Minggu, 20 Maret 2011

Dari Teknik Kimia

... saya belajar banyak.


Dari Termodinamika, saya belajar tentang jarak antara idealisme dan kenyataan, serta bagaimana memperkecilnya.

Dari Komputasi, saya belajar untuk memakai hasil kegagalan sebagai landasan untuk terus mencoba hingga mendapatkan hal yang dicari.

Dari Analisis Matematika, saya belajar membuat solusi sistematik dengan menempatkan setiap permasalahan ke dalam bentuk yang dapat diukur.

Dari Neraca Massa dan Energi, saya belajar bahwa dalam hidup ini tidak ada yang namanya kehilangan, yang ada hanya pergantian bentuk.

Dari Pengukuran dan Interpretasi Data, saya belajar bahwa tidak ada kebenaran mutlak, semua tergantung pada sudut pandang dan tingkat keyakinan masing-masing.

Dari Mekanika Fluida, saya belajar untuk membandingkan tiap hal pada konteksnya masing-masing secara relatif dan fleksibel, menurut konsep bilangan tak berdimensi.

Dari Kinetika dan Katalisis, saya belajar untuk tak meninggalkan seorang pun di belakang, karena taraf kemajuan komunitas ditentukan oleh elemennya yang paling lambat kemajuannya.

Dari Perpindahan Kalor, saya belajar bahwa daya tampung seseorang dibatasi tak hanya oleh seberapa cepat ia dapat menyerap sesuatu, namun juga oleh seberapa besar kapasitasnya untuk menampung apa yang ia serap.

Dari Sistem Utilitas, saya belajar bahwa setiap orang hebat membutuhkan jauh lebih banyak orang, yang berperan untuk menjadikannya hebat.

Dari Teknik Reaksi, saya belajar bahwa semakin panas dan menekan situasinya, orang akan lebih cepat bereaksi.

Dari Pemisahan, saya belajar untuk memisahkan hal-hal yang sulit dipisahkan, dengan mengidentifikasi karakter utama yang menjadi perbedaan.

Dari Pengendalian Proses, saya belajar mengenali gangguan dan menyesuaikan diri dengannya, sambil tak lupa menjaga terus nilai-nilai yang dipegang.

Dari Rekayasa Produk, saya belajar bagaimana melakukan brainstorming dan seleksi ide untuk pemenuhan kebutuhan.

Dari Peristiwa Perpindahan, saya belajar bahwa perpindahan yang baik tak hanya memerlukan perbedaan kualitas dan besarnya sarana perpindahan, namun tetap bergantung pada sifat asli masing-masing pribadi.

Dari Industri Kimia, saya belajar mengenali dan mendayagunakan potensi yang ada pada tiap-tiap sesuatu, serta memberinya nilai tambah.

Dari Pengelolaan Limbah, saya belajar memahami bahwa tidak ada orang yang tidak berguna, dan bahkan yang paling hina pun akan bermanfaat jika diperlakukan dengan benar.

Dari Evaluasi Ekonomi, saya belajar untuk lebih menghargai sedikit hal yang saya miliki saat ini, daripada banyak hal yang baru akan saya miliki nanti.

Dari Ilmu Perancangan, saya belajar terus mempertanyakan esensi, namun tak lupa membangun kepercayaan diri dengan berani membuat asumsi.



Dari Konsep Teknologi, saya dituntun untuk mengenali semua hal di atas, bahwa ilmu teknik adalah ilmu alam, bahwa manusia pun bagian dari alam. Bahwa mempelajari ilmu teknik adalah mempelajari alam, bahwa mempelajari alam adalah mempelajari manusia ...



... dan bahwa dari Teknik Kimia, saya belajar akan kemanusiaan. Dari Teknik Kimia, saya belajar akan kehidupan.




Ville de Tonnere, 20/21 - 3 - 2011

Didedikasikan untuk
para maestro Teknik Kimia Indonesia
yang sudi membagikan ilmu-ilmunya kepada saya:
dosen-dosen Teknik Kimia ITB



.

Minggu, 10 Oktober 2010

Pemimpin Yang Terkaya

Berikut ini ada sebuah cerita yang diambil dari lirik sebuah lagu Jerman kuno, lagu daerah Wuerttemberg (Stuttgart dan sekitarnya). Berbeda dari lirik lagu-lagu daerah atau kebangsaan lain yang mengagung-agungkan daerah sendiri dan tak pernah memuji kehebatan daerah lainnya... namun bukan itu poin yang ingin diangkat. Mungkin disimak saja terlebih dahulu.

Himne Wuerttemberg - Memuji Dengan Banyak Cakap

Memuji dengan banyak cakap
tentang hebat dan besarnya negeri mereka,
ialah para penguasa Jerman yang duduk
pada jaman dahulu kala di Balairung Kekaisaran

"Betapa dahsyatnya," berbicara Pangeran Saksen
"negeriku dan segala kegemilangannya!
Perak menghiasi gunung-gunungnya
hingga ke liang-liangnya yang terdalam!"

"Lihatlah negeriku dalam gelimang hartanya!"
berbicara Adipati Lembah Rhein
"Di lembah-lembah, panen jagung dan gandum keemasan,
di gunung-gunung, panen anggur nan mulia!"

"Kota-kota besar, istana-istana kaya!"
Ludwig, Raja Bayern, berbicara
"Sedemikian hingga harta benda negeriku
melebihi hasil padang-padang dan gunung-gunung kalian."

Eberhard yang berjanggut,
penguasa Wuerttemberg yang tercinta,
berbicara "Di negeriku, kota-kotanya kecil.
Bukit-bukitnya pun tak mengandung perak.

Namun ada permata yang tersembunyi,
dalam hutan negeriku yang lebat, namun begitu hebat,
yaitu dalam pangkuan tiap rakyatku hingga yang terjelata
di mana aku dengan aman dapat meletakkan kepalaku."

Dan berserulah penguasa Saksen,
penguasa Bayern, dan penguasa Rhein
"Pangeran berjanggut, engkaulah yang terkaya!
Permata negerimulah yang termulia!"


Apa yang bisa didapat dari lagu ini? Yaitu bahwa sang pengarangnya (Herr Justinus Kerner) menganggap bahwa pemimpin yang beruntung, yang terkaya, bukanlah diukur dari apakah dipimpinnya yang terbaik di dunia, kaya raya, atau sejenisnya. Bukan saat negerinya menjadi makmur, kaya perak, atau kaya bahan pangan. Tetapi pemimpin yang beruntung, yang mendapat penghargaan tertinggi, adalah pemimpin ia merasa dicintai sangat oleh rakyatnya, sampai-sampai ia merasa aman dan tidak takut diapa-apakan jika harus tidur meletakkan kepalanya di pangkuan rakyatnya yang manapun.

Untuk yang tertarik mendengarkan lagunya, ini ada versi modernnya, dinyanyikan band lokal Rote Tor Fraktion (Kelompok Gol Merah), yang merupakan fans fanatik klub bola lokal VfB Stuttgart. Dan mereka menambahkan bait kedelapan yang kira-kira isinya:

Dengarlah hai Wuerttemberg nan berani dan setia
(dan karena itu aku selalu berdiri untukmu)
Raja sepakbola berselempang samir
ialah VfB-ku tercinta!




http://www.youtube.com/watch?v=XkkLos3Bnb0

Dan lirik lengkapnya dalam bahasa Jerman:

Württemberger Hymne - Preisend Mit Viel Schönen Reden

Preisend mit viel schönen Reden
Ihrer Länder Wert und Zahl,
Saßen viele deutsche Fürsten
Einst zu Worms im Kaisersaal.

„Herrlich“, sprach der Fürst von Sachsen,
„Ist mein Land und seine Macht;
Silber hegen seine Berge
Wohl in manchem tiefen Schacht.“

„Seht mein Land in üppiger Fülle,“
Sprach der Kurfürst von dem Rhein,
„Goldne Saaten in den Tälern,
Auf den Bergen edlen Wein!“

„Große Städte, reiche Klöster!“,
Ludwig, Herr zu Bayern sprach.
„Schaffen, daß mein Land dem euren
wohl nicht steht an Schätzen nach.“

Eberhard, der mit dem Barte,
Württembergs geliebter Herr,
Sprach: „Mein Land hat kleine Städte,
Trägt nicht Berge silberschwer;

Doch ein Kleinod hält's verborgen:
Daß in Wäldern, noch so groß,
Ich mein Haupt kann kühnlich legen
Jedem Untertan in Schoß.“

Und es rief der Herr von Sachsen,
Der von Bayern, der vom Rhein:
„Graf im Bart! Ihr seid der Reichste!
Euer Land trägt Edelstein!“

Württemberg furtchlos und treu,
weil Ich immer zu dir steh,
König Fußball trägt den Brüstring
Mein geliebter Vfb!




.

Rabu, 29 September 2010

Selamat

Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan selamat kepada kakak-kakak dan rekan-rekan lulusan Teknik Kimia ITB, September 2010. Selamat atas gelar Sarjana Teknik yang diraih, semoga dapat menjadi bekal untuk mengejar mimpi-mimpinya, menjadi awal perjalanannya di dunia nyata.

GIGI - Sang Pemimpi

Sambut hari baru di depanmu
Sang pemimpi siap 'tuk melangkah
Raih tanganku jika kau ragu
Bila terjatuh ku 'kan menjaga

Kita telah berjanji bersama taklukkan dunia ini
Menghadapi segala tantangan bersama... Mengejar mimpi-mimpi!

Berteriaklah hai sang pemimpi
Kita takkan berhenti di sini

Kita telah berjanji bersama taklukkan dunia ini
Menghadapi segala tantangan bersama...

Bersyukurlah pada Yang Maha Kuasa,
hargailah orang-orang yang menyayangimu,
yang selalu ada, setia di sisimu
Siapapun jangan kau pernah sakiti
dalam pencarian jati dirimu dan semua
yang kau impikan
Tegarlah, sang pemimpi!




Best regards
Adri Kristian, ST.


.

Kamis, 16 September 2010

Berdirinya Kota Pajajaran

Maka, di sini
dirikanlah olehmu sebuah kota
namailah ia Bogor
sebab bogor berarti tunggul aren

Tunggul aren itu
memang tak ada artinya
tak penting untuk yang tak tahu

Alasannya itu
mengapa harus bernama Bogor
sebab bogor itu
dibuat obor tak akan berapi
padam pun tidak, hanya membara
yang untuk mengusir serangga pun, asapnya tak cukup

Tapi jika dibuat tiang rumah
sanggup bertahan berwindu-windu
tak lekang dimakan waktu

Jika tersandung
Dijamin borok yang menyandung
takkan hilang cepat itu lukanya

Jika tertendang
Dijamin rusak kaki yang menendang
takkan sembuh cepat itu kakinya

Tapi, jika diinjak-injak?
Asal tahu saja
sampai besoknya, bahkan sampai lusanya
akan jalan merangkak itu orang
biar jadi pelajaran bagi yang congkak

Nah, begitu!
Namailah olehmu kota itu
Kota Bogor!



(sebuah terjemahan dari bahasa Sunda)




.

Jumat, 04 Juni 2010

Produksi Enzim Amilase dan Hidrolisis Pati Secara Simultan dalam Sistem Kontinu - Abstrak

Untuk menghilangkan ketergantungan dunia terhadap bahan bakar minyak, perlu dilakukan pengembangan produksi bahan-bahan bakar alternatif, salah satunya yang telah dikembangkan yaitu bioetanol sebagai pengganti bensin. Bioetanol dapat diproduksi dari bahan-bahan alami murah seperti pati. Ada dua tahapan pemrosesan pati menjadi bioetanol, yaitu hidrolisis pati menjadi glukosa dan fermentasi glukosa menjadi etanol. Hidrolisis pati dapat dikatalisis oleh enzim amilase yang hingga saat ini belum dapat diproduksi di Indonesia, padahal produksinya secara lokal penting bagi kelangsungan industri bioetanol Indonesia dan untuk melepaskan sebagian ketergantungan Indonesia pada bahan bakar minyak. Untuk mendapatkan enzim amilase yang murah, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan sistem kontinu. Penelitian ini bertujuan mengembangkan sistem kontinu produksi amilase serta menguji pengaruh laju alir dan konsentrasi substrat terhadap produksi enzim.

Penelitian ini dilakukan dengan merancang sebuah sistem produksi enzim amilase dalam sebuah fermentor secara kontinu dan mengujinya. Digunakan mikroorganisme Aspergillus niger ITBCCL 74 dan tepung tapioka sebagai sumber pati. Variasi yang digunakan adalah variasi konsentrasi substrat pati pada umpan (20 dan 40 g/L) serta laju alir volumetrik umpan (300, 600, dan 900 mL/jam). Analisis dilakukan dengan pengukuran konsentrasi pati dan aktivitas enzim menggunakan reagen iodin dan spektrofotometer pada 550 nm. Hasil hidrolisis juga diuji aktivitasnya pada temperatur kamar dan 60'C, serta dicoba difermentasi dengan ragi Saccharomyces cerevisiae.

