Jumat, 03 Mei 2013

Biorefinery Series - Part 3 : A Repetition; Seminar Nasional Agro "Pengembangan Industri Hilir Unggulan Berbasis Kelapa Sawit"

"Jika negara kita mau mengguncangkan dunia, sawitlah salah satu moncong meriamnya, industri hilirnyalah pelurunya, dan insinyur-insinyur proseslah api pada sumbunya, yang harus memicu ledakannya!"


---------

Mungkin bagi saya (dan sebagian dari anda) yang sudah terlalu sering mendengar dan menyimpulkan, apa yang ada dalam tulisan ini merupakan repetisi. Perulangan. Perulangan yang jelas. Bahwa permasalahan bangsa yang lucu ini sebenarnya sudah jelas, dan solusinya pun sudah jelas. Setiap kajian permasalahan menghasilkan peta yang sama, yang menggambarkan jalan yang sama, untuk tujuan akhir yang sama-sama diharapkan. Dan negeri ini sudah cukup memiliki banyak pembuat peta; namun kekurangan orang yang berani menempuh jalan, dengan persiapan yang benar dan tujuan yang benar.

Demi menyingkat pendahuluan yang hendaknya tidak terlalu panjang, berikut inilah kesan (semoga) singkat yang saya dapatkan dari Seminar Nasional Agro tentang industri hilir sawit. Salam!

Pada hari Jumat pagi lalu, 26 April 2013, saya mengikuti Seminar Nasional Agro yang diselenggarakan di gedung Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Acara ini adalah salah satu bentuk dari acara tahunan yang digelar oleh Komunitas Agro, yaitu salah satu dari 12 komunitas keahlian dalam Badan Kejuruan Kimia - Persatuan Insinyur Indonesia (BKK-PII) di mana Komunitas Agro ini mewadahi insinyur-insinyur kimia yang bergerak maupun menaruh minat pada bidang agroindustri (industri pengolahan sumber daya agro atau hasil pertanian, perkebunan, dan semacamnya). Tema kali ini adalah "Pengembangan Industri Hilir Unggulan Berbasis Kelapa Sawit". Dalam 3 tulisan saya terdahulu dengan tema Biorefinery, sedikit banyak terangkat masalah sawit sebagai potensi negara kita yang amat dahsyat, anugerah Tuhan bagi negara-negara tropis khususnya, ya, sangat khususnya, Indonesia; namun dirasakan ada baiknya diberikan ulasan pendahuluan sekilas terlebih dahulu mengenai sawit dan biorefinery ini untuk yang baru mempelajarinya.

Tanaman sawit ini merupakan aset besar bangsa Indonesia dalam menyongsong abad biorefinery, dengan dua alasan. Alasan pertama, secara potensi dari kandungan sawit itu sendiri, tanaman ini mengandung bahan-bahan yang baik secara jumlah maupun mutu sangat cocok untuk biorefinery (menggantikan sumber daya migas). Panen sawit berupa tandan buah segar (TBS) jika diolah di pabrik pengilangan sawit (PKS) akan menghasilkan 25% minyak (20% CPO dan 5% PKO atau minyak inti) dan 75% sisanya merupakan limbah biomassa yang bermanfaat (10% cangkang, 20% serabut, 20% tandan kosong, dan 25% menjadi limbah cair bersama-sama dengan air proses). CPO dan PKO merupakan minyak dari tanaman, dan berpotensi diolah menjadi bermacam-macam produk pengganti migas: bahan bakar baik pengganti yang konvensional maupun yang energi baru/terbarukan (diesel, avtur, hidrogen, dst), pelumas dan pelarut industri, senyawa-senyawa bahan bioplastik (pengganti plastik biasa); maupun produk-produk lain seperti sabun, deterjen, bahan kosmetik, pengemulsi pangan, untuk industri farmasi, dan lain-lain.

Sementara limbahnya (yang banyaknya 4 kali lipat minyaknya) pun tak kalah bermanfaat. Tandan kosong sawit (TKS) sebagaimana limbah tanaman sebangsa kayu dan sejenisnya adalah lignoselulosa, yang dapat digunakan entah dalam bentuk material (untuk tripleks, bahan bangunan, dst), barang habis (dibakar untuk energi panas atau listrik, pakan ternak, pupuk kebun), maupun diolah dengan diurai menjadi gula, yang dengan teknologi bioproses dapat diolah menjadi hampir semua jenis produk seperti bahan bakar cair (etanol), bahan bioplastik, produk farmasi dan pangan. Limbah cairnya atau palm oil mill effluent (POME) dapat menjadi bahan baku penghasil biogas maupun pupuk, hidrogen, bahan bioplastik, maupun bahan bakar cair (butanol).

Pendek katanya, hampir semua produk industri kimia di segala sektor baik untuk pengganti migas (petrokimia dan energi) maupun sektor pangan dan lain-lain, dapat dipenuhi oleh kelapa sawit! Tentunya seluruh dunia sudah tahu bahwa minyak tumbuhan adalah bahan baku utama biorefinery, maka dari itu negara-negara berteknologi maju (terutama Eropa dan Amerika) juga mengembangkan teknologi-teknologi tersebut berbahan baku minyak nabati dari negara mereka sendiri. Namun, kelapa sawit Indonesia memiliki keunggulan...

Alasan kedua, dari sisi potensi sawit yang dimiliki Indonesia, seperti kita tahu (atau tidak tahu) bersama, Indonesia dan Malaysia adalah produsen 87% sawit dunia. Tanaman ini hanya tumbuh di tanah yang cocok, dan Indonesia adalah negara terluas yang memiliki tanah yang cocok itu! Palm oil is God-given, specifically-designed, custom-made renewable phlebotinum for our country, Indonesia! No wonder Western world hates us (and our palm oil)!

Ini perusahaan dari salah satu negara yang paling gencar berkampanye "Say No To Palm Oil". Berita lengkap di http://www.mongabay.co.id/2013/03/25/korporasi-asing-terus-lakukan-ekspansi-perkebunan-kelapa-sawit-di-indonesia/

Sekian intro sekilas tentang sawit dan potensi industri hilirnya. Kembali ke acara seminar, acara ini dibuka oleh perwakilan badan penanggung jawab acara yaitu Ir. Michael Baskoro (Wakil Ketua BKKPII mewakili Ketua BKKPII Ir. Nanang Untung yang berhalangan) dan perwakilan tuan rumah yaitu Prof. Bambang Sugiarto (Dekan FT-UI) yang ternyata dulunya sesama teman kuliah di FT-UI. Prof. Bambang Sugi ini memang nampak sangat orang teknik mesin dan alumni Kanisius; blak-blakan sekaligus pede dan tak gentar untuk bragging. Tentunya dibuka dengan cerita promosi betapa kerennya FT-UI; dari segi luas, banyaknya mahasiswa, jumlah profesor, dana penelitian, dst dst. Sebagai manusia berjiwa ITB (baca: Institut Terkenal Belagu) tentunya saya punya banyak remarks yang tentunya tak kalah konyol tentang pidato beliau itu, tapi yasudahlah, hahaha. Yang jelas ada beberapa quote beliau yang saya garisbawahi. "Negeri ini negeri project-based" atau dalam bahasa saya, bangsa diskrit dan seremonial. "Acara seperti ini memberi solusi tapi kurang coverage. Insinyur itu harus banyak bicara agar didengar oleh orang lain. Harus bicara, bicara, bicara, dan berbuat!" ini kasus terutama yang saya lihat di perkumpulan-perkumpulan insinyur (problem solver) selama ini; banyak peta, banyak solusi, gak pernah diekspos dan gak pernah bisa ditembuskan ke masyarakat awam atau pembuat kebijakan! Dalam komunikasi itu ada pengirim, ada pesan, ada penerima. Dalam kasus ini, entah mana yang ngaco. Yang punya solusi, yang dikasihtau solusi, atau solusinya sendiri.

Setelah sambutan, acara seminar dimulai dengan keynote speech yang harusnya disampaikan oleh Dr. Firmansyah (Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi dan Pembangunan) namun karena beliau berhalangan hadir (sering sekali terjadi seperti ini terutama jika yang diundang adalah pejabat 'tinggi') maka digantilah beliau, dan tidak ada orang lagi yang lebih tepat di Indonesia ini untuk membuka suatu seminar tentang sawit dibanding Bapak Sawit Indonesia, Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia, tokoh utama dalam buku "Memoar Duta Besar Sawit Indonesia", alumnus TK ITB angkatan 60 yang sejak lulus hingga saat ini sudah hampir setengah abad karirnya dihabiskan untuk bergelut dengan industri dan perkebunan sawit... Ir. Derom Bangun.



"Berbeda dengan industri kimia yang lain (...) semuanya berbau kimia. pabrik kelapa sawit itu berbau jagung rebus, makanya saya kerja sampai malam pun tidak pernah merasa capek." kesaksian Derom Bangun untuk GBKP, selengkapnya di http://www.gbkp.net/kesaksian/kesaksian/170-kesaksian-ir-derom-bangun

Selama setengah jam Pak Derom berbicara "ngalor ngidul" (itu menurut istilahnya sendiri) dengan aksen Perancis sekaligus logat Sumatera yang kental.

Tentang produksi sawit Indonesia yang tadinya di dekade 90an masih kedua di bawah Malaysia (tahun 98 produksi sawit kita masih di bawah 10 juta ton, hanya sekitar lebih dari 70% Malaysia, namun di dekade ini kita sudah berada di atas Malaysia dengan 20an juta ton, sementara produksi Malaysia stagnan di angka 17 juta ton!) hingga kita sekarang menghasilkan 50% sawit dunia dan (dengan sawit saja) memasok hampir 15% kebutuhan minyak nabati dunia! And I will repeat: no wonder Westerners hate us (and our palm oil)!Tentang perkembangan industri sawit Indonesia. Dari pertama kali hanya menghasilkan CPO dan PKO, hingga tahun 80 Pak Derom dan rekan-rekan mengembangkan adanya pabrik/kilang fraksionasi atau pemisahan CPO menjadi komponen-kompnen olein, stearin, dan distilat asam lemak bebas (PFAD). Tentang teknologi pemrosesan sawit yang tentunya sudah familiar bagi insinyur proses: penghancuran, pre-treatment, pemerahan minyak, penyaringan dan pemurnian.

Dan pada akhirnya, tentang pengaruh asing di sawit. Negara-negara empat musim yang mungkin sampai kiamat tidak akan pernah bisa punya kebun sawit, ternyata yang lebih serius ngurusin sawit! Teknologi pemrosesan sawit pun negara-negara itu yang mengembangkan. Begitu pula dengan standardisasi produk-produk sawit, termasuk emisinya! Nah loh. Repetisi ini, masalah bangsa kita, seperti yang sudah pernah saya bahas, potensi segudang, tapi malah negara asing yang tidak memilikinya yang lebih perhatian. Ini gawat, terutama jika dilihat dalam kasus berikut ini... emisi.

Jadi (singkatnya) ada kampanye hitam terhadap sawit di luar negeri, yang menurut saya hanyalah cara untuk memproteksi minyak-minyak nabati barat yang inferior. Celakanya, catatan emisi yang dihasilkan perkebunan sawit itu dibuat oleh asing (Jerman)! Sawit dianggap tidak memenuhi standar carbon saving jika memperhitungkan transportasi, penebangan hutan, pembukaan lahan, gambut dll, dengan parameter yang ditentukan sepihak. Belum lagi kampanye di Perancis soal gangguan kesehatan akibat minyak sawit, lengkap dengan label pada makanan: sans huile de palme (SHDP) alias "tanpa minyak sawit", yang mungkin di Indonesia bisa dianalogikan dengan label "halal"... otomatis produk yang tidak mengandung cap itu langsung turun daya tariknya. Ditambah dengan deforestasi dan isu lingkungan dan gambar-gambar orangutan yang lucu-lucu sebagai bentuk ampuh psikologi massa, pajak sawit di Perancis pun naik sampai empat kali lipat...


Kampanye efektif gratis via instant messenger LINE, untuk anak-anak muda Indonesia dan seluruh dunia.
Padahal argumen-argumen tersebut masih sangat dapat terbantahkan, salah satu contohnya dapat dilihat di link ini http://www.foodnavigator.com/Financial-Industry/Palm-oil-sustainability-A-sensitive-issue-due-for-exponential-growth soal isu lahan. Pendapat pribadi saya terkait isu orangutan, ya, kasus-kasus pembunuhan orangutan secara brutal itu biadab, salah, dan seharusnya bisa dihindari. Konservasi orangutan harusnya bisa berfokus pada menjaga populasi orangutan, bukan meniadakan sawit... saya percaya keduanya bukan hal yang identik.

I believe that oil palm plantations and orangutans can and must coexist.

Pak Derom dkk telah berusaha menjadi pembela dan mendatangkan para penilai itu langsung ke pabrik-pabrik dan kebun sawit Indonesia untuk melihat bahwa yang dituduhkan itu tidak benar, namun setelah itu jawabannya pun hanya "we'll study the results and inform you later". Semacam berkelit. Ditambah banyak pembelaan dari kita itu belum berbentuk "ilmiah banget" dan untuk mencegah lawan kita berkelit semacam itu, bukti-bukti ini harus dibakukan dalam bentuk jurnal penelitian atau apapun lah yang lebih ilmiah. Tantangan buat para peneliti, kalian pasti bisa!

