIMATEK.
-------------
Dan sekarang... telah 18 bulan berlalu sejak visi misi itu dilontarkan dari hati. Telah 6 bulan berlalu sejak (seharusnya) visi misi itu dituntaskan oleh si pemegangnya. Dan masih 3 bulan sebelum akhirnya ada satu orang lagi yang akan membawa visi dan misi baru, meneruskan semangat yang sama yang diemban himpunannya sekarang. Dan saat ketika realita dengan pedih menghunjam, mengingatkan kembali berapa bagian dari visi misi itu yang tidak terlaksana.
Sejauh ini aku telah berjalan.
Waktu, pikiran, tenaga.
Darah, keringat, air mata.
Kadang dihiasi senyum dan tawa.
Kadang hanya diam terpana, kehabisan kata-kata.
Wakil rakyat adalah senapan, aspirasi adalah peluru.
Senapan tak berpeluru, tiada beda dengan pentungan.
.
Ini visi dan misi dari seorang calon representasi himpunannya di lembaga tertinggi kemahasiswaan ITB.
Seorang calon yang belum pernah menginjakkan kakinya di forum silaturahmi manapun. Seorang calon yang baru mengenal Kongres KM-ITB pada Diklat Legislatif seminggu sebelumnya. Seorang calon yang baru akan berbicara selama lebih dari 10 menit di hadapan massa HIMATEK untuk pertama kalinya pada audiensi pencalonan. Seorang calon yang hanya ingin maju untuk membela rekan-rekannya yang terpinggirkan. Seorang calon yang terinspirasi pada perbedaan idealisme dan realita jargon "KM-ITB Milik Semua".
-------------
VISI
Memposisikan HIMATEK sebagai salah satu himpunan yang terdepan dalam dunia kemahasiswaan ITB.
MISI
1. Mengusahakan tersampaikannya berita-berita seputar kampus kepada semua warga HIMATEK agar dapat disikapi dengan pemahaman menyeluruh.
2. Menumbuhkan minat semua warga HIMATEK untuk mengemukakan pendapatnya mengenai berita-berita seputar kampus sehingga dapat disuarakan melalui Kongres.
3. Mengusahakan agar HIMATEK memiliki cara pandang dan sikap yang lebih proaktif dan kontributif dalam dunia kemahasiswaan ITB.
4. Memberikan pengawasan terhadap kinerja Kabinet KM-ITB disesuaikan dengan sikap, cara pandang, dan kepentingan HIMATEK.
-------------
Dan sekarang... telah 18 bulan berlalu sejak visi misi itu dilontarkan dari hati. Telah 6 bulan berlalu sejak (seharusnya) visi misi itu dituntaskan oleh si pemegangnya. Dan masih 3 bulan sebelum akhirnya ada satu orang lagi yang akan membawa visi dan misi baru, meneruskan semangat yang sama yang diemban himpunannya sekarang. Dan saat ketika realita dengan pedih menghunjam, mengingatkan kembali berapa bagian dari visi misi itu yang tidak terlaksana.
Sejauh ini aku telah berjalan.
Waktu, pikiran, tenaga.
Darah, keringat, air mata.
Kadang dihiasi senyum dan tawa.
Kadang hanya diam terpana, kehabisan kata-kata.
Wakil rakyat adalah senapan, aspirasi adalah peluru.
Senapan tak berpeluru, tiada beda dengan pentungan.
.
Selasa, 27 Oktober 2009
Ya, KARENA KITA PEMUDA!
“Indonesia? Bukan urusan kita… karena kita masih pemuda.”
Apakah benar Indonesia terlalu tinggi atau terlalu jauh bagi kita, pemuda?
BERIKAN AKU SEPULUH PEMUDA, DAN AKU AKAN MENGGUNCANG DUNIA!
Delapan puluh satu tahun yang lalu, di sebuah rumah pondokan milik Sie Kok Liong di Jalan Kramat Raya 106… Para pemuda berkumpul dari berbagai latar belakang, suku, bangsa, dan agama, dengan satu tujuan… Melihat tanah airnya merdeka. Tanah air yang satu. Didiami oleh bangsa yang satu. Dan berbahasa bahasa yang satu.
Delapan puluh satu tahun lalu, pemuda adalah fondasi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pemuda. Pemimpi. Penemu. Pelopor. Penggerak. Pendobrak.
Saat ini, di Labtek Biru di Jalan Ganesha 10… Kita, para pemuda dari berbagai latar belakang, suku, bangsa, dan agama, dengan satu tujuan… Melihat tanah air kita jaya. Tanah air yang sama dengan yang diperjuangkan leluhur kita delapan puluh satu tahun lalu.
Saat ini, pemuda harus menjadi fondasi kejayaan Indonesia! Jika tujuan kita satu, langit akan kita goyangkan, bumi akan kita gempakan, samudera akan kita gelorakan… bangsa ini akan kita angkat. Karena kita pemuda. Karena kita pemimpi. Karena kita penemu. Karena kita pelopor. Karena kita penggerak. Karena kita pendobrak. Ya, kita.
Tidak perlu menunggu jadi tua untuk peduli, berbuat, dan berarti bagi bangsa. DAN JANGAN MENUNGGU.
Bangun pemudi-pemuda Indonesia
Lengan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmulah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Sudi tetap berusaha, jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara, t’rus kerja keras
Hati teguh dan lurus, pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus, hai putra neg’ri
81 Tahun Sumpah Pemuda
PSDA HIMATEK
.
Apakah benar Indonesia terlalu tinggi atau terlalu jauh bagi kita, pemuda?
BERIKAN AKU SEPULUH PEMUDA, DAN AKU AKAN MENGGUNCANG DUNIA!
Delapan puluh satu tahun yang lalu, di sebuah rumah pondokan milik Sie Kok Liong di Jalan Kramat Raya 106… Para pemuda berkumpul dari berbagai latar belakang, suku, bangsa, dan agama, dengan satu tujuan… Melihat tanah airnya merdeka. Tanah air yang satu. Didiami oleh bangsa yang satu. Dan berbahasa bahasa yang satu.
Delapan puluh satu tahun lalu, pemuda adalah fondasi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pemuda. Pemimpi. Penemu. Pelopor. Penggerak. Pendobrak.
Saat ini, di Labtek Biru di Jalan Ganesha 10… Kita, para pemuda dari berbagai latar belakang, suku, bangsa, dan agama, dengan satu tujuan… Melihat tanah air kita jaya. Tanah air yang sama dengan yang diperjuangkan leluhur kita delapan puluh satu tahun lalu.
Saat ini, pemuda harus menjadi fondasi kejayaan Indonesia! Jika tujuan kita satu, langit akan kita goyangkan, bumi akan kita gempakan, samudera akan kita gelorakan… bangsa ini akan kita angkat. Karena kita pemuda. Karena kita pemimpi. Karena kita penemu. Karena kita pelopor. Karena kita penggerak. Karena kita pendobrak. Ya, kita.
Bangunlah hai pemuda, berjuta rakyat menanti tanganmu, mereka lapar dan bau keringat.
Jangan menghindar dengan berkata “Nanti saja, saya kan masih pemuda!”
Tapi jawablah “Ya, KARENA SAYA PEMUDA!”
Jangan menghindar dengan berkata “Nanti saja, saya kan masih pemuda!”
Tapi jawablah “Ya, KARENA SAYA PEMUDA!”
Tidak perlu menunggu jadi tua untuk peduli, berbuat, dan berarti bagi bangsa. DAN JANGAN MENUNGGU.
Bangun pemudi-pemuda Indonesia
Lengan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmulah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa
Sudi tetap berusaha, jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara, t’rus kerja keras
Hati teguh dan lurus, pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus, hai putra neg’ri
81 Tahun Sumpah Pemuda
PSDA HIMATEK
.
Kamis, 24 September 2009
Dihukum Karena Hal Yang Tidak Diperbuatnya
Baca judul tulisan ini, lalu pikirkan. Adil tidak? Fair tidak?
Coba bayangkan seorang ibu umur 40an berteriak sambil menangis tersedu-sedu:
"HAL APA YANG TELAH KUPERBUAT HINGGA AKU MENDAPAT COBAAN SEPERTI INI...?!?!?!?"
dengan gaya yang lazim kita temui di sinetron-sinetron Indonesia. Kalau di sinetron sih, biasanya tokoh seperti itu adalah tokoh baiknya, yang anggun, selalu ramah sama orang, rajin beribadah. Tapi pasti aja tokoh kayak gini adalah tokoh yang paling apes. Entah suaminya meninggal, dirinya sakit-sakitan, anaknya diputusin pacar, rumahnya disita, dan seterusnya. Lalu dia berteriak seperti kalimat di atas. Lalu kita (baca: penggila sinetron) berpikir, dunia kejam nian, apa yang telah dia perbuat sehingga mendapat nasib malang bertubi-tubi?
Intermezzo. Hehehe. *NB: penempatan intermezzo di awal cerita bukan hal yang baik sebenarnya*
=======
Kembali ke judul. Waktu dulu ada yang pernah cerita ke saya tentang seorang anak kecil yang bertanya pada bapaknya. "Pak, tadi pagi saya di sekolah disetrap guru karena hal yang tidak saya kerjakan. Apakah itu adil?"
Bapaknya lantas berang dan langsung menjawab. "Tentu tidak! Gurumu sangat keterlaluan. Tentu kau tidak bisa disalahkan atas hal yang kau tidak lakukan. Bapak akan menghadap Kepala Sekolah besok. Tapi ngomong-ngomong, hal apa sih yang tidak kau lakukan itu?"
Anaknya nyengir dan menjawab "TIDAK mengerjakan PR."
Kedengarannya klise. Tapi poinnya jelas. Masalah dihukum atau tidak, masalah salah atau benar, bukan hanya masalah apa yang DIPERBUAT, tapi bisa jadi masalah apa yang TIDAK DIPERBUAT.
======
Minggu kemarin saya jalan-jalan dengan adik perempuan saya yang berumur 12 tahun di mall, sehabis menjemputnya dari gereja. Sehabis makan di food court di lantai 3, kami turun dengan lift ke lantai paling bawah untuk pulang. Saat kami akan naik lift, ada seorang bapak tinggi besar membawa dua orang anak. Yang besar lelaki sekitar umur 8-9 tahun berbadan gendut, yang kecil perempuan umur 5-6 tahun gendut juga. Kedua anak ini rupanya lumayan nakal juga.
Ketika pintu lift terbuka dan sekitar 10 orang penumpangnya berhamburan turun, kedua anak ini langsung menerobos masuk lift tanpa menunggu yang turun selesai keluar lift. Si bapak diam saja. Saya cuma bisa berdehem dan teriak pelan "Tolong tunggu yang turun dulu, seperti biasa!".
Lalu saya dan adik saya masuk lift dengan posisi di tengah-tengah (tidak bersandar ke dinding lift), adik saya di samping saya. Lift itu penuh sesak, ada sekitar 13 orang. Sialnya tidak ada yang turun di lantai dasar seperti saya (semua turun di basement parkiran rupanya). Di antara saya dan tombol lift ada si bapak. Saya tidak bisa menjangkau tombol lift itu. Saya lalu berkata "Maaf Pak, permisi". Namun si bapak tetap bergeming. Dengan susah payah, adik saya yang berbadan lebih kecil bisa menekan tombol lift. Dan sehabis adik saya menekan tombol, si bapak menempelkan telapak tangannya menutupi TOMBOL-TOMBOL LIFT untuk NYENDER.
Setelah itu kedua anak gendut itu mulai ngobrol keras dan kemudian melompat-lompat di dalam lift. Ya. JINGKRAK-JINGKRAK. Di dalam LIFT yang sedang berjalan. Anaknya GENDUT-GENDUT. Saya mulai mikir apakah saya harus baca doa atau jitak kepala anak-anak ini. Bapaknya diam saja.
Ketika pintu lift terbuka di GF, saya dan adik saya bersiap-siap turun, namun si bapak yang berbadan BESAR dan MENGHALANGI pintu keluar lift tidak menunjukkan tanda-tanda mau minggir. Padahal sudah jelas tadi penumpang yang memencet tombol GF hanya SAYA, yang ada di BELAKANGNYA. "Pak, PERMISI" ulang saya dengan suara lebih keras dari saat saya mau menekan tombol lift tadi. Dia tetap diam. Adik saya, yang berbadan lebih kecil, lebih tidak sabar dan mencoba menerobos keluar. Dia berhasil dan saat itu semua orang tersadar dan mencoba minggir, namun tetap saja jalur keluarnya sulit karena liftnya penuh sesak dan orang yang SEHARUSNYA PALING DULUAN MINGGIR yaitu si bapak itu malah DIAM seperti gupala di depan pintu lift. Saya mencoba keluar, namun saat itu pintu lift tertutup, saya mencoba menerobos (karena jika turun sampai lantai bawah lagi, eskalator sedang mati dan jalurnya jauh, lagipula adik saya sudah berada di luar lift).
Dan BREKK. Pintunya menggencet saya, saya mencoba menjejak keluar lift agar tidak kehilangan keseimbangan, dan alhasil kaki kanan saya mendarat tepat di belakang adik saya yang sedang melangkah, menginjak sendalnya, dan talinya putus. Sementara adik saya memungut sendal kesayangannya itu, saya menyempatkan diri melihat pintu lift yang sedang menutup itu, menatap marah pada si goblok yang MENEMPELKAN TANGANNYA DI TOMBOL LIFT tapi tidak menahan tombolnya agar terbuka saat ada yang mau turun.
Saya emosi dan hampir berteriak "GOBLOK!" di depan muka si bapak itu. Namun segera saya mencoba berpikiran jernih dan positif. Mau tahu pikiran paling baik yang timbul di benak saya saat itu? MUNGKIN BAPAK ITU TULI.
Dan saya sampai pulang masih tetap emosi, masih tetap uring-uringan karena sendal kesayangan adik saya putus gara-gara si bapak goblok itu. Bapak itu tidak melakukan apa-apa terhadap saya, tapi karena dia tidak melakukan apa-apa itulah maka saya jadi kesal.
Yah, mungkin saya juga salah karena emosi. Sampai di rumah saya minta maaf secara tidak langsung kepadanya dalam doa, dan mengakui ada bagian kesalahan saya juga.
Namun saya tetap berterima kasih atas pertemuan saya dengan si bapak, yang telah mengajarkan kepada saya buruknya sebuah ignorance.
======
Undang-undang negara Republik Indonesia ada yang menyatakan bahwa jika seseorang melihat terjadinya tindak kejahatan namun tidak melaporkannya, ia dapat dituduh bersekongkol dengan pelaku dan dapat dikenai hukuman penjara. Waktu dulu saya ikut sekolah minggu, salah satu ayat paling berkesan yang dibacakan kakak pembimbing saya adalah Yakobus 4:17 "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa".
Sudah tahu arah tujuan pembicaraan saya kan?
Albert Einstein pernah berkata "Saya cinta damai, tetapi bukan hanya itu, saya berani berperang demi kedamaian". Yang dimaksud Einstein bukan perang sebenarnya, tapi yang ia maksud adalah ia berani mengajak orang-orang untuk tidak berperang. Kenapa?
Karena Einstein menyadari bahwa jika ia cinta damai secara PASIF (yakni hanya berkomitmen bahwa DIRINYA SAJA yang tidak akan berpartisipasi dalam perang), perdamaian tidak akan terjadi. Orang-orang lain masih akan berperang. Maka ia memutuskan untuk AKTIF, mengajak orang-orang untuk tidak berperang.
Berapa banyak dari kita yang berpikiran bahwa "Saya akan membetulkan kehidupan saya dulu. Yang penting saya jadi orang baik, benar, rajin, pintar, jujur, disiplin, dan berprestasi. Urusan temen-temen saya yang begundal, brengsek, tukang tipu, pemalas, goblok dan lain sebagainya itu, urusan mereka, toh mereka kan udah gede ini."
Itu EGOIS, saudara. Membiarkan teman kita jatuh dalam dosa sementara kita luput dari dosa. Saya masih percaya kata-kata Einstein: "Sang Pencipta tidak sedang bermain dadu" ketika mencipta, ketika meletakkan kita di lingkungan pertemanan kita saat ini. Dan saya masih percaya bahwa tanggung jawab untuk saling menasihati itu ada di pundak semua umatNya, dan kita akan dimintai pertanggungjawaban untuk itu saat Hari Terakhir nanti.
Dan hukuman yang menanti bukan karena kejahatan yang kita lakukan, tetapi karena kebaikan yang kita tidak lakukan.
======
Kendala nyata? Banyak.
Setahun ini nyontek tugas dan semacamnya sudah saya kurangi sampai batas sangat minimum, namun prestasi akademik saya ya segitu-segitu aja. Cape juga klo mempromosikan integritas akademik dan cuma dikata-katain "Yang nggak nyontek ntar IPKnya jadi kayak lu! Mending nyontek, terus kayak gw! Yang IPKnya lebih tinggi dari lu aja nggak pernah bacot macam-macam!"
Bagian terakhir sih yang membuat hati ini paling pedih. Dan hanyalah harapan yang tentu diharap jadi kenyataan, bahwa yang lebih punya daya untuk promosi integritas akademik akan memberdayakan modal mereka itu. Tidak hanya lurus dalam kehidupannya, namun juga meluruskan orang lain yang bengkok-bengkok. Barangsiapa tahu berbuat baik tapi tidak melakukannya... yah, begitulah.
======
Ketika telah nyata bahwa keuntungan nyalin tugas dan nyontek jauh lebih besar daripada kerugiannya...
Ketika akal sehat dan keadaan pun telah berteriak "NYONTEK SANA!"...
Ketika jargon-jargon integritas akademik terdengar seperti bualan aktivis semata...
Ketika nasihat-nasihat dari kawan seperjuangan dianggap upaya sok suci dan munafik...
Pandanglah Wajah Sang Pencipta yang teduh dan tanyakan dengan tulus kepadaNya... dan tangkaplah jawabanNya dengan hati nurani yang terdalam.
.
Coba bayangkan seorang ibu umur 40an berteriak sambil menangis tersedu-sedu:
"HAL APA YANG TELAH KUPERBUAT HINGGA AKU MENDAPAT COBAAN SEPERTI INI...?!?!?!?"
dengan gaya yang lazim kita temui di sinetron-sinetron Indonesia. Kalau di sinetron sih, biasanya tokoh seperti itu adalah tokoh baiknya, yang anggun, selalu ramah sama orang, rajin beribadah. Tapi pasti aja tokoh kayak gini adalah tokoh yang paling apes. Entah suaminya meninggal, dirinya sakit-sakitan, anaknya diputusin pacar, rumahnya disita, dan seterusnya. Lalu dia berteriak seperti kalimat di atas. Lalu kita (baca: penggila sinetron) berpikir, dunia kejam nian, apa yang telah dia perbuat sehingga mendapat nasib malang bertubi-tubi?
Intermezzo. Hehehe. *NB: penempatan intermezzo di awal cerita bukan hal yang baik sebenarnya*
=======
Kembali ke judul. Waktu dulu ada yang pernah cerita ke saya tentang seorang anak kecil yang bertanya pada bapaknya. "Pak, tadi pagi saya di sekolah disetrap guru karena hal yang tidak saya kerjakan. Apakah itu adil?"
Bapaknya lantas berang dan langsung menjawab. "Tentu tidak! Gurumu sangat keterlaluan. Tentu kau tidak bisa disalahkan atas hal yang kau tidak lakukan. Bapak akan menghadap Kepala Sekolah besok. Tapi ngomong-ngomong, hal apa sih yang tidak kau lakukan itu?"
Anaknya nyengir dan menjawab "TIDAK mengerjakan PR."
Kedengarannya klise. Tapi poinnya jelas. Masalah dihukum atau tidak, masalah salah atau benar, bukan hanya masalah apa yang DIPERBUAT, tapi bisa jadi masalah apa yang TIDAK DIPERBUAT.
======
Minggu kemarin saya jalan-jalan dengan adik perempuan saya yang berumur 12 tahun di mall, sehabis menjemputnya dari gereja. Sehabis makan di food court di lantai 3, kami turun dengan lift ke lantai paling bawah untuk pulang. Saat kami akan naik lift, ada seorang bapak tinggi besar membawa dua orang anak. Yang besar lelaki sekitar umur 8-9 tahun berbadan gendut, yang kecil perempuan umur 5-6 tahun gendut juga. Kedua anak ini rupanya lumayan nakal juga.
Ketika pintu lift terbuka dan sekitar 10 orang penumpangnya berhamburan turun, kedua anak ini langsung menerobos masuk lift tanpa menunggu yang turun selesai keluar lift. Si bapak diam saja. Saya cuma bisa berdehem dan teriak pelan "Tolong tunggu yang turun dulu, seperti biasa!".
Lalu saya dan adik saya masuk lift dengan posisi di tengah-tengah (tidak bersandar ke dinding lift), adik saya di samping saya. Lift itu penuh sesak, ada sekitar 13 orang. Sialnya tidak ada yang turun di lantai dasar seperti saya (semua turun di basement parkiran rupanya). Di antara saya dan tombol lift ada si bapak. Saya tidak bisa menjangkau tombol lift itu. Saya lalu berkata "Maaf Pak, permisi". Namun si bapak tetap bergeming. Dengan susah payah, adik saya yang berbadan lebih kecil bisa menekan tombol lift. Dan sehabis adik saya menekan tombol, si bapak menempelkan telapak tangannya menutupi TOMBOL-TOMBOL LIFT untuk NYENDER.