Hasil penelitian ini adalah sebuah sistem kontinu yang terbukti dapat memproduksi enzim amilase dan menghidrolisis pati. Dari variasi yang diujikan, aktivitas enzim didapat paling tinggi pada laju alir 900 mL/jam dan konsentrasi pati 20 g/L. Enzim amilase yang dihasilkan memiliki aktivitas lebih tinggi namun denaturasi lebih cepat pada 60'C. Hasil hidrolisis juga terbukti dapat difermentasi menjadi etanol dengan baik. Dengan adanya sistem ini, produksi enzim amilase dan hidrolisis pati dapat dilakukan secara bersama-sama tanpa produksi enzim secara terpisah untuk baru kemudian digunakan untuk hidrolisis.

Kata kunci : bioreaktor kontinu, enzim amilase, Aspergillus niger

Minggu, 02 Mei 2010

Beri Aku Seberkas Mentari

Di sepanjang hidupku
Hidup serasa bukan hidup
Biarkan aku hidup benar-benar hidup
Sekali saja, sekali saja

Masa kecilku hilang
Masa mudaku pun hilang
Biarkan aku hidup benar-benar hidup
Sekali saja, sekali saja

Beratnya buku-buku mematahkan bahuku
Bahkan suap pun, ayahku yang mengajarkan:
Nilai 100 berarti jam tangan baru
Kurang dari itu berarti pukulan tongkat

Dengan terus menulis dan menulis
A-B-C-D tergoreskan di telapak tanganku
Asam sulfat pekat perih
membakar masa kanak-kanakku

Beri aku seberkas mentari, beri aku setitik hujan
Beri aku kesempatan, aku mau hidup sekali lagi

Minggu, 25 April 2010

Mereka Mendidik Kita Dengan Berbagai Cara

Waktu Bung Karno memerdekakan Indonesia,

beliau tak hanya memerdekakan Indonesia agar generasi muda Indonesia tak bekerja keras dengan dalih tidak ada lagi penjajah yang memaksa kita untuk bekerja keras.


Waktu Kartini memperjuangkan agar kaumnya dapat bersekolah sederajat dengan lelaki,

beliau pasti tidak memperjuangkan kaumnya agar dapat bersekolah hanya untuk mengharap berkenalan dengan calon suami yang mapan dan bermasa depan cerah di kampus.


Waktu Ki Hajar Dewantara mendirikan Taman Siswa agar semua anak bangsa bisa belajar baca tulis,

tentu beliau tidak mengharap bahwa putra-putri terbaik bangsanya kelak akan malas membaca panjang-panjang dan tak becus merangkai kata dalam karya tulis.


Waktu Soe Hok Gie berdiskusi dengan alam yang lirih, dan mengkritisi pemerintah dengan tak pandang bulu siapa presidennya,

beliau mengajarkan bahwa kata maha di depan siswa jauh terlalu besar untuk disandang pemuda yang hanya peduli tentang apa yang ia dapat di bangku kuliah tanpa peduli apa hubungan ilmu-ilmu yang ia dapatkan itu dengan kondisi negaranya dan alam semesta ciptaan Tuhan.



Waktu Kartini menulis "Habis Gelap Terbitlah Terang",

beliau tidak mengharapkan kita menjalankan pendidikan sambil mengeluh, namun supaya kita menjalaninya dengan semangat dan harapan bahwa pendidikan akan membawa kita ke masa depan yang lebih cerah.


Waktu Bung Karno berkata: "Gantungkan cita-citamu setinggi langit",

cita-cita setinggi langit yang beliau maksudkan tentu bukan sekadar agar adik-adik kelasnya puas dengan pekerjaan yang sampai pensiun pun manfaatnya hanya terasa oleh anak, istri, dan orang tuanya saja.


Waktu Ki Hajar Dewantara berfilsafat: "Ing ngarso sing tulodo",

beliau berpesan agar kita menjadi contoh bagi orang-orang yang tingkatannya berada di bawah kita, bukan malah membuat mereka mengutuki kenapa orang-orang seperti kita yang ditempatkan Tuhan berada di atas mereka.

Waktu beliau bertutur: "Ing madyo mangun karso",

beliau berpesan agar kita menjadi rekan yang membangun suasana kondusif untuk pengembangan diri teman-teman kita, bukan malah merusaknya dengan menjatuhkan mental tiap kali ada rekan kita yang sedang berusaha menggapai cita-cita.

Dan waktu beliau berkata: "Tut wuri handayani",

beliau berpesan agar kita meskipun tidak menjadi tokoh utama dalam suatu hal, hendaknya kita berbuat semaksimal mungkin untuk mendukung keterlaksanaan hal tersebut, bukan hanya berdiam diri dan tidak berkontribusi apa-apa.


Waktu Soe Hok Gie berkata: "Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan",

beliau tidak mencontohkan bahwa kita, mahasiswa, hanya berbicara dan bertindak sesuai apa yang diinginkan orang, melainkan seharusnya berbicara sesuai apa yang kita pikirkan, dan bertindak sesuai apa yang kita bicarakan.




Memperingati
131 tahun Raden Ajeng Kartini
111 tahun Ki Hajar Dewantara
dan 41 tahun perayaan Hari Bumi





.

Rabu, 21 April 2010

Kisah Bayu dan Pertiwi

Melayang bebas ke pelosok dunia,
menebar pandang ke alam hidup manusia.
Inilah tutur kisah sang Bayu,
yang ingin bercerita tentang Pertiwi.

-------------------------------------

Sang Bayu berkelana ke puncak-puncak Himalaya,
menghembus hingga kedalaman Lautan Teduh.
Lebat rimba Amazon dan terik Gurun Sahara,
padang rumput Serengeti dan padang es Siberia.
Salju di Puncak Carstenz dan ombak laut Pantai Sanur,
oh, begitu ragamnya alam bumi ini.

Kota-kota besar pusat aktivitas manusia;
New York, London, Paris, Jakarta.
Pusat kecanggihan industri dan teknologi;
Tokyo, Shanghai, Dubai.
Kota-kota suci nan agung dan megah;
Vatikan, Makkah, Borobudur.

Perjalanan sang Bayu terus berlanjut...

Berjumpa terik mentari Antartika,
di mana freon menaklukkan ozon.
Menyapa hitamnya lepas pantai Alaska,
hasil muntahan tanker Exxon Valdez.

Mengamati Danau Aral yang kini menjadi daratan,
mengering karena polusi dan pembangunan.
Melihat anak-anak dan orang-orang cacat,
akibat thalidomide dan kasus Minamata.

Menatap lubang-lubang suram
bekas galian timah di Pulau Bangka.
Mengaduh sakit ketika bertemu timbal
dan berjuta gas racun di udara Jakarta.
Melirik miris kepada rakyat
dan tumpukan lumpur di Porong.

Mengelilingi hutan gundul Pulau Jawa,
yang seratus tahun lalu masih hijau
bak Zamrud Khatulistiwa.

Menyusur pekatnya Sungai Citarum,
yang dimuntahi berton-ton BOD dan COD
buangan industri kecil dan besar.

...............

Dan Bayu pun menatap Pertiwi,
yang telah renta dan letih
bagaikan seorang ibu di kala senja hidupnya,
yang telah cukup direpotkan anak-anaknya yang manja.

Dan telah bersiap untuk mati saja,
agar tak tertekan pahit getirnya hidup
serta beban untuk terus menerima
tahi dan air kencing anak-anaknya, umat manusia.

Dan Pertiwi pun menjawab Bayu,
ia tak bisa berbuat apa-apa
selain meratapi dekat ajalnya,
dan menyesali begitu banyak hal:

Menyesali industri plastik yang berproduksi ratusan juta ton per tahun.
Menyumpahi milyaran ton karbon dioksida yang dihempas ke atmosfir.
Menyerapahi para ilmuwan dan ahli riset
yang menemukan CFC, TEL, dan DDT.

Memandang sedih ke perancang pabrik
yang melegalkan suap demi lulus AMDAL.
Menatap malu ke insinyur operasional
yang melakukan midnight discharge.

Mengutuk insinyur kimia yang tak becus merancang alat,
mengutuk insinyur kimia yang tak becus merancang proses.
Sehingga industri kimia menjadi boros energi,
sehingga industri kimia menjadi boros bahan baku,
sehingga industri kimia menghasilkan banyak limbah,
sehingga Pertiwi pun semakin renta.

Mengutuk calon-calon insinyur
yang kerap bolos ataupun tidur saat kuliah
sehingga tak becus merancang alat dan merancang proses.

Menghela napas bagi mahasiswa,
yang katanya generasi muda penerus bangsa,
namun masih mempertanyakan signifikansi
dari cinta lingkungan dan hemat energi.

Menghela napas bagi kaum cendekia
yang dengan dalih kerasnya realita hidup
menggerogoti Pertiwi yang renta ini
dengan alasan demi mencari sesuap nasi
yang bahkan mereka sendiri lupa
bahwa nasi pun berasal dari Ibu Pertiwi.

......................................
(ayo, menghela napas!)





PS: dibuat dalam rangka menghindar sejenak dari beban tugas-tugas besar, penelitian, dan rancang pabrik; serta untuk meramaikan event KINTARI HIMATEK - kategori: bumi. Maaf jika tidak inspiratif... semoga bisa memacu yang lain untuk membuat yang lebih berkualitas dan inspiratif.

Çiçekşehir, 21-24 April 2010
Alfonso
cita-citanya sih Green Engineer



.

Selasa, 06 April 2010

Kacamata Hitam

Aku terjebak, kawan. Di dunia ini.

Di sini dunia yang tak mengenal aturan. Di sini dunia tanpa tatanan. Di sini tatanannya hanyalah ketidakpastian dan praduga.

Di sini.

Di mana bernyanyi menyakitkan telinga, namun diam menyakitkan mata.

Di mana yang peduli dianggap sok ikut campur, dan yang tak suka ikut campur dianggap tak peduli.

Di mana kemalasan dianggap sebagai kekurangan, namun kerajinan menjadi aib.

Di mana kebanggaan dicap sebagai kesombongan, namun rendah hati sama dengan rendah diri.

Di mana yang berani berbicara dicap tak berpikir panjang, namun kehati-hatian dianggap sebagai tanda apatisme.

Di mana upaya memancing tawa bisa berarti sok gaul, sementara yang tak berkomentar dianggap tak gaul.

Di mana yang berani deklarasi dianggap hanya mengumbar janji, sementara yang tak mau asal janji dianggap tak punya target.

Di mana orang yang tak berkawan dicap anti sosial, sementara orang yang berkawan dianggap eksklusif.

Di mana orang yang tak mau mengaku salah dicap tak tahu diri, sementara orang yang mau mengaku salah dianggap pecundang.

Di mana yang terus berusaha dianggap tak tahu batas, dan yang cepat merasa puas dicap tak tahu diuntung.

Di mana yang beragama dituntut menjadi santo, namun yang berdosa langsung dilempar ke neraka jahanam.

Di mana berdiri di kiri diserang yang kanan, berdiri di kanan diserang yang kiri, dan berdiri di tengah diserang kiri kanan.

Di mana yang di dalam tak mau keluar, sementara yang di luar malas melihat ke dalam, dan lagi-lagi yang di tengah mondar-mandir ke luar dan ke dalam.

Di mana lawan kata idealis adalah realis, lawan kata abstrak adalah konkrit, lawan kata konsep adalah teknis, lawan kata pemikir adalah pekerja, lawan kata tampilan adalah esensi.... dan lawan kata aku adalah dunia.

Di mana integritas didewakan dalam segala situasi, sehingga sang pemenang adalah dia yang tak pernah berpikir, berbicara, dan bertindak... karena nol sama dengan nol.



Lutetia Iavanicus, 6-4-2010 AD
Poëta





.

Rabu, 31 Maret 2010

That Thing You Do!

*Personal request dari teman dekat... I'm doing the best that I can*

Seringkali, bahkan setiap kali kamu ngelakuin hal itu, hatiku hancur berkeping-keping. Dan aku tahu sebenernya kamu nggak bermaksud jahat dengan hal itu, cuma memang kamu nggak tahu betapa aku sakit kepala tiap ngeliat kamu kayak begitu.

Aku selalu, terus berusaha buat ngelupain kamu, tapi susah banget... setiap kali kamu ngelakuin itu lagi, lagi, dan lagi.

Aku udah tahu kamu luar dalam, dan aku yakin suatu saat nanti bisa bikin kamu tahu, bahwa kamu akan jadi milikku suatu hari nanti... Karena, kamu sadar nggak sih, bahwa kita berdua emang cocok? Yah, andai saja kamu mau jadi milikku satu-satunya...

Aku nggak minta banyak kok, cuma satu yang kuminta yaitu cinta... dan ternyata itu memang susah banget, dan aku udah capek...

Udah cukup kesel, capek, makan ati tiap kali ngeliat kamu selalu jalan bareng orang lain, dan kamu selalu ngelakuin itu, dan aku udah capek, dan nampaknya habis perkara...

New Found Glory - That Thing You Do!

You, doin' that thing you do
Breaking my heart into a million pieces
Like you always do

And you don't mean to be cruel
You never even knew about the heartache
I've been going through


Well i try and try to forget you girl
But it's just so hard to do
Every time you do that thing you do

I know all the games you play
And i'm gonna find a way to let you know
That you'll be mine someday

'cause we could be happy can't you see?
If you'd only let me be the one to hold you
And keep you here with me

'cause i try and try to forget you girl
But it's just so hard to do
Every time you do that thing you do

I don't ask a lot girl
But i know one thing's for sure
It's the love I haven't got girl
And i just can't take it anymore

'cause we could be happy can't you see?
If you'd only let me be the one to hold you
And keep you here with me

'cause it hurts me so just to see you go
Around with someone new
And if i know you you're doin' that thing
Every day just doin' that thing
I can't take you doing that thing you do



-in the middle of hailstorm-
March 31st, 2010



.