Sesi utama seminar adalah diskusi panel yang melibatkan 4 orang narasumber yang, seperti budaya yang ada di BKKPII, diusahakan datang dari golongan akademisi, bisnis, dan pemerintah (ABG). Diskusi panel ini dimoderasi oleh Ketua Komunitas Agro BKKPII (penyelenggara acara) yaitu Ir. Memed Wiramihardja, MM. IPM., Direktur Litbang PTPN IV (Sumatera Utara), alumnus TK ITB angkatan 75. Dalam pembukaan diskusi, beliau mengemukakan bahwa potensi peningkatan nilai tambah dari SDA perkebunan kita yang unggulan perlu menjadi perhatian dan pengembangannya menjadi tanggung jawab insinyur-insinyur proses (yang diwadahi oleh BKKPII), terutama untuk sawit dan karet. Sawit ini produksinya berlimpah dan dampaknya langsung maupun tidak langsung bagi masyarakat besar. Jika dapat diolah menjadi produk-produk bermanfaat, dampaknya akan lebih besar lagi, bahkan sangat besar. Jadi, dalam bahasa saya, jika negara kita mau mengguncangkan dunia, sawitlah salah satu moncong meriamnya, industri hilirnyalah pelurunya, dan insinyur-insinyur proseslah api pada sumbunya, yang harus memicu ledakannya!

Panelis pertama adalah Ir. Indra Budi Susetyo, MSc., alumnus TK ITB angkatan 76, peneliti madya dari BPPT, sebagai peneliti yang bekerja di instansi pemerintah, dengan presentasi berjudul Sinergi Kebijakan dan Perkembangan Teknologi untuk Pemenuhan Kebutuhan Strategis (Berbasis Kelapa Sawit). Presentasi dibuka dengan sedikit kimia organik dasar dari minyak lemak dan gula, dan dilanjutkan dengan potensi sawit Indonesia: bahwa Indonesia adalah pemasok sawit terbesar dunia (bahkan 50% lebih) dengan pertumbuhan yang sangat pesat! Di dunia pada abad 21, produksi minyak nabati lain seperti minyak biji bunga matahari, kedelai, dan biji perkosa (terjemahan rapeseed versi Pak Tatang) cenderung stagnan (pertumbuhan terbesar 20%), namun produksi minyak sawit pada tahun 2011 naik 100% dibanding pada tahun 2000! Pertumbuhan ini sebenarnya menempatkan Indonesia sebagai unrivaled player pada permainan minyak nabati dunia. I repeat, no wonder Westerners hate us (and our palm oil)!

Evolusi produk turunan minyak sawit pun terlihat makin lama makin berkembang ke hilir. Dari produk tradisional CPO seperti minyak goreng, sabun dan margarin, kali ini berkembang industri lanjutannya untuk memasok bahan bagi industri deterjen, personal care, kosmetik, dan specialty food. Di masa depan (yang tak akan terlalu jauh, bahkan sebagian sudah ada) produk  minyak sawit adalah untuk pengganti produk-produk migas: pelumas, pelarut industri, bioplastik dan bahan bakar!

Bisa kita lihat sebenarnya secara kimia, tidak harus minyak sawit yang digunakan sebagai bahan baku; minyak-minyak nabati yang lain pun bisa, karena secara kimia serupa. Dan seperti biasa, ini berarti negara-negara lainlah yang sudah mengembangkan teknologi-teknologi tersebut, dengan minyak-minyak nabati yang tersedia di negaranya. Ya, menurut saya sih, itulah sebabnya mereka minder dengan sawit Indonesia... karena mereka bijinya kecil-kecil. Maksudnya ya biji bunga matahari, kedelai dan biji perkosa itu. Produktivitasnya pun kalah jauh. Produktivitas per hektar sawit itu rata-rata 10 kali lipat biji-biji yang tadi disebutkan, dan bahkan biji-biji kecil itu telah diperlengkapi rekayasa genetika yang canggih. Makjang! I repeat, no wonder Westerners hate us (and our palm oil)!

Ada beberapa produk hilir yang bernilai tinggi dan sangat modern dari minyak sawit, namun di sini akan dibahas selintas saja untuk menghindari terlalu jauh ke ranah teknikal. Pelarut industri, di mana 12% pelarut di AS saat ini adalah metil ester, di mana minyak sawit dapat direaksikan dengan metanol membentuk senyawa ini. Epoksida, sebagai bahan baku plastik khususnya PVC, menghindari pemakaian pthalat yang terkandung pada plastik biasa (penyebab lupus, mandul, kanker dan feminisasi). Natural polyol (NOP), digunakan sebagai pengganti zat-zat berhalogen yang merupakan bahan perusak ozon (BPO) di furnitur dan sejenisnya. Propilen glikol, yang kegunaannya beragam mulai dari bahan poliester, deterjen, antifreeze dan lain-lain.

Kesemuanya itu akan menggantikan bahan serupa yang diproduksi dari bahan yang berbahaya bagi lingkungan atau sumber daya tak-terbarukan, terutama migas. Konsumsi minyak bumi akan terus naik, sementara produksinya terus menurun. Negara lain pun tidak buta akan keadaan ini. Dengan sumber daya yang tersedia saja, mereka telah buat kilang hidrokarbon dari minyak nabati! Mengolah sawit, untuk membuat produk-produk yang telah dijelaskan tadi, untuk menggantikan industri petrokimia. Ini telah dijelaskan Pak Tatang seperti yang saya kutip di tulisan sebelum ini (Biorefinery Series Part 2), negara-negara yang mengembangkan justru negara yang miskin sumber minyak nabati seperti Finlandia (iklim), Singapura dan Belanda (lahan). Tanya kenapa?

Dibahas pula keekonomian pembangunan kilang tersebut di Indonesia. Jika dibangun 60 kilang bahan bakar pengganti BBM dari sawit di Indonesia, CPO dari 10 juta hektar lahan sawit, atau 1000 pabrik PKS, akan dapat diolah menjadi bahan bakar setara 1 juta barel minyak per hari, menciptakan 4 juta lapangan kerja baru (sekitar 1-2% jumlah penduduk Indonesia atau setara jumlah seluruh penduduk provinsi Kalimantan Barat), dan menghemat devisa negara US$ 65 miliar, yang berasal dari pertambahan nilai CPO yang tidak lagi diekspor murah (sekarang dapat dijadikan BBM yang lebih mahal) dan penghentian impor solar. Investasi yang dibutuhkan berkisar ratusan miliar dolar, namun uang sebanyak itu tidak perlu disediakan pemerintah, cukup meregulasikannya saja. Nah, masalahnya ya terkait impor solar itu tadi; dengan demikian sekarang ditambah pula, yang benci kita dan kelapa sawit itu ada pula mafia minyak!

Dan, sebagaimana terus diulang-ulang di setiap pertemuan keinsinyuran yang saya ikuti setahun belakangan, kunci dari kesuksesan skema ini adalah integrasi perkebunan dan industri. Tren dunia saat ini adalah hilirisasi dan integrasi industri. Logikanya, jika pemilik kebun, pemilik pabrik CPO, dan pemilik pabrik hilir (pengolah CPO) terpisah-pisah, harga akan mahal karena ada ongkos transportasi. Padahal, tandan buah segar (TBS) produk kebun adalah bahan baku pabrik CPO. CPO adalah bahan baku pabrik biodiesel, deterjen, dan lain-lain. Biodiesel (FAME) adalah bahan baku produk-produk lainnya lagi (produk hilir). Jika yang kita targetkan adalah produksi produk-produk hilir (advanced) bernilai tinggi, inefisiensi ini harus dihindari! Kebun dan pabrik harus terintegrasi, kalau bisa dimiliki oleh satu pihak. Ini akan mempermurah harga, sehingga bahan bakar yang dihasilkan pun harganya dapat berkompetisi dengan BBM. Ilustrasinya (digambar ulang) sebagai berikut.

Jika industri terintegrasi atau pemilik kebun juga menjadi pemilik pabrik hingga ke hilir, ada 2 keuntungan: (1) harga akhir biodiesel/bahan bakar lebih murah sehingga bersaing dengan BBM, (2) keuntungan yang didapat lebih besar daripada sekadar menjual CPO.

Jadi, dari kompleks industri terintegrasi ini, produk antara seperti CPO tidak boleh lagi keluar. Kebun sawit harus menghasilkan produk hilir atau bahan bakar; tidak boleh jual TBS keluar, tidak boleh jual CPO keluar! Terakhir, untuk sumber daya lahan yang terbatas (tidak bertambah), harus dijaga benar untuk keperluan yang strategis. Saya sungguh ingin dapat menerapkan intensifikasi perkebunan sawit untuk meningkatkan produktivitas kebun berlipat-lipat, hasil buah pemikiran guru saya, sang maestro Teknik Kimia, Dr. Mubiar Purwasasmita.

Panelis kedua adalah Prof. Dr. Ing. Ir. Misri Gozan, M.Tech., dosen Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia, alumnus TK UI angkatan 87, spesialis bidang biokimia dan bioteknologi, Wakil Sekretaris Umum BKKPII, dan penganut setia ilmu aliran Mpu Tatang. Sebagai salah satu perwakilan akademisi kampus, beliau membawakan presentasi berjudul Strategi Pengembangan Industri Biorefineri Indonesia.

Prof. Misri Gozan dengan penelitian antara lain seperti produksi biodiesel secara enzimatis, produksi bioetanol dari hemiselulosa dengan SSF, dan bioreaktor untuk WWT, yang selengkapnya dapat dilihat di http://staff.ui.ac.id/profil/detail_dosen.php?id=132091210

Seperti panelis sebelumnya, presentasi dibuka dengan penggebrakan melalui fakta potensi sawit Indonesia, yang ini dilihat dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia di mana industri pengolahan sumberdaya non-migas (industri turunan sawit termasuk di dalamnya) masih menyumbang porsi terbesar PDB, sebanyak 20%; namun jumlah ini adalah penurunan dari tahun-tahun sebelumnya, sementara sektor hulu (pertanian, peternakan, kehutanan dan perikanan) malah meningkat. Apa artinya? Berarti makin banyak bahan mentah yang dijual dalam bentuk mentah, bukan bentuk olahan, sehingga mengurangi potensi penambahan nilai (added value), baik dari bahan mentah itu maupun dari limbah yang dapat dihasilkan oleh proses pengolahan! Lantas di mana posisi sawit? Jika Pak Indra Budi membandingkan dengan minyak-minyak nabati lain di dunia, Pak Misri membandingkan dengan hasil kebun lain di Indonesia. Sama! Yang lain: tebu, karet, teh, coklat, kopi, semua stagnan; sawit naik terus!

Menjabarkan penjelasan saya di bagian pendahuluan tadi, Pak Misri menjelaskan mengapa bisnis sawit di Indonesia potensial: ongkos produksi kita terendah di seluruh dunia (buruh dan lain-lain) sehingga margin keuntungan besar, permintaan internasional naik terus, produktivitas (seperti sudah dibahas) jauh unggul dibanding para saingannya, dan substitusi BBM pun (akan) menguntungkan karena harga BBM kita naik terus. Faktor penghambatnya? Perlu dicatat: 1. potensi sengketa lahan, 2. peraturan dan hukum lemah sehingga menimbulkan ketidakpastian jaminan keamanan, 3. infrastruktur lemah, dan yang paling bikin kesal adalah 4. serangan asing atas kelapa sawit. Wah, banyak juga.

Saat ini 50% kebun sawit Indonesia dikuasai swasta, 40% petani rakyat, dan 10% negara via PTPN. Terkait pengembangan kawasan industri hilir strategis seperti yang telah disampaikan, saat ini dicoba dibuat klaster industri untuk mengecek mana model penggerak yang terbaik: di Sumatera Utara (berbasis PTPN), di Riau (berbasis industri swasta), dan di Kalimantan Timur (berbasis Pemda).

Hingga sampailah kepada sawit sebagai bahan utama biorefinery (atau, sebagai 'murid' Mpu Tatang, di-Indonesiakan oleh Pak Misri menjadi 'pengilangan hayati'). Seperti apa saja detil pohon industri sawit selintas saja dibahas oleh Pak Misri, meskipun ada pohon industri detailnya (yang saya punya dalam bentuk hard copy), baik dari minyaknya maupun limbahnya, yang sama-sama mencakup rentang jenis produk yang sama banyaknya (seperti yang telah disinggung di pendahuluan). Dan seperti yang telah ditekankan oleh hampir semua pembicara, kunci keberhasilannya adalah di pembuatan suatu kompleks industri terintegrasi. Pak Misri memberi permisalan, apakah ada pabrik bensin? Tentu tidak, karena pasti tidak ekonomis. Yang ada itu kilang minyak! Jadi mengapa kita membuat pabrik bioetanol atau biodiesel? Adakanlah kilang singkong, kilang tebu, kilang sawit! Itulah yang dilakukan di negara-negara asing. Dengan sumber daya seadanya mereka telah membuat pengilangan hayati terpadu mulai dari produk kimia dasar hingga turunan hilirnya yang bernilai tinggi.

Pak Misri menutup presentasinya dengan membahas masalah yang ada pada penelitian di kampus-kampus kita. Ada dua masalah yang digarisbawahi. Pertama, penelitian di tiap kampus seringkali overlapping dan tidak terkoordinasi. Apa yang dibahas di ITB dibahas pula di UI, misalnya, dan apa yang tidak dibahas di ITB seringkali pula tidak terbahas di UI atau kampus manapun. Koordinasi dengan demikian mutlak perlu, bukan hanya dengan sesama universitas, tapi juga ke luar: dengan dunia industri, dan ke dalam: inilah masalah kedua, yaitu koordinasi antar bidang penelitian. Bahkan bidang keahlian di satu kampus pun masih belum bisa koordinasi. Seharusnya tidak hanya fokus di proses produksinya, misalnya; tapi orang pemisahan, orang material, dan lain-lain harus mulai meneliti juga, sehingga penelitian yang ada tidak diskrit, parsial, dan terserak; tapi bisa sinergis dan terintegrasi dan tujuannya membangun suatu pabrik, bukannya (ini tambahan dari saya) hanya untuk kesenangan si peneliti! Riset anda dibayari uang negara, uang rakyat, Pak, Bu...