Setelah itu kedua anak gendut itu mulai ngobrol keras dan kemudian melompat-lompat di dalam lift. Ya. JINGKRAK-JINGKRAK. Di dalam LIFT yang sedang berjalan. Anaknya GENDUT-GENDUT. Saya mulai mikir apakah saya harus baca doa atau jitak kepala anak-anak ini. Bapaknya diam saja.
Ketika pintu lift terbuka di GF, saya dan adik saya bersiap-siap turun, namun si bapak yang berbadan BESAR dan MENGHALANGI pintu keluar lift tidak menunjukkan tanda-tanda mau minggir. Padahal sudah jelas tadi penumpang yang memencet tombol GF hanya SAYA, yang ada di BELAKANGNYA. "Pak, PERMISI" ulang saya dengan suara lebih keras dari saat saya mau menekan tombol lift tadi. Dia tetap diam. Adik saya, yang berbadan lebih kecil, lebih tidak sabar dan mencoba menerobos keluar. Dia berhasil dan saat itu semua orang tersadar dan mencoba minggir, namun tetap saja jalur keluarnya sulit karena liftnya penuh sesak dan orang yang SEHARUSNYA PALING DULUAN MINGGIR yaitu si bapak itu malah DIAM seperti gupala di depan pintu lift. Saya mencoba keluar, namun saat itu pintu lift tertutup, saya mencoba menerobos (karena jika turun sampai lantai bawah lagi, eskalator sedang mati dan jalurnya jauh, lagipula adik saya sudah berada di luar lift).
Dan BREKK. Pintunya menggencet saya, saya mencoba menjejak keluar lift agar tidak kehilangan keseimbangan, dan alhasil kaki kanan saya mendarat tepat di belakang adik saya yang sedang melangkah, menginjak sendalnya, dan talinya putus. Sementara adik saya memungut sendal kesayangannya itu, saya menyempatkan diri melihat pintu lift yang sedang menutup itu, menatap marah pada si goblok yang MENEMPELKAN TANGANNYA DI TOMBOL LIFT tapi tidak menahan tombolnya agar terbuka saat ada yang mau turun.
Saya emosi dan hampir berteriak "GOBLOK!" di depan muka si bapak itu. Namun segera saya mencoba berpikiran jernih dan positif. Mau tahu pikiran paling baik yang timbul di benak saya saat itu? MUNGKIN BAPAK ITU TULI.
Dan saya sampai pulang masih tetap emosi, masih tetap uring-uringan karena sendal kesayangan adik saya putus gara-gara si bapak goblok itu. Bapak itu tidak melakukan apa-apa terhadap saya, tapi karena dia tidak melakukan apa-apa itulah maka saya jadi kesal.
Yah, mungkin saya juga salah karena emosi. Sampai di rumah saya minta maaf secara tidak langsung kepadanya dalam doa, dan mengakui ada bagian kesalahan saya juga.
Namun saya tetap berterima kasih atas pertemuan saya dengan si bapak, yang telah mengajarkan kepada saya buruknya sebuah ignorance.
======
Undang-undang negara Republik Indonesia ada yang menyatakan bahwa jika seseorang melihat terjadinya tindak kejahatan namun tidak melaporkannya, ia dapat dituduh bersekongkol dengan pelaku dan dapat dikenai hukuman penjara. Waktu dulu saya ikut sekolah minggu, salah satu ayat paling berkesan yang dibacakan kakak pembimbing saya adalah Yakobus 4:17 "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa".
Sudah tahu arah tujuan pembicaraan saya kan?
Albert Einstein pernah berkata "Saya cinta damai, tetapi bukan hanya itu, saya berani berperang demi kedamaian". Yang dimaksud Einstein bukan perang sebenarnya, tapi yang ia maksud adalah ia berani mengajak orang-orang untuk tidak berperang. Kenapa?
Karena Einstein menyadari bahwa jika ia cinta damai secara PASIF (yakni hanya berkomitmen bahwa DIRINYA SAJA yang tidak akan berpartisipasi dalam perang), perdamaian tidak akan terjadi. Orang-orang lain masih akan berperang. Maka ia memutuskan untuk AKTIF, mengajak orang-orang untuk tidak berperang.
Berapa banyak dari kita yang berpikiran bahwa "Saya akan membetulkan kehidupan saya dulu. Yang penting saya jadi orang baik, benar, rajin, pintar, jujur, disiplin, dan berprestasi. Urusan temen-temen saya yang begundal, brengsek, tukang tipu, pemalas, goblok dan lain sebagainya itu, urusan mereka, toh mereka kan udah gede ini."
Itu EGOIS, saudara. Membiarkan teman kita jatuh dalam dosa sementara kita luput dari dosa. Saya masih percaya kata-kata Einstein: "Sang Pencipta tidak sedang bermain dadu" ketika mencipta, ketika meletakkan kita di lingkungan pertemanan kita saat ini. Dan saya masih percaya bahwa tanggung jawab untuk saling menasihati itu ada di pundak semua umatNya, dan kita akan dimintai pertanggungjawaban untuk itu saat Hari Terakhir nanti.
Dan hukuman yang menanti bukan karena kejahatan yang kita lakukan, tetapi karena kebaikan yang kita tidak lakukan.
======
Kendala nyata? Banyak.
Setahun ini nyontek tugas dan semacamnya sudah saya kurangi sampai batas sangat minimum, namun prestasi akademik saya ya segitu-segitu aja. Cape juga klo mempromosikan integritas akademik dan cuma dikata-katain "Yang nggak nyontek ntar IPKnya jadi kayak lu! Mending nyontek, terus kayak gw! Yang IPKnya lebih tinggi dari lu aja nggak pernah bacot macam-macam!"
Bagian terakhir sih yang membuat hati ini paling pedih. Dan hanyalah harapan yang tentu diharap jadi kenyataan, bahwa yang lebih punya daya untuk promosi integritas akademik akan memberdayakan modal mereka itu. Tidak hanya lurus dalam kehidupannya, namun juga meluruskan orang lain yang bengkok-bengkok. Barangsiapa tahu berbuat baik tapi tidak melakukannya... yah, begitulah.
======
Ketika telah nyata bahwa keuntungan nyalin tugas dan nyontek jauh lebih besar daripada kerugiannya...
Ketika akal sehat dan keadaan pun telah berteriak "NYONTEK SANA!"...
Ketika jargon-jargon integritas akademik terdengar seperti bualan aktivis semata...
Ketika nasihat-nasihat dari kawan seperjuangan dianggap upaya sok suci dan munafik...
Pandanglah Wajah Sang Pencipta yang teduh dan tanyakan dengan tulus kepadaNya... dan tangkaplah jawabanNya dengan hati nurani yang terdalam.
.
Selasa, 22 September 2009
Jadilah Juara
Kembali dengan cerita fiksi-lagu kedua dari saya, yang saya jadikan korban kali ini adalah lagu Jadilah Juara, OST King, oleh Ipang BIP dan Ridho Slank. Selamat menikmati.
DISCLAIMER: Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesalahan yang tidak mengenakkan dalam penuturan peristiwa, nama, tempat, maupun fakta-fakta lainnya, penulis mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.
=========================
Alfonso turun dari angkot Panghegar - Dipati Ukur, memberikan uang seribu kepada sang supir, dan cepat-cepat lari sebelum sang supir sempat meminta tambahan ongkos. Setelah terdengar suara deru angkot menjauh, ia baru menghentikan larinya dan memandang ke depan, mencari-cari dengan matanya. Rupanya dia belum datang. Memang salahku datang sepuluh menit lebih awal untuk bertemu orang yang biasanya telat sepuluh menit kalau janjian, pikirnya.
Maka ia memutuskan untuk menghampiri landmark kampusnya, papan nama Institut Teknologi Bandung pada sebuah batu bercat hijau muda, dan duduk bersandar di sana sambil menikmati pemandangan sekitar Gerbang Ganesha. Jalanan putih bagaikan tertutup salju yang hanya ada di negeri empat musim. Ada tukang gorengan, mahasiswa-mahasiswa berjaket himpunan masing-masing yang berwarna-warni, mobil-mobil mewah keluar masuk gerbang. Sesekali terdengar suara burung di atas kepala yang mirip sirine pertanda serangan udara Jepang waktu Perang Dunia Kedua: jika suaranya berkumandang, itu pertanda bom-bom akan segera berjatuhan. Alangkah permainya kampusku, pikir Alfonso sambil tersenyum.
Dan tiba-tiba dari arah dalam kampus terlihat segerombolan mahasiswa berjas almamater. Sebagian besar dari mereka bertampang lesu. Yang pria sibuk mengelap keringat, yang wanita merapikan rambutnya yang acak-acakan. Alfonso kembali tersenyum. Ini anak-anak angkatan 2011 yang baru selesai menjalani rangkaian acara penerimaan hari ini, pikirnya.
Dan seketika dirinya sudah merasa sok tua, mengenang saat ia pertama kalinya melangkahkan kaki melalui Gerbang Ganesha. Apakah spanduk yang begitu menggetarkan hatinya dulu itu masih selalu terpampang setiap awal tahun ajaran? Ia menoleh ke suatu arah dan melihat bahwa ya, masih ada, namun agak sedikit berbeda.
SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI HARAPAN BANGSA.
Mungkin kata 'TERBAIK' dianggap terlalu arogan, keluh Alfonso sedih. Mungkin kata itu dihapuskan karena orang melihat arogansi mahasiswa ITB yang begitu tinggi dan kerjanya hanya menyombongkan diri seperti saya, pikir Alfonso. Atau mungkin juga karena mahasiswa-mahasiswa ITB dianggap tidak lagi memenuhi syarat, tidak lagi diharapkan untuk menyandang beban begitu berat sebagai putra-putri terbaik bangsa.
Padahal ia begitu merindukan melihat kata itu. Kata yang menurutnya memang pantas disematkan kepada Ganesha-Ganesha muda yang akan mengawali langkahnya membangun negara. Kata yang menunjukkan tingginya ekspektasi negara ini pada Institut Teknologi Bandung. Pada manusia-manusia yang adalah calon-calon patriot bangsa yang sebenarnya. Ya, Alfonso percaya bahwa pejuang kemerdekaan di masa ini bukan lagi tentara ataupun politisi, tapi orang-orang ilmu pengetahuan alam.
Kita adalah pejuang
yang membela harga diri
negeri ini
Dari dulu Alfonso selalu meyakini bahwa bidang ilmu pengetahuan alam-lah yang seharusnya menjadi ujung tombak pembangunan. Bukan ilmu sosial. Yang menentukan nasib bangsa Indonesia seharusnya adalah para teknokrat, para insinyur, para dokter, para ilmuwan. Bukan politikus, pengacara, ekonom, atau artis. Ilmu sosial memperbincangkan hal-hal maya, ilmu alam membuat hal-hal nyata.
Ketika kenaikan harga BBM menjadi perdebatan para analis ekonomi, bukankah insinyur perminyakan-lah yang kerja keras memompa minyak yang jadi perdebatan itu keluar dari perut bumi? Ketika di bursa saham orang kelabakan karena fluktuasi harga saham perusahaan otomotif, perumahan, petrokimia; bukankan yang mereka kerjakan hanya memperbincangkan hasil kerja para insinyur mesin, sipil, dan kimia? Ketika wabah flu burung dan SARS menyebar dan pemerintah memerintahkan keadaan tanggap darurat, bukankah itu semua tidak ada artinya jika para dokter tidak mampu menolong orang-orang sakit dan para ilmuwan tidak menemukan vaksin? Para jenderal TNI jika negara kita diserang musuh sibuk mengatur koordinat pertahanan, membaca peta, mengatur letak artileri, pasukan infantri, angkatan laut, dan angkatan udara. Apa kerja mereka jika tidak ada para insinyur yang membuat benteng, peta, artileri, senapan, kapal perang, dan pesawat tempur? Bahkan ketika orang-orang sibuk mencari uang, sebenarnya siapa sih yang membuat uang? Mesin cetak, perkebunan abakus, dan tinta. Siapa yang membuat itu semua? Insinyur-insinyur.
Jadi jelaslah menurut Alfonso bahwa insinyur-lah yang bisa mengubah nasib bangsa ini secara nyata. Membasmi krisis energi dan pangan dan pada akhirnya memandirikan bangsa secara ekonomi. Memperbaiki sistem transportasi dan tata kota sehingga permasalahan sosial urban dapat diminimalisasi. Membuat alutsista canggih sendiri sehingga kedaulatan bangsa terjunjung tinggi. Mendirikan industri berbasis sumber daya lokal sehingga profit yang didapat besar dan digunakan untuk biaya pendidikan rakyat sehingga makin banyak rakyat yang terdidik untuk pembangunan nyata.
Dan tempat mana lagi paling cocok untuk mencetak insinyur-insinyur yang bisa melakukan hal-hal itu, selain di kampus berjudul institut teknologi ini? Yang dari semua segi memang terbaik pada bidangnya di negeri ini? Jadi kenapa harus malu mengakui bahwa di sinilah tempatnya putra-putri terbaik bangsa menuntut ilmu?
Kecuali jika hal itu tidaklah lagi benar. Jika yang menuntut ilmu di sini bukanlah lagi putra-putri terbaik bangsa. Benarkah?
Kita bangsa yang berani
tak takut untuk hadapi
semuanya
Patriot-patriot negara memberikan tubuh dan darah mereka sebagai batu bata penyusun istana kemerdekaan. Tank-tank dan senapan mesin Belanda, bayonet dan samurai Jepang, tidak menggentarkan mereka. Bagaimana dengan pejuang-pejuang kemerdekaan versi Alfonso zaman ini, yaitu para mahasiswa teknik, termasuk dirinya sendiri? Alfonso pun mulai menghitung daftar hal-hal yang ditakutinya.
Angin dingin pagi hari kota Bandung. Ketakutan ini membuatnya seringkali meringkuk tenang di dalam selimutnya sementara wekernya sudah berbunyi tujuh kali untuk memanggilnya agar segera bangun dan berangkat kuliah. Akibatnya sudah tak terhitung berapa puluh kelas pagi yang ia lewatkan.
Gengsi dan ketakutan untuk mendapat nilai nol sendirian sementara teman-temannya mendapat nilai bagus. Ketakutan ini membuatnya sering memodifikasi tugas dan laporan karena semua orang kebanyakan melakukannya. Daripada tidak mengumpulkan? Yah, sebenarnya Alfonso tahu kalau hal ini bisa diatasi jika ia mengerti betul materi tugas dan laporan dengan belajar sungguh-sungguh, tapi apa mau dikata bahwa salah satu ketakutan lain Alfonso adalah takut...
Mengorbankan waktu(istirahat dan main)nya untuk memahami materi-materi kuliah. Sebenarnya sebuah perbuatan yang sangat tidak mahasiswa sekali.
Dengan melihat diri sendiri saja dan segala ketakutannya, Alfonso dapat menyimpulkan bahwa memang tidak semua yang kuliah di Institut Teknologi Bandung ini merupakan putra-putri terbaik bangsa.
Jangan lelah jangan lemah
janganlah mudah mengalah
dan menyerah
Alfonso teringat cerita yang pernah dituturkan salah satu dosennya tahun lalu. Saat itu di kelas, Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja menceritakan kepada seluruh kelas tentang salah seorang mahasiswa bimbingannya yang berkewarganegaraan Vietnam. Si mahasiswa ini, menurut Pak Tatang, berkata dengan berani kepadanya:
"Pak, saya yakin Vietnam dalam beberapa tahun lagi akan lebih maju dari Indonesia. Kami kerja lebih keras. Di mana-mana semua orang kerja keras. Bahkan orang miskin kami kerja lebih keras dari orang miskin Bapak."
Alfonso termasuk salah satu dari orang-orang yang panas mendengar cerita itu. Seseorang yang negaranya hancur total tahun 70an akibat perang, yang negaranya tertinggal 30 tahun dari Indonesia yang memiliki keunggulan SDA dan SDM jauh lebih banyak? Namun selain panas, hatinya perih juga kalau itu memang benar. Mungkin si Vietnam itu ingin menambahkan juga, namun tidak enak jika didengar rekan-rekannya: "Dan mahasiswa-mahasiswa kami kerja lebih keras dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia!".
Tidak, batin Alfonso. Ia tidak mau kalah. Ia teringat ucapan salah seorang seniornya di ITB ini. Seniornya yang 85 angkatan lebih tua darinya.
"Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera, agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 sen sehari; bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli; bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita."
Dan seniornya itu, setelah lulus dari ITB, telah membuktikan kata-kata itu. Di bawah pimpinannya, bangsa Indonesia melangkah ke arah jajaran bangsa-bangsa terdepan dunia. Sayang langkah itu terhenti. Dan bahkan sempat mundur.
Dan Alfonso berangan-angan dengan sumber daya Indonesia yang melimpah, dikombinasikan dengan bidang ilmu yang ditekuninya, teknik kimia, apa yang bisa dilakukan?
Ia tidak mau kalah dengan Brasil yang menjual etanol di setiap SPBU di seantero negeri itu, dan dengan demikian menghilangkan ketergantungan akan keberlangsungan negaranya terhadap situasi politik yang mengelilingi ladang-ladang minyak Timur Tengah. Ia tidak mau kalah dengan RRC yang, karena diembargo, telah memproduksi sendiri seluruh katalis untuk industri kimianya, yang menghemat devisa negara hingga berjuta-juta dolar Amerika. Merekalah contoh bahwa negara-negara berkembang bisa selangkah menuju ke arah kemajuan dengan teknik kimia, dan Alfonso berharap Indonesia akan menjadi contoh pula.
Cita-cita satu negara
kita yang harus menjawabnya
Harapan dari bangsa ini
kita menjadi juaranya
Alfonso tahu tingginya harapan terhadap mahasiswa ITB. Terhadap para calon insinyur, ilmuwan, dan seniman terbaik bangsa. Betapa tingginya citra mahasiswa ITB di hadapan rakyat kecil.
"Mau ke ITB mas? Bikin motor yang irit bensin ya mas ntar." Begitu kata salah seorang tukang ojek tetangga Alfonso empat tahun lalu. Saya mau kuliah teknik kimia, bukan teknik mesin, bang, gumam Alfonso dalam hati, namun ia menyadari itulah bentuk ekspektasi masyarakat.
Dan Alfonso tahu bahwa harapan masyarakat terhadap mahasiswa sebuah institut teknologi tidaklah cukup dipenuhi dengan mendemo pemerintah yang korup, dengan romantisme dan kata-kata. Namun dengan menyadari bahwa para insinyur-lah ujung tombak pembangunan. Dengan mengembangkan energi alternatif dan menyelesaikan krisis pangan. Dengan mengembangkan semua produk barang (dan hampir semua barang kebutuhan masyarakat adalah hasil industri) bebas impor. Bahkan kualitas ekspor.
Alfonso melihat kembali ke arah spanduk itu. SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI HARAPAN BANGSA. Dan tiba-tiba ia terhenyak menyadari apa makna pergantian kata TERBAIK menjadi HARAPAN pada spanduk penyambutan tersebut.
Ia dan banyak teman-temannya merasa bangga menjadi putra-putri terbaik bangsa. Alfonso hanya berharap bahwa mereka benar-benar tahu arti kebanggaan tersebut. Bahwa selain menjadi yang TERBAIK, merekalah juga HARAPAN bangsa ini. Bahwa mereka disubsidi pendidikannya oleh duit rakyat bukan untuk lari ke Amerika. Bahwa setelah mereka menapakkan kakinya di Bumi Ganesha mereka bukan hanya milik orangtua mereka namun telah menjadi milik ibu pertiwi. Bahwa rakyat rindu bukan hanya melihat mereka membantu pengolahan migas negara di perusahaan-perusahaan asing, namun juga mengembangkan teknologi pengilangan minyak canggih versi Indonesia. Bahwa seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya keluarga mereka, ingin makmur juga.
Berusaha pantang menyerah
jadilah juara
Berjuanglah pantang menyerah
jadi pemenangnya
Lima tahun lagi keyakinan ini akan diuji, pikir Alfonso. Di saat ibuku sudah tua dan pensiun, di saat adikku masuk kuliah, di saat anakku baru lahir mungkin...
"HEI!!!"
Teriakan itu membuyarkan lamunan Alfonso. Sedetik kemudian Alfonso sudah mulai memaki-maki temannya yang mengagetkannya itu.
"Dari mana aja lu? Gua udah jamuran dari tadi nungguin lu pada! Mana yang laen?"
"Yeee!!! Ini baru jam 5:32, kan kita janjian setengah enam, baru juga telat dua menit, lu ngapain aja dari tadi? Pasti kebanyakan ngelamun ya? Dasar lu mah... Tuh yang laen udah pada di mobil."
Alfonso menggelengkan kepala. Benar-benar, ia kebanyakan melamun. Untuk menghindari rasa malu, ia bertanya "Kita mau ke mana sampai jam berapa? Gua gak bisa sampe malem nih, besok pagi mau mulai ngerun penelitian..."
"Duh, tau deh yang sekarang lagi S2... yaudah gampang dah itu mah, sekarang cabut dulu lah!"