Sabtu, 27 Maret 2010

Produksi Limbah HIMATEK

Sebenarnya sudah lama sekali hal ini terjadi. Benar, lama sekali.

Mungkin sudah berbulan-bulan hal seperti ini terjadi.

Dan dari sejak pertama ini terjadi tangan saya sudah gatal sekali. Ingin bersuara dari hati.

Namun saya masih bisa menahan diri. Ya, mungkin saja kita ini sedang khilaf semua.

Namun ini sudah kelewat batas.

Ya, sudah keterlaluan.

APAAN SIH?

-----------------------------

Jadi seringkali gw melihat banyak botol-botol tergeletak di sekitar himpunan. Banyak. Di meja hotspot, di dalam sekre, di meja... di mana-mana, asal bukan di tempat sampah deh.

Oke gw ga akan mulai ceramah soal produksi limbah plastik bla bla bla. Biarlah itu jadi bagian teman-teman lain. Lagipula plastik bisa didaur ulang atau diinsinerasi. Tapi, yang bikin gw (mungkin teman-teman nggak) miris adalah...

Hampir sebagian besar itu terisi air lebih dari 50%nya! SETENGAH LEBIH!!! Dan DIBUANG BEGITU SAJA!!!

Nih kita lihat:









Karena ini yang di sekitar meja him, ini pasti kelakuan anak HIMATEK. Belum ditambah yang di meja hotspot.

Hai kawan...

Tahu nggak kesulitan orang-orang untuk dapat air bersih? Tahu nggak bahwa kita buang-buang air di saat orang-orang kesulitan untuk mendapatkannya?

Di sini, kita enak-enakan buang-buang air... dan bukan cuma air, tapi air KELAS SATU!! Air minum, bukan air irigasi, bukan air rekreasi, bukan air perikanan, bukan air cuci, bukan air WC, bukan air mentah, tapi AIR MINUM!

Sekarang, ayo kita berhitung (meskipun mungkin kita udah bosan berhitung di kelas)...

Volume 1 botol minum = 600 mL
Rata2 isi sisa botol minum yang dibuang = 50%
Jumlah botol yang dibuang per hari = sekitar 20-30
Rata2 air yang terbuang PERCUMA tiap hari = 50% x 600 mL x 20 s/d 30 = 6-12 L

6-12 liter sehari tuh gede... klo dikonversi ke galon aqua sekitar 1/3 s/d 2/3 galon sehari... sebulan berapa? Setahun berapa? ITB... ckckckck

PM HIMATEK, PM angkatan gw instalasi membran penjernih air di Cililin... Tujuannya apa? Menyediakan air bersih untuk masyarakat... Terus kita, kerjaannya sehari-hari membuang-buang air? Terus apa gunanya PM? Apa gunanya diajarin keprofesian kalo mata hati kita aja TUMPUL kayak begini?

Kita, kita di Teknik Kimia ITB...
Diajarin buat minimalisasi limbah kan?
Diajarin buat ga buang2 bahan kan?

Katanya cinta Indonesia
Katanya cinta lingkungan
Katanya jurusan intelek
Katanya talk less do more
Katanya punya integritas

Kalau mau marah, marahlah pada saya. Kalau tersinggung, caci makilah saya (dan saya punya hak untuk membalas). Iya saya mengingatkan dengan pedas, iya saya

Tapi ingat kalau mau marah dan tersinggung... Pikir kenapa kalian bisa sampai marah dan tersinggung. Buat yang cukup lapang dada dan tidak tersinggung, mari kita sama-sama mengingatkan yang lain.

Mari kita sama-sama belajar. Sama-sama mengingatkan. Saling memberi tahu.



Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater

13006033


.

Kamis, 18 Maret 2010

Bangsa Kasihan

Wahai rekan-rekan sekalian,

Kasihan bangsa yang percaya akan banyak hal namun kosong akan agama.

Kasihan bangsa yang memakai pakaian yang tidak ditenunnya, makan roti dari gandum yang tidak dipanennya, dan minum anggur yang tidak diperasnya.

Kasihan bangsa yang mengangkat penindas sebagai pahlawan, dan menganggap penjajahan sebagai berkah.

Kasihan bangsa yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya, namun jatuh padanya saat terbangun.

Kasihan bangsa yang tidak pernah angkat suara kecuali ketika sedang berjalan di penguburan, tidak pernah berbangga kecuali di atas reruntuhan, dan tidak pernah berontak kecuali ketika lehernya sudah berada di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa yang rakyatnya kambing domba, dan gembalanya menjerumuskan mereka.

Kasihan bangsa yang negarawannya berhati busuk, cendekiawannya tukang sulap, dan senimannya jago tambal dan jago jiplak.

Kasihan bangsa yang menyambut pemimpin barunya dengan sorak-sorai, dan melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa lainnya dengan sorak-sorai lagi.

Kasihan bangsa yang orang-orang bijaknya tidak pernah belajar dari sejarah, dan orang-orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa yang terpecah-pecah, dan masing-masing pecahan menganggap dirinya sebagai bangsa.


KG


.

Kamis, 04 Maret 2010

WWW - Ahli Rekayasa

Didasari pada banyaknya sumber daya hayati lokal di Indonesia yang belum termanfaatkan sepenuhnya namun begitu potensial untuk mendongkrak daya saing bangsa, maka berdirilah suatu badan konsultan rekayasa kimia yang berfokus pada pengembangan industri pengolahan bahan-bahan hayati Indonesia.

Dengan bangga kami memperkenalkan: Waradana Widya Wiguna - Ahli Rekayasa.



Nama yang digunakan diambil dari bahasa Sansekerta:
- Waradana berarti hadiah yang berharga.
- Widya berarti ilmu pengetahuan.
- Wiguna berarti berguna.

Secara umum, nama yang digunakan melambangkan suatu harapan: hadiah yang berharga yang diberikan Tuhan pada negara kita, yaitu sumber daya hayati yang melimpah dan potensial, jika diolah dengan akal dan ilmu pengetahuan, pasti akan menjadi berguna.

Selain itu, singkatan WWW terdengar bagus di telinga dan enak dibaca mata. Bukan begitu, bukan?

Warna yang digunakan pada singkatan WWW dalam logo pun memiliki arti yang selaras. Kuning melambangkan hadiah yang berharga. Biru melambangkan pengetahuan dan kebijaksanaan. Merah melambangkan buah, hasil, kegunaan.

Nama Ahli Rekayasa (bukan Engineering Consultant) melambangkan keinginan untuk menggunakan Bahasa Indonesia, keinginan untuk memajukan produk buatan dalam negeri.

Logo WWW - Ahli Rekayasa menampilkan sebuah tangki yang melambangkan reaktor, yaitu tempat terjadinya reaksi (pengolahan) dalam industri kimia.

Pinggiran reaktor berwarna hijau, melambangkan pengolahan yang dilakukan di dalam semangat cinta lingkungan.

Bagian dalam reaktor berwarna merah putih, melambangkan pengolahan yang dilakukan berdasarkan semangat kebangsaan untuk menghasilkan sesuatu yang akan mendongkrak daya saing bangsa ini dan menuju kejayaan Indonesia.

Di bagian bawah reaktor ada daun yang melambangkan bahan baku. Bentuk daun dipilih karena melambangkan bahan baku hayati. Daun berjari lima melambangkan lima sumber daya hayati Indonesia: perkebunan, pertanian, perikanan, peternakan, dan kehutanan. Di dalam daun, ada motif batik sebagai pertanda bahan baku hayati ini merupakan sumber daya lokal Indonesia. Motif batik yang dipilih adalah motif batik Mega Mendung yang melambangkan hujan, yaitu kesuburan dan kemakmuran.

Di bagian atas reaktor ada cincin yang melambangkan produk. Bentuk cincin dipilih untuk melambangkan produk yang berharga, jauh lebih berharga dari bahan baku. Tiga cincin melambangkan manfaat yang dihasilkan dari pengolahan untuk tiga kelompok: manfaat untuk kemajuan dunia industri itu sendiri (abu-abu), untuk kesejahteraan masyarakat (coklat), dan untuk kejayaan bangsa dan negara (keemasan).




"Yang menentukan nasib bangsa Indonesia seharusnya adalah para teknokrat, para insinyur, para dokter, para ilmuwan. Bukan politikus, pengacara, ekonom, atau artis. Ilmu sosial memperbincangkan hal-hal maya, ilmu alam membuat hal-hal nyata." -Alfonso-



.

Sabtu, 06 Februari 2010

Jerman, 1930-1945

Jerman, 1930

12 tahun berlalu setelah Jerman dipermalukan dalam Perang Dunia I. Krisis ekonomi, ancaman komunis, dan pembatasan kekuatan militer oleh negara-negara asing menjadi awan kelabu yang menaungi seluruh negeri. Kemudian datanglah sesosok calon pemimpin.

Muda, tampan, dengan kata-kata yang memikat. Rapi, santun, dan karismatik. Cerdas, berpikiran tajam, dan patriotik. Janji-janjinya membangkitkan moral rakyat yang terpuruk. Pembangunan ekonomi, peningkatan martabat Jerman sehingga tidak lagi dipandang dunia sebagai bangsa pecundang yang kalah perang. Seluruh rakyat bersatu di belakangnya, dan pembangunan besar-besaran dimulai: di bidang ekonomi, budaya, pendidikan, teknologi, dan militer.

---------------------

Jerman, 1945

Jerman kalah dalam Perang Dunia II, perang terbesar sepanjang sejarah umat manusia, yang ‘mereka’ mulai sendiri. 10 juta penduduk Jerman, sipil dan militer, kehilangan nyawa. 2/3 kota-kota besar Jerman luluh lantak dihantam bom udara musuh. 1/3 wilayah Jerman bagian timur lepas, diserahkan pada musuh. 2 juta wanita Jerman diperkosa tentara Soviet. Kerugian material? Tidak terhitung.

Dan saat itu, di mana sang pemimpin harapan yang begitu memikat hati rakyat Jerman 15 tahun silam tersebut? Pemimpin itulah yang dengan ambisi pribadinya menceburkan seluruh negeri Jerman ke dalam peperangan, membawanya ke kekalahan, dan meninggalkan rakyatnya yang tengah menderita ke alam baka dengan bunuh diri. Pemimpin itulah yang mencoreng nama Jerman di sejarah dunia, mencap mereka sebagai bangsa pemulai Perang Dunia II, dan menistakan nama bangsanya bersama namanya sendiri yang pada masa kini menjadi sinonim dengan Si Biang Kejahatan: Adolf Hitler.

---------------------

Andai saja rakyat Jerman tahun 1930 tahu bahwa calon pemimpin karismatik yang mereka harapkan membawa Jerman menuju kejayaan ternyata adalah psikopat haus darah yang membantai 6 juta orang baik orang asing maupun rakyat negerinya sendiri hanya karena ras dan cacat fisik, yang membawa negerinya maju perang padahal ia mengetahui negerinya tidak punya cukup sumber daya, dan bahwa ia hanyalah orang yang jika dihadapkan pada pendapat yang berbeda selalu meledak kalap… Andai saja…



Sesal kemudian tak berguna.

Kenali para calon pemimpin kita.

Hadirilah! HEARING CAKAHIM-CASENATOR HIMATEK 2010.




.

Rabu, 30 Desember 2009

Selamat Jalan Gus Dur



.......
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu

Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang segala jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkafan doa
Dari kami yang merindukan orang sepertimu

(Iwan Fals)


Selamat jalan Gus Dur!


Rabu, 23 Desember 2009

Sungguh, Tidak Ada Ibu Seperti Ibuku

Tujuan pembuatan tulisan ini sebenarnya untuk mensukseskan program HIMATEK yang kebetulan jadi tanggung jawab divisi saya a.k.a. PSDA yaitu lomba dalam memperingati Hari Ibu... namun yang terutama, tulisan ini didedikasikan kepada sesosok makhluk mulia yang merupakan orang terpenting dalam hidup saya. Tulisan yang mengandung segenap kata-kata yang tidak pernah saya berani sampaikan ke hadapan beliau.

Tulisan yang meskipun dibuat untuk lomba, tidak dibuat untuk menang... namun dibuat untuk beliau. Untuk ibuku tercinta.

-------------------------------------------

Dari gubuk-gubuk Kibera hingga villa-villa Monte Carlo
Dari pedalaman Amazon hingga pencakar-pencakar langit Manhattan
Dari sengatan matahari Sahara hingga putihnya alam Siberia
Di seluruh tempat yang ada di dunia
Sungguh untukku, tidak ada ibu seperti ibuku

........