Panelis ketiga adalah presenter dadakan dari PT. Musim Mas, salah satu raksasa sawit Indonesia dan dunia. Pembicara terjadwal adalah Huiniati, Kepala HRD Corporate, yang mewakilkannya ke orang yang dirasa lebih mampu berbicara banyak di bidang ini: Togar Sitanggang, Manajer Corporate Affairs PT. Musim Mas, pria berambut plontos alumnus Agribisnis USU yang telah 20 tahun malang melintang di berbagai perusahaan dalam dunia persawitan. Ayah beliau, menurut Pak Memed, adalah 'sesepuh' di PTPN (Jan Piter alias JP Sitanggang?). Saya bertemu beliau pertama kali di Kementerian Perdagangan pertengahan tahun lalu dalam rapat pertahanan kebijakan antidumping Uni Eropa atas ekspor biodiesel dari Indonesia.

Pak Togar ini juga pecinta fotografi. Photo credit: Togar Sitanggang.

Seperti biasa presentasinya (dengan slide yang berbeda dari yang dipersiapkan panitia) dibuka dengan potensi sawit: dalam hal sumbangannya terhadap devisa negara non-migas, sawit menduduki no.2 di bawah batubara. Saat ini sawit telah menyerap 6 juta tenaga kerja (sekitar 2% penduduk Indonesia atau jika jadi provinsi tersendiri akan menempati urutan 10 dari 33 provinsi).

Terkait (lagi-lagi) hilirisasi sawit, mengapa perlu? Ya, kita ini produsen terbesar sawit dunia dengan 28 juta ton per tahun produksi sawit (no. 2 Malaysia dengan 18 juta ton, no.3 Thailand dengan hanya sekitar 1,5 juta, kita jauh di atas 50% dunia), hanya 5 juta ton yang dipakai untuk keperluan pangan, sisanya sedikit non-pangan dan selebihnya ekspor. Sungguh sayang bukan?

Terkait ekspor, pada sejarahnya, sawit Indonesia mulai berkembang hingga mencapa titik swasembada (mencukupi kebutuhan dalam negeri). Musim Mas adalah perusahaan pertama yang mengekspor sawit pada tahun 90an sebagai tanda bahwa kebutuhan dalam negeri telah bisa tercukupi sehingga kelebihannya bisa diekspor. Perkembangan Musim Mas dari awal dibentuk sebagai perusahaan sabun (1932), kemudian membuat kilang/pabrik CPO (1970), lalu membeli kebun sendiri (1988), dan membuat inovasi pionir dengan mendirikan industri oleokimia (2003) hingga saat ini akan go international (2013). Musim Mas saat ini menguasai 10% pasar sawit dunia atau 20% Indonesia, hanya di bawah Wilmar, yang dideskripsikan Pak Togar sebagai "kawan sekaligus musuh". Dan sebagian besarnya diekspor.

Mengapa diekspor? Ya, karena pasar lokal tidak menyerap! Alokasi untuk produk bulk (minyak goreng) sudah penuh, sementara industri hilirnya tidak tumbuh. Industri hilir berbahan baku minyak sawit malah banyak dikuasai asing alias negara-negara maju yang tidak punya sawit. Aneh kan? Saya teringat salah satu presentasi di halalbihalal BKKPII tahun lalu: di era global ini, jangan pernah sombong jika anda kaya sumber daya alam. Negara yang menguasai hilir akan bilang "Oh, kamu kaya SDA? Tapi nggak bisa ngolahnya kan? Cuma bisa jual mentah murah kan? Kalau gak dijual, siapa juga yang mau nyimpan kan? Yaudah sini mana SDA-nya, saya beli dah!". Indonesia, simaklah!

Terkait dengan industri hilir di negara maju, karena desakan dari petani minyak nabati mereka yang bijinya kecil-kecil itu, maka diinisiasilah kampanye anti-sawit seperti yang telah disinggung sebelumnya. Argumen merusak hutan, mengambil tanah penduduk, global warming, dan merusak kesehatan didengungkan, dan untuk membantahnya secara komprehensif akan makan satu artikel sendiri. Singkatnya, tuduhan-tuduhan itu dilebih-lebihkan, dilontarkan dan dihakimi sepihak, dengan munafik pula, dan semuanya itu adalah semata untuk melindungi biji-biji kecil mereka!

Musim Mas, menurut Pak Togar, terus bertempur dalam jalur untuk mempertahankan sawit ini. Semua sertifikasi yang dikeluarkan asing terkait sawit, diikuti oleh Musim Mas. Sertifikasi RSPO dari Jerman diambil. WWF bahkan menjadikan kebun dan pabrik Musim Mas sebagai bintang iklan video, di mana perusahaan ini digambarkan sebagai perusahaan sawit yang sustainable. Inilah perjuangan secara legal untuk membela kepentingan nasional Indonesia. Meskipun begitu, serangan tetap tidak berhenti, mulai dari level halus seperti kampanye hitam tadi, hingga level kasar dan frontal, seperti trade barrier; contohnya saja adalah peningkatan pajak sawit hingga empat kali lipat di Perancis, atau politik antidumping (mengenakan denda penalti untuk) biodiesel ekspor kita ke sana. Terkait kasus ini yang saya pernah terlibat mengurus juga di Kementerian Perdagangan, meskipun mereka berkata antidumping ini dilakukan untuk melindung industri biodiesel lokal mereka (yang bijinya kecil), sebenarnya pun jika kita stop ekspor, mereka akan kelabakan untuk memenuhi permintaan sendiri. Ya, singkatnya menurut saya, sawit dianggap merusak lahan hutan tropis. Padahal permintaannya terus naik, dan itu untuk kebutuhan negara-negara maju itu. Jika mereka tidak mau ada sawit, tanamlah saja biji-biji kecil yang produktivitasnya 10x lebih rendah dari sawit itu, yang dengan demikian butuh lahan 10x lebih luas juga. Lebih menghancurkan hutan toh? Ya, mereka udah nggak punya hutan seluas itu buat dihancurkan, wong negerinya sempit! Adil nggak adil...

Kembali ke faktor pendukung hilirisasi industri, dari sisi perusahaan, harusnya kita optimis. Masalah teknologi, model usaha, pasar, dan SDM bisa diusahakan, bahkan mungkin sudah tersedia baik. Masalah eksternal seperti kekompakan antar usaha sawit pun telah terjaga (kalau istilah Pak Togar, dengan Wilmar mereka selalu kawan sekaligus selalu musuh). Yang kurang? Seperti bisa ditebak... dukungan pemerintah, seperti regulasi dan terutama infrastruktur. Dari info seorang kawan saya, kawasan Sei Mangkei yang digembar-gemborkan akan jadi ujung tombak hilirisasi sawit pun infrastrukturnya masih belum terurus. Bahayanya? Malaysia terus mengintai. Dengan potensi yang tak kecil juga, mereka lebih giat mengembangkan industri hilir sawit dan melipatgandakan nilai tambahnya. Jika kita lengah, mana bisa menang?

Panelis keempat dan terakhir adalah wajah yang paling familiar dengan saya: Dr. Made Tri Ari Penia Kresnowati, ST. MSc., dosen Program Studi Teknik Kimia ITB, alumnus TK ITB angkatan 95, mantan penguji seminar proposal tesis saya. Saat ini saya dengar beliau aktif sekali mengembangkan pemanfaatan limbah dari sawit (yang banyak jenis maupun jumlahnya), seperti dalam judul presentasinya Pengembangan Teknologi Pengolahan Limbah Industri Kimia Hilir Berbasis Agro. Sungguh pemberian nilai tambah yang sangat dahsyat: dari bahan yang murah atau bahkan tidak ada harganya atau bahkan harus keluar biaya untuk mengolahnya, menjadi produk yang harganya mahal. Super sekali!

Namanya dikenal dunia karena teknologi bioreaktor untuk pengembangbiakan stem cells, tapi saat ini beliau fokus meneliti pemanfaatan limbah sawit, karena menurut beliau "lebih dibutuhkan di Indonesia". Selengkapnya di http://www.inspirasi-insinyur.com/2013/04/made-tri-ari-penia-kresnowati

Ini bahasan yang belum dikupas detail oleh ketiga panelis terdahulu. Jadi mengapa limbah? Ya, seperti yang telah dibahas di pendahuluan, dari panen tandan buah segar, hanya sekitar 25% yang menjadi minyak. 75% lagi, atau 3 kali lipat minyaknya, jadi ampas, limbah! 20% tandan kosong, 20% serabut, 10% cangkang, 25% limbah cair bersama dengan air proses (sehingga jumlah limbah cair adalah setengah dari jumlah panen TBS). Ini limbah-limbah, sudah jumlahnya banyak, harus diolah pula jika mau dibuang. Di sinilah hebatnya peran insinyur proses. Kita sulap yang tidak berguna menjadi barang berharga. Tentunya bukan dengan simsalabim, tapi dengan otak! Keuntungan ganda pula akan kita dapat: limbah bisa diolah sehingga tidak mencemari lingkungan, dan kita memperoleh produk mahal dengan bahan baku murah.

Mengikuti alur pemaparan Bu Penia, kita tinjau satu per satu limbah-limbah ini. Pertama mulai dari limbah cair sawit atau palm oil mill effluent (POME). Ini adalah air proses yang hangat, campur sisa-sisa minyak tak terambil dan bahan-bahan organik lainnya. Konsekuensinya, POME ini kaya akan nutrien dan memiliki COD tinggi, berisi mulai dari asam amino, mineral-mineral, asam-asam organik, gula-gula sederhana, dan karbohidrat... pokoknya kaya akan senyawa organik, medium yang sangat baik dan disukai sekali oleh mikroorganisme, dan seperti semua lulusan teknologi bioproses paham, mikroorganisme jika diberi nutrien yang baik akan dapat mengolahnya menjadi produk-produk berharga! Yeah! Hidup bioproses! *maafkan*

Jadi dengan pengolahan mikrobial ini, apa saja yang bisa dihasilkan? Yang pertama yang paling sederhana adalah digesti anaerobik POME menjadi biogas! Biogas dapat digunakan sebagai pengganti gas alam: untuk bahan bakar maupun untuk pembangkitan listrik. Meskipun saya baru saja gagal mendapatkan proyek pembangkit listrik bertenaga POME untuk masyarakat pedesaan di Riau, namun cita-cita saya tetap, suatu hari saya akan mewujudkan kemandirian energi untuk masyarakat terpencil via keilmuan saya yang mendasar ini, produk teknologi bioproses, yaitu biogas. Selain itu, dapat juga diproduksi gas hidrogen yang banyak gunanya. Yang lebih canggih, ada bahan bakar butanol (pengganti bensin berkualitas tinggi) dan bahan bioplastik (PHA). Keren! Bagian sedihnya, dari 156 jurnal tentang POME di Scopus, 110 berasal dari... Malaysia. 46 lainnya? Oh, tidak semua dari Indonesia. Ada beberapa negara di Afrika, negara bule... jurnal POME dari Indonesia kurang dari 10. Oh well...

Selanjutnya, tentang limbah padat sawit, yang terdiri dari serabut, cangkang buah sawit, dan tandan kosong (tandan buah yang buahnya sudah dilepaskan). Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda, namun sama-sama terdiri dari lignoselulosa. Secara umum pemanfaatannya akan dibagi 2: pertama, digunakan langsung; kedua, diolah untuk bahan baku industri lain. Untuk penggunaan langsung, tandan kosong dapat dijadikan bahan bakar padat (briket), bahan tripleks, dan pakan ternak; sementara serabut dan cangkang saat ini digunakan untuk pembangkit listrik dalam pabrik. Untuk yang belum tahu, saat ini seluruh pabrik sawit tidak menggunakan listrik atau bahan bakar dari luar karena semua kebutuhannya sudah disuplai dari limbah pabrik yaitu cangkang dan serabut. Prinsipnya pun bukan teknologi baru, tapi sama dengan PLTU batubara biasa, hanya bahan bakar batubaranya diganti dengan limbah-limbah padat sawit itu. Selain itu, TKS pun juga dapat digunakan untuk membangkitkan listrik dengan cara serupa, begitu pula POME dengan pembangkit listrik gas engine tenaga biogas. Jika digabung, potensi listrik yang dapat dihasilkan dari limbah 1 pabrik sawit berkapasitas tipikal 45 ton TBS/jam adalah sekitar 9 MW atau setelah dipotong kebutuhan internal pabrik, sekitar 5-6 MW! Bisa dibayangkan ribuan pabrik sawit di Indonesia bisa diusahakan untuk menerangi minimal sekitar daerah tempatnya berada, bahkan lebih. Makanya ada orang-orang Jepang geleng-geleng kepala melihat rasio kelistrikan di Indonesia yang rendah, apalagi di daerah-daerah kaya sawit seperti Riau dan Kalimantan...

Untuk bahan baku industri, tandan kosong sawit merupakan sumber lignoselulosa yang belum dimanfaatkan. Seperti sudah sering dibahas, lignoselulosa ini merupakan bahan baku biorefinery: dapat diolah menjadi bermacam-macam bahan karena dapat dipecah menjadi gula, di mana gula adalah makanan favorit mikroba, mesin pabrik modern yang dapat menghasilkan nyaris apa saja. Saat ini Bu Penia sedang mengembangkan industri bioetanol dari TKS, dikombinasikan dengan produksi xylitol (selengkapnya di Biorefinery Series: Part 2). Selain itu, dari gula yang dihasilkan oleh TKS, dapat pula diproduksi enzim, asam-asam amino, asam-asam organik, bioplastik dan biomaterial, hingga antibiotik. Buat yang gak ngerti, intinya itu barang-barang mahal, dicari orang, dan ramah lingkungan lah.