Alfonso mengangkat bahu dan bangkit berdiri, melangkahkan kakinya. Nggak apa-apa sesekali senang-senang, pikirnya. Yang penting bisa bagi waktu. Dan berarti besok pagi ia sudah harus berada di lab pilot untuk menapak selangkah lebih maju menuju pembuatan pabrik enzim yang pertama di Indonesia.
Ipang BIP ft. Ridho Slank - Jadilah Juara
Kita adalah pejuang
yang membela harga diri
negeri ini
Kita bangsa yang berani
tak takut untuk hadapi
semuanya
Cita-cita satu negara
kita yang harus menjawabnya
Jangan lelah jangan lemah
janganlah mudah mengalah
dan menyerah
Cita-cita satu negara
kita yang harus menjawabnya
Harapan dari bangsa ini
kita menjadi juaranya
Berusaha pantang menyerah
jadilah juara
Berjuanglah pantang menyerah
jadi pemenangnya
.
DISCLAIMER: Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesalahan yang tidak mengenakkan dalam penuturan peristiwa, nama, tempat, maupun fakta-fakta lainnya, penulis mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.
=========================
Alfonso turun dari angkot Panghegar - Dipati Ukur, memberikan uang seribu kepada sang supir, dan cepat-cepat lari sebelum sang supir sempat meminta tambahan ongkos. Setelah terdengar suara deru angkot menjauh, ia baru menghentikan larinya dan memandang ke depan, mencari-cari dengan matanya. Rupanya dia belum datang. Memang salahku datang sepuluh menit lebih awal untuk bertemu orang yang biasanya telat sepuluh menit kalau janjian, pikirnya.
Maka ia memutuskan untuk menghampiri landmark kampusnya, papan nama Institut Teknologi Bandung pada sebuah batu bercat hijau muda, dan duduk bersandar di sana sambil menikmati pemandangan sekitar Gerbang Ganesha. Jalanan putih bagaikan tertutup salju yang hanya ada di negeri empat musim. Ada tukang gorengan, mahasiswa-mahasiswa berjaket himpunan masing-masing yang berwarna-warni, mobil-mobil mewah keluar masuk gerbang. Sesekali terdengar suara burung di atas kepala yang mirip sirine pertanda serangan udara Jepang waktu Perang Dunia Kedua: jika suaranya berkumandang, itu pertanda bom-bom akan segera berjatuhan. Alangkah permainya kampusku, pikir Alfonso sambil tersenyum.
Dan tiba-tiba dari arah dalam kampus terlihat segerombolan mahasiswa berjas almamater. Sebagian besar dari mereka bertampang lesu. Yang pria sibuk mengelap keringat, yang wanita merapikan rambutnya yang acak-acakan. Alfonso kembali tersenyum. Ini anak-anak angkatan 2011 yang baru selesai menjalani rangkaian acara penerimaan hari ini, pikirnya.
Dan seketika dirinya sudah merasa sok tua, mengenang saat ia pertama kalinya melangkahkan kaki melalui Gerbang Ganesha. Apakah spanduk yang begitu menggetarkan hatinya dulu itu masih selalu terpampang setiap awal tahun ajaran? Ia menoleh ke suatu arah dan melihat bahwa ya, masih ada, namun agak sedikit berbeda.
SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI HARAPAN BANGSA.
Mungkin kata 'TERBAIK' dianggap terlalu arogan, keluh Alfonso sedih. Mungkin kata itu dihapuskan karena orang melihat arogansi mahasiswa ITB yang begitu tinggi dan kerjanya hanya menyombongkan diri seperti saya, pikir Alfonso. Atau mungkin juga karena mahasiswa-mahasiswa ITB dianggap tidak lagi memenuhi syarat, tidak lagi diharapkan untuk menyandang beban begitu berat sebagai putra-putri terbaik bangsa.
Padahal ia begitu merindukan melihat kata itu. Kata yang menurutnya memang pantas disematkan kepada Ganesha-Ganesha muda yang akan mengawali langkahnya membangun negara. Kata yang menunjukkan tingginya ekspektasi negara ini pada Institut Teknologi Bandung. Pada manusia-manusia yang adalah calon-calon patriot bangsa yang sebenarnya. Ya, Alfonso percaya bahwa pejuang kemerdekaan di masa ini bukan lagi tentara ataupun politisi, tapi orang-orang ilmu pengetahuan alam.
Kita adalah pejuang
yang membela harga diri
negeri ini
Dari dulu Alfonso selalu meyakini bahwa bidang ilmu pengetahuan alam-lah yang seharusnya menjadi ujung tombak pembangunan. Bukan ilmu sosial. Yang menentukan nasib bangsa Indonesia seharusnya adalah para teknokrat, para insinyur, para dokter, para ilmuwan. Bukan politikus, pengacara, ekonom, atau artis. Ilmu sosial memperbincangkan hal-hal maya, ilmu alam membuat hal-hal nyata.
Ketika kenaikan harga BBM menjadi perdebatan para analis ekonomi, bukankah insinyur perminyakan-lah yang kerja keras memompa minyak yang jadi perdebatan itu keluar dari perut bumi? Ketika di bursa saham orang kelabakan karena fluktuasi harga saham perusahaan otomotif, perumahan, petrokimia; bukankan yang mereka kerjakan hanya memperbincangkan hasil kerja para insinyur mesin, sipil, dan kimia? Ketika wabah flu burung dan SARS menyebar dan pemerintah memerintahkan keadaan tanggap darurat, bukankah itu semua tidak ada artinya jika para dokter tidak mampu menolong orang-orang sakit dan para ilmuwan tidak menemukan vaksin? Para jenderal TNI jika negara kita diserang musuh sibuk mengatur koordinat pertahanan, membaca peta, mengatur letak artileri, pasukan infantri, angkatan laut, dan angkatan udara. Apa kerja mereka jika tidak ada para insinyur yang membuat benteng, peta, artileri, senapan, kapal perang, dan pesawat tempur? Bahkan ketika orang-orang sibuk mencari uang, sebenarnya siapa sih yang membuat uang? Mesin cetak, perkebunan abakus, dan tinta. Siapa yang membuat itu semua? Insinyur-insinyur.
Jadi jelaslah menurut Alfonso bahwa insinyur-lah yang bisa mengubah nasib bangsa ini secara nyata. Membasmi krisis energi dan pangan dan pada akhirnya memandirikan bangsa secara ekonomi. Memperbaiki sistem transportasi dan tata kota sehingga permasalahan sosial urban dapat diminimalisasi. Membuat alutsista canggih sendiri sehingga kedaulatan bangsa terjunjung tinggi. Mendirikan industri berbasis sumber daya lokal sehingga profit yang didapat besar dan digunakan untuk biaya pendidikan rakyat sehingga makin banyak rakyat yang terdidik untuk pembangunan nyata.
Dan tempat mana lagi paling cocok untuk mencetak insinyur-insinyur yang bisa melakukan hal-hal itu, selain di kampus berjudul institut teknologi ini? Yang dari semua segi memang terbaik pada bidangnya di negeri ini? Jadi kenapa harus malu mengakui bahwa di sinilah tempatnya putra-putri terbaik bangsa menuntut ilmu?
Kecuali jika hal itu tidaklah lagi benar. Jika yang menuntut ilmu di sini bukanlah lagi putra-putri terbaik bangsa. Benarkah?
Kita bangsa yang berani
tak takut untuk hadapi
semuanya
Patriot-patriot negara memberikan tubuh dan darah mereka sebagai batu bata penyusun istana kemerdekaan. Tank-tank dan senapan mesin Belanda, bayonet dan samurai Jepang, tidak menggentarkan mereka. Bagaimana dengan pejuang-pejuang kemerdekaan versi Alfonso zaman ini, yaitu para mahasiswa teknik, termasuk dirinya sendiri? Alfonso pun mulai menghitung daftar hal-hal yang ditakutinya.
Angin dingin pagi hari kota Bandung. Ketakutan ini membuatnya seringkali meringkuk tenang di dalam selimutnya sementara wekernya sudah berbunyi tujuh kali untuk memanggilnya agar segera bangun dan berangkat kuliah. Akibatnya sudah tak terhitung berapa puluh kelas pagi yang ia lewatkan.
Gengsi dan ketakutan untuk mendapat nilai nol sendirian sementara teman-temannya mendapat nilai bagus. Ketakutan ini membuatnya sering memodifikasi tugas dan laporan karena semua orang kebanyakan melakukannya. Daripada tidak mengumpulkan? Yah, sebenarnya Alfonso tahu kalau hal ini bisa diatasi jika ia mengerti betul materi tugas dan laporan dengan belajar sungguh-sungguh, tapi apa mau dikata bahwa salah satu ketakutan lain Alfonso adalah takut...
Mengorbankan waktu(istirahat dan main)nya untuk memahami materi-materi kuliah. Sebenarnya sebuah perbuatan yang sangat tidak mahasiswa sekali.
Dengan melihat diri sendiri saja dan segala ketakutannya, Alfonso dapat menyimpulkan bahwa memang tidak semua yang kuliah di Institut Teknologi Bandung ini merupakan putra-putri terbaik bangsa.
Jangan lelah jangan lemah
janganlah mudah mengalah
dan menyerah
Alfonso teringat cerita yang pernah dituturkan salah satu dosennya tahun lalu. Saat itu di kelas, Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja menceritakan kepada seluruh kelas tentang salah seorang mahasiswa bimbingannya yang berkewarganegaraan Vietnam. Si mahasiswa ini, menurut Pak Tatang, berkata dengan berani kepadanya:
"Pak, saya yakin Vietnam dalam beberapa tahun lagi akan lebih maju dari Indonesia. Kami kerja lebih keras. Di mana-mana semua orang kerja keras. Bahkan orang miskin kami kerja lebih keras dari orang miskin Bapak."
Alfonso termasuk salah satu dari orang-orang yang panas mendengar cerita itu. Seseorang yang negaranya hancur total tahun 70an akibat perang, yang negaranya tertinggal 30 tahun dari Indonesia yang memiliki keunggulan SDA dan SDM jauh lebih banyak? Namun selain panas, hatinya perih juga kalau itu memang benar. Mungkin si Vietnam itu ingin menambahkan juga, namun tidak enak jika didengar rekan-rekannya: "Dan mahasiswa-mahasiswa kami kerja lebih keras dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia!".
Tidak, batin Alfonso. Ia tidak mau kalah. Ia teringat ucapan salah seorang seniornya di ITB ini. Seniornya yang 85 angkatan lebih tua darinya.
"Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera, agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 sen sehari; bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli; bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita."
Dan seniornya itu, setelah lulus dari ITB, telah membuktikan kata-kata itu. Di bawah pimpinannya, bangsa Indonesia melangkah ke arah jajaran bangsa-bangsa terdepan dunia. Sayang langkah itu terhenti. Dan bahkan sempat mundur.
Dan Alfonso berangan-angan dengan sumber daya Indonesia yang melimpah, dikombinasikan dengan bidang ilmu yang ditekuninya, teknik kimia, apa yang bisa dilakukan?
Ia tidak mau kalah dengan Brasil yang menjual etanol di setiap SPBU di seantero negeri itu, dan dengan demikian menghilangkan ketergantungan akan keberlangsungan negaranya terhadap situasi politik yang mengelilingi ladang-ladang minyak Timur Tengah. Ia tidak mau kalah dengan RRC yang, karena diembargo, telah memproduksi sendiri seluruh katalis untuk industri kimianya, yang menghemat devisa negara hingga berjuta-juta dolar Amerika. Merekalah contoh bahwa negara-negara berkembang bisa selangkah menuju ke arah kemajuan dengan teknik kimia, dan Alfonso berharap Indonesia akan menjadi contoh pula.
Cita-cita satu negara
kita yang harus menjawabnya
Harapan dari bangsa ini
kita menjadi juaranya
Alfonso tahu tingginya harapan terhadap mahasiswa ITB. Terhadap para calon insinyur, ilmuwan, dan seniman terbaik bangsa. Betapa tingginya citra mahasiswa ITB di hadapan rakyat kecil.
"Mau ke ITB mas? Bikin motor yang irit bensin ya mas ntar." Begitu kata salah seorang tukang ojek tetangga Alfonso empat tahun lalu. Saya mau kuliah teknik kimia, bukan teknik mesin, bang, gumam Alfonso dalam hati, namun ia menyadari itulah bentuk ekspektasi masyarakat.
Dan Alfonso tahu bahwa harapan masyarakat terhadap mahasiswa sebuah institut teknologi tidaklah cukup dipenuhi dengan mendemo pemerintah yang korup, dengan romantisme dan kata-kata. Namun dengan menyadari bahwa para insinyur-lah ujung tombak pembangunan. Dengan mengembangkan energi alternatif dan menyelesaikan krisis pangan. Dengan mengembangkan semua produk barang (dan hampir semua barang kebutuhan masyarakat adalah hasil industri) bebas impor. Bahkan kualitas ekspor.
Alfonso melihat kembali ke arah spanduk itu. SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI HARAPAN BANGSA. Dan tiba-tiba ia terhenyak menyadari apa makna pergantian kata TERBAIK menjadi HARAPAN pada spanduk penyambutan tersebut.
Ia dan banyak teman-temannya merasa bangga menjadi putra-putri terbaik bangsa. Alfonso hanya berharap bahwa mereka benar-benar tahu arti kebanggaan tersebut. Bahwa selain menjadi yang TERBAIK, merekalah juga HARAPAN bangsa ini. Bahwa mereka disubsidi pendidikannya oleh duit rakyat bukan untuk lari ke Amerika. Bahwa setelah mereka menapakkan kakinya di Bumi Ganesha mereka bukan hanya milik orangtua mereka namun telah menjadi milik ibu pertiwi. Bahwa rakyat rindu bukan hanya melihat mereka membantu pengolahan migas negara di perusahaan-perusahaan asing, namun juga mengembangkan teknologi pengilangan minyak canggih versi Indonesia. Bahwa seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya keluarga mereka, ingin makmur juga.
Berusaha pantang menyerah
jadilah juara
Berjuanglah pantang menyerah
jadi pemenangnya
Lima tahun lagi keyakinan ini akan diuji, pikir Alfonso. Di saat ibuku sudah tua dan pensiun, di saat adikku masuk kuliah, di saat anakku baru lahir mungkin...
"HEI!!!"
Teriakan itu membuyarkan lamunan Alfonso. Sedetik kemudian Alfonso sudah mulai memaki-maki temannya yang mengagetkannya itu.
"Dari mana aja lu? Gua udah jamuran dari tadi nungguin lu pada! Mana yang laen?"
"Yeee!!! Ini baru jam 5:32, kan kita janjian setengah enam, baru juga telat dua menit, lu ngapain aja dari tadi? Pasti kebanyakan ngelamun ya? Dasar lu mah... Tuh yang laen udah pada di mobil."
Alfonso menggelengkan kepala. Benar-benar, ia kebanyakan melamun. Untuk menghindari rasa malu, ia bertanya "Kita mau ke mana sampai jam berapa? Gua gak bisa sampe malem nih, besok pagi mau mulai ngerun penelitian..."
"Duh, tau deh yang sekarang lagi S2... yaudah gampang dah itu mah, sekarang cabut dulu lah!"
Alfonso mengangkat bahu dan bangkit berdiri, melangkahkan kakinya. Nggak apa-apa sesekali senang-senang, pikirnya. Yang penting bisa bagi waktu. Dan berarti besok pagi ia sudah harus berada di lab pilot untuk menapak selangkah lebih maju menuju pembuatan pabrik enzim yang pertama di Indonesia.
Ipang BIP ft. Ridho Slank - Jadilah Juara
Kita adalah pejuang
yang membela harga diri
negeri ini
Kita bangsa yang berani
tak takut untuk hadapi
semuanya
Cita-cita satu negara
kita yang harus menjawabnya
Jangan lelah jangan lemah
janganlah mudah mengalah
dan menyerah
Cita-cita satu negara
kita yang harus menjawabnya
Harapan dari bangsa ini
kita menjadi juaranya
Berusaha pantang menyerah
jadilah juara
Berjuanglah pantang menyerah
jadi pemenangnya
.
Rabu, 16 September 2009
Pertemuan dengan Sang HIMATEK Ideal
DISCLAIMER: Tokoh-tokoh yang ada di cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jikalau ada kesamaan nama, sifat, maupun apapun dengan seseorang, hal itu di luar kehendak sang pengarang.
"Wah, apa ini? HIMATEK Notes Attack?"
Alfonso melihat layar laptopnya dengan tertarik. Saat itu ia sedang menjelajah group HIMATEK di Facebook, dan tiba-tiba saja ia masuk ke sebuah diskusi tentang HIMATEK Notes Attack.
"Lomba nulis notes fesbuk... Tema:... 3. Kutemukan cinta di HIMATEK... Pemenang favorit... voucher warung HIMATEK sebesar 60rb rupiah... WOW."
Alfonso pun langsung membuka MS Word 2007-nya, dan mulai mengetik. Jari-jarinya meluncur cepat di keyboard laptopnya, melahirkan kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Mudah sekali ide mengalir dari hati ke otak, dari otak ke jari, dari jari ke keyboard, dari keyboard ke layar... Di layar bermunculan ungkapan-ungkapan tentang HIMATEK, tentang tujuan HIMATEK, tentang apa gunanya HIMATEK bagi mahasiswa, tentang apa hebatnya HIMATEK sehingga pantas untuk dicintai, tak lupa kritikan bagi mereka yang seakan sudah melupakan apa arti berhimpunan dan tentu saja ajakan bagi semua orang untuk lebih mencintai HIMATEK. Alfonso tidak berhenti begitu saja. Dentang jam tengah malam berkumandang mengiringi suara hantaman jari ke keyboard yang tanpa henti. Dan Alfonso terus mengetik. Sambil menyeka peluh yang bercucuran di dahi, dan cileuh yang bermunculan di kelopak mata.
Dan akhirnya jadilah sudah notes dari Alfonso. "Aku Cinta HIMATEK".
"Ctrl+C... Masuk ke facebook, notes... Ctrl+V... POST. Tag si ini, si itu, si anu, dll..."
Selesai sudah, pikir Alfonso, dan ia pun tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Tombol Turn-Off di layar laptopnya pun telah ia klik. Alfonso pun bangkit dari kursinya, hendak melemparkan badannya ke kasurnya yang empuk. Namun perhatiannya segera tertuju pada pintu kamarnya, Ada sesosok tubuh sedang berdiri di muka pintu kamarnya, membelakangi dirinya.
Sosok itu seperti seseorang yang sudah dikenalnya, namun Alfonso tidak bisa mengingat siapa dia. Orang itu memakai jaket hitam yang amat dikenali Alfonso: jaket Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia, dengan dua strip putih di lengan kanan.
"Selamat malam, Alfonso." katanya dingin. Alfonso merasakan ada nada sinis dalam salam orang asing ini.
"Siapa kau? Mau apa kau di sini?" tanya Alfonso tajam.
"Kau boleh memanggilku apa saja yang kau mau, tapi orang-orang biasa memanggilku Sang HIMATEK Ideal..." jawab sosok itu. "... meskipun aku sendiri tidak terlalu suka dipanggil dengan nama itu. Aku belum menyumbang banyak untuk HIMATEK... namun setidaknya lebih banyak dari kebanyakan 'anggota'nya... Kau boleh menganggapku personifikasi dari orang-orang seperti itu."
"Lalu mau apa kau kemari?" Alfonso mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih hati-hati.
"Mengomentari notes yang kau tulis untuk HIMATEK Notes Attack." jawab Sang HIMATEK Ideal. Tegas, tajam, dan dingin. Alfonso hanya bisa terdiam, terkejut dan tak bisa memikirkan respon apapun atas pernyataan yang tiba-tiba ini. Sang HIMATEK Ideal melanjutkan kata-katanya.
"Merasa layakkah kau menulis hal-hal yang kau telah tulis di notes itu, Alfonso?" ucap Sang HIMATEK Ideal, diiringi tawa pendek yang jelas mengejek. "Kau terlalu banyak bermimpi."
Alfonso menjawab dengan sengit. "Setiap orang boleh dan berhak bahkan wajib punya mimpi!"
"TIDAK jika mimpi itu TIDAK untuk dijalankan!" bentak Sang HIMATEK Ideal. Alfonso terhenyak.
"Selama ini kau terlalu banyak berteori, Alfonso. Kau punya harapan yang seabrek untuk HIMATEK yang kau cintai ini, tapi mana kapabilitasmu untuk membuktikannya? Mana kemampuanmu untuk menjadikan HIMATEK yang kau cintai ini sesuai dengan harapanmu? Tidak ada kan? Nihil? Nol? Harapanmu itu harapan palsu, harapan kosong!!!"
Alfonso terdiam.
"Retorika, Alfonso, retorika. Berapa banyak argumenmu tentang HIMATEK yang kau ungkapkan kepada orang-orang namun gagal kau realisasikan, atau kau tidak tahu cara merealisasikannya. Aku tidak pernah berkoar-koar tentang harapanku untuk HIMATEK, aku MELAKUKANNYA. Dan jika aku melakukannya pasti aku MEWUJUDKANNYA. Aku kerja nyata, Alfonso, tidak seperti kamu."
"Kamu tidak pernah berbuat apa-apa untuk HIMATEK. Tidak pernah menyumbangkan sesuatu apapun yang berarti untuk HIMATEK. Sekarang kamu ingin menguliahi teman-temanmu tentang kecintaan terhadap HIMATEK? Sedangkan aku yang telah berbuat ini itu, jauh lebih banyak darimu di HIMATEK, tidak pernah sebegitunya melakukan hal itu? Sejauh apa kau cinta HIMATEK, sejauh apa kontribusimu di HIMATEK, Alfonso?"