Ibuku, ibu yang serba bisa
Dari memasak sampai menjahitkan kancing
Dari membetulkan keran air sampai mengecat dinding
Bagi beliau, tidak ada yang tidak bisa dilakukan

Ibuku, yang kepadaku tidak pernah marah sekalipun
Tidak pernah, meskipun salahku bermacam-macam
Bahkan ketika aku berkali-kali meminta ampun
Beliau hanya bilang "Tidak apa-apa" lalu diam

Dan dalam diam itulah aku dibuat merasa bersalah

Ibuku, yang tidak pernah sekalipun berkata
"Besar uang sekolah adik-adikmu makin hari makin menggila
Sebaiknya kamu cepat selesaikan studi, langsung bekerja"
Meskipun aku tahu, itulah keadaan yang sesungguhnya
Malah ketika kuputuskan ingin mengambil program pascasarjana
Beliau hanya tersenyum dan berkata "Silakan saja"

Ibuku, yang selalu menghindar ketika kutanya besarnya penghasilan
Beliau hanya menyuruhku diam, dan berkata pelan
"Bukan urusanmu, yang penting kamu masih bisa makan"

Ibuku, yang jam lima pagi sudah berangkat ke kantor
Mengejar bus di terminal, tiap pagi dari Senin sampai Jumat
Tiga jam di jalanan ibukota, menghirup udara kotor
Dan hebatnya selalu sampai tujuan, dengan selamat

Ibuku, yang delapan jam bekerja berjerih payah
Hingga makan dan tidur pun seringkali terlupa
Tapi beliau juga ibuku, yang tak pernah lengah
Menjawab dengan cepat ketika aku meneleponnya

Ibuku, yang jam tujuh malam baru sampai di rumah
Terkadang malah jam sembilan atau sepuluh
Jarang sekali wajahnya tak terlihat lelah
Bahkan seringkali beliau pulang bermandi peluh

Ibuku, yang kuceritakan tentang beratnya duniaku kuliah
Dan kukeluhkan betapa lelah aku menjalaninya
Ibuku, yang kemudian hanya bisa tersenyum pasrah
Dan menunjuk setumpuk kertas kerja yang dibawanya

Sementara aku sampai larut malam asyik bermain internet
Dan ketika jam tiga dini hari aku pergi ke toilet
Kulihat ibuku di kamarnya, masih saja terjaga
Di hadapannya masih terhampar kertas-kertas kerja

Anak seperti apa yang takkan menangis melihatnya?
Anak seperti apa yang akan sampai hati tega
Melihat orangtuanya tidur tak sampai sejam sehari
Demi anak-anaknya bisa makan sesuap nasi
Dan itu terjadi hampir setiap hari!

Aku ingin, ingin sekali meminta
Agar ibuku berhenti saja bekerja
Agar aku yang menanggung beban keluarga
Agar aku yang kerja dengan gaji berpuluh-puluh juta
Agar ibuku bisa istirahat sepanjang hidupnya

Dan jangan kira tak pernah kusampaikan kepadanya
Dan jangan kira aku tak pernah menemukan jawabnya
Dan jawabnya hanya satu kalimat, kalimat retorika
Kalau beliau sekarang tak bekerja, aku mau makan apa?

Lemahnya aku, tidak berdaya, dan tidak berguna
Ah, aku ini anak macam apa...
Tuhan, jangan jadikan aku anak durhaka...

........

Sejak Alexander naik kuda hingga Neil Armstrong mengangkasa
Sejak hidupnya dinosaurus hingga majunya teknologi
Sejak zaman para dewa hingga zaman band Dewa
Sejak dahulu kala, sampai berjuta tahun lagi

Sungguh untukku...

tidak ada ibu seperti ibuku.




Buitenzorg, 23 Desember 2009
Alfonso

Selamat Hari Ibu...


.

Rabu, 16 Desember 2009

In Memoriam - Soe Hok Gie

Eross SO7 feat. Okta - Cahaya Bulan

Perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
Cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang
Di sini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
Mengapa matahari terbit menghangatkan bumi

Aku orang malam yang membicarakan terang
Aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang


Perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang
Cahaya nyali besar mencuat runtuhkan bahaya
Di sini ku berdiskusi dengan alam yang lirih
Mengapa indah pelangi tak berujung sampai di bumi

Aku orang malam yang membicarakan terang
Aku orang tenang yang menentang kemenangan oleh pedang

Cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
Yangg takkan pernah kutahu dimana jawaban itu
Bagai letusan berapi bangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati


Terangi dengan cinta di gelapku
Ketakutan melumpuhkanku
Terangi dengan cinta di sesatku
Dimana jawaban..... itu.......

Cahaya bulan menusukku dengan ribuan pertanyaan
Yangg takkan pernah kutahu dimana jawaban itu
Bagai letusan berapi bangunkanku dari mimpi
Sudah waktunya berdiri mencari jawaban kegelisahan hati



Semoga semangatnya akan tetap abadi di tengah-tengah generasi penerusnya, mahasiswa.

Semangat untuk bertanya dan mencari kebenaran...

Hati yang selalu gelisah dan terpacu jika dihadapkan pada persoalan yang tak terpecahkan...

Semangat berdiskusi bahkan di tengah zaman kegelapan...

Semangat mengeksplorasi dan berkomunikasi dengan alam ciptaan Tuhan...

Semangat berjuang demi kemakmuran dan perdamaian.


Eross SO7 feat. Okta – Gie

Sampaikanlah pada ibuku
Aku pulang terlambat waktu
Ku akan menaklukkan malam
Dengan jalan pikiranku

Sampaikanlah pada bapakku
Aku mencari jalan
Atas semua keresahan-keresahan ini
Kegelisahan manusia

Retaplah
Malam yang dingin

Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka-teki malam
Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka-teki keadilan


Berbagi waktu dengan alam
Kau akan tahu siapa dirimu yg sebenarnya
Hakikat manusia

Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka-teki malam
Tak pernah berhenti berjuang
Pecahkan teka-teki keadilan
Keadilan, keadilan....

Akan aku telusuri jalan yg setapak ini
Semoga kutemukan jawaban
Jawaban, jawaban... ooo... ooo


---------------------------------------




In Memoriam
蘇福義 Soe Hok Gie
Jakarta, 17 Desember 1942 - Semeru, 16 Desember 1969






.

Jumat, 27 November 2009

Visi dan Misi Calon Senator HIMATEK 2008-2009

HIMATEK, 18 bulan lalu.

Ini visi dan misi dari seorang calon representasi himpunannya di lembaga tertinggi kemahasiswaan ITB.

Seorang calon yang belum pernah menginjakkan kakinya di forum silaturahmi manapun. Seorang calon yang baru mengenal Kongres KM-ITB pada Diklat Legislatif seminggu sebelumnya. Seorang calon yang baru akan berbicara selama lebih dari 10 menit di hadapan massa HIMATEK untuk pertama kalinya pada audiensi pencalonan. Seorang calon yang hanya ingin maju untuk membela rekan-rekannya yang terpinggirkan. Seorang calon yang terinspirasi pada perbedaan idealisme dan realita jargon "KM-ITB Milik Semua".

-------------

VISI
Memposisikan HIMATEK sebagai salah satu himpunan yang terdepan dalam dunia kemahasiswaan ITB.

MISI
1. Mengusahakan tersampaikannya berita-berita seputar kampus kepada semua warga HIMATEK agar dapat disikapi dengan pemahaman menyeluruh.
2. Menumbuhkan minat semua warga HIMATEK untuk mengemukakan pendapatnya mengenai berita-berita seputar kampus sehingga dapat disuarakan melalui Kongres.
3. Mengusahakan agar HIMATEK memiliki cara pandang dan sikap yang lebih proaktif dan kontributif dalam dunia kemahasiswaan ITB.
4. Memberikan pengawasan terhadap kinerja Kabinet KM-ITB disesuaikan dengan sikap, cara pandang, dan kepentingan HIMATEK.

-------------

Dan sekarang... telah 18 bulan berlalu sejak visi misi itu dilontarkan dari hati. Telah 6 bulan berlalu sejak (seharusnya) visi misi itu dituntaskan oleh si pemegangnya. Dan masih 3 bulan sebelum akhirnya ada satu orang lagi yang akan membawa visi dan misi baru, meneruskan semangat yang sama yang diemban himpunannya sekarang. Dan saat ketika realita dengan pedih menghunjam, mengingatkan kembali berapa bagian dari visi misi itu yang tidak terlaksana.

Sejauh ini aku telah berjalan.

Waktu, pikiran, tenaga.
Darah, keringat, air mata.
Kadang dihiasi senyum dan tawa.
Kadang hanya diam terpana, kehabisan kata-kata.

Wakil rakyat adalah senapan, aspirasi adalah peluru.
Senapan tak berpeluru, tiada beda dengan pentungan.




.

Senin, 02 November 2009

Crockie

Ada yang tahu siapa Crockie?

Crockie adalah seekor buaya berbulu hijau muda. Pertama kali saya bertemu Crockie adalah ketika saya melihat tumpukan hijau di lantai dasar Riau Junction. Tumpukan itu terdiri dari berpuluh-puluh Crockie beraneka ukuran. Ada empat ukuran; kecil, sedang, besar, dan jumbo. Tertarik dengan bentuknya, saya memutuskan untuk membeli sebuah Crockie berukuran sedang (13'') untuk nanti dibawa pulang sebagai hadiah akhir tahun untuk adik saya. Apalagi, harganya sedang diskon 20%!


Crockie 13'', Rp 34900 (sebelum diskon)
Dan karena kebetulan saya tidak memiliki kotak tissue di kamar, saya seringkali kebingungan mencari di mana tissue saya ketika saya memerlukannya. Kebetulan pula, ternyata Crockie tersedia dalam bentuk tempat tissue!


Tempat tissue Crockie, Rp 23900 (sebelum diskon)
Di hari-hari selanjutnya saya berkunjung ke Riau Junction, tumpukan hijau muda itu makin menggunung saja. Meskipun demikian, tidak jarang saya melihat antrian troli di kasir dengan Crockie beraneka jenis di dalamnya. Bahkan sekarang ada bantal Crockie, guling Crockie, dan yang paling menarik perhatian saya: sandal kamar Crockie. Ini merupakan solusi brilian, pikir saya; untuk saya yang selama ini telapak kakinya selalu kedinginan tiap bangun tidur, dan malas pakai kaos kaki karena akan cepat bau...


Sandal kamar Crockie, Rp 39900 (sebelum diskon)

Selain dalam bentuk-bentuk di atas, Crockie tersedia dalam bentuk bantal, guling, dan boneka berbagai ukuran. Crockie merupakan boneka dengan merek Kido, hanya diproduksi dan dijual di Toserba Yogya.


Say... we are CROCKIES!

.

Selasa, 27 Oktober 2009

Ya, KARENA KITA PEMUDA!

“Indonesia? Bukan urusan kita… karena kita masih pemuda.”

Apakah benar Indonesia terlalu tinggi atau terlalu jauh bagi kita, pemuda?

BERIKAN AKU SEPULUH PEMUDA, DAN AKU AKAN MENGGUNCANG DUNIA!

Delapan puluh satu tahun yang lalu, di sebuah rumah pondokan milik Sie Kok Liong di Jalan Kramat Raya 106… Para pemuda berkumpul dari berbagai latar belakang, suku, bangsa, dan agama, dengan satu tujuan… Melihat tanah airnya merdeka. Tanah air yang satu. Didiami oleh bangsa yang satu. Dan berbahasa bahasa yang satu.

Delapan puluh satu tahun lalu, pemuda adalah fondasi pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pemuda. Pemimpi. Penemu. Pelopor. Penggerak. Pendobrak.

Saat ini, di Labtek Biru di Jalan Ganesha 10… Kita, para pemuda dari berbagai latar belakang, suku, bangsa, dan agama, dengan satu tujuan… Melihat tanah air kita jaya. Tanah air yang sama dengan yang diperjuangkan leluhur kita delapan puluh satu tahun lalu.

Saat ini, pemuda harus menjadi fondasi kejayaan Indonesia! Jika tujuan kita satu, langit akan kita goyangkan, bumi akan kita gempakan, samudera akan kita gelorakan… bangsa ini akan kita angkat. Karena kita pemuda. Karena kita pemimpi. Karena kita penemu. Karena kita pelopor. Karena kita penggerak. Karena kita pendobrak. Ya, kita.



Bangunlah hai pemuda, berjuta rakyat menanti tanganmu, mereka lapar dan bau keringat.
Jangan menghindar dengan berkata “Nanti saja, saya kan masih pemuda!”
Tapi jawablah “Ya, KARENA SAYA PEMUDA!”

Tidak perlu menunggu jadi tua untuk peduli, berbuat, dan berarti bagi bangsa. DAN JANGAN MENUNGGU.





Bangun pemudi-pemuda Indonesia
Lengan bajumu singsingkan untuk negara
Masa yang akan datang kewajibanmulah
Menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Sudi tetap berusaha, jujur dan ikhlas
Tak usah banyak bicara, t’rus kerja keras
Hati teguh dan lurus, pikir tetap jernih
Bertingkah laku halus, hai putra neg’ri



81 Tahun Sumpah Pemuda
PSDA HIMATEK



.

Minggu, 25 Oktober 2009

Suatu Malam di Santiago Bernabeu

Sebuah awal (bukan akhir) yang manis musim ini dari AC Milan... Il Diavoli berhasil menghantam si raja u(t)ang Eropa, Real Madrid, di kandangnya sendiri, Estadio Santiago Bernabeu, 3-2.

Tak disangka, seorang kameraman mengabadikan satu momen kecil yang amat menyentuh saya sebagai tifosi Milan. Di saat laskar Merah-Hitam merayakan gol indah Alexandre Pato yang kemudian menjadi gol kemenangan AC Milan... sang kameraman dengan cerdik menangkap satu penglihatan yang dapat diinterpretasikan dengan sejuta makna.