Selain limbah pabrik pengolahan sawitnya, sebenarnya jika kita mengolah sawit menjadi biodiesel, limbah biodieselnya pun tak kalah bergunanya. Limbah biodiesel mengandung banyak gliserol, yang jika dimurnikan akan menjadi bahan baku fermentasi mikrobial dengan rentang jenis produk yang tidak kalah banyak dan bergunanya: bahan bakar (hidrogen, bioetanol, biobutanol), asam format, asam asetat, asam laktat, asam propionat, asam suksinat... kesemuanya adalah bahan-bahan baku berbagai industri kimia dan industri-industri strategis lainnya. Dan Bu Penia memberi penutup dengan mengingatkan bahwa potensi limbah agro selain sawit pun masih banyak. Kita masih ada kakao, karet, dll yang potensinya juga besar... Alangkah beruntungnya (dan bodohnya) negeri ini.

Setelah sesi tanya jawab, para panelis dipersilakan memberi pernyataan penutup.

Dari Pak Misri... Negeri ini, negeri autopilot, kata beliau. Tidak ada yang bisa dan mau mengontrol skema pembangunan yang baik. Maka, untuk merealisasikan potensi dari sawit ini, kita via BKKPII sebagai wadah perkumpulan insinyur proses harus mau menginisiasi ke pemerintah! Gunakan power yang ada untuk menawarkan skema-skema kepada pemerintah dan membuatnya terlaksana.

Dari Pak Indra... Kontribusi sawit sangat besar ke APBN, namun dana yang dialokasikan kembali untuk riset sawit sangat minim! Padahal dengan riset, kontribusi yang digali dapat ditingkatkan lagi.

Dari Pak Togar... Masalah riset adalah kurangnya koordinasi. Saat ini wajar bahwa perusahaan memiliki anggaran riset sendiri, tapi tentunya tidak bisa dibagi bersama yang lain karena dari riset diharapkan ada balik modal ke perusahaan, bukan dibagi cuma-cuma. Jika ingin penelitian maju bersama, memang harus dilakukan koordinasi bersama-sama ABG (akademisi, bisnis, dan pemerintahan). Bagaimana bisa, jika antar instansi pemerintah saja tidak satu suara (atau tidak punya suara) soal riset ini, dan sering bentrok? Padahal industri sudah siap. Akademisi apalagi.

Dari Bu Penia... Jika kita tidak mulai riset terkoordinasi di bidang ini dari sekarang, kita akan tertinggal dan tidak akan pernah punya kesempatan lagi untuk mengejarnya. Harus ada yang bergerak. Harus ada yang menggerakkan.

Dari saya? Tentunya bukan pernyataan penutup, tapi perenungan yang timbul. Hanya satu kata: repetisi! Ya, perulangan. Ini topik tentang potensi sawit, seperti saya nyatakan di awal, mungkin bukan informasi baru bagi saya. Repetisi. Dan ada pula hal-hal yang repetitif, yang saya temui bukan hanya di bidang sawit, tapi juga di hampir semua, atau mungkin semua potensi yang ada di Indonesia:

Sumber daya kita yang segudang, berlimpah dan termasuk yang terbaik di dunia.

Manusia-manusia kita yang pintar dan lebih dari kompeten untuk membuat skema dan inovasi.

Pengembangannya lamban dan tersendat.

Bahkan negara lain yang lebih tidak memiliki sumber daya, lebih giat mengembangkan dan akhirnya menguasai, memimpin jauh di depan kita.

Seperti itu terus. Di segala lini. Unggul kualitas dan kuantitas. Biodiversitas. Lahan hutan dan tanah subur. Tebu, coklat, dan karet yang menguasai dunia di sektornya, dan jarang dimiliki negara lain. Laut yang luas dan banyak ikan karena iklim yang baik. Pantai terpanjang dan iklim panas terik untuk berladang garam. Sumber energi geotermal dari gunung-gunung api yang tersebar. Produksi timah, nikel, tembaga, aluminium yang termasuk jajaran tertinggi di dunia. Pariwisata dengan alam yang katanya indah tiada tara. 300 juta manusia dengan beragam budaya. Para pemenang lomba-lomba sains tingkat dunia. Seperti itu terus.

Pangkal masalahnya sudah jelas sebenarnya. Sumber daya sangat siap. Kaum cendekiawan sangat siap. Seperti umum dikatakan di forum-forum keinsinyuran yang saya ikuti; negara ini tidak kekurangan orang hebat, tapi kekurangan orang yang bisa memimpin orang-orang hebat itu dalam sebuah gerakan sinergis yang berdampak dahsyat! Peran yang seharusnya diambil oleh pemerintah.

Sayangnya, seperti kata Pak Misri, negeri ini negeri autopilot. Mengapa? Karena orang yang kompeten untuk jadi pilotnya beramai-ramai menghindar, sementara yang tidak becus jadi pilotnya beramai-ramai mendaftar. Kalau seperti ini, menurut ilmu teknik kimia, akan terjadi prinsip distilasi. Kondisi di dalam yang panas dan kotor, akan membuat gerah orang-orang benar dan pada akhirnya mereka akan keluar, menguap dari dalamnya. Dengan semakin berkurangnya orang-orang benar, orang-orang benar yang tersisa pun akan semakin merasa gerah dan orang-orang benar yang ingin masuk pun akan makin merasa enggan. Hal ini akan terus berulang sehingga dicapai kemurnian 100%: fraksi ringan keluar semua, menyisakan 100% residu di dalam. Dosa siapa?

Inilah simpul dari Gordium yang harus kita potong. Inilah sungai Rubicon yang harus kita lewati. Setelahnya, ada jalan panjang dengan banyak hambatan dan godaan. Hingga titik ini, semua adalah repetisi dari sekian banyak diskusi, seminar, forum dan makan-makan. Dari titik ini, tinggallah pilihan. Siapa yang mau mengambil jalan ini? Jika tidak ada, semua yang kita bahas, kerinduan kita untuk mewujudkan potensi Indonesia, hanya akan jadi repetisi.

Makin teranglah jalan ke depan. Bagi kita semua, yang mau melihat.

No, it will not come; we should get there.




Jakarta, 29 April - 3 Mei 2013
ditulis dalam rangka mengosongkan beban dari otak



Terimakasih kepada semua narasumber
dan mohon maaf bila ada kesalahan




Rabu, 17 April 2013

Toleransi dan Empati

Pemikiran acak yang mungkin atau mungkin tidak didapat dari akumulasi kejadian-kejadian baik baru-baru ini maupun di waktu yang amat lampau. Lebih tepatnya mungkin, karena terlalu sering mendengar kata "toleransi" didengung-dengungkan sampe bikin kepala saya pengang dan bising. Mulai dari artian yang kesannya baik seperti "toleransi antar umat beragama" hingga yang kesannya buruk seperti "organisasi ini kebanyakan ngasih toleransi". Nah, menurut KBBI (seperti yang jadi sumbernya artikata.com) toleransi itu adalah...

Definisi 'toleransi'
noun
1. 1 sifat atau sikap toleran: dua kelompok yg berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dng penuh --; 2 batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yg masih diperbolehkan; 3 penyimpangan yg masih dapat diterima dl pengukuran kerja;
ber·to·le·ran·si v bersikap toleran: sifat fanatik dan tidak ~ menjadi penghambat perundingan ini;
me·no·le·ran·si v mendiamkan; membiarkan: Pemerintah tidak akan ~ aparat yg menggunakan dana pembangunan dng dalih berbelit-belit
Definisi 'toleran'
adjective
1. bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dsb) yg berbeda atau bertentangan dng pendirian sendiri

Saya sebenarnya gak gitu sreg dengan kata toleransi. Tersirat seolah kita sebenernya gak setuju/sepaham tapi kita terima-terima saja demi hubungan baik. Ya, kesannya, kesannya loh, toleransi itu kurang sejalan dengan integritas. Udah tau menyimpang, tapi dibiarin karena cari aman; bukan karena paham, tapi karena gak mau mikir. Jika saya mau menunjukkan saya menerima apa yang dibawa orang lain atau apa situasi orang lain, tentunya saya nggak akan menerima hanya karena nggak enakan, males mikir, atau terpaksa; saya akan menerima jika saya yakin dan mengerti benar apa yang saya terima, dan penerimaan itu adalah penerimaan sebenar-benarnya. Itulah empati.


Definisi 'empati'
n Psi
1. keadaan mental yg membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dl keadaan perasaan atau pikiran yg sama dng orang atau kelompok lain;
ber·em·pa·ti v melakukan (mempunyai) empati: apabila seseorang mampu memahami perasaan dan pikiran orang lain, berarti ia sudah mampu ~

Saya lebih sreg dengan kata empati. Justru kita mencoba memahami apa yang orang rasa, dan setelah memahaminya, setelah kita mengerti benar, baru kita menerima. Jadi penerimaan itu didasarkan pada rasa pengertian menyeluruh mengapa harus menerima. Dan dengan memahami secara menyeluruh, orang bisa menerima dengan tulus.

Toleransi itu pasif, empati itu aktif.
Toleransi itu menangani gejala, empati itu menangani sumber.

Toleransi itu "Saya tidak ganggu kamu, kamu tidak ganggu saya, kita nggak ada urusan, selesai perkara".
Empati itu "Mari kita sama-sama saling memahami, saling menerima; dan setelahnya saling bersinergi."




Jakarta, 17 April 2013
sekadar catatan singkat, biar ada aja yang ditulis

Rabu, 27 Februari 2013

Biorefinery Series - Part 2 : A Resurgence; 5th Regional Conference on Biotechnology

"Dan betapa berdosanya kepada negara ini, kami-kami yang diberi bakat dan kesempatan ini, jika harapan-harapan yang jalannya telah ditunjukkan terbentang ini tidak dipenuhi, ketika nanti kami berdiri di tempat tinggi, sebagai generasi yang mengendalikan nasib tiga ratus lima puluh juta orang yang terus menanti hidup sentosa di atas bumi Tuhan nan permai, tanah surga di atas dunia, zamrud khatulistiwa ini!"

Langsung saja tanpa basa-basi (kalau mau baca basa-basinya dapat dibaca di dua artikel terdahulu dari Biorefinery Series ini, yaitu Intro dan Part 1), berikut adalah laporan saya dari 5th Regional Conference on Biotechnology dengan tema "Biotechnology for Biorefinery" yang berlangsung tanggal 23-24 Januari 2013 di Hotel Aston Tropicana, Cihampelas, Bandung, yang seperti biasa juga, mencakup materi yang dipresentasikan ditambah dengan pengalaman dan pemikiran pribadi yang saya anggap relevan.

Berangkat dari rumah jam lima pagi, karena langsung menuju lokasi konferensi maka saya memutuskan untuk naik travel MPX biar rada keren dikit lah. Sampai di tempat pukul delapan, registrasi sebagai wakil perusahaan bersama tiga orang rekan, sambil sejenak beramah-tamah dengan para panitia yang kebetulan semuanya adik kelas maupun teman seangkatan saat kuliah. Tema umum konferensi ini adalah biorefinery, dengan beberapa sub-topik yaitu 1. teknologi bioproses (BPE), 2. biomassa dan bioenergi (BMB), 3. bioproduk dan biomaterial (BPB), 4. pengolahan limbah secara biologis (WT), dan 5. teknologi pangan (FT).

Pukul setengah sembilan konferensi dimulai. Pembukaan dilakukan oleh Prof. Hermawan Kresno Dipojono, Dekan FTI-ITB yang masih saya ingat sebagai Kaprodi Teknik Fisika di hari penyambutan mahasiswa baru oleh fakultas ketika saya baru masuk ITB 7 tahun lalu. Sepotong kalimat dari beliau yang cukup menyemangati: "Fossil-based should be replaced not only because it's non-renewable, but also because it damages environment". Tampak hadir beberapa dosen seperti 2 orang keynote speaker, Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja dan Prof. Tjandra Setiadi; juga beberapa dosen lain yang menjadi panitia maupun pembicara. Terlihat juga delegasi dari Thailand, Malaysia, Vietnam, Filipina, Laos, dan Kamboja; begitu pula 2 orang keynote speaker dari Jepang (Prof. Shiro Saka dan Prof. Yasunori Tanji) dan 1 orang keynote speaker dari Jerman (Dr. Detlef Männig dari Evonik). Hadirin di luar komunitas akademik hanya terlihat beberapa orang. Dari kalangan industri selain saya dan rekan-rekan sepintas saya melihat Pak Djatnika S. Puradinata, salah seorang alumni senior Teknik Kimia ITB dan pemerhati energi yang juga merupakan salah satu petinggi Medco; terlihat juga antara lain perwakilan Evonik sebagai sponsor utama (Pak Hubert Widiastono dan rekan-rekan), serta perwakilan dari PTPN IV (diwakili antara lain oleh Direktur Litbang Pak Memed Wiramihardja dan rekan-rekan) yang nampak sekali tertarik dengan teknologi-teknologi yang potensial untuk mendayagunakan secara maksimal hasil-hasil dan limbah-limbah dari kelapa sawit. Hadir pula perwakilan PT. Pupuk Indonesia, Pak Surahmad W. Widodo (Manajer Ristek) yang ternyata satu mobil travel dengan saya tadi pagi.