Untuk hal ini, Alfonso tidak bisa berdiam diri.
"Aku representasi HIMATEK di badan tertinggi KM-ITB! Sebagai seorang HIMATEK ideal tentunya kau tahu bahwa jabatan itu tidak main-main!"
"Selevel Kahim, eh?" balas Sang HIMATEK Ideal dengan cepat dan menyayat. "Ya, jika ini sistem KM-ITB yang ideal, Alfonso. Kau diharapkan menyangga beban berat untuk menyampaikan aspirasi 300an anggota HIMATEK yang peduli akan kinerja Kabinet dan Tim MWA. Namun sayangnya, massa HIMATEK tidak banyak yang peduli akan hal-hal itu. Kinerjamu jadi terabaikan. Dapat kukatakan, kerjamu mudah sekali sebagai Senator sekarang ini. Datang, duduk, diam, pulang. Persis anggota DPR."
"Tapi aku tidak seperti itu!!!" teriak Alfonso.
"Tapi lihatlah betapa mudahnya. Yang penting daftar absen penuh, karena massa HIMATEK hanya dapat mengukur itu dari kinerja Senator. Hanya daftar hadir. Tidak ada yang marah karena aspirasi mereka bertentangan dengan apa yang Kabinet kerjakan. Tidak ada yang menyalahkanmu karena gagal menyampaikan aspirasi mereka, yang bertentangan dengan apa yang Kabinet kerjakan. Tidak ada yang peduli jika kau datang rapat dengan pandangan kosong dan hanya diam termangu."
"Dan kau gagal di masa jabatan pertamamu, Alfonso. Gagal. Nama HIMATEK tercoreng karena kau bolos rapat hingga sebulan. Karena kau malas. Dan tidak siap menerima amanah sebesar Senator."
"Dan sayangnya, kontribusi 'besar'mu di HIMATEK hanya sebagai Senator, Alfonso. Untuk keadaan HIMATEK seperti ini, Senator yang baik haruslah mampu memasyarakatkan KM-ITB kepada anggota-anggotanya. Apa kontribusimu dalam hal itu, Alfonso?"
"Tidak semuanya itu salahku!" protes Alfonso.
"Tapi itu bagian kesalahanmu juga, dan porsimu tidak kecil." balas Sang HIMATEK Ideal. "Itu sebagian saja dari kesalahanmu, Alfonso. Masih ada banyak. Akan kuuraikan."
"Kau berkata-kata tentang tujuan HIMATEK. Beranikah kau mengakui bahwa sebenarnya kau baru mendengar dan mengetahui tujuan HIMATEK itu waktu Kahim berorasi di depan calon angkatan termuda di lapangan basket saat kaderisasi?"
"Kau mengajak teman-temanmu datang ke forum-forum HIMATEK dan tidak melakukan apa-apa selain ngobrol. Aku tidak mengajak teman-temanku di muka umum, namun aku DATANG dan BERKONTRIBUSI. Tidak seperti kamu, Alfonso."
"Kau berkata-kata tentang bagaimana seharusnya anggota HIMATEK bersikap. Aku tidak pernah berkoar-koar tentang bagaimana anggota HIMATEK harus bersikap. Tapi aku terlibat aktif di semua kepanitiaan yang kuikuti. Tidak seperti kamu Alfonso. Tiap rapat anggota, rapat divisi, bahkan kuliah, aku datang tepat waktu. Tidak seperti kamu Alfonso. Tiap kuliah aku tidak pernah titip absen. Tiap labtek aku tidak pernah rekdat. Tugas kuliah kubuat sendiri, tidak menyalin. Tidak seperti kamu Alfonso. Jika HIMATEK butuh solusi, aku beri solusi konkrit dan aplikatif. Tidak seperti kamu Alfonso. IPKku masih jauh di atas cukup untuk Cum Laude, tidak seperti kamu Alfonso."
Alfonso hanya menunduk. Semua yang dikatakan Sang HIMATEK Ideal itu benar adanya.
"Tahu orang Farisi, Alfonso? Kaum munafik di negeri Israel zaman dahulu kala. Kaum yang selalu menekuni kitab Taurat tapi tidak pernah melakukannya. Kaum omdo. Omong doang. Itulah kau, Alfonso."
"CUKUP!!!!!!" teriak Alfonso. Sang HIMATEK Ideal terus melanjutkan pidatonya tanpa mempedulikan protes Alfonso.
"Kau terlalu banyak bicara. Aktiflah bergerak membangun HIMATEK jika kau mencintainya. Seperti aku yang telah memberikan ini itu untuk HIMATEK. Aku terbukti menjadi orang yang bisa HIMATEK andalkan. Karena aku cinta HIMATEK. Kau, mau mengaku cinta HIMATEK? Hanya dengan mulutmu saja, Alfonso. Cintamu itu cinta palsu. Omong kosong."
Alfonso tertunduk. Tersungkur. Gemetar. Menangis.
"Itu memang benar adanya, wahai Sang HIMATEK Ideal..." desis Alfonso dengan lirih. "Kau sempurna. Kontribusiku untuk HIMATEK memang tidak seberapa. Sifatku sebagai kader HIMATEK pun jauh dari sempurna. Bahkan bukan termasuk golongan yang terbaik. Dibandingkan denganmu, aku bukan apa-apa. Meskipun begitu..."
Hening sejenak.
"Meskipun begitu, untuk mengatakan bahwa cintaku terhadap HIMATEK adalah palsu... KAU TELAH MELEWATI BATAS!!!" teriak Alfonso sambil bangkit berdiri tegak. Tatapan matanya yang marah menghunjam jaket HIMATEK di punggung Sang HIMATEK Ideal.
"Kau tidak berhak." gumam Alfonso, pelan. "Kau tidak berhak mendefinisikan CINTA!" teriak Alfonso ke arah punggung Sang HIMATEK Ideal.
"Aku memang bukan HIMATEK Ideal. Aku HIMATEK Ampas. IPKku tidak cum laude. Kelakuanku buruk. Pemikiranku tidak semaju rekan-rekanku yang lain. Aku tidak rajin, tidak ulet, tidak jujur, tidak teliti, aku punya banyak kekurangan. Aku iri padamu, Sang HIMATEK Ideal. Aku ingin berkontribusi lebih sepertimu. Ingin bisa membagi waktu sebaik kau. Ingin bisa belajar dan berorganisasi seiringan dengan hasil baik bagi keduanya. Aku ingin memiliki pemikiran-pemikiranmu yang jitu. Kharismamu yang membuat engkau mudah mengendalikan teman-temanmu menuju HIMATEK ideal versi dirimu."
"Tapi apakah aku tidak boleh mengekspresikan kecintaanku dengan kata-kata? Aku memang tidak mampu berbuat lebih dari kata-kata. Tapi inilah caraku untuk mengungkapkan kecintaanku bagi HIMATEK. Dan dengan kata-kata pula aku mengajak teman-temanku untuk mencintai HIMATEK. Karena aku sendiri pun cinta akan HIMATEK."
"HIMATEK, yang telah memberikan kepadaku kepercayaan pertama seumur hidupku sebagai Penanggung Jawab sesuatu. Meskipun itu hanyalah PJ name tag saat kaderisasi."
"HIMATEK, yang membuat aku merasa bisa menyelesaikan pekerjaan dalam sebuah organisasi untuk pertama kalinya dalam hidupku. Meskipun itu hanyalah sebuah Analisis SWOT Angkatan."
"HIMATEK, yang telah memberikan kepadaku jabatan struktural pertama pada sebuah kepanitiaan. Meskipun itu hanyalah Koordiv Lapangan pada sebuah wisudaan, dengan anggota divisi tidak lebih dari 5 orang."
"HIMATEK, yang mengenalkanku dengan rekan-rekan, kakak-kakak, dan adik-adik tingkat yang merupakan manusia-manusia berkualitas. Meskipun itu diawali hanya dalam bentuk KINKAT, MEKFLU, EKSPANDER, dan BURNER."
"HIMATEK, yang telah memberikan pengalaman pertama dalam hidupku untuk berbicara di depan umum dalam tekanan, pada saat hearing calon Senator 2008/09."
"HIMATEK, yang menyerahkan kepadaku mandat terbesar yang pernah kuterima dalam 21 tahun hidupku: membawa suara dan pikiran 300an jiwa manusia ke Kongres KM-ITB."
"HIMATEK, yang mengajarkan efisiensi dan efektivitas rapat. Etos kerja. Kejujuran."
"HIMATEK, yang mengubah orientasiku masuk kampus ini dari sekadar cari jurusan bergengsi yang murah, menjadi semangat untuk membalas budi pada rakyat Indonesia dengan memajukan negara."
"HIMATEK telah memberi terlalu banyak untukku. Apa yang telah kuberikan kepadanya? Tapi kau lupa, hai Sang HIMATEK Ideal, bahwa HIMATEK pada hakekatnya adalah sebuah wadah. Wadah yang tidak bisa memberi, tapi bisa menjadi alat bagi kita untuk berkembang."
"Tanpa HIMATEK aku bukanlah apa-apa, hai Sang HIMATEK Ideal. Berbeda denganmu. Mungkin tanpa HIMATEK IPKmu masih akan cum laude. Mungkin tanpa HIMATEK skill organisasimu akan tetap tinggi. Mungkin tanpa HIMATEK kau akan tetap bisa bergaul. Mungkin tanpa HIMATEK kau akan tetap hebat. Akan tetap kritis. Akan tetap cerdas. Akan tetap ideal."
"Tapi aku, aku yang bukan apa-apa. HIMATEK telah memberi terlalu banyak. Dan itulah yang akan terus kukejar. Aku cinta HIMATEK sebagai wadah. Maka akan kuberdayakan ia sebagai wadah. Aku akan terus belajar di dalamnya. Dibentuk di dalamnya. Dan sebagai bukti kecintaanku, akan kuumumkan kepada dunia nanti jika aku telah menjadi manusia yang berguna dan berandil untuk orang lain: bahwa di TEKNIK KIMIA ITB ada sebuah wadah bernama HIMATEK, yang dapat mengubah bukan siapa-siapa seperti aku menjadi seorang siapa-siapa!!!"
Sang HIMATEK ideal melangkah mundur, mendekati Alfonso. "Alfonso, sayang sekali..."
"Aku tahu kau masih memiliki sejuta protes untuk argumenku." potong Alfonso. "Lagipula kau adalah Sang HIMATEK Ideal. Argumenku tadi tentu mudah kaulawan. Maka akan kupertegas. Aku akan meningkatkan aktivitas dan kontribusiku di HIMATEK, aku akan menjadi kader yang HIMATEK banggakan, dan selagi aku melakukannya, kau boleh diam dan lakukan bagianmu. Dan ini salam perpisahan untukmu, sekaligus ucapan terima kasih..."
Alfonso mengayunkan tinjunya ke arah kepala Sang HIMATEK Ideal. Sang HIMATEK Ideal menghindar. Alfonso secara refleks kemudian menarik jahim Sang HIMATEK Ideal.
GUBRAK.
Alfonso terbanting. Ia jatuh dari kursi. Tangan kanannya teracung ke atas, memegang jahim dengan namanya sendiri. Ia segera bangkit dan membetulkan letak kursinya. Matanya terarah ke layar laptopnya yang masih menyala. Di sana ada jendela MS Word 2007 yang masih terbuka, di dalamnya ada sebaris tulisan "Karangan untuk HIMATEK Notes Attack" dan selebihnya kosong. Jam di dinding menunjukkan pukul satu malam.
"Rupanya aku ketiduran sebelum sempat mulai menulis." gumam Alfonso.
Ia menggosok-gosok kepalanya yang terbentur tadi, kemudian mematikan laptopnya. Ia memutuskan untuk menunda penulisan notes itu untuk saat dia bangun pagi nanti. Lagipula, ia sudah tahu pasti apa yang akan ia tulis.
.
"Wah, apa ini? HIMATEK Notes Attack?"
Alfonso melihat layar laptopnya dengan tertarik. Saat itu ia sedang menjelajah group HIMATEK di Facebook, dan tiba-tiba saja ia masuk ke sebuah diskusi tentang HIMATEK Notes Attack.
"Lomba nulis notes fesbuk... Tema:... 3. Kutemukan cinta di HIMATEK... Pemenang favorit... voucher warung HIMATEK sebesar 60rb rupiah... WOW."
Alfonso pun langsung membuka MS Word 2007-nya, dan mulai mengetik. Jari-jarinya meluncur cepat di keyboard laptopnya, melahirkan kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Mudah sekali ide mengalir dari hati ke otak, dari otak ke jari, dari jari ke keyboard, dari keyboard ke layar... Di layar bermunculan ungkapan-ungkapan tentang HIMATEK, tentang tujuan HIMATEK, tentang apa gunanya HIMATEK bagi mahasiswa, tentang apa hebatnya HIMATEK sehingga pantas untuk dicintai, tak lupa kritikan bagi mereka yang seakan sudah melupakan apa arti berhimpunan dan tentu saja ajakan bagi semua orang untuk lebih mencintai HIMATEK. Alfonso tidak berhenti begitu saja. Dentang jam tengah malam berkumandang mengiringi suara hantaman jari ke keyboard yang tanpa henti. Dan Alfonso terus mengetik. Sambil menyeka peluh yang bercucuran di dahi, dan cileuh yang bermunculan di kelopak mata.
Dan akhirnya jadilah sudah notes dari Alfonso. "Aku Cinta HIMATEK".
"Ctrl+C... Masuk ke facebook, notes... Ctrl+V... POST. Tag si ini, si itu, si anu, dll..."
Selesai sudah, pikir Alfonso, dan ia pun tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Tombol Turn-Off di layar laptopnya pun telah ia klik. Alfonso pun bangkit dari kursinya, hendak melemparkan badannya ke kasurnya yang empuk. Namun perhatiannya segera tertuju pada pintu kamarnya, Ada sesosok tubuh sedang berdiri di muka pintu kamarnya, membelakangi dirinya.
Sosok itu seperti seseorang yang sudah dikenalnya, namun Alfonso tidak bisa mengingat siapa dia. Orang itu memakai jaket hitam yang amat dikenali Alfonso: jaket Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia, dengan dua strip putih di lengan kanan.
"Selamat malam, Alfonso." katanya dingin. Alfonso merasakan ada nada sinis dalam salam orang asing ini.
"Siapa kau? Mau apa kau di sini?" tanya Alfonso tajam.
"Kau boleh memanggilku apa saja yang kau mau, tapi orang-orang biasa memanggilku Sang HIMATEK Ideal..." jawab sosok itu. "... meskipun aku sendiri tidak terlalu suka dipanggil dengan nama itu. Aku belum menyumbang banyak untuk HIMATEK... namun setidaknya lebih banyak dari kebanyakan 'anggota'nya... Kau boleh menganggapku personifikasi dari orang-orang seperti itu."
"Lalu mau apa kau kemari?" Alfonso mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih hati-hati.
"Mengomentari notes yang kau tulis untuk HIMATEK Notes Attack." jawab Sang HIMATEK Ideal. Tegas, tajam, dan dingin. Alfonso hanya bisa terdiam, terkejut dan tak bisa memikirkan respon apapun atas pernyataan yang tiba-tiba ini. Sang HIMATEK Ideal melanjutkan kata-katanya.
"Merasa layakkah kau menulis hal-hal yang kau telah tulis di notes itu, Alfonso?" ucap Sang HIMATEK Ideal, diiringi tawa pendek yang jelas mengejek. "Kau terlalu banyak bermimpi."
Alfonso menjawab dengan sengit. "Setiap orang boleh dan berhak bahkan wajib punya mimpi!"
"TIDAK jika mimpi itu TIDAK untuk dijalankan!" bentak Sang HIMATEK Ideal. Alfonso terhenyak.
"Selama ini kau terlalu banyak berteori, Alfonso. Kau punya harapan yang seabrek untuk HIMATEK yang kau cintai ini, tapi mana kapabilitasmu untuk membuktikannya? Mana kemampuanmu untuk menjadikan HIMATEK yang kau cintai ini sesuai dengan harapanmu? Tidak ada kan? Nihil? Nol? Harapanmu itu harapan palsu, harapan kosong!!!"
Alfonso terdiam.
"Retorika, Alfonso, retorika. Berapa banyak argumenmu tentang HIMATEK yang kau ungkapkan kepada orang-orang namun gagal kau realisasikan, atau kau tidak tahu cara merealisasikannya. Aku tidak pernah berkoar-koar tentang harapanku untuk HIMATEK, aku MELAKUKANNYA. Dan jika aku melakukannya pasti aku MEWUJUDKANNYA. Aku kerja nyata, Alfonso, tidak seperti kamu."
"Kamu tidak pernah berbuat apa-apa untuk HIMATEK. Tidak pernah menyumbangkan sesuatu apapun yang berarti untuk HIMATEK. Sekarang kamu ingin menguliahi teman-temanmu tentang kecintaan terhadap HIMATEK? Sedangkan aku yang telah berbuat ini itu, jauh lebih banyak darimu di HIMATEK, tidak pernah sebegitunya melakukan hal itu? Sejauh apa kau cinta HIMATEK, sejauh apa kontribusimu di HIMATEK, Alfonso?"
Untuk hal ini, Alfonso tidak bisa berdiam diri.
"Aku representasi HIMATEK di badan tertinggi KM-ITB! Sebagai seorang HIMATEK ideal tentunya kau tahu bahwa jabatan itu tidak main-main!"
"Selevel Kahim, eh?" balas Sang HIMATEK Ideal dengan cepat dan menyayat. "Ya, jika ini sistem KM-ITB yang ideal, Alfonso. Kau diharapkan menyangga beban berat untuk menyampaikan aspirasi 300an anggota HIMATEK yang peduli akan kinerja Kabinet dan Tim MWA. Namun sayangnya, massa HIMATEK tidak banyak yang peduli akan hal-hal itu. Kinerjamu jadi terabaikan. Dapat kukatakan, kerjamu mudah sekali sebagai Senator sekarang ini. Datang, duduk, diam, pulang. Persis anggota DPR."
"Tapi aku tidak seperti itu!!!" teriak Alfonso.
"Tapi lihatlah betapa mudahnya. Yang penting daftar absen penuh, karena massa HIMATEK hanya dapat mengukur itu dari kinerja Senator. Hanya daftar hadir. Tidak ada yang marah karena aspirasi mereka bertentangan dengan apa yang Kabinet kerjakan. Tidak ada yang menyalahkanmu karena gagal menyampaikan aspirasi mereka, yang bertentangan dengan apa yang Kabinet kerjakan. Tidak ada yang peduli jika kau datang rapat dengan pandangan kosong dan hanya diam termangu."
"Dan kau gagal di masa jabatan pertamamu, Alfonso. Gagal. Nama HIMATEK tercoreng karena kau bolos rapat hingga sebulan. Karena kau malas. Dan tidak siap menerima amanah sebesar Senator."
"Dan sayangnya, kontribusi 'besar'mu di HIMATEK hanya sebagai Senator, Alfonso. Untuk keadaan HIMATEK seperti ini, Senator yang baik haruslah mampu memasyarakatkan KM-ITB kepada anggota-anggotanya. Apa kontribusimu dalam hal itu, Alfonso?"
"Tidak semuanya itu salahku!" protes Alfonso.
"Tapi itu bagian kesalahanmu juga, dan porsimu tidak kecil." balas Sang HIMATEK Ideal. "Itu sebagian saja dari kesalahanmu, Alfonso. Masih ada banyak. Akan kuuraikan."
"Kau berkata-kata tentang tujuan HIMATEK. Beranikah kau mengakui bahwa sebenarnya kau baru mendengar dan mengetahui tujuan HIMATEK itu waktu Kahim berorasi di depan calon angkatan termuda di lapangan basket saat kaderisasi?"
"Kau mengajak teman-temanmu datang ke forum-forum HIMATEK dan tidak melakukan apa-apa selain ngobrol. Aku tidak mengajak teman-temanku di muka umum, namun aku DATANG dan BERKONTRIBUSI. Tidak seperti kamu, Alfonso."
"Kau berkata-kata tentang bagaimana seharusnya anggota HIMATEK bersikap. Aku tidak pernah berkoar-koar tentang bagaimana anggota HIMATEK harus bersikap. Tapi aku terlibat aktif di semua kepanitiaan yang kuikuti. Tidak seperti kamu Alfonso. Tiap rapat anggota, rapat divisi, bahkan kuliah, aku datang tepat waktu. Tidak seperti kamu Alfonso. Tiap kuliah aku tidak pernah titip absen. Tiap labtek aku tidak pernah rekdat. Tugas kuliah kubuat sendiri, tidak menyalin. Tidak seperti kamu Alfonso. Jika HIMATEK butuh solusi, aku beri solusi konkrit dan aplikatif. Tidak seperti kamu Alfonso. IPKku masih jauh di atas cukup untuk Cum Laude, tidak seperti kamu Alfonso."
Alfonso hanya menunduk. Semua yang dikatakan Sang HIMATEK Ideal itu benar adanya.