Want to join the celebration, boy?

FORZA MILAN - Il Club Piu Titolato Al Mundo! Solo con te, sempre per te!
.

Minggu, 04 Oktober 2009

BAB X - Manfaat Kerja Praktek

Ini adalah sebuah bab yang membuat laporan kerja praktek saya berbeda dari laporan orang-orang lain... memang masih berbentuk draft...

-------------

BAB X
MANFAAT KERJA PRAKTEK


Selama periode kerja praktek di PT. Chandra Asri, penulis telah mendapatkan banyak manfaat dalam bentuk peningkatan kemampuan berupa pemahaman-pemahaman baru yang berkaitan dengan ilmu keteknikkimiaan maupun mental kerja sebagai insinyur proses.


10.1. Pemahaman Ilmu Teknik Kimia

Pemahaman-pemahaman baru tentang ilmu teknik kimia yang didapat penulis selama periode kerja antara lain meliputi:

1. Pemahaman dasar tentang bagian-bagian apa saja yang secara prinsip menyusun sebuah pabrik kimia : pengolahan bahan baku, reaktor, pemisahan dan pemurnian, recovery bahan baku, sistem pengendalian, sistem utilitas, dan pengolahan limbah.

2. Bentuk-bentuk, dimensi-dimensi, dan jenis-jenis peralatan proses yang umum ditemui dalam industri kimia dan kegunaan-kegunaannya: seperti kolom-kolom distilasi, reaktor, kolam pengolahan limbah cair, pompa, kompresor, heat exchanger, tangki penyimpanan, sistem perpipaan, dan lain-lain.

3. Sifat dan penanganan bahan-bahan kimia yang dijumpai di sebuah industri kimia. Termasuk di dalamnya antara lain adalah cara, alat, dan kondisi penanganan dan penyimpanan bahan-bahan seperti gas (etilen, hidrogen), cairan organik (isobutana, heksana), dan bahan-bahan beracun seperti logam (katalis) dan cairan berbahaya (ko-katalis).

4. Cara-cara pemilihan spesifikasi (dimensi, jenis, material, konfigurasi) dari alat (conveyor/piping, heat exchanger, valve, reaktor, alat pemisahan, storage tank, dan lain-lain) berdasarkan kondisi operasi (temperatur, tekanan, fasa, dan komposisi bahan yang masuk dan keluar).

5. Cara-cara pemilihan rentang kondisi operasi (seperti disebutkan di atas) berdasarkan target operasi.

6. Teori proses polimerisasi (khususnya polimerisasi etilen) dan aplikasinya dalam skala industri.

7. Prosedur standar keselamatan di pabrik kimia, termasuk perlengkapan keselamatan standar, bahaya dari alat-alat dan bahan-bahan kimia, prosedur evakuasi bencana, pencegahan kebakaran, penempatan alat-alat darurat, dan lain-lain.


10.2. Kemampuan Kerja Sebagai Insinyur Proses

Selama periode kerja praktek, penulis telah berinteraksi dengan orang-orang yang bekerja dalam bidang teknik kimia dalam lingkungan pekerjaannya sehari-hari. Pengalaman ini memberi tambahan ilmu-ilmu baru mengenai hal-hal nyata yang dilakukan seorang insinyur proses dalam lingkungan industri kimia seperti:

1. Optimasi proses untuk menghasilkan produk sesuai spesifikasi yang diinginkan (konversi, selektivitas, sifat fisik) dengan cara mengubah-ubah kondisi operasi (komposisi umpan, temperatur, tekanan, laju alir).

2. Analisis efisiensi suatu alat tertentu dalam rangkaian peralatan proses seperti heat exchanger, kolom distilasi, dan turbin.

3. Cara pengendalian proses kimia dengan sistem komputer terpusat dari suatu control room menggunakan pengaturan dari tombol-tombol yang ada.


10.3. Mental Sebagai Calon Insinyur Proses

Kerja praktek juga telah membentuk penulis dari segi mental dan perilaku sebagai mahasiswa teknik kimia yang merupakan calon insinyur proses. Penulis antara lain dalam pemikirannya saat ini memiliki:

1. Cara pandang baru terhadap materi-materi yang selama ini diajarkan di kuliah, yaitu bahwa pada prinsipnya tiap mata kuliah yang diajarkan merupakan satu segmen tertentu yang kemudian dirangkaikan untuk mencapai tujuan utama, yaitu membuat suatu rangkaian proses kimia dalam skala industri alias pabrik kimia.

2. Pengetahuan mengenai manfaat-manfaat nyata pada dunia industri dari setiap mata kuliah yang diajarkan seperti sistem utilitas, proses pemisahan, perpindahan kalor, teknik reaksi kimia, dan lain-lain.

3. Motivasi untuk mencari ilmu-ilmu baik di saat kuliah maupun melalui media lain, yang sekiranya akan dibutuhkan jika bekerja di lingkungan industri, karena telah mendapat gambaran ilmu-ilmu seperti apa saja yang akan dibutuhkan itu.

4. Peningkatan kemampuan untuk membuat asosiasi dan jika mendengar istilah-istilah umum dalam dunia teknik kimia seperti safety pressure valve, nozzle, suction/discharge pressure, laju produksi, kompresi, high steam, PN, dan lain-lain.

5. Pola pikir untuk membuat rangkaian analisis dan metode penanganan yang harus ditempuh jika diberikan suatu persoalan teknik kimia.

6. Cara-cara berinteraksi dengan para pekerja lain di lingkungan industri seperti atasan, HRD, satpam, teknisi, office boy, dan sesama insinyur proses.


10.4. Lain-lain

Begitu banyak manfaat dan pengembangan diri yang diperoleh dari kerja praktek sehingga secara pribadi penulis menganggap bahwa mata kuliah TK4090 – Kerja Praktek adalah mata kuliah yang paling banyak memberikan ilmu, pengalaman, dan pembelajaran bagi penulis dibandingkan dengan semua mata kuliah yang pernah diikuti.


.

Jumat, 25 September 2009

Humor ITB - Sedia Payung Sebelum Hujan

Pada suatu ketika diadakan lomba mengarang antar universitas se-Indonesia, dengan tema situasi sosial politik bangsa Indonesia. Dua orang panitia sibuk membaca beribu-ribu karangan yang masuk. Berjam-jam membaca membuat mereka jenuh dan akhirnya salah seorang dari mereka, Tono, memperlihatkan sebuah karangan kepada temannya, Parjo, dan berkata:

"Ini pasti karangan anak UI, Jo."

"Tahu dari mana?" tanya Parjo.

"Lihat, di sini disebut-sebut tentang 'Jaket kuning yang tiap hari kukenakan...'"

"Hahahaha. Tebakan yang cukup masuk akal." gumam Parjo.

"Kalau yang ini pasti karangan anak IPB." lanjut Tono.

"Betul Ton, aku tahu, soalnya ada kata-kata '...kampusku di Dramaga'."

Keduanya kemudian tertawa-tawa, lalu melanjutkan membaca. Tak berapa lama, giliran Parjo yang angkat bicara duluan.

"Kalau yang ini Ton, ini pasti karangan anak ITB!"

Tono melihat karangan yang ditunjukkan Parjo, namun tidak ada satu kata pun dalam karangan itu yang menandakan ITB atau bahwa pengarangnya adalah anak ITB. Tono dengan heran bertanya kepada Parjo:

"Tahu dari mana?"

Parjo menunjuk bagian atas kertas dan menjawab dengan enteng:

"Karangannya dibuka dengan kalimat 'Sebelumnya mohon maaf jika ada bagian tulisan saya yang tiada berkenan di hati, karena saya sadari saya belumlah sempurna sebagai penulis...'"


.

Kamis, 24 September 2009

Dihukum Karena Hal Yang Tidak Diperbuatnya

Baca judul tulisan ini, lalu pikirkan. Adil tidak? Fair tidak?

Coba bayangkan seorang ibu umur 40an berteriak sambil menangis tersedu-sedu:

"HAL APA YANG TELAH KUPERBUAT HINGGA AKU MENDAPAT COBAAN SEPERTI INI...?!?!?!?"

dengan gaya yang lazim kita temui di sinetron-sinetron Indonesia. Kalau di sinetron sih, biasanya tokoh seperti itu adalah tokoh baiknya, yang anggun, selalu ramah sama orang, rajin beribadah. Tapi pasti aja tokoh kayak gini adalah tokoh yang paling apes. Entah suaminya meninggal, dirinya sakit-sakitan, anaknya diputusin pacar, rumahnya disita, dan seterusnya. Lalu dia berteriak seperti kalimat di atas. Lalu kita (baca: penggila sinetron) berpikir, dunia kejam nian, apa yang telah dia perbuat sehingga mendapat nasib malang bertubi-tubi?

Intermezzo. Hehehe. *NB: penempatan intermezzo di awal cerita bukan hal yang baik sebenarnya*

=======

Kembali ke judul. Waktu dulu ada yang pernah cerita ke saya tentang seorang anak kecil yang bertanya pada bapaknya. "Pak, tadi pagi saya di sekolah disetrap guru karena hal yang tidak saya kerjakan. Apakah itu adil?"

Bapaknya lantas berang dan langsung menjawab. "Tentu tidak! Gurumu sangat keterlaluan. Tentu kau tidak bisa disalahkan atas hal yang kau tidak lakukan. Bapak akan menghadap Kepala Sekolah besok. Tapi ngomong-ngomong, hal apa sih yang tidak kau lakukan itu?"

Anaknya nyengir dan menjawab "TIDAK mengerjakan PR."

Kedengarannya klise. Tapi poinnya jelas. Masalah dihukum atau tidak, masalah salah atau benar, bukan hanya masalah apa yang DIPERBUAT, tapi bisa jadi masalah apa yang TIDAK DIPERBUAT.

======

Minggu kemarin saya jalan-jalan dengan adik perempuan saya yang berumur 12 tahun di mall, sehabis menjemputnya dari gereja. Sehabis makan di food court di lantai 3, kami turun dengan lift ke lantai paling bawah untuk pulang. Saat kami akan naik lift, ada seorang bapak tinggi besar membawa dua orang anak. Yang besar lelaki sekitar umur 8-9 tahun berbadan gendut, yang kecil perempuan umur 5-6 tahun gendut juga. Kedua anak ini rupanya lumayan nakal juga.

Ketika pintu lift terbuka dan sekitar 10 orang penumpangnya berhamburan turun, kedua anak ini langsung menerobos masuk lift tanpa menunggu yang turun selesai keluar lift. Si bapak diam saja. Saya cuma bisa berdehem dan teriak pelan "Tolong tunggu yang turun dulu, seperti biasa!".

Lalu saya dan adik saya masuk lift dengan posisi di tengah-tengah (tidak bersandar ke dinding lift), adik saya di samping saya. Lift itu penuh sesak, ada sekitar 13 orang. Sialnya tidak ada yang turun di lantai dasar seperti saya (semua turun di basement parkiran rupanya). Di antara saya dan tombol lift ada si bapak. Saya tidak bisa menjangkau tombol lift itu. Saya lalu berkata "Maaf Pak, permisi". Namun si bapak tetap bergeming. Dengan susah payah, adik saya yang berbadan lebih kecil bisa menekan tombol lift. Dan sehabis adik saya menekan tombol, si bapak menempelkan telapak tangannya menutupi TOMBOL-TOMBOL LIFT untuk NYENDER.

Setelah itu kedua anak gendut itu mulai ngobrol keras dan kemudian melompat-lompat di dalam lift. Ya. JINGKRAK-JINGKRAK. Di dalam LIFT yang sedang berjalan. Anaknya GENDUT-GENDUT. Saya mulai mikir apakah saya harus baca doa atau jitak kepala anak-anak ini. Bapaknya diam saja.

Ketika pintu lift terbuka di GF, saya dan adik saya bersiap-siap turun, namun si bapak yang berbadan BESAR dan MENGHALANGI pintu keluar lift tidak menunjukkan tanda-tanda mau minggir. Padahal sudah jelas tadi penumpang yang memencet tombol GF hanya SAYA, yang ada di BELAKANGNYA. "Pak, PERMISI" ulang saya dengan suara lebih keras dari saat saya mau menekan tombol lift tadi. Dia tetap diam. Adik saya, yang berbadan lebih kecil, lebih tidak sabar dan mencoba menerobos keluar. Dia berhasil dan saat itu semua orang tersadar dan mencoba minggir, namun tetap saja jalur keluarnya sulit karena liftnya penuh sesak dan orang yang SEHARUSNYA PALING DULUAN MINGGIR yaitu si bapak itu malah DIAM seperti gupala di depan pintu lift. Saya mencoba keluar, namun saat itu pintu lift tertutup, saya mencoba menerobos (karena jika turun sampai lantai bawah lagi, eskalator sedang mati dan jalurnya jauh, lagipula adik saya sudah berada di luar lift).

Dan BREKK. Pintunya menggencet saya, saya mencoba menjejak keluar lift agar tidak kehilangan keseimbangan, dan alhasil kaki kanan saya mendarat tepat di belakang adik saya yang sedang melangkah, menginjak sendalnya, dan talinya putus. Sementara adik saya memungut sendal kesayangannya itu, saya menyempatkan diri melihat pintu lift yang sedang menutup itu, menatap marah pada si goblok yang MENEMPELKAN TANGANNYA DI TOMBOL LIFT tapi tidak menahan tombolnya agar terbuka saat ada yang mau turun.