Keynote speaker pertama adalah, tak mengejutkan dan tak asing lagi, Dr. Tatang Hernas Soerawidjaja. Persis sehari sebelumnya (22 Januari 2013) pukul 3 sore di kantor, saya dan Pak Tatang sudah berdiskusi tentang topik yang akan dibawakan pada keynote speech beliau, bahkan beliau mempresentasikan slide-nya di depan saya. Syukurlah saya sempat mendengarkan presentasi yang dibawakannya dalam bahasa Indonesia itu, karena ternyata keynote speech yang dibawakan Pak Tatang dalam bahasa Inggris kurang "nendang", tidak seperti biasanya beliau menyampaikan dalam bahasa Indonesia, walaupun materinya sama. Tidak, bukan karena bahasa Inggris Pak Tatang jelek; justru sebaliknya, karena bahasa Indonesia yang biasa digunakan Pak Tatang saat mengajar saya dulu sangat bagus!

Mpu Tatang, begawan bioenergi Indonesia

Anyway, topik yang dipilih untuk dibawakan Pak Tatang kali ini adalah "Tropical Oil-Crop Based Biorefinery". Pada intinya Pak Tatang membahas tentang apa itu biorefinery seperti yang telah saya bahas pada dua tulisan terdahulu. Biorefinery yang mengolah bahan-bahan alam berbasis bio yang terbarukan (feedstock) akan menyediakan pangan, ditambah bahan bakar, listrik, dan material yang selama ini dipasok oleh industri berbasis fosil tak-terbarukan (migas). Dengan demikian, biomassa dapat menyediakan semua hal yang saat ini disediakan migas, sehingga benarlah bahwa biomassa dapat, akan, dan harus menggantikan migas!

Lantas mengapa "oilcrop"? Kata oilcrop adalah istilah Pak Tatang untuk menyebut minyak-minyak nabati (istilah lain: vegetable oil/minyak sayur) yang dapat dipanen dari tanaman-tanaman yang menghasilkan minyak tersebut. Jadi, minyak ini (contoh: minyak sawit, kelapa, kedelai, apapunlah minyak-minyak tanaman) secara kimia adalah senyawa-senyawa trigliserida, yang terdiri dari asam lemak dan gliserol. 85-90% berat minyak/trigliserida ini adalah asam lemak atau kalau orang kimia menyebutnya termasuk golongan asam karboksilat, dengan rumus CxHy-COOH, dengan y = 2x-1. Jika direaksikan dengan hidrogen, maka asam lemak ini akan kehilangan oksigennya (hidrodeoksigenasi) sehingga menjadi hidrokarbon (hanya terdiri dari C dan H) berantai 10-22 atom karbon, alias sama persis dengan fraksi minyak bumi yang menjadi produk utama kilang, terutama bahan bakar bensin, avtur, dan solar! Sementara, gliserol (10-15% berat minyak) dengan rumus kimia C3H8O3 dapat dikonversi dengan cara serupa (hidrodeoksigenasi) sehingga menghasilkan C3H8 (propan), yang juga merupakan salah satu fraksi umum minyak bumi keluaran kilang! Dengan kata lain, minyak nabati / oilcrop / minyak sayur = hidrokarbon terbarukan = minyak bumi non-fosil = minyak bumi terbarukan = pengganti minyak bumi, petroleum hijau!

Oilcrop ini merupakan bahan baku biorefinery yang sangat lengkap, dapat diproses untuk memenuhi kebutuhan energi, material, dan pangan. Minyak nabati dapat langsung dijadikan bahan bakar untuk Lister engine (mesin diesel rpm rendah), atau dengan proses hidrodeoksigenasi seperti telah dijelaskan, dikonversi menjadi avtur dan solar, dan juga bensin. Sementara, minyak nabati juga menjadi bahan baku untuk industri oleokimia yang menghasilkan banyak turunan: deterjen, sabun, softener, kosmetik, obat-obatan (farmasi), pelumas, plastik, cat (pewarna), pernis, tinta, karet sintetis, tekstil, pengemulsi pangan, coating (pelapis), dan masih banyak lagi yang tentunya tidak akan tertulis semua di sini, tapi mencakup sebagian besar hal yang dibutuhkan oleh manusia modern!
Bernie Tao, profesor yang rajin berkata ke para petani:
kalianlah cukong-cukong minyak masa depan!

Sekarang kembali ke topik favorit, yaitu bagaimana ilmu ini menggambarkan keunggulan kita, para penghuni bagian bumi Tuhan nan permai, tanah surga di tengah dunia, zamrud khatulistiwa yang dinamakan orang kepulauan Nusantara. Ya. Bagaimana? Seperti biasanya, negeri kita ini unggul dalam kepemilikan anugerah Tuhan yang telah ada sejak dulu kala: tanaman. Jadi, telah banyak bangsa-bangsa di dunia ini yang bergerak meneliti konsep oilcrop ini. Banyak pula tanaman di dunia yang dikategorikan sebagai tanaman oilcrop. Namun, terdapat perbedaan mendasar antara oilcrop yang ditemukan di negeri beriklim temperate (daerahnya para bule) dan tropis (seperti Indonesia). Dibanding tanaman oilcrop temperate seperti kanola/rapeseed, tanaman oilcrop tropis seperti sawit dan kelapa (atau yang baru diteliti seperti mabai, nimba, dan nyamplung) memiliki banyak keunggulan: produksi minyak jauh lebih banyak, pohonnya besar-besar, dan tumbuhnya cepat... hal ini berarti perolehan minyak nabati jauh lebih besar, dan biomassa sisa (kayu) dapat diperoleh dalam jumlah banyak juga dan dapat dimanfaatkan dengan luas juga (multiguna)!

Hayo tebak, banyakan mana panennya?

Soal sawit saja saya tidak akan bercerita banyak, hampir semua orang tahu hebatnya tanaman ini. Begitu banyak minyaknya, begitu luas penggunaannya, begitu besar potensinya. Pada presentasinya, Pak Tatang membahas tentang tanaman-tanaman asli Indonesia yang berpotensi lebih hebat dari sawit (!!!) yaitu mabai, nimba, dan nyamplung. Apa hebatnya mereka? Menurut Pak Tatang, mereka ini "pohon bioenergi yang komplit"! Dapat tumbuh di tanah tidak subur (karena akar dapat mengikat nitrogen), tahan air asin (dapat tumbuh di kawasan payau), kandungan minyak banyak dan non-pangan sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan pangan, minyaknya mengandung banyak senyawa lain yang dapat diekstrak untuk obat, kosmetik, pembasmi hama dan lain-lain, serta merupakan pohon tumbuh cepat (short rotation coppice) yang kayunya dapat terus-menerus diambil.... untuk? Ya, kayu (lignoselulosa) di abad modern, awal abad biorefinery ini, juga sangat potensial (karena jumlahnya yang banyak dan mudah diperoleh) untuk membuat 2 golongan senyawa penting: hidrokarbon sintetis atau biohidrokarbon dengan gasifikasi dan sintesis Fischer-Tropsch (pengganti minyak bumi!) dan gula glukosa-xylosa dari hidrolisis lignoselulosa (bahan utama reaksi-reaksi fermentasi, reaksi modern untuk menghasilkan banyak produk berbasis bio!).

Setelah berbicara soal potensi, beralihlah kita ke bagian yang juga sudah umum dalam tiap presentasi Pak Tatang... soal "keadilan Yang Maha Pencipta". Jika tanahnya subur dan kaya luar biasa, maka penghuninya pasti... ah ya sudahlah, simak saja fakta-fakta bahwa sebelum akhir tahun lalu Wilmar membangunnya di Gresik, pabrik (atau kilang = refinery) minyak nabati (oilcrop) menjadi (bio)hidrokarbon telah jauh lebih dulu dibuat antara lain oleh Neste Oil, perusahaan asal Finlandia, negara putih nan dingin di ujung utara bumi ini, di tempat-tempat yang sama sekali bukan penghasil tanaman-tanaman oilcrop seperti Porvoo (Finlandia), Singapura (pulau yang lebih kecil dari Jakarta dan nyaris tak memiliki lahan pertanian maupun perkebunan), dan Rotterdam (Belanda, negeri kecil yang selama 350 tahun mengambang di atas pelampung bernama sumber daya alam rampasan dari tanah surga 11 ribu kilometer di selatannya). Atau fakta bahwa sebagian besar orang Indonesia yang membaca tulisan ini tidak mengenal tanaman-tanaman "asli" Indonesia itu, dan malah kaum bule yang miskin (secara perbandingan) sumber oilcrop itulah yang mengerti dan mau mempelajarinya... atau, seperti mungkin 20 tahun lagi akan kita ucapkan, "menjajah dan menguasai" sumber daya alam, yang sebelum direbut asing mana pernah kita pedulikan, tak ubahnya batik, reog atau tor-tor.

Mabai atau Pongamia pinnata lebih banyak dipedulikan di negeri bule

Jika banyak anak muda yang mengeluh saat ini, apa salah para petinggi negeri Indonesia, sampai-sampai negeri yang (katanya) kaya minyak ini, impor bensin dan solar... saya hanya berharap jangan sampai ketika mereka jadi orang-orang yang ada di jajaran teratas negara ini, anak-anak mudanya mengutuki mereka, apa salah keparat-keparat yang memegang negara ini, sampai-sampai negeri yang subur dan biodiversitasnya tinggi ini, impor biodiesel dan bioetanol? Dan menurut Pak Tatang, bangsa ini sudah goblok, ketika kita saat ini mengimpor minyak bumi mentah namun mengekspor minyak sawit, yang sebenarnya dapat menggantikan fungsi minyak bumi! Goblok! (kutipan langsung dari Pak Tatang, tentunya bukan saat presentasi di konferensi, melainkan sore sebelumnya di kantor saya)

Pada penutupnya, sang begawan bioenergi ini menyimpulkan... bahwa biorefinery oilcrop sangatlah penting dan akan menggantikan migas, bahwa oilcrop kita (tropis) jauh lebih baik dari oilcrop bule dan maka dari itu kita haruslah mengembangkan potensi luar biasa ini, terutama nimba dan mabai... Dan saat itu pula keluar tanggapan-tanggapan dari otak saya: nimba dan mabai ini belum ada yang meneliti intensif, bahkan belum ada kebunnya, kapan kita bisa mengembangkannya? Tanaman bisa tumbuh, tapi belum tentu bisa tumbuh pesat massal dalam perkebunan, siapa yang mampu dan mau menelitinya? Penelitian dari awal, siapa yang mau menanggung biayanya? Adakah perusahaan yang mau berinvestasi meneliti kebun selama bertahun-tahun tanpa hasil, karena penelitian kebun pasti memakan waktu yang lama, minimal sampai panen beberapa kali? Apakah sudah ada roadmap atau skema besar pemanfaatan nimba dan mabai, dan jika sudah, ke perusahaan atau badan pemerintah mana pelaksanaannya ditawarkan, seperti apa pengemasannya, atau malah belum? Mengapa Pak Tatang tidak memfokuskan ke pengolahan sawit saja, yang sudah jelas mudah, potensinya sudah ada dan besar, serta terlihat lebih cepat menjawab tantangan zaman? Kembali lagi ke masalah yang berkali-kali saya keluhkan di tulisan terdahulu: perbedaan jalur pikir, sinergisasi...

Setelah Pak Tatang, konferensi beralih ke keynote speaker kedua dari Kyoto, Prof. Shiro Saka. Meskipun wujudnya terlihat seperti botak-botak tua yang agak rapuh, Saka-sensei tampil dengan pembawaan khas orang Jepang: tenang, santun, dan percaya diri... terlihat jelas ketika profesor ini untuk menunjukkan posisinya memilih untuk tidak menampilkan prestasi-prestasinya (yang, dari hasil browsing sejenak, segudang), namun hanya menunjukkan foto beliau bersama Presiden SBY... seakan ingin menunjukkan (dengan tepat sasaran) ke hadirin lokal, seakan tahu apa hal yang penting bagi mereka. Pada presentasinya, sebagai ahli peneliti kayu (ya... nyaris satu-satunya sumber daya potensial bioenergi yang dimiliki negara-negara utara), Saka-sensei memaparkan terobosannya dalam topik yang sangat menggelitik saya maupun (sepertinya) pihak-pihak akademisi, teknokrat, dan pemerintah: biofuel dari lignoselulosa atau generasi lanjut, dengan judul "Advanced Bioethanol Production from Lignocellulose by Acetic Acid Fermentation".

Ya kira-kira begini tampilannya si tua botak jenius dari Jepang

Secara singkat, menurut Saka-sensei, produksi biofuel dunia terus meningkat, terutama bioetanol, namun kebanyakan masih biofuel generasi 1. Di Jepang, ada kebijakan yang mentargetkan 90% biofuel terdiri dari bioetanol generasi 2 pada tahun 2020 (sekitar 610.000 kL/tahun atau 10 kali lipat pada 2011). Kesulitan dari bioetanol generasi 1 sudah jelas menurut saya, yaitu kompetisi dengan pangan, yang berujung pada mahalnya (dan akhirnya tidak layaknya) harga bahan baku. Menurut Saka-sensei, bioetanol generasi 2 pun memiliki kesulitan, yaitu operasional. Hampir semua tahapan dari awal sulit (sehingga tidak layak): penghilangan lignin sulit, pemutusan selulosa sulit, fermentasi sulit.