"Tahu orang Farisi, Alfonso? Kaum munafik di negeri Israel zaman dahulu kala. Kaum yang selalu menekuni kitab Taurat tapi tidak pernah melakukannya. Kaum omdo. Omong doang. Itulah kau, Alfonso."
"CUKUP!!!!!!" teriak Alfonso. Sang HIMATEK Ideal terus melanjutkan pidatonya tanpa mempedulikan protes Alfonso.
"Kau terlalu banyak bicara. Aktiflah bergerak membangun HIMATEK jika kau mencintainya. Seperti aku yang telah memberikan ini itu untuk HIMATEK. Aku terbukti menjadi orang yang bisa HIMATEK andalkan. Karena aku cinta HIMATEK. Kau, mau mengaku cinta HIMATEK? Hanya dengan mulutmu saja, Alfonso. Cintamu itu cinta palsu. Omong kosong."
Alfonso tertunduk. Tersungkur. Gemetar. Menangis.
"Itu memang benar adanya, wahai Sang HIMATEK Ideal..." desis Alfonso dengan lirih. "Kau sempurna. Kontribusiku untuk HIMATEK memang tidak seberapa. Sifatku sebagai kader HIMATEK pun jauh dari sempurna. Bahkan bukan termasuk golongan yang terbaik. Dibandingkan denganmu, aku bukan apa-apa. Meskipun begitu..."
Hening sejenak.
"Meskipun begitu, untuk mengatakan bahwa cintaku terhadap HIMATEK adalah palsu... KAU TELAH MELEWATI BATAS!!!" teriak Alfonso sambil bangkit berdiri tegak. Tatapan matanya yang marah menghunjam jaket HIMATEK di punggung Sang HIMATEK Ideal.
"Kau tidak berhak." gumam Alfonso, pelan. "Kau tidak berhak mendefinisikan CINTA!" teriak Alfonso ke arah punggung Sang HIMATEK Ideal.
"Aku memang bukan HIMATEK Ideal. Aku HIMATEK Ampas. IPKku tidak cum laude. Kelakuanku buruk. Pemikiranku tidak semaju rekan-rekanku yang lain. Aku tidak rajin, tidak ulet, tidak jujur, tidak teliti, aku punya banyak kekurangan. Aku iri padamu, Sang HIMATEK Ideal. Aku ingin berkontribusi lebih sepertimu. Ingin bisa membagi waktu sebaik kau. Ingin bisa belajar dan berorganisasi seiringan dengan hasil baik bagi keduanya. Aku ingin memiliki pemikiran-pemikiranmu yang jitu. Kharismamu yang membuat engkau mudah mengendalikan teman-temanmu menuju HIMATEK ideal versi dirimu."
"Tapi apakah aku tidak boleh mengekspresikan kecintaanku dengan kata-kata? Aku memang tidak mampu berbuat lebih dari kata-kata. Tapi inilah caraku untuk mengungkapkan kecintaanku bagi HIMATEK. Dan dengan kata-kata pula aku mengajak teman-temanku untuk mencintai HIMATEK. Karena aku sendiri pun cinta akan HIMATEK."
"HIMATEK, yang telah memberikan kepadaku kepercayaan pertama seumur hidupku sebagai Penanggung Jawab sesuatu. Meskipun itu hanyalah PJ name tag saat kaderisasi."
"HIMATEK, yang membuat aku merasa bisa menyelesaikan pekerjaan dalam sebuah organisasi untuk pertama kalinya dalam hidupku. Meskipun itu hanyalah sebuah Analisis SWOT Angkatan."
"HIMATEK, yang telah memberikan kepadaku jabatan struktural pertama pada sebuah kepanitiaan. Meskipun itu hanyalah Koordiv Lapangan pada sebuah wisudaan, dengan anggota divisi tidak lebih dari 5 orang."
"HIMATEK, yang mengenalkanku dengan rekan-rekan, kakak-kakak, dan adik-adik tingkat yang merupakan manusia-manusia berkualitas. Meskipun itu diawali hanya dalam bentuk KINKAT, MEKFLU, EKSPANDER, dan BURNER."
"HIMATEK, yang telah memberikan pengalaman pertama dalam hidupku untuk berbicara di depan umum dalam tekanan, pada saat hearing calon Senator 2008/09."
"HIMATEK, yang menyerahkan kepadaku mandat terbesar yang pernah kuterima dalam 21 tahun hidupku: membawa suara dan pikiran 300an jiwa manusia ke Kongres KM-ITB."
"HIMATEK, yang mengajarkan efisiensi dan efektivitas rapat. Etos kerja. Kejujuran."
"HIMATEK, yang mengubah orientasiku masuk kampus ini dari sekadar cari jurusan bergengsi yang murah, menjadi semangat untuk membalas budi pada rakyat Indonesia dengan memajukan negara."
"HIMATEK telah memberi terlalu banyak untukku. Apa yang telah kuberikan kepadanya? Tapi kau lupa, hai Sang HIMATEK Ideal, bahwa HIMATEK pada hakekatnya adalah sebuah wadah. Wadah yang tidak bisa memberi, tapi bisa menjadi alat bagi kita untuk berkembang."
"Tanpa HIMATEK aku bukanlah apa-apa, hai Sang HIMATEK Ideal. Berbeda denganmu. Mungkin tanpa HIMATEK IPKmu masih akan cum laude. Mungkin tanpa HIMATEK skill organisasimu akan tetap tinggi. Mungkin tanpa HIMATEK kau akan tetap bisa bergaul. Mungkin tanpa HIMATEK kau akan tetap hebat. Akan tetap kritis. Akan tetap cerdas. Akan tetap ideal."
"Tapi aku, aku yang bukan apa-apa. HIMATEK telah memberi terlalu banyak. Dan itulah yang akan terus kukejar. Aku cinta HIMATEK sebagai wadah. Maka akan kuberdayakan ia sebagai wadah. Aku akan terus belajar di dalamnya. Dibentuk di dalamnya. Dan sebagai bukti kecintaanku, akan kuumumkan kepada dunia nanti jika aku telah menjadi manusia yang berguna dan berandil untuk orang lain: bahwa di TEKNIK KIMIA ITB ada sebuah wadah bernama HIMATEK, yang dapat mengubah bukan siapa-siapa seperti aku menjadi seorang siapa-siapa!!!"
Sang HIMATEK ideal melangkah mundur, mendekati Alfonso. "Alfonso, sayang sekali..."
"Aku tahu kau masih memiliki sejuta protes untuk argumenku." potong Alfonso. "Lagipula kau adalah Sang HIMATEK Ideal. Argumenku tadi tentu mudah kaulawan. Maka akan kupertegas. Aku akan meningkatkan aktivitas dan kontribusiku di HIMATEK, aku akan menjadi kader yang HIMATEK banggakan, dan selagi aku melakukannya, kau boleh diam dan lakukan bagianmu. Dan ini salam perpisahan untukmu, sekaligus ucapan terima kasih..."
Alfonso mengayunkan tinjunya ke arah kepala Sang HIMATEK Ideal. Sang HIMATEK Ideal menghindar. Alfonso secara refleks kemudian menarik jahim Sang HIMATEK Ideal.
GUBRAK.
Alfonso terbanting. Ia jatuh dari kursi. Tangan kanannya teracung ke atas, memegang jahim dengan namanya sendiri. Ia segera bangkit dan membetulkan letak kursinya. Matanya terarah ke layar laptopnya yang masih menyala. Di sana ada jendela MS Word 2007 yang masih terbuka, di dalamnya ada sebaris tulisan "Karangan untuk HIMATEK Notes Attack" dan selebihnya kosong. Jam di dinding menunjukkan pukul satu malam.
"Rupanya aku ketiduran sebelum sempat mulai menulis." gumam Alfonso.
Ia menggosok-gosok kepalanya yang terbentur tadi, kemudian mematikan laptopnya. Ia memutuskan untuk menunda penulisan notes itu untuk saat dia bangun pagi nanti. Lagipula, ia sudah tahu pasti apa yang akan ia tulis.
.
Senin, 17 Agustus 2009
Terjemahan Singkat dari Segala Keinginan Anda
Salam, teman-teman! Ada berita baik buat anda.
Anda yang terpilih untuk di-tag di notes di facebook ini akan dihadiahi sebuah tugas untuk menyebarkan "Terjemahan Singkat dari Segala Keinginan Anda", yaitu GBHP KM-ITB 2009/10!
Sebarkan kepada seluruh massa HIMATEK yang anda kenal, maka anda akan dikenang sebagai anggota HIMATEK yang care, gaul, berdedikasi tinggi, dan intelek! Hahahahahahaha (apaan bgt deh).
Artikel ini akan dimuat di Enzyme edisi Agustus dan edisi September, tapi bagi yang penasaran ingin baca lengkapnya langsung, silakan lihat di bawah ini:
TERJEMAHAN GBHP KM ITB 2009/2010 DAN KONSEKUENSINYA UNTUK HIMATEK
Garis-garis Besar Haluan Program a.k.a. GBHP adalah tugas atau suruhan yang harus dijalankan oleh Kabinet KM-ITB dalam satu tahun ke depan. Siapa yang membuat GBHP ini? Kongres, yaitu perwakilan teman-teman dan dari mana Kongres membuat GBHP ini? Dari keinginan teman-teman sendiri.
Jadiiii… GBHP ini dibuat berdasarkan apa keinginan teman-teman yang sudah diutarakan oleh teman-teman HIMATEK kepada tim senator saat masa pembuatan GBHP, beberapa bulan lalu.
Idealnya, kita tidak hanya bisa memberi suruhan, tapi juga mendukung pelaksanaan suruhan itu karena kita sendirilah yang menyuruh Kabinet untuk mengerjakan GBHP ini.
Mari berpartisipasi. Karena secara teknis GBHP ini sudah mewakili seluruh kampus (termasuk kita, HIMATEK), maka kita harus mensukseskan terlaksananya GBHP ini. Itu sudah merupakan kesepakatan bersama, maka kita harus menjalankan konsekuensinya
Mau tahu konsekuensi yang harus kita jalani? Mari membaca ringkasan GBHP di bawah ini…
A. Bidang INTERNAL Menko 1
Fungsi Kabinet di bidang INTERNAL:
1. Memenuhi kebutuhan dasar mahasiswa
Kebutuhan dasar mahasiswa yang dimaksud adalah kebutuhan akademis, kesejahteraan, dan pengembangan diri.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Jika ada anggota yang bermasalah dengan akademik atau kesejahteraan (terancam DO atau butuh beasiswa, misalnya), jangan ragu-ragu proaktif memintakan bantuan ke Kabinet KM-ITB.
- HIMATEK harus mengusahakan anggotanya memberi tahu, atau mencari tahu, pengembangan diri apa yang dibutuhkan oleh mereka sehingga bisa diusahakan untuk diadakan oleh Kabinet.
2. Menyampaikan informasi yang dibutuhkan dan sosialisasi semua kegiatan
Kabinet memberitahukan semua yang dilakukan kepada massa kampus, termasuk di antaranya mencerdaskan massa kampus soal isu-isu yang dianggap penting dan mempertahankan image baik Kabinet KM-ITB di mata mahasiswa.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Jika ada informasi yang disampaikan Kabinet lewat jalur himpunan (ke Kahim/BP/Kongres), harus dipastikan 100% sampai ke semua anggota HIMATEK.
- Jika ada isu-isu yang disampaikan ke HIMATEK oleh Kabinet, harus ‘dipanaskan’ di HIMATEK agar bisa diberikan feedback ke Kabinet.
- HIMATEK harus menjaga agar citra Kabinet KM-ITB tetap baik (minimal dari BP dan BPA) dengan menginformasikan secara objektif tentang Kabinet KM-ITB ke massa HIMATEK (mestinya kawan-kawan tahu sekarang keadaannya seperti apa).
3. Menjadi pemersatu dan penghubung (sinergisasi) antara himpunan dan unit ITB
Kabinet harus memfasilitasi kepentingan-kepentingan yang berbeda dari tiap elemen di kampus (himpunan-himpunan dan unit-unit) sekaligus mensinergiskannya, secara spesifik ada beberapa hal: membuat satu kampus paham visi misi Kabinet, menjadi koordinator yang baik untuk urusan antar himpunan dan unit, dan mampu membuat suatu aktivitas yang seluruh lembaga turut serta menyumbang ide dan tenaga di dalamnya.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Baca visi misi Ucup-Benny, dan usahakan agar tiap aktivitas yang dilakukan HIMATEK membantu terwujudnya visi dan terlaksananya misi tersebut, yang singkatnya tertuang dalam jargon “Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum”.
- Cocokkan kalender kegiatan himpunan dengan acara-acara terpusat, dan usahakan untuk selalu berpartisipasi mengirim orang ke acara-acara terpusat, jangan menolak dengan dalih di himpunan sudah sibuk sendiri. Setiap individu juga harus mau jika dikirim ke kepanitiaan terpusat.
- Mampu menumbuhkan budaya untuk tidak memandang rendah himpunan/jurusan lain dan sering-sering bersilaturahmi untuk bertukar informasi dan ilmu, siapa tahu bisa mengadakan kegiatan bersama (misal, PM) yang jauh lebih bermanfaat apabila keilmuan yang diaplikasikan merupakan gabungan antar prodi.
4. Mengembangkan budaya-budaya yang baik di kampus
Budaya-budaya tersebut adalah: wawasan ramah lingkungan, wawasan cinta Indonesia, iklim beraktivitas, kebersamaan, kritis, integritas, kajian, kepemilikan terhadap himpunan/unit, dan apresiasi terhadap elemen KM-ITB.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
Pada intinya, keberhasilan Kabinet menjalankan fungsi ini bergantung pada apakah budaya-budaya tersebut berhasil ditanamkan kepada tiap orang. Budaya tidak bisa ditanamkan lewat proker saja, apalagi proker Kabinet saja, karena itu HIMATEK harus menanamkan budaya-budaya tersebut ke semua anggotanya. Adapun penjelasan lebih lanjutnya:
- Dalam setiap kegiatannya, HIMATEK harus ramah lingkungan dan mengusahakan penumbuhan rasa cinta Indonesia. Dalam kesehariannya pun warga HIMATEK juga harus dikondisikan untuk ramah lingkungan dan cinta Indonesia.
- Iklim beraktivitas maksudnya HIMATEK harus menciptakan suasana yang enak agar semua anggota HIMATEK betah beraktivitas.
- Kebersamaan maksudnya solidaritas antar teman, baik seangkatan, sejurusan, sehimpunan, maupun satu ITB.
- Kritis maksudnya tidak ragu untuk mencari tahu (termasuk bertanya).
- Integritas maksudnya etos kerja yang baik: disiplin, tepat waktu, memegang janji.
- Kajian maksudnya membudayakan diskusi di HIMATEK (yang katanya termasuk sulit).
- Kepemilikan maksudnya rasa bangga dan mencintai HIMATEK.
- Apresiasi yang dimaksud adalah terhadap seluruh elemen terutama yang masih belum banyak dikenal orang: Kabinet, Kongres, Tim MWA. HIMATEK harus menginformasikan secara menyeluruh tentang fungsi mereka sehingga massa HIMATEK dapat menggunakan mereka sebagaimana fungsinya: Kabinet untuk mengembangkan diri, Kongres untuk diberi masukan tentang kinerja Kabinet dan segala hal yang menyangkut kemahasiswaan ITB, dan MWA untuk dititipi aspirasi-aspirasi yang mungkin dapat dipenuhi oleh pihak ITB khususnya rektorat.
B. Bidang EKSTERNAL Menko 3
Fungsi Kabinet di bidang EKSTERNAL:
1. Menyadarkan mahasiswa bahwa mereka bisa dan harus berbuat sesuatu yang baik dan besar bagi bangsa Indonesia.
Penyadaran dilakukan dengan pencerdasan isu-isu eksternal, karena dengan isu-isu eksternal itu kita mampu menyumbangkan sesuatu bagi bangsa Indonesia.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Isu-isu eksternal harus dikaji dan dipahami oleh setiap anggota HIMATEK, karena akan membantu mahasiswa berkontribusi pada bangsa Indonesia, dan itu tugas mahasiswa. Maka dari itu, diharapkan partisipasi massa HIMATEK pada setiap acara sosialisasi isu yang diadakan Kabinet.
2. Memfasilitasi mahasiswa agar bisa berkontribusi ke luar sebagai bentuk kontribusi pada bangsa Indonesia.
Kabinet harus menyediakan wadah bagi semua mahasiswa untuk bisa merespons isu-isu eksternal.
3. Memimpin pergerakan KM-ITB secara menyeluruh ke luar.
Kabinet harus mampu merespons isu-isu eksternal yang ada hingga menimbulkan manfaat bagi bangsa Indonesia, dan responsnya agar kuat haruslah representatif (mewakili ITB).
4. Melakukan pergerakan ke luar dengan berhubungan dengan pihak-pihak lain.
Pihak-pihak lain ini antara lain adalah masyarakat, pemerintah, badan kemahasiswaan universitas lain, pihak ITB, media, dan lain-lain.
Untuk poin 2, 3, dan 4, konsekuensi untuk HIMATEK:
- Jika punya pendapat tentang isu eksternal, segera sampaikan ide anda ke Kabinet atau Senator anda. Jika isunya sudah keluar dan anda berbeda pendapat dan tidak menghubungi Kabinet atau Senator sebelumnya, salah anda sendiri. Massa HIMATEK kebanyakan punya pandangan cerdas dan logis tentang berbagai isu, namun sangat disayangkan jika diam saja dan baru menjelek-jelekkan Kabinet saat penyikapannya keluar.
- Bersiaplah untuk menerima dan mendiskusikan pergerakan-pergerakan ala universitas lain yang mungkin kurang biasa dengan iklim kita (contoh: demo) karena kita sekarang akan sering berkoordinasi dalam pergerakan dengan universitas lain. Jangan memandang rendah dulu, tapi dukunglah esensinya.
- Memahami isu eksternal yang dibawa kabinet agar isu itu memiliki kekuatan. Contoh: jika Kabinet mengeluarkan pernyataan sikap terkait isu privatisasi tambang migas Indonesia misalnya, lalu ada orang yang menanyakan ke massa HIMATEK (sebagai mahasiswa ITB juga) dan kita tidak bisa menerangkan, Kabinet akan dicap sebagai omong besar saja menyuarakan mahasiswa ITB. Agar pergerakan kita kuat, kita harus menunjukkan kalau pergerakan Kabinet memang pergerakan mahasiswa ITB. Jika kita tidak setuju dengan apa yang akan dibawa Kabinet keluar, sebaiknya segera kontak Senator untuk titip pesan sampaikan ke Kabinet kalau ada yang tidak setuju.
C. Bidang Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) Sekjen Kabinet
Fungsi Kabinet di bidang LITBANG:
1. Optimasi kinerja internal Kabinet
Mengurus administrasi (surat-surat dsb) dan keuangan (laporan keuangan) dengan baik.
2. Optimasi kerja Kabinet sebagai lembaga terpusat di KM-ITB
Mengadakan kajian, pusat data (angket dsb) untuk mendukung terlaksananya fungsi-fungsi lain Kabinet (selain fungsi LITBANG).
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- HIMATEK sebagai lembaga harus kooperatif, sebaiknya malah inisiatif, memberikan data yang diperlukan.
- HIMATEK juga harus mampu mengajak anggotanya untuk kooperatif memberikan data yang diperlukan.
D. Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Menteri PSDM
Fungsi Kabinet di bidang PSDM:
1. Aplikasi RUK secara teknis ke semua bentuk kaderisasi di ITB
Akan dibuat suatu alur kaderisasi per tingkat dan semua mahasiswa diusahakan harus melewatinya. Akan dibuat juga parameter-parameter per tingkat untuk mengukur keberhasilan alur kaderisasi itu.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- HIMATEK harus terlibat aktif dalam pembuatan alur kaderisasi itu (mungkin Divisi PSDA harus sering-sering kontak dengan Biro PSDM Kabinet).
- PPAB, LKO, Kadwil harus memasukkan parameter-parameter per tingkat ke dalam tujuan acaranya. GDK HIMATEK juga harus berbasis RUK. Jika ada parameter-parameter per tingkat yang belum bisa dicapai, buat acara/program tambahan.
2. Deskripsi alumni ITB ideal di RUK harus tercapai
Membuat program-program yang secara spesifik bertujuan untuk mencapai deskripsi alumni ideal tersebut.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Meningkatkan partisipasi anggotanya di program-program tersebut agar anggotanya menjadi alumni yang ideal.
- Setiap program HIMATEK, bukan hanya program khusus kaderisasi, harus memperhatikan apakah sudah membantu mencapai karakteristik itu atau belum.
- Semua anggota HIMATEK sebaiknya introspeksi apakah mereka telah mencapai karakter mahasiswa ITB sesuai tingkatnya yang telah ada di RUK.
3. Menciptakan suasana yang mendukung kaderisasi
Legalisasi kaderisasi.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Dalam setiap kegiatan kaderisasinya tidak melakukan hal-hal yang dapat mengancam legalitas kaderisasi.
E. Bidang KEMANDIRIAN MAHASISWA Menko 2
Fungsi Kabinet di bidang KEMANDIRIAN MAHASISWA:
1. Menginisiasi ide
Maksud fungsi ini adalah bagaimana caranya Kabinet menanamkan bahwa mahasiswa dapat membuat suatu produk keprofesian yang memiliki nilai komersial dan berguna untuk masyarakat, serta membangun mental wirausaha.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Usahakan menstimulus penelitian-penelitian berbasis ilmu teknik kimia untuk menghasilkan produk dengan spesifikasi yang dimaksud.
- Tingkatkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan Kabinet yang berhubungan.
2. Membentuk lingkungan kampus yang kondusif untuk pengembangan mahasiswa
Maksudnya Kabinet harus membuat program-program yang mendukung mahasiswa untuk dapat mengembangkan keilmuan, kreativitas, dan pengabdian masyarakat.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Tingkatkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan Kabinet yang berhubungan.
Banyak sekali aspirasi HIMATEK yang telah ditampung Tim Senator berbulan-bulan lalu, dimasukkan ke dalam GBHP ini.
Ada yang minta Presiden dan Kabinet merakyat dan sering silaturahmi ke himpunan, di GBHP telah berhasil dimasukkan di INTERNAL Tujuan 2 Arahan Umum 5 Parameter 2: “Terciptanya hubungan yang merakyat antara Kabinet dan seluruh elemen KM-ITB”.
Ada yang minta rapat Kabinet efektif, tepat waktu, dan lain-lain? Ada di INTERNAL Tujuan 2 Arahan Umum 5 Parameter 1, dan Tujuan 4 Arahan Umum 3. Di penjelasan di atas, keduanya ada di INTERNAL nomor 2 dan 4.
Ada yang minta kalau bisa kita adakan acara gabungan antar himpunan, kita suruh Kabinet melakukan itu, INTERNAL Tujuan 3 Arahan Umum 3 : “Terlaksananya suatu kegiatan yang menjadi satu ikon karya bersama seluruh elemen KM-ITB yang diwadahi Kabinet KM-ITB” atau seperti di atas, INTERNAL nomor 3. Ingatlah konsekuensinya…
Ada yang minta masukan informasi lebih banyak… Ada di mana-mana; PSDM, EKSTERNAL, INTERNAL, LITBANG…
Diharapkan konsekuensi-konsekuensi bisa kita jalankan! Untuk HIMATEK sebagai himpunan terdepan dalam kemahasiswaan ITB!!
Tim Senator HIMATEK
.
Anda yang terpilih untuk di-tag di notes di facebook ini akan dihadiahi sebuah tugas untuk menyebarkan "Terjemahan Singkat dari Segala Keinginan Anda", yaitu GBHP KM-ITB 2009/10!
Sebarkan kepada seluruh massa HIMATEK yang anda kenal, maka anda akan dikenang sebagai anggota HIMATEK yang care, gaul, berdedikasi tinggi, dan intelek! Hahahahahahaha (apaan bgt deh).
Artikel ini akan dimuat di Enzyme edisi Agustus dan edisi September, tapi bagi yang penasaran ingin baca lengkapnya langsung, silakan lihat di bawah ini:
TERJEMAHAN GBHP KM ITB 2009/2010 DAN KONSEKUENSINYA UNTUK HIMATEK
Garis-garis Besar Haluan Program a.k.a. GBHP adalah tugas atau suruhan yang harus dijalankan oleh Kabinet KM-ITB dalam satu tahun ke depan. Siapa yang membuat GBHP ini? Kongres, yaitu perwakilan teman-teman dan dari mana Kongres membuat GBHP ini? Dari keinginan teman-teman sendiri.
Jadiiii… GBHP ini dibuat berdasarkan apa keinginan teman-teman yang sudah diutarakan oleh teman-teman HIMATEK kepada tim senator saat masa pembuatan GBHP, beberapa bulan lalu.
Idealnya, kita tidak hanya bisa memberi suruhan, tapi juga mendukung pelaksanaan suruhan itu karena kita sendirilah yang menyuruh Kabinet untuk mengerjakan GBHP ini.
Mari berpartisipasi. Karena secara teknis GBHP ini sudah mewakili seluruh kampus (termasuk kita, HIMATEK), maka kita harus mensukseskan terlaksananya GBHP ini. Itu sudah merupakan kesepakatan bersama, maka kita harus menjalankan konsekuensinya
Mau tahu konsekuensi yang harus kita jalani? Mari membaca ringkasan GBHP di bawah ini…
A. Bidang INTERNAL Menko 1
Fungsi Kabinet di bidang INTERNAL:
1. Memenuhi kebutuhan dasar mahasiswa
Kebutuhan dasar mahasiswa yang dimaksud adalah kebutuhan akademis, kesejahteraan, dan pengembangan diri.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Jika ada anggota yang bermasalah dengan akademik atau kesejahteraan (terancam DO atau butuh beasiswa, misalnya), jangan ragu-ragu proaktif memintakan bantuan ke Kabinet KM-ITB.
- HIMATEK harus mengusahakan anggotanya memberi tahu, atau mencari tahu, pengembangan diri apa yang dibutuhkan oleh mereka sehingga bisa diusahakan untuk diadakan oleh Kabinet.
2. Menyampaikan informasi yang dibutuhkan dan sosialisasi semua kegiatan
Kabinet memberitahukan semua yang dilakukan kepada massa kampus, termasuk di antaranya mencerdaskan massa kampus soal isu-isu yang dianggap penting dan mempertahankan image baik Kabinet KM-ITB di mata mahasiswa.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Jika ada informasi yang disampaikan Kabinet lewat jalur himpunan (ke Kahim/BP/Kongres), harus dipastikan 100% sampai ke semua anggota HIMATEK.
- Jika ada isu-isu yang disampaikan ke HIMATEK oleh Kabinet, harus ‘dipanaskan’ di HIMATEK agar bisa diberikan feedback ke Kabinet.
- HIMATEK harus menjaga agar citra Kabinet KM-ITB tetap baik (minimal dari BP dan BPA) dengan menginformasikan secara objektif tentang Kabinet KM-ITB ke massa HIMATEK (mestinya kawan-kawan tahu sekarang keadaannya seperti apa).
3. Menjadi pemersatu dan penghubung (sinergisasi) antara himpunan dan unit ITB
Kabinet harus memfasilitasi kepentingan-kepentingan yang berbeda dari tiap elemen di kampus (himpunan-himpunan dan unit-unit) sekaligus mensinergiskannya, secara spesifik ada beberapa hal: membuat satu kampus paham visi misi Kabinet, menjadi koordinator yang baik untuk urusan antar himpunan dan unit, dan mampu membuat suatu aktivitas yang seluruh lembaga turut serta menyumbang ide dan tenaga di dalamnya.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Baca visi misi Ucup-Benny, dan usahakan agar tiap aktivitas yang dilakukan HIMATEK membantu terwujudnya visi dan terlaksananya misi tersebut, yang singkatnya tertuang dalam jargon “Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum”.
- Cocokkan kalender kegiatan himpunan dengan acara-acara terpusat, dan usahakan untuk selalu berpartisipasi mengirim orang ke acara-acara terpusat, jangan menolak dengan dalih di himpunan sudah sibuk sendiri. Setiap individu juga harus mau jika dikirim ke kepanitiaan terpusat.
- Mampu menumbuhkan budaya untuk tidak memandang rendah himpunan/jurusan lain dan sering-sering bersilaturahmi untuk bertukar informasi dan ilmu, siapa tahu bisa mengadakan kegiatan bersama (misal, PM) yang jauh lebih bermanfaat apabila keilmuan yang diaplikasikan merupakan gabungan antar prodi.
4. Mengembangkan budaya-budaya yang baik di kampus
Budaya-budaya tersebut adalah: wawasan ramah lingkungan, wawasan cinta Indonesia, iklim beraktivitas, kebersamaan, kritis, integritas, kajian, kepemilikan terhadap himpunan/unit, dan apresiasi terhadap elemen KM-ITB.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
Pada intinya, keberhasilan Kabinet menjalankan fungsi ini bergantung pada apakah budaya-budaya tersebut berhasil ditanamkan kepada tiap orang. Budaya tidak bisa ditanamkan lewat proker saja, apalagi proker Kabinet saja, karena itu HIMATEK harus menanamkan budaya-budaya tersebut ke semua anggotanya. Adapun penjelasan lebih lanjutnya:
- Dalam setiap kegiatannya, HIMATEK harus ramah lingkungan dan mengusahakan penumbuhan rasa cinta Indonesia. Dalam kesehariannya pun warga HIMATEK juga harus dikondisikan untuk ramah lingkungan dan cinta Indonesia.
- Iklim beraktivitas maksudnya HIMATEK harus menciptakan suasana yang enak agar semua anggota HIMATEK betah beraktivitas.
- Kebersamaan maksudnya solidaritas antar teman, baik seangkatan, sejurusan, sehimpunan, maupun satu ITB.
- Kritis maksudnya tidak ragu untuk mencari tahu (termasuk bertanya).
- Integritas maksudnya etos kerja yang baik: disiplin, tepat waktu, memegang janji.
- Kajian maksudnya membudayakan diskusi di HIMATEK (yang katanya termasuk sulit).
- Kepemilikan maksudnya rasa bangga dan mencintai HIMATEK.
- Apresiasi yang dimaksud adalah terhadap seluruh elemen terutama yang masih belum banyak dikenal orang: Kabinet, Kongres, Tim MWA. HIMATEK harus menginformasikan secara menyeluruh tentang fungsi mereka sehingga massa HIMATEK dapat menggunakan mereka sebagaimana fungsinya: Kabinet untuk mengembangkan diri, Kongres untuk diberi masukan tentang kinerja Kabinet dan segala hal yang menyangkut kemahasiswaan ITB, dan MWA untuk dititipi aspirasi-aspirasi yang mungkin dapat dipenuhi oleh pihak ITB khususnya rektorat.
B. Bidang EKSTERNAL Menko 3
Fungsi Kabinet di bidang EKSTERNAL:
1. Menyadarkan mahasiswa bahwa mereka bisa dan harus berbuat sesuatu yang baik dan besar bagi bangsa Indonesia.
Penyadaran dilakukan dengan pencerdasan isu-isu eksternal, karena dengan isu-isu eksternal itu kita mampu menyumbangkan sesuatu bagi bangsa Indonesia.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Isu-isu eksternal harus dikaji dan dipahami oleh setiap anggota HIMATEK, karena akan membantu mahasiswa berkontribusi pada bangsa Indonesia, dan itu tugas mahasiswa. Maka dari itu, diharapkan partisipasi massa HIMATEK pada setiap acara sosialisasi isu yang diadakan Kabinet.
2. Memfasilitasi mahasiswa agar bisa berkontribusi ke luar sebagai bentuk kontribusi pada bangsa Indonesia.
Kabinet harus menyediakan wadah bagi semua mahasiswa untuk bisa merespons isu-isu eksternal.
3. Memimpin pergerakan KM-ITB secara menyeluruh ke luar.
Kabinet harus mampu merespons isu-isu eksternal yang ada hingga menimbulkan manfaat bagi bangsa Indonesia, dan responsnya agar kuat haruslah representatif (mewakili ITB).
4. Melakukan pergerakan ke luar dengan berhubungan dengan pihak-pihak lain.
Pihak-pihak lain ini antara lain adalah masyarakat, pemerintah, badan kemahasiswaan universitas lain, pihak ITB, media, dan lain-lain.
Untuk poin 2, 3, dan 4, konsekuensi untuk HIMATEK:
- Jika punya pendapat tentang isu eksternal, segera sampaikan ide anda ke Kabinet atau Senator anda. Jika isunya sudah keluar dan anda berbeda pendapat dan tidak menghubungi Kabinet atau Senator sebelumnya, salah anda sendiri. Massa HIMATEK kebanyakan punya pandangan cerdas dan logis tentang berbagai isu, namun sangat disayangkan jika diam saja dan baru menjelek-jelekkan Kabinet saat penyikapannya keluar.
- Bersiaplah untuk menerima dan mendiskusikan pergerakan-pergerakan ala universitas lain yang mungkin kurang biasa dengan iklim kita (contoh: demo) karena kita sekarang akan sering berkoordinasi dalam pergerakan dengan universitas lain. Jangan memandang rendah dulu, tapi dukunglah esensinya.
- Memahami isu eksternal yang dibawa kabinet agar isu itu memiliki kekuatan. Contoh: jika Kabinet mengeluarkan pernyataan sikap terkait isu privatisasi tambang migas Indonesia misalnya, lalu ada orang yang menanyakan ke massa HIMATEK (sebagai mahasiswa ITB juga) dan kita tidak bisa menerangkan, Kabinet akan dicap sebagai omong besar saja menyuarakan mahasiswa ITB. Agar pergerakan kita kuat, kita harus menunjukkan kalau pergerakan Kabinet memang pergerakan mahasiswa ITB. Jika kita tidak setuju dengan apa yang akan dibawa Kabinet keluar, sebaiknya segera kontak Senator untuk titip pesan sampaikan ke Kabinet kalau ada yang tidak setuju.
C. Bidang Penelitian dan Pengembangan (LITBANG) Sekjen Kabinet
Fungsi Kabinet di bidang LITBANG:
1. Optimasi kinerja internal Kabinet
Mengurus administrasi (surat-surat dsb) dan keuangan (laporan keuangan) dengan baik.
2. Optimasi kerja Kabinet sebagai lembaga terpusat di KM-ITB
Mengadakan kajian, pusat data (angket dsb) untuk mendukung terlaksananya fungsi-fungsi lain Kabinet (selain fungsi LITBANG).
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- HIMATEK sebagai lembaga harus kooperatif, sebaiknya malah inisiatif, memberikan data yang diperlukan.
- HIMATEK juga harus mampu mengajak anggotanya untuk kooperatif memberikan data yang diperlukan.
D. Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) Menteri PSDM
Fungsi Kabinet di bidang PSDM:
1. Aplikasi RUK secara teknis ke semua bentuk kaderisasi di ITB
Akan dibuat suatu alur kaderisasi per tingkat dan semua mahasiswa diusahakan harus melewatinya. Akan dibuat juga parameter-parameter per tingkat untuk mengukur keberhasilan alur kaderisasi itu.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- HIMATEK harus terlibat aktif dalam pembuatan alur kaderisasi itu (mungkin Divisi PSDA harus sering-sering kontak dengan Biro PSDM Kabinet).
- PPAB, LKO, Kadwil harus memasukkan parameter-parameter per tingkat ke dalam tujuan acaranya. GDK HIMATEK juga harus berbasis RUK. Jika ada parameter-parameter per tingkat yang belum bisa dicapai, buat acara/program tambahan.
2. Deskripsi alumni ITB ideal di RUK harus tercapai
Membuat program-program yang secara spesifik bertujuan untuk mencapai deskripsi alumni ideal tersebut.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Meningkatkan partisipasi anggotanya di program-program tersebut agar anggotanya menjadi alumni yang ideal.
- Setiap program HIMATEK, bukan hanya program khusus kaderisasi, harus memperhatikan apakah sudah membantu mencapai karakteristik itu atau belum.
- Semua anggota HIMATEK sebaiknya introspeksi apakah mereka telah mencapai karakter mahasiswa ITB sesuai tingkatnya yang telah ada di RUK.
3. Menciptakan suasana yang mendukung kaderisasi
Legalisasi kaderisasi.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Dalam setiap kegiatan kaderisasinya tidak melakukan hal-hal yang dapat mengancam legalitas kaderisasi.
E. Bidang KEMANDIRIAN MAHASISWA Menko 2
Fungsi Kabinet di bidang KEMANDIRIAN MAHASISWA:
1. Menginisiasi ide
Maksud fungsi ini adalah bagaimana caranya Kabinet menanamkan bahwa mahasiswa dapat membuat suatu produk keprofesian yang memiliki nilai komersial dan berguna untuk masyarakat, serta membangun mental wirausaha.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Usahakan menstimulus penelitian-penelitian berbasis ilmu teknik kimia untuk menghasilkan produk dengan spesifikasi yang dimaksud.
- Tingkatkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan Kabinet yang berhubungan.
2. Membentuk lingkungan kampus yang kondusif untuk pengembangan mahasiswa
Maksudnya Kabinet harus membuat program-program yang mendukung mahasiswa untuk dapat mengembangkan keilmuan, kreativitas, dan pengabdian masyarakat.
Konsekuensi untuk HIMATEK:
- Tingkatkan partisipasi dalam kegiatan-kegiatan Kabinet yang berhubungan.
Banyak sekali aspirasi HIMATEK yang telah ditampung Tim Senator berbulan-bulan lalu, dimasukkan ke dalam GBHP ini.
Ada yang minta Presiden dan Kabinet merakyat dan sering silaturahmi ke himpunan, di GBHP telah berhasil dimasukkan di INTERNAL Tujuan 2 Arahan Umum 5 Parameter 2: “Terciptanya hubungan yang merakyat antara Kabinet dan seluruh elemen KM-ITB”.
Ada yang minta rapat Kabinet efektif, tepat waktu, dan lain-lain? Ada di INTERNAL Tujuan 2 Arahan Umum 5 Parameter 1, dan Tujuan 4 Arahan Umum 3. Di penjelasan di atas, keduanya ada di INTERNAL nomor 2 dan 4.
Ada yang minta kalau bisa kita adakan acara gabungan antar himpunan, kita suruh Kabinet melakukan itu, INTERNAL Tujuan 3 Arahan Umum 3 : “Terlaksananya suatu kegiatan yang menjadi satu ikon karya bersama seluruh elemen KM-ITB yang diwadahi Kabinet KM-ITB” atau seperti di atas, INTERNAL nomor 3. Ingatlah konsekuensinya…
Ada yang minta masukan informasi lebih banyak… Ada di mana-mana; PSDM, EKSTERNAL, INTERNAL, LITBANG…
Diharapkan konsekuensi-konsekuensi bisa kita jalankan! Untuk HIMATEK sebagai himpunan terdepan dalam kemahasiswaan ITB!!
Tim Senator HIMATEK
.
Sabtu, 20 Juni 2009
Kode Etik Senator
Sedikit pengantar dari gw sebelum menyajikan Kode Etik Senator ke hadapan massa lembaga gw yang sangat gw hormati ini..
. Sebagaimana kita tahu bersama, peran senator secara unit individual maupun Kongres secara satu unit terintegrasi sangatlah vital dalam keberlangsungan sistem proses kemahasiswaan ITB. Maka dari itu, perlu dibuat suatu kode etik yang digunakan untuk menjaga unjuk kerja senator secara individual ini agar menjamin efisiensi dan perolehan yang baik dari Kongres secara keseluruhan sehingga menjamin terlaksananya proses kemahasiswaan ITB yang mampu mengkonversi mahasiswanya menjadi produk dengan selektivitas tinggi untuk membangun Indonesia.
(bahasa paragraf 1 abstrak labtek-penulap dah... hahaha)
Yah intinya, kode etik ini dibikin buat menjamin biar semua senator yang ada di Kongres itu adalah orang-orang yang bener, yang bisa ngejalanin tugasnya dengan baik. Amin?
Buat diri gw sendiri, mudah2an Tuhan selalu ngasih gw kekuatan untuk bisa menjalankan isi kode etik ini sepenuhnya...
Buat rekan-rekan tim senator, mudah2an juga kita semua bisa nunjukin klo kita tim senator yang baik dan bisa memenuhi kode etik ini...
Buat bapak, mas2, dan mbak2 BPA, mohon dijadikan panduan untuk mengawasi kinerja tim senator...
Buat mas2 dan mbak2 BP dan massa HIMATEK, silakan tegur secara beradab jika ketahuan ada tim senator yang melanggar kode etik ini...
Selamat menikmati...
--------------------------------------
KODE ETIK SENATOR
BAB I
ETIKA SEBAGAI PRIBADI SENATOR
Pasal 1
Menjadikan amanah senator sebagai bagian pengabdian kepada Tuhan YME, kontribusi kepada bangsa secara umum dan masyarakat ITB secara khusus.
Pasal 2
Menjunjung tinggi nilai-nilai yang menjadi sifat KM ITB yaitu mandiri, kekeluargaan, adil, aspiratif dan representatif, efektif dan efisien, serta transparan.
Pasal 3
Mengenal, menyayangi, menghargai, saling membantu, serta saling mengingatkan sesama senator agar Kongres mampu tumbuh menjadi tim yang baik, solid, dan produktif.
Pasal 4
Mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan, dengan dilandasi nilai-nilai kebenaran universal, moralitas, dan kebangsaan.
Pasal 5
Menjaga integritas pribadi, citra diri, dan komitmen sebagai senator.
Pasal 6
Memiliki sikap tanggung jawab terhadap wacananya masing-masing.
Pasal 7
Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima, menghormati, dan melaksanakan hasil keputusan sidang Kongres.
Pasal 8
Memiliki kesadaran untuk mencerdaskan dirinya sendiri mengenai wawasan kemahasiswaan dan kebangsaan.
BAB II
ETIKA SEBAGAI SENATOR UTUSAN HMJ ATAU RUMPUN UNIT
Pasal 9
Menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi massa HMJ atau rumpun unit yang diwakilinya.
Pasal 10
Menjaga nama baik HMJ atau rumpun unit yang diwakilinya.
Pasal 11
Mensosialiasikan segala hasil keputusan sidang Kongres kepada massa HMJ atau rumpun unit yang diwakilinya.
Pasal 12
Aktif membangun serta meningkatkan pencerdasan dan partisipasi massa HMJ atau rumpun unit dalam kemahasiswaan.