Saya emosi dan hampir berteriak "GOBLOK!" di depan muka si bapak itu. Namun segera saya mencoba berpikiran jernih dan positif. Mau tahu pikiran paling baik yang timbul di benak saya saat itu? MUNGKIN BAPAK ITU TULI.

Dan saya sampai pulang masih tetap emosi, masih tetap uring-uringan karena sendal kesayangan adik saya putus gara-gara si bapak goblok itu. Bapak itu tidak melakukan apa-apa terhadap saya, tapi karena dia tidak melakukan apa-apa itulah maka saya jadi kesal.

Yah, mungkin saya juga salah karena emosi. Sampai di rumah saya minta maaf secara tidak langsung kepadanya dalam doa, dan mengakui ada bagian kesalahan saya juga.

Namun saya tetap berterima kasih atas pertemuan saya dengan si bapak, yang telah mengajarkan kepada saya buruknya sebuah ignorance.

======

Undang-undang negara Republik Indonesia ada yang menyatakan bahwa jika seseorang melihat terjadinya tindak kejahatan namun tidak melaporkannya, ia dapat dituduh bersekongkol dengan pelaku dan dapat dikenai hukuman penjara. Waktu dulu saya ikut sekolah minggu, salah satu ayat paling berkesan yang dibacakan kakak pembimbing saya adalah Yakobus 4:17 "Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa".

Sudah tahu arah tujuan pembicaraan saya kan?

Albert Einstein pernah berkata "Saya cinta damai, tetapi bukan hanya itu, saya berani berperang demi kedamaian". Yang dimaksud Einstein bukan perang sebenarnya, tapi yang ia maksud adalah ia berani mengajak orang-orang untuk tidak berperang. Kenapa?

Karena Einstein menyadari bahwa jika ia cinta damai secara PASIF (yakni hanya berkomitmen bahwa DIRINYA SAJA yang tidak akan berpartisipasi dalam perang), perdamaian tidak akan terjadi. Orang-orang lain masih akan berperang. Maka ia memutuskan untuk AKTIF, mengajak orang-orang untuk tidak berperang.

Berapa banyak dari kita yang berpikiran bahwa "Saya akan membetulkan kehidupan saya dulu. Yang penting saya jadi orang baik, benar, rajin, pintar, jujur, disiplin, dan berprestasi. Urusan temen-temen saya yang begundal, brengsek, tukang tipu, pemalas, goblok dan lain sebagainya itu, urusan mereka, toh mereka kan udah gede ini."

Itu EGOIS, saudara. Membiarkan teman kita jatuh dalam dosa sementara kita luput dari dosa. Saya masih percaya kata-kata Einstein: "Sang Pencipta tidak sedang bermain dadu" ketika mencipta, ketika meletakkan kita di lingkungan pertemanan kita saat ini. Dan saya masih percaya bahwa tanggung jawab untuk saling menasihati itu ada di pundak semua umatNya, dan kita akan dimintai pertanggungjawaban untuk itu saat Hari Terakhir nanti.

Dan hukuman yang menanti bukan karena kejahatan yang kita lakukan, tetapi karena kebaikan yang kita tidak lakukan.

======

Kendala nyata? Banyak.

Setahun ini nyontek tugas dan semacamnya sudah saya kurangi sampai batas sangat minimum, namun prestasi akademik saya ya segitu-segitu aja. Cape juga klo mempromosikan integritas akademik dan cuma dikata-katain "Yang nggak nyontek ntar IPKnya jadi kayak lu! Mending nyontek, terus kayak gw! Yang IPKnya lebih tinggi dari lu aja nggak pernah bacot macam-macam!"

Bagian terakhir sih yang membuat hati ini paling pedih. Dan hanyalah harapan yang tentu diharap jadi kenyataan, bahwa yang lebih punya daya untuk promosi integritas akademik akan memberdayakan modal mereka itu. Tidak hanya lurus dalam kehidupannya, namun juga meluruskan orang lain yang bengkok-bengkok. Barangsiapa tahu berbuat baik tapi tidak melakukannya... yah, begitulah.

======

Ketika telah nyata bahwa keuntungan nyalin tugas dan nyontek jauh lebih besar daripada kerugiannya...

Ketika akal sehat dan keadaan pun telah berteriak "NYONTEK SANA!"...

Ketika jargon-jargon integritas akademik terdengar seperti bualan aktivis semata...

Ketika nasihat-nasihat dari kawan seperjuangan dianggap upaya sok suci dan munafik...

Pandanglah Wajah Sang Pencipta yang teduh dan tanyakan dengan tulus kepadaNya... dan tangkaplah jawabanNya dengan hati nurani yang terdalam.



.

Selasa, 22 September 2009

Jadilah Juara

Kembali dengan cerita fiksi-lagu kedua dari saya, yang saya jadikan korban kali ini adalah lagu Jadilah Juara, OST King, oleh Ipang BIP dan Ridho Slank. Selamat menikmati.

DISCLAIMER: Cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesalahan yang tidak mengenakkan dalam penuturan peristiwa, nama, tempat, maupun fakta-fakta lainnya, penulis mengucapkan mohon maaf lahir dan batin.

=========================

Alfonso turun dari angkot Panghegar - Dipati Ukur, memberikan uang seribu kepada sang supir, dan cepat-cepat lari sebelum sang supir sempat meminta tambahan ongkos. Setelah terdengar suara deru angkot menjauh, ia baru menghentikan larinya dan memandang ke depan, mencari-cari dengan matanya. Rupanya dia belum datang. Memang salahku datang sepuluh menit lebih awal untuk bertemu orang yang biasanya telat sepuluh menit kalau janjian, pikirnya.

Maka ia memutuskan untuk menghampiri landmark kampusnya, papan nama Institut Teknologi Bandung pada sebuah batu bercat hijau muda, dan duduk bersandar di sana sambil menikmati pemandangan sekitar Gerbang Ganesha. Jalanan putih bagaikan tertutup salju yang hanya ada di negeri empat musim. Ada tukang gorengan, mahasiswa-mahasiswa berjaket himpunan masing-masing yang berwarna-warni, mobil-mobil mewah keluar masuk gerbang. Sesekali terdengar suara burung di atas kepala yang mirip sirine pertanda serangan udara Jepang waktu Perang Dunia Kedua: jika suaranya berkumandang, itu pertanda bom-bom akan segera berjatuhan. Alangkah permainya kampusku, pikir Alfonso sambil tersenyum.

Dan tiba-tiba dari arah dalam kampus terlihat segerombolan mahasiswa berjas almamater. Sebagian besar dari mereka bertampang lesu. Yang pria sibuk mengelap keringat, yang wanita merapikan rambutnya yang acak-acakan. Alfonso kembali tersenyum. Ini anak-anak angkatan 2011 yang baru selesai menjalani rangkaian acara penerimaan hari ini, pikirnya.

Dan seketika dirinya sudah merasa sok tua, mengenang saat ia pertama kalinya melangkahkan kaki melalui Gerbang Ganesha. Apakah spanduk yang begitu menggetarkan hatinya dulu itu masih selalu terpampang setiap awal tahun ajaran? Ia menoleh ke suatu arah dan melihat bahwa ya, masih ada, namun agak sedikit berbeda.

SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI HARAPAN BANGSA.

Mungkin kata 'TERBAIK' dianggap terlalu arogan, keluh Alfonso sedih. Mungkin kata itu dihapuskan karena orang melihat arogansi mahasiswa ITB yang begitu tinggi dan kerjanya hanya menyombongkan diri seperti saya, pikir Alfonso. Atau mungkin juga karena mahasiswa-mahasiswa ITB dianggap tidak lagi memenuhi syarat, tidak lagi diharapkan untuk menyandang beban begitu berat sebagai putra-putri terbaik bangsa.

Padahal ia begitu merindukan melihat kata itu. Kata yang menurutnya memang pantas disematkan kepada Ganesha-Ganesha muda yang akan mengawali langkahnya membangun negara. Kata yang menunjukkan tingginya ekspektasi negara ini pada Institut Teknologi Bandung. Pada manusia-manusia yang adalah calon-calon patriot bangsa yang sebenarnya. Ya, Alfonso percaya bahwa pejuang kemerdekaan di masa ini bukan lagi tentara ataupun politisi, tapi orang-orang ilmu pengetahuan alam.

Kita adalah pejuang
yang membela harga diri
negeri ini


Dari dulu Alfonso selalu meyakini bahwa bidang ilmu pengetahuan alam-lah yang seharusnya menjadi ujung tombak pembangunan. Bukan ilmu sosial. Yang menentukan nasib bangsa Indonesia seharusnya adalah para teknokrat, para insinyur, para dokter, para ilmuwan. Bukan politikus, pengacara, ekonom, atau artis. Ilmu sosial memperbincangkan hal-hal maya, ilmu alam membuat hal-hal nyata.

Ketika kenaikan harga BBM menjadi perdebatan para analis ekonomi, bukankah insinyur perminyakan-lah yang kerja keras memompa minyak yang jadi perdebatan itu keluar dari perut bumi? Ketika di bursa saham orang kelabakan karena fluktuasi harga saham perusahaan otomotif, perumahan, petrokimia; bukankan yang mereka kerjakan hanya memperbincangkan hasil kerja para insinyur mesin, sipil, dan kimia? Ketika wabah flu burung dan SARS menyebar dan pemerintah memerintahkan keadaan tanggap darurat, bukankah itu semua tidak ada artinya jika para dokter tidak mampu menolong orang-orang sakit dan para ilmuwan tidak menemukan vaksin? Para jenderal TNI jika negara kita diserang musuh sibuk mengatur koordinat pertahanan, membaca peta, mengatur letak artileri, pasukan infantri, angkatan laut, dan angkatan udara. Apa kerja mereka jika tidak ada para insinyur yang membuat benteng, peta, artileri, senapan, kapal perang, dan pesawat tempur? Bahkan ketika orang-orang sibuk mencari uang, sebenarnya siapa sih yang membuat uang? Mesin cetak, perkebunan abakus, dan tinta. Siapa yang membuat itu semua? Insinyur-insinyur.

Jadi jelaslah menurut Alfonso bahwa insinyur-lah yang bisa mengubah nasib bangsa ini secara nyata. Membasmi krisis energi dan pangan dan pada akhirnya memandirikan bangsa secara ekonomi. Memperbaiki sistem transportasi dan tata kota sehingga permasalahan sosial urban dapat diminimalisasi. Membuat alutsista canggih sendiri sehingga kedaulatan bangsa terjunjung tinggi. Mendirikan industri berbasis sumber daya lokal sehingga profit yang didapat besar dan digunakan untuk biaya pendidikan rakyat sehingga makin banyak rakyat yang terdidik untuk pembangunan nyata.

Dan tempat mana lagi paling cocok untuk mencetak insinyur-insinyur yang bisa melakukan hal-hal itu, selain di kampus berjudul institut teknologi ini? Yang dari semua segi memang terbaik pada bidangnya di negeri ini? Jadi kenapa harus malu mengakui bahwa di sinilah tempatnya putra-putri terbaik bangsa menuntut ilmu?

Kecuali jika hal itu tidaklah lagi benar. Jika yang menuntut ilmu di sini bukanlah lagi putra-putri terbaik bangsa. Benarkah?

Kita bangsa yang berani
tak takut untuk hadapi
semuanya


Patriot-patriot negara memberikan tubuh dan darah mereka sebagai batu bata penyusun istana kemerdekaan. Tank-tank dan senapan mesin Belanda, bayonet dan samurai Jepang, tidak menggentarkan mereka. Bagaimana dengan pejuang-pejuang kemerdekaan versi Alfonso zaman ini, yaitu para mahasiswa teknik, termasuk dirinya sendiri? Alfonso pun mulai menghitung daftar hal-hal yang ditakutinya.

Angin dingin pagi hari kota Bandung. Ketakutan ini membuatnya seringkali meringkuk tenang di dalam selimutnya sementara wekernya sudah berbunyi tujuh kali untuk memanggilnya agar segera bangun dan berangkat kuliah. Akibatnya sudah tak terhitung berapa puluh kelas pagi yang ia lewatkan.

Gengsi dan ketakutan untuk mendapat nilai nol sendirian sementara teman-temannya mendapat nilai bagus. Ketakutan ini membuatnya sering memodifikasi tugas dan laporan karena semua orang kebanyakan melakukannya. Daripada tidak mengumpulkan? Yah, sebenarnya Alfonso tahu kalau hal ini bisa diatasi jika ia mengerti betul materi tugas dan laporan dengan belajar sungguh-sungguh, tapi apa mau dikata bahwa salah satu ketakutan lain Alfonso adalah takut...

Mengorbankan waktu(istirahat dan main)nya untuk memahami materi-materi kuliah. Sebenarnya sebuah perbuatan yang sangat tidak mahasiswa sekali.

Dengan melihat diri sendiri saja dan segala ketakutannya, Alfonso dapat menyimpulkan bahwa memang tidak semua yang kuliah di Institut Teknologi Bandung ini merupakan putra-putri terbaik bangsa.