Sebelum lanjut, sekilas info untuk yang masih baru di bidang ini. Bioetanol (biofuel pengganti bensin) diproduksi dengan fermentasi gula (dari tanaman berpati/bergula) menjadi alkohol. Inilah bioetanol generasi 1. Karena kebanyakan tanaman berpati/bergula digunakan untuk pangan, dicarilah bahan baku yang lebih murah, yaitu bagian tubuh tanaman/limbah perkebunan (batang, daun, kayu dll) yang merupakan lignoselulosa. Lignoselulosa adalah senyawa yang terdiri dari selulosa dan hemiselulosa (polimer gula) yang diikat oleh lignin. Ketika lignin disingkirkan dan selulosa-hemiselulosa dapat diputus-putus menjadi gula, hasilnya dapat digunakan untuk fermentasi yang menghasilkan etanol. Itulah bioetanol generasi 2

Kembali ke topik, menurut Saka-sensei, selain prosesnya sulit, perolehan produknya pun kurang baik, disebabkan terciptanya karbon dioksida. Ini ilustrasi mudah yang beliau berikan via stoikiometri:
Glukosa (C6H12O6) => 2 Etanol (C2H5OH) + 2 Karbon Dioksida (CO2)
Berat molekul glukosa adalah 180, etanol 46, dan karbon dioksida 44. 2 etanol memiliki berat molekul total 92, sehingga perolehan etanol dari glukosa adalah 92/180 = 51,4% berat. Ini berarti misalnya kita menggunakan 1 kg glukosa, kita akan mendapatkan 514 gram etanol. Asumsikanlah seperti kaidah fermentasi, tidak semua glukosa diubah si mikroba menjadi etanol, namun sebagian dipakai untuk pertumbuhannya (building block) sebesar 5% saja, maka jika dimasukkan 1 kg glukosa, hanya akan terkonversi 950 gram glukosa ke etanol, dengan perolehan 51,4% hanya didapat 485 gram (48,5% glukosa awal yang diumpankan). Jika dihitung basis kayu (lignoselulosa), lignin harus disingkirkan dulu sehingga selulosa bisa dipotong-potong menjadi glukosa, ditambah tidak semua gula yang dihasilkan dari pemecahan itu adalah glukosa, sehingga perolehan glukosa maksimum dari 1 kg kayu hanya 65% (650 gram), yang akan terkonversi menjadi etanol sebesar 48,5%nya saja, yaitu 315 kg, atau hanya 31,5% dari kayu yang diumpankan! Kayu dikonversi menjadi bioetanol generasi 2, hanya 1/3 saja yang diperoleh...

Enter Saka-sensei. Detail teknologinya tidak akan saya jelaskan terlalu dalam di sini, namun pada prinsipnya beliau menawarkan proses alternatif yang intinya adalah fermentasi asam asetat. Tahapan prosesnya kurang lebih:
- kayu (lignoselulosa) dipecah-pecah atau dihancurkan dengan air panas (hingga di atas 500 K atau sekitar 230 derajat Celsius).
- hasil rusakannya diharapkan berbentuk gula-gula, difermentasi oleh bakteri Clostridium thermocellum atau Clostridium thermoaceticum, yang dapat mengkonversi segala gula atau pecahan lignoselulosa yang terbentuk (bukan hanya glukosa saja) menjadi asam asetat.
- asam asetat dihidrogenasi (ditambahkan gas hidrogen) menjadi etanol.

Secara sederhana reaksinya akan menjadi begini:
Glukosa (C6H12O6) => 3 Asam Asetat (C2H4O2)
3 Asam Asetat + 6 H2 => 3 Etanol (C2H6O) + 3 Air (H2O)
Ini hanya glukosa saja. Perolehannya (3x46)/180 = 77%. Belum lagi sebagian dari 35% bagian kayu yang terkonversi bukan menjadi glukosa, dapat juga dikonversi menjadi etanol, sehingga menurut Saka-sensei etanol yang dihasilkan dapat mencapai 82% berat kayu yang diumpankan! Hebat kan? Lebih hebat lagi, dalam rentang 5 tahun setelah penelitian ini dimulai, dengan full support dari pihak-pihak terkait di Jepang sana, pilot plant sudah terbangun dan dapat secara rutin dioperasikan, produknya pun dapat dijual! Langsung saya tandai 2 hal dari paparan Saka-sensei ini...

Pertama, super niat sekali Jepang ini. Kalau kata Pak Rauf Purnama (TK'62, mantan Dirut Petrogres), nggak punya minyak bumi aja dia bikin kilang besar-besaran. Kalau bahasa zaman sekarang, nggak punya sumberdaya tanaman melimpah macam pati atau gula, dia tetap mau bikin bioetanol, gimanapun caranya. Ya itu tadi hasil ngototnya, dibikinlah bioetanol dari apa yang dia punya aja: kayu! Kayu yang dipakai Saka-sensei adalah Japanese cedar alias pohon sugi, ya tanaman khas asli Jepang lah. Kayu doang, tidak multiguna, perolehan kurang, yaaa... pokoknya dibanding tanaman bioenergi tropis yang dibahas Pak Tatang, tidak ada apa-apanya lah! Memang dasar Jepang itu, kagak ada unggul-unggulnya dari negara kita, cuma menang sumber daya manusia doang! Hahahaha! Eh, saya malah sempat bertanya kepada Saka-sensei dalam sesi tanya jawab, bisa nggak teknologi ini dipakai dengan bahan baku lain? Ternyata bisa, untuk pati, gula, maupun kayu. Untuk gula, pengolahan akan lebih bagus dan mudah, hasilnya pun pasti lebih banyak. Hei bangsa yang dianugerahi Tuhan dengan tanaman bernama "tongkat gula" (sugarcane), tunggu apa lagi?

Inilah bentuk pohon sugi itu... mungkin ada yang familiar dengan kanji "sugi" yang saya tambahkan?
Kedua, soal kelemahan yang saya amati. Proses ini memiliki dua titik yang saya pertanyakan. Pertama, seberapa mahal pengolahan dengan air bertemperatur dan bertekanan tinggi (bahkan disarankan dan sedang diteliti untuk air superkritik) di awal proses? Bagaimana neraca energinya, apakah bahan bakar yang dihasilkan nilai bakarnya melebihi energi yang dikeluarkan untuk memprosesnya? Kedua, bagaimana memperoleh hidrogen murah untuk hidrogenasi asetat di akhir proses? Apakah harga bioetanol cukup untuk menutupi harga hidrogen yang (saat ini) mahal? Soal keekonomian ternyata ditanyakan oleh salah seorang hadirin lain. Jawab Saka-sensei: karena saat ini yang penting prosesnya berjalan (dan memang berjalan baik), sebenarnya kami optimis bahwa itu tidak akan menjadi masalah, kemungkinan besar tidak akan boros, namun memang, at this stage we haven't consider it... ditambahkan dengan singkat oleh si penanya: ...yet. Alamak, memang penelitian itu harus terintegrasi, kawan, teknologi itu harus berguna!

Sang penanya tadi ternyata adalah keynote speaker ketiga dan terakhir untuk hari ini: Dr. Detlef Männig dari Evonik Industries, grup raksasa perusahaan industri kimia yang berpusat di Jerman, tepatnya di Provinsi Nordrhein-Westfalen, yang bagi para penggemar fussball tentunya familiar dan langsung paham mengapa perusahaan ini menjadi sponsor utama klub bola Borussia Dortmund.

Yang mana Herr Detlef dari Evonik?

Tema yang diusung oleh Herr Detlef adalah "Serving Bioeconomy Markets" yang oleh panitia (?) sempat salah dituliskan sebagai "Surfing Bioeconomy Markets", yang kemudian oleh Herr Detlef dikatakan sama saja artinya... karena jika Evonik ingin melayani pasar bioekonomi, mereka harus menyelaminya. Presentasi Herr Detlef bercerita tentang langkah dan strategi Evonik menyambut pasar bioekonomi, dan sekaligus menjadi model bagi saya bagaimana seharusnya sebuah perusahaan (industri) bergerak di zaman biorefinery ini.

Terlihat jelas bahwa untuk perusahaan industri raksasa seperti Evonik, riset sangat dianggap penting. Pada tahun 2011 saja, total anggaran R&D Evonik adalah sebesar 3% sales, yaitu 365 juta euro, atau Rp 15 miliar sehari, atau 10% APBD DKI Jakarta, atau setara 4 orang Cristiano Ronaldo. Hanya satu perusahaan. Dan bayangkan berapa banyak perusahaan sebesar Evonik. Menurut keterangan rekan saya, total anggaran R&D Unilever adalah 2% sales, atau 500 juta euro. Ada yang tahu berapa besar anggaran riset Pemerintah RI? Ada yang masih belum bisa jawab kenapa negara kita potensinya sumber dayanya segudang tapi masih banyak nggak bisa mengolahnya?

Dalam teknologi, kita ini negara tertinggal. Kalau tertinggal itu harusnya mengejar. Mengejar itu artinya, posisi di belakang, tapi kecepatan berlari harus lebih kencang daripada yang di depan. Kalau posisi sudah di belakang, kecepatan masih lebih lambat, itu sih namanya bukan mengejar, tapi makin tertinggal!

Terlebih untuk sektor yang masih berkembang seperti biorefinery, tentu harus disediakan usaha dan dana lebih untuk riset di sana agar sektor tersebut berkembang! Menurut Herr Detlef, "Biotechnology is a technology of the future and, as such, an integral part of our growth strategy in Evonik". Evonik dideskripsikan sebagai "creative industrial group". Saat ini Evonik banyak bergerak dalam bioekonomi terutama di sektor primer (perkebunan, peternakan, dll), industri, dan kesehatan. Tentunya semua ditunjang dengan R&D komprehensif, bahkan sampai kepada rekayasa genetik.

Yang menarik adalah pembahasan tentang "megatrends". Strategi perusahaan yang mengikuti megatrends dunia, yang menurut Evonik sekarang mereka mengambil tiga megatrends: consumer, health, and nutrition; resource efficiency; dan specialty materials. Ekspansi dan inovasi dalam ketiga trend ini dalam perkembangan zaman ini ternyata menuntut aplikasi bioteknologi. Berikut daftar penemuan-penemuan yang dikembangkan R&D Evonik dalam bidang-bidang tersebut, yang jujur saja, sangat bikin saya ngiler karena penemuan-penemuan ini dapat diwujudkan oleh sebuah perusahaan. Potensi negara kita jika mau meneliti sebesar apa? Ya, balik lagi, manajemen negara ini... ah, sudahlah. Anyway, ini beberapa dari sekian banyak produk yang dikembangkan Evonik terkait bioekonomi:
- Asam amino untuk pakan ternak, tentunya dibuat via biosintesis dengan mikroba. Konsep resource efficiency sangat menarik di sini: asam amino akan memenuhi kebutuhan nutrisi ternak, tanpa perlu menyediakan lahan sangat luas untuk perkebunan tanaman pakan ternak. Lahan untuk tanaman pakan ternak dapat dihemat hingga 50%. Di saat bumi ini bertambah manusianya namun tidak tanahnya, tentunya yang namanya penghematan lahan, apalagi yang tadinya sekadar untuk kebun pakan ternak, sangat tinggi nilai strategisnya bagi umat manusia!
 - Bioresorbable material. Kegunaannya banyak, mulai dari popok sampai irigasi. Intinya, senyawa ini bahkan dapat diinjeksikan di tanah untuk meningkatkan laju serapan air oleh tanah, sehingga tanah yang kering dapat menjadi lahan pertanian tanpa perlu irigasi yang terlalu banyak. Ini akan menjadi strategi pemenuhan kebutuhan pangan di daerah-daerah tandus, bahkan dalam jangka panjangnya direncanakan akan dapat mendorong reklamasi gurun pasir!
- Aditif biofuel (macam-macam seperti stabilisator dll), katalis biodiesel, dll.
- Membran untuk pemurnian biogas (dapat menghasilkan gas sebaik gas alam atau CH4 hampir murni).
- Dan lain-lain.

Intinya sih saya geregetan, satu perusahaan saja bisa berinovasi sekian banyak, harusnya satu negara bisa jauh lebih banyak. Bayangkan, Evonik itu punya lebih dari 25000 paten dan 7700 trademark. Wah, wah, wah! Kejar bro kejar!

Setelah sesi keynote speech dan makan siang, acara dibagi menjadi presentasi-presentasi singkat sepanjang total 15 menit per sesi (sudah termasuk tanya jawab), dibagi dalam 5 ruangan berbeda. Saya memutuskan berpindah-pindah ruangan, mencari topik yang saya minati. Sialnya karena banyak perubahan jadwal, saya jadi melewatkan beberapa topik yang sudah saya incar, seperti misalnya saja tentang membran untuk biorefinery dari Dr. I Gede Wenten si jago membran, atau tentang produksi bioplastik oleh timnya Prof. Tjandra Setiadi (old targets never die, they say). Secara singkat inilah topik-topik yang sempat saya datangi. Judul asli dalam bahasa Inggris, saya Indonesiakan dan saya persingkat agar tajam dan mudah dimengerti. Tidak semua topik yang saya datangi dituliskan di sini; saya meninggalkan topik yang terlalu ilmiah sehingga belum aplikatif, atau topik yang saya hanya sempat datang sebentar sehingga tidak mengerti benar.

BPB 01 - "Biorefinery TKS: Produksi Mikrobial Xylitol" oleh Dr. Made Tri Ari Penia Kresnowati. Salah satu topik favorit saya, karena sejuta alasan. Pertama, oleh perusahaan saya ditugaskan mendalami apapun tentang biorefinery sawit, segala bagiannya pokoknya! Terutama, penelitian ini menyangkut teknologi hidrolisis lignoselulosa yang amat krusial bagi pengembangan biorefinery. Terlebih lagi, riset ini menurut Bu Penia telah masuk ke riset strategis nasional. Dan memang segera sekembalinya Bu Penia ke ITB pada tahun saya lulus S2 (2011), riset ini langsung dikembangkan di lab untuk penelitian S1. Kemudian, yang terakhir tapi tentunya (bukan) yang paling penting, produknya itu salah satu zat yang bikin saya kecanduan.