BAB III
ETIKA SEBAGAI SENATOR YANG MEWAKILI SELURUH MAHASISWA ITB
Pasal 13
Menjalankan fungsinya dan tugas yang diembankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Pasal 14
Menjaga nama baik, kewibawaan, dan kehormatan senator secara perorangan maupun Kongres secara lembaga.
Pasal 15
Hanya hasil ketetapan sidang Kongres yang berhak dikeluarkan ke publik dengan mengatasnamakan Kongres KM ITB.
Pasal 16
Memperjuangkan aspirasi dan kepentingan seluruh mahasiswa ITB.
Pasal 17
Tidak membawa konflik internal Kongres ke luar forum Kongres.
Pasal 18
Bersama-sama membangun suasana sidang/rapat yang kondusif untuk menghasilkan keputusan-keputusan yang membawa kebaikan untuk semua pihak.
Kontrol Fungsi Legislasi Kongres KM ITB
* Mewakili Himpunan atau Rumpun Unit sehingga tidak boleh memegang jabatan struktural lain di organisasi intra kampus. (PS: ampun terpaksa ngelanggar, punten dibalikin ke BPA dah...)
* Bila diketahui sedang memegang jabatan, maka senator direkomendasikan untuk mengundurkan diri dari jabatan tersebut.
* Mengadakan forum dengan lembaganya minimal satu kali dalam sebulan, yaitu tiap minggu pertama tiap bulan.
* Penyerahkan kembali berita acara forum pelaporan ke Kongres KM ITB yang telah ditandatangani oleh Badan Pengawas Senator di Lembaganya diadakan mulai hari pertama minggu kedua tiap bulan.
Kontrol Fungsi Presensi Senator
* Bila senator 3 (tiga) kali berturut-turut tidak hadir (dengan alasan apa pun) dalam rapat kerja Kongres KM ITB, maka akan diberikan surat peringatan ke lembaga yang diwakilinya.
* Selama periode Bulan Juni, Juli dan Agustus atau selama masa libur dan kerja praktek maka kehadiran tim senator dan atau pejabat senator masing-masing lembaga dianggap dapat mewakili kehadiran senator yang semestinya didelegasikan oleh lembaga. Perhitungan absensi dihitung untuk semua agenda Kongres kecuali siding paripurna atau sidang istimewa kongres. Mekanisme ini dibuat sedemikian mungkin untuk meminimalisir ketidakefisienan komunikasi antara Kongres dengan lembaga.
* Bila senator tidak menghadiri Sidang Paripurna maka akan langsung diberi surat peringatan ke lembaga yang diwakilinya.
* Bila lembaga telah mendapatkan 5 (lima) kali surat peringatan, maka senator lembaganya direkomendasikan untuk di-recall.
-------------
Di sini kami tempa diri
pribadi tangguh nan berbudi
Kami ingin dapat berbuat
untuk jaya tanah airku
Kami siap baktikan diri
dengan jiwa dan raga ini
Berbuat demi negeri ini
agar jaya bangsaku
S'gala cita dan karsa ini
adalah bara 'tuk berkarya
Semangat kukobarkan s'lalu
api jaya almamaterku
Dengan tulus ku berikrar
untuk selalu berjuang
Setia kuusung panjimu
kibar jaya kampusku
Sumbangsihku mungkin tak berarti
tapi ikhlas kubaktikan semua...
Dengan tulus ku berikrar
untuk selalu berjuang
Setia kuusung panjimu
kibar jaya kampuskuKibar jaya... ITB...
(Hymne KM-ITB)
------------------------------
Demi Tuhan, untuk bangsa dan almamater - merdeka!
.
. Sebagaimana kita tahu bersama, peran senator secara unit individual maupun Kongres secara satu unit terintegrasi sangatlah vital dalam keberlangsungan sistem proses kemahasiswaan ITB. Maka dari itu, perlu dibuat suatu kode etik yang digunakan untuk menjaga unjuk kerja senator secara individual ini agar menjamin efisiensi dan perolehan yang baik dari Kongres secara keseluruhan sehingga menjamin terlaksananya proses kemahasiswaan ITB yang mampu mengkonversi mahasiswanya menjadi produk dengan selektivitas tinggi untuk membangun Indonesia.
(bahasa paragraf 1 abstrak labtek-penulap dah... hahaha)
Yah intinya, kode etik ini dibikin buat menjamin biar semua senator yang ada di Kongres itu adalah orang-orang yang bener, yang bisa ngejalanin tugasnya dengan baik. Amin?
Buat diri gw sendiri, mudah2an Tuhan selalu ngasih gw kekuatan untuk bisa menjalankan isi kode etik ini sepenuhnya...
Buat rekan-rekan tim senator, mudah2an juga kita semua bisa nunjukin klo kita tim senator yang baik dan bisa memenuhi kode etik ini...
Buat bapak, mas2, dan mbak2 BPA, mohon dijadikan panduan untuk mengawasi kinerja tim senator...
Buat mas2 dan mbak2 BP dan massa HIMATEK, silakan tegur secara beradab jika ketahuan ada tim senator yang melanggar kode etik ini...
Selamat menikmati...
--------------------------------------
KODE ETIK SENATOR
BAB I
ETIKA SEBAGAI PRIBADI SENATOR
Pasal 1
Menjadikan amanah senator sebagai bagian pengabdian kepada Tuhan YME, kontribusi kepada bangsa secara umum dan masyarakat ITB secara khusus.
Pasal 2
Menjunjung tinggi nilai-nilai yang menjadi sifat KM ITB yaitu mandiri, kekeluargaan, adil, aspiratif dan representatif, efektif dan efisien, serta transparan.
Pasal 3
Mengenal, menyayangi, menghargai, saling membantu, serta saling mengingatkan sesama senator agar Kongres mampu tumbuh menjadi tim yang baik, solid, dan produktif.
Pasal 4
Mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan, dengan dilandasi nilai-nilai kebenaran universal, moralitas, dan kebangsaan.
Pasal 5
Menjaga integritas pribadi, citra diri, dan komitmen sebagai senator.
Pasal 6
Memiliki sikap tanggung jawab terhadap wacananya masing-masing.
Pasal 7
Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima, menghormati, dan melaksanakan hasil keputusan sidang Kongres.
Pasal 8
Memiliki kesadaran untuk mencerdaskan dirinya sendiri mengenai wawasan kemahasiswaan dan kebangsaan.
BAB II
ETIKA SEBAGAI SENATOR UTUSAN HMJ ATAU RUMPUN UNIT
Pasal 9
Menyampaikan dan memperjuangkan aspirasi massa HMJ atau rumpun unit yang diwakilinya.
Pasal 10
Menjaga nama baik HMJ atau rumpun unit yang diwakilinya.
Pasal 11
Mensosialiasikan segala hasil keputusan sidang Kongres kepada massa HMJ atau rumpun unit yang diwakilinya.
Pasal 12
Aktif membangun serta meningkatkan pencerdasan dan partisipasi massa HMJ atau rumpun unit dalam kemahasiswaan.
BAB III
ETIKA SEBAGAI SENATOR YANG MEWAKILI SELURUH MAHASISWA ITB
Pasal 13
Menjalankan fungsinya dan tugas yang diembankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Pasal 14
Menjaga nama baik, kewibawaan, dan kehormatan senator secara perorangan maupun Kongres secara lembaga.
Pasal 15
Hanya hasil ketetapan sidang Kongres yang berhak dikeluarkan ke publik dengan mengatasnamakan Kongres KM ITB.
Pasal 16
Memperjuangkan aspirasi dan kepentingan seluruh mahasiswa ITB.
Pasal 17
Tidak membawa konflik internal Kongres ke luar forum Kongres.
Pasal 18
Bersama-sama membangun suasana sidang/rapat yang kondusif untuk menghasilkan keputusan-keputusan yang membawa kebaikan untuk semua pihak.
Kontrol Fungsi Legislasi Kongres KM ITB
* Mewakili Himpunan atau Rumpun Unit sehingga tidak boleh memegang jabatan struktural lain di organisasi intra kampus. (PS: ampun terpaksa ngelanggar, punten dibalikin ke BPA dah...)
* Bila diketahui sedang memegang jabatan, maka senator direkomendasikan untuk mengundurkan diri dari jabatan tersebut.
* Mengadakan forum dengan lembaganya minimal satu kali dalam sebulan, yaitu tiap minggu pertama tiap bulan.
* Penyerahkan kembali berita acara forum pelaporan ke Kongres KM ITB yang telah ditandatangani oleh Badan Pengawas Senator di Lembaganya diadakan mulai hari pertama minggu kedua tiap bulan.
Kontrol Fungsi Presensi Senator
* Bila senator 3 (tiga) kali berturut-turut tidak hadir (dengan alasan apa pun) dalam rapat kerja Kongres KM ITB, maka akan diberikan surat peringatan ke lembaga yang diwakilinya.
* Selama periode Bulan Juni, Juli dan Agustus atau selama masa libur dan kerja praktek maka kehadiran tim senator dan atau pejabat senator masing-masing lembaga dianggap dapat mewakili kehadiran senator yang semestinya didelegasikan oleh lembaga. Perhitungan absensi dihitung untuk semua agenda Kongres kecuali siding paripurna atau sidang istimewa kongres. Mekanisme ini dibuat sedemikian mungkin untuk meminimalisir ketidakefisienan komunikasi antara Kongres dengan lembaga.
* Bila senator tidak menghadiri Sidang Paripurna maka akan langsung diberi surat peringatan ke lembaga yang diwakilinya.
* Bila lembaga telah mendapatkan 5 (lima) kali surat peringatan, maka senator lembaganya direkomendasikan untuk di-recall.
-------------
Di sini kami tempa diri
pribadi tangguh nan berbudi
Kami ingin dapat berbuat
untuk jaya tanah airku
Kami siap baktikan diri
dengan jiwa dan raga ini
Berbuat demi negeri ini
agar jaya bangsaku
S'gala cita dan karsa ini
adalah bara 'tuk berkarya
Semangat kukobarkan s'lalu
api jaya almamaterku
Dengan tulus ku berikrar
untuk selalu berjuang
Setia kuusung panjimu
kibar jaya kampusku
Sumbangsihku mungkin tak berarti
tapi ikhlas kubaktikan semua...
Dengan tulus ku berikrar
untuk selalu berjuang
Setia kuusung panjimu
kibar jaya kampuskuKibar jaya... ITB...
(Hymne KM-ITB)
------------------------------
Demi Tuhan, untuk bangsa dan almamater - merdeka!
.
Kamis, 04 Juni 2009
Kewajiban Utama Seorang Suami
Seorang suami pulang dengan wajah lesu ke rumahnya pada pukul 12 malam setelah kerja lembur yang melelahkan. Ketika ia memasuki ruang makan, nampak sang istri sedang duduk menghadapi makanan yang sudah dingin melotot marah kepadanya.
"Ke mana saja kau?" bentak sang istri. "Di mana tanggung jawabmu sebagai suami? Sudah lewat empat jam dari waktu makan dan engkau tidak juga muncul untuk menemaniku makan. Apakah kau sudah tidak perduli lagi kepadaku?"
"Sayang," jawab sang suami dengan kalem namun ketus. "jika aku tidak pulang jam segini, kita bukan hanya tidak bisa makan bersama, tapi KITA TIDAK AKAN PUNYA UANG UNTUK MAKAN."
---------------
Demi Tuhan, untuk bangsa dan almamater - merdeka!
.
"Ke mana saja kau?" bentak sang istri. "Di mana tanggung jawabmu sebagai suami? Sudah lewat empat jam dari waktu makan dan engkau tidak juga muncul untuk menemaniku makan. Apakah kau sudah tidak perduli lagi kepadaku?"
"Sayang," jawab sang suami dengan kalem namun ketus. "jika aku tidak pulang jam segini, kita bukan hanya tidak bisa makan bersama, tapi KITA TIDAK AKAN PUNYA UANG UNTUK MAKAN."
---------------
Demi Tuhan, untuk bangsa dan almamater - merdeka!
.
Senin, 27 April 2009
Seorang Nabi Tidak Pernah Dihargai di Negerinya Sendiri
Ini adalah cerita tentang seorang Yesus Kristus, yang ditolak di tempat kelahirannya. Menurut Injil Markus pasal 6 ayat 1-6a...
1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
4 Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
6a Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.
Dari kutipan Alkitab di atas, kita dapat melihat bahwa Yesus sendiri mengalami dan membenarkan bahwa seorang nabi tidak dihargai di tempat asalnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal bukannya seseorang seharusnya dapat lebih mudah mengharapkan dukungan dari orang-orang terdekatnya, orang-orang yang dia sudah kenal? Dan seorang nabi, seorang penghubung antara Allah dan manusia, tentunya akan lebih didengar dengan audiens yang dia sudah kenal terlebih dahulu?
Ternyata salah besar.
Penyebab utamanya justru karena hal yang telah diuraikan di atas. Seorang nabi tentunya telah sangat dikenal di tempat asalnya sendiri. Orang sudah tahu bagaimana latar belakangnya, bagaimana kelakuannya, bagaimana baik buruknya, sehingga orang di tempat asalnya cenderung menganggap rendah sang nabi tersebut. Contohnya seperti di atas pada kasus Yesus, di mana Yesus mengajar dan menarik pengikut-pengikut sampai ribuan jumlahnya di seluruh Israel. Untuk sebagian besar rakyat Israel, mungkin Yesus tampak seperti seorang bijak dan penuh kuasa Ilahi. Namun bagi orang-orang Nazaret, Yesus yang mereka kenal adalah seorang Yesus yang mereka kenal sejak Dia masih kecil, yang hanya anak seorang tukang kayu miskin bernama Yusuf, dan yang saudara-saudaranya pun mereka kenal. Injil Yohanes pasal 6 ayat 41-42 mencatat bahwa:
41 Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."
42 Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"
Kasarnya, ketika Yesus berbicara selangit tentang Kerajaan Sorga, respons orang-orang adalah: "Lu pikir lu siapa? Nggak usah ngomong tinggi-tinggi lah, kita-kita juga tau lu benernya cuma anak tukang kayu, ngapain nyebut-nyebut Kerajaan Sorga segala!"
Menyedihkan? Jelas. Sakit? Jelas.
Dampaknya negatif? Jelas. Tahu dari mana?
Sebuah ayat dari kutipan di atas (Markus 6:5) memperlihatkan betapa Yesus, manusia yang paling penuh kuasa Ilahi di muka bumi ini, bahkan 'tidak mampu' mengadakan satu pun mujizat di Nazaret, tanah kelahirannya, kecuali beberapa pekerjaan kecil-kecilan. Seorang Yesus yang kemampuannya berguna untuk membuat mujizat, tidak dapat menggunakan kemampuannya untuk menghasilkan dampak yang baik.
Siapa yang rugi? Yesus? Selain sakit hati dan kecewa, nampaknya tidak ada kerugian lain yang dialami Yesus.
Penduduk Nazaret? Jelas. Mereka kehilangan kesempatan untuk mengalami mujizat yang dibawa oleh Yesus. Jelas sebuah kerugian.
Ataukah mereka sebenarnya tidak membutuhkan mujizat tersebut? Apakah mereka merasa bahwa hidup sehari-hari mereka sudah cukup bisa diusahakan tanpa perlu adanya mujizat yang dibawa Yesus?
Apa memang sudah takdir seorang nabi? Versi lain dari kisah di atas dapat dilihat pada Injil Lukas 4:16-30. Yang menarik, Yesus di sini memaparkan:
24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
Apakah memang untuk orang-orang yang mengenalnya, seorang nabi tak lebih dari manusia biasa sehingga dianggap tidak cocok untuk menjadi penghubung Allah dan manusia?
Saya kembalikan kepada diri kita masing-masing untuk menjawabnya.
Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater - merdeka!
.
1 Kemudian Yesus berangkat dari situ dan tiba di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia.
2 Pada hari Sabat Ia mulai mengajar di rumah ibadat dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia dan mereka berkata: "Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mujizat-mujizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?
3 Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria, saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?" Lalu mereka kecewa dan menolak Dia.
4 Maka Yesus berkata kepada mereka: "Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya."
5 Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka.
6a Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka.
Dari kutipan Alkitab di atas, kita dapat melihat bahwa Yesus sendiri mengalami dan membenarkan bahwa seorang nabi tidak dihargai di tempat asalnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal bukannya seseorang seharusnya dapat lebih mudah mengharapkan dukungan dari orang-orang terdekatnya, orang-orang yang dia sudah kenal? Dan seorang nabi, seorang penghubung antara Allah dan manusia, tentunya akan lebih didengar dengan audiens yang dia sudah kenal terlebih dahulu?
Ternyata salah besar.
Penyebab utamanya justru karena hal yang telah diuraikan di atas. Seorang nabi tentunya telah sangat dikenal di tempat asalnya sendiri. Orang sudah tahu bagaimana latar belakangnya, bagaimana kelakuannya, bagaimana baik buruknya, sehingga orang di tempat asalnya cenderung menganggap rendah sang nabi tersebut. Contohnya seperti di atas pada kasus Yesus, di mana Yesus mengajar dan menarik pengikut-pengikut sampai ribuan jumlahnya di seluruh Israel. Untuk sebagian besar rakyat Israel, mungkin Yesus tampak seperti seorang bijak dan penuh kuasa Ilahi. Namun bagi orang-orang Nazaret, Yesus yang mereka kenal adalah seorang Yesus yang mereka kenal sejak Dia masih kecil, yang hanya anak seorang tukang kayu miskin bernama Yusuf, dan yang saudara-saudaranya pun mereka kenal. Injil Yohanes pasal 6 ayat 41-42 mencatat bahwa:
41 Maka bersungut-sungutlah orang Yahudi tentang Dia, karena Ia telah mengatakan: "Akulah roti yang telah turun dari sorga."
42 Kata mereka: "Bukankah Ia ini Yesus, anak Yusuf, yang ibu bapa-Nya kita kenal? Bagaimana Ia dapat berkata: Aku telah turun dari sorga?"
Kasarnya, ketika Yesus berbicara selangit tentang Kerajaan Sorga, respons orang-orang adalah: "Lu pikir lu siapa? Nggak usah ngomong tinggi-tinggi lah, kita-kita juga tau lu benernya cuma anak tukang kayu, ngapain nyebut-nyebut Kerajaan Sorga segala!"
Menyedihkan? Jelas. Sakit? Jelas.
Dampaknya negatif? Jelas. Tahu dari mana?
Sebuah ayat dari kutipan di atas (Markus 6:5) memperlihatkan betapa Yesus, manusia yang paling penuh kuasa Ilahi di muka bumi ini, bahkan 'tidak mampu' mengadakan satu pun mujizat di Nazaret, tanah kelahirannya, kecuali beberapa pekerjaan kecil-kecilan. Seorang Yesus yang kemampuannya berguna untuk membuat mujizat, tidak dapat menggunakan kemampuannya untuk menghasilkan dampak yang baik.
Siapa yang rugi? Yesus? Selain sakit hati dan kecewa, nampaknya tidak ada kerugian lain yang dialami Yesus.
Penduduk Nazaret? Jelas. Mereka kehilangan kesempatan untuk mengalami mujizat yang dibawa oleh Yesus. Jelas sebuah kerugian.
Ataukah mereka sebenarnya tidak membutuhkan mujizat tersebut? Apakah mereka merasa bahwa hidup sehari-hari mereka sudah cukup bisa diusahakan tanpa perlu adanya mujizat yang dibawa Yesus?
Apa memang sudah takdir seorang nabi? Versi lain dari kisah di atas dapat dilihat pada Injil Lukas 4:16-30. Yang menarik, Yesus di sini memaparkan:
24 Dan kata-Nya lagi: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.
25 Dan Aku berkata kepadamu, dan kata-Ku ini benar: Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri.
26 Tetapi Elia diutus bukan kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di Sarfat, di tanah Sidon.
27 Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang pun dari mereka yang ditahirkan, selain dari pada Naaman, orang Siria itu."
Apakah memang untuk orang-orang yang mengenalnya, seorang nabi tak lebih dari manusia biasa sehingga dianggap tidak cocok untuk menjadi penghubung Allah dan manusia?
Saya kembalikan kepada diri kita masing-masing untuk menjawabnya.
Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater - merdeka!
.
Keywords:
abstrak,
bacot,
HIMATEK,
kekristenan,
kemahasiswaan,
PdTK,
satir
Rabu, 22 April 2009
Inilah Suara Kami [Penarikan Aspirasi HIMATEK, termasuk Sedikit Aspirasi Pribadi, Kawan...]
Tulisan ini berisi kumpulan pendapat rekan-rekan HIMATEK untuk kerja Kabinet KM-ITB dan Anggota MWA Wakil Mahasiswa ITB setahun ke depan. Bahan diperoleh dari: 1. Wawancara langsung dengan sekitar 30 orang massa HIMATEK. 2. Polling Kongres yang diisi 100 orang. 3. Angket buatan sendiri yang diisi angkatan 2007 HIMATEK. Bersiaplah...
Hal terpenting yang disorot oleh massa HIMATEK adalah informasi. Informasi harus menjadi prioritas utama KM-ITB, ketika keterlibatan seluruh massa secara 100% kurang realistis, minimal 100% mahasiswa ITB mengetahui apa pekerjaan KM-ITB dan ke mana arah geraknya sekarang. Cara paling efektif untuk menyebarkan informasi itu antara lain:
- Sosialisasi dari mulut ke mulut adalah hal yang paling ampuh, menghilangkan kesan kaku, formal, dan eksklusif. Hal ini dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki informasi kepada teman dekat masing-masing.