Jangan lelah jangan lemah
janganlah mudah mengalah
dan menyerah


Alfonso teringat cerita yang pernah dituturkan salah satu dosennya tahun lalu. Saat itu di kelas, Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja menceritakan kepada seluruh kelas tentang salah seorang mahasiswa bimbingannya yang berkewarganegaraan Vietnam. Si mahasiswa ini, menurut Pak Tatang, berkata dengan berani kepadanya:

"Pak, saya yakin Vietnam dalam beberapa tahun lagi akan lebih maju dari Indonesia. Kami kerja lebih keras. Di mana-mana semua orang kerja keras. Bahkan orang miskin kami kerja lebih keras dari orang miskin Bapak."

Alfonso termasuk salah satu dari orang-orang yang panas mendengar cerita itu. Seseorang yang negaranya hancur total tahun 70an akibat perang, yang negaranya tertinggal 30 tahun dari Indonesia yang memiliki keunggulan SDA dan SDM jauh lebih banyak? Namun selain panas, hatinya perih juga kalau itu memang benar. Mungkin si Vietnam itu ingin menambahkan juga, namun tidak enak jika didengar rekan-rekannya: "Dan mahasiswa-mahasiswa kami kerja lebih keras dari mahasiswa-mahasiswa Indonesia!".

Tidak, batin Alfonso. Ia tidak mau kalah. Ia teringat ucapan salah seorang seniornya di ITB ini. Seniornya yang 85 angkatan lebih tua darinya.

"Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera, agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 sen sehari; bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli; bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita."

Dan seniornya itu, setelah lulus dari ITB, telah membuktikan kata-kata itu. Di bawah pimpinannya, bangsa Indonesia melangkah ke arah jajaran bangsa-bangsa terdepan dunia. Sayang langkah itu terhenti. Dan bahkan sempat mundur.

Dan Alfonso berangan-angan dengan sumber daya Indonesia yang melimpah, dikombinasikan dengan bidang ilmu yang ditekuninya, teknik kimia, apa yang bisa dilakukan?

Ia tidak mau kalah dengan Brasil yang menjual etanol di setiap SPBU di seantero negeri itu, dan dengan demikian menghilangkan ketergantungan akan keberlangsungan negaranya terhadap situasi politik yang mengelilingi ladang-ladang minyak Timur Tengah. Ia tidak mau kalah dengan RRC yang, karena diembargo, telah memproduksi sendiri seluruh katalis untuk industri kimianya, yang menghemat devisa negara hingga berjuta-juta dolar Amerika. Merekalah contoh bahwa negara-negara berkembang bisa selangkah menuju ke arah kemajuan dengan teknik kimia, dan Alfonso berharap Indonesia akan menjadi contoh pula.

Cita-cita satu negara
kita yang harus menjawabnya
Harapan dari bangsa ini
kita menjadi juaranya


Alfonso tahu tingginya harapan terhadap mahasiswa ITB. Terhadap para calon insinyur, ilmuwan, dan seniman terbaik bangsa. Betapa tingginya citra mahasiswa ITB di hadapan rakyat kecil.

"Mau ke ITB mas? Bikin motor yang irit bensin ya mas ntar." Begitu kata salah seorang tukang ojek tetangga Alfonso empat tahun lalu. Saya mau kuliah teknik kimia, bukan teknik mesin, bang, gumam Alfonso dalam hati, namun ia menyadari itulah bentuk ekspektasi masyarakat.

Dan Alfonso tahu bahwa harapan masyarakat terhadap mahasiswa sebuah institut teknologi tidaklah cukup dipenuhi dengan mendemo pemerintah yang korup, dengan romantisme dan kata-kata. Namun dengan menyadari bahwa para insinyur-lah ujung tombak pembangunan. Dengan mengembangkan energi alternatif dan menyelesaikan krisis pangan. Dengan mengembangkan semua produk barang (dan hampir semua barang kebutuhan masyarakat adalah hasil industri) bebas impor. Bahkan kualitas ekspor.

Alfonso melihat kembali ke arah spanduk itu. SELAMAT DATANG PUTRA-PUTRI HARAPAN BANGSA. Dan tiba-tiba ia terhenyak menyadari apa makna pergantian kata TERBAIK menjadi HARAPAN pada spanduk penyambutan tersebut.

Ia dan banyak teman-temannya merasa bangga menjadi putra-putri terbaik bangsa. Alfonso hanya berharap bahwa mereka benar-benar tahu arti kebanggaan tersebut. Bahwa selain menjadi yang TERBAIK, merekalah juga HARAPAN bangsa ini. Bahwa mereka disubsidi pendidikannya oleh duit rakyat bukan untuk lari ke Amerika. Bahwa setelah mereka menapakkan kakinya di Bumi Ganesha mereka bukan hanya milik orangtua mereka namun telah menjadi milik ibu pertiwi. Bahwa rakyat rindu bukan hanya melihat mereka membantu pengolahan migas negara di perusahaan-perusahaan asing, namun juga mengembangkan teknologi pengilangan minyak canggih versi Indonesia. Bahwa seluruh rakyat Indonesia, bukan hanya keluarga mereka, ingin makmur juga.

Berusaha pantang menyerah
jadilah juara
Berjuanglah pantang menyerah
jadi pemenangnya


Lima tahun lagi keyakinan ini akan diuji, pikir Alfonso. Di saat ibuku sudah tua dan pensiun, di saat adikku masuk kuliah, di saat anakku baru lahir mungkin...

"HEI!!!"

Teriakan itu membuyarkan lamunan Alfonso. Sedetik kemudian Alfonso sudah mulai memaki-maki temannya yang mengagetkannya itu.

"Dari mana aja lu? Gua udah jamuran dari tadi nungguin lu pada! Mana yang laen?"

"Yeee!!! Ini baru jam 5:32, kan kita janjian setengah enam, baru juga telat dua menit, lu ngapain aja dari tadi? Pasti kebanyakan ngelamun ya? Dasar lu mah... Tuh yang laen udah pada di mobil."

Alfonso menggelengkan kepala. Benar-benar, ia kebanyakan melamun. Untuk menghindari rasa malu, ia bertanya "Kita mau ke mana sampai jam berapa? Gua gak bisa sampe malem nih, besok pagi mau mulai ngerun penelitian..."

"Duh, tau deh yang sekarang lagi S2... yaudah gampang dah itu mah, sekarang cabut dulu lah!"

Alfonso mengangkat bahu dan bangkit berdiri, melangkahkan kakinya. Nggak apa-apa sesekali senang-senang, pikirnya. Yang penting bisa bagi waktu. Dan berarti besok pagi ia sudah harus berada di lab pilot untuk menapak selangkah lebih maju menuju pembuatan pabrik enzim yang pertama di Indonesia.



Ipang BIP ft. Ridho Slank - Jadilah Juara

Kita adalah pejuang
yang membela harga diri
negeri ini

Kita bangsa yang berani
tak takut untuk hadapi
semuanya

Cita-cita satu negara
kita yang harus menjawabnya

Jangan lelah jangan lemah
janganlah mudah mengalah
dan menyerah

Cita-cita satu negara
kita yang harus menjawabnya
Harapan dari bangsa ini
kita menjadi juaranya

Berusaha pantang menyerah
jadilah juara
Berjuanglah pantang menyerah
jadi pemenangnya



.

Rabu, 16 September 2009

Pertemuan dengan Sang HIMATEK Ideal

DISCLAIMER: Tokoh-tokoh yang ada di cerita ini hanyalah fiktif belaka. Jikalau ada kesamaan nama, sifat, maupun apapun dengan seseorang, hal itu di luar kehendak sang pengarang.

"Wah, apa ini? HIMATEK Notes Attack?"

Alfonso melihat layar laptopnya dengan tertarik. Saat itu ia sedang menjelajah group HIMATEK di Facebook, dan tiba-tiba saja ia masuk ke sebuah diskusi tentang HIMATEK Notes Attack.

"Lomba nulis notes fesbuk... Tema:... 3. Kutemukan cinta di HIMATEK... Pemenang favorit... voucher warung HIMATEK sebesar 60rb rupiah... WOW."

Alfonso pun langsung membuka MS Word 2007-nya, dan mulai mengetik. Jari-jarinya meluncur cepat di keyboard laptopnya, melahirkan kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Mudah sekali ide mengalir dari hati ke otak, dari otak ke jari, dari jari ke keyboard, dari keyboard ke layar... Di layar bermunculan ungkapan-ungkapan tentang HIMATEK, tentang tujuan HIMATEK, tentang apa gunanya HIMATEK bagi mahasiswa, tentang apa hebatnya HIMATEK sehingga pantas untuk dicintai, tak lupa kritikan bagi mereka yang seakan sudah melupakan apa arti berhimpunan dan tentu saja ajakan bagi semua orang untuk lebih mencintai HIMATEK. Alfonso tidak berhenti begitu saja. Dentang jam tengah malam berkumandang mengiringi suara hantaman jari ke keyboard yang tanpa henti. Dan Alfonso terus mengetik. Sambil menyeka peluh yang bercucuran di dahi, dan cileuh yang bermunculan di kelopak mata.

Dan akhirnya jadilah sudah notes dari Alfonso. "Aku Cinta HIMATEK".

"Ctrl+C... Masuk ke facebook, notes... Ctrl+V... POST. Tag si ini, si itu, si anu, dll..."

Selesai sudah, pikir Alfonso, dan ia pun tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Tombol Turn-Off di layar laptopnya pun telah ia klik. Alfonso pun bangkit dari kursinya, hendak melemparkan badannya ke kasurnya yang empuk. Namun perhatiannya segera tertuju pada pintu kamarnya, Ada sesosok tubuh sedang berdiri di muka pintu kamarnya, membelakangi dirinya.

Sosok itu seperti seseorang yang sudah dikenalnya, namun Alfonso tidak bisa mengingat siapa dia. Orang itu memakai jaket hitam yang amat dikenali Alfonso: jaket Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia, dengan dua strip putih di lengan kanan.

"Selamat malam, Alfonso." katanya dingin. Alfonso merasakan ada nada sinis dalam salam orang asing ini.

"Siapa kau? Mau apa kau di sini?" tanya Alfonso tajam.

"Kau boleh memanggilku apa saja yang kau mau, tapi orang-orang biasa memanggilku Sang HIMATEK Ideal..." jawab sosok itu. "... meskipun aku sendiri tidak terlalu suka dipanggil dengan nama itu. Aku belum menyumbang banyak untuk HIMATEK... namun setidaknya lebih banyak dari kebanyakan 'anggota'nya... Kau boleh menganggapku personifikasi dari orang-orang seperti itu."

"Lalu mau apa kau kemari?" Alfonso mengulangi pertanyaannya dengan nada yang lebih hati-hati.

"Mengomentari notes yang kau tulis untuk HIMATEK Notes Attack." jawab Sang HIMATEK Ideal. Tegas, tajam, dan dingin. Alfonso hanya bisa terdiam, terkejut dan tak bisa memikirkan respon apapun atas pernyataan yang tiba-tiba ini. Sang HIMATEK Ideal melanjutkan kata-katanya.

"Merasa layakkah kau menulis hal-hal yang kau telah tulis di notes itu, Alfonso?" ucap Sang HIMATEK Ideal, diiringi tawa pendek yang jelas mengejek. "Kau terlalu banyak bermimpi."

Alfonso menjawab dengan sengit. "Setiap orang boleh dan berhak bahkan wajib punya mimpi!"

"TIDAK jika mimpi itu TIDAK untuk dijalankan!" bentak Sang HIMATEK Ideal. Alfonso terhenyak.

"Selama ini kau terlalu banyak berteori, Alfonso. Kau punya harapan yang seabrek untuk HIMATEK yang kau cintai ini, tapi mana kapabilitasmu untuk membuktikannya? Mana kemampuanmu untuk menjadikan HIMATEK yang kau cintai ini sesuai dengan harapanmu? Tidak ada kan? Nihil? Nol? Harapanmu itu harapan palsu, harapan kosong!!!"

Alfonso terdiam.

"Retorika, Alfonso, retorika. Berapa banyak argumenmu tentang HIMATEK yang kau ungkapkan kepada orang-orang namun gagal kau realisasikan, atau kau tidak tahu cara merealisasikannya. Aku tidak pernah berkoar-koar tentang harapanku untuk HIMATEK, aku MELAKUKANNYA. Dan jika aku melakukannya pasti aku MEWUJUDKANNYA. Aku kerja nyata, Alfonso, tidak seperti kamu."

"Kamu tidak pernah berbuat apa-apa untuk HIMATEK. Tidak pernah menyumbangkan sesuatu apapun yang berarti untuk HIMATEK. Sekarang kamu ingin menguliahi teman-temanmu tentang kecintaan terhadap HIMATEK? Sedangkan aku yang telah berbuat ini itu, jauh lebih banyak darimu di HIMATEK, tidak pernah sebegitunya melakukan hal itu? Sejauh apa kau cinta HIMATEK, sejauh apa kontribusimu di HIMATEK, Alfonso?"

Untuk hal ini, Alfonso tidak bisa berdiam diri.

"Aku representasi HIMATEK di badan tertinggi KM-ITB! Sebagai seorang HIMATEK ideal tentunya kau tahu bahwa jabatan itu tidak main-main!"