Enak loh, 2 butir bisa buat dikunyah dari matahari terbit sampai terbenam
Jadi nih ya, kembali menyambung ulasan tentang lignoselulosa tadi, dan sedikit pelajaran ilmu alam untuk yang baru mendalami, lignoselulosa alias bagian tubuh tanaman itu kan terdiri dari lignin, plus selulosa dan hemiselulosa. Lignin dihilangkan, dapatlah selulosa-hemiselulosa yang sama-sama polimer gula. Bedanya, selulosa itu seperti pati, dia polimer gula glukosa (beratom karbon 6 / C-6). Ketika diputus rantainya, selulosa akan menghasilkan glukosa, yang lazim dimanfaatkan untuk bahan baku fermentasi. Sementara hemiselulosa, dia polimer antara gula C-6 dan C-5 (atau xylosa). Nah, xylitol ini diproduksi dari gula xylosa, yang didapatkan dari pemutusan rantai di hemiselulosa. Intinya sama dengan proses pembuatan bioetanol dari gula (difermentasi) hanya bedanya gula xylosa ini tidak difermentasi jadi etanol, melainkan dikonversi menjadi xylitol, yaitu pemanis buatan yang sehat dan bagus lah pokoknya.

Lah? Kan kita butuh bioenergi? Kok malah bikin xylitol, bukan bioetanol? Ya, ini skema yang akan umum dijumpai di biorefinery-bioenergi. Selagi harga biofuel belum dapat bersaing dengan harga BBM, pengembangan industri biofuel tidak boleh berhenti, harus tetap jalan; agar tetap ekonomis, kita pikirkan produk sampingan bernilai jual tinggi untuk mensubsidi silang biofuel! Bioetanol dari TKS (lignoselulosa) tetap dapat dibuat dari selulosa yang dihidrolisis menjadi glukosa dan difermentasi menjadi etanol. Produksi xylitol dari hemiselulosa yang dihidrolisis menjadi xylosa, adalah untuk menaikkan nilai tambah industrinya. Soal mengapa TKS, nanti juga akan terbahas, bahwa TKS ini sumber lignoselulosa yang banyak jumlahnya dan sudah terfokus tempatnya (dihasilkan di pabrik CPO, jadi sudah terkumpul tanpa perlu susah-susah pungut dari kebun yang luas), sangat ideal untuk basis bahan baku bioindustri, apalagi kurang termanfaatkan.

Beberapa kendala teknis, seperti biasa masalah pretreatment harus diperdalam lagi karena seperti kata Saka-sensei, sulit! Dari Bu Penia sendiri menandai bahwa ke depannya yang harus diteliti adalah integrasi prosesnya... jadi imobilisasi enzim sebagai katalisnya (agar hemat dan murah), kemudian proses pemurnian (hilirnya), dan yang terpenting upscale prosesnya. Salah satu riset pendukung terintegrasi yang sedang dijalankan adalah BPB 14 - "Optimasi Produksi Xylanase oleh Aspergillus niger dari TKS" oleh Bu Penia dkk, bekerjasama dengan Unpad. Buat saya sih menarik, sedikit kangen lah dengan jamur hitam super yang menjadi teman akrab saya selama 2 tahun lebih. Memang si jamur ini adalah produsen segala rupa enzim yang mantap.

Dalam penelitian, anak-anak bioproses dituntut kerja steril agar mikroorganismenya tidak terkontaminasi. Saya dituntut kerja steril, agar mikroorganisme saya tidak mengkontaminasi!

Sementara kembali ke topik awal, Pak Munir dari PTPN IV mengajukan pertanyaan yang lazim untuk orang industri (lihat bagian akhir Biorefinery Series Part 1): kapan selesainya dan kapan bisa dimanfaatkan untuk industri? Bu Penia menjawab 5 tahun. Dan kaum peneliti diingatkan oleh Pak Munir mengapa industri butuh pengembangan penelitian yang cepat: dalam tahun-tahun terakhir ini, pihak Jepang ibarat kata sudah nongkrong di depan PTPN IV, minta dikirimkan TKS. Sayang TKS anda dibuang-buang padahal negeri anda begitu kaya, kata Jepang. Sini kami manfaatkan kalau anda tidak mampu! Sementara PTPN IV ingin sekali menjadi pihak dalam negeri yang mampu memanfaatkan TKS tersebut, sebelum terpaksa mengirimnya (dan termasuk nutrisi-nutrisi kesuburan tanah yang terbawa di dalamnya, kata Pak Tatang) ke negeri seberang. Good, sudah ada minat dari pihak industri sebagai pengguna teknologinya. Selanjutnya, tinggal sinergi.

BMB 02 - "Sistem Terintegrasi Gas H2 dari Gliserol untuk Sel Tunam" oleh Bapak Prasetyo Joni dari BPPT (kerjasama BPPT dan Universiti Teknologi Malaysia). Hanya sempat datang saat sesi tanya jawab, saya menyimpulkan intinya penelitian ini adalah produksi gas hidrogen dari gliserol (limbah pabrik biodiesel dari minyak sawit). "Fun" fact teknik kimia lagi: biodiesel diproduksi dari minyak nabati (oilcrop) + metanol, menghasilkan biodiesel (ester antara metanol dan asam lemak dari minyak nabati) dan gliserol (dari minyak nabati yang kehilangan asam lemaknya), sehingga industri biodiesel generasi 1 ini pastilah menghasilkan limbah gliserol tak termanfaatkan. Spirit biorefinery adalah memanfaatkan setiap komponen keluaran bioindustri tanpa sisa... sehingga pemanfaatan gliserol harus dipikirkan. Salah satunya ya ini: dengan teknologi bioproses, menggunakan mutan ganda (note: gak ada hubungan saudara dengan X-Men) Enterobacter aerogenes AD-H43 untuk "memakan" gliserol dan menghasilkan gas H2.

Seperti saya sudah katakan, sebagai orang yang ditugaskan mengamati segala bentuk industri persawitan, tentunya skema ini menarik buat saya. Penanganan limbah gliserol itu sulit, sehingga jika ada mikroorganisme yang dapat mengurai gliserol dengan baik, tentunya luar biasa sekali. Selain itu, gas H2 yang dihasilkan ini memiliki banyak kegunaan. Pertama, seperti telah disiratkan dalam judulnya, gas H2 dapat digunakan untuk membangkitkan listrik, sekitar 3 watt selama 4 jam untuk fermentor 3 L. Jika saya kalkulasi, jumlah itu akan setara dengan 4 Wh/L atau 4 kWh/ton gliserol. Memang kecil, tapi lumayan untuk tahap penelitian. Namun, sebenarnya kegunaan kedua yang menarik perhatian saya: gas H2 dapat digunakan secara ekstensif dalam industri pengolahan turunan-turunan CPO. Contoh paling sederhananya: hidrodeoksigenasi seperti yang tadi dijelaskan Pak Tatang... dari situ dihasilkan biohidrokarbon yang dapat menjadi satu kompleks industri sendiri. Sangat sempurna untuk industri sawit terintegrasi bukan? Jika H2 dapat disediakan on-site dengan teknologi ini, dalam kebun kelapa sawit dapat dibuat kompleks biorefinery sawit terintegrasi!

Ide itu dilontarkan oleh Pak Hubert Widiastono dari Evonik, ditambah lagi Pak Munir dari PTPN IV mengajukan pertanyaan yang sama lagi yaitu terkait tentang ada tidaknya roadmap atau target besar dari penelitian ini, dan ini menunjukkan jelas bahwa sebenarnya industri peduli dan tertarik terhadap roadmap dan perkembangan penelitian untuk teknologi baru, asal diberi jaminan bahwa teknologi itu dapat digunakan, karena memang begitulah seharusnya hakikat teknologi: mempermudah bukan mempersulit! Ya, menurut saya, pemerintah harus memusatkan riset di bidang ini: ITB, UI, USU, BATAN (untuk handling H2), BPPT, PPKS (di Sumatera Utara), semuanya lah! Apalagi setelah itu di ruangan lain ada penelitian yang nampak mirip, yaitu...

WT 09 - "Perbandingan Elektroda Al/Fe dalam Elektrokoagulasi POME untuk Produksi Hidrogen" oleh Vita Dhian Lelyana dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Mirip dengan penelitian di atas, bedanya yang digunakan bukan gliserol (limbah cair biodiesel) tetapi POME (limbah cair pabrik kelapa sawit), dan metodenya bukan mikrobial tapi menggunakan listrik (elektrokoagulasi). Tujuan utamanya sebenarnya lebih ke penghilangan limbah dengan listrik (koagulasi), seperti diangkat oleh seorang penanya, Prof. Tjandra Setiadi. Soal hidrogen yang dihasilkan sebenarnya bukan dari POME, melainkan dari air yang ter-elektrolisis, jadi H2 yang diperoleh ya sebenarnya bonus saja. Jadi, tidak masalah untuk debit/COD limbah yang beraneka ragam, perolehan H2 akan tetap saja dan hanya tergantung pada voltase yang dipakai. Menarik juga bahwa Prof. Tjandra mengangkat bahwa sebenarnya tidak perlu diteliti elektroda mana yang cocok (Al atau Fe?) karena sudah jelas dengan pH POME yang asam, unjuk kerja elektroda aluminium-lah yang akan tinggi! Ya, sekali lagi ini menunjukkan riset harus terintegrasi; entah dengan sesama peneliti, atau dengan industri, seperti yang diangkat oleh Pak Hubert lagi seperti pada topik sebelumnya (dua kali beliau meng-highlight isu ini): memang produksi H2 ini penting bagi kompleks industri oleokimia terintegrasi (biorefinery), tapi bagaimana neraca energinya? Apakah listriknya tidak boros? Ya, itu wajib dipikirkan.

BMB 05 - "Bioaktif dari Rosela untuk Antioksidan Biodiesel" oleh Zul Ilham dari Universiti Malaya dan FT 05 - "Pengaruh Monopalmitin terhadap Penyimpanan Jangka Panjang Minyak Sawit" oleh Rany Agustina Susanti, penelitian ITB (Pak Tatang). Kedua judul ini sebenarnya berkutat pada produksi aditif untuk sawit dan turunannya. Menarik juga, untuk sentuhan akhir menjaga kualitas produk, hal-hal yang sering dilupakan padahal krusial. Jadi bahan bioaktif diperlukan untuk antioksidan (mencegah oksidasi) pada biodiesel. Biodiesel merupakan senyawa organik yang akan rusak atau putus rantainya jika teroksidasi, sehingga tidak dapat digunakan. Sementara penambahan stabilizer seperti monopalmitin pada CPO dibutuhkan untuk menahan bentuk struktur CPO pada kondisi tertentu, yang akan berakibat pada penggunaan CPO untuk pangan (agar tekstur makanan yang dihasilkan halus). Jika produk cepat rusak, maka nilai produk akan turun jauh dan segala usaha yang dikeluarkan pada proses produksi akan sia-sia.

BMB 10 - "Biomassa Sawit untuk Alternatif Bioenergi" oleh Pak Erwinsyah dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan. Ini bukan penelitian, tapi lebih sebagai overview dan karena itu, terlihat sangat tepat guna dan telah memikirkan keadaan pada penerapannya. Diceritakan bahwa pohon sawit ini hebat sekali lah perolehannya. Minyaknya banyak, biomassa pun banyak. Sebenarnya penerapan biomassa sawit untuk bioenergi ini sudah saya dalami ketika survey ke beberapa perkebunan sawit tahun lalu di Sumatera dan Kalimantan. Mau bukti? Berikut ada gambar skema yang saya ambil dari slide laporan hasil survey.

Khusus mantan-mantan murid Pak Tatang, dipahami saja cangkang, serabut, atau TKS itu bentuknya seperti apa dan ada di mananya pohon sawit... kalau nggak nanti beliau nangis loh

Yang dibahas dalam presentasi ini adalah pemanfaatan saat ini, mana yang belum termanfaatkan, dan bagaimana pemanfaatannya. Pemanfaatan yang dipaparkan memang cocok dengan apa yang saya jumpai di lapangan, yaitu secara umum:
- Serabut: 100% menjadi bahan bakar boiler. Energi yang dihasilkan menyuplai 100% listrik pabrik!
- Cangkang: 30-40% bahan bakar boiler untuk membantu sabut. Bentuk dan nilai bakarnya yang baik membuat cangkang, tidak seperti serabut, laku dijual kembali untuk bahan bakar di tempat lain. Saya sempat bertanya, bagaimana jika digasifikasi (itu ide yang pertama terpikirkan oleh saya)? Ya, ternyata masalahnya klasik: hasil memang lebih baik (listriknya lebih banyak), tapi pengoperasian sulit dan belum efisien. PR untuk tim Prof. Herri Susanto mungkin? Dari segi teknologi maupun edukasi? Hmm...
- TKS: selama ini kebanyakan dibuang saja ke kebun untuk dibusukkan kembali (pupuk), karena bentuknya yang keras, tajam, dan basah sehingga sulit untuk diolah.
- POME/limbah cair: beberapa ada yang diolah dan dikembalikan ke kebun juga.
- Pelepah (dari kebun): tidak digunakan untuk apa-apa, namun terkendala pengumpulan yang sulit karena tersebar di kebun yang luas.