- Sosialisasi dari mulut ke mulut juga dapat menjadi sarana penyampaian yang bebas 'bahasa dewa' yang berbelit-belit dan monoton, yang selama ini identik dengan kemahasiswaan terpusat di mata beberapa orang.
- Presiden KM dan kabinetnya, juga anggota MWA wakil mahasiswa dan timnya, (alias Ucup-Benny dkk) harus sering-sering mengunjungi himpunan dan mengajak bicara semua orang secara informal, untuk menimbulkan rasa kedekatan dan keterikatan orang. Tak kenal maka tak sayang, toh?
Ada yang mengeluhkan manajemen sumber daya oleh Kabinet KM-ITB yang selalu meminta orang untuk kepanitiaan, satgas, ataupun badan tertentu. Keluhannya adalah job desc pekerjaan yang dimaksud seringkali tidak diberikan sehingga kita hanya mengirim orang dan pada akhirnya terbengkalai sehingga orang tersebut tersia-siakan tenaganya dan malah cenderung berpikiran negatif terhadap kinerja Kabinet KM-ITB. Ada pula yang mengatakan bahwa kegiatan terpusat harus berbeda dengan himpunan, yaitu skala lebih besar, karena potensi KM-ITB khususnya Kabinet terlalu besar untuk mengadakan acara skala himpunan atau unit saja.
Mengenai hubungan kabinet dan himpunan, diharapkan Kabinet dapat mengadakan acara yang merupakan hasil koordinasi antar himpunan (tidak perlu ada pembentukan panitia khusus dari Kabinet). Kegiatan GFD yang diadakan bersama HIMATEK, HMTL, NYMPHAEA, U-GREEN dan GANESHA HIJAU dari Kabinet merupakan contoh yang masih dapat diperbaiki. Mengenai hubungan kabinet dan unit, diharapkan bahwa ketika mengadakan acara bersama diharapkan Kabinet menghilangkan kesan superioritas dan menunjukkan profesionalitas (ini didapat dari keluhan panitia Olimpiade dari unit).
Mengenai hubungan ke rektorat, KM-ITB harus mensinkronkan arah gerak dengan arah gerak ITB, yaitu menjadikan ITB world-class university. Untuk itu, KM-ITB diharuskan sering berdialog dengan pihak ITB agar dapat mengerti, apa bagian yang dapat dikerjakan KM-ITB untuk membantu terwujudnya visi ITB tersebut. Dengan demikian, pergerakan KM-ITB tidak terkesan sporadis dan berubah tiap kepengurusan tanpa arah yang benar-benar jelas, namun memiliki satu visi ke depan yang kuat.
Dari hasil polling ada 4 hal yang menarik:
1. 66% beraktivitas di himpunan dan hanya 9% di kemahasiswaan terpusat. Dari data, dapat disimpulkan bahwa pergerakan KM ITB berpotensi digunakan untuk mengkoordinir acara-acara himpunan dibanding mengadakan acara sendiri (lihat di atas).
2. Diskusi dan kajian merupakan hal yang paling tidak diminati (17%). Untuk mengatasinya, diskusi dan kajian harus dibuat lebih menarik dan mengena.
3. Hanya 1% yang ingin jadi politisi, PNS, dan birokrat; 56% merasa mahasiswa ITB apatis terhadap kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswa tidak tertarik pada politik dan pemerintahan.
4. Kebanyakan merasa mahasiswa ITB eksklusif (58%) dan sebagian besar karena alasan akademis; dan alasan utama kenapa harus berkontribusi terhadap bangsa dan negara adalah peran sebagai insan akademis (46%). Dapat dilihat bahwa keakademisan ini harus dijadikan senjata untuk berjuang, bukan menjadi hambatan.
Mengenai dana kemahasiswaan, yang terutama dituntut adalah transparansi dan publikasi besar-besaran. Kabinet sebagai pemegang dana hendaknya memberi dana lebih besar kepada himpunan atau unit yang berkembang, terutama yang berhasil mengembangkan keprofesiannya. Selain untuk insentif, hal itu juga berguna untuk membiayai pengembangan keprofesian.
INFORMASI, lagi-lagi menjadi hal yang utama untuk isu-isu eksternal. Massa kampus menuntut tahu setiap isu eksternal yang selama ini hanya diketahui jajaran tertentu saja. Bagaimana kita mau menyatakan sikap kepada UU BHP atau memberi saran tentang penyelamatan BakSil kalau yang tahu hanya segelintir orang, dan orang-orang yang sebenarnya dapat memberi masukan malah tidak mendapatkan informasi?
Untuk acara paling vital, yang seringkali dijadikan pangkal segala masalah kemahasiswaan kita: penyambutan mahasiswa baru a.k.a. INKM. HIMATEK berpendapat bahwa tujuan INKM yang paling penting ada 2 dan keduanya WAJIB tercapai:
- Penyadaran mahasiswa baru terhadap wawasan kebangsaan. Sadarkan mereka kalau kita belajar di kampus ini, disubsidi uang rakyat, tidak untuk kepentingan kita secara individual. Kita di sini sebagai orang-orang terpilih memiliki kemampuan dan kewajiban untuk berbakti kepada bangsa dan negara, bukan cuma menikmati pendidikan murah berkualitas lalu kabur. Ilmu yang kita pelajari di kuliah, difokuskan agar kita dapat menghasilkan sesuatu bagi negara kita; melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
- Penyadaran bahwa gerakan kemahasiswaan di kampus kita adalah gerakan mahasiswa yang solutif seperti dideskripsikan di atas. Hal ini untuk mencegah mahasiswa baru ITB terjebak stigma yang berlaku di media massa bahwa gerakan kemahasiswaan seringkali anarkis dan kerjanya demo saja, dan pada akhirnya mau bersama-sama berjalan dalam gerakan kemahasiswaan ITB baik di himpunan, unit, atau skala lain.
INKM mendatang juga harus menjamin bahwa peserta yang ikut adalah sejumlah besar mahasiswa baru ITB. Acara harus dikemas dengan menarik dan tidak membosankan, agar semua peserta memiliki motivasi untuk ikut. Dan yang terakhir, segala bentuk kaderisasi penerimaan mahasiswa baru seperti INKM, kaderisasi fakultas, dan PPAB tiap himpunan (osjur) harus dilegalkan.
Untuk sebuah badan yang bernama Tim Beasiswa, massa menuntut diberitahu secara jelas, makhluk apakah Tim Beasiswa itu? Kerjasama dengan alumni perlu sekali diusahakan, salah satunya berguna untuk memotong jalur birokrasi yang dirasa rumit oleh teman-teman yang pernah berurusan dengan Tim Beasiswa.
Titipan bagi rekan kita di MWA: perbanyak kursi untuk calon-calon mahasiswa yang berkualitas namun tidak mampu secara ekonomi. Dengan kondisi uang masuk USM semahal ini, rasanya cukup beralasan jika massa mengusulkan perbandingan jatah USM vs SPMB sebesar 1:1.
Stimulus untuk iklim keprofesian harus ditingkatkan untuk tiap prodi. Tidak perlu dalam satu proker tersendiri, pendekatan kultural mungkin lebih efektif. Koordinasi dengan dosen dirasa masuk akal dan perlu dicoba, karena merekalah yang lebih mengerti keprofesian.
Perubahan terlalu signifikan dari kepengurusan lama kurang dikehendaki karena akan menyita tenaga. Massa meminta agar poin-poin yang sudah bagus dan tidak terlalu mendesak untuk diubah agar tidak diutak-atik lagi, termasuk Gerakan Kebangkitan Nasional dan jargon KM-ITB Milik Semua!
Poin terakhir, dan salah satu yang paling krusial, adalah bagaimana sang Presiden, anggota MWA, dan para stafnya membawa citra KM-ITB ke massa kampus itu sendiri. Harus disadari bahwa untuk sebagian besar massa kampus, kemahasiswaan terpusat itu identik dengan beberapa hal yang kurang baik, di antaranya: rapat tidak efektif, lama, tidak terfokus pada tujuan, dan selalu berputar di hal yang tidak perlu. Kesemuanya itu harus diakui benar oleh pemegang tampuk kepemimpinan kemahasiswaan terpusat dengan besar hati dan tidak defensif dalam menyikapi opini massa ini. Lebih penting lagi, budaya yang berlawanan dengan hal-hal kurang baik di atas harus dipupuk: rapat efektif, singkat namun jelas, fokus pada inti permasalahan, dan utamakan selesai rapat dengan cepat namun mencapai sasaran. Ingat kawan, waktu adalah sumber daya alam tak terbarukan. Minyak bumi 100 juta tahun lagi masih bisa regenerasi, namun waktu tak dapat diputar kembali. Kalau mahasiswa ITB, garda terdepan kemahasiswaan Indonesia, tidak bisa mengatur waktunya dengan efektif... kapan Indonesia tersenyum? Budayakan tepat waktu untuk segala kegiatan.
Orang juga sering melihat kemahasiswaan terpusat identik dengan ajang pamer perseorangan. Seseorang turut berpartisipasi karena ingin dikenal, karena ingin dianggap hebat. Hal ini yang membuat forum seringkali berlarut-larut karena setiap orang ingin pendapatnya didengar, meskipun tak jarang inti perkataannya sama dengan orang-orang yang berbicara sebelum dirinya. Kembali lagi efisiensi waktu menjadi tanda tanya besar. Maka itu, tuluslah mengabdi. Itu hakikat kita sebagai mahasiswa.
Massa menginginkan KM untuk bersuara lantang ke luar, kalau bisa dengan publikasi bombastis lewat media massa. Hal ini selain memiliki tujuan eksternal, juga sebagai deklarasi ke dalam kampus ITB bahwa ada sebuah wadah persatuan mahasiswa bernama KM-ITB yang mewadahi kita-kita. Yang terakhir, proker sebisa mungkin dibuat yang menarik dan aspiratif. Jangan untuk orang-orang tertentu yang itu-itu saja. Ingat, kita semua KM-ITB, dan sebisa mungkin proker adalah untuk kita semua, untuk KM-ITB.
Terakhir... kami ingin mengucapkan selamat bertugas kepada rekan-rekan kami, Ridwansyah Yusuf Achmad sebagai Presiden KM, dan Benny Nafariza sebagai anggota MWA wakil mahasiswa. Kami percayakan arah gerak kemahasiswaan kami setahun ke depan, jangan sia-siakan itu...
Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater - Merdeka!
.
Hal terpenting yang disorot oleh massa HIMATEK adalah informasi. Informasi harus menjadi prioritas utama KM-ITB, ketika keterlibatan seluruh massa secara 100% kurang realistis, minimal 100% mahasiswa ITB mengetahui apa pekerjaan KM-ITB dan ke mana arah geraknya sekarang. Cara paling efektif untuk menyebarkan informasi itu antara lain:
- Sosialisasi dari mulut ke mulut adalah hal yang paling ampuh, menghilangkan kesan kaku, formal, dan eksklusif. Hal ini dapat dilakukan oleh orang-orang yang memiliki informasi kepada teman dekat masing-masing.
- Sosialisasi dari mulut ke mulut juga dapat menjadi sarana penyampaian yang bebas 'bahasa dewa' yang berbelit-belit dan monoton, yang selama ini identik dengan kemahasiswaan terpusat di mata beberapa orang.
- Presiden KM dan kabinetnya, juga anggota MWA wakil mahasiswa dan timnya, (alias Ucup-Benny dkk) harus sering-sering mengunjungi himpunan dan mengajak bicara semua orang secara informal, untuk menimbulkan rasa kedekatan dan keterikatan orang. Tak kenal maka tak sayang, toh?
Ada yang mengeluhkan manajemen sumber daya oleh Kabinet KM-ITB yang selalu meminta orang untuk kepanitiaan, satgas, ataupun badan tertentu. Keluhannya adalah job desc pekerjaan yang dimaksud seringkali tidak diberikan sehingga kita hanya mengirim orang dan pada akhirnya terbengkalai sehingga orang tersebut tersia-siakan tenaganya dan malah cenderung berpikiran negatif terhadap kinerja Kabinet KM-ITB. Ada pula yang mengatakan bahwa kegiatan terpusat harus berbeda dengan himpunan, yaitu skala lebih besar, karena potensi KM-ITB khususnya Kabinet terlalu besar untuk mengadakan acara skala himpunan atau unit saja.
Mengenai hubungan kabinet dan himpunan, diharapkan Kabinet dapat mengadakan acara yang merupakan hasil koordinasi antar himpunan (tidak perlu ada pembentukan panitia khusus dari Kabinet). Kegiatan GFD yang diadakan bersama HIMATEK, HMTL, NYMPHAEA, U-GREEN dan GANESHA HIJAU dari Kabinet merupakan contoh yang masih dapat diperbaiki. Mengenai hubungan kabinet dan unit, diharapkan bahwa ketika mengadakan acara bersama diharapkan Kabinet menghilangkan kesan superioritas dan menunjukkan profesionalitas (ini didapat dari keluhan panitia Olimpiade dari unit).
Mengenai hubungan ke rektorat, KM-ITB harus mensinkronkan arah gerak dengan arah gerak ITB, yaitu menjadikan ITB world-class university. Untuk itu, KM-ITB diharuskan sering berdialog dengan pihak ITB agar dapat mengerti, apa bagian yang dapat dikerjakan KM-ITB untuk membantu terwujudnya visi ITB tersebut. Dengan demikian, pergerakan KM-ITB tidak terkesan sporadis dan berubah tiap kepengurusan tanpa arah yang benar-benar jelas, namun memiliki satu visi ke depan yang kuat.
Dari hasil polling ada 4 hal yang menarik:
1. 66% beraktivitas di himpunan dan hanya 9% di kemahasiswaan terpusat. Dari data, dapat disimpulkan bahwa pergerakan KM ITB berpotensi digunakan untuk mengkoordinir acara-acara himpunan dibanding mengadakan acara sendiri (lihat di atas).
2. Diskusi dan kajian merupakan hal yang paling tidak diminati (17%). Untuk mengatasinya, diskusi dan kajian harus dibuat lebih menarik dan mengena.
3. Hanya 1% yang ingin jadi politisi, PNS, dan birokrat; 56% merasa mahasiswa ITB apatis terhadap kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswa tidak tertarik pada politik dan pemerintahan.
4. Kebanyakan merasa mahasiswa ITB eksklusif (58%) dan sebagian besar karena alasan akademis; dan alasan utama kenapa harus berkontribusi terhadap bangsa dan negara adalah peran sebagai insan akademis (46%). Dapat dilihat bahwa keakademisan ini harus dijadikan senjata untuk berjuang, bukan menjadi hambatan.
Mengenai dana kemahasiswaan, yang terutama dituntut adalah transparansi dan publikasi besar-besaran. Kabinet sebagai pemegang dana hendaknya memberi dana lebih besar kepada himpunan atau unit yang berkembang, terutama yang berhasil mengembangkan keprofesiannya. Selain untuk insentif, hal itu juga berguna untuk membiayai pengembangan keprofesian.
INFORMASI, lagi-lagi menjadi hal yang utama untuk isu-isu eksternal. Massa kampus menuntut tahu setiap isu eksternal yang selama ini hanya diketahui jajaran tertentu saja. Bagaimana kita mau menyatakan sikap kepada UU BHP atau memberi saran tentang penyelamatan BakSil kalau yang tahu hanya segelintir orang, dan orang-orang yang sebenarnya dapat memberi masukan malah tidak mendapatkan informasi?
Untuk acara paling vital, yang seringkali dijadikan pangkal segala masalah kemahasiswaan kita: penyambutan mahasiswa baru a.k.a. INKM. HIMATEK berpendapat bahwa tujuan INKM yang paling penting ada 2 dan keduanya WAJIB tercapai:
- Penyadaran mahasiswa baru terhadap wawasan kebangsaan. Sadarkan mereka kalau kita belajar di kampus ini, disubsidi uang rakyat, tidak untuk kepentingan kita secara individual. Kita di sini sebagai orang-orang terpilih memiliki kemampuan dan kewajiban untuk berbakti kepada bangsa dan negara, bukan cuma menikmati pendidikan murah berkualitas lalu kabur. Ilmu yang kita pelajari di kuliah, difokuskan agar kita dapat menghasilkan sesuatu bagi negara kita; melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
- Penyadaran bahwa gerakan kemahasiswaan di kampus kita adalah gerakan mahasiswa yang solutif seperti dideskripsikan di atas. Hal ini untuk mencegah mahasiswa baru ITB terjebak stigma yang berlaku di media massa bahwa gerakan kemahasiswaan seringkali anarkis dan kerjanya demo saja, dan pada akhirnya mau bersama-sama berjalan dalam gerakan kemahasiswaan ITB baik di himpunan, unit, atau skala lain.
INKM mendatang juga harus menjamin bahwa peserta yang ikut adalah sejumlah besar mahasiswa baru ITB. Acara harus dikemas dengan menarik dan tidak membosankan, agar semua peserta memiliki motivasi untuk ikut. Dan yang terakhir, segala bentuk kaderisasi penerimaan mahasiswa baru seperti INKM, kaderisasi fakultas, dan PPAB tiap himpunan (osjur) harus dilegalkan.
Untuk sebuah badan yang bernama Tim Beasiswa, massa menuntut diberitahu secara jelas, makhluk apakah Tim Beasiswa itu? Kerjasama dengan alumni perlu sekali diusahakan, salah satunya berguna untuk memotong jalur birokrasi yang dirasa rumit oleh teman-teman yang pernah berurusan dengan Tim Beasiswa.
Titipan bagi rekan kita di MWA: perbanyak kursi untuk calon-calon mahasiswa yang berkualitas namun tidak mampu secara ekonomi. Dengan kondisi uang masuk USM semahal ini, rasanya cukup beralasan jika massa mengusulkan perbandingan jatah USM vs SPMB sebesar 1:1.
Stimulus untuk iklim keprofesian harus ditingkatkan untuk tiap prodi. Tidak perlu dalam satu proker tersendiri, pendekatan kultural mungkin lebih efektif. Koordinasi dengan dosen dirasa masuk akal dan perlu dicoba, karena merekalah yang lebih mengerti keprofesian.
Perubahan terlalu signifikan dari kepengurusan lama kurang dikehendaki karena akan menyita tenaga. Massa meminta agar poin-poin yang sudah bagus dan tidak terlalu mendesak untuk diubah agar tidak diutak-atik lagi, termasuk Gerakan Kebangkitan Nasional dan jargon KM-ITB Milik Semua!
Poin terakhir, dan salah satu yang paling krusial, adalah bagaimana sang Presiden, anggota MWA, dan para stafnya membawa citra KM-ITB ke massa kampus itu sendiri. Harus disadari bahwa untuk sebagian besar massa kampus, kemahasiswaan terpusat itu identik dengan beberapa hal yang kurang baik, di antaranya: rapat tidak efektif, lama, tidak terfokus pada tujuan, dan selalu berputar di hal yang tidak perlu. Kesemuanya itu harus diakui benar oleh pemegang tampuk kepemimpinan kemahasiswaan terpusat dengan besar hati dan tidak defensif dalam menyikapi opini massa ini. Lebih penting lagi, budaya yang berlawanan dengan hal-hal kurang baik di atas harus dipupuk: rapat efektif, singkat namun jelas, fokus pada inti permasalahan, dan utamakan selesai rapat dengan cepat namun mencapai sasaran. Ingat kawan, waktu adalah sumber daya alam tak terbarukan. Minyak bumi 100 juta tahun lagi masih bisa regenerasi, namun waktu tak dapat diputar kembali. Kalau mahasiswa ITB, garda terdepan kemahasiswaan Indonesia, tidak bisa mengatur waktunya dengan efektif... kapan Indonesia tersenyum? Budayakan tepat waktu untuk segala kegiatan.
Orang juga sering melihat kemahasiswaan terpusat identik dengan ajang pamer perseorangan. Seseorang turut berpartisipasi karena ingin dikenal, karena ingin dianggap hebat. Hal ini yang membuat forum seringkali berlarut-larut karena setiap orang ingin pendapatnya didengar, meskipun tak jarang inti perkataannya sama dengan orang-orang yang berbicara sebelum dirinya. Kembali lagi efisiensi waktu menjadi tanda tanya besar. Maka itu, tuluslah mengabdi. Itu hakikat kita sebagai mahasiswa.
Massa menginginkan KM untuk bersuara lantang ke luar, kalau bisa dengan publikasi bombastis lewat media massa. Hal ini selain memiliki tujuan eksternal, juga sebagai deklarasi ke dalam kampus ITB bahwa ada sebuah wadah persatuan mahasiswa bernama KM-ITB yang mewadahi kita-kita. Yang terakhir, proker sebisa mungkin dibuat yang menarik dan aspiratif. Jangan untuk orang-orang tertentu yang itu-itu saja. Ingat, kita semua KM-ITB, dan sebisa mungkin proker adalah untuk kita semua, untuk KM-ITB.
Terakhir... kami ingin mengucapkan selamat bertugas kepada rekan-rekan kami, Ridwansyah Yusuf Achmad sebagai Presiden KM, dan Benny Nafariza sebagai anggota MWA wakil mahasiswa. Kami percayakan arah gerak kemahasiswaan kami setahun ke depan, jangan sia-siakan itu...
Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater - Merdeka!
.
Langganan:
Postingan (Atom)