"Selevel Kahim, eh?" balas Sang HIMATEK Ideal dengan cepat dan menyayat. "Ya, jika ini sistem KM-ITB yang ideal, Alfonso. Kau diharapkan menyangga beban berat untuk menyampaikan aspirasi 300an anggota HIMATEK yang peduli akan kinerja Kabinet dan Tim MWA. Namun sayangnya, massa HIMATEK tidak banyak yang peduli akan hal-hal itu. Kinerjamu jadi terabaikan. Dapat kukatakan, kerjamu mudah sekali sebagai Senator sekarang ini. Datang, duduk, diam, pulang. Persis anggota DPR."

"Tapi aku tidak seperti itu!!!" teriak Alfonso.

"Tapi lihatlah betapa mudahnya. Yang penting daftar absen penuh, karena massa HIMATEK hanya dapat mengukur itu dari kinerja Senator. Hanya daftar hadir. Tidak ada yang marah karena aspirasi mereka bertentangan dengan apa yang Kabinet kerjakan. Tidak ada yang menyalahkanmu karena gagal menyampaikan aspirasi mereka, yang bertentangan dengan apa yang Kabinet kerjakan. Tidak ada yang peduli jika kau datang rapat dengan pandangan kosong dan hanya diam termangu."

"Dan kau gagal di masa jabatan pertamamu, Alfonso. Gagal. Nama HIMATEK tercoreng karena kau bolos rapat hingga sebulan. Karena kau malas. Dan tidak siap menerima amanah sebesar Senator."

"Dan sayangnya, kontribusi 'besar'mu di HIMATEK hanya sebagai Senator, Alfonso. Untuk keadaan HIMATEK seperti ini, Senator yang baik haruslah mampu memasyarakatkan KM-ITB kepada anggota-anggotanya. Apa kontribusimu dalam hal itu, Alfonso?"

"Tidak semuanya itu salahku!" protes Alfonso.

"Tapi itu bagian kesalahanmu juga, dan porsimu tidak kecil." balas Sang HIMATEK Ideal. "Itu sebagian saja dari kesalahanmu, Alfonso. Masih ada banyak. Akan kuuraikan."

"Kau berkata-kata tentang tujuan HIMATEK. Beranikah kau mengakui bahwa sebenarnya kau baru mendengar dan mengetahui tujuan HIMATEK itu waktu Kahim berorasi di depan calon angkatan termuda di lapangan basket saat kaderisasi?"

"Kau mengajak teman-temanmu datang ke forum-forum HIMATEK dan tidak melakukan apa-apa selain ngobrol. Aku tidak mengajak teman-temanku di muka umum, namun aku DATANG dan BERKONTRIBUSI. Tidak seperti kamu, Alfonso."

"Kau berkata-kata tentang bagaimana seharusnya anggota HIMATEK bersikap. Aku tidak pernah berkoar-koar tentang bagaimana anggota HIMATEK harus bersikap. Tapi aku terlibat aktif di semua kepanitiaan yang kuikuti. Tidak seperti kamu Alfonso. Tiap rapat anggota, rapat divisi, bahkan kuliah, aku datang tepat waktu. Tidak seperti kamu Alfonso. Tiap kuliah aku tidak pernah titip absen. Tiap labtek aku tidak pernah rekdat. Tugas kuliah kubuat sendiri, tidak menyalin. Tidak seperti kamu Alfonso. Jika HIMATEK butuh solusi, aku beri solusi konkrit dan aplikatif. Tidak seperti kamu Alfonso. IPKku masih jauh di atas cukup untuk Cum Laude, tidak seperti kamu Alfonso."

Alfonso hanya menunduk. Semua yang dikatakan Sang HIMATEK Ideal itu benar adanya.

"Tahu orang Farisi, Alfonso? Kaum munafik di negeri Israel zaman dahulu kala. Kaum yang selalu menekuni kitab Taurat tapi tidak pernah melakukannya. Kaum omdo. Omong doang. Itulah kau, Alfonso."

"CUKUP!!!!!!" teriak Alfonso. Sang HIMATEK Ideal terus melanjutkan pidatonya tanpa mempedulikan protes Alfonso.

"Kau terlalu banyak bicara. Aktiflah bergerak membangun HIMATEK jika kau mencintainya. Seperti aku yang telah memberikan ini itu untuk HIMATEK. Aku terbukti menjadi orang yang bisa HIMATEK andalkan. Karena aku cinta HIMATEK. Kau, mau mengaku cinta HIMATEK? Hanya dengan mulutmu saja, Alfonso. Cintamu itu cinta palsu. Omong kosong."

Alfonso tertunduk. Tersungkur. Gemetar. Menangis.

"Itu memang benar adanya, wahai Sang HIMATEK Ideal..." desis Alfonso dengan lirih. "Kau sempurna. Kontribusiku untuk HIMATEK memang tidak seberapa. Sifatku sebagai kader HIMATEK pun jauh dari sempurna. Bahkan bukan termasuk golongan yang terbaik. Dibandingkan denganmu, aku bukan apa-apa. Meskipun begitu..."

Hening sejenak.

"Meskipun begitu, untuk mengatakan bahwa cintaku terhadap HIMATEK adalah palsu... KAU TELAH MELEWATI BATAS!!!" teriak Alfonso sambil bangkit berdiri tegak. Tatapan matanya yang marah menghunjam jaket HIMATEK di punggung Sang HIMATEK Ideal.

"Kau tidak berhak." gumam Alfonso, pelan. "Kau tidak berhak mendefinisikan CINTA!" teriak Alfonso ke arah punggung Sang HIMATEK Ideal.

"Aku memang bukan HIMATEK Ideal. Aku HIMATEK Ampas. IPKku tidak cum laude. Kelakuanku buruk. Pemikiranku tidak semaju rekan-rekanku yang lain. Aku tidak rajin, tidak ulet, tidak jujur, tidak teliti, aku punya banyak kekurangan. Aku iri padamu, Sang HIMATEK Ideal. Aku ingin berkontribusi lebih sepertimu. Ingin bisa membagi waktu sebaik kau. Ingin bisa belajar dan berorganisasi seiringan dengan hasil baik bagi keduanya. Aku ingin memiliki pemikiran-pemikiranmu yang jitu. Kharismamu yang membuat engkau mudah mengendalikan teman-temanmu menuju HIMATEK ideal versi dirimu."

"Tapi apakah aku tidak boleh mengekspresikan kecintaanku dengan kata-kata? Aku memang tidak mampu berbuat lebih dari kata-kata. Tapi inilah caraku untuk mengungkapkan kecintaanku bagi HIMATEK. Dan dengan kata-kata pula aku mengajak teman-temanku untuk mencintai HIMATEK. Karena aku sendiri pun cinta akan HIMATEK."

"HIMATEK, yang telah memberikan kepadaku kepercayaan pertama seumur hidupku sebagai Penanggung Jawab sesuatu. Meskipun itu hanyalah PJ name tag saat kaderisasi."

"HIMATEK, yang membuat aku merasa bisa menyelesaikan pekerjaan dalam sebuah organisasi untuk pertama kalinya dalam hidupku. Meskipun itu hanyalah sebuah Analisis SWOT Angkatan."

"HIMATEK, yang telah memberikan kepadaku jabatan struktural pertama pada sebuah kepanitiaan. Meskipun itu hanyalah Koordiv Lapangan pada sebuah wisudaan, dengan anggota divisi tidak lebih dari 5 orang."

"HIMATEK, yang mengenalkanku dengan rekan-rekan, kakak-kakak, dan adik-adik tingkat yang merupakan manusia-manusia berkualitas. Meskipun itu diawali hanya dalam bentuk KINKAT, MEKFLU, EKSPANDER, dan BURNER."

"HIMATEK, yang telah memberikan pengalaman pertama dalam hidupku untuk berbicara di depan umum dalam tekanan, pada saat hearing calon Senator 2008/09."

"HIMATEK, yang menyerahkan kepadaku mandat terbesar yang pernah kuterima dalam 21 tahun hidupku: membawa suara dan pikiran 300an jiwa manusia ke Kongres KM-ITB."

"HIMATEK, yang mengajarkan efisiensi dan efektivitas rapat. Etos kerja. Kejujuran."

"HIMATEK, yang mengubah orientasiku masuk kampus ini dari sekadar cari jurusan bergengsi yang murah, menjadi semangat untuk membalas budi pada rakyat Indonesia dengan memajukan negara."

"HIMATEK telah memberi terlalu banyak untukku. Apa yang telah kuberikan kepadanya? Tapi kau lupa, hai Sang HIMATEK Ideal, bahwa HIMATEK pada hakekatnya adalah sebuah wadah. Wadah yang tidak bisa memberi, tapi bisa menjadi alat bagi kita untuk berkembang."

"Tanpa HIMATEK aku bukanlah apa-apa, hai Sang HIMATEK Ideal. Berbeda denganmu. Mungkin tanpa HIMATEK IPKmu masih akan cum laude. Mungkin tanpa HIMATEK skill organisasimu akan tetap tinggi. Mungkin tanpa HIMATEK kau akan tetap bisa bergaul. Mungkin tanpa HIMATEK kau akan tetap hebat. Akan tetap kritis. Akan tetap cerdas. Akan tetap ideal."

"Tapi aku, aku yang bukan apa-apa. HIMATEK telah memberi terlalu banyak. Dan itulah yang akan terus kukejar. Aku cinta HIMATEK sebagai wadah. Maka akan kuberdayakan ia sebagai wadah. Aku akan terus belajar di dalamnya. Dibentuk di dalamnya. Dan sebagai bukti kecintaanku, akan kuumumkan kepada dunia nanti jika aku telah menjadi manusia yang berguna dan berandil untuk orang lain: bahwa di TEKNIK KIMIA ITB ada sebuah wadah bernama HIMATEK, yang dapat mengubah bukan siapa-siapa seperti aku menjadi seorang siapa-siapa!!!"

Sang HIMATEK ideal melangkah mundur, mendekati Alfonso. "Alfonso, sayang sekali..."

"Aku tahu kau masih memiliki sejuta protes untuk argumenku." potong Alfonso. "Lagipula kau adalah Sang HIMATEK Ideal. Argumenku tadi tentu mudah kaulawan. Maka akan kupertegas. Aku akan meningkatkan aktivitas dan kontribusiku di HIMATEK, aku akan menjadi kader yang HIMATEK banggakan, dan selagi aku melakukannya, kau boleh diam dan lakukan bagianmu. Dan ini salam perpisahan untukmu, sekaligus ucapan terima kasih..."

Alfonso mengayunkan tinjunya ke arah kepala Sang HIMATEK Ideal. Sang HIMATEK Ideal menghindar. Alfonso secara refleks kemudian menarik jahim Sang HIMATEK Ideal.

GUBRAK.

Alfonso terbanting. Ia jatuh dari kursi. Tangan kanannya teracung ke atas, memegang jahim dengan namanya sendiri. Ia segera bangkit dan membetulkan letak kursinya. Matanya terarah ke layar laptopnya yang masih menyala. Di sana ada jendela MS Word 2007 yang masih terbuka, di dalamnya ada sebaris tulisan "Karangan untuk HIMATEK Notes Attack" dan selebihnya kosong. Jam di dinding menunjukkan pukul satu malam.

"Rupanya aku ketiduran sebelum sempat mulai menulis." gumam Alfonso.

Ia menggosok-gosok kepalanya yang terbentur tadi, kemudian mematikan laptopnya. Ia memutuskan untuk menunda penulisan notes itu untuk saat dia bangun pagi nanti. Lagipula, ia sudah tahu pasti apa yang akan ia tulis.


.

Selasa, 15 September 2009

Siapakah Orang "Indonesia Asli"?


Peta Kedatangan Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Nenek moyang bangsa Indonesia, secara teoritis, berasal dari tempat yang sekarang bernama Provinsi Yunnan di Republik Rakyat Cina, melalui migrasi ribuan tahun lalu. Penduduk asli Kepulauan Indonesia saat itu yaitu ras Austromelanesoid tergusur oleh keberadaan nenek moyang bangsa Indonesia saat ini dan terdesak ke Irian. Berdasarkan waktu kedatangannya, para imigran tersebut dibagi dua:

1. Proto Melayu
Orang-orang Proto Melayu datang dari Yunnan sekitar tahun 2000 SM. Mereka datang melalui dua jalur:
a. Jalur pertama dari Filipina menyebar ke Sulawesi dan Papua. Mereka ini antara lain menjadi nenek moyang suku Toraja. Mereka membawa kebudayaan kapak lonjong.
b. Jalur kedua dari Indocina melewati Semenanjung Malaya ke Sumatera, lalu menyebar ke Kalimantan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Mereka ini antara lain menjadi nenek moyang suku Batak, Dayak, dan Sasak (Lombok).

2. Deutero Melayu
Orang-orang Deutero Melayu datang dari daerah Teluk Tonkin (Vietnam Utara) sekitar tahun 500 SM. Peradaban mereka lebih maju dari orang-orang Proto Melayu, yaitu kebudayaan Dong Son yang ditemui di Vietnam. Mereka menempati pesisir-pesisir dan mendesak orang-orang Proto Melayu ke pedalaman. Mereka ini antara lain menjadi nenek moyang suku Jawa, Minang, dan Bugis.

Semua yang disebutkan di atas, penduduk "asli" Indonesia, nenek moyang bangsa "pribumi" Indonesia yang sekarang, berasal dari Cina. Namun mereka tetaplah nenek moyang bangsa Indonesia. Yang membedakan hanyalah waktu kedatangan, entah itu 2000 SM, 500 SM, atau 1000an M.
Bhinneka Tunggal Ika!

.