Jadi, memang, kita harus mencari cara untuk memanfaatkan TKS, bahan yang banyak (20% TBS) namun belum termanfaatkan... bagaimana caranya? Beberapa penelitian dalam konferensi ini berfokus untuk menjawabnya, seperti penelitian pertama yang saya bahas tadi, atau penelitian-penelitian berikut ini...

WT 11 - "Produk Turunan Menjanjikan dari TKS" lagi-lagi dari PPKS. Memang saya fokus mengamati topik-topik sawit! Lagi-lagi intinya adalah TKS merupakan sumber lignoselulosa yang sangat potensial... pokoknya calon pendorong utama biorefinery di Indonesia. Dan kuncinya lagi-lagi adalah penguasaan teknologi pemecahan lignoselulosa. Pokoknya kalau TKS-nya sudah dapat dipecah-pecah menjadi glukosa dan gula-gula pereduksi lainnya, gampang deh! Gula-gula tersebut adalah makanan hampir tiap jenis bakteri yang dapat mengubahnya menjadi berbagai macam bioproduk. Ya, dan lagipula, jika tidak diolah TKS itu malah menjadi limbah yang harus ditangani. Secara konsep biorefinery yang memasok energi, materi, dan bahan kimia bagi masyarakat, inilah contoh-contoh pemanfaatan TKS:
- chemical: dari gula pereduksi dapat dibuat macam-macam fermentasi seperti etanol dan asam laktat, yang nantinya pun masih banyak sekali kemungkinan diolah menjadi turunan-turunannya lagi yang sangat beragam dan luas.
- energi: obvious; bioetanol dari fermentasi gula, atau dibakar langsung saja untuk menghasilkan panas dan listrik.
- material: nah, selulosa dari TKS dapat langsung dipakai... karena selulosa sendiri sudah merupakan polimer, maka dapat dijadikan material sintetis untuk menggantikan plastik, atau mungkin dicampur, seperti selulosa-asetat yang digunakan sebagai komposit untuk plastik LDPE; ya pokoknya makin mengurangi pemakaian fosil (migas) untuk plastik/material lah!

Tapi lagi-lagi ya, lagi-lagi, masalahnya itu keekonomian. Harus dipilih produk mana yang proses pembuatannya ekonomis dan mampu meningkatkan nilai TKS tersebut. Ya, ilmu pengetahuan tidak cukup menyatakan mana yang mungkin, tetapi harus juga dapat menyatakan lebih: mana yang layak.

BMB 11 - "Efek Surfaktan pada Sakarifikasi Enzimatik TKS dalam Produksi Bioetanol" oleh LIPI. Ini merupakan salah satu topik pendukung juga, untuk teknologi pengolahan TKS - pemecahan lignoselulosa - produksi bioetanol generasi 2. Intinya mencari cara bagaimana mempermudah proses yang dikatakan "sulit" itu: penambahan surfaktan saat reaksi akan meningkatkan kualitas enzim sehingga mempermurah biaya untuk enzim yang mahal itu. Mengapa bisa? Ternyata, enzim selulase yang selama ini digunakan untuk memecah selulosa, seringkali teradsorpsi ke permukaan selulosa (menempel) sehingga mengurangi keaktifannya. Penambahan surfaktan akan mencegah atau mengurangi kemungkinan penempelan tersebut sehingga enzim dapat bekerja dengan kapasitas penuh. Ah, mekanisme-mekanisme reaksi biomolekular ini membuat saya kangen bangku kuliah, apalagi setelah tahu kegunaan riilnya dalam industri.

WT 05 - "Pengolahan Limbah Cair Batik dengan Jamur-Lapuk Putih" oleh Prof. Tjandra Setiadi. Salah satu topik favorit Pak Tjandra nampaknya, sampai-sampai (mungkin mumpung giliran terakhir pula) nabrak jatah waktu yang disediakan cukup lama. Nostalgia pengingat betapa powerfulnya ilmu teknik kimia khususnya bioproses: mengolah segala macam limbah yang mengganggu, tepat guna dan aplikatif untuk industri rakyat. Intinya, industri batik ini terancam justru karena proses pembatikan yang unik menggunakan malam (lilin) untuk pewarnaannya, yang harus berkali-kali dicuci dan sebagai akibatnya menghasilkan limbah cair dengan kadar (BOD/COD) pekat! Ditambah pula tiap mencuci ada zat warna yang terbawa, sehingga dobel lah pengolahan limbahnya: penurunan kadar BOD/COD dan warna. Untuk industri batik lokal yang tergolong UKM, jelas beban finansial, terutama untuk bagian yang selama ini agak terpinggirkan oleh mindset lokal: pengolahan limbah. Ditawarkanlah oleh Pak Tjandra, jamur lapuk putih Marasmius sp. yang dapat menghilangkan warna, menurunkan BOD/COD, dan murah pemakaiannya... dengan bioreaktor unggun percik (trickling bed bioreactor atau TBBR), jamur lapuk putih ini ditumbuhkan di medium berpori Luffa sp. (sejenis tanaman yang banyak digunakan saat ini di salon?) dan air limbah dilewatkan dengan dipercikkan. Hasilnya secara ilmiah mantap: penghilangan BOD/COD hampir 95% dan warna pun hampir sepenuhnya dibersihkan.

Tanaman Luffa ini masih keluarga ketimun, ketika dikeringkan menjadi berpori dan dapat digunakan untuk packing media pertumbuhan jamur lapuk putih

Aplikatif kah? Sepengamatan saya, belum. Ternyata, permintaan Luffa di sektor lain malah meningkat sehingga harganya naik dan tidak murah lagi. Ya para peneliti janganlah menyerah! Entah cari cara agar prosesnya bisa lebih murah lagi (harus lebih efisien), atau teliti bahan baru yang lebih murah. Selalu ingat, teknologi hanya berarti jika aplikatif dan menguntungkan. Selain itu, pengoperasian TBBR ini masih terlalu rumit untuk skala UKM; perlu edukasi dan pelatihan dengan effort sangat besar, serta yang lebih penting lagi adalah penyadaran akan pentingnya limbah untuk diolah, penyadaran akan tanggung jawab kita untuk lingkungan, siapapun kita, termasuk pengusaha kecil. Barulah sistem ini bisa dijalankan. Dan yang memiliki kewajiban untuk edukasi itu, tak lain adalah penemu-penemu yang memahami sistem yang diciptakan ini. Sistemnya sendiri kan terbukti unjuk kerjanya baik, tapi itu jika dapat dijalankan dan diaplikasikan.

Sesi presentasi hari pertama ditutup, sore dan malam saya habiskan untuk "refreshing": mengobrol dengan rekan-rekan mahasiswa tentang berbagai topik mulai dari kebodohan-kebodohan terkini di kampus sampai kepada peran kita bersama untuk masa depan negara ini, sambil menikmati makan malam dan tontonan kesenian-kesenian khas Indonesia di acara gala dinner. Keesokan paginya saya tidak sempat melihat sesi presentasi karena salah membaca jadwal, sehingga hanya 2 keynote speaker di hari terakhirlah yang saya sempat tonton. Jujur saja untuk keynote speech dari Prof. Yasunori Tanji topiknya kurang menarik perhatian saya, seingat saya sekitar tentang mekanisme virus untuk membunuh bakteri penyebab penyakit ternak atau semacamnya. Terlalu jauh topiknya buat saya pribadi. Namun, saya sangat menghargai upaya Tanji-sensei membuka presentasinya dengan menyamakan bangsa Jepang dan bangsa Indonesia: sama-sama negara kepulauan, berusaha bangkit kembali setelah perang dunia, sering dilanda bencana alam (dia mengambil contoh tsunami Aceh dan gempa bumi Tohoku), bahkan membandingkan Fuji-san dan Gunung Bromo (yang keduanya pernah ia daki). Ya, seolah mengisyaratkan "negara kami bisa maju, anda juga!".

Ketika acara kuis tebak gambar di gala dinner, Tanji-sensei ditunjukkan gambar Gunung Fuji, dan ia menjawab dengan bersemangat (setengah bercanda): "Buromo! Buromo!"

Keynote speech terakhir adalah dari Prof. Tjandra Setiadi yang berjudul "Research and Applications of Membrane Bioreactor for Treating Various Wastewater", dengan isinya tentu saja pengulangan kuliah-kuliah yang pernah saya terima dari sang guru besar pengolahan limbah cair ini. Air, ya, air, sumberdaya vital yang seringkali diabaikan orang, dianggap taken for granted. Sumberdaya yang secara global dalam puluhan tahun ke depan diramalkan akan makin sulit diperoleh karena tantangan zaman. Kualitas dan kuantitas air bersih yang terus menurun, malah penggunaan air bersih yang meningkat, dan otomatis air bersih yang telah digunakan menjadi... air limbah. Maka wajiblah air limbah itu diolah dengan dua tujuan: menyediakan air bersih (lagi) dari air yang kotor, sekaligus membersihkan air yang kotor itu agar tidak mencemari (sisa/simpanan) air bersih ketika dibuang. Sisa ceritanya? Ya, teknologi terbaru untuk membersihkan air kotor itu: membran bioreaktor. Singkatnya: lebih efisien, lebih bersih, lebih baik lah. Pokoknya, jangan sampai Indonesia, yang memiliki cadangan air minum 6% dunia dan 21% Asia Pasifik, kekurangan air bersih di masa depan gara-gara telat atau malah tidak menguasai teknologi penyediaan air bersih yang mutakhir!

Kurang lebih begini tujuannya...


=====================================


Dari sekian banyak topik, sekian banyak pemateri, saya semakin yakin atas apa yang saya renungkan di hari-hari terakhir ini. Tiap kata yang didengar, yang dibaca, yang diserap, seolah makin menggemakan berulang-ulang di otak saya: Potensi! Riset! Lignoselulosa! Sinergi!

Potensi negara kita yang begitu kaya alamnya. Migas dan tambang, sumber daya alam nyaris tak-terbarukan, yang disia-siakan, terancam habis tanpa jejak. Tak berhenti kebaikan Tuhan, sumber daya alam terbarukan pun kita amatlah kaya. Jahat benar yang semestinya bertanggung jawab untuk mendayagunakan pemberianNya ini, namun ingkar karena malas... apalagi jika justru kaum yang tak diberi anugerah-lah yang lebih berikhtiar untuk menggali pemanfaatannya. Ya, mungkin justru karena itu; karena mereka yang lebih membutuhkan.

Riset, kunci mutlak kemajuan suatu negara. Kembali mengutip Pak Rauf Purnama "haram hukumnya suatu negara maju jika tanpa teknologi". Dan teknologi itu, didapatkan dan dikuasai bukan dengan mengharap wahyu jatuh dari langit, tapi dengan riset! Penelitian adalah sayap tersembunyi yang mengangkat martabat bangsa-bangsa sejak dahulu kala, dan sikap bangsa kita terhadap penelitian-lah yang akan menentukan nasib bangsa ini ke depan: apakah akan mengejar, atau makin tertinggal.

Lignoselulosa - "phlebotinum" dunia post-modern. Emas coklat, emas hijau. Barangsiapa menguasai teknologi pemecahan lignoselulosa, akan mendapatkan material dasar, basis untuk membangun sebagian besar senyawa-senyawa yang bermanfaat bagi umat manusia. Dengan potensi biomassa kita yang begitu besar, alangkah malu; ya, alangkah malu jika kita menjadi salah satu negara yang terbelakang dalam memperoleh teknologi vital ini!

Sinergi, sinergi, sinergi! Bersatulah kaum akademisi, praktisi, dan pemerintahan. Kembangkan penelitian-penelitian dengan orientasi teknologi yang tepat guna, itulah yang rakyat butuhkan. Kembangkan industri-industri dengan perancangan yang akurat dan berkualitas tinggi untuk menghasilkan nilai tambah yang sebesar-besarnya untuk memicu pemerataan ekonomi, itulah yang rakyat butuhkan. Rancang dan eksekusilah skema dan strategi pembangunan negara, pergunakanlah bumi, air, dan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat, itulah yang rakyat butuhkan!

Potensi! Riset! Lignoselulosa! Sinergi! Dan betapa berdosanya kepada negara ini, kami-kami yang diberi bakat dan kesempatan ini, jika harapan-harapan yang jalannya telah ditunjukkan terbentang ini tidak dipenuhi, ketika nanti kami berdiri di tempat tinggi, sebagai generasi yang mengendalikan nasib tiga ratus lima puluh juta orang yang terus menanti hidup sentosa di atas bumi Tuhan nan permai, tanah surga di atas dunia, zamrud khatulistiwa ini!

Penekanan-penekanan tersebut nampak sekali menjadi napas dari setiap topik yang tertulis. Memang begitulah tujuannya, siram, siram, siram berulang-ulang, hingga meresap; ke akal pikir, ke hati nurani, ke alam bawah sadar. Semoga tujuan indoktrinasi repetitif yang saya tampilkan dalam tulisan ini, yang sekaligus mengakhiri Biorefinery Series untuk sementara, dapat tertanamkan pada benak rekan-rekan tangguh yang kuat membaca sampai akhir. Selamat bagi kita semua. Semoga Indonesia menjadi lebih baik, dan semoga dalam pergerakan majunya bangsa Indonesia ini, bukan sekedar menjadi penonton, tapi kita menjadi aktor-aktornya. Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater, merdeka!

Segera eksekusi perjuangan!


Setiabudi, akhir Februari 2013
seperti pada catatan sebelumya,
selamat bagi rekan-rekan yang telah bersedia membaca

catatan sepanjang belasan halaman MS Word
yang baru sempat ditulis sebulan setelah kejadian

Terima kasih untuk semua sumber ilmu dan inspirasi, baik yang namanya sempat maupun tidak sempat saya tulis dalam catatan